Pergulatan Yakub dengan Allah menggambarkan Pentakosta

Perjanjian Lama harus dimengerti dalam terang Perjanjian Baru

Berapa banyak dari kita yang mengalami kesulitan dalam membaca Perjanjian Lama atau mungkin ada dari antara kita yang menganggap bahwa Perjanjian Lama tidak penting? Padahal Perjanjian Lama memuat pengajaran yang sangat penting sebagai dasar iman kita, karena kitab Perjanjian Lama adalah 2/3 bagian dari keseluruhan Alkitab yang diilhami oleh Allah sendiri, yang secara umum memuat nubuat tentang Yesus Kristus dan mempersiapkan umat Allah akan kedatangan Putera Tunggal Allah itu. Maka, dalam mempelajari Perjanjian Lama, kita harus selalu melihatnya dalam terang Perjanjian Baru. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

KGK, 121: Perjanjian Lama adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari Kitab Suci. Buku-bukunya diilhami secara ilahi dan tetap memiliki nilainya (Bdk. DV 14.) karena Perjanjian Lama tidak pernah dibatalkan.

KGK, 122: “Tata keselamatan Perjanjian Lama terutama dimaksudkan untuk menyiapkan kedatangan Kristus Penebus seluruh dunia.” Meskipun kitab-kitab Perjanjian Lama “juga mencantum hal-hal yang tidak sempurna dan bersifat sementara, kitab-kitab itu memaparkan cara pendidikan ilahi yang sejati. … Kitab-kitab itu mencantum ajaran-ajaran yang luhur tentang Allah serta kebijaksanaan yang menyelamatkan tentang peri hidup manusia, pun juga perbendaharaan doa-doa yang menakjubkan, akhirnya secara terselubung [mereka] mengemban rahasia keselamatan kita” (DV 15).

KGK, 123: Umat Kristen menghormati Perjanjian Lama sebagai Sabda Allah yang benar. Gereja tetap menolak dengan tegas gagasan untuk menghilangkan Perjanjian Lama, karena Perjanjian Baru sudah menggantikannya [Markionisme].

Dari dokumen tersebut, kita melihat pentingnya Perjanjian Lama, terutama kita dapat melihat rancangan keselamatan Allah. Kalau kita menghilangkan Perjanjian Lama, maka sama saja dengan kita membaca suatu novel, tidak mengerti cerita awalnya, dan hanya membaca 1/3 bagian akhir dari novel tersebut. Yang menjadi tantangan dalam membaca Perjanjian Lama memang adalah, kita harus mengerti kaitannya dengan ayat-ayat lain, dan juga budaya pada waktu kitab itu dituliskan, yang memang sulit dimengerti karena kita terpisah begitu jauh dari masa itu. Namun, kita tidak boleh berputus ada kalau kita tidak mengerti, karena kita dapat melihat dokumen-dokumen Gereja maupun apa yang dikatakan oleh Bapa Gereja. Dan tentu saja mohon agar Roh Kudus memberikan pengertian kepada kita.

Sebagai contoh adalah bagaimana kita mengartikan Tuhan yang kalah bergulat dengan Yakub. Dikatakan di Kitab Kejadian 32:24-28

24. Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing.
25  Ketika orang itu melihat, bahwa ia tidak dapat mengalahkannya, ia memukul sendi pangkal paha Yakub, sehingga sendi pangkal paha itu terpelecok, ketika ia bergulat dengan orang itu.
26  Lalu kata orang itu: “Biarkanlah aku pergi, karena fajar telah menyingsing.” Sahut Yakub: “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.
27. Bertanyalah orang itu kepadanya: “Siapakah namamu?” Sahutnya: “Yakub.”
28. Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.

Yakub, sang pembohong

Yakub adalah anak kedua dari Ishak, dan adik dari Esau. Yakub mengambil keutungan dari Esau, sehingga Esau menukar haknya sebagai putera sulung dengan makanan yang dibuat oleh Yakub (lih. Kej 25:29-34). Dan kemudian Yakub menipu Esau, sehingga akhirnya Yakublah yang mendapatkan berkat dari Ishak (lih. Kej 27:1-33). Kemudian Yakub melarikan diri karena ketakutan, dan bekerja pada pamannya, Laban. Namun, Laban kemudian juga menipu Yakub dengan memberikan Lea kepada Yakub dan bukan Rahel (lih. Kej 29:23-27), meskipun akhirnya Yakub berhasil memperistri Rahel setelah bekerja kepada Laban tujuh tahun lagi (lih. Kej. 29:30). Namun, kemudian Yakub menipu Laban dengan memberi tanda kepada kambing-kambing domba yang kuat, sehingga menjadi milik Yakub (lih. Kej 30:32-43). Dan kemudian Yakub beserta dengan istri-istri dan anak-anak, dan segala pelayan dan hartanya pergi meninggalkan Laban dan pulang ke negeri asalnya.

