Mengapa retret pohon keluarga dilarang?

Pertanyaan:

Saya mau tanya mengenai penyembuhan pohon keluarga (Healing of the family tree). Apakah ini sudah sesuai dengan ajaran dan tradisi Gereja Katolik? Mohon penjelasannya.

Jawaban:

Shalom Thomas, Memang penyembuhan pohon keluarga menjadi sesuatu yang kontroversial. Beberapa keuskupan – termasuk Keuskupan Agung Jakarta – telah melarang penyelenggaraan retret pohon keluarga, seperti yang telah dijelaskan di SURAT VIKEP KAJ ttg Pembaharuan Karismatik Katolik-KAJ: Jakarta, 27 Agustus 2003. Jadi kalau pihak keuskupan sudah melarang, sebaiknya kita mengikuti keputusan mereka, karena pasti ada alasan-alasan yang berguna untuk perkembangan iman umatnya. Tentu kita ingin tahu alasannya.Marilah kita lihat bersama-sama. Apakah yang dilakukan dalam penyembuhan pohon keluarga:

1) Mereka percaya bahwa dosa yang dilakukan oleh nenek moyang mereka diturunkan kepada generasi berikutnya. Sebagai contoh, kalau orang tua, atau nenek moyang mereka berjudi, punya kecenderungan untuk bunuh diri, dan hal-hal negatif yang lain, maka ini akan diturunkan kepada keturunannya, sehingga dosa ini perlu diputuskan. Dan pemutusan ini dengan cara doa dengan formula tertentu atau juga kadang berlangsung di misa.

2) Biasanya orang yang ingin disembuhkan dari pengaruh buruk pohon keluarga akan membawa grafik yang menunjukkan garis keturunan dan kemudian menuliskan pengaruh buruk yang dibawa dari setiap generasi.

3) Dasar dari penyembuhan pohon keluarga adalah: “Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku“(Kel 20:5; Kel 34:6-7).

Dari konsep ini, maka ada beberapa hal yang secara teologi kurang dapat diterima:

1) Pada saat kita dibaptis, sebenarnya imam telah melakukan doa eksorsisme, untuk mengusir roh-roh yang jahat dan untuk keluar dari orang yang akan dibaptis dan memohon agar Yesus membuka telinga kita untuk mendengar Sabda-Nya dan mulut kita untuk menyampaikan kebenaran, memuji dan memuliakan Allah.Jadi pada saat kita dibaptis, kita telah dibersihkan dari dosa asal, dan juga dari pengaruh-pengaruh jahat yang telah diusir dalam proses eksorsisme di upacara pembaptisan. Kalau kita berpendapat bahwa masih ada dosa yang diturunkan dari nenek moyang kita, maka kita tidak percaya akan hakekat dari Sakramen Baptis.

2) Kalau kita percaya bahwa kita melakukan dosa karena pengaruh dari nenek moyang kita, maka dengan gampang sekali kita akan menimpakan kesalahan kepada nasib kita yang terlahir dari keturunan yang kurang baik. Padahal setiap orang bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya, karena setiap orang punya “keinginan bebas”.

3) Bagaimana untuk menjawab keluaran 20:5; 34:6-7 di atas? Ada banyak ayat yang mendukung bahwa setiap orang bertanggungjawab akan dosa yang dibuatnya sendiri, seperti ayat-ayat berikut ini: Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri (Ul 24:16; lihat juga Yer 31:30). Atau Yehezkiel mengatakan “Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya (Yeh 18:20). Bacalah Yehezkiel bab 18, disitu jelas sekali bahwa kalau anak yang bertobat akan diselamatkan walaupun orang tuanya berbuat dosa.

