Orang Katolik Tidak Menyembah Patung

Pendahuluan

Cerita ini adalah yang saya alami pada tahun 2000. Saat itu saya sedang mengunjungi sanak keluarga suami yang tinggal di Jawa Tengah. Suami saya tidak ikut, karena sedang bertugas di luar negeri. Karena hampir semua dari anggota keluarga mereka beragama Kristen Protestan, maka pada hari Minggu terakhir sebelum saya pulang ke Jakarta, mereka mengajak saya ikut kebaktian di gereja mereka. Karena saya pikir saya toh masih dapat mengikuti misa sore setibanya saya di Jakarta, maka saya setuju saja, karena saya tidak ingin merepotkan mereka untuk mengantarkan saya spesial ke gereja Katolik.

Kebaktian berlangsung khusuk. Injil hari itu adalah mengenai “mengasihi Allah dan sesama”, dan Bapak Pendeta mengutip kesepuluh Perintah Allah yang ada di Kitab Keluaran 20. Ayat ke-3 menekankan supaya kita tidak menyembah allah yang lain selain Allah Tritunggal. “Oh, sama dengan ajaran Gereja Katolik”, pikir saya. Namun penjelasan ayat yang ke-4 dan ke-5 membuat saya terhenyak.[1] Saat itu, beliau meminta seseorang untuk memberikan selembar uang kertas sebagai contoh. Katanya perintah Tuhan pada kedua ayat ini seperti halnya uang kertas, harus tercetak di sisi atas dan di sisi baliknya, kalau tidak, uang tersebut tidak berlaku. Maka kedua ayat itu harus diterapkan sekaligus, karena jika tidak artinya kita melanggar perintah Allah. Maka Pak Pendeta mengatakan kita tidak boleh membuat patung yang menyerupai apapun di langit dan di bumi, dan tidak boleh menyembahnya. Dia menyebutkan ‘kekeliruan’ gereja lain (beliau tidak menyebutkan Gereja Katolik) yang mengajarkan bahwa membuat patung itu boleh saja, asalkan kita tidak sujud menyembahnya sebagai Allah. Kemudian, beliau bertanya kepada jemaat, siapa dari antara hadirin yang berpendapat demikian. Hati saya bergemuruh, karena yang saya tahu, yang dilarang adalah membuat ‘patung’ yang kemudian disembah sebagai Tuhan. Jadi, saya memutuskan untuk mengangkat tangan saya, walaupun saya dipandang dengan tatapan aneh oleh banyak yang hadir. Hanya ada dua orang (termasuk saya) yang mengangkat tangan, dari sekitar 400 orang yang hadir. “Anggapan yang keliru”, kata Bapak Pendeta, dan saya bertekad dalam hati untuk menjelaskan hal ini kepadanya setelah kebaktian.

Sayangnya, saya tidak berkesempatan untuk bertemu dengan Pak Pendeta setelah kebaktian. Saya pulang ke Jakarta dengan hati gundah. Satu minggu berikutnya saya isi dengan mempelajari Kitab Suci dan buku-buku ajaran Gereja Katolik mengenai hal patung ini. Minggu berikutnya saya menulis surat kepada beliau, dengan menuliskan ayat-ayat Alkitab yang menjadi dasar bagi Gereja Katolik yang menganggap bahwa membuat patung, memajang patung ataupun berdoa di depan patung bukanlah suatu penyembahan berhala, asalkan kita tidak tunduk menyembah patung itu dan menganggapnya sebagai Tuhan. Sampai sekarang, saya tidak pernah menerima balasan dari Bapak Pendeta tersebut. Namun, saya hanya berharap agar beliau dapat memahami dasar pengajaran Gereja Katolik dalam hal patung ini dan tidak beranggapan bahwa Gereja Katolik mengajarkan sesuatu yang ‘keliru’.

Surat kami kepada Bapak Pendeta

Berikut ini saya sertakan surat kepada Bapak Pendeta tersebut, yang sesungguhnya dapat ditujukan juga kepada siapa saja yang menganggap orang Katolik menyembah patung:

Salam damai dalam kasih Kristus,

Pertama-tama saya ingin mengucapkan terimakasih atas kesempatan yang diberikan kepada saya untuk mengikuti Kebaktian Minggu tanggal 17 September 2000, yang bertemakan “Kasihilah Tuhan dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu, dan dengan segenap kekuatanmu, dan kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri”.

Saya terkesan dengan kotbah tersebut, hanya ada beberapa bagian yang berbeda dengan pengajaran di dalam Gereja saya, yaitu Gereja Katolik. Memang, Pak Pendeta tidak menyebut langsung ‘Gereja Katolik’ dalam khotbah Bapak, tetapi saya merasa terdorong untuk menjelaskan hal itu mengingat banyaknya kesalahpahaman yang terjadi antara jemaat Kristen Protestan dangan kami umat Katolik.

