Misi khusus orang tua: membesarkan anak secara Kristiani

Anak-anak adalah titipan Tuhan

Sebagai orangtua, kita dititipi anak-anak oleh Tuhan. Ini adalah tanggung jawab besar yang Tuhan percayakan pada kita. Semuanya terserah kepada kita, bagaimana kita menggunakan otoritas yang diberikan oleh Tuhan ini. Apakah kita akan menggunakannya dengan baik, atau kita akan membuang kesempatan emas yang mulia ini?

Kalau kita melihat dan mempelajari, orangtua sangat berperan besar sekali dalam kehidupan seorang anak. Bagaimana anak-anak ini akan tumbuh? Akan menjadi orang seperti apa mereka kalau sudah besar? Apakah mereka akan menjadi orang baik, pandai dan bermoral? Ataukah mereka akan menjadi nakal, bermasalah, dan tidak bertanggung jawab? Dengan kata lain, menjadi orang seperti apa mereka nantinya, sangat tergantung kepada bagaimana cara kita membesarkan mereka.

Anak-anak datang tidak dengan “petunjuk pemakaian”

Seperti yang kita ketahui, setiap anak berbeda satu sama lain. Dari segi karakter, tabiat, watak, bawaan, dan lain- lain; mereka semua unik dan berlainan. Kadangkala saya berharap Tuhan memberikan setiap orangtua buku petunjuk yang jelas dan lengkap mengenai cara membesarkan anak- anak kita masing-masing. Di buku ini saya harapkan Dia membahas secara detail mengenai: tipe karakter setiap anak, apa yang mereka suka/tidak suka, apa kelebihan/kekurangannya, bagaimana cara membesarkannya supaya mereka bisa menjadi orang benar, apa yang harus dilakukan kalau mereka bersalah, berbuat nakal, tidak mau menurut, dan seterusnya Bukankan Bapa kita di surga adalah Pencipta kita semua? Pastilah Dia tahu apa yang terbaik bagi setiap kita.

Sayangnya setiap anak yang dilahirkan tidak datang dengan ‘Buku Petunjuk Pemakaian’. Mereka dilahirkan dengan keadaan yang sangat sederhana, tanpa pakaian atau perlengkapan apapun juga. Saya pikir, mungkin Tuhan menghendaki agar setiap orang tua untuk terus bertumbuh, mempelajari dan mendalami keadaan anaknya setiap saat. Mungkin Tuhan ingin agar setiap orang tua selalu bergantung kepadaNya Sang Pencipta, agar Ia dapat memberikan kita anugerah, arahan, pandangan dan harapan, dalam membesarkan putra dan putri-Nya di dunia ini. Suatu tanggung jawab yang besar sekali, di mana hanya dengan melalui cara Tuhan Sang Pencipta sajalah kita baru dapat melaksanakannya dengan semaksimal mungkin dan sebaik mungkin.

