Mengapa Tuhan menciptakan perbedaan, orang cacat dan miskin?

Pertanyaan:

Romo, mengapa Tuhan menciptakan manusia berbeda? Kenapa harus ada yang cacat dan yang miskin ? Terima kasih !

Jawaban:

Shalom Jocelyn,

Sejak awal mula penciptaan dunia, kita mengetahui Allah menciptakan segala sesuatunya dalam keanekaragaman. Ada terang ada gelap, ada matahari, ada bulan dan bintang, pegunungan maupun pantai/ laut, aneka tumbuhan dan hewan, baik di darat dan di laut. Demikian juga pada saat menciptakan manusia, ada pria dan wanita. Tubuh manusia-pun terdiri dari anggota-anggota tubuh yang berbeda baik sifat maupun fungsinya. Maka Allah menciptakan keaneka- ragaman manusia, dan seluruh alam ciptaan-Nya, karena dalam keanekaragaman itu kemuliaan, keindahan dan kebesaran Tuhan semakin terlihat.

Namun keberagaman yang begitu indah pada awalnya, ternoda oleh akibat dosa manusia pertama. Maka, sebagai akibat dosa asal ini, Tuhan mengizinkan manusia bersusah payah menghadapi kehidupannya: para perempuan dengan sakit melahirkan (lih. Kel 3:16) dan para laki-laki dengan susah payah mencari rezeki seumur hidup (lih. Kel 3:17) dan menusia akhirnya akan mati dan kembali menjadi debu (lih. Kel 3:19). Akibat dari dosa inilah, terdapat sakit penyakit dan usaha keras manusia mencari nafkah, yang dengan sendirinya mengakibatkan bermacam perbedaan kondisi pada setiap orang, yaitu terdapat orang-orang yang miskin dan kaya, ataupun yang sakit/ menderita dan yang sehat. Orang-orang yang terlahir dalam keluarga miskin atau keluarga kaya, memang terbawa oleh kondisi orang tuanya masing-masing, dan Tuhan mengizinkan hal itu terjadi, walaupun tidak secara aktif menakdirkannya. Mengenai ‘takdir’ sudah pernah dituliskan di tanya jawab ini, silakan klik

Dalam pengajaranNya, Tuhan Yesus mengajarkan kepada kita bahwa Allah memberikan kepada manusia talenta yang berbeda-beda, ada yang diberi lima, dua dan satu talenta, sesuai dengan kesanggupan mereka (Mat 25:15). Maka, bagi Tuhan, yang terpenting bukannya miskin atau kaya, sakit atau sehat, namun adalah hakekat manusia yang diciptakan sesuai dengan gambaran Allah, dan bagaimana mereka menggunakan talenta/ kemampuan mereka sesuai dengan rencana-Nya.

Hal miskin dan kaya dan yang lemah dan kuat di dalam masyarakat merupakan fenomena kodrati manusia. Keadaan semacam ini tidak bisa dihapuskan, karena menentang hukum alam. Ibaratnya, seperti yang terjadi di dalam tubuh manusia, terdapat organ-organ internal yang halus dan tersembunyi, dan bagian tubuh eksternal yang bertugas melindungi. Maka perbedaan ini tidak dapat begitu saja dihapuskan.

Namun tentu saja, tidak berarti bahwa orang yang miskin tidak perlu berusaha untuk memperbaiki taraf hidup. Tidak demikian! Sebab seperti dalam perumpamaan talenta, setiap orang pada akhirnya harus berusaha untuk mengembangkan talenta/ kemampuan yang ada padanya, walaupun takarannya berbeda-beda pada setiap orang. Orang yang mempunyai kelebihan harus dengan murah hati membagi kepada yang berkekurangan, dan yang berkekurangan juga perlu menghargai bantuan itu dengan bekerja keras dengan prinsip keadilan dan kedamaian. Inilah sebenarnya salah satu prinsip dari ajaran sosial Gereja Katolik.