4) Mungkin ada yang berkata, bahwa saya ingin bertobat, namun seolah-olah saya tidak mempunyai kekuatan untuk bertobat karena ikatan pohon keluarga atau dosa dari nenek moyang saya. Dalam hal ini, mari kita percaya bahwa Yesus telah memberikan berkat yang cukup untuk semua orang, sehingga setiap orang dapat mengikuti Yesus, berjalan sesuai dengan perintah-Nya, dan bersatu dengan-Nya di dalam kerajaan surga. Dan berkat-berkat ini mengalir tanpa henti dalam setiap perjamuan Suci/ Ekaristi Kudus. Dan Tuhan sendiri telah memberikan Sakramen Pengakuan Dosa, sehingga umat beriman mendapatkan kekuatan untuk menolak perbuatan dosa dengan bantuan rahmat Tuhan. Bagaimana dengan orang-orang yang telah mengalami kesembuhan dan kelepasan setelah didoakan dalam kesembuhan pohon keluarga? Ini suatu misteri, karena karya Tuhan tidak dapat dibatasi oleh liturgi (Sacrosanctum Concilium, 12). Namun dapat kita lihat bahwa Tuhan melihat hati, karena hati menjadi tempat yang yang kudus dimana setiap orang bertemu dengan Tuhan. Orang yang datang di dalam retret kesembuhan pohon keluarga mungkin membawa hati yang remuk redam dan siap untuk bertobat, yang merupakan sikap yang paling berkenan di hadapan Tuhan (Maz 51:18). Kalau kita membawa sikap pertobatan dan kerinduan yang sama, dan bertumbuh dalam Ekaristi dan Sakramen Pengampunan Dosa, juga dibantu dengan spiritual director, maka kita juga akan mengalami kesembuhan. Jadi bagaimana kesimpulannya? Dengan dasar-dasar di atas, maka Gereja mempunyai alasan yang kuat untuk menolak penyembuhan pohon keluarga. Mari kita menerima dengan besar hati dan mengikuti kebijaksanaan Gereja. Dan Gereja juga telah memberikan sarana agar kita bertumbuh di dalam iman dan hidup dalam kekudusan.

Semoga penjelasan singkat ini dapat menjawab pertanyaan Thomas.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org

Dokumen:

Saya lampirkan juga surat dari B.S. Mardiatmadja, S.J – Vicarius Episcopalis-Keuskupan Agung Jakarta SURAT VIKEP KAJ ttg Pembaharuan Karismatik Katolik-KAJ: Jakarta, 27 Agustus 2003 Ytk Para saudari dan saudara dalam Pembaharuan Karismatik Katolik Di Jakarta, Pada tanggal 11 Agustus 2003, Romo Kardinal Julius Darmaatmadja, S.J., sebagai Uskup Agung Jakarta, memanggil Moderator, Ko-moderator dan beberapa petugas harian BPK-KAJ. Disyukuri, bahwa Roh Allah telah melimpahkan rahmat-Nya kepada Gereja Jakarta melalui ribuan orang, yang merasa dijamah oleh cinta-Nya dan bergabung dalam Persekutuan Doa. Roh Kudus memperkaya umat dengan iman yang lebih dihayati, hidup menggereja yang lebih gembira, penghormatan kepada Kitab Suci dengan sukacita, kesadaran persatuan secara lahir batin, kegairahan dalam merayakan sakramen-sakramen, dengan aneka sakramentalia, seperti rosario, jalan salib, ziarah, ibadat sabda dsb. Pada akhir pembicaraan, Bapak Uskup menugasi Vicarius Episcopalis (Vikep) Kategorial untuk menyampaikan sejumlah hal yang perlu diperhatikan oleh seluruh keluarga Pembaharuan Karismatik Katholik se-Keuskupan Agung Jakarta.

PERTAMA, bahwa Koordinator BPK dan Moderator BPK perlu bersatu dengan Pimpinan Keuskupan dalam kebijakan pastoral serta ikut melayani secara terpadu, sehingga umat melaksanakan kebijakan itu. Khususnya menjelang akhir Sinode Kedua KAJ ini, diharapkan bahwa iman akan Roh Kudus lebih difokuskan pada kehidupan dalam keluarga, untuk menghasilkan pembaharuan yang nyata positif.

KEDUA, harap diingat bahwa Sakramen Perkawinan menurut paham Katholik memusatkan keyakinan, bahwa pasang surut hidup keluarga, konflik dan rekonsiliasi dalam perjalanan keluarga, kesalahan dan pemulihan sepanjang hidup manusia berkeluarga sudah dirangkum dalam penebusan Tuhan Yesus, yang hidup dalam keluarga, wafat dan bangkit bagi kita semua; menghancurkan segala kekuatan setan, kutuk manusia dsb. Maka PKK-KAJ hendaklah tidak mendukung retret “Pohon Keluarga”, yang dalam prakteknya sekarang dinilai terlalu menyempitkan paham keluarga dengan determinisme psikologis. Kita harus mengembangkan ‘discernment’, untuk tidak menyamaratakan saja segala masalah, melainkan mampu membeda-bedakan manakah dalam keluarga merupakan masalah budaya yang perlu dicermati secara kultural, luka kejiwaan yang perlu disembuhkan secara psikologis, dan dosa yang perlu dimohonkan ampun dari Tuhan.