Santa-santo membantu orang tua untuk mendidik anak-anak

Kalau kita melihat kisah para santo dan santa, kita mengetahui bahwa banyak dari mereka dilahirkan di dalam keluarga yang sangat sederhana. Walaupun demikian, orang tua mereka berhasil mendidik anak-anaknya sehingga mereka dapat menjadi santo/santa. Mari kita lihat keluarga Santa Bernadet. Dia dilahirkan di keluarga yang miskin dan sederhana. Bernadet sendiri sakit-sakitan dan kurang berpendidikan. Walaupun demikian, mereka sangat beriman kepada Tuhan. Sejak kecil, Bernadet mengenal imannya dengan benar dan mengerti cara mengaplikasikan imannya di dalam kehidupannya sehari-hari. Karena kedalaman imannya, kerendahan hatinya, dan kesederhanaannya itulah dia dipilih Tuhan untuk melakukan karya khususNya di dunia. Bunda Maria menampakkan diri padanya, dan melaluinya, banyak orang yang bertobat dan disembukan melalui mukjijat di Gua Lordes. Seperti halnya dengan Santa Bernadet, santo dan santa yang lain (walaupun mempunyai karakter yang sangat berbeda, dan latar belakang keluarga yang sangat berlainan), memiliki satu hal yang sama. Hal ini adalah: iman dan kasih mereka pada Tuhan, GerejaNya, dan sesama. Hal ini membuat mereka menjadi rendah hati dan teguh beriman. Hal ini membuat mereka dipakai Tuhan dengan caranya yang khusus. Setiap santo/santa mempunyai panggilan yang spesifik, sesuai dengan karakter dan kehidupan pribadi mereka. Ada kalanya dengan cara yang sederhana, namun juga ada kalanya dengan cara yang besar mulia. Apapun karya mereka, besar atau kecil, semasa hidupnya mereka semakin lama semakin bertumbuh menjadi lebih rendah hati, dalam melayani dan mencintai Tuhan.
Sama halnya dengan kita, santo dan santa ini hidup di dunia yang nyata. Mereka dihadapkan dengan masalah yang serupa seperti kita. Dunia yang penuh dengan cobaan, ketidaksempurnaan, dosa, dan musibah. Orang tua merekapun dihadapkan dengan keadaan yang serupa dengan yang kita alami. Mereka harus juga melengkapi kehidupan jasmani anak-anaknya; dari mulai makanan, pakaian, dan tempat tinggal. Merekapun dengan caranya sendiri juga melengkapi kehidupan rohani anak-anaknya, sehingga anak-anaknya tumbuh menjadi orang yang mengenal, memuji dan mencintai Tuhan. Jaman dahulu, mereka dapat membesarkan anaknya dengan baik, tanpa bantuan teknologi yang canggih, psikolog yang ternama, ataupun uang yang berlimpah.
Pada akhirnya, pertanyaannya adalah : “Apakah yang kita inginkan bagi anak-anak yang Tuhan percayakan pada kita?” Setiap orangtua pada umumnya menginginkan anak-anaknya untuk hidup bahagia. Pertanyaannya adalah, “Kehidupan bahagia yang seperti apa?” Kehidupan bahagia yang seharusnya kita inginkan, adalah kebahagiaan yang abadi untuk selama-lamanya. Ini adalah kebahagiaan yang hanya bisa diperoleh apabila kita pada akhirnya hidup bersama Bapa kita di Surga. Kehidupan bahagia yang abadi di Surga inilah yang seharusnya kita cari dan usahakan bagi anak-anak kita; bukan semata-mata hanya kehidupan di dunia yang sifatnya semu dan singkat. Apa artinya kalau kita hidup di dunia dan memperoleh uang, kekuasaan, kepopuleran, atau kemuliaan, tetapi perbuatan kita tidak membawa kita ke rumah Bapa di Surga. Sabda Tuhan mengatakan, bahwa pada akhirnya yang membawa seseorang ke Surga adalah iman, pengharapan dan cinta kasih kita pada Tuhan dan sesama. Ketiga hal inilah yang pada akhirnya akan dilihat oleh Tuhan. Ketiga hal inilah yang akan menyelamatkan seseorang untuk kembali ke rumah Bapa.

Petunjuk pemakaian secara umum adalah hukum kasih

Seperti yang Kristus katakan, hukum yang paling utama di antara semua hukum di Alkitab adalah: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” (Markus 12:30-31)
Apabila kita benar-benar melaksanakan kedua hukum cinta kasih ini, dengan sendirinya hukum-hukum yang lain pasti akan kita penuhi. Seseorang yang mencintai Tuhan dan sesama dengan segenap hati, jiwa dan raga; pasti dengan sendirinya adalah seseorang yang mencintai keluarganya, Gerejanya dan negaranya. Dia pasti adalah seorang warga negara yang benar, teman yang sejati, anak yang bertanggung jawab, dan pekerja yang teguh. Mengapa? Karena dengan sendirinya orang tersebut akan melakukan ajaran Tuhan yang tertera di Kitab Suci, dan hukum Gereja; yang membawa orang tersebut kepada keselamatan di Surga.

