Mengapa Yesus disunat, kita tidak?

Ada pertanyaan yang menarik. Kalau Yesus disunat, mengapa kemudian sunat tidak menjadi keharusan bagi pengikut-Nya? Dari definisinya, sunat  (circumcisio) mengacu kepada ‘pemotongan’, yaitu secara khusus pada pemotongan kulit penis. Jika kita mempelajari tulisan ahli sejarah Herodotus maka kita ketahui bahwa bukan hanya bangsa Yahudi saja yang mengenal tradisi sunat ini, melainkan juga bangsa Mesir, Kolkian dan Etiopian, dan kemudian kita ketahui bahwa tradisi ini menjadi bagian dari tradisi kaum muslim.

Namun bagi kita, umat Kristiani, kitapun perlu mengetahui makna “sunat” ini, agar kita semakin dapat menghayati iman kita:

1. Sunat dalam Perjanjian Lama

Dalam Perjanjian Lama (PL), kita mengetahui sunat pertama kali disyaratkan oleh Allah kepada Abraham sebagai tanda perjanjian antara Allah dengan Abraham dan keturunannya, sehingga sunat dilakukan terhadap semua anak laki-laki pada saat anak tersebut berusia 8 hari (lih. Kej 17:11-12). Tradisi sunat ini dilanjutkan di jaman Nabi Musa (lih. Im 12:3, Kel 12:48), Yoshua (Yos 5:2) dan tradisi ini dilaksanakan seterusnya sampai pada jaman Yudas Makabe (167-160 BC) meskipun di tengah tekanan para penguasa (lih. 2 Mak 6:10); dan sampai juga ke jaman Yesus Kristus. Alkitab mencatat bahwa ketika Yesus genap berumur 8 hari, Bunda Maria dan St. Yusuf membawa-Nya ke Bait Allah untuk disunat dan diberi nama Yesus (lih. Luk 2:21).

2. Makna Yesus disunat

Maka kita melihat dengan obyektif di sini bahwa Yesus disunat karena pengaruh tradisi Yahudi, sebab Ia dilahirkan sebagai seorang Yahudi. Ia dilahirkan oleh seorang perempuan, dilahirkan dari yang takluk kepada hukum Taurat, untuk membebaskan mereka yang takluk kepada hukum Taurat, sehingga kita dapat diangkat menjadi anak-anak Allah.

St. Thomas dalam ST, III, q.37, a. 1 menjabarkan bahwa dengan disunat, Kristus ingin membuktikan bahwa Dia sungguh-sungguh mempunyai kodrat manusia. Alasan kedua adalah untuk memberikan persetujuan bahwa tanda perjanjian yang diberikan oleh Allah dalam Perjanjian Lama adalah sah. Kristus sebagai keturunan Abraham – yang telah menerima perintah Tuhan bahwa sunat adalah tanda perjanjian dan ungkapan iman (lih. Kej 17:10) – juga disunat. karena Kristus disunat, maka bangsa Yahudi tidak mempunyai alasan untuk tidak menerima Kristus. Kristus juga menunjukkan bahwa ketaatan untuk menjalankan perintah Tuhan sesungguhnya sangatlah penting, sehingga Dia disunat pada hari ke-delapan (lih. Luk 2:21; bdk. Im 12:3) Dengan mengambil dan menjalankan sunat, maka Kristus dapat membebaskan manusia dari hukum ini dan memberikan hukum yang lebih sempurna (lih. Gal 4:4-5) – yaitu sunat secara rohani. St. Athanasius dalam komentarnya tentang Luk 2:23, menuliskan hal ini dengan begitu indahnya, “Karena Anak Allah menjadi manusia, dan disunat di dalam daging, bukan untuk kepentingan diri-Nya sendiri, namun agar Dia dapat menjadikan kita [anak-anak] Allah melalui rahmat, dan agar kita dapat disunat secara rohani; dengan demikian, sekali lagi, untuk kepentingan kita Dia dipersembahkan kepada Allah, sehingga kita dapat belajar untuk mempersembahkan diri kita kepada Tuhan.” ((St. Athanasius, on Lk. 2:23; dikutip oleh St. Thomas dalam ST, III, q. 37, a. 3, ad 2.))

Sunat rohani, yang menandai kita menjadi anak-anak Allah melalui rahmat-Nya, terjadi pada saat Pembaptisan, di mana melaluinya kita “dilahirkan kembali dalam air dan Roh” (Yoh 3:5). Kelahiran kembali ini ditandai dengan “menanggalkan manusia lama berserta segala hawa nafsunya …dan mengenakan manusia baru di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya.” (Ef 4:22-24). Maka inilah makna “sunat” yang baru, yang tidak lagi berupa penanggalan/ pemotongan kulit lahiriah, tetapi penanggalan hawa nafsu dan dosa dan mengenakan hidup yang baru di dalam Roh Kudus.