Mari kita melihat apa yang diajarkan oleh Paus Leo XIII dalam surat ensikliknya yang terkenal itu, Rerum Novarum, 1891, yang menanggapi dampak revolusi industri di Eropa dan Amerika. Paus menyadari adanya gerakan-gerakan yang bertujuan untuk menghapuskan perbedaan golongan dalam masyarakat untuk menjadikan masyarakat menjadi satu tingkatan- yang menjadi tujuan negara komunis. Hal ini dipandangnya sebagai sesuatu yang menentang hukum alam, apalagi karena demi tujuan itu, maka hak milik setiap orang tidak diakui.

Untuk itu Paus Leo XIII mengajarkan,

“Pertama-tama perlu diakui bahwa kondisi hal-hal yang melekat di dalam urusan manusia harus dipikul/ ditanggung, sebab adalah tidak mungkin untuk mereduksi masyarakat menjadi hanya satu tingkatan yang mati. Kaum sosialis dapat saja berusaha sekeras mungkin, namun semua kerja keras yang melawan hukum kodrat itu akan sia-sia.  Secara alamiah, di antara manusia [memang] terdapat berbagai perbedaan…. orang-orang berbeda dalam kemampuan, keahlian, kesehatan dan kekayaan yang tidak sama sebagai hasil dari kondisi yang berbeda. Perbedaan ini jauh dari merugikan, baik terhadap individu maupun masyarakat. Kehidupan sosial dan publik hanya dapat dipertahankan dengan adanya bermacam bentuk kemampuan usaha dan peran dari banyak bagian-bagian; dan setiap orang memilih bagian yang sesuai dengan kondisi khususnya masing-masing……” (Rerum Novarum, 17)

“Dengan demikian, sakit dan kesulitan dalam hidup tidak akan pernah berakhir atau berhenti di dunia; sebab akibat dosa adalah pahit dan sulit untuk ditanggung, dan hal-hal tersebut akan selalu menyertai manusia sepanjang hidupnya. Oleh karena itu, untuk menderita dan bertahan adalah bagian [yang harus ditanggung oleh] manusia; biarkan mereka berjuang seperti seharusnya, tidak ada kekuatan atau kecerdasan yang dapat berhasil untuk menghapuskan dari kehidupan manusia segala penyakit dan kesulitan-kesulitan yang menimpanya….. ” (Rerum Novarum, 18)

“Hal-hal dan kekayaan duniawi tidak dapat dipahami atau dihargai dengan benar tanpa memperhitungkan pertimbangan kehidupan kekal …. Sebab dalam hal kekayaan dan segala hal yang dipandang baik dan diperlukan, apakah itu kita punyai dengan limpahnya, atau tidak -asalkan kebahagiaan kekal yang menjadi perhatian kita- maka kedua kondisi itu [kaya atau miskin] tidaklah berbeda; hal yang terutama adalah untuk mempergunakan apa yang kita miliki dengan benar….. Yesus Kristus, ketika menebus kita… tidak menghapuskan sakit dan duka cita yang dalam takaran yang besar terjalin di dalam kehidupan kita. Ia mengubah hal-hal itu menjadi motivasi kebajikan dan kesempatan untuk berbuat baik, dan tidak seorangpun dapat berharap untuk menerima penghargaan kekal tanpa mengikuti jejak pengorbanan Penyelamat-nya.  “Jika kita menderita bersama Dia, kita akan bangkit bersama Dia.” (lih. 2 Tim 2:12). Kerja keras dan penderitaan Yesus yang diterima-Nya dengan kehendak bebas-Nya telah menjadikan manis segala penderitaan dan kerja keras manusia. Dan tidak hanya dengan teladan-Nya, tetapi dengan rahmat dan pengharapan akan kehidupan kekal, maka Ia telah membuat penyakit dan penderitaan/ duka cita menjadi lebih dapat dipikul; “sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kita kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kita.” (2 Kor 4:17) (Rerum Novarum, 21)

Siapapun yang menerima dari Tuhan kelimpahan berkat-berkat duniawi, baik berkat eksternal dan material, atau karunia-karunia pemikiran, telah menerima berkat-berkat itu dengan maksud agar digunakan untuk menyempurnakan kodratnya, dan pada saat yang sama, agar ia mengembangkannya, sebagai pelayan bagi penyelenggaraan Tuhan, demi kebaikan sesamanya. “Mereka yang mempunyai talenta,” kata St. Gregorius Agung, “biarlah ia tidak menyembunyikannya; ia yang mempunyai kelimpahan, biarlah ia bergegas dalam belas kasihan dan kemurahan hati; ia yang mempunyai bakat seni dan keahlian, biarlah ia melakukan yang terbaik untuk membagikan penggunaan dan manfaatnya dengan sesamanya.” (Rerum Novarum, 22)

