Operasi payudara: bolehkah?

Pertanyaan:

shalom ibu inggrid
menyambung pertanyaan di atas..
bolehkan melakukan operasi penyesuain bentuk tubuh agar sesuai proporsi yang kita inginkan, misalnya liposuction, breast augmentation, dan operasi sejenisnya.
terimakasih jawabannya. Maria.

Jawaban:

Shalom Maria,

Dewasa ini, ada banyak wanita menghabiskan uang untuk hal-hal kecantikan, termasuk di antaranya breast augmentation (operasi memperbesar payudara) atau liposuction (sedot lemak) dan operasi-operasi kecantikan lainnya. Tanggapan dari Gereja Katolik adalah demikian: sebagai aturan umumnya adalah, jika operasi dilakukan untuk alasan “therapeutic“/ pengobatan maka langkah operasi ini dapat diperbolehkan secara moral. Namun demikian, karena operasi yang melibatkan pembiusan selalu melibatkan resiko, maka perlu dipertimbangkan masak-masak. [Lain halnya jika operasi kecantikan tersebut karena maksud pengobatan, seperti operasi plastik untuk terapi setelah luka bakar, atau cacat bawaan seperti bibir sumbing/ kelainan yang mengganggu fungsi tubuh. Jika ini yang dimaksud,  tentu secara moral diperbolehkan].

Namun yang dibicarakan di sini adalah breast augmentation (operasi memperbesar payudara), yang memiliki resiko-resiko yang cukup serius, seperti: 1) silikon yang dimasukkan dapat pecah, 2) mengakibatkan kontraksi kapsular 3) kantong silikon tersebut dapat bocor dan jika ini terjadi akan mempengaruhi kesehatan badan. Selanjutnya, “implant” ini juga bukan solusi yang permanen, sebab setelah beberapa waktu harus diganti, maka jika dilakukan pada usia muda, berarti akan ada lagi operasi-operasi selanjutnya. “Implant” ini juga dapat mempengaruhi fungsi payudara, menyebabkan kurangnya kemampuan menyusui anak, dan komplikasi lainnya sehubungan dengan hal menyusui.

Demikian pula dengan operasi-operasi lainnya seperti operasi “sedot lemak”, “memperindah bokong”, atau sejenisnya, juga memiliki resikonya tersendiri. Tindakan operasinya sendiri bukan merupakan dosa, namun intensi/ maksudnya dapat menjadikannya secara moral dapat dipertanyakan. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan demikian:

KGK 2289     Memang ajaran susila menuntut menghormati kehidupan jasmani, tetapi ia tidak mengangkatnya menjadi nilai absolut. Ia melawan satu pendapat kafir baru, yang condong kepada pendewaan badan, mengurbankan segala sesuatu untuknya dan mendewakan kesempurnaan badan dan sukses di bidang olahraga. Melalui pemilihan orang-orang kuat secara berat sebelah, pendapat ini dapat menggerogoti hubungan antar manusia.

KGK 2290     Kebajikan penguasaan diri menjauhkan segala bentuk keterlaluan: tiap penggunaan makanan, minuman, rokok, dan obat-obatan yang berlebihan. Siapa yang dalam keadaan mabuk atau dengan kecepatan tinggi membahayakan keamanan orang lain dan keamanannya sendiri di jalan, di air, atau di udara, membuat dosa besar.

