Mengapa Yesus memanggil Bunda Maria, “perempuan”?

Untuk menjawab pertanyaan ini, maka kita harus membahas: 1) Percakapan Yesus dan Maria di dalam Injil, 2) Yesus menghormati Maria dan 3) sebutan “perempuan” (woman) mempunyai makna yang begitu dalam.

I. Percakapan Yesus dan Maria dalam Injil

1. Yang pertama harus kita sadari adalah Injil ditulis untuk mewartakan Kristus, sehingga senantiasa berfokus pada Kristus. Kita tidak banyak menjumpai percakapan langsung antara Yesus dan Maria. Berikut ini adalah percakapan langsung mereka yang tertulis di dalam Injil:

Yoh 2:3-4: 3 Ketika mereka kekurangan anggur, ibu Yesus berkata kepada-Nya: “Mereka kehabisan anggur.” 4 Kata Yesus kepadanya: “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu (woman)? Saat-Ku belum tiba.

Lk 2:48-49: 48 Dan ketika orang tua-Nya melihat Dia, tercenganglah mereka, lalu kata ibu-Nya kepada-Nya: “Nak, mengapakah Engkau berbuat demikian terhadap kami? Bapa-Mu dan aku dengan cemas mencari Engkau.” 49 Jawab-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?

Yoh 19:26:  Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya: “Ibu (woman), inilah, anakmu!

2. Injil hanya merekam tiga percakapan langsung antara Bunda Maria dan Yesus. Dua diantaranya, Yesus memanggil Maria dengan sebutan “perempuan” /woman (lih. Yoh 2:4; Yoh 19:26) dan satu dengan sebutan “kamu” (lih. Lk 2:49).

Namun, apakah dengan demikian Maria tidak penting? Kita tidak dapat menyimpulkan demikian. Fakta bahwa Bunda Maria dipilih menjadi Bunda Kristus, Bunda Allah, maka Bunda Maria menduduki suatu tempat yang begitu istimewa untuk turut berpartisipasi dalam karya keselamatan Allah.

II. Yesus menghormati Bunda Maria.

Kita hanya dapat mengatakan bahwa Yesus memanggil Bunda Maria dengan sebutan “perempuan” dan tidak pernah memanggil “ibu” adalah sejauh terekam di dalam Injil. Kita tidak pernah tahu apakah Yesus tidak pernah memanggil Maria dengan sebutan “ibu” selama 30 tahun ketika Yesus hidup bersama dengan Maria dalam satu atap. Kita tahu bahwa Yesus adalah anak yang baik, seperti yang terekam di dalam Injil, yang menuliskan “51  Lalu Ia pulang bersama-sama mereka ke Nazaret; dan Ia tetap hidup dalam asuhan mereka. Dan ibu-Nya menyimpan semua perkara itu di dalam hatinya. 52  Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.” (Lk 2:51-52) Ini berarti Yesus hidup di bawah bimbingan Santo Yusuf dan Bunda Maria. Dan ketika Santo Yusuf meninggal, maka Maria harus membesarkan Yesus seorang diri.

Karena Tuhan yang terlebih dahulu memberikan perintah untuk menghormati ayah dan ibu dalam perintah ke-4 dari sepuluh perintah Allah, maka sudah seharusnya Yesus – yang adalah sungguh Allah dan sungguh manusia – memberikan teladan yang baik kepada umat-Nya, yaitu dengan menghormati orang tua-Nya di dunia ini – Santo Yusuf dan Bunda Maria. Kalau panggilan ibu demikian umum di masyarakat pada waktu itu, maka sungguh sulit dimengerti kalau Yesus tidak pernah memanggil ibu kepada Bunda Maria selama Dia tinggal selama 30 tahun bersama dengan Bunda Maria. Sungguh sulit dimengerti kalau sebutan “perempuan” dipandang kasar, namun terekam di dalam dua percakapan antara Yesus dan Bunda Maria. Kuncinya adalah, dalam bahasa Yunani dan Semitik, sebutan “perempuan” menyatakan suatu hubungan yang begitu dekat. (Dom Orchard, A Catholic Commentary on Holy Scripture) dan mempunyai makna yang begitu dalam.