“Kepada mereka yang tidak mempunyai kekayaan, mereka diajarkan oleh Gereja bahwa di mata Tuhan, kemiskinan bukan suatu aib/ kutuk, dan tidak ada sesuatu yang memalukan tentang bekerja keras untuk mencari nafkah. Ini dibuktikan dengan apa yang terjadi dalam Kristus sendiri, yang “oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” (2 Kor 8:9); dan Ia yang adalah Putera Allah dan Allah sendiri, memilih untuk dilihat dan dianggap sebagai anak tukang kayu… tidak merasa terhina untuk menghabiskan sebagian besar hidup-Nya sebagai tukang kayu. (lih. Mrk 6:3)” (Rerum Novarum, 23).

“Dengan melihat Teladan Ilahi ini, lebih mudah dimengerti bahwa nilai dan kehormatan sejati manusia terletak pada kualitas moralnya, yaitu di dalam hal kebajikan…. yang adalah warisan umum manusia, yang sama terjangkaunya oleh mereka yang tinggi dan rendah, kaya dan miskin …. yang akan diikuti dengan ganjaran kebahagiaan abadi. Tuhan sendiri kelihatan berpihak pada mereka yang menderita kemalangan; sebab Yesus Kristus menyebut mereka yang miskin sebagai yang terberkati/ berbahagia (Mat 5:3); Ia mengundang mereka yang bekerja keras dan berbeban berat untuk datang kepada-Nya untuk memperoleh kelegaan…” (Mat 11:28) (Rerum Novarum, 24).

Sedangkan secara khusus tentang penyakit dan cacat yang diizinkan Tuhan terjadi di dalam hidup manusia, juga dimaksudkan Tuhan untuk menyatakan perbuatan-perbuatan-Nya atas orang itu dan keluarganya (lih. Yoh 9:3) Yesus sendiri menjawab demikian ketika ditanya oleh para murid-Nya mengapa ada seorang dilahirkan buta. Kita harus melihat kejadian ini dalam kesatuan dengan rencana Tuhan untuk membawa umatnya kepada kehidupan kekal. Dengan adanya orang-orang cacat dan sakit, maka kita yang sehat diberi kesempatan untuk mengasihi, memperhatikan, dan merawat mereka. Kasih tanpa pamrih yang memperhatikan orang-orang yang sakit dan menderita adalah perbuatan kasih yang menguduskan. Sedangkan dari pihak orang yang sakit, maka kesetiaannya memikul salib/ penderitaannya bersama Kristus, akan menjadi berkat bagi keselamatan dirinya dan orang lain yang didoakan olehnya. Dalam hal inilah, maka dapat dikatakan bahwa melalui penderitaan dan sakit penyakit perbuatan-perbuatan Allah dinyatakan.  Karena dengan setia memikul segala penderitaan dan penyakit yang diizinkan Allah terjadi di dalam hidup kita, dan mempersatukannya dengan penderitaan Kristus, maka kita dapat bangkit bersama Tuhan Yesus dan memperoleh keselamatan (lih. 1 Ptr 4:13; Ibr 2:10). Sedangkan dengan memperhatikan orang-orang kecil, sakit, menderita dan terbuang, kita melakukan perintah kasih yang akan diperhitungkan dalam Penghakiman Terakhir (Mat 25:45). Juga pelayanan kasih tanpa pamrih kepada mereka yang terhina, menjadi kesaksian yang sangat lantang akan Kabar Gembira/ Injil, seperti yang dilakukan oleh Bunda Teresa dari Kalkuta dan para biarawati Missionaris Cinta Kasih yang dipimpinnya.