Dan setelah mendiskusikannya dengan suami saya, maka kami memutuskan untuk menulis surat ini dalam semangat kasih persaudaraan dalam Kristus.

Kami menyadari, bahwa perbedaan adalah hal yang wajar. Dan dengan semangat mencari kebenaran itu sendiri yang berasal dari Tuhan, kami ingin menjelaskan hal-hal dan latar belakang, serta dasar iman Katolik yang berkaitan dengan kotbah Bapak pada saat itu, yaitu mengenai ayat:

Keluaran 20:3-5 (menurut : Lembaga Alkitab Indonesia, 1999)

3)Jangan ada padamu allah lain di hadapan-Ku.

4)Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apapun yang ada di langit di atas atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi.

5)Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, Tuhan, Allahmu, adalah Allah yang cemburu yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci aku.

Menurut khotbah Bapak, ayat yang ke-4 dan ke-5 tidak dapat dipisahkan, sehingga artinya adalah kita tidak boleh membuat patung, dan tidak boleh menyembah sujud kepadanya.

(Analogi yang Bapak sampaikan pada waktu itu adalah uang kertas dua puluh ribu rupiah yang memiliki 2 sisi). Jadi anggapan bahwa membuat patung itu diperbolehkan asal tidak sujud menyembahnya, dianggap KELIRU.

Kami ingin mengutip dari beberapa ayat kitab suci dari beberapa terjemahan, untuk mengurangi kemungkinan distorsi dari bahasa itu sendiri.

3) You shall not have other gods besides me (NAB, CCB); no other gods before me (RSV, NIV, KJV);

4) You shall not carve idols (NAB); a graven image (RSV); any graven image (NIV, KJV); a carved image (CCB) for yourselves in the shape of anything in the sky above or on the earth below or in the waters beneath the earth;

5)you shall not bow down (NAB, RSV, NIV, KJV, CCB) before them or worship them: for I the LORD your God am a jealous God, visiting the iniquity of the fathers upon the children to the third and the fourth generation of those who hate me.

Catatan: NAB= New American Bible; RSV= Revised Standard Version; NIV= New International Version; CCB= Christian Community Bible.

Dari referensi di atas, maka terlihat bahwa istilah yang digunakan adalah:

Carved idol, yang artinya adalah “patung berhala” dan carved/graven image yang berarti “ukiran dari suatu gambaran”. Kalaupun hal ini masih bisa diperdebatkan, namun tetap tidak mengurangi esensi dari ayat tersebut, bahwa yang paling penting adalah kita tidak membuat image/patung/gambaran untuk disembah sebagai allah lain (dalam kaitannya dengan ayat yang ke 3).

Jadi, penyembahan “patung berhala” adalah dosa. Namun anggapan sebagian orang yang mengatakan bahwa orang-orang Katolik adalah “sebagian orang Kristen” yang menyembah “patung” karena memiliki patung Yesus, Maria, santo/santa adalah sungguh-sungguh keliru. Hal ini adalah karena kesalahpahaman atau pengabaian dari apa yang dikatakan oleh kitab suci tentang maksud dan penggunaan patung. (Karena orang Katolik tidak menghormati patung, tetapi menghormati pribadi yang digambarkan di dalamnya). [2]

Anggapan bahwa “Tuhan melarang penggunaan image/gambaran/patung”, seperti yang dikotbahkan Bapak, menjadi anggapan umum jemaat Protestan, (sedangkan Gereja Katolik memang melarang patung berhala, tetapi tidak melarang penggunaan patung untuk keperluan ibadah, karena patung hanya merupakan lambang saja yang membantu untuk mengarahkan hati kepada Tuhan).

Kalau kita sungguh-sungguh menyelidiki seluruh kitab suci, kita dapat menemukan bahwa penggunaan image/gambaran/patung dalam ibadah kepada Tuhan diperbolehkan, bahkan Allah sendiri yang “memerintahkan” penggunaan hal tersebut.

Tuhan memerintahkan untuk membuat patung untuk keperluan ibadah

Di samping kutipan kitab Keluaran 20:4-5, marilah kita melihat beberapa kutipan lain dimana Tuhan memerintahkan untuk membuat patung yang digunakan sebagai lambang yang memberikan gambaran/menunjuk kepada kehadiran Yesus pada Perjanjian Baru dan kekal, sebagai yang terkandung dalam ‘Tabut Perjanjian baru’ itu sendiri, dan Putera Allah yang ditinggikan[3]:

1. Keluaran 25:1,18-20

Berfirmanlah Tuhan kepada Musa: “Dan haruslah kau buat dua kerub (English: cherubims/angels) dari emas, kau buatlah itu dari emas tempaan, pada kedua ujung tutup pendamaian itu. Buatlah satu kerub pada ujung sebelah sini, dan satu kerub pada ujung sebelah sana; seiras dengan tutup pendamaian itu kamu buatlah kerub itu di atas kedua ujungnya”. Kerub-kerub itu harus mengembangkan kedua sayapnya ke atas, sedang sayap-sayapnya menudungi tutup pendamaian itu dan mukanya menghadap kepada masing-masing; kepada tutup pendamaian itulah harus menghadap muka kerub-kerub itu.”

