Mengikuti Yesus, menyangkal diri, memikul salib (Mt 16:24)

Pertanyaan:

Syallom Pak Stef,
Saya ingin menanyakan beberapa ayat dari kitab Suci bagaimana dan apa maksudnya:

Mat 16:24 Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku, yang dimaksudkan penyangkalan diri di sini apa, lalu konteks yang bisa kita terapkan untuk hidup saya ini bagaimana?

[edit: ayat yang lain dapat ditanyakan kemudian, sehingga tidak tercampur]

Terima kasih – Joan Heru

Jawaban:

Shalom Joan Heru,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang Mt 16:24, yang mengatakan “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.

1. Konteks dari Mt 16:24

Kalau kita melihat konteks dari ayat ini, maka kita dapat melihat bahwa Yesus mengatakan perkataan tersebut setelah Dia menegur Petrus. Kalau sebelumnya Petrus menyatakan bahwa Yesus adalah Sang Mesias, Anak Allah yang hidup (lih. Mt 16:16-19), namun di ayat selanjutnya, rasul Petrus justru mencoba menghalangi Yesus untuk menerima rencana Allah, yaitu untuk menerima siksaan, dibunuh dan kemudian bangkit pada hari ke-tiga (lih. ay. 21-22). Di ayat 23 dikatakan bahwa Yesus menegur rasul Petrus dengan keras, karena Petrus menempatkan pemikiran sendiri di atas apa yang dipikirkan oleh Allah.

2. Penyangkalan diri berarti mengikuti Kristus

Dalam konteks inilah, setelah Yesus menegur Petrus, Dia kemudian mengatakan bahwa setiap orang yang mau mengikuti Yesus, harus melakukan apa yang dilakukan oleh Yesus, yaitu melaksanakan kehendak Bapa. Ini berarti seseorang harus melakukan doa seperti yang Yesus doakan dalam taman Getsemani “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!” (Mt 26:39,42,44). Ini juga berarti seseorang juga harus memikul salib, seperti yang Yesus lakukan. Namun, menerima penderitaan ini harus dilandasi oleh kasih kepada Allah (lih. 1Kor 13:3) dan kebenaran akan Kristus (lih. Mt 5:10-11).

3. Penyangkalan diri berarti menempatkan kebenaran di atas segalanya

Jadi, menyangkal diri adalah menempatkan kebenaran dan kehendak Allah lebih tinggi daripada keinginan pribadi. Ini adalah suatu tindakan yang tidak mudah, karena kita sering melakukan apa-apa yang kita anggap gampang dan menguntungkan kita, tanpa mempertimbangkan apa yang sebenarnya diinginkan oleh Tuhan dalam kehidupan kita. Berapa banyak dalam kehidupan sehari-hari, kita bertanya terlebih dahulu kepada Allah sebelum mengambil keputusan-keputusan? Penyangkalan diri melibatkan pertobatan yang terus-menerus, karena penyangkalan diri melibatkan kerendahan hati – yang menjadi dasar dari pertobatan dan spiritualitas Katolik. Penyangkalan diri adalah menempatkan dogma dan doktrin yang ditetapkan oleh Gereja Katolik lebih tinggi daripada interpretasi pribadi. Kalau Gereja Katolik mengajarkan bahwa pemakaian kontrasepsi (termasuk kondom) adalah berdosa, maka dengan kerendahan hati kita mengikuti pengajaran ini, walaupun ini sulit.

4. Dasar dari penyangkalan diri

Penyangkalan diri yang terus-menerus yang didasari oleh kebenaran dan kasih kepada Allah, akan semakin membuat diri kita menjadi semakin mirip dengan Kristus. Dan penyangkalan diri ini akan membawa kita kepada kebebasan, karena kebenaran adalah membebaskan (lih. Yoh 8:32). Dan dengan kebebasan yang benar ini, maka kita akan semakin mengikuti perintah Allah dengan lebih mudah dan lebih siap, karena mengikuti perintah Allah telah menjadi karakter atau menjadi bagian dan kebiasaan dari jiwa kita.

Akhirnya, seseorang yang menyangkal dirinya, bersama dengan pemazmur, akan menyanyikan “Biarlah aku hidup menurut petunjuk perintah-perintah-Mu, sebab aku menyukainya.” (Mzm 119:35).