III. Sebutan “Perempuan” mempunyai makna yang begitu dalam.

1. Sebutan perempuan dilakukan di awal dan akhir dari karya umum Yesus.

Kalau kita perhatikan, perkataan “perempuan” yang dikatakan oleh Yesus dilakukan pada mukjizat yang pertama di Kana dan kejadian terakhir sebelum Yesus wafat di kayu salib. Ini seperti suatu tanda bahwa sebutan perempuan ini adalah merupakan awal dan akhir dari pewartaan dan karya Kristus kepada umat-Nya. Pada waktu Yesus berkata kepada Maria “Mau apakah engkau daripada-Ku perempuan (woman), saat-Ku belum tiba“, maka Yesus ingin menekankan bahwa mukjizat ini akan membawa Yesus kepada misi keselamatan yang akan berakhir di kayu salib. Dengan mukjizat ini, maka orang-orang akan mulai tahu bahwa Yesus adalah seorang Mesias. Rasul Yohanes menuliskan “Hal itu dibuat Yesus di Kana yang di Galilea, sebagai yang pertama dari tanda-tanda-Nya dan dengan itu Ia telah menyatakan kemuliaan-Nya, dan murid-murid-Nya percaya kepada-Nya” (Yoh 22:11). Misi Kristus menjadi seorang Mesias berakhir pada peristiwa penyaliban Kristus. Dan di kayu salib ini, sebelum Dia menghembuskan nafas-Nya yang terakhir, Dia kembali menyebut Maria dengan kata “perempuan”. Dengan demikian, sebutan perempuan ini bukanlah tanpa arti.

2. Sebutan perempuan merujuk kepada hawa.

Kita mengingat akan apa yang dikatakan oleh Tuhan kepada ular (setan) di taman Getsemani “Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini (the woman), antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kej 3:15). Pada saat perjamuan di Kana, maka perkataan “perempuan” adalah merupakan suatu gambaran bahwa ini adalah perempuan yang dijanjikan oleh Tuhan sejak awal penciptaan. Dan hal ini dipertegas, ketika Yesus mengatakan kata yang sama – perempuan – kepada Bunda Maria ketika Yesus tergantung di kayu salib. Perempuan inilah yang menjadi musuh dari ular, karena dia telah membawa Sang Penebus ke dunia. Dan keturunannya – Yesus – diremukkan lutut-Nya, yaitu dengan menderita dan mati di kayu salib. Namun, dengan penderitaan dan kematian-Nya, maka Yesus meremukkan kepala Setan, yaitu meruntuhkan dominasi dosa, dan meruntuhkan kerajaan kegelapan dan menggantinya dengan Kerajaan Terang – di mana Kristus menjadi Raja untuk selama-lamanya.

Kita juga melihat di Rm 5:14-19 bahwa Kristus adalah Adam kedua. Karena dosa Adam maka maut masuk ke dunia dan karena ketaatan Kristus – Adam kedua, maka kasih karunia berlimpah kepada umat manusia. Hal yang sama, ketidaktaatan Hawa dilepaskan dengan ketaatan Hawa kedua, yaitu Bunda Maria. Hal ini juga dituliskan oleh beberapa Bapa Gereja berikut ini:

Christ became man by the Virgin that the disobedience which issued from the serpent might be destroyed in the same way it originated. Eve was still an undefiled virgin when she conceived the word of the serpent and brought forth disobedience and death. But the Virgin received faith and joy, at the announcement of the angel Gabriel…and she replied, “Be it done to me according you your word”. So through the mediation of the Virgin he came into the world, through whom God would crush the serpent.” (Saint Justin Martyr, Apologia, ch. 100; 150 AD).

The seduction of a fallen angel drew Eve, a virgin espoused to a man, while the glad tidings of the holy angel drew Mary, a Virgin already espoused, to begin the plan which would dissolve the bonds of that first snare…For as the former was lead astray by the word of an angel, so that she fled from God when she had disobeyed his word, so did the latter, by and angelic communication, receive the glad tidings that she should bear God, and obeyed his word. If the former disobeyed God, the latter obeyed, so that the Virgin Mary might become the advocate of the virgin Eve. Thus, as the human race fell into bondage to death by means of a virgin, so it is rescued by a virgin; virginal disobedience is balanced in the opposite scale by virginal obedience” (St. Irenaeus of Lyons, Against Heresies, Book 3, ch XXII, par. 4; 189 AD).