2. Ketika raja Daud memberikan rencana pembuatan bait Allah kepada Salomo

2. 1 Tawarikh 28:18-19

”..juga emas yang disucikan untuk mezbah pembakaran ukupan seberat yang diperlukan dan emas yang diperlukan untuk pembentukan kereta yang menjadi tumpangan kedua kerub yang mengembangkan sayapnya sambil menudungi tabut perjanjian Tuhan. Semuanya itu terdapat dalam tulisan yang diilhamkan kepadaku oleh Tuhan yang berisi petunjuk tentang segala pelaksanaan rencana itu.”

Lihatlah bahwa semua yang tertulis di atas diilhami oleh Tuhan sendiri.

Memang bukan raja Daud yang membangun bait Allah, melainkan raja Salomo pada tahun ke-empat setelah ia menjadi raja atas Israel. Dan dia melakukan yang diperintahkan oleh raja Daud, seperti yang tertulis dalam kitab 1 Raja-raja 6:23-35, “selanjutnya di dalam ruang belakang itu dibuatnya dua kerub dari kayu minyak, masing-masing sepuluh hasta tingginya ……..” (Dua kerub yang terdapat pada bait Allah ini menunjuk kepada kehadiran Allah di dalam tabut perjanjian; dan Yesuslah yang kemudian menjadi pemenuhan dari perjanjian Allah ini).

3. Yehezkiel 41:17-18

… dan di seluruh dinding bagian dalam dan bagian luar, terukir gambar-gambar kerub dan pohon-pohon korma, di antara dua kerub sebatang pohon korma, dan masing-masing kerub itu mempunyai dua muka.

4. Bilangan 21:8

Maka berfirmanlah Tuhan kepada Musa:”Buatlah (sebuah patung) ular tedung dan taruhlah itu pada sebuah tiang; maka setiap orang yang terpagut, jika ia melihatnya, akan tetap hidup.” (Ular ini yang ditinggikan Musa menjadi gambaran dari Yesus Putera Allah yang harus ditinggikan (Yoh 3:14)).

Berdasarkan dasar-dasar tersebut di atas, yang dilarang adalah image/ gambaran/ patung yang dijadikan “allah-allah yang lain” dan menyaingi Allah yang Satu. Yang dilarang oleh hukum Allah adalah pemujaan terhadap image /gambaran/patung itu sendiri. Dengan demikian, Keluaran 20:4-5 berkaitkan dengan Keluaran 20:3, yaitu jangan ada padamu allah lain di hadapanKu.

Bagaimana kita menjelaskan kontradiksi ayat-ayat tersebut diatas butir 1-4 dengan kitab Keluaran 20:4-5?

Jawabannya sangat sederhana. Kerub/malaikat tidak dianggap sebagai allah dan tidak memerlukan pemujaan: Mereka adalah gambaran hamba Tuhan. Hal yang sama diterima oleh gereja Katolik saat ini, adalah penggunaan patung Yesus, Maria, santo/santa karena mereka bukan allah melainkan gambaran hamba Tuhan. (Jadi kita tidak menghormati patung itu apalagi menyembahnya, melainkan menghormati pribadi yang dilambangkannya, karena mereka membantu kita mengarahkan hati kepada Allah dan bukannya menjadi ‘saingan’ Allah).

Bagaimana umat Katolik menggunakan image/gambaran/patung:

1. Sebagai salah satu alat bantu umat untuk lebih menghayati kedekatannya dengan Yesus Kristus.

Penggunaan patung, lukisan, elemen artistik lainnya bagi umat Katolik adalah untuk membantu mengingat seseorang atau sesuatu yang digambarkannya. Sama seperti seseorang mengingat ibunya dengan melihat fotonya, demikian juga umat Katolik mengingat Yesus, Maria dan orang kudus lainnya dengan melihat patung/ gambar mereka. (Lagipula, Yesus sendiri sebagai Sang Putera Allah telah menjadi manusia, sehingga Yesus sendiri telah menjadi ‘gambaran Allah yang nyata.’ (lihat Kol 1:15) Karena itu, dengan kedatangan Yesus ke dunia, Allah yang tak kelihatan menjadi kelihatan, Allah yang dalam Perjanjian Lama dilarang untuk digambarkan, maka di Perjanjian Baru malah dinyatakan sebagai ‘gambar hidup’ di dalam diri Yesus. Jadi Yesus memperbaharui ‘tata gambar’ tentang Allah, sebab Ia adalah gambaran Allah sendiri.[4]) Renungkanlah ini: Jika di rumah kita memasang gambar/ foto keluarga kita, mengapakah kita tidak boleh memasang gambar/foto Tuhan yang kita sayangi? Gambar/ patung Tuhan Yesus dipasang tidang untuk disembah, tetapi hanya untuk mengingatkan kita tentang betapa istimewanya Ia di dalam hidup kita.