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

16
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
7 Comment threads
9 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
12 Comment authors
anton girsangkristopelCaecilia TriastutiYouthRegina Winarah Recent comment authors
anton girsang
Guest
anton girsang

Saya sangat diberkati dengan penjelasan Romo, namun dalam perjalanan sejarah gereja sering terjadi pemimpin Rohani lebih mengutamakan keinginan sendiri/organisasinya dari pada kehendak Allah.Salah satu contoh Pastor Menno Simon pada abad ke 15 di Belanda, krn menuruti firman Allah mereka dianiaya oleh saudaranya sendiri, Hal ini juga saya rasakan sebagai orang Protestan (menonite)yang punya keluarga dari pihak ibu yang masih Katolik, Terlalu fanatik dengan organisasinya bukan kepada Firman/khendak Allah diatas segala-galanya, bgmn pendapat Romo.?

Ingrid Listiati
Member

Shalom Anton, Sejujurnya, perpecahan dalam Tubuh Kristus (Gereja) itu menyakitkan, dan ini nyata dapat dirasakan dalam keluarga yang anggotanya berasal dari Gereja ataupun denominasi gereja yang berbeda-beda; karena perbedaan ini dapat berpengaruh dalam beberapa hal prinsip dalam keseharian hidup. Nampaknya keadaan yang tidak ideal inilah yang Anda alami, walaupun mungkin kedua pihak juga mengetahui bahwa keadaan semacam ini selayaknya dihindari. Diperlukan sikap toleransi dari kedua belah pihak, untuk menyikapi perbedaan ini. Namun baik jika dipahami bahwa kita tidak dapat menyamakan firman Allah dengan interpretasi manusia terhadap firman Allah. Sebab baik Katolik maupun Kristen non-Katolik sama-sama menghormati firman Allah. Hanya memang… Read more »

kristopel
Guest
kristopel

saya rasa penyangkalan diri itu melakukan apa yang menjadi kehendak TUHAN YESUS terhadap kita / saya agar terlihat baik dan benar di hadapan ALLAH.

[dari katolisitas: Benar, melakukan kehendak Kristus kadang melibatkan penyangkalan diri.]

Youth
Guest
Youth

Terima kasih^^

Youth
Guest
Youth

Shalom..
1. Bagaimana cara mengenalkan kepada anak – anak sekolah minggu perihal “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.”

2.Dan Juga pengenalan mengenai Tubuh dan darah Kristus kepada Anak?
terima kasih^^

Berkah Dalem..

Caecilia Triastuti
Editor

Shalom Youth, Untuk pertanyaan pertama: Anak-anak, sebenarnya seperti juga orang dewasa, lebih mudah menyerap suatu pemahaman jika disajikan dalam bentuk contoh nyata, dalam bentuk permainan, atau cerita (baik secara lisan, melalui media, maupun melalui pertunjukan drama atau sandiwara boneka misalnya). Konsep menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Yesus adalah suatu kesinambungan yang tidak berdiri sendiri, ketiganya terintegrasi menjadi suatu kesatuan yang saling menunjang sehingga tujuan akhir untuk mengikuti Yesus itu dapat tercapai. Kita dapat memberikan contoh nyata, sikap yang bagaimana yang merupakan contoh dari penyangkalan diri, yaitu menempatkan apa yang dikehendaki Allah di atas keinginan pribadi. Kita dapat menyajikannya dalam… Read more »

Regina Winarah
Guest
Regina Winarah

D H

Mohon kami diberitahu contoh sehari-hari dalam kehidupan :

– Menyangkal diri
– Memikul salib

terima kasih

RANI HENDRIKUS
Guest
RANI HENDRIKUS

syallom pak Stef
Saya mau melanjukan pertanyaan pak Joa, YESUS mengatakan ………….menyangkal dirinya, memikul salib dan mengikuti aku……. Yang mengganggu pikiran saya, apa benar kata-kata “MEMIKUL SALIBNYA” adalah kata-kata Yesus, karena pada saat itu peristiwa salib (Yesus disalibkan) belum terjadi. JAdi kalimat ini menjadi aneh diungkapkan, karena para pendengar (murid Yesus) pasti belum memahami konsep ” MEMIKUL SALIBNYA”
mohon tanggapannya
Terima kasih