KETIGA, dalam Roh Kudus kita percaya bahwa Tuhan Yesus menyertai Gereja sampai ke akhir zaman dengan kekuasaan tanpa batas. Maka yang seyogianya dimana-mana dilihat oleh keluarga PKK-KAJ bukanlah kuasa gelap, melainkan kekuatan Allah. Banyak kesalahan, kesusahan, malapetaka atau kerisauan dalam hidup perseorangan maupun keluarga dapat disebabkan oleh keterbatasan fisik atau kejiwaan kita, keterikatan budaya serta kesulitan ekonomi maupun politis kita. PKK-KAJ diminta mau lebih menekuni dan memajukan ‘Discernment of Spirit’ daripada praktek ‘Deliverance’ yang dangkal dan sensional; apalagi dengan pola pengusiran setan yang gegabah. Kecuali itu, ‘exorcismus untuk mengusir setan yang sejati’ hanya boleh dilakukan oleh orang yang mendapat ijin tertulis Uskup.

KEEMPAT, para Pewarta dalam lingkungan PKK-KAJ harus lebih banyak mempelajari dan mewartakan Ajaran Gereja mengenai berbagai permasalahan rohani dan pewarta perlu mau dilayani oleh BPK dengan acara-acara penyegaran yang bermutu. Pegangan utama bagi semua pewarta adalah Buku Iman Katolik dari KWI dan Katekismus Gereja Katolik, serta Surat-surat Gembala Pemimpin Gereja, karena menerjemahkan Alkitab dalam konteks kita. Secara berkesinambungan para Pewarta perlu dievaluasi dan diperbarui pengutusannya oleh pimpinan BPK-KAJ, sebab pewartaan hanya berarti dalam konteks persekutuan iman, yakni Gereja. Maka perlu pengutusan resmi dari pimpinan Gereja. Pengutusan itu lebih penting, kalau seorang pewarta pergi ke luar Keuskupan Agung Jakarta. Uskup memberikan pengutusan utama kepada para imam, khususnya pastor paroki dan moderator. Orang lain mengambil bagian dalam pengutusan tersebut bila memenuhi syarat.

KELIMA, PKK-KAJ seyogianya mendukung ekumene dan dialog dengan agama lain dengan cara dialog hidup maupun dialog karya. Bentuknya : lebih memajukan hidup bertetangga secara baik dan karya sosial bersama. Namun diminta tidak mengadakan PD Ekumene. Pertemuan untuk pengajaran lintas Gereja hanya dilakukan dengan penugasan BPK dan sepengetahuan Keuskupan. Sebab untuk itu diperlukan sejumlah syarat mutu pengetahuan dan pengutusan jelas.

KEENAM, hendaknya lebih digarisbawahi lagi tradisi BPK-KAJ bahwa Persekutuan Doa tidak mengundang pemuka dari Gereja atau Agama lain untuk memberikan pengajaran. Kita juga menyadari, bahwa bahkan dalam ‘kesaksian’ suatu PD banyak pengajaran yang dapat terbawa masuk, yang dapat melemahkan iman Katolik umat. Sebab tim PD bertanggungjawab untuk mutu Katolik warganya.

KETUJUH, ditengah upaya-upaya agar pewartaan dalam PD di PKK-KAJ tampak menarik, diingatkan bahwa tetap berlaku kewajiban untuk sejak perencanaan membicarakan dengan Moderator apabila mengundang pewarta dari luar keuskupan, dan dengan Pimpinan Keuskupan bila undangan dari luar negeri. Tiap pewarta dari luar Keuskupan memerlukan pengutusan resmi dari pimpinannya, dari keuskupan/BPK, dan/atau dari tarekatnya. Sebab di dalam Gereja Katolik, setiap pewartaan membutuhkan pengutusan.

KEDELAPAN, PKK-KAJ makin mekar bila PD-PD Paroki dan kategorial subur. Dalam kaitan itu, BPK hendaknya sungguh membantu BPKM dan orang-orang muda hendaknya mau dibantu BPK agar sungguh melayani sesama orang muda secara terpadu dengan BPK-KAJ. Dianjurkan agar seluruh PKK-KAJ mau mempelajari cara-cara yang tepat guna membangun Persekutuan Doa Karismatik Katolik sebagaimana dianjurkan dalam Konvensi Nasional 2003. Di situ PD hendaknya menjadi komunitas basis dan bukan menekankan perayaan massal. Seyogianya dibentuk Badan Pelayanan Paroki., khususnya di paroki yang menjadi basis dari beberapa pelayanan karismatik.

KESEMBILAN, Persekutuan Doa perlu membaharui diri terus, terutama PD kategorial perlu mencermati visi/misi-nya, supaya jelas fokusnya. Jangan mudah mendirikan PD atau komunitas baru hanya karena tidak sejalan dengan petugas BPK atau dengan teman PD lainnya. Seperti Gereja Perdana, kita diajak untuk mengatasi pelbagai konflik dan perbedaan pandangan dengan pembicaraan bersama, bukan dengan memisahkan diri.