Yakub, yang ketakutan

Nah, dalam perjalanan pulang di bab 32 dari Kitab Kejadian, diceritakan bagaimana Yakub ketakutan ketika mendengar bahwa Esau, kakaknya beserta dengan 400 orang datang untuk menemuinya. Dan apa yang dilakukannya? Karena dia terbiasa untuk berbohong, maka dia dengan cepat memutar otaknya. Dengan kecerdikannya, dia mencoba memberikan persembahan kepada Esau (lih. Kej 32:14-20), agar Esau tidak membunuhnya. Dia mengirim pelayan-pelayannya beserta dengan ternak-ternaknya. Dan Dia juga mengirim dua istrinya, dua budak perempuannya dan ke sebelas anak-anaknya untuk menyeberangi sungai Yabok. Namun, Yakub sendiri tinggal seorang diri di perkemahan.

Yakub, yang bergulat dengan malaikat Tuhan

Di dalam kesendiriannya, di tepi sungai Yabok, Yakub bergulat dengan malaikat Tuhan sampai fajar menyingsing. Kalau kita merenungkan, apakah bergulat dapat digambarkan sebagai suatu pergulatan fisik dengan malaikat Tuhan? Mungkin saja hal ini terjadi. Namun secara fisik, sebenarnya manusia tidak mungkin mengalahkan malaikat Tuhan, kecuali malaikat Tuhan tersebut mengalah kepada Yakub.

Namun makna yang lebih dalam dari hal ini adalah makna spiritual. Yakub, mungkin dalam kesendiriannya telah membayangkan akan kemarahan dari Esau yang telah ditipunya dan ada kemungkinan Esau akan membunuhnya. Dia teringat akan segala tipu muslihatnya, sehingga ia berhasil membohongi Ishak, yang menyebabkan Esau kehilangan berkat sebagai anak pertama. Dan Yakub pasti ketakutan akan resiko yang akan dialaminya kalau dia bertemu dengan kakaknya. Dia mengungkapkan ketakutannya dengan doa “Lepaskanlah kiranya aku dari tangan kakakku, dari tangan Esau, sebab aku takut kepadanya, jangan-jangan ia datang membunuh aku, juga ibu-ibu dengan anak-anaknya.” (Kej 32:11)

Dalam situasi seperti inilah, Yakub tidak mempunyai pegangan apapun selain kepada janji yang telah diterimanya dari Allah, yang mengatakan “Pulanglah ke negeri nenek moyangmu dan kepada kaummu, dan Aku akan menyertai engkau.” (Kej 31:3) Dan Yakub juga berpegang pada berkat yang diterimanya dari ayahnya, sehingga dia mengatakan “Bukankah Engkau telah berfirman: Tentu Aku akan berbuat baik kepadamu dan menjadikan keturunanmu sebagai pasir di laut, yang karena banyaknya tidak dapat dihitung.” (Kej 32:12; lih. juga Kej 28:3-4). Namun, janji Tuhan ini tidaklah cukup bagi Yakub. Dia menginginkan suatu pengalaman yang dapat dirasakannya, pengalaman yang benar-benar dapat merubahnya. Dan di sinilah terjadi suatu drama pergulatan antara Yakub dengan malaikat Tuhan.

Yakub, yang memenangkan pergulatan doa

Pergulatan ini melambangkan suatu pergumulan doa. Katekismus Gereja Katolik mengatakan “Doa Abraham dan Yakub itu bagaikan satu perjuangan iman yang dilakukan dalam kepercayaan kepada kesetiaan Allah, dalam kepastian, kemenangan yang dijanjikan kepada orang yang tabah.” (KGK, 2592) Yakub yang tahu bahwa harapan satu-satunya untuk menyelamatkan hidupnya hanyalah Tuhan dan janji setia-Nya yang akan mendampingi dan menjadikan keturunannya sebanyak pasir di laut, yang tak terhitung banyaknya. Oleh karena itu, Yakub terus-menurus memohon dan bergulat dengan Tuhan di dalam doa sampai fajar menyingsing (lih. Kej 32:24). Dia terus berjuang di dalam doa, percaya akan janji Allah yang pasti akan ditepati-Nya. Dia terus berjuang dan tidak mengijinkan malaikat Tuhan untuk pergi sebelum dia memberkatinya. Percaya akan janji Tuhan dan dengan penuh perjuangan dan keyakinan, Yakub mengatakan “Aku tidak akan membiarkan engkau pergi, jika engkau tidak memberkati aku.” (Kej 32:26)