2. Sebagai sarana pengajaran

Umat Katolik juga menggunakan image/gambar/patung sebagai sarana pengajaran, seperti yang diterapkan juga oleh umat Kristen lain terutama dalam mengajar anak-anak di sekolah minggu, seperti: menerangkan siapa Tuhan Yesus, mukjijat yang dibuatNya, dll dengan gambar-gambar. (Kita mengetahui bahwa masalah ‘buta huruf’ baru dapat dikurangi secara signifikan di Eropa pada abad ke-12; bahkan untuk negara-negara Asia dan Afrika baru pada abad 19/20. Jadi tentu selama 12 abad, bahkan lebih, secara khusus, gambar-gambar dan patung mengambil peran untuk pengajaran iman, karena praktis, mayoritas orang pada saat itu tidak dapat membaca! Penggunaan gambar/ patung untuk maksud pengajaran ini tentu bukan berhala, karena mereka akhirnya malah menuntun orang beriman kepada Tuhan. Hal serupa terjadi waktu kita pertama kali mengajar anak-anak kecil mengenali benda-benda tertentu. Kita membuat/ menunjukkan pada mereka gambar-gambar sederhana, seperti apel, ikan, rumah, dst. Tentu saja hal ini tidak bertentangan dengan perintah Tuhan. Jadi membuat gambar yang menyerupai sesuatu di sekitar kita bukan merupakan dosa asal kita tidak menyembah gambar- gambar itu).

3. Digunakan untuk peristiwa-peristiwa tertentu

Umat Katolik juga menggunakan hal tersebut dalam kesempatan tertentu, sama seperti umat Kristen pada umumnya mempunyai patung-patung kandang natal, gambar peristiwa natal, atau mengirim kartu natal bergambar pada hari natal. (Jika membuat segala gambar/ patung yang menyerupai segala sesuatu dianggap dosa, apakah berarti kebiasaan mengirimkan kartu Natal dan menghias pohon Natal dengan kandang Natal, adalah dosa? Jika ya berarti bahkan menonton TV pun adalah dosa, melihat segala buku bergambar adalah dosa, menggambar/ melukis adalah dosa, karena semua objeknya adalah segala sesuatu yang ‘menyerupai apapun yang di langit dan di bumi’).

Kesimpulan

Jadi, Tuhan memang melarang pemujaan terhadap image/gambaran/patung, tetapi Ia tidak melarang pembuatan image/ gambaran tersebut secara umum. Seandainya Ia melarangnya, maka film, televisi, video, foto, lukisan, kartu natal bergambar, uang, ataupun gambar-gambar lainya akan juga dilarang, karena semua itu mengandung unsur image/ gambaran yang menyerupai sesuatu di bumi atau di atas bumi….(lihat Kel 20:4) Karena itu, Gereja Katolik melihat ayat ke-4 ini sebagai kelanjutan dari ayat ke-3, yaitu, agar jangan kita membuat gambar/ patung untuk disembah sebagai allah lain di hadapan Allah.

Dengan demikian sebenarnya menjadi sangat jelas bahwa baik umat Katolik maupun umat Kristen lainnya hanya memuja Tuhan yang satu dan sama, dan sama-sama menentang penyembahan patung berhala.

Kami yakin bahwa masih ada perbedaan-perbedaan yang ada dalam pengajaran Katolik dan Kristen Protestan. Alangkah baiknya jika kita masing-masing mau mengerti dasar-dasar atau latar belakang alkitabiah dan ajaran Gereja yang mendasari pengajaran tersebut untuk mengetahui kebenaran itu sendiri. Janganlah kita lupa bahwa di antara kita lebih banyak persamaannya dari pada perbedaannya.

Akhirnya, kami mengucapkan salam hangat kami untuk Bapak Pendeta dan seluruh jemaat Bapak. Semoga kasih Tuhan Yesus selalu mengikat kita semua sebagai satu saudara.

Salam dalam damai Kristus,

Ingrid Listiati & Wijoyo Tay

Penutup

Surat ini saya kirimkan kepada Bapak Pendeta tersebut. Nama dan alamat bapak Pendeta tersebut sengaja tidak saya cantumkan di sini karena saya pandang tidak perlu, karena yang terpenting adalah isi dari surat tersebut, untuk kita renungkan bersama. Kesaksian serupa ini mungkin dapat pula saudara/i alami dengan situasi yang berbeda, dan saya berharap artikel ini dapat sedikit membantu. Di atas semua itu, ingatlah bahwa kita harus selalu siap untuk menjelaskan iman kita, namun harus selalu dengan kelemah-lembutan dan hormat (lih. 1Pet 3:15).