KESEPULUH, semua PD diminta untuk semakin menjadi persekutuan: disitu doa merupakan awal, isi dan tujuan semua kegiatan, dan bukan hanya parade nyanyian dan suasana hura-hura atau menonjolkan pertunjukan saja.

Kesepuluh butir itu penting dalam upaya kita menjadi persekutuan yang membaharui diri tanpa henti dan karena kita mau secara bersungguh-sungguh mewujudkan cita-cita bahwa iman akan Roh Kudus, doa, spiritualitas adalah nomor satu dalam PKK-KAJ. Bersatu dengan lembaga gerejawi dan pimpinan Keuskupan kita ingin menjadi jemaat yang secara nyata percaya akan Bapa Pencipta, Putra yang menebus kita serta Roh Kudus yang menghibur kita. Hendaknya umat menyatu dalam pelayanan BPK-KAJ yang dipadukan oleh Koordinator dan dipandu oleh Moderator dan Ko-moderator dalam naungan Gereja, yang satu kudus-katolik dan apostolik. Kita percaya bahwa Tuhan memberkati kita semua.

Bersatu dalam kasih Allah

B.S. Mardiatmadja, S.J
Vicarius Episcopalis-Keuskupan Agung Jakarta

19/12/2018

46
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
18 Comment threads
28 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
25 Comment authors
roserinaEllenYohanes 777RD. Yohanes Dwi HarsantoVian Recent comment authors
roserina
Member
roserina

Kalau saya boleh menanggapi,,,,menurut saya Retreat Pohon Keluarga yang diadakan komunitas Tri Tunggal Maha Kudus sebenarnya jugaa tidak menyalahi Kitab Suci, karena sudah ada juga ayatnya yang memperkuat “Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku”(Kel 20:5; Kel 34:6-7). Walaupun juga ada ayat yang menyangkalnya “Janganlah ayah dihukum mati karena anaknya, janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri (Ul 24:16; lihat juga Yer 31:30). Atau Yehezkiel mengatakan “Orang… Read more »

Ellen
Guest
Ellen

Shalom tim Katolisitas.org, Terima kasih atas kerelaan Anda berbagi melalui website ini. Saya ingin menanyakan lebih lanjut tentang artikel pohon keluarga ini: – Jika dosa tidak diwariskan, bagaimana dengan akibat dosa? Sebab apabila akibat dosa juga tidak diwariskan, mengapa manusia tetap meninggal, sakit, dan ada kecenderungan untuk berbuat dosa (concupiscence)? – Apakah ada dari tim katolisitas.org yg pernah mengikuti retret intergenerasi yg diadakan di Lembah Karmel? Apakah isi retret tsb bertentangan dg perintah KAJ? Saya selalu merasa lebih damai setelah mengikuti retret di sana, namun saya ingin mengetahui apakah retret intergenerasi tsb termasuk retret pohon keluarga yg Anda bahas di… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Ellen, Melalui Baptisan, dihapuskanlah segala dosa, baik dosa asal, maupun dosa-dosa pribadi dan akibat-akibat dosa yang mengakibatkan keterpisahan kita dari Allah (neraka). Namun demikian, tertinggal pada kita yang sudah dibaptis, kecondongan terhadap dosa atau disebut concupiscence/ concupiscentia, dan beberapa akibat dosa sementara. Mohon dipahami, bahwa concupiscence atau kecondongan terhadap dosa, itu bukan dosa. Kecondongan tersebut baru dapat disebut dosa, jika sudah diikuti oleh kehendak manusia, sehingga membuahkan suatu perbuatan yang menyimpang. Nah, setelah Baptisan, concupiscence ini memang tetap ada, sebagai akibat dari dosa asal Adam dan Hawa. Adalah kebijaksanaan Tuhan untuk meninggalkan concupiscentia ini dalam diri orang-orang yang sudah… Read more »

Ellen
Guest
Ellen

Terima kasih banyak, Bu Ingrid. Penjelasannya membantu sekali.