Maka kembali ke pertanyaan di atas, mengapa Tuhan mengizinkan perbedaan, orang miskin dan kaya, sehat dan sakit? Jawabnya adalah untuk menyatakan perbuatan-perbuatan-Nya demi membawa orang-orang yang percaya kepada-Nya kepada keselamatan kekal. Karena dengan adanya perbedaan itu terdapatlah kesempatan bagi yang kuat untuk menolong yang lemah, yang lemah mendukung yang kuat, dengan kedua pihak mensyukuri rahmat yang Tuhan berikan kepada mereka. Tuhan dengan keadilan-Nya mempercayakan talenta-talenta kepada tiap-tiap orang sesuai dengan kesanggupannya; dan yang terpenting adalah bagaimana mengembangkan talenta-talenta itu sesuai dengan kehendak Tuhan.

Demikianlah yang dapat saya tuliskan tentang pertanyaan anda, semoga dapat berguna bagi kita semua.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

28
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
13 Comment threads
15 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
17 Comment authors
kristianYohaneshswerryStefanus TayVictor Vland Recent comment authors
kristian
Member
kristian

Shalom Ibu Inggrid Saya barusan membaca artikel MENGAPA TUHAN MENCIPTAKAN PERBEDAAN, ORANG CACAT DAN MISKIN? tapi masih ada ganjalan dalam hal ini. 1. Mengapa Tuhan membeda2kan nasib dan tallenta seseorang, bukankah itu tidak adil. jika bisa memilih pasti kita semua ingin disamakan dalam semua hal. 2. Jika Tuhan penuh cinta kasih kepada umatnya mengapa Ia menciptakan orang cacat. Bila seseorang sudah diciptakan buta dan tuli maka dia tidak akan bisa mengenal Tuhan dan ajaran Nya, jadi bagaimana ia dapat diselamatkan? 3. Ada banyak bayi yang hanya berusia beberapa hari atau bahkan langsung meninggal sejak dilahirkan. Apakah ini termasuk karya dari… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Kristian, Memang tidaklah mudah untuk mengerti dan menyelami penderitaan dan ketidakadilan di dunia ini. Namun, kita tahus melihat bahwa Tuhan tidak menginginkan ketidakadilan dan penderitaan di dunia ini. Namun, tidak ada sesuatupun yang terjadi di dunia ini tanpa seizin Allah. Dan kalau Allah mengizinkan, maka itu karena Allah tahu bagaimana mengubahnya menjadi sesuatu yang lebih baik dan indah. Dan perubahan ini dapat terjadi di dunia ini dan kalaupun tidak terjadi di dunia ini, maka pasti akan terjadi di dalam Pengadilan Terakhir – di mana Allah akan menyatakan keadilan dengan seadil-adilnya dan hak-hak orang yang menderita akan dipulihkan dan yang… Read more »

Yohaneshs
Member
Yohaneshs

Ibu Inggrid,
Saya ingin bertanya mengenai Matius 25, 41 – 46. Jika kita di jalan mengendarai mobil lalu ada seorang pengemis minta-minta sedekah, pengemis tsb duduk bersimpuh di pinggir jalan karena kakinya lumpuh/buntung sambil meminta uang dengan memohon belas kasihan kita. Maka jika menurut Matius 25: 41-46 maka kita harus memberikan sedekah kepada pengemis tsb untuk makan. Tetapi di sisi lain banyak orang (bahkan pemerintah) mengatakan jangan memberikan sedekah kepada orang (pengemis) di jalanan karena justru akan mendidik mereka untuk tetap berada di jalanan menjadi pengemis. Nah, bagaimana seharusnya yang kita lakukan?
Terima kasih,