Perlu kita ingat di sini bahwa berhala yang lebih ‘berbahaya’ sekarang adalah bukan terbatas hanya patung, tetapi segala ciptaan yang kita anggap lebih utama dari Tuhan, misal, uang, TV, pekerjaan, kedudukan, kecantikan, koleksi barang antik, main game, dst., yang menggeserkan peran Tuhan di dalam hidup kita, dan yang menyita waktu kita sampai tidak ada waktu untuk ke gereja, berdoa dan membaca sabda-Nya. Hal ini malah lebih nyata pada jaman sekarang, ketimbang hal membuat patung lembu tuangan (lih. Ul 9:16), namun prinsipnya sama, yaitu menyembah ciptaan dan bukan Sang Pencipta.

Mari kita refleksikan, apa yang menjadi ‘patung berhala’ di dalam hidup kita, yang mengambil tempat Tuhan di hati kita. Mari kita berdoa agar Tuhan membantu kita mengangkat keterikatan kita terhadap benda-benda tersebut. Dengan demikian kita dapat mengasihi Allah dengan lebih sungguh, tidak hanya di mulut, tetapi sungguh turun sampai ke hati.


[1] Perintah kedua yang dibahas oleh Bapak Pendeta adalah “Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit… di bumi … atau yang ada di dalam air di bawah bumi.”(Kel 20:4) Dalam pengajaran Gereja Katolik, perintah kedua adalah: “Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan sembarangan (Kel 20:7), karena ayat ke-4 yang mengacu pada patung berhala merupakan kesatuan/kelanjutan dari perintah pertama yaitu, “Jangan ada allah lain dihadapan-Ku…”(Kel 20:3)

[2] Lihat Katekismus Gereja Katolik 2132, Penghormatan Kristen terhadap gambar tidak bertentangan dengan perintah pertama, yang melarang patung berhala. Karena ‘penghormatan yang kita berikan kepada satu gambar menyangkut gambar asli di baliknya” (Basilius Spir 18,45) dan “siapa yang menghormati gambar, menghormati pribadi yang digambarkan di dalamnya” (Konsili Nisea II, DS 601). Penghormatan yang kita berikan kepada gambar-gambar adalah satu ‘penghormatan yang khidmat’, bukan penyembahan; penyembahan hanya boleh diberikan kepada Allah.

[3] Lihat KGK 2130, Tetapi di dalam Perjanjian Lama, Allah sudah menyuruh dan mengizinkan pembuatan patung, yang sebagai lambang harus menunjuk kepada keselamatan dengan perantaraan Sabda yang menjadi manusia: sebagai contoh, ular tembaga (bdk Bil 21:4-9; Keb 16-5-14, Yoh 3:14-15), tabut perjanjian dan kerub (bdk. Kel 25:10-22; 1 Raj 6:23-28; 7:23-26).

[4] Lihat KGK 2131, …Dengan penjelmaan menjadi manusia, Putera Allah membuka satu “tata gambar” yang baru.

265
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
55 Comment threads
210 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
92 Comment authors
Theo Alorandre daveHildaLaura koronkaJasintus Eko Recent comment authors
Theo Alor
Member
Theo Alor

izin share, kawan.

andre dave
Member
andre dave

terima kasih buat katolisitas, situs ini menambah pengetahuan saya dan memperkuat saya tentang ajaran dan iman katolik, jbu ..

Laura koronka
Member
Laura koronka

Salam kasih, Saya adalah umat Kristen-Katolik. Selama ini saya tidak pernah menghiraukan mengenai banyaknya goa2 bunda Maria, banyaknya patung2 di gereja yang setiap umat seolah2 membayangkan bahwa wajah Yesus yang nanti datang untuk ke dua kali nya sama.. Dengan patung2 itu.. Namun pada Jumat Agung tahun ini, saya tidak melakukan ritual yg sering di lakukan oleh semua umat, berlutut, dan mencium kaki di patung Yesus (yang di sugesti kan sebelum misa) dengan nyanyian…. “YESUS ADA DI ATAS SALIB INI, YESUS JURUSELAMAT TELAH MATI, DAN SEKARANG DI ATAS SALIB INI” Saya terhentak dan melihat seseorang yg menyanyikan lagu itu “wajahnya berubah… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Laura,

Menurut saya untuk berdiskusi tentang “penyembahan berhala”, maka tidak dapat berdasarkan pengalaman Anda, yang dapat dipandang subyektif. Saya tidak bermaksud merendahkan pengalaman spiritual Anda, namun, sungguh sulit berdiskusi tentang topik ini berdasarkan pengalaman seperti yang Anda ceritakan, karena dapat saja seseorang mempunyai pengalaman kebalikan dari apa yang Anda alami, seperti: bagaimana seseorang memandang salib Kristus (dengan corpus) dan memperoleh pertobatan, dll. Jadi, mari kita berfokus pada dasar-dasar Kitab Suci yang sudah jelas kita akui kebenarannya. Silakan menanggapi artikel di atas dengan dasar-dasar yang jelas. Semoga dapat dimengerti.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Hilda
Member
Hilda