Memang Tuhan tidak menuliskan secara spesifik ‘Buku Petunjuk Pemakaian’ untuk setiap anak. Tetapi Tuhan sudah menuliskan ajaran kasihNya melalui sabdaNya di dalam Alkitab. Bersyukurlah Tuhan juga sudah memberikan kuasa otoritas khusus kepada Gereja Katolik untuk menginterpretasikan firmanNya ke dalam hidup kita sehari-hari. Bersyukurlah Gereja Katolik sudah menuliskan ‘Katekismus Gereja Katolik’, dan dokumen Gereja yang lainnya sebagai buku panduan kita untuk menjalani hidup kita dengan baik dan kudus. Kita juga harus bersyukur akan banyaknya psikolog dan penulis Katolik yang ternama, yang membantu kita untuk lebih mengaplikasikan ajaran Tuhan ini dengan lebih nyata lagi dalam kehidupan keluarga.
Bapa kita di Surga telah menyampaikan banyak hal yang penting untuk kita pelajari dan mengerti, sebagai bekal dalam upaya kita menjadi orangtua yang lebih baik. Melalui firmanNya di Kitab Suci, dan ajaran Gereja Katolik inilah, Tuhan sudah memberikan kita informasi yang secukupnya untuk membantu kita para orangtua memulai melakukan misi kita yang mulia ini: “Membantu menunjukkan jalan bagi anak-anak Tuhan yang dipercayakan pada kita untuk pada akhirnya kembali ke rumah Bapa di Surga”.

Misi kudus kita sebagai orangtua adalah: mengarahkan jiwa anak-anak kita untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan di surga

Dengan mengupas kedua sumber utama ini secara seksama, marilah bersama-sama kita renungkan dan pelajari: “Bagaima kita menjadi orangtua yang kudus, yang sesuai dengan apa yang direncanakan Tuhan bagi kita secara pribadi?

Kehidupan Setiap Manusia Ada dalam Rencana Allah

Tuhan menghendaki agar setiap orang bersatu denganNya di Surga. Karena besarnya kasih Allah pada manusia, Dia mengirimkan PuteraNya sendiri untuk menebus dosa manusia, sehingga kita dapat kembali bersamaNya di Surga (lih. Yoh 3:16).
Karena begitu indahnya rencana Allah bagi setiap manusia, sudah sepantasnyalah bagi kita anak- anak-Nya untuk mengikuti jalan yang sudah Dia bukakan bagi kita. Jalan ini adalah jalan yang memberikan keselamatan bagi orang yang percaya kepadaNya. Jalan yang dibekali oleh terang Roh Kudus, anugerah yang kita terima melalui sakramen-sakramen yang diberikan oleh Gereja Katolik, firmanNya yang meneguhkan dan menghibur.

Segala yang terjadi dalam hidup kita ada dalam rencana Tuhan. Segala langkah dan keputusan yang kita ambil (baik atau buruk), semuanya telah diketahui oleh Tuhan. Allah yang MahaTahu dan MahaKasih tidak lelah memanggil dan mengingatkan kita untuk mengambil keputusan yang benar, yaitu yang didasari oleh penerangan Roh Kudus, firmanNya dan GerejaNya. Dia mengajak kita untuk mengambil jalan yang benar dan memberi keputusan yang didasari iman, pengharapan dan kasih.

Karena kita adalah bagian dari rencana Allah, Tuhan pun memakai kita, sebagai orangtua, tidak hanya untuk membawa diri kita sendiri ke dalam Surga, tetapi juga membawa anak-anak (dan orang-orang lain) yang dipercayakan pada kita ke Surga. Ini adalah tanggung jawab terbesar bagi orangtua untuk anak-anaknya: menghantar, menuntun dan menunjukkan jalan menuju Surga. Karena misi yang kudus inilah, orang tua harus berupaya untuk:

1) Menanamkan di dalam hati anak-anak kita kebenaran yang sesungguhnya.
2) Menyatukan dan menguatkan kehendak dan pemikiran mereka terhadap kehendak Tuhan.
3) Menanamkan rasa kasih pada Tuhan dan sesama, dan keinginan untuk menjalani kehidupan dengan kekudusan dan pelayanan.
4) Mengorbankan kepentingan pribadi kita dengan suka cita, demi keselamatan dan kepentingan anak.
5) Dengan bantuan rahmat Tuhan, menuntun anak-anak kita untuk menjadi santo dan santa di dunia modern ini.