3. Yang ditekankan Yesus: sunat rohani

Jadi sebenarnya yang ingin ditekankan Yesus adalah dimensi spiritual dari “sunat” seperti yang sebelumnya telah diajarkan dalam PL, bahwa yang terlebih utama adalah sunat hati/ rohani (Ul 10:16 dan 30:6, Yer 4:4, 9:25-26). Seperti juga Yesus mengajarkan bahwa yang terpenting bukan apa yang terlihat dari luar, tetapi yang ada di dalam hati; bukan menerapkan hukum supaya terlihat baik dari luar, namun agar kita melakukan keadilan, belas kasihan dan kesetiaan (lih. Mat 23:5, 23)

Maka Rasul Paulus mengajarkan:

“Tetapi orang Yahudi sejati ialah dia yang tidak nampak keyahudiannya dan sunat ialah sunat di dalam hati, secara rohani, bukan secara hurufiah. Maka pujian baginya datang bukan dari manusia, melainkan dari Allah.” (Rom 2:29).

“Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati.” (Kol 2:12)

Maka di sini “sunat lahiriah” tidak menjadi hukum utama bagi seseorang untuk menjadi anggota bangsa pilihan Allah, tetapi “sunat rohaniah” yang adalah Pembaptisan berdasarkan iman akan Allah Tritunggal yang telah mengutus Yesus Kristus Putera-Nya untuk menyelamatkan manusia.

4. Para rasul mengikuti ajaran Yesus, juga mengajarkan sunat rohani

Para Rasul mengajarkan berdasarkan pengajaran Tuhan Yesus sendiri adalah: bahwa yang terpenting adalah sunat rohani, dan bukanlah sunat badani. Oleh sunat rohani, yaitu iman akan Yesus Kristus inilah, maka seseorang diselamatkan, dan bukan karena memenuhi hukum sunat lahiriah menurut hukum Taurat. Rasul Paulus mengajarkan:

“Kamu tahu, bahwa tidak seorangpun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kamipun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: “tidak ada seorangpun yang dibenarkan” oleh karena melakukan hukum Taurat.” (Gal 2:16)

5. Sunat menurut Bapa Gereja

Berikut ini beberapa kutipan ajaran Bapa Gereja abad-abad awal tentang sunat yang merupakan tanda akan penggenapannya dalam Baptisan, yang dilestarikan oleh Gereja Katolik:

1. St. Yustinus Martir (155)

“Karena itu, bejana pertobatan dan pengetahuan akan Tuhan ini yang ditetapkan karena pelanggaran umat Tuhan, sebagaimana diserukan oleh Nabi Yesaya, telah kita imani dan saksikan bahwa Baptisan yang diwartakan-Nya itulah saja yang dapat memurnikan orang-orang yang telah bertobat; dan ini adalah air kehidupan….. Sebab apakah gunanya baptisan itu [sunat] yang hanya membersihkan daging dan tubuh saja? Baptislah jiwa dari kemarahan dan dari dengki dan iri hati, dan dari kebencian; dan lihatlah! Tubuh menjadi murni…. Tapi kamu telah memahami segala sesuatunya secara jasmani, dan kamu pikir itu adalah kesalehan jika kamu berbuat demikian, sementara jiwamu dipenuhi dengan tipu daya dan singkatnya, dalam setiap kejahatan….” (Dialogue with Trypho, ch. 14).

“Dan Nabi Musa menyatakan bahwa Tuhan sendiri bersabda: “Sebab itu sunatlah hatimu dan janganlah lagi kamu tegar tengkuk…” (Ul 10:16, lih. Im 26:40-41). Sebab sunat jasmani sejak Nabi Abraham, diberikan sebagai sebuah tanda; bahwa kamu dipisahkan dari bangsa-bangsa lain, dan dari kami; dan bahwa kamu sendiri dapat menderita menanggung apa yang sekarang secara adil kamu tanggung … dan bahwa tak seorangpun dari kamu dapat pergi ke Yerusalem…. * Semua ini terjadi atasmu dengan setimpal dan adil, sebab kamu telah menganiaya Sang Keadilan, dan para nabi-Nya sebelumnya; dan sekarang kamu menolak mereka yang berharap kepada-Nya dan di dalam Dia yang mengutus-Nya – yaitu Tuhan yang Mahabesar Pencipta segala sesuatu- dengan mengutuk di dalam sinagoga-sinagoga, mereka yang percaya kepada Kristus. Sebab kamu tidak punya kuasa untuk melukai kami … (Dialogue with Trypho, ch. 16).

Catatan *: Lihat Apology, I, 47. Orang-orang Yahudi -menurut Hadrian’s edict, dengan hukum melarang orang-orang Yahudi untuk memasuki Yerusalem, dengan ancaman hukuman mati. St. Yustinus melihat dalam hal sunat, hukuman bagi mereka sendiri.