Shalom,
Yohanes HS

Stefanus Tay

Shalom Yohanes HS,

Intinya, kita juga harus patuh kepada penguasa, karena mereka memikirkan kebaikan bersama (common good) untuk seluruh masyarakat. Kalau memang itu dilarang oleh pemerintah, kita jangan melakukannya. Namun, kita dapat membantu dengan cara yang lain, seperti aktif dalam kegiatan untuk memberikan pelatihan bagi orang yang miskin, menyalurkan sumbangan lewat gereja, lewat organisasi tertentu, atau mengunjungi langsung panti asuhan, dll. Namun, yang harus dihindari adalah kita tidak memberi kepada pengemis di jalan, namun kita juga tidak menyalurkan bantuan dengan cara lain.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

werry
Guest
werry

Jadi, kemampuan manusia didapat dari dirinya sendiri atau diberikan oleh Tuhan? Kalau diberikan oleh Tuhan, berarti sudah menjadi nasib kalau kita ingin menguasai sesuatu, tetapi tidak memiliki kemampuan untuk itu, sekuat apapun kita berusaha, karena memang Tuhan tidak memberi kita kemampuan untuk itu, dan bukankah itu berarti kita tidak ditakdirkan untuk itu?

Ericco
Guest
Ericco

Salam Damai Sejahtera

Saya mau tanya, apakah benar natal bkan ajaran Yesus tapi ajaran Paulus yg diadopsi dr ajaran pagan mesir yg mrembet ke pagan romawi..
berikut nama dewa2 yg lhir tgl 25 des n dlhrkan oleh Gadis perawan(tnpa bpk), mengalami kematian (slib) dan dprcyai sbg Juru Selamat (pnbus dsa)..
dewa mithras (mitra) dr iran, apollo, hercules, ba-al,dwa Ra..
jadi konsep bahwa Tuhan dilahirkan Seorang perawan pd tgl 25 des, dislib/dibunuh, kmdian dbgkitkan sudah ada sjak zman dlu ? Trims

[dari katolisitas: silakan melihat jawaban ini – silakan klik]

Nicholas Afiandi
Guest
Nicholas Afiandi

Saya sangat setuju dengan penjelasan Ibu Ingrid di atas, Masalah yang berkaitan dengan miskin dan kaya, nasib dan takdir, dari dahulu memang selalu berulang-kali menjadi salah satu bahan topik yang berkaitan dengan iman kita dan bagaimana mempertahankannya. Saya memiliki banyak teman yang mengaku bahwa mereka tidak percaya dengan keberadaan Tuhan, dan selalu menggunakan argumen “mengapa banyak anak miskin menderita di Afrika kalau Tuhan memang ada” dan argumen-argumen lain yang mirip. Saya mengerti bahwa masalah semacam ini memang rumit apabila hanya dilihat sekilas dengan pikiran yang penuh, tapi saya percaya sedikit penjelasan dan pencarian akan Tuhan dengan pikiran yang kosong dan… Read more »

Lukas Cung
Guest
Lukas Cung

Semua pengunjung katolisitas, Ijinkan saya menulis sekelumit ini… Satu kali saya pernah membaca buku: “Memaafkan: Kekuatan yang Menyembuhkan” – kalau tidak salah terbitan Kanisius. Salah satu bagiannya menyangkut pertanyaan di manakah Tuhan saat orang-orang baik itu mengalami penderitaan yang luar biasa. Dikisahkan kira-kira seperti ini yang terjadi pada orang-orang yang masuk ke dalam camp konsentrasi Nazi pada PD II: Malam itu kami semua dikumpulkan di lapangan untuk menyaksikan eksekusi mati terhadap seorang anak kecil yang dituduh telah mencuri. Kami semua diharuskan menyaksikannya. “Tuhan ada di mana?” hatiku bertanya. “Sedang tergantung bersama anak itu” jawab suara dalam hatiku. Setelah membaca kisah… Read more »

Herman Jay
Guest
Herman Jay

Banyak orang dengan mudah mengatakan alasan keberadaan sesuatu dengan menunjukkan lawannya.Contoh: gelap ada karena terang ada dan sebaliknya. Tanpa terang tidak ada gelap.Begitu pula wanita ada karena ada pria. Mirip pola keseimbangan ying dan yang. Pola logika yang sama nampak dalam hal berikut. Orang miskin dan orang kaya memang diadakan Tuhan supaya memberi kesempatan bagi orang kaya untuk berbuat baik kepada orang miskin. Apakah pola pikir antagonis semacam itu dibenarkan oleh ajaran iman Katolik dan Alkitab ( Contoh:Mat 19:16-26 dan Mrk 10:17-27)?

jesus_follower
Guest
jesus_follower

Hi,
Saya ada pertanyaan tentang beberapa ajaran2 gereja tetangga yang mengajarkan bahwa anak anak Allah akan hidup berkelimpahan, berkecukupan, dll (kalau tidak salah begitu, termasuk Joel Osteen yang podcast nya ssering saya dengarkan)
Apakah di Katolik ada ajaran seperti ini dan apakah Vatikan setuju dengan ajaran seperti ini?