Tuhan mengetahui dan mengenal kita semua satu persatu, mulai dari kepribadian kita masing-masing, sampai ke jumlah rambut kita. Karenanya Tuhan pula yang mengetahui secara pasti dan benar keberadaan seorang anak di dalam keluarganya masing-masing. Dia yang menciptakan anak tertentu untuk lahir melalui campur tangan orangtua yang tertentu, di dalam keluarga yang tertentu. Sama seperti misteri bagaimana dua orang yang berlainan dapat bertemu, jatuh cinta dan menikah; begitulah adanya misteri bagaimana anak yang tertentu dapat lahir di keluarga tertentu. Ini adalah suatu misteri Allah yang sangat ajaib dan indah. Sepertinya Tuhan mengetahui orang tua mana yang terbaik untuk anak tertentu. Sepertinya Tuhan mempercayakan keberadaan anak ini di dalam tangan kita.
Begitu besarnya rasa percaya Bapa kita di Surga kepada kita dalam membesarkan anak-anak ini, sehingga melalui kitalah mereka bisa dituntun, dibesarkan dan dikembalikan akhirnya ke rumah Bapa. Kita harus yakin bahwa Tuhan mempunyai rencana yang indah bagi kita dan keluarga kita, apabila kita mau mengikuti kehendakNya dan jalan yang sudah Dia berikan bagi kita.
Selama kita menjalani rencana Allah bagi keluarga kita ini, Tuhan menjanjikan kita harapan dan kekuatan melalui rahmatNya dan Roh Kudus. Sama seperti Tuhan yang menyertai bangsa Israel untuk selamat sampai di Tanah Perjanjian, Tuhan pulalah akan menyertai kita dan melimpahkan berkatnya bagi kita, supaya kita bisa terus dengan setia mengarahkan keluarga kita untuk sampai ke Rumah Bapa di Surga. Karenanya, seperti Musa yang terus bertanya dan berusaha menjalankan kehendak Tuhan, kitapun harus selalu bertanya pada Bapa dan meminta petunjukNya untuk menerangkan dan menuntun kita di jalan yang benar.

“Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman TUHAN, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepadamu hari depan yang penuh harapan. Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati. Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan memulihkan keadaanmu dan akan mengumpulkan kamu dari antara segala bangsa dan dari segala tempat ke mana kamu telah Kuceraiberaikan, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan mengembalikan kamu ke tempat yang dari mana Aku telah membuang kamu.” (Yeremia 29:11-14)

Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. (Yesaya 55:8-9)

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. (Roma 8:28)

19/12/2018

22
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
9 Comment threads
13 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
12 Comment authors
Dominikus irzi prasetyalizaromy adinotomegatoko furniture online Recent comment authors
Dominikus irzi prasetya
Member
Dominikus irzi prasetya

saya punya abang kandung seorang katolik yg dulunya taat , dulunya dia rajin misa , perfect tentang agama,, namun sudah hampir 2 tahun gak pernah misa lagi, pas saya tanya kenapa gak misa dia marah2 ke saya ,di bilangnya jangan ikut campur urusan dia pas saya selidiki ternyata dia sudah pindah agama, di karenakan wanita yg ia cintai menyuruhnya belajar agama non kristen.. BAHKAN si cweknya abg gwa memaksa gwa untuk belajar keyakinan dia terus saya sebagai adik bagaimana menanggapinya ?? saya sudah lelah menasehati abg saya orang tua saya keduanya sudah tidak ada lagi dan saya juga masih berumur… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Dominikus, Prinsip yang perlu kita pegang adalah: kalau Anda sebagai adik menginginkan kakak Anda kembali kepada Yesus, maka pasti Allah mempunyai kerinduan yang jauh lebih besar dari Anda. Jadi, cara terbaik adalah berdoa, mohon agar Tuhan memberikan rahmat-Nya dan agar kakak Anda juga dapat melembutkan hatinya untuk menanggapi rahmat Tuhan dengan baik. Hal lain adalah untuk terus mengasihi kakak Anda, terutama jadilah orang pertama yang membantu kakak Anda kalau dia sedang menghadapi masalah. Yang lain, kalau ada waktu yang memungkinkan, maka diskusikan perlahan-lahan dalam suasana kasih tentang iman Katolik. Kalau kakak Anda menolak pada saat itu, anda dapat melakukannya… Read more »