“Maka basuhlah, dan menjadi bersihlah dan jauhkan segala kejahatan dari jiwamu, sebagaimana Tuhan menghendaki kamu dibasuh dalam bejana ini, dan disunatlah dengan sunat yang sejati. Sebab kami juga akan melakukan sunat jasmani dan Sabat, dan semua perayaan-perayaan, kalau seandainya kami tidak tahu alasan mangapa hal-hal itu diajarkan kepada kamu, yaitu karena pelanggaranmu dan ketegaran hatimu. Sebab jika kami dengan sabar menanggung semua hal yang dirancangkan terhadap kami oleh mereka yang jahat…, supaya bahkan di tengah-tengah kekejaman yang tak terkatakan, kematian dan penganiayaan, kami berdoa untuk belas kasihan kepada mereka yang menganiaya kami….mengapakah Trypho, bahwa kami tidak akan melakukan ritus-ritus itu yang tidak mencelakakan kami – yang kumaksud tentang sunat, Sabat dan berbagai perayaan Yahudi? (Dialogue with Trypho, ch. 18).

“Bahkan kamu yang disunat menurut daging, membutuhkan sunat kami [menurut rohani]; tetapi kami, yang telah memiliki hal yang kedua [sunat rohani], tidak membutuhkan hal yang pertama [sunat jasmani]. Sebab jika itu keharusan, seperti anggapanmu, Tuhan tak akan menciptakan Adam tidak disunat. Ia tak mungkin menghormati persembahan Habel yang tidak disunat saat mempersembahkan kurban, dan tak mungkin berkenan kepada Henokh yang tidak disunat… Lot yang tidak disunat diselamatkan dari Sodom dan Gomora…. Nuh, permulaan suku kita, meskipun tidak disunat, masuk ke dalam bahtera. Melkisedek, imam dari Yang Mahatinggi, tidak disunat… Maka untuk kamu sendiri sunat diperlukan; supaya bangsa tersebut menjadi bukan bangsa apapun; sebagaimana dikatakan oleh Nabi Hosea…. (Dialogue with Trypho, ch. 19).

2. Tertullian (160-220)

“Biarlah ia yang berusaha keras mempertahankan bahwa Sabat tetap harus dilakukan sebagai obat keselamatan dan sunat di hari kedelapan…. mengajarkan kita bahwa pada masa lalu, orang-orang benar melakukan hari Sabat dan sunat, dan karena itu mereka disebut ‘para sahabat Allah’. Sebab jika sunat memurnikan manusia, karena Tuhan menciptakan Adam tidak disunat, mengapa Ia tidak menyunatkan dia bahkan setelah ia berdosa, jika sunat itu memurnikan? … Maka, karena Tuhan pada mulanya menciptakan Adam tidak bersunat dan tidak melakukan Sabat, konsekuensinya keturunannya, Habel mempersembahkan kurban, yang tidak bersunat dan tidak melakukan Sabat, dipuji oleh-Nya (Kej 4:1-7, Ibr 11:4). Nuh juga tidak bersunat- ya, dan tidak melakukan Sabat- Tuhan membebaskan dari air bah. Sebab Henokh juga, orang yang paling benar, tidak bersunat dan tidak melakukan Sabat, ia diangkat dari dunia ini,  yang pertama tidak mengalami kematian sehingga, menjadi kandidat bagi kehidupan kekal, ia menunjukkan kepada kita bahwa kita juga dapat, tanpa menanggung beban hukum Musa, menyenangkan Tuhan” (An Answer to the Jews, 2 [A.D. 203]).

3. Eusebius dari Kaisarea (260-339)

“Mereka [para orang kudus pertama di Perjanjian Lama] tidak memperhatikan sunat jasmani, demikian juga kita [orang-orang Kristen]. Mereka tidak melakukan Sabat, demikian juga kita. Mereka juga tidak menghindari jenis-jenis makanan tertentu, maupun pembedaan-pembedaan lain yang dikeluarkan oleh Musa kepada keturunannya untuk dilakukan sebagai simbol-simbol; demikian juga umat Kristen di zaman ini melakukan hal-hal itu” (Church History 1:4:8 [A.D. 312]).

4. St. Yohanes Krisostomus (347-407)

“Ritus sunat dulu sangat dihormati menurut adat Yahudi …. Ini dipandang sebagai lebih mulia dari Sabat, sebagai yang tidak dihapuskan pada waktu tertentu. Ketika kemudian ini [sunat] tidak dilakukan lagi, terlebih lagi [tidak dilakukan] adalah hukum Sabat.” (Homilies on Philippians 10 [A.D. 402]).

5. St. Agustinus (354-430)

“Apakah ada di dalam ke sepuluh perintah Allah, selain penerapan hari Sabat, yang tidak harus ditaati oleh seorang Kristen…. Yang mana dari perintah-perintah ini [sepuluh perintah Allah], yang dikatakan orang bahwa umat Kristen tak harus melakukannya? Adalah mungkin untuk menegaskan bahwa bukanlah hukum yang tertulis di kedua loh batu yang dijabarkan oleh Rasul [Paulus] sebagai ‘hukum yang tertulis mematikan’ (2Kor 3:6), tetapi hukum sunat dan ritus-ritus sakral lainnya yang kini dihapuskan” (The Spirit and the Letter 24 [A.D. 412]).