Thanks

tjokroinghadiwidjojo
Guest
tjokroinghadiwidjojo

Tuhan menciptakan kemiskinan dan cacat atau suatu penderitaan supaya ada orang yang minta bantuan atau pertolongan. Orang yang memberikan pertolongan akan dapat pahala ( ….apa yang engkau berikan pada saudaramu yang hina dina adal;ah sama seperti yang engkau berikan padaKU….) Jadi penderitaan itu dapat kita jadikan tiket untuk dapat pahala ( masuk surga ) Kalau Tuhan menyuruh kita untuk memberi pasti DIA juga menciptakan orang yang meminta. Kalau Tuhan meminta kita untuk mengampuni ,pasti DIA juga menyediakan orang yang berbuat salah pada kita

yohanes yudi purnomo
Guest
yohanes yudi purnomo

dear katolisitas,
sebelum saya membaca sampai akhirnya membaca… saya setuju dengan uraian katolisitas… saya merasa itulah spiritualitas gereja kita yang tidak dimiliki oleh yang lainnya. terhadap hal ini saya bangga… hingga suatu ketika… saya mendapatkan penilaian dari seorang teman saya yang beragama lain: “…itu namanya filosofi orang bodoh…” ketika saya berdiskusi tentang bagaimana menjalani kehidupan “salib” dan dengan rasa bangga saya mengutarakan ajaran Yesus yang saya miliki: jika pipi kirimu ditampar, berilah juga pipi kananmu.
jadi sekali lagi saya bangga jadi umat Gereja Katolik, dan kita emang beda dengan yang lain…
selamat telah menjadi anggota Tubuh Mistik Kristus…
Tuhan mecintai dengan kerahiman-Nya

Konradus Pedhu
Guest

Halo Bu!
Kenapa orang Katolik yang ada di Flores atau di daerah-daerah lain di Indonesia Timur hidupnya sangat miskin? Apakah Tuhan Yesus tidak memberkati mereka? Bagaimana dengan agama-agama lain yang tidak mengimani Yesus sebagai Allah tetapi mereka meraih kekayaan, kebahagiaan, dsbnya, seperti negara-negara Arab, dan kawasan teluk sana, RRC yang komunis. Mohon penjelesannya, terima kasih.

Salam Damai

Konradus Pedhu
Anak Petani Miskin

Edward H Sihombing
Guest
Edward H Sihombing

Syalom Ibu Ingrid Listiati

Saya tidak dapat berkomentar lagi terhadap semua tulisan yang ada dalam web ini, saya hanya bisa bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan untuk semuanya serta mohon semoga apa yang telah ibu dan semua pengasuh web ini perbuat senantiasa diberkati oleh Tuhan Yesus dan senantiasa diberi kesehatan agar dapat meneruskan pekerjaan ini saya sungguh merasakan betapa kaya dan luhurnya ajaran dalam “iman Katolik” yang baru saya ketahui setelah mengikuti web Katolisitas ini . Terima kasih Tuhan memberkati. Edward Sihombing

Jocelyn
Guest
Jocelyn

Romo , mengapa Tuhan menciptakan manusia berbeda? Kenapa harus ada yang cacat dan da yang miskin ?Terima kasih !

[Dari Admin Katolisitas: Pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]

Machmud
Guest
Machmud

Salam damai sejahtera

Dear pengasuh katolisitas.org

APAKAH KAYA ATAU MISKIN ITU NASIB ?

Banyak orang yang tidak mengerti sehingga yakin bahwa kaya atau miskin itu adalah bawaan dari orang tua atau nasib.
Kalau lahir dalam keluarga miskin, biasanya tetap miskin, kalau lahir dalam keluarga kaya, ya kaya, sudah nasib
Apakah kaya atau miskin itu nasib ?

Salam
mac

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X