Mengenai penciuman kaki Yesus di salib pada saat Jumat Agung, dapat dianalogikan seperti ini (menurut saya), berimanlah seperti seorang anak kecil, yang sangat menyukai mainannya sehingga tidur pun tetap dipegangnya tidak dilepaskan, bahkan terkadang anak perempuan saya yang masih 5 th suka sekali menciumi bonekanya. Tentunya sewaktu ia bersikap seperti itu tidak kita katakan bahwa anak saya menyembah berhala bukan, begitu pula dgn umat katolik yg menyadari jika ia sungguh sungguh mencintai Yesus yang tersalib bagi dirinya maka jika ia bertindak seperti anak kecil yang menciumi bonekanya dan ia mengungkapan rasa cintanya yg dgn sungguh sungguh dengan devosi yang mendalam… Read more »

Jasintus Eko
Member
Jasintus Eko

Salam Damai Kristus Bu Inggrid. Sudah 2 tahun saya merayakan Paskah di distrik Oecusse (Timor Leste) dan ada ritual yang hingga kini mengganjal di hati saya yakni pada perayaan sengsara Tuhan kita Yesus Kristus (Jumat Agung). Setelah mengadakan Jalan Salib di Lifau (Lifau merupakan suatu tempat yang menjadi pintu gerbang masuknya agama Katolik di pulau Timor), dilanjutkan dengan misa jumat Agung pada sore harinya. Sebelum menutup perayaan tersebut dilakukan perarakan patung yang mana patung tersebut dikenal dengan nama Senhor Morto Tuan yang mati). Patung tersebut diarak dari dalam gereja, mengelilingi gereja dan kembali lagi ke dalam gereja. Setelah patung tersebut… Read more »

budiaryotejo
Guest
budiaryotejo

Persoalan bagi orang protestan adalah bahwa mencium itu = menyembah doa didepan patung= menyembah ini sunggup pola dan cara berpikir yg keliru…. kalo anda mencium kaki istrimu =menyembah ? Saya tidak sukan2 utk cium kaki istri saya karena saya sangat kagum-cintai dan hormati. Apakah itu menyembah ???? Demikian juga dengan orang tua kita. Apakah anda menyembah ? Tidak bukan…… Demikian juga hal berdoa…….apakah klo anda berdoa dihadapan wajah foto orang tua anda yg sdh meninggal, ato mungkin foto istri anda yg sdh almarhum…apakah anda menyembah foto itu. Tidak bukan……Saya yakin anda berdoa yg ada berhubungan dengan image/citra yg ada difoto… Read more »

John
Guest
John

Salam Natal buat pak Stef & bu Ingrid yg t’kasih. Smoga kasih kurnia Tuhan Yesus sntiasa mnyrtai anda smua & karya krasulan ni. Trus trang sya kta’n, website Katolisitas bnyak m’dedah’n sya kpd kmurnian greja Katolik. Nmun 1 hal yg msh sya t’kesan bisa m’bntah ialh ttng hal mnyembah patung ni. & sya mngambil kputusan utk mnulis kpd pak & bu kali ni stelah mlihat upacara Misa Natal d Vatican kmarin, d mna sluruh dunia mlihat bapak Paus m’cium patung bayi Jesus… Jujur sya kata’n, ni sngat2 m’ganggu sya. Klihatannya s’olah2 kta sngat m’agung’n patung t’sbut; diarak dgn pnuh ritual… Read more »

Thomas
Guest
Thomas

Dear Katolisitas yang Seiman. Saya adalah Putra Gereja katolik, dan saya juga harus mengakui bahwa permasalahan yang di sampaikan oleh bapak John diatas merupakan polimik dalam hati saya yang sama dengan beliau. memang esensi Kita menghormati Yesus Juru Selamt Manusia adalah dengan memberikan penghormatan tertinggi badi Tuhan Yesus. yang menjadi persoalan adalah kenapa kita harus mencium Patung? Kenapa? apakah dengan doa kita tidak yakin bahwa Tuhan Mendengar rasa syukur dan keluh kesah kita. Argumen yang mengatakan bahwa itu hanyalah media bisa diterima jika media itu merupakan perlambanan semisal dengan bendera sebagai lambang negara. persoalannya adalah, lambang seperti bendera atau yang… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Thomas, Saya hanya mengharapkan bahwa Anda telah membaca artikel di atas – silakan klik, sehingga minimal Anda dapat melihat alasan mengapa penghormatan di depan patung (dulia relatif) bukanlah merupakan penyembahan (latria) yang hanya ditujukan bagi Allah. Umat Katolik dapat membedakan bahwa patung hanya sarana dan bukan obyek penyembahan. Jadi, bagi orang yang tidak mau mencium patung sebagai tanda hormat tidak menjadi masalah. Pada akhirnya, penyembahan tertinggi dalam Gereja Katolik bukanlah berdoa di depan patung, namun dalam Sakramen Ekaristi. Sebaliknya, kita juga jangan mempermasalahkan seseorang yang ingin mencium patung, sebagai ungkapan hormatnya (bukan menyembah) atau kasihnya kepada orang-orang yang digambarkan… Read more »