6. Paus Gregorius I (540-604)

“Telah sampai ke telingaku bahwa orang-orang tertentu dengan semangat yang menyimpang telah menabur di antara kamu sesuatu yang salah dan bertentangan dengan iman yang kudus, sehingga melarang pekerjaan apapun yang dilakukan pada hari Sabat. Adakah yang lain yang dapat kukatakan selain menyebut orang-orang ini sebagai pengkhotbah Antikristus, yang ketika ia datang akan menyebabkan hari Sabat seperti hari Tuhan, untuk dijadikan hari yang bebas dari semua pekerjaan…. Sebab inilah yang dikatakan nabi, “Apabila kamu sungguh-sungguh mendengarkan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan tidak membawa masuk barang-barang melalui pintu-pintu gerbang kota ini pada hari Sabat, tetapi menguduskan hari Sabat dan tidak melakukan sesuatu pekerjaan pada hari itu…” (Yer 17:24) dapat dipegang sepanjang itu sesuai dengan hukum untuk dilakukan menurut hukum yang tertulis. Tetapi setelah rahmat Tuhan yang Mahakuasa itu, Tuhan kita Yesus Kristus, telah muncul, perintah-perintah hukum yang telah dikatakan secara figuratif tidak dapat dilaksanakan menurut hukum yang tertulis. Sebab siapapun yang mengatakan bahwa ini adalah tentang Sabat yang harus dilaksanakan, ia harus perlu juga mengatakan bahwa kurban-kurban jasmani [kurban hewan-hewan] harus dipersembahkan. Ia harus juga mengatakan bahwa perintah tentang sunat jasmani adalah untuk dipertahankan. Tetapi biarlah ia mendengar apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus yang berkata menentang dia: “…jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu” (Gal 5:2).

5. Apakah yang diajarkan oleh Gereja Katolik?

Gereja Katolik, berpegang kepada Kitab Suci, mengajarkan bahwa hukum sunat jasmani dalam Perjanjian Lama merupakan tanda dan persiapan bagi penggenapannya dalam sunat rohani, yaitu Baptisan dalam Perjanjian Baru.

KGK 527  Penyunatan Yesus, pada hari kedelapan sesudah kelahiran-Nya Bdk. Luk 2:21., adalah suatu bukti bahwa Ia termasuk dalam keturunan Abraham dalam bangsa perjanjian, bahwa Ia takluk kepada hukum Bdk. Gal 4:4. dan ditugaskan untuk ibadah Israel, yang dalamnya Ia akan mengambil bagian sepanjang hidup-Nya. Ia adalah pratanda “penyunatan yang diberikan Kristus”: “Pembaptisan” (Kol 2:11-12).

KGK 1150 Tanda-tanda perjanjian. Bangsa terpilih menerima dari Allah tanda-tanda dan lambang-lambang khusus, yang menandakan kehidupan liturginya. Mereka bukan lagi hanya gambaran tentang peraturan dalam kosmos dan bukan lagi hanya isyarat-isyarat sosial, melainkan tanda-tanda perjanjian dan lambang karya agung Allah untuk umat-Nya. Penyunatan, pengurapan, dan penahbisan para raja dan para imam, peletakan tangan, persembahan, dan terutama Paska, termasuk tanda-tanda liturgis Perjanjian Lama ini. Gereja melihat di dalam tanda-tanda ini pratanda Sakramen-sakramen Perjanjian Baru.

Oleh karena itu, setelah digenapi dalam Baptisan, Gereja tidak lagi kembali kepada hukum yang lama. Hukum sunat jasmani itu tidak untuk dianggap batal ataupun tidak ada, sebaliknya, tetap diakui sebagai gambaran Baptisan, namun pelaksanaannya disempurnakan. Prinsip dasar sunat, yaitu untuk meninggalkan kedagingan manusia yang lama, tetap disyaratkan, namun perwujudannya tidak secara jasmani, tetapi secara rohani, sebagaimana sejak awal direncanakan Allah (lih. Ul 10:16). Setelah maksud sunat rohani tersebut, yaitu pertobatan, telah dipahami oleh umat-Nya, maka sunat jasmani tidak lagi disyaratkan. Keselamatan tidak diperoleh melalui sesuatu yang sifatnya jasmani semata, tetapi oleh sesuatu yang rohani. Sebab makna Baptisan itu tidak saja mencakup pertobatan, tetapi juga karunia kehidupan baru yang ilahi di dalam Kristus, yang menghantar kepada keselamatan kekal. Dan jika makna yang sempurna ini telah diperoleh di dalam Kristus, maka Gereja tidak dapat kembali ke makna samar-samar di zaman Perjanjian Lama saat penggenapannya di dalam Kristus belum terjadi. Hal yang serupa adalah pemaknaan Hari Tuhan, yang merupakan penggenapan makna hari Sabat pada Perjanjian Lama.

6.Jadi bagaimana sekarang, perlukah kita disunat?

“Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah.” (1 Kor 7:19). Dengan mengetahui bahwa yang terpenting adalah sunat rohani, maka sekarang tidaklah menjadi penting, sunat atau tidak bersunat, asalkan kita melakukan hukum-hukum Allah terutama hukum kasih. Maka jika seseorang Katolik tidak disunat, itu disebabkan karena itu sudah bukan keharusan bagi kita sebagai pengikut Kristus, sebab keselamatan kita tidak diperoleh dari sunat/ hukum Taurat tetapi oleh iman akan Kristus Tuhan.