romy adinoto
Guest
romy adinoto

Shalom, pak Tay, bu Ingrid
, pak Wahyudi …. Terima kasih atas pencerahaannya, saya sadar orang tua sebagai
alat Tuhan tuk membentuk anak2, jadi tanggung jawab utama orang tua,
menjadi semakin serupa Yesus tuk membawa anak2nya menyerupai Yesus,
sehingga sanggup menjalani kehendak Bapa, semasa hidup didunia dengan
tujuan akhir kembali kerumah Bapa…. Bagaimana pandangan tentang anak2
yang sudah agak tidat nurut untuk dipukul(dengan tangan tapi tidak keras)…..
Terima kasih atas kesediaan memberi pangarahan…..God bless all of you….

Ingrid Listiati
Member

Shalom Romy, Sebenarnya, yang lebih penting dalam pendidikan anak bukan hukumannya, tetapi penjelasan sesudahnya mengapa ia dihukum, jika ia melakukan kesalahan. Dengan bertambahnya umur anak, maka umumnya orang tua tidak lagi menggunakan cara- cara pukulan, tetapi lebih kepada berbicara empat mata, tentang mengapa si anak perlu memperbaiki kesalahannya, demi kebaikannya sendiri. Maka saya rasa, jika anak anda memasuki fase ini, yaitu sudah mulai tidak murut karena dipukul, silakan anda memeriksa, apakah anda sudah pernah mengajaknya bicara seperti layaknya berbicara kepada seorang anak yang sudah dewasa, dengan menunjukkan alasan yang masuk akal atas peraturan/ ketentuan yang anda ajarkan ataupun atas kesalahan… Read more »

mega
Guest
mega

Salam sejahtera tim katolisitas, Saya punya sedikit masalah, begini, anak saya yang paling besar (perempuan) usia 12 tahun, sudah hampir 3 tahun ini dekat sekali dengan neneknya. Rumah kami memang saling berjauhan, jaraknya kira2 200 km, jadi sebetulnya kami jarang bertemu, mungkin sekitar 10 – 20 kali dalam setahun. Sedangkan anak saya ini, biasanya kalau libur sekolah pasti selalu menginap di rumah neneknya, paling sebentar 1 minggu. Yang saya tidak suka saat ini, ternyata, anak saya itu jadinya justru lebih lengket dg neneknya. Dia selalu membanding2kan apa saja dg kelebihan yg diberikan neneknya (neneknya itu boleh dibilang bukan orang miskin).… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Mega, Saya tidak tahu apakah sesungguhnya anda perlu menganggapnya sebagai masalah, atau tidak, tentang kedekatan anak anda dengan neneknya. Sejujurnya, jika kedekatan itu bermotif-kan kasih, maka sungguh, seharusnya tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Sebab neneknya juga adalah orang tua anda (mungkin mertua?), yang seharusnya dikasihi oleh anak dan cucu-cucunya. Namun memang benar juga bahwa sebaiknya, bagaimanapun anak anda dekat dengan neneknya, jangan sampai nenek menggeserkan peran anda sebagai ibu baginya. Sebab biar bagaimanapun tanggungjawab sebagai ibu ada pada anda. Maka saya mengusulkan agar anda menilai secara obyektif, apakah sebenarnya motif di balik kedekatan anak anda dengan neneknya. Apakah karena… Read more »