Dan menarik sekali apa yang ditanyakan oleh malaikat Tuhan. Berkat yang diminta oleh Yakub dipenuhi dalam pertanyaan dan pernyataan dari malaikat Tuhan. Malaikat Tuhan bertanya “siapakah namamu?” Pada saat seseorang menanyakan nama, maka yang ditanyakan adalah keseluruhan dari diri orang tersebut. Dan Yakub mengatakan bahwa namanya adalah Yakub. Nama, dimana Esau berkata “Bukankah tepat namanya Yakub, karena ia telah dua kali menipu aku. Hak kesulunganku telah dirampasnya, dan sekarang dirampasnya pula berkat yang untukku.” (Kej 27:36). Nama, Yakub seolah-olah menjadi identik dengan penipu. Dan memang tepatlah konotasi penipu pada diri Yakub, mengingat ada banyak penipuan yang dilakukannya selama dalam hidupnya.

Dalam perjuangan doa, maka Tuhan akan bertanya kepada diri kita masing-masing, “Siapakah namamu”, yang berarti: Bagaimanakah kehidupanmu? Bagaimana relasimu dengan-Ku? Apakah engkau telah berdosa hari ini? Apakah engkau tetap menjadi anak-anak Allah? Dan pada saat seseorang menyadari pertanyaan-pertanyaan ini, yang berarti seseorang memeriksa batinnya secara teliti, maka janganlah terkejut kalau Tuhan akan merubah kehidupannya, merubah namanya.

Malaikat tersebut mengatakan “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.” (Kej 32:28) Nama Yakub yang berkonotasi penipu, yang berarti mengandalkan segala cara untuk kepentingannya sendiri, sekarang menjadi Israel, yang berarti “yang bergumul dengan Allah” atau “Tuhan menang” (God prevails, lih. Brown Driver Briggs’ Hebrew definitions). Namun dikatakan di ayat tersebut bahwa dalam pergumulan tersebut, Yakub menang. Dengan demikian kemenangan Yakub terletak pada kemenangan Allah. Kita dapat menang dalam pergumulan doa, kalau Allah menang dan kita mengikuti jalan-Nya dan kita mau merubah kehidupan kita yang kelam untuk dapat semakin dekat dengan Tuhan, sehingga Tuhan senantiasa meraja dalam kehidupan kita. Kemenangan seseorang di dalam doa, bukanlah Tuhan yang mengikuti keinginan kita, namun kitalah yang mengikuti keinginan Tuhan. Kemenangan Tuhan ditandai dengan terpukulnya sendi pangkal paha Yakub (lih. Kej 32:25), sehingga dia harus berjalan pincang seumur hidupnya (lih. Kej 32:31). Orang yang telah diubah oleh Tuhan, memang seharusnya mempunyai suatu perubahan yang terjadi di dalam kehidupannya. Dan perubahan ini memang dapat terlihat sebagai suatu pengorbanan, namun pengorbanan yang membawa kebahagiaan.

Yakub, yang menjadi manusia baru (Israel)

Yakub telah manusia baru, yang diubah oleh Tuhan dalam pergulatan doa. Sebelum pergulatan tersebut, Yakub ketakutan, ingin berjalan paling belakang, setelah hewan-hewan dan pelayan-pelayannya, dan juga istri dan anak-anaknya, sehingga setiap saat, mungkin dia dapat melarikan dirinya kalau ternyata Esau ingin membunuhnya. Namun, apakah yang terjadi setelah pergumulan tersebut? Dia bukan lagi menjadi seorang penipu yang pengecut. Namun, “ia sendiri berjalan di depan mereka dan ia sujud sampai ke tanah tujuh kali, hingga ia sampai ke dekat kakaknya itu.” (Kej 33:3). Dia tidak takut lagi kalau kakaknya membunuhnya. Yakub yang ketakutan menjadi begitu berani dan mengemban tugas sebagai kepala keluarga dengan baik, yang nantinya menjadi bangsa Israel. Dia berjalan di depan, memimpin istri-istri dan anak-anaknya, serta seluruh hewan-hewan beserta dengan pelayan-pelayannya dalam menghadapi setiap kesulitan. Dan keberanian dan kejujuran ini membawa perdamaian dengan Esau, orang yang ditipunya. Ketakutan berganti menjadi kedamaian. Dan inilah kemenangan yang dimaksudkan dengan kemenangannya dalam bergulat melawan Allah. Kemenangan inilah yang melahirkan Israel, bangsa yang dipersiapkan Allah untuk menjadi umat pilihan-Nya.