Dengan demikian, seperti telah disampaikan di atas, “sunat” dalam Perjanjian Lama adalah persiapan/ gambaran dari Pembaptisan di Perjanjian Baru. Yesus memperbaharui dan menggenapi hukum Taurat dengan memberikan hukum yang baru; Yesus tidak membatalkannya, namun menyempurnakannya dan memberikan arti yang lebih penuh terhadap apa yang ditentukan dalam hukum Taurat Musa. Bahwa kekudusan tidak hanya sesuatu yang terlihat dari luar namun lebih kepada apa yang ada di dalam hati. Dan kekudusan yang sejati inilah yang menghantar kita kepada keselamatan kekal.

Di sinilah kita melihat kesinambungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. St. Thomas Aquinas pernah mengajarkan tentang 3 jenis hukum yang ada dalam Perjanjian Lama, dan bagaimana Yesus menggenapinya dalam Perjanjian Baru. Silakan klik di siniuntuk membacanya, semoga anda dapat semakin melihat bahwa Yesus Kristus adalah penggenapan hukum Taurat; dan Ia menyempurnakan hukum itu di dalam Diri-Nya sendiri.

19/12/2018

89
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
35 Comment threads
54 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
52 Comment authors
ademinYohanes Salimhamba Allahchristinahery Recent comment authors
ademin
Member
ademin

A. Kejadian 17:12&14 Anak yang berumur delapan hari haruslah disunat, yakni SETIAP ANAK LAKI-LAKI DIANTARA KAMU, “TURUN TEMURUN”…………… Dan orang yang tidak disunat, maka orang itu harus dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya, ia telah mengingkari perjanjian-Ku. ” B. Kata Paulus, sunat tidak wajib, tidak berguna dan tidak penting (Galatia 5: 6, I Korintus 7: 18-19) KETERANGAN: Arti disunat disini adalah “haruslah dikerat kulit khatanmu (17:11)”!!!!!!!!! dan bukan rohani atau iman atau sunat hati!!! Kesimpulan: “Tanya diri anda, tanya hati anda, tanya pikiran anda!! yang mana yang benar dan yang mana yang mengada-adakan sesuatu!!” Penjabaran Artikel No.2. “Pengaruh tradisi Yahudi, sebab… Read more »

Yohanes Salim
Guest
Yohanes Salim

Sebenarnya saya takut disunat, semua para Nabi dan Rasul disunat begitujuga umat-Nya yg terdahulu membuktikan sunat merupakan perintah dan kewajiban dari Bapa.

Namun dengan penjelasan dari Katolisitas.org ini saya bisa tenang dan damai karena sunat bukan kewajiban lagi. Orang yang percaya tidak perlu disunat kalo hanya mencederai tubuh yang sudah sempurna ini.

hamba Allah
Guest
hamba Allah

Allah tidak perlu untuk menyamar jadi manusia.sekiranya ia berkehendakan menjadikan manusia ini semuanya beriman dan menyembahannya bisa saja dan terlalu mudah baginya.tiada yang mustahil baginya..tetapi kenapa Allah menjadikan manusia berbangsa2 dan berbagai bahasa.supaya manusia bercampur gaul dan mengenali antara manusia dan berbuat baik.Kenapa Kiamat di sembunyikan masanya oleh Allah???? kerana Allah mahu menghitung amalan manusia siapa yg lebih baik amalnya.Bukan hanya berkata dimulut aku seorang yang dah beriman tetapi belum di uji.Walaubagaimanapun Sifat kasih sayang Allah pada manusia maka ia bekalkan petunjuk dan jalan dengan diutus Para nabi dan rasul dan diberi kitab panduan.Sesiapa yang mengikuti para nabi dan rasul… Read more »

christina
Guest
christina

Saya hanya ingin menanggapi orang2 yg sanksi akan Tuhan Yesus Kristus dan setiap perbuatannya dengan memberikan ayat ” Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah percaya akan setiap roh, tetapi ujilah roh-roh itu, apakah mereka berasal dari Allah; sebab banyak nabi-nabi palsu yang telah muncul dan pergi ke seluruh dunia.” (1 Yoh 4 : 1)

Semoga banyak yang tidak terjebak nabi2 palsu.
Damai Tuhan beserta kita..

hery
Guest
hery

Helo ! Wahai saudaraku, jika ada suatu permasalahan yang bertentangan satu sama lain, sebaiknya anda kembali kepada tatanan hukum, aturan yang berlaku dalam kitab anda. Anda harus bisa membedakan mana firman Allah mana yang bukan firman Allah. Jadi sebaiknya jadikan firman Allah ini sebagai pedoman yang kebenarannya mutlak. Janganlah engkau jadikan perkataan paulus sebagai pedomanmu. Karena sesungguhnya paulus itu rasul palsu, meskipun hidup sejaman dgn Isa a.s, tapi paulus itu blm pernah bertemu dgn Isa a.s. [dari katolisitas: Silakan menjawab tiga pertanyaan ini: (1) Apakah definisi pertentangan atau kontradiksi; (2) Apakah ajaran Rasul Paulus yang bertentangan dengan ajaran Kristus?; (3)… Read more »

togog
Guest
togog

Abraham disunat. Yahudi disunat. Yesus disunat. Paulus tidak disunat. Umat nasrani tidak disunat karena Paulus tidak disunat. Apa yang menjadi masalah? Tidak ada! Itu soal keyakinan. Kalau umat nasrani yakin bahwa Paulus lebih pantas diikuti daripada Yesus, kenapa umat non nasrani ribut?