toko furniture online
Guest

kami mempunyai seorang anak. Kami sendiri beragama Kristen dan istri Katholik. Diantara dari kami tidak ada yg mau mengalah untuk menjadi satu saja. Kami juga sudah lelah untuk bertengkar masalah ini. tetapi muncul permasalahan baru. Anak bagaimana? Istri bersikeras kalau si anak dibawa ke gereja Kristen maka harus boleh ke gereja Katholik juga. Dalam Alkitab dibilang kalau suami dan istri adalah satu. Tetapi untuk masalah ini gimana? apakah istri harus menurut kepada suami seperti yg dilakukan naomi kepada suaminya? bangsamu adalah bangsaku, Allahmu adalah Allahku. Bagaimanapun Kristen dan Khatolik mempunyai beberapa perbedaan pemahaman yg tidak bisa disatukan. Dan kita memang… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Toko, Terima kasih atas pertanyaannya. Sebenarnya masalah yang anda kemukakan memang merupakan resiko dari perkawinan campur. Saya tidak tahu apakah waktu itu anda mengikuti persiapan perkawinan di Gereja Katolik sebelum melakukan perkawinan, serta apakah anda telah menghadap Pastor. Biasanya dalam perkawinan campur seperti ini, pasangan tersebut berjanji untuk mendidik anak-anak dengan iman Katolik. Dan inilah yang mungkin membebani istri anda. Dan kalau anda juga berjanji, maka anda juga sebenarnya terikat dengan janji ini. Dengan adanya janji ini, maka sebenarnya, menjadi kewajiban bagi pasangan untuk juga mendidik anak-anak secara Katolik. Kalau anda ingin berdiskusi tentang iman Katolik – yang dirasa… Read more »

mega
Guest
mega

Salam sehatera Ibu Ingrid, Terimakasih banyak atas pencerahan yg ibu berikan. Saya setuju sekali dg semua yg ibu jelaskan di atas. Seharusnya saya menceritakan lebih dahulu permasalahan saya, supaya agak sedikit jelas posisi saya yg sesungguhnya. Begini bu, nenek yg saya sebut di atas adalah ibu mertua saya. Sebetulnya, sejak pertama kali suami saya mengatakan, bhw dia akan menikah dg orang asia, ibu mertua saya itu sudah anti pati. Jadi, awalnya memang dari rasa anti pati terhadap semua orang asia, menurut suami saya, dikarenakan pengalaman kurang bagus dg orang asia. Ibu mertua saya berpendapat, bahwa orang asia yg menikah dg… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Mega, Setelah anda jabarkan kisahnya, kelihatannya situasinya menjadi lebih jelas bagi saya. Namun demikian, terlepas dari watak ibu mertua anda yang ‘khusus’ itu, saya tetap berpikir tetap ada baiknya jika anda memeriksa diri anda, akan apakah yang dapat anda lakukan untuk memperbaiki situasi dalam keluarga anda. Sebab biar sulit sekalipun, selalu ada jalan untuk melakukan kasih, dan nampaknya itulah yang dibutuhkan, baik oleh anak anda, maupun ibu mertua anda. Saya sering mendengar sharing kaum manula, yang mengatakan bahwa setelah mereka memasuki usia yang mulai lanjut, mereka akan menjadi semakin sensitif. Kita mungkin belum sepenuhnya memahami, tetapi jika Tuhan memberikan… Read more »

mega
Guest
mega

Salam sejahtera ibu Ingrid,

Terimakasih banyak atas tanggapan yang ibu berikan dan juga terimakasih dg pengalaman menarik dari ibu Lesminingtyas, saya akan ambil hikmahnya.