Maka yang perlu dipertanyakan di sini adalah apa maksudnya melakukan operasi tersebut (misalnya breast augmentation)? Sebab ada kecenderungan bahwa operasi kosmetika ini tidak dilakukan pada seorang yang sakit ataupun untuk mengobatinya. Dalam keadaan sehat, para wanita ini menggunakan obat-obatan secara berlebihan, dalam hal ini obat bius, yang sesungguhnya tidak diperlukan jika operasi tidak dilakukan. Selanjutnya,  kita mengetahui biaya untuk melakukan operasi ini tidaklah murah. Di Amerika, biaya operasinya konon mencapai 8000- 9000 US $. Tentu uang sejumlah ini dapat digunakan untuk sesuatu yang lebih berguna, terutama jika motivasi pelaku adalah sekedar untuk menambah percaya diri, mengagungkan kecantikan badan, atau ingin dikagumi orang atau ingin mengagumi bentuk tubuh sendiri. Sikap yang memusatkan perhatian pada diri sendiri secara berlebihan ini menggantikan posisi Tuhan di dalam hati, dan ini adalah bentuk yang baru dari berhala. Jika seorang wanita kesal karena diolok-olok oleh teman-teman, bahwa payudaranya “rata”, ia membutuhkan teman- teman yang baru dan bukannya payudara yang baru.

Seandainya operasinya berhasilpun, tidak menjadi jaminan bahwa hal itu tidak berpengaruh buruk pada kesehatan pada masa yang akan datang. Jadi dapat dikatakan kebahagiaan yang diperoleh sifatnya sementara dan semu, dan bahkan dapat berakhir tragis, jika untuk satu dan lain hal resiko/ efek negatif tersebut terjadi. Maksud mula-mula adalah supaya bahagia, namun yang terjadi kemudian adalah mengundang celaka. Awalnya tidak bermaksud negatif terhadap tubuh, namun jika terjadi kasus yang tidak diinginkan,  dapat berakhir dengan maut.

Akhirnya, mungkin perlu disadari bersama bahwa kecantikan seorang wanita tidak melulu ditunjukkan dari kecantikan fisik, namun terutama dari kecantikan hati; yang menyadari bahwa dirinya dikasihi oleh Allah dan diciptakan sesuai dengan gambaran Allah. Maka pandangan yang mengurangi kecantikan wanita hanya sebatas pada bentuk luar tubuh, sesungguhnya merupakan kegagalan untuk menangkap esensi ini. Bahwa yang terpenting bagi kita adalah hidup sesuai dengan panggilan kita sebagai anak-anak Allah di dunia ini, dengan tidak memusatkan hati dan pikiran kita kepada hal-hal duniawi, tetapi kepada “perkara-perkara yang di atas” (Kol 3:2). Maka seharusnya yang menjadi pusat perhatian kita adalah bagaimana supaya kita dapat memelihara kecantikan rohani, yaitu dengan hidup kudus di dunia ini? Sebab kekudusan inilah yang menghantar kita kepada kebahagiaan kita yang sesungguhnya, pada kehidupan kekal di surga kelak.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

3
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
3 Comment threads
0 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
3 Comment authors
MelytaMR Xmaria Recent comment authors
Melyta
Guest
Melyta

Halo.. sebelumnya terima kasih atas website ini karena sudah memudahkan saya untuk belajar banyak tentang Katolik :)

Saya ingin menanyakan bagaimana tanggapan Katolik tentang ritual-ritual yang dilakukan masyarakat untuk kecantikan diri, baik yang sudah umum dilakukan seperti perawatan di salon/spa, pemasangan kawat gigi, olah raga untuk mendapatkan bentuk tubuh yang indah, sampai mungkin yang masih dianggap tabu seperti bedah kosmetik / operasi plastik. Bagi seorang Katolik apakah ritual-ritual seperti ini dibolehkan atau dianggap dosa?

Salam,
Mel

[dari katolisitas: silakan melihat prinsip di atas – silakan klik]

MR X
Guest
MR X

kalau merubah bentuk dalam tubuh kita disa gak ? misal memperbesar mr p, payidara

[dari katolisitas: silakan melihat jawaban di atas – silakan klik]

maria
Guest
maria

shalom ibu inggrid
menyambung pertanyaan di atas..
bolehkan melakukan operasi penyesuain bentuk tubuh agar sesuai proporsi yang kita inginkan, misalnya liposuction, breast augmentation, dan operasi sejenisnya.
terimakasih jawabannya. Maria.

[Dari Katolisitas: pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X