Stefanus Tay

Shalom Togog, Silakan Anda membaca sekali lagi argumentasi kami tentang sunat, sehingga Anda dapat memberikan argumentasi yang baik dan lebih tajam. Tentang apakah Rasul Paulus disunat atau tidak, memang Kitab Suci tidak memberikan perkataan bahwa Rasul Paulus disunat, sama Kitab Suci juga tidak memberikan penjelasan para rasul lain telah disunat. Namun, walaupun demikian, Kitab Suci juga tidak pernah mengatakan bahwa Rasul Paulus tidak pernah disunat. Sebaliknya, ada beberapa ayat yang secara tidak langsung menyatakan bahwa sebenarnya Rasul Paulus juga disunat. Rasul Paulus mengatakan bahwa dia adalah orang Israel, keturunan Abraham, suku Benyamin (lih. Rom 11:1); seorang Yahudi yang taat di… Read more »

adi shan
Guest
adi shan

shalom alechem, salam sejahtera saya adventis, sebenarnya sy msh kebingungan untk membedakan antara org farisi yg telah dikutuk olehNYA dg memegang tradisi ketimbang hukum Tuhan, dg katolik yg kental dg tradisi Roma nya, [Dari Katolisitas: Bedanya adalah, tradisi orang Farisi adalah tradisi yang ditambah-tambahkan kepada hukum Taurat, menjadi peraturan manusia yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan; sedangkan Tradisi yang diajarkan oleh Gereja Katolik, adalah Tradisi Suci para Rasul yang dilestarikan oleh para penerus mereka, dan Tradisi Suci ini sesuai dengan kehendak Allah. Karena Tradisi Suci dan Kitab Suci sama-sama menyampaikan Sabda Allah: Tradisi Suci menyampaikannya secara lisan, sedangkan Kitab Suci,… Read more »

Stephanus Kurniawan
Guest
Stephanus Kurniawan

Semoga para pengasuh rubrik ini selalu dinaungi roh kudus dalam pewartaannya maupun dalam menjawab pertanyaan pertanyaan yang ada. Dari jawaban yang ada dengan penuh kesabaran dan kerendah hatian saya percaya roh kudus bekerja pada diri anda. Amin.

[Dari Katolisitas: Terima kasih atas atas dukungan doa Anda. Semoga Tuhan juga memberkati Anda dan keluarga Anda.]

Muhammad Daffa Aulia
Guest
Muhammad Daffa Aulia

Sunat itu HUKUM Taurat, salah satu perintah Allah kepada Nabi Ibrahim. Dan kata Yesus aku datang ke duni ini tidak merubah hukum Taurat, Tapi kenapa Paulus dan Gereja merubhanya dengan Konsili Yerusalem??

[dari katolisitas: silakan melihat tanya jawab ini – silakan klik]

Mark Randall Wolford
Guest
Mark Randall Wolford

Yesus disunat Paulus tidak, karena Paulus tidak sunat, hmm….

[dari katolisitas: Silakan melihat Kis 22:3]

Vincencia
Guest
Vincencia

“Sebab bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah.” (1 Kor 7:19).
“Ke gereja atau tidak ke gereja tidak penting, yang penting percaya pada Yesus.”
“Mandi atau tidak mandi tidak tenting, yang penting kita punya rasa percaya diri.”
“Berbuat baik atau tidak berbuat baik tidak penting, yang penting kita menjadi orang Katholik.”
“Berpakaian tidak berpakaian tidak penting, yang penting berperilaku baik.”

Ingrid Listiati
Member

Shalom Vincencia, Menurut penjelasan A Catholic Commentary on Holy Scripture, Dom Orchard, OSB, 1 Kor 7:19: Dikatakan “Bersunat atau tidak bersunat tidak penting. Yang penting ialah mentaati hukum-hukum Allah/ Circumcision is nothing and uncircumcision is nothing; but the observance of the commandments of God“. Maksudnya adalah pernyataan bahwa hukum seremonial Yahudi telah diakhiri/ tidak berlaku lagi. Yang berlaku adalah hukum-hukum Allah sebagaimana diajarkan oleh Kristus. Dengan demikian, ayat tersebut tidak untuk diartikan lain seperti beberapa pernyataan Anda. “Ke gereja atau tidak ke gereja tidak penting, yang penting percaya pada Yesus?” Sebab hak untuk menguduskan Hari Tuhan di gereja itu adalah hukum… Read more »

Muhammad Daffa Aulia
Guest
Muhammad Daffa Aulia

Sunat itu Hukum Allah bukan tradisi Yahudi. Itu Perintah Allah.Penjelasan yang Aneh!