Yohanes 777
Guest
Yohanes 777

Dear Katolisitas, Ibu Ingrid / Bpk Stef Mohon pencerahan, Ada Ayat berbunyi: “Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku“(Kel 20:5) Dan ada ayat berbunyi: ………………., janganlah juga anak dihukum mati karena ayahnya; setiap orang harus dihukum mati karena dosanya sendiri (Ul 24:16; lihat juga Yer 31:30). Atau Yehezkiel mengatakan “Orang yang berbuat dosa, itu yang harus mati. Anak tidak akan turut menanggung kesalahan ayahnya dan ayah tidak akan turut menanggung kesalahan anaknya. Orang benar akan… Read more »

alex
Guest
alex

aneh nih, ajarannya…ra mutu blass pokoe

[dari katolisitas: Kami kadang menerima komentar seperti ini, namun kami sering tidak menampilkannya, karena tidak akan membawa diskusi yang membangun. Kami terbuka terhadap dialog, namun komentar seperti ini adalah komentar yang tidak disertai dengan argumentasi sehingga pada akhirnya tidak akan terjadi dialog yang baik. Jadi, silakan memberikan argumentasi apa yang menjadi keberatan Anda akan artikel di atas.]

Handoko
Guest
Handoko

Dear Admin / pak Stef & bu Ingrid… Masih ada “ganjalan” di pikiran saya. Apa saja yang sebenarnya ditebus oleh Kristus saat Ia mengorbankan dirinya di kayu salib? Kaitan pertanyaan saya adalah : kenapa ada institusi Katolik yang diakui oleh Gereja, mempraktekkan apa yang mereka sebut “pelepasan”? Mereka mempercayai bahwa dosa-dosa nenek moyang turun ke anak cucu sehingga mengikat / membelenggu hidup kita. Dosa nenek moyang tersebut antara lain mungkin jika dulu pernah ke dukun, ke gunung kawi, semua ilmu-ilmu sesat, jimat, aborsi, dll. Bukankah ketika kita sudah menyerahkan hidup kita ke Kristus, melalui Sakramen Baptis ( apalagi ditambah Sakramen… Read more »

Agung
Guest
Agung

Shalom,

di atas disebutkan bahwa setiap orang bertanggung jawab atas kesalahannya sendiri dan anak yang bertobat akan diselamatkan walaupun orang tuanya berbuat dosa.

Namun, apakah mungkin pada suatu kejadian si anak diminta melakukan silih (lewat penglihatan, dorongan hati dll) untuk dosa2 orang tuanya (yang telah meninggal)? Tentu saja dalam hal ini silih si anak menjadi bagian dari penebusan utama yang dilakukan Kristus.

Terima kasih
GBU

Felix Sugiharto
Guest
Felix Sugiharto

Shalom Bu Ingrid

Saya ingin menanyakan “apakah akar kepahitan” itu ?
Jika dimungkinkan dibuat sebuah topik tersendiri, menurut saya akar kepahitan akan menghambat seseorang memperoleh buah-buah roh.
Saya sangat mengharapkan mendapat penjelasan dalam hal praktis secara rohani mengatasi kelemahan2 tsb.

Terima kasih.

Salam
Felik S

Ingrid Listiati
Member

Shalom Felix, Kepahitan/ bitterness, kalau dilihat dari arti harafiahnya (klik di sini) mengacu kepada: perasaan yang tajam, tidak mengenakkan, menyakitkan, kesulitan untuk menerima atau menanggung [sesuatu], perasaan yang ditimbulkan oleh pertentangan, akibat dari kesedihan ataupun kekecewaan atau ditandai dengan perasaan tidak suka/ sinis. Maka memang kalau dilihat dari definisinya saja, kepahitan ini lebih mengarah kepada perasaan. Umumnya perasaan kepahitan ini berkaitan dengan kesedihan, kebencian, kekecewaan, pertentangan dengan sesama atau dengan suatu keadaan. Maka akar dari kepahitan itu tentunya tergantung dari keadaan yang dialami oleh orang yang bersangkutan. Jika kepahitannya itu disebabkan karena kebencian, umumnya ini ada masalah kesulitan untuk mengampuni.… Read more »

Yasinta
Guest
Yasinta

Kalau pohon keluarga memang tidak ada, bagaimana menjelaskan fenomena “ilmu gaib” yang diturunkan oleh nenek moyang, seperti dapat menyembuhkan orang, melihat mahluk2 gaib? Hal ini terjadi dengan beberapa keponakan saya yang masih kecil-kecil (antara 5-10 tahun) yang mempunyai kemampuan/karunia seperti itu karena nenek buyut mereka (non Kristen/Katolik) juga dulu diketahui juga mempunyai karunia penyembuhan dan hal-hal gaib lainnya. Padahal Kakek/Nenek, kedua orang tua dan mereka sendiri telah dibaptis secara Katolik, bahkan dari orang tua sudah dibaptis sejak bayi. “Karunia” ini dirasakan malah “mengganggu” oleh orang tua mereka karena anaknya yang 7 tahun suka bertindak/berbicara seperti orang dewasa/tua. Ke mana/bagaimana mencari… Read more »