tony
Guest
tony

Soal patung dan Bukan Patung: MAri kita renungkan bersama bahwa semua alat itu adalah sarana keimanan kita untuk menujukan hati kita kepada Tuhan. Umat Katolik membuat salib dengan ada patung Yesus yang melekat pada salib itu tidak dapat kita katakan sebagai menyembah patung, demikian pula halnya bagi jemaat Protestan (maaf saya tidak pakai istilah Kristen sebab antara Katolik dan Protestan keduanya adalah Kristen atau orang yang mengikuti Kristus)jadi keduanya tidak berbeda dari segi iman, yang berbeda hanyalah penafsiran masing-masing dalam mengimplemantasikan keimanannya, itu saja. Bagi umat Katolik adanya patung Yesus pada salib bukanlah dimaksudkan untuk disembah melainkan sebagai peringatan setiap… Read more »

paulus
Guest
paulus

cara2 katolik mencium patung dan membakar kemenyaan dikaki maria sambil sujud menyelipkan kertas doa permohonan di kaki patung maria, terkadang hal ini benar2 mencoreng kristen dimata umat lain, memang yesus tidak melarang membuat patung dan sebaliknya, saya pun setuju tidak ada yang salah dengan patung, namun dogma bisa jadi alat iblis menyeret manusia bercacat dimata tuhan dengan cara masuk kepada pikiran dan pola2 dogma yang menjadi memberhalakan patung ditempat2 usaha dikamar menjadi dewa pelindung, mohon penjelasannya trims [dari katolisitas: Umat Gereja Katolik tahu bahwa patung tersebut hanya patung. Umat Katolik dapat membedakan mana yang ciptaan dan mana yang Pencipta. Patung,… Read more »

paulus
Guest
paulus

saya sudah baca sanggahan2 tentang pembuatan patung kerubim dan patung ular
pada perjanjian lama, namun bukan untuk disembah, tapi dalam masa yesus
saya tidak pernah menemukan yesus memberi perintah membuat patung, sebagai
pengingat, mohon dibantu, tx

[dari katolisitas: Di masa Yesus, juga tidak ada perintah dari Yesus untuk tidak boleh membuat patung.]

alex
Guest
alex

Sungguh benar hukum Taurat Musa menjadi hidup semasa Yesus masih hidup & Dia berkata tidak ada satu iota atau titik pun yg diganti, bahkan justru digenapi. Dengan demikian Musa boleh beristirahat. Begitu sulitnya imam2 kepala & ahli2 taurat memahami spirit (yg hidup) dalam sebuah aturan. Dengan Iman, Kasih, & Pengharapan Yesus berhasil mengajarkan apa yg menjadi kehendak Bapa. Pilihan ada ditangan kita, haruskah kita mewartakan alkitab ala imam 2kepala/ahli2 taurat atau dengan Iman, Kasih, & Pengharapan.

[dari katolisitas: Mohon diperjelas bagian ini “Pilihan ada ditangan kita, haruskah kita mewartakan alkitab ala imam 2kepala/ahli2 taurat atau dengan Iman, Kasih, & Pengharapan.”]

alex
Guest
alex

Tentang konsep Tritunggal; Bunda Maria; patung Yesus. [Dari Katolisitas: kami edit, karena kalimatnya tidak jelas maksudnya.] Bukankah alkitab sudah cukup jelas hrs dimaknai dgn iman, maka alkitab menjadi hidup (& tumbuh berkembang sesuai dgn perkembangan iman dari orang yg membacanya dgn bantuan bimbingan roh kudus) seperti taurat Musa menjadi hidup (bukan barang mati) karena dimaknai secara iman oleh Yesus. Dengan demikian alkitab bukan sekedar buku tetapi buku iman yg hidup & memberi hidup jiwa rohani kita. Adalah wajar jika gereja kita sbg pengurus kebun anggur telah berkembang & memberikan pengajaran sehingga para rasul boleh beristirahat. [Dari Katolisitas: Para Rasul memang… Read more »

alex
Guest
alex

Yoh21:15-19 Yesus memberi “surat kuasa” pada petrus sebanyak 3 kali berbunyi “Gembalakanlah domba-dombaKu. Dialah gembala kita sepeninggal Yesus dan Petrus mewariskannya pada gereja. Kita selayaknya tidak memisahkan diri agar kita bisa disebut sebagai anggota/tubuh gereja yg satu, kudus, katolik, & apostolik sesuai dgn syahadat yg diajarkan penerus Petrus.