Rm Didik Bagiyowinadi
Member

Sdri. Rani yang baik, Menanggapi pertanyaan Rani, mungkin perlu dipertegas di sini: “Memikul salibnya”, salib siapakah yang dimaksudkan? Salib Yesus atau salib masing-masing pengikut Yesus? Dalam Injil tertulis persyaratan menjadi murid Yesus sbb: “Lalu Yesus berkata kepada murid-muridNya, “Setiap orang yang mau mengikuti Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya, dan mengikut Aku” (Mat 16:24; Mrk 8:34, dan dalam Luk 9:23 dirumuskan “memikul salibnya setiap hari”. Yesus tidak mengatakan “memikul salib-Ku”, sehingga jelas yang dimaksudkan salib masing-masing pengikut Kristus. Lalu apa salib kita sebagai pengikut Kristus? Apakah setiap penderitaan yang kita alami, termasuk yang karena kesalahan kita sendiri merupakan suatu… Read more »

fxe
Guest
fxe

“Tentu, tidak semua penderitaan adalah salib. Salib adalah konsekuensi yang harus kita pikul karena mau mengikuti ajaran Tuhan Yesus.”

Apakah kalau kita menderita penyakit (tentu itu bukan karena kesalahan kita) – apalagi sakit yg kronis/menahun – hal ini bisa dianggap memanggul salib juga?

Apakah dengan memanggul salib di dunia ini dapat mengurangi penderitaan kita di api penyucian?

Terima kasih Romo atas penjelasan yg Anda berikan.

Rm Didik Bagiyowinadi Pr
Guest

Fxe yth, Benar, memang sakit penderitaan yang kita tanggung bisa menjadi sebuah salib, asalkan kita mau menanggungnya dengan sabar dan menyatukannya dengan penderitaan Kristus sendiri. Bahkan Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa beban sakit-penderitaan ini bisa kita jadikan persembahan rohani yang berkenan pada Tuhan: “Melalui perminyakan suci orang sakit dan doa para imam seluruh Gereja menyerahkan mereka yang sakit kepada Tuhan yang bersengsara dan telah dimuliakan, supaya Ia menyembuhkan dan menyelamatkan mereka (lih. Yak 5:14-16); bahkan Gereja mendorong mereka untuk secara bebas menggabungkan diri dengan sengsara dan wafat Kristus (lih. Rom 8:17; Kol 1:24; 2Tim 2:11-12; 1Ptr 4:13), dan dengan demikian… Read more »

palar siahaan
Guest
palar siahaan

Yth Rm Didik Kalau kita yg direpotkan(seseorang) gmn romo.., maksud saya begini…, saya ada kerabat yng mengalami masalah hubungan suami-istri. ketika masalh hubungan mereka semakin sulit dicari jalan keluar si suami kembali ke rumah(tinggal bersama orang tuanya) “meninggalkan” anak-istri. Asumsi saya terhadap si suami tadi.., dari kecil dia sudah kadung ketergantungan akan banyak hal sedari kecil, sehingga sulit mandiri(memecahkan sendiri permasalahan yang dihadapinya). orang tua, keluarga, kerabat, sudah banyak memberi masukan, nasehat, (agar si suami) lebih bijak dan tidak putus asa untuk mengupayakan hubungan mereka bisa berjalan lg seperti biasa, justru si suami tadi cenderung emosional terhadap segala masukan yg… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Palar, Jika kita mempunyai anggota keluarga yang bermasalah, maka memang kita sebagai anggota keluarga dipanggil untuk turut menanggung bebannya. Sebab Sabda Tuhan mengatakan, “Bertolong- tolonglah dalam menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.” (Gal 6:2). Jika ini harus dilakukan oleh sesama saudara seiman, maka terlebih lagi jika itu menyangkut hubungan yang lebih dekat, yaitu hubungan persaudaraan/ hubungan darah dalam keluarga. Oleh karena itu, baik orang tua maupun sesama saudara kandung, dipanggil untuk menolong saudara yang bermasalah tersebut. Semua anggota keluarga turut menanggung ‘salib’ tersebut, karena sama- sama mengambil bagian dalam usaha menolong saudara anda tersebut. Memang pertanyaan selanjutnya, adalah… Read more »

Joan Heru
Guest
Joan Heru

Syallom Pak Stef,
Saya ingin menanyakan beberapa ayat dari kitab Suci bagaimana dan apa maksudnya:

1.Mat 16:24 Lalu Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku, yang dimaksudkan penyangkalan diri di sini apa, lalu konteks yang bisa kita terapkan untuk hidup saya ini bagaimana?

2.at 16:28 Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai Raja dalam Kerajaan-Nya.”siapa orang yang dimaksud disini ?
Terima KAsih sebelumnya

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X