Gereja adalah Israel yang baru

Israel adalah suatu gambaran dari Gereja, sehingga Gereja disebut Israel yang baru (Lumen Gentium, 9). Sama seperti Yakub melahirkan dua belas suku Israel, maka di dalam Perjanjian Baru, Kristus memulai karyanya dengan dua belas rasul. Setelah kematian Yesus, kita tahu bahwa bahwa para murid ketakutan dan tidak berani bersaksi apapun. Mereka berpencar dan bersembunyi dalam ketakutan. Sama seperti Yakub yang bergumul dengan Tuhan sampai fajar menyingsing, para murid juga bergumul dengan Tuhan. Kalau Yakub bergumul dengan Tuhan sendirian, maka para murid bergumul dengan Tuhan bersama-sama dengan Bunda Maria. Mereka tidak berhenti bergumul dengan Tuhan, sampai berkat yang dijanjikan oleh Yesus datang (lih. Yoh 14:26) Berkat ini adalah berupa lidah-lidah api, yaitu Roh Kudus, yang mengajarkan segala sesuatu kepada para murid tentang apa yang telah dikatakan oleh Yesus.

Dan dalam pergulatan ini, para murid telah menang seperti Yakub. Para murid yang tadinya penakut, kemudian mendapatkan gelar yang baru, yaitu “Israel yang baru” atau “Gereja“. Gereja inilah yang dimanifestasikan secara penuh pada hari Pentakosta, dengan manifestasi Roh Kudus, yang memberikan keberaniaan kepada para murid untuk bersaksi tentang Kristus. Petrus yang menyangkal Yesus sebanyak tiga kali, pada hari Pentakosta menjadi manusia yang baru, yang berani mewartakan Kristus dan berkata “Bertobatlah dan hendaklah kamu masing-masing memberi dirimu dibaptis dalam nama Yesus Kristus untuk pengampunan dosamu, maka kamu akan menerima karunia Roh Kudus.” (Kis 2:38) Inilah kemenangan yang baru, dimana Gereja menjalankan misinya seperti yang diperintahkan oleh Kristus “19 Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, 20  dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mt 28:19-20).

Kesimpulan

Kita melihat, bahwa Perjanjian Lama kalau dimengerti dalam terang Perjanjian Baru mempunyai pesan yang begitu indah dan penuh makna. Oleh karena itu, kita harus mencoba mendalami Alkitab, baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru. Dari beberapa interpretasi di atas, kita dapat melihat tipologi, yaitu menarik benang merah antara apa yang terjadi di dalam Perjanjian Lama dengan Perjanjian Baru. Yakub yang ketakutan akan kemungkinan dibunuh Esau, mempunyai kesamaan dengan para murid di Perjanjian Baru yang ketakutan dari pembunuhan kaum Farisi. Yakub dan para murid menyadari bahwa hanya Tuhan sajalah yang dapat menyelesaikan permasalah mereka, sehingga Yakub bergelut dengan Tuhan di dalam doa di tepi sungai Yabok, sedangkan para murid berserta dengan Maria bergelut dengan Tuhan di “upper room“.

Kalau Yakub bergelut dengan malaikat Tuhan dan menang, sehingga namanya diubah menjadi Israel, maka di dalam Perjanjian Baru, pada peristiwa Pentakosta, kemenangan para murid ditandai dengan lahirnya Gereja, Israel yang baru. Yakub yang berjalan timpang setelah bergelut dengan malaikat Tuhan, juga dialami oleh para murid, di mana mereka menanggung begitu banyak penganiayaan, bahkan rela menjadi martir. Namun mereka semua mengalami perubahan dari dalam: Yakub yang takut dan berjalan di belakang menjadi pemimpin dan berjalan di muka, para murid yang takut dan bersembunyi, menjadi pewarta dan memberitakan Kristus tanpa takut dihukum. Dan itulah efek kemenangan dalam bergulat melawan Tuhan di dalam doa. Kemenangan ini terletak bukan pada terpenuhinya keinginan kita, namun pada merajanya keinginan Tuhan dalam kehidupan kita dan kekuatan yang diberikan Tuhan untuk mengemban misi yang diberikan oleh Tuhan dalam kehidupan kita.

