Pahlawan sejati

Rasanya sukar memisahkan arti pahlawan dengan cinta. Karena cinta, maka seseorang mampu bertindak melampaui batas-batas kepentingan diri sendiri dan bahkan harga diri, supaya yang dicintai menjadi bahagia, bebas, dan sepenuhnya menjadi utuh. Semangat cinta yang sejati yang mendasari perbuatan kepahlawanan menyingkirkan diri sendiri dan melahirkan pengorbanan bagi kepentingan yang dicintai. Tindakan yang didasari oleh cinta membedakannya dengan tindakan yang dikerjakan karena sekedar kewajiban atau rutinitas belaka, atau karena dipaksa oleh keadaan. Figur-figur yang melenyapkan kepentingan diri supaya pihak lain bahagia dan selamat banyak kita jumpai di keseharian kita. Selain pengorbanan para pejuang kemerdekaan yang memberi kita hidup dan kebebasan, kita juga menemukannya di dalam diri seorang ibu yang menaruh kasih setiap waktu tanpa kenal lelah, dan seorang ayah yang bekerja siang malam bagi kepentingan keluarga. Pada diri para relawan yang meninggalkan kenyamanannya sehari-hari untuk pergi ke daerah bencana dan menyerahkan waktu dan tenaganya membantu para pengungsi, bahkan hingga kehilangan nyawa seperti dua relawan yang membantu para pengungsi Merapi. Pada diri para misionaris yang melupakan kestabilan hidup normal untuk mewartakan Injil di pedalaman atau hidup di tengah masyarakat miskin untuk menjadi penolong. Pada pengabdian seorang guru yang mengajar dengan penuh semangat dan dedikasi walau penghasilannya pas-pasan. Pada seorang sahabat yang selalu menyediakan waktu dua puluh empat jam sehari bagi sahabatnya. Dan juga pada diri seseorang yang karena kerendahan hatinya merelakan tuduhan, kesalahpahaman, atau fitnah tentang dirinya, berserah dalam keheningan demi keselamatan banyak orang, sambil menantikan keadilan. Dan mungkin pada kita sendiri, saat kita mempunyai kerelaan dan kerendahan hati untuk selalu mengampuni sesama yang menyakiti hati kita karena terbuka terhadap kemungkinannya untuk berubah.

Motivasi oleh cinta yang tulus melahirkan sifat dasar lain dari seorang pahlawan, yaitu bahwa sang pelaku tidak menganggap dirinya pahlawan dan tidak mencari pujian atau penghargaan ketika melakukan pengorbanan bagi sesamanya. Pengorbanan itu dilakukan dengan sukacita dan kerelaan tanpa mengharapkan balasan apapun. Pengorbanan itu sendiri telah membuatnya bahagia terutama saat melihat yang dikasihi berbahagia, sehingga ia tidak memikirkan atau membutuhkan apresiasi apa-apa. Semua lahir karena kekuatan cinta.

Melihat atau mengalami cinta mereka yang berkorban dan melupakan diri sendiri dengan tulus agar sesamanya selamat dan bahagia membawa hati kita kepada sosok pahlawan cinta sejati yang menjadi sumber sukacita iman kita semua dalam pengorbanan Kristus. Dia memberikan diri-Nya seluruhnya di kayu salib demi pembebasan umat manusia dari perbudakan dosa dan kematian. Model semangat cinta Yesus Kristus yang memberikan diri sehabis-habisnya hingga titik kehilangan nyawa supaya yang dicintai memperoleh hidup, membuat kita mempunyai gambaran murni akan arti pahlawan dalam hidup kita. Tuhan Yesus memberikan diri-Nya dengan bebas dan rela, Ia menyongsong salib yang berat itu untuk dipikul-Nya, disertai dengan cinta yang penuh kepada Bapa dan kepada manusia. Hal itu dikatakan-Nya dengan jelas dalam Yohanes 10 : 17-18, “Bapa mengasihi Aku, oleh karena Aku memberikan nyawa-Ku untuk menerimanya kembali. Tidak seorangpun mengambilnya dari pada-Ku, melainkan Aku memberikannya menurut kehendak-Ku sendiri. Aku berkuasa memberikannya dan berkuasa mengambilnya kembali. Inilah tugas yang Kuterima dari Bapa-Ku”.  Tugas dari Bapa-Nya disambut-Nya dengan kerelaan dan kebebasan sepenuhnya. Bagi kita sahabat-sahabat-Nya, Ia adalah seorang pembela dan penolong, seorang gembala yang tidak sekedar menjaga kawanan domba-Nya, tetapi bahkan dengan rela memberikan hidup-Nya bila domba-domba-Nya dalam bahaya. “Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan; Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan. Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya (Yohanes 10 : 10 – 11a). Yesus mengatakan semuanya itu supaya kita memahami keselamatan dan kehidupan yang akan kita terima bila kita menerima pengorbanan-Nya dan menjadikannya model bagi hidup kita sendiri. Dia mengatakan semuanya itu agar kita menjadi satu dengan-Nya dalam misi keselamatan dunia dan mampu berdiri tegak dalam semua situasi kehidupan.  “Kamu adalah sahabat-Ku, jikalau kamu berbuat apa yang kuperintahkan kepadamu. Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu apa yang diperbuat tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu, segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku (Yohanes 15 : 14-15).

Di dalam segala bentuk pergumulan hidup, tiada yang lebih menentramkan hati selain janji Putra Allah sendiri untuk selalu datang melindungi dan membela kita. Apapun keadaan kita, walaupun kita masih selalu berdosa dan bahkan di saat kita sedang mencari jalan kita sendiri, Dia selalu peduli dan menunggu kita dengan tongkat dan gada-Nya yang meneguhkan kita. “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku” (Mazmur 23 : 4).

Di dalam hati seorang pahlawan sejati, tercermin kepahlawanan Kristus di kayu salib, pengorbanan oleh karena cinta semata, tidak mengharapkan apapun yang lain selain kebaikan dan keselamatan yang dicintai. Dengan senantiasa menyerap teladan kepahlawanan Kristus dalam penderitaan salib-Nya, kita dimampukan untuk juga menjadi pahlawan-pahlawan iman dan kehidupan, yang tulus berkorban bagi sesama, meluap dari rasa syukur dan cinta kepada Sang Putra, memberikan diri dengan bebas dan sukacita, tanpa mengharapkan balasan apa-apa. Dan sebagaimana kita menghargai jasa-jasa para pahlawan bangsa dengan perbuatan yang nyata untuk mengisi kemerdekaan dengan kinerja dan usaha membangun masyarakat dengan semangat kebaikan dan keadilan, demikian juga kita menghormati dan mensyukuri pengorbanan Kristus di kayu salib bagi kita dengan setia bertekun dalam iman dan pengharapan dan tak lelah-lelahnya berjuang menghasilkan buah-buah kasih bagi sesama dan bagi kemuliaan-Nya, bahkan di saat tak seorangpun memberikan apresiasi. Saat ini mari kita ingat dan doakan pula jasa para pahlawan yang telah memberikan hidupnya bagi sesama, baik para pahlawan bangsa, pahlawan keluarga, maupun pahlawan iman, khususnya mereka yang sering terlupakan. (uti)

19/12/2018

Tinggalkan pesan

Please Login to comment
Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X