O, Salam, Tubuh yang Mulia, di Kayu Salib itu….

[Hari Minggu Biasa XXII: Yer 20:7-9; Mzm 63:2-9; Rm 12:1-2; Mat 16:21-27]

Ku mau s’perti-Mu Yesus, disempurnakan s’lalu, dalam seg’nap jalan-Mu, memuliakan nama-Mu...!” demikian sepenggal lirik lagu yang mungkin cukup akrab di telinga kita. Memang adalah kerinduan hati kita untuk selalu disempurnakan oleh Tuhan. Namun bagaimana caranya, itulah yang mungkin perlu kita renungkan bersama. Sebab lirik lagu itu sudah berhenti sampai di situ, seolah membiarkan kita menemukan sendiri bagaimana Tuhan menyempurnakan diri kita masing-masing. Namun syukur kepada Tuhan, firman-Nya menunjukkan kepada kita jalan menuju kesempurnaan itu.

Bacaan Kitab Suci Minggu ini, mengajarkan agar kita mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup kepada Tuhan, dan dengan demikian mempersembahkan “apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna” (Rom 12:2). Mempersembahkan tubuh kita? Bagaimana caranya? Mungkin karena saking simpel-nya, malah kita lupa bahwa dalam setiap apa yang kita lakukan, sesungguhnya kita melibatkan tubuh kita. Dengan jiwa, kita menginginkan atau tidak menginginkan, namun dengan tubuh-lah kita melaksanakannya. Dengan tubuh kita melakukan dosa, atau sebaliknya, melakukan kasih. Maka perbuatan baik yang kita lakukan tidak hanya hasil dari kehendak jiwa kita, tetapi juga tubuh kita. Demikianlah kita melibatkan mulut untuk tersenyum dan menghibur orang lain, tangan dan kaki untuk bekerja ataupun menolong sesama, dan mata untuk menatap dengan kasih. Dalam semua itu, Tuhan memberi kesempatan bagi kita untuk mempersembahkan tubuh kita, yaitu untuk mengasihi Tuhan dan sesama, dan untuk menghindari dosa.

Dewasa ini di tengah zaman yang cenderung menekankan hal-hal yang sensasional, hal kemurnian tubuh seolah tidak lagi menjadi perhatian. Sabda Tuhan hari ini menegur kita, untuk meninggalkan berbagai bentuk kenikmatan duniawi yang menjauhkan kita dari rencana Allah. Kaum muda dipanggil untuk menjaga kemurnian tubuh, demikian pula  pasangan suami istri. Suami istri yang memutuskan untuk tidak menggunakan alat-alat kontrasepsi merupakan contoh hidup di zaman ini, yang mempersembahkan tubuh mereka untuk Tuhan demi menjaga kesucian perkawinan sebagaimana dikehendaki oleh Tuhan. Sebab Tuhan menghendaki agar pasangan suami istri menjadi gambaran akan kasih Tuhan yang total dan tanpa syarat, kepada umat manusia; dan sebagai gambaran akan kasih Kristus kepada Gereja-Nya. Betapa kita semua perlu memandang salib Kristus, untuk melihat betapa sempurnanya kasih yang sudah dicurahkan-Nya untuk menyelamatkan kita. Kristus tidak memikirkan apa yang dikehendaki orang pada umumnya, seperti kenyamanan, kemudahan dan jalan pintas untuk mencapai tujuan-Nya. Kristus memilih salib, penderitaan, pengorbanan, dan pengosongan diri untuk menebus dosa- dosa kita dan untuk menunjukkan kasih-Nya kepada kita. Ia memilih untuk kehilangan nyawa-Nya agar memperolehnya kembali dalam kemuliaan-Nya. Dengan memandang Tubuh-Nya yang mulia yang tergantung di kayu salib, kitapun didorong dan dikuatkan untuk menghindari dosa dan untuk mengasihi, dengan tubuh kita. Pengorbanan-Nya di kayu salib menjadi contoh bagi kita, agar kita tidak takut menghadapi berbagai tantangan dan pengorbanan, untuk mengalahkan kelemahan kita dan menyatakan kasih kita kepada Tuhan dan kepada orang-orang di sekitar kita. Ya, mempersembahkan tubuh kita sebagai persembahan yang hidup kepada Tuhan memang melibatkan pengorbanan dan pengendalian diri, namun di atas semua itu, kasih kepada Tuhan. Kalau kita sungguh mengasihi Tuhan, kita akan memikirkan apa yang dipikirkan Tuhan, dan bukan apa yang dipikirkan orang kebanyakan. Maka pertanyaannya adalah: “Seberapa miripkah pikiranku dengan pikiran Tuhan?” Ya, Tuhan, ampunilah aku, jika apa yang kupikirkan jauh berbeda dengan apa yang Kau pikirkan! Seperti Rasul Petrus dalam bacaan Injil hari ini, kitapun cenderung memikirkan apa yang kita kehendaki dan bukan yang Tuhan kehendaki. Tapi syukurlah, bahwa Tuhan dapat mengubah kita, seperti Ia telah mengubah Petrus. Ia dapat menjadikan kita seperti Petrus, yang disempurnakan selalu, hingga akhirnya bahkan dimampukan untuk menyerahkan hidupnya seutuhnya untuk Tuhan.

Kupandang salib Kristus yang tergantung di dinding kamarku. Kini semakin kupahami mengapa di salib kita umat Katolik ada Corpus-nya. Tubuh Yesus yang tergantung di situ, mengingatkan kita bahwa kemenangan-Nya atas maut diperoleh-Nya melalui pengorbanan dan penderitaan yang tiada terukur dan tiada terpahami. Oleh bilur-bilur di Tubuh-Nya itu, kita disembuhkan (1Ptr 2:24). Tiba-tiba, lagu karangan Mozart itu menyampaikan makna baru ke dalam hatiku:

Ave, Verum Corpus, Salam, Tubuh yang Mulia,
natum de Maria Virgine, yang dilahirkan oleh Perawan Maria
Vere passum, immolatum, yang sungguh menderita
In cruce pro homine, disalibkan di kayu salib untuk umat manusia ….

Salam, ya Tubuh yang mulia,  bantulah aku untuk mempersembahkan tubuhku sebagai persembahan yang hidup, yang berkenan kepada-Mu!

19/12/2018
kian
Member
kian

Pada kaki salibMu,
Yesus, ‘ku berlindung;
Air hayat Golgota
pancaran yang agung.
Refrein:
SalibMu, salibMu
yang kumuliakan,
hingga dalam sorga
k’lak ada perhentian.

Pada kaki salibMu
kasihMu kut’rima;
Sinar Bintang Fajar t’rang
yang memb’ri cahaya.
Pada kaki salibMu
kuingat kurbanMu,
dalam jalan hidupku
kukenang selalu.
Pada kaki salibMu
‘ku tetap percaya,
hingga dalam sorga k’lak
jiwaku bahagia.

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X