Marilah, kita bersama-sama bergulat dengan Tuhan, dengan terus bertekun di dalam doa, seperti yang dilakukan oleh Yakub dan para murid. Kita terus bertekun dalam doa, sampai kita mendapatkan Pentakosta yang baru, sehingga hati kita dipenuhi dengan Roh Kudus-Nya, sehingga kita senantiasa mempunyai kekuatan untuk senantiasa melaksanakan kehendak Tuhan dalam kehidupan kita. Dan mungkin Tuhan akan memberikan nama yang baru kepada kita masing-masing, untuk mengemban misi khusus yang diberikan kepada Tuhan kepada kita masing-masing.

19/12/2018

22
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
10 Comment threads
12 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
11 Comment authors
JohnHendrik TangDewiFelix SugihartoHendro Recent comment authors
John
Guest
John

Kej 32:24 Lalu tinggallah Yakub seorang diri. Dan seorang laki-laki bergulat dengan dia sampai fajar menyingsing.
Kej 32:28 Lalu kata orang itu: “Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang.

Bagaimana “membayangkan” peristiwa ini?
Yakub bergulat/bergumul melawan Allah dan manusia?
Maksudnya wujudnya manusia tapi Tuhan, begitu?
Dari http://haydock1859.tripod.com/id359.html menjelaskan itu adalah Malaikat, saya jadi bingung.

Dewi
Guest
Dewi

Shalom, tim katolisitas,
Mohon bisa dijelaskan tentang maksudnya “hutang darah” dalam teks KS dalam Mzm 51 : 16 Lepaskanlah aku dari hutang darah, ya Allah, Allah keselamatanku, maka lidahku akan bersorak-sorai memberitakan keadilan-Mu! Terima kasih.

Felix Sugiharto
Guest

Shalom katolisitas Pak Stef dan bu Ingrid Saya minta konfirmasi arti dari ayat tersebut dibawah ini..sehubungan pertanyaan bahwa, mengapa Tuhan mengizinkan malapetaka seperti ini terjadi 2Sam 12:10 Oleh sebab itu, pedang tidak akan menyingkir dari keturunanmu sampai selamanya, karena engkau telah menghina Aku dan mengambil isteri Uria, orang Het itu, untuk menjadi isterimu. 2Sam 12:11 Beginilah firman TUHAN: Bahwasanya malapetaka akan Kutimpakan ke atasmu yang datang dari kaum keluargamu sendiri. Aku akan mengambil isteri-isterimu di depan matamu dan memberikannya kepada orang lain; orang itu akan tidur dengan isteri-isterimu di siang hari. 2Sam 12:12 Sebab engkau telah melakukannya secara tersembunyi, tetapi… Read more »

Hendro
Guest
Hendro

Indah sekali, ada perubahan besar, diikuti perubahan nama. Yakub [ penipu ] diganti baru jadi Israel [ bergulat dg Tuhan dan Manusia dimana yakub menang] Abram…jadi..Abraham. Sarai…jadi SARA Saulus jadi Paulus apakah harus begitu? Abraham punya anak Ismael dan Ishak serta anak-anak yang lain. Ismael kemudian tidak diceritakan. Ishak lebih banyak di tulis di PL. Ishak punya anak Esau dan Yakub [ Israel ] Esau juga mengambil istri dari anak Ismael, kemudian cerita tentang Esau kurang diceritakan dibanding Israel / Yakub. Ismael kabarnya punya keturunan yang melahirkan Muhammad. Yakub sempat takut kepada Esau. Yakub dan kakanya Esau anak kembar yang… Read more »