salam dan doa
mega

Novan
Guest
Novan

Shalom, saya ingin bertanya, sebagai seorang anak, bagaimana kita bisa memberitahu orang tua bahwa apa yang mereka lakukan terhadap saya adalah hal yang kurang tepat? bagaimana jika mereka berpikir bahwa kebahagiaan yang penting adalah yang di dunia? Dalam kasus saya, saya sudah menemukan pasangan yang satu iman, tapi berbeda etnis. Orang tua saya tidak suka hal tersebut karena beranggapan bahwa hidup saya akan sulit karena pasangan saya berbeda etnis. Karena perbedaan ini mereka juga tidak mau mencoba mengenal pasangan saya dan keluarganya. Sempat tercetus pula dari orang tua, bahwa mereka menyukai pemikiran ‘lebih baik beda agama, karena agama dapat diubah/pindah’.… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Novan, Pertama- tama silakan anda membawa permasalahan yang sedang anda hadapi ini dengan doa. Kedua, silakan anda memeriksa dengan obyektif apakah pasangan anda yang beda etnis tersebut sungguh adalah seorang Katolik yang baik, dalam artian takut akan Tuhan, melaksanakan imannya di dalam perbuatan? Apakah sifat- sifatnya cocok dengan anda, dan apakah anda dapat berkomunikasi dan saling mendukung dan mengasihi satu sama lain? Apakah ia orang yang rajin bekerja dan bertanggungjawab? Apakah ia sabar dan tak lekas naik pitam? Apakah ia hormat pada orang tua? dst. Pertanyaan serupa ini dapat anda sebutkan sendiri, untuk memeriksa hubungan anda dengan dia, dan… Read more »

wahyudi
Guest
wahyudi

Syalom… Menanggapi komentar saudari Ane dan Saudari Amaral… Seperti yang sudah dijelaskan oleh saudara Stef.. saya mencoba memberikan pemahaman yang sederhana… 1. Pada hakekatnya anak dilahirkan dalam keadaan suci, bebas dari sifat2 buruk…. ibarat sehelai kertas.. ia putih dan polos…… (Sebagai titipan Tuhan, ia baik adanya) Dalam perkembangannya, lingkungan sangat mempengaruhi sifat2 baru daripada anak tersebut… Hal ini menunjukkan betapa berpengaruhnya peran lingkungan yang terdekat… yaitu keluarga. a. Bila Keluarga Dominan Maka sebagian besar sifat2 anak dibentuk oleh orang tuanya… artinya dalam setiap tindakan maupun ucapan orang tua (baik itu disadari maupun tidak) akan berpengaruh pada sifat2 anak dikemudian hari.… Read more »

liza
Guest
liza

Terima kasih atas kata2nya… saya merasa sudah diingatkan… selama ini saya merasa sudah sangat jahat sekali terhadap anak saya… saya merasa kalau dia nakal saya wajib memperingati bahkan saya terlewat smp memukulnya & mengurungnya dikamar… Semua ini jg ada pengaruh dari perkawinan saya yg tidak sehat lagi… hubungan komunikasi dengan suami begitu sulit bahkan kami jarang sekali berbicara… saya kadang merasa perkawinan saya hancur dan sering saya lampiaskan ke anak… setelahnya pasti saya sangat menyesal & minta maaf ke anak… saya ingin sekali menghentikan kebiasaan saya memukul anak tetapi saya ga bisa mengendalikan emosi klo saya lg kesel… di rumah… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Liza, Saya teringat akan ayat ini, “Tetapi perempuan akan diselamatkan karena melahirkan anak, asal ia bertekun dalam iman dan kasih dan pengudusan dengan segala kesederhanaan.” (1 Tim 2:15). Maka memang benar besarlah pengorbanan seorang ibu kepada anaknya, namun hal ini tidak sia- sia, sebab dapat menjadi sarana yang digunakan Tuhan untuk menguduskan para ibu. Maka berbahagialah para ibu, yang telah diberi tugas oleh Tuhan untuk melahirkan dan membesarkan anak- anak. Anak adalah titipan Tuhan, karunia yang harus disyukuri tiap- tiap hari, walaupun tidak jarang ‘karunia’ tersebut menuntut juga pengorbanan dari pihak orang tua. Namun dengan melakukan tugas panggilan sebagai… Read more »

Anonymous
Guest
Anonymous

Salam admins,

kalau misal ditambahkan bahwa keluarga adalah seminari tingkat dasar gimana ? bahwa anak2 bisa diarahkan menuju panggilan membiara untuk melayani Tuhan.