Likewise, through a Virgin, the Word of God was introduced to set up a structure of life. Thus, what had been laid waste in ruin by this sex, was by the same sex re-established in salvation. Eve had believed the serpent; Mary believed Gabriel. That which the one destroyed by believing, the other, by believing, set straight.” (Tertullian, The Flesh of Christ 17:4; 210 AD)

(The Lord) was not averse to males, for he took the form of a male, nor to females, for of a female he was born. Besides, there is a great mystery here: that just as death comes to us through a woman, Life is born to us through a woman; that the devil, defeated, would be tormented by each nature, feminine and masculine, as he had taken delight in the defection of both” (St. Augustine, Christian Combat 22:24; 396 AD).

IV. Kesimpulan

Dari penjelasan di atas, maka kita dapat melihat bahwa sebagai Putera Allah, Yesus sungguh sangat menghormati Maria IbuNya, karena Allah sendiri yang memerintahkan manusia untuk menghormati orang tuanya (perintah 4 dari 10 perintah Allah). Ini berarti setiap tindakan Yesus tidak akan mempunyai implikasi bahwa Dia tidak menghormati Bunda-Nya, termasuk ketika Yesus memanggil Bunda Maria dengan sebutan “perempuan”. Ini bukanlah tanda kurang hormat, bahkan sebaliknya merupakan tanda hormat dan kedekatan, dan yang terpenting mempunyai makna yang begitu dalam – baik sebagai pembuka dan penutup dari karya keselamatan Kristus kepada umat-Nya, maupun sebagai gambaran akan Hawa ke-dua, yang bekerjasama dengan Adam ke-dua – yaitu Kristus – untuk membawa keselamatan bagi seluruh manusia. Semoga kita akan semakin meniru teladan Kristus, yaitu menghormati Bunda-Nya. Kalau Maria dianggap baik sebagai Bunda-Nya, maka itu sudah menjadi alasan yang cukup bagi kita untuk menghormati dan mengasihi Bunda Maria.

19/12/2018

16
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
4 Comment threads
12 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
9 Comment authors
SusantohambaNyahambaNyaIngrid Listiatibara Recent comment authors
Susanto
Guest
Susanto

Bagaimana dengan pernyataan Yesus di Matius 12:48-50?

[dari katolisitas: Silakan melihat jawaban ini: silahkan klik]

bara
Guest
bara

cara penafsiran dan interpretasi yang kacau…

Bagaimana tanggapan saudari-saudari di sini apabila anak anda di rumah menyapa anda: “hai perempuan!”?

mau marah? Anak hanya menjalankan perintah kitab suci…

Di biarkan? Pasti tambah kurang ajar…

Yang saya tahu, kata perempuan pernah juga yesus gunakan kepada PELACUR,dalam perjanjian lama juga demikian…

Stefanus Tay

Shalom Bara, Terima kasih atas komentarnya. Saya menyarankan agar anda dapat menyelesaikan diskusi tentang ke-Allahan Yesus di sini – silakan klik, sebelum masuk ke dalam diskusi topik yang lain. Bagi yang bukan Kristen, akan sangat sulit untuk menangkap esensi diskusi dari pembahasan di atas, karena mensyaratkan membaca Alkitab secara menyeluruh dan melihat konteksnya serta gaya bahasa yang dipakai. Jadi, cobalah mulai dulu dari diskusi tentang ke-Allahan Yesus, dan setelah diskusi tersebut selesai baru mulai dengan diskusi yang lain. Namun, secara prinsip jawaban dari pertanyaan anda adalah dalam konteks zaman pada waktu itu, menyebut “perempuan” bukanlah suatu ungkapan kurang sopan. Bahasa… Read more »

bara
Guest
bara

Terima kasih atas sarannya, tapi sebenarnya saya sudah membalas komentar anda pada topik diskusi ke-Allahan yesus, namun entah mengapa sejak seminggu belu ada tanggapan dari tim katolisitas. Atau mungkin komentar saya tidak/belum disetujui oleh moderator untuk dapat ditayangkan, karena dalam kiriman saya masih terdapat pesan “Komentar anda akan ditayangkan setelah disetujui oleh moderator”, apakah itu berarti komentar saya belum mendapat persetujuan moderator?