Hendrik Tang
Guest
Hendrik Tang

Syaloom Stef, Berkaitan dengan Ishak dan Ribka, kemudian anak kembar Esau dan Yakub. Saya tidak melihat banyak mengenai Esau dan Yakub, khususnya pada akhirnya, saya belasan tahun yang lalu pernah mendapat sebuah majalah kristiani yang diterbitkan di Malaysia, yang domainnya ada di negara eropa, yang mengatakan bahwa pada akhir hidup mereka adalah pergi ke Inggris ( Esau ) dan USA ( Yakub ), namun majalahnya sudah hilang kena banjir besar ’78 an. Mohon dapat diperjelaskan keterangan yang saya dapati dan fakta sejarahnya, bukanlah berdasarkan ceritera belaka, terima kasih. Hendrik Tang [dari katolisitas: Kami tidak pernah mendengar adanya fakta yang menghubungkan… Read more »

Aquilino Amaral
Guest
Aquilino Amaral

Salam Buat Pak Stef, saya kira penjelasan Ibu Ingrid dan Pak Stef dapat memberikan pandangan baru terhadap kritikan dari kalangan lain (Islam dan Kristen). Di negara Timor Leste telah banyak sekte yang menyebarkan agamanya dan mempengaruhi umat katolik, dan telah mendirikan tempat ibadah mereka di pelosok-pelosok, karena umat yang tak berdaya dalam memenuhi kebutuhan ekonomi dengan terpaksa menerima aliran mereka dengan sogokan uang dan materi lainnya. Oleh karena itu, Pendalaman Iman lewat situs ini sangat positive buat saya agar saya diperkuat dengan pengetahuan agamanya agar saya dapat menjelaskan kepada umat yang imannya lemah. ( aliran: Yahweh) dan Kristen dari Brazil.… Read more »

Aquilino Amaral
Guest
Aquilino Amaral

Salam Buat Pak Step dan Ibu Ingrid, Beberapa kalangan radikal dari Islam, mereka mengatakan Yesus adalah agama Islam, karena ada beberapa ciri khas, seperti mati tidak dipetikan, dan hidupnya sesuai dengan tradisi islam. Mereka menganggap bahwa roh penghibur yang di janjikan itu adalah Nabi Muhammad. Jelas bahwa agama islam, kalo kita telusuri bahwa mereka keturunan dari Ismail [edit: beberapa kalimat di hapus] dan sekarang ada lagi keributan di Malaysia, bahwa selama beberapa tahun yang lalu umat kristen di larang untuk menggunkan kata Allah, kecuali orang Islam. Karena pengadilan telah memutuskan kata Allah dapat digunakan oleh Kristen, maka kaum radikal Islam… Read more »

PIH
Guest
PIH

shaloom,

menyimak tulisan tentang terjemahan “ya Tuhan”,barusan sy dapet email dari teman yg menceritakan bahwa di malaysia ada kelompok musilm yg berdemo menuntut pemerintah disana agar melarang Gereja memakai kata “Allah”,sebab kata mereka,kata Allah merupakan “milik” Islam,dan bahwa Gereja Khatolik hanya baru2 ini memakainya dlm terjemahan Alkitab?jadi apa benar kata “Allah” adalah milik kaum muslim?

Andreas
Guest
Andreas

Halo Pak Stefanus, saya bingung kenapa orang-orang Perjanjian Lama memanggil malaikat Tuhan dengan kata-kata “Ya Tuhan”, “Ya Allah”, dsb. Padahal malaikat Tuhan kan bukan Tuhan. Apakah mereka yang memang bodoh?

Contoh:
Kej. 22:11 Tetapi berserulah Malaikat TUHAN dari langit kepadanya: “Abraham, Abraham.” Sahutnya: “Ya, Tuhan.”

Kej. 31:11 Dan Malaikat Allah berfirman kepadaku dalam mimpi itu: Yakub! Jawabku: Ya Tuhan!

Terima kasih atas penjelasan Anda.

Joe Marselo
Guest
Joe Marselo

ini sangat berarti. … cant say more. this is meaningful.

salam, jm

Frank Tasada
Guest
Frank Tasada

Salam, Selama ini saya malas baca alkitab, karena banyak ayat2 yg susah saya cerna, terutama perjanjian lama misalnya ada satu ayat yg menyebut Allah bertarung dgn seseorg ( sy lupa siapa ) lalu Allah kalah, wah gimana jelasinnya, saya cari di penjelasan alkitab terbitan Kaj, tp saya tetap tdk puas , satu hal lagi kita org katolik sering bilang bahwa yg lebih penting perjanjian baru, kalu begitu kenapa perjanjian lama masih harus dibaca ? bukan malah menambah konflik ? Saya salut dgn penjelasan anda berdua, dgn adanya pejelasan2 tsb saya akan coba utk mulai baca alkitab lg. Thanks – Frank… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X