Yohanes Dwi Harsanto Pr
Guest
Yohanes Dwi Harsanto Pr

Salam Yasinta, Secara genealogi, kita memang mewarisi sifat biologis dari orang tua dan kakek-nenek kita dari ayah dan ibu. Itulah pohon keluarga yang dipahami secara ilmu pengetahuan yang valid. Namun “pohon keluarga” dalam arti kesialan, kutuk dan sihir yang menurun pada anak-cucu sudah dipatahkan oleh pembaptisan. Walaupun sudah dipatahkan, akibatnya masih bisa bisa dirasakan oleh anak-cucu. Contoh, seorang yang merampok dan membunuh, akan membuat anak dan bakan cucunya menanggung rasa minder, kekecewaan, luka batin karena ber-ayah dan ber-kakek seorang  perampok dan pembunuh. Akibat ini pun bisa disembuhkan dengan upaya-upaya penyembuhan luka batin.   Adapun contoh yang Anda paparkan, kemungkinan merupakan gejala indigo… Read more »

Vian
Guest

Kalau begitu Doa Pohon Keluarga seharusnya memang dilarang ya Romo, namun saya pernah membaca Buku Doa yang di dalamnya berisi berbagai doa yang salah satunya adalah “Doa Pohon Keluarga”, dan buku tersebut sudah terdapat Nihil obstaat dan imprimatur. Bagaimana ini Romo? Nuwun

RD. Yohanes Dwi Harsanto
Guest
RD. Yohanes Dwi Harsanto

Salam Vian,

Apakah boleh merepotkan sedikit, agar mengirimkan teksnya kepada kami? Kami tidak bisa menilai lebih lanjut sebelum membacanya.

Salam
RD. Yohanes Dwi Harsanto

elma
Guest
elma

dosa asal yg dturunkan turun temurun dr adam dan hawa it apakah bkn dosa nenek m0yang? Bknkah berarti bs jg dosa nenek m0yang kita menurun ke kita?
Tp saya yakin dosa it hlg saat baptis.

Ingrid Listiati
Member

Shalom Elma,

Dosa asal diturunkan dari manusia pertama, yaitu Adam dan Hawa, kepada seluruh umat manusia. Adam dan Hawa yang adalah sepasang manusia pertama, itu adalah “kakek dan nenek moyang” semua manusia.

Sakramen Baptis menghapuskan dosa asal ini dan dosa pribadi yang dilakukan orang tersebut sampai pada saat dibaptis.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

acong
Guest
acong

Maaf admin Katolisitas…Kalau memang ret-ret pohon keluarga dilarang tapi kok sekarang sudah diadakan lagi? Sy lihat sekarang sudah ad lagi jadwal ret-ret pohon keluarga atau ret-ret intergenerasi. Ap sudah ada revisi dalam penyelenggaraan ret2 dan ajarannya. Salam damai..

Yohanes Dwi Harsanto Pr
Guest
Yohanes Dwi Harsanto Pr

Salam Acong, Sebagai orang Katolik, kita hanya berpegang pada keputusan resmi pemimpin hierarki keuskupan. Jika keputusan itu tidak diubah atau dicabut, kita tetap berpegang padanya. Saya sendiri belum pernah mendengar ada pernyataan resmi baru dari hierarki Keuskupan Agung Jakarta mengenai “retret pohon keluarga”, sebagaimana ada dalam surat Vikep di bawah ini pada nomer KEDUA. Jika Anda di Keuskupan Agung Jakarta dan memiliki informasi mengenai ada “retret pohon keluarga” atau “intergenerasi” tersebut, hendaknya Anda beritahukan hal itu ke Keuskupan Agung Jakarta. Anda pun bisa mengingatkan mereka dengan kasih dengan landasan surat di bawah ini. Surat di bawah ini memang Surat Vikep… Read more »

Ignatius
Guest
Ignatius

Dear Team Katolisitas,

Memang postingan ini sudah cukup lama. Tapi saya masih bingung sehubungan dengan ikatan kutuk / dosa keturunan yang disinggung dalam pembahasan retret pohon keluarga ini.

Pada kesaksian Romo Santo di link http://www.katolisitas.org/eksorsisme-pengalaman-yang-tak-terlupakan/ , di situ diceritakan bahwa anak muda yang kerasukan tersebut mengalami kerasukan karena keterikatan dosa leluhur yaitu leluhurnya mempersembahkan dirinya kepada iblis.