Stefanus Tay

Shalom Bara,

Terima kasih atas pengertiaannya. Kami telah menerima komentar anda, namun belum kami masukkan ke dalam website. Kami akan memasukkannya beserta dengan jawaban dari kami. Mohon kesabarannya untuk menunggu jawaban kami, karena ada sekitar 90 pertanyaan yang masih belum dijawab. Kalau anda mau, anda dapat memperbaiki argumentasi anda sambil menunggu. Dengan demikian, topik dapat didiskusikan dengan semakin mendalam.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

thomas vernando
Guest
thomas vernando

halo kak.. maaf, saya cuma mau sedikit bertanya pertanyaan kecil.. pada waktu mukjizat pertama, kenapa Bunda Maria meminta kepada Tuhan Yesus? apakah Tuhan Yesus sudah pernah melakukan mukjizat sebelumnya? kita mungkin bisa memahami karena memang semenjak awal Bunda sudah tahu bahwa Yesus adalah Allah..tapi walaupun begitu, kenapa Tuhan menjawab “ini belum waktunya”. menurut pendapat saya, Bunda mau bertanya seperti itu hanya bila keadaannya: Bunda sudah tahu kalau memang Tuhan BISA dan AKAN melakukan mukjizat luar biasa, tapi belum.. (dilihat dr jawaban Tuhan). pertanyaannya, kapankah sebenarnya waktu yg tepat? dan, bila dalam hal ini Tuhan Yesus melakukan hal yg blm waktunya,… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Thomas Vernando, Terima kasih atas pertanyaannya tentang mukjizat pertama di kana. Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan: 1. Anda bertanya “pada waktu mukjizat pertama, kenapa Bunda Maria meminta kepada Tuhan Yesus? apakah Tuhan Yesus sudah pernah melakukan mukjizat sebelumnya?” Alkitab tidak mencatatnya. Namun, demikian, kita tahu lewat Malaikat Gabriel bahwa Maria akan melahirkan anak laki-laki yang dinamai Yesus, yang menjadi besar dan disebut Anak Allah yang Maha tinggi, yang akan menjadi Raja untuk selama-lamanya (lih. Lk 1:31-33). Dan hal ini diperjelas dengan kedatangan tiga raja, perkataan Hana dan Simeon (lih. Lk 2) serta kejadian ketika Yesus berdiskusi… Read more »

Felix Iwan
Guest
Felix Iwan

Saya ingin bertanya, benarkah bahwa selama hidupnya Yesus tidak pernah memanggil Maria dengan sebutan Ibu? Terima Kasih.

[dari katolisitas: silakan melihat jawaban di atas – silakan klik.]

Athanasius Shen
Guest
Athanasius Shen

Shalom pada katolisitas =)

Saya mau bertanya, adakah perkataan Yesus “perempuan” ada hubungannya dengan “perempuan” di Why 12:1-6 ? Mungkinkah Yesus hendak menegaskan bahwa “perempuan” dalam wahyu adalah Maria??

Terimakasih, salam :))

Stefanus Tay

Shalom Athanasius Shen,

Terima kasih atas pertanyaannya. “Perempuan” dapat mengacu kepada Why 12:1-6, seperti yang juga diterangkan oleh Scott Hahn, dalam bukunya “Hail, Holy Queen” hal. 39.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Felix Iwan
Guest
Felix Iwan

Sebelumnya terima kasih ke pada Pak Stef yang sudah memberikan jawabannya.
Satu pertanyaan lagi, mengapa alkitab terjemahan Indonesia, kata perempuan diganti dengan kata Ibu? “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu (woman)? Saat-Ku belum tiba.”
mengapa tidak ditulis dengan kata “perempuan” saja jika memang itulah arti sebenarnya?

Saya pernah mendengar sharing dari salah seorang sahabat. dia berkata bahwa pada saat penerjemahan Alkitab, ada hubungan koordinasi antara pihak kristen katolik dengan pihak kristen non katolik. kata ibu yang menggantikan kata perempuan adalah upaya dari pihak kristen katolik, karena pihak kristen katolik sungguh menghormati Bunda Maria.

Apakah pendapat Anda?
Terima Kasih.