[Dari Katolisitas: Mungkin aneh bagi Anda, namun tidak bagi kami. Sebab kami tidak hanya berpegang kepada hukum Allah yang dicatat dalam Perjanjian Lama, tetapi juga hukum Allah yang dicatat dalam Perjanjian Baru, sebagaimana telah diuraikan di artikel di atas.]

cees
Guest
cees

terima kasih admin, sya sangat tercerahkan dgn adanya situs ini. Tuhan Yesus Memberkati>

Dimas Hasan
Guest
Dimas Hasan

Sungguh mengherankan Perintah Allah SWT yang diserukan oleh Nabi-nabiNya sejak zaman Adam sampai zaman Yesus yaitu menuhankan Tuhan yang tiada sekutu baginya Allah Yang Maha Esa bahkan Yahudi sampai sekarangpun tetap percaya kalau Tuhan itu Esa, tiba-tiba ajaran Yesus berubah 180 derajat ketika datang Paulus yg kamu sebut rasul, segala aturan taurat dirubah terutama konsep ketuhanan termasuk juga perintah bersunat dalam taurat, kalaulah benar Paulus itu mengikuti perintah Yesus lalu mengapa Yesus tidak merubah sendiri dengan kuasanya pada waktu itu, padahal Yesus (yg kamu sebut Tuhan) mempunyai kesempatan baik ketika sedang menjelma sebagai manusia, saya kira manusia akan lebih percaya… Read more »

Ignatius Priadi
Guest
Ignatius Priadi

Sangat relevan dan masuk akal apa yang dikomentari oleh saudara kita Dimas Hasan, saya sebagai orang kristen yang katolik sangat apresiatif terhadap komentar anda. namun sayang balasan dari pihak katolisitas kok tidak nyambung dan tidak memberikan jawaban yang menciptakan suasana diskusi positip. Sangat jelas di situ ada kalimat yang secara implisit menjadi pertanyaan “Mengapa ajaran Yesus Kristus berubah 180 derajat setelah adanya Paulus, yang nota bene adalah orang non Yahudi (orang pintar dan juga orng yang cerdas tetapi tidak “Imani”, karena dia membiarkan orang yang beriman bernama “Stefanus” dibiarkan mati disiksa) justru mengajarkan tentang ajaran yang tidak sesuai dengan hukum… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Ignatius Priadi, Sesungguhnya pertanyaan tentang sunat ini sudah berkali-kali ditanyakan dan kami tanggapi di situs ini. Silakan Anda membaca di daftar tanya jawab di bawah artikel ini, baik di halaman ini atau sebelumnya, dan pertanyaan Anda yang mirip pertanyaan Andapun sudah pernah ditanyakan sebelumnya. Oleh karena itu silakan Anda membaca kembali artikel di atas, maupun link-link yang berhubungan dengan artikel ini. Seringnya orang yang menentang ajaran iman Katolik, mengutip ayat-ayat Kitab Suci dan mengartikannya menurut pemahamannya sendiri, tanpa mengindahkan ajaran para Rasul. Demikian pula ia/ mereka menyeleksi ayat-ayat yang dijadikan acuan argumennya, dan mengabaikan ayat-ayat Kitab Suci yang lain.… Read more »

krisna
Guest
krisna

Tapi mengapa Ortodoks agak berbeda ya? saya juga bingung mengapa Katolik dan Ortodoks yang sangat dekat namun hal – hal yang mendasar banyak yang berbeda… Saya seorang Katolik… Menurut teman saya yg Ortodoks bahwa Gereja Ortodoks hanya mewajibkan umat kristen untuk di sunat adalah yang berasal dari agama Yahudi atau orang Yahudi karena menurut mereka Allah tidak mengubah ajaran agama Yahudi dan tetap akan terus diterapkan maka khusus orang Yahudi yang masuk Ortodoks wajib disunat… Padahal sumbernya berasal dari Konsili Yerusalem dan Alkitab,,, Khususnya Kisah Para Rasul 15:19-21 Bahwa kita tidak boleh menimbulkan kesulitan bagi mereka dari bangsa – bangsa… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Krisna, Perbedaannya adalah karena Gereja-gereja yang tidak berada dalam kesatuan penuh dengan Gereja Katolik tidak mau menerima pengajaran Magisterium Gereja, sebab mereka tidak mengakui kepemimpinan Paus. Sedangkan Gereja Katolik yang berpegang kepada ajaran Magisterium, mengajarkan apa yang memang telah diajarkan dalam Kitab Suci oleh para Rasul dan para penerus mereka, sebagaimana nyata dalam tulisan-tulisan para Bapa Gereja abad-abad awal. Saya mengundang agar Anda membaca kembali artikel di atas, silakan klik (terutama point 5 dan 6, yang baru saja saya tambahkan), yang menjabarkan kutipan tulisan para Bapa Gereja mengenai sunat dan mengapa mereka mengajarkan bahwa sebagai umat Kristen, entah itu… Read more »