Seharusnya kan anak muda tersebut sudah dibebaskan dari keterikatan tersebut oleh Sakramen Baptis yang sudah diterimanya ? Sehingga kerasukan tersebut seharusnya tidak mungkin dialaminya ?

Mohon pencerahannya ya..

Shallom

Yohanes Dwi Harsanto Pr
Guest
Yohanes Dwi Harsanto Pr

Salam Ignatius,

Saya yakin bahwa setan menipu. Anak itu dan orangtuanya, setelah saya ajak bicara, tidak tahu menahu akan perilaku leluhurnya di masa lalu. Anak itu dan ibunya sudah dibaptis. Namun benar bahwa setan dengan cara apapun ingin kita gentar dan mengaitkan segala hal secara tidak masuk akal dengan kuasa kegelapan saja, agar manusia hidup tanpa Allah sebagai yang Maha Mutlak yang ditaati.

Salam
Yohanes Dwi Harsanto Pr

Ignatius
Guest
Ignatius

Terima kasih atas tanggapannya Romo Santo.

Berarti dalam kondisi apapun, bahkan saat terdesak, setan juga tetap berusaha menipu kita ya supaya kita meninggalkan iman kita ?

Padahal kerasukan anak muda tersebut tidak ada hubungannya dengan dosa leluhurnya ?

Shallom

Yohanes Dwi Harsanto Pr
Guest
Yohanes Dwi Harsanto Pr

Salam Ignatius,

Benarlah, bahwa musuh kita bagaikan singa mencari mangsa, siap menerkam dan menyeret manusia yang terlena (lihat 1 Petrus 5: 8)

Salam
Yohanes Dwi Harsanto Pr

sumpana turwindu
Guest
sumpana turwindu

Shalom Pak Stef & Niklaus, Dalam kekalutan hidup keluarga, kami ikuti bimbingan pribadi dan retret awal, memang ada rencana akan ikut retret pohon keluarga entah kapan. Ada beberapa alasan kami ingin ikut retret pohon keluarga : – selama kuarang lebih 28 tahun kami hidup bersama orang tua kami, sebelum kami berkeluarga. – disadari atau tidak disadari pola pikir dan perbuatan kami , tidak jauh dari orang tua kami. – kegagalan orang tua kami dalam membangun keluarga yang damai dan langgeng, – kesukaan mengambil jalan pintas, sehingga menimbulkan musibah- musibah yang beruntun. dengan alasan tersebut, kami berharap Doa-doa dari suster dan… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Sumpana, Seperti telah disampaikan di atas, dalam Surat VIKEP KAJ tentang Pembaharuan Karismatik Katolik KAJ, disebutkan bahwa PKK KAJ tidak diperkenankan untuk mendukung retret ‘Pohon Keluarga’, karena dinilai cenderung menyempitkan paham keluarga dengan determinisme psikologis. Seolah- olah kalau ada sesuatu yang buruk terjadi dalam keluarga, cenderung dihubungkan dengan ‘warisan’ yang diturunkan orang tua. Harus diakui memang orang tua memberikan pengaruh besar pada pertumbuhan anak- anaknya, namun tidak dapat diasumsikan bahwa segala kesalahan kita bersumber dari kesalahan orang tua. Pandangan ini yang nampaknya perlu ditinjau kembali, karena tidak sesuai dengan ajaran firman Tuhan yang mengatakan: “Tetapi kamu berkata: Mengapa anak… Read more »

sumpana turwindu
Guest
sumpana turwindu

shalom
doa melawan kuasa kegelapan, yang dimaksut apa 10 macam doa tersebut harus dibaca sesuai urutannya, makasih

Ingrid Listiati
Member

Shalom Sumpana,

Doa untuk melawan kuasa kegelapan tersebut merupakan terjemahan doa De Exorcismis et supplicationibus quibusdam, Vatican, 1999, yang urutannya memang demikian no. 1-6 ditujukan kepada Allah, no.7 secara khusus kepada Kristus, no. 8 mohon dukungan doa kepada Bunda Maria, no.9 mohon dukungan kepada Malaikat Mikael dan no.10 doa litani mohon dukungan doa dari para orang kudus.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Linda Miriam
Guest
Linda Miriam

Salam kasih buat tim Katolisitas,

Saya punya pertanyaan seperti berikut:

Bagaimana sikap atau pandangan Gereja terhadap Inner Healing kusus dalam Luka Batin seperti yang di lakukan dalam persekutuan doa Karismatik? Mohon penjelasan daripada tim