alex
Guest
alex

Satu contoh bahwa kita diajar gereja dengan benar adalah tentang berpuasa. Kata berpuasa muncul beberapa kali baik di PL maupun PB, namun waktu/periode pelaksanaanya acak/tidak tercatat secara pasti. Namun syukur gereja bisa menarik benang merah kapan sebaiknya orang kristen harusnya berpuasa. Sebuah bukti kita digembalakan dengan benar.

alex
Guest
alex

Alkitab membuat kita beroleh hidup, kita hidup bersama alkitab, alkitab hidup karena Kristus selalu menyertai kita selamanya. Alkitab bukanlah benda pusaka milik seolah kita minta tuliskan lagi bagi anak cucu kami, tapi saat mereka menuliskannya yg lebih baru untuk kamu, justru kamu berkata bukankah kamu sudah mati, untuk apa mengajar kami yg hidup ini.

[dari katolisitas: Mohon diperjelas tulisan ini “tapi saat mereka menuliskannya yg lebih baru untuk kamu, justru kamu berkata bukankah kamu sudah mati, untuk apa mengajar kami yg hidup ini.”]

alex
Guest
alex

Ada begitu banyak patung disekeliling kita : Liberty; patung 3 wajah presiden AS di Mt Rushmore; merlion simbol neg singapur; patung Yesus kota Rio dejaneiro; patung proklamator Soekarno-Hatta; patung pancoran ;patung bundaran HI; patung garuda wisnu kencana; patung Stalin; patung lilin tokoh dunia di madame tussaud ;patung Buddha; patung rangka dinosaurus di museum2; manekin di toko pakaian; boneka barbie di etalase mall dll… Menyerupai apa benda2 tsb? Apa latar belakang agama pembuatnya perlu kita cek satupersatu? Pembuatnya dimurka Allah pd saatnya kelak? Disembahkah? diidolakan? Allah akan cemburu? Kita melihat patung itu dgn kacamata apa? Kacamata logika atau iman? Bagaimana suasana… Read more »

alex
Guest
alex

Shalom, pak Stef/ bu Inggrid
Saya mau usul apakah bisa ditampilkan di dlm artikel diatas gambar patung yg disebut dlm kitab suci, untuk menambah wawasan pembaca yg penasaran seperti apa sih ular tembaga nabi musa, terafim, kerub, dewa dagon, ba’al, molokh, dll. Saya pribadi sudah melihat di wikipedia cukup lengkap & dengan sekilas sdh paham patung Yesus, Maria, Santo/a masuk kategori tidak disembah & ada berkahnya sbg media penyampai pesan. Terima kasih.

[dari katolisitas: Terima kasih atas usulannya. Kalau ada waktu kami akan tambahkan. Namun untuk sementara, silakan browsing di google.]

Monk Malone
Guest

Tadinya, saya sempat ragu, ketika pada waktu itu saya masih terkecoh dengan ayat yang hampir bertentangan dengan perintah Bapa sendiri dalam kitab-kitab Perjanjian Lama tersebut. Dan, at last, I dont have to worry about it!!!!! Thanks katolisitas.org

Das Swardaniya…!!!!!

Alles in Ordnung…!!!!!

Xie-xie…!!!!!

Mayolus
Guest
Mayolus

Bole Za bertanya..??? Kbetulan ada teman sya bertanya pada sya…Kenapa Umat Katolik Menyembah Patung Bunda Maria…???

Trima Kasih….???

[Dari Katolisitas: Umat Katolik tidak menyembah patung. Silakan membaca kembali artikel di atas, ataupun artikel ini, silakan klik]

Y.Gandhi
Guest
Y.Gandhi

Yth:Pembina Katolisitas.org

Dengan ini saya ingin bertanya.Bolehkah Salib atau patung Bunda Maria di pasang di tempat usaha.Terima kasih.

Salam.

Y.Gandhi.

[dari katolisitas: Tentu saja tidak menjadi masalah untuk memasang salib dan benda rohani lain di tempat usaha Anda, selama benda-benda sakramentali tersebut ditaruh di tempat yang layak.]

Monk Malone
Guest

Yohanes/Yosafat Gandhi…Maaf jika huruf nama anda yang depannya berisial Y nya saya tidak tau.

Masalah salib…Itu tak masalah…Asalkan tindakan yang benar.

Untuk anda cocok sekali.

Amsal 1:33
“Tetapi siapa mendengarkan aku, ia akan tinggal dengan aman, terlindung dari pada kedahsyatan malapetaka.”

[Dari Katolisitas: Pada akhirnya, semua benda-benda sakramentali hanya merupakan tanda/ sarana untuk menumbuhkan iman dan kepercayaan kita akan rahmat dan kuasa Allah. Maka bukan benda-benda itu yang penting, melainkan iman kita sendiri akan Allah itulah yang terpenting, yaitu Allah yang menyertai, melindungi dan memberkati].

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X