Manihkapucuak
Guest
Manihkapucuak

Dear… Saya mau bertanya buk : 1. Jika Yesus benar tidak merubah Hukum Taurat… mengapa 10 Hukum Taurat juga ada didalam kitab agama Islam… dan mereka malahan melestarikan Hukum Yahudi Musa itu sendiri.. 2. Yang mengherankan kita, yesus sudah pasti orang Yahudi dan diperintah menjaga domba-domba yahudi…lalu mengapa Israel YAHUDI sendiri malah g masuk KRISTEN dan meludahi kepala pastor2 kristen ortodoks di yerusalem..? ada pa sebetulnya dgn kristen buk..? [dari katolisitas: Silakan melihat penjelasan tentang apakah Yesus membatalkan hukum taurat di sini – silakan klik. Jawaban dari pertanyaan kedua adalah sangat sederhana, karena kebenaran bukanlah ditentukan dari mayoritas. Kalau Kristus… Read more »

chan chee fung
Guest
chan chee fung

shalom buat ibu, sy seorang kristian dari malaysia yg beraliran pantekosta dan anglican , saya nak tanya suku kaum kristen di indonesia iaitu suku kaum toraja di sulawesi selatan membuat bersunat macam satu hal tradisi turun temrun ,kenapa ya? [Dari Katolisitas: Silakan ditanyakan kepada suku tersebut. Nampaknya harus dibedakan antara aturan adat, dan ajaran iman Kristiani. Sudah dijabarkan di atas, bahwa sunat bukan merupakan ketentuan mutlak bagi umat Kristiani, berdasarkan ajaran para Rasul, sebagaimana jelas disampaikan dalam Kis 15. Maka walaupun tidak dilarang bagi umat Kristiani untuk disunat, namun hal itu bukan merupakan prasyarat seseorang memperoleh keselamatan menurut ajaran iman… Read more »

wong bener
Guest
wong bener

inilah ketentuan-ketentuan manusia yang melampau batas lebih mengutamakan hasil pemikiran-pemikiran manusia itu sendiri.sudah jelas firman tuhan yang harus dianjurkan untuk bersunat malah dia menentangnya dengan berbagai ideologi yang gak masuk akal yang dapat menentang firman tuhan,ingat jangan permainkan firman tuhan dengan berbagai idiologi anda firman tuhan adalah firman tuhan yang tidak bisa diganggu gugat ketentuanya.satu saja ketentuan tuhan dilanggar ingat azab tuhan sangat pedih.klo penerapan hukum tuhan diidiologikan pada kepentingan manusia sebagai alasan rokhani aja berarti rusaklah ketentuan hukum tuhan yang benar disamping kita percaya juga menjalankanya artinya menjalankan perintah tuhan tidak separoh-separoh harus dijalankan secara lahir dan batin. [dari… Read more »

John
Guest
John

Shalom bu…

Sya s’orang katolik yg sgt patuh. Tp smakin lama sya m’nyelami ajaran2 gereja, sya dpati bnyak p’cnggahan dlm ajaran2 katolik. Akhirnya s’orang teman sya yg jg katolik tp x t’lalu taksub pd agama ‘slapped me right on the cheek’ bila dia m’gata’n bhwa ajaran kristen adlah b’dsar’n ajaran Paulus yg m’nokok tmbah alkitab & m’buang isi2 yg x dsukainya. Malah menurutnya: apabila Yesus m’peringat murid2 ttg nabi2 palsu, Yesus sbenarnya b’ckap ttng Paulus & Barnabas..!

Ingrid Listiati
Member

Shalom John, Nampaknya Anda berpendapat demikian, karena Anda mencari/ memperoleh informasi hanya dari satu sisi, yaitu dari orang yang salah paham dengan ajaran Katolik. Ajaran Katolik justru adalah ajaran yang konsisten dengan ajaran Kristus dan para Rasul, dan semuanya ada dasarnya. Ajaran yang baru timbul di abad-abad akhir inilah yang perlu dipertanyakan, apakah dasarnya. Maka kalau boleh saya menyarankan: jika Anda Katolik dan sungguh tulus ingin memahami ajaran iman Katolik, janganlah belajar dari pihak-pihak yang tidak/ kurang memahami ajaran iman Katolik, sebab Anda akan dibuat bingung karenanya. Pelajarilah ajaran Gereja Katolik, yang bersumber dari Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium,… Read more »

John
Guest
John

Terima kasih bu, atas p’jelasannya… Syukur kpd Bapa krana m’nemukan sya dgn situs ini. Berkat-Nya sntiasa b’sma anda smua… Shalom…

P/s- ad 1 pepatah lucu d dunia barat – “God bless the internet”… Mmg wajar, krana internet bisa jd wadah utk orang2 yg sesat spt saya m’cari jwapan. S’sungguhnya rncana Allah itu baik… Smakin b’tmbah jumlah manusia, p’hbungan dgn para imam yg dpat m’bimbing scara langsung smakin terhad. Maka alternatifnya utk b’diskusi & m’cari ialah alam maya (internet)…

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X