Ingrid Listiati
Member

Shalom Felix, Terus terang, kami tidak dapat berkomentar, tentang mengapa terjemahan di Kitab Suci LAI untuk kata ‘woman‘ dalam Yoh 2:4 adalah ‘ibu’ dan bukannya ‘perempuan’. Sebab memang kami tidak terlibat dalam penerjemahan itu. Satu hal yang kami yakini, bahwa semua pihak yang terlibat dalam penerjemahan itu tentu bermaksud baik. Kemungkinan mereka beranggapan, bahwa jika diterjemahkan sesuai aslinya, seolah terdengar ‘janggal’ atau bahkan kasar. Namun sesungguhnya perihal ‘janggal’ atau tidaknya inipun relatif, sebab harus diakui bahwa sejalan dengan waktu dapat terjadi pergeseran makna suatu kata. Jika dulu kata ‘woman‘/ perempuan tidaklah kasar untuk menyebut ibu, namun sekarang dapat terdengar janggal.… Read more »

hambaNya
Guest
hambaNya

Saya sudah membaca penjelasan sdr. dr tim katolisitas. Sayangnya saya tetap tidak setuju. sama seperti saya tdk setuju dengan penjelasan Scott Hahn ttg Maria. Yesus memanggil Maria dengan sebutan ‘Gunai’ sama seperti Ia memanggil Perempuan Kanaan yang percaya ( Matius 15 :28). Dalam kisah perkawinan di Kana ( Yoh 2: 4 ) Yesus menyebut Maria ‘Gunai’ untuk mengingatkan Maria akan posisi Ilahi-Nya dan bahwa Maria adalah seorang manusia (wanita =woman) Namun karena belas kasih Yesus permintaan Maria akhirnya dikabulkan. Hal ini mirip seperti permintaan Perempuan kanaan yang percaya itu juga akhirnya DIKABULKAN.

Syalom.

Ingrid Listiati
Member

Shalom HambaNya, St. Agustinus menjelaskan tentang istilah ‘Woman/ gunḗ‘, dalam Yoh 2:4, demikian: “Kata ‘woman‘ secara jelas dan sederhana digunakan untuk menyatakan jenis kelamin perempuan.” Euthymius mengatakan bahwa Yesus, sebagai Tuhan, tidak mengatakan ‘Mother/ ibu’, tetapi ‘Woman‘. Yang dimaksudkan oleh Yesus, kata St. Bede, adalah, bahwa Ia tidak menerima dari ibu-Nya di dalam waktu, keilahian-Nya, yang dengannya Ia akan melakukan mukjizat itu, tetapi bahwa Ia menerima keilahian-Nya dalam kekekalan dari Bapa-Nya.”….” Maka dengan mengatakan demikian, menurut St. Agustinus, Yesus mau mengatakan, “Engkau [Maria] tidak melahirkan atau menurunkan keilahian-Ku yang mengerjakan mukjizat”….. Dengan demikian, adalah wajar kalau Yesus memanggil perempuan Kanaan… Read more »

hambaNya
Guest
hambaNya

Trimakasih atas respon tim katolisitas. Pertama tama, saya harus mengatakan bahwa sebagai saudara(dari kalangan Protestan ) , kami mengagumi Maria secara proporsional karena bagaimanapun ia adalah: – a blessed woman among women Lukas 1 : 42 (karena ia mendapat karunia istimewa dipinjam rahimnya untuk melahirkan sang Juruselamat). – karena ia adalah teladan iman dan kerendahan hati yang mau terus menerus merenungkan setiap tindakan dan perkataan sang Juruselamat. – karena ia salah satu wanita beriman di antara para saleh lainnya ( sebagaimana para rasul-rasul dan orang beriman ) Namun Kekaguman kami secara proporsional ini tidak membuat kami menghormatinya secara bgerlebihan sehingga… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Hamba-Nya, Terima kasih atas komentar Anda. Semoga Anda telah dapat menerima diskusi sebelumnya bahwa “perempuan” yang dituliskan di dalam Kitab Kejadian, Kitab Yohanes, Kitab Wahyu sebenarnya mengacu kepada perempuan yang sama, yaitu Bunda Maria. Kalau kita dapat melihat hal ini sebagai rancangan keselamatan Allah dan Allah sendiri yang memilih dan menghormati Bunda Maria, maka tidaklah sulit untuk menghormati dan mengasihi Maria. Tentang mengapa umat Katolik menghormati Bunda Maria, Anda dapat melihat alasannya di sini – silakan klik dan diskusi tentang hal ini juga telah dibahas secara panjang lebar, yang salah satunya ada di sini – silakan klik. Kami telah… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X