Sekian terima kasih,

Lynn Miriam

Ingrid Listiati
Member

Shalom Linda Miriam, Pada dasarnya, retret penyembuhan luka batin (inner healing) tidak bertentangan dengan ajaran Gereja Katolik. Karena kita manusia terdiri dari jiwa dan tubuh; dan kalau tubuh/ jasmani kita bisa sakit, maka demikianlah juga dengan jiwa/ kerohanian kita; sehingga kita memerlukan juga rahmat Allah untuk menyembuhkan rohani kita. Retret luka batin adalah retret yang diadakan dengan tujuan menyembuhkan segala luka/ kekecewaan batin. Umumnya peserta retret diajak untuk mengingat kembali pengalaman- pengalaman masa lalu yang menyakitkan, entah karena dosa pribadi ataupun akibat dosa/ perlakuan negatif dari orang lain; dan selanjutnya diikuti oleh permohonan akan rahmat Allah untuk menyembuhkannya. Oleh karena… Read more »

B Siahaan
Guest
B Siahaan

Yth. Katolisitas, Bpk Stef dan Ibu Ingrid Semoga kasih karunia Allah senantiasa mentertai Bpk dan Ibu. Syukur pada Allah atas penjelasan ini, karena banyak saudara kita terjebak dengan Kutuk/Dosa Keluarga sehingga perlu retret pohon keluarga, yang menurut hemat saya diadopsi dari ajaran tetangga. Melihat para saudara kita yang menjadi anggota kelompok Karismatik Katolik, sampai saat ini masih banyak yang ikut karena masalah yang dihadapi sebagai pribadi dan atau keluarga. Juga, banyak yang belum paham tentang dogma/ajaran Gereja Katolik, sehingga sering meng”adopsi” ajaran gereja lain(contoh : odsa turunan, ekaristi katolik = perjamuan kudus ditetangga, dll), yang akhirnya mereka hanya berbeda pada… Read more »

PIH
Guest
PIH

pernyataan ttg pembalasan pd keturunan ke 3 dan ke 4 pada perikop (Kel 20:5),kemungkinan bukan di maksudkan pada Allah yang sungguh sungguh seolah beneran mau membalas dendam sampai pada anak cucu..karena bagaimanapun kita berpegangan pada prinsip bahwa Allah adalah Kasih. Namun bila kita coba telaah lebih mendalam,ada kemungkinan hal di atas untuk menunjukkan besaran kapasitas dosa yang di lakukan,karena bagaimanapun hukuman atas dosa seorang pembunuh berantai tentu takaran hukumannya lebih berat di banding dengan hukuman dosa pencuri sandal jepit misalnya,sehingga bila di katakan pembalasan sampai keturunan ke 3 dan ke 4,bisa jadi menunjukkan ‘kesalahan yang teramat besar’ dari dosa orang… Read more »

soenardi
Guest
soenardi

Yth. Bapak Stef, Dalam jawaban terhadap pertanyaan tentang pohon keluarga di atas, ditemukan kutipan berikut yang bagi sementara orang Katolik masih diperhitungkan dan antara lain merupakan landasan dari penyelenggaraan Retret Pohon Keluarga yang setidak-tidak di Keuskupan Jakarta “kalau tidak salah telah dilarang”. Dikutipkan juga ayat KS yang merupakan dasar/alasan penyelenggaraan retret PK itu yang antara lain berbunyi: “Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku”(Kel 20:5; Kel 34:6-7). Kendati landasan itu diambil dari KS ternyata (belakangan) dinyatakan “dilarang” (meskipun masih disertai reservasi “kalau tidak… Read more »

Simon
Guest
Simon

Shalom Pak Stef & Niklaus, Saya sangat setuju dengan pak Stef, karena kalau kakek/nenek moyang kita pernah mengadakan ikatan dengan setan lalu kita harus menanggungnya padahal kita sudah dibaptis pertanyaannya : – bukankah sangat tidak adil? mereka yang berbuat dan kita harus menanggungnya? – untuk apa pembaptisan itu kalau masih harus menanggung kutukan? masihkah kita meragukan Kebesaran dan Kemaha-Kuasaan Bapa, Putra dan Roh Kudus kita dibandingkan dengan si setan itu? Menurut saya kalau ternyata dalam kehidupan ini ada anak/cucu dari kakek/nenek moyang yang pernah punya ikatan dengan setan mengalami kehidupan yang tidak baik/sesat dst (kata orang kena kutukan) padahal orang… Read more »

Thomas
Guest
Thomas

Saya mau tanya mengenai penyembuhan pohon keluarga (Healing of the family tree). Apakah ini sudah sesuai dengan ajaran dan tradisi Gereja Katolik? Mohon penjelasannya.

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X