Stefanus Tay

Shalom Anonymous,

Terima kasih atas tanggapannya. Keluarga seharusnya menjadi gereja terkecil dan bukan hanya seminari tingkat dasar. Jadi, anak-anak dapat diarahkan kepada kehidupan membiara, menjadi pastor/suster yang kudus, menjadi kaum awam yang kudus. Dengan demikian, keluarga dapat membuka kemungkinan bagi anak-anak untuk membangun Gereja dan mengasihi Kristus dengan cara yang berbeda-beda. Intinya adalah membawa anak-anak ke Sorga. Itulah tujuan akhirnya, yang dapat dicapai dengan cara yang berbeda-beda, baik menjadi imam maupun awam. Namun, perlu juga diajarkan untuk memberikan yang terbaik kepada Tuhan, sehingga nama Tuhan dapat semakin dipermuliakan (Ad Majorem Dei Gloriam). Semoga dapat membantu.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

ane
Guest
ane

Sbg org tua kita sdh mendidik &mengarahkan kpd agama yg kita anut tp bgmn klau anak akhirnya mbelot tdk setia lg akan agamanya dgn alasan2 spt hrs mengikuti agama suami ato sebaliknya,krn klau tdk diikuti bs berakibat fatal,akhirnya kembali org tua yg akan disalahkan lg ga akan pernah bener mnjadi org tua alias GAGAL mendidik &tdk sesuai KEHENDAK “ALLAH”

Stefanus Tay

Shalom Ane, Terima kasih atas pertanyannya tentang pendidikan anak. Kita harus menyadari bahwa banyak keputusan anak-anak bukanlah suatu keputusan yang mendadak, namun dibuat berdasarkan pondasi yang telah ditanamkan di dalam keluarga masing-masing. Oleh karena itu, tugas orang tua adalah memberikan pondasi iman yang kuat kepada anak-anak. Dan setelah mereka dewasa dan dapat mengambil keputusan sendiri, maka tugas orang tua adalah mendampingi anak-anak dan bukan memaksakan kehendak kepada mereka. Pada saat anak-anak telah dewasa, maka kita mempunyai harapan bahwa mereka dapat menghadapi hidup dengan iman, pengharapan dan kasih, karena telah diberikan pondasi yang kuat. Hal ini termasuk untuk mencari pasangan yang… Read more »

Aquilino Amaral
Guest
Aquilino Amaral

Bagi penulis article ini, Saya pikir penjelasan yang diberikan tentang “misi khusus orang tua: membesarkan anak secara Kristiani” hal ini sangat penting dalam keluarga untuk mendidik anak-anaknya di dunia ini. namun ada banyak kendala yang dihadapi oleh beberapa kalangan orang tua dalam mengasuh anaknya, dimana mereka (orang tua) dihadapkan situasi yang sangat sulit diera globalisasi ini. anak-anak sekarang yang hidup di era globalisasi tentunya mereka dihadapkan oleh situasi yang amat sulit tentang moral dan etika. Hal demkian sangat perlu campur tangan orang yang kontinuesly, dan rahmat roh kudus agar mereka dimbimbing untuk merenungkan kasih karunia Allah, agar anak-anak kita tidak… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Aquilino Amaral, Sebagai orang tua, kita dipercaya oleh Tuhan untuk membesarkan dan mendidik anak- anak kita sesuai dengan iman Katolik sampai mereka dewasa atau dapat berdiri sendiri. Kita harus menyadari, bahwa tugas terbesar dari orang tua adalah untuk menghantar setiap anak- anaknya agar dapat masuk surga. Sehingga tugas pertama orang tua adalah menghantar anak- anak untuk menerima Pembaptisan, dan kemudian mendidik anak- anak secara Katolik, yaitu untuk bertumbuh dalam iman, pengharapan dan kasih. Dengan demikian, tidak menjadi masalah apakah keluarga itu berkecukupan atau kekurangan (miskin), sebab tugas rohani ini tidak mensyaratkan kecukupan materi. Sebagai contohnya saja, Yesus pada saat… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X