Mengapa kita mendoakan jiwa orang-orang yang sudah meninggal?

Ada pernyataan bahwa kita tidak usah berdoa untuk jiwa-jiwa yang sudah meninggal, karena itu menjadi urusan Tuhan sendiri dan doa kita tidak akan berguna bagi mereka. Benarkah demikian?  Gereja Katolik mengajarkan bahwa Tuhan berkuasa menentukan apakah seseorang yang meninggal itu masuk surga, neraka, atau jika belum siap masuk surga, dimurnikan terlebih dulu di Api Penyucian. Umat Kristen non-Katolik yang tidak mengakui adanya Api Penyucian, mungkin menganggap bahwa tidak ada gunanya mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal. Namun Gereja Katolik mengajarkan adanya masa pemurnian di Api Penyucian, silakan membaca dasar dari Kitab Suci dan pengajaran Bapa Gereja tentang hal ini, http://katolisitas.org/624/bersyukurlah-ada-api-penyucian, sehingga doa-doa dari kita yang masih hidup, dapat berguna bagi jiwa-jiwa mereka yang sedang dalam tahap pemurnian tersebut. Bahkan, dengan mendoakan jiwa-jiwa tersebut, kita mengamalkan kasih kepada mereka yang sangat membutuhkannya, dan perbuatan ini sangat berkenan bagi Tuhan (lih. 2 Mak 12:38-45).

Sebenarnya, prinsip dasar ajaran Gereja Katolik untuk mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal adalah adanya Persekutuan Orang Kudus yang tidak terputuskan oleh maut. Rasul Paulus menegaskan “Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” (Rm 8:38-39).

Kuasa kasih Kristus yang mengikat kita semua di dalam satu Tubuh-Nya itulah yang menjadikan adanya tiga status Gereja, yaitu 1) yang masih mengembara di dunia, 2) yang sudah jaya di surga dan 3) yang masih dimurnikan di Api Penyucian. Dengan prinsip bahwa kita sebagai sesama anggota Tubuh Kristus selayaknya saling tolong menolong dalam menanggung beban (Gal 6:2) di mana yang kuat menolong yang lemah (Rm 15:1), maka jika kita mengetahui (kemungkinan) adanya anggota keluarga kita yang masih dimurnikan di Api Penyucian, maka kita yang masih hidup dapat mendoakan mereka, secara khusus dengan mengajukan intensi Misa kudus (2 Mak 12:42-46).

Memang, umat Kristen non-Katolik tidak mengakui kitab Makabe ini dalam Kitab Suci mereka. Juga, bagi mereka, keselamatan hanya diperoleh melalui iman saja (sola fide), yang sering dimaknai terlepas dari perbuatan, dan hal mendoakan ini dianggap sebagai perbuatan yang tidak berpengaruh terhadap keselamatan. Sedangkan ajaran iman Katolik adalah kita diselamatkan melalui iman yang bekerja oleh perbuatan kasih (Gal 5:6), maka iman yang menyelamatkan ini tidak terpisah dari perbuatan kasih. Dengan memahami adanya perbedaan perspektif Katolik dan non- Katolik ini, kita dapat mengerti bahwa umat Kristen non- Katolik menolak ‘perbuatan’ mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal. Sedangkan Gereja Katolik mengajarkan bahwa perbuatan-perbuatan kasih yang didasari iman sangatlah berguna bagi keselamatan kita (baik yang didoakan maupuan yang mendoakan). Jika “kasih” di sini diartikan menghendaki hal yang baik terjadi pada orang lain, dan jika kita ketahui bahwa maut tidak memisahkan kita sebagai anggota Tubuh Kristus (lih. Rom 8:38-39), maka kesimpulannya, pasti berguna jika kita mendoakan demi keselamatan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal. Sebab perbuatan kasih yang menghendaki keselamatan bagi sesama, adalah ungkapan yang nyata dalam hal “bertolong-tolonglah dalam menanggung bebanmu” (Gal 6:2).

Jangan lupa bahwa yang kita bicarakan di sini adalah bahwa doa- doa yang dipanjatkan untuk mendoakan jiwa-jiwa orang-orang yang sedang dimurnikan dalam Api Penyucian, sehingga mereka sudah pasti masuk surga, hanya sedang menunggu selesainya saat pemurniannya. Dalam masa pemurnian ini mereka terbantu dengan doa-doa kita, seperti halnya pada saat kita kesusahan sewaktu hidup di dunia ini, kita terbantu dengan doa-doa umat beriman lainnya yang mendoakan kita. Sedangkan, untuk orang-orang yang meninggal dalam keadaan tidak bertobat, sehingga masuk ke neraka, memang kita tidak dapat mendoakan apapun untuk menyelamatkan mereka. Atau untuk orang -orang yang langsung masuk ke surga (walaupun mungkin tak banyak jumlahnya), maka doa-doa kita sesungguhnya tidak lagi diperlukan, sebab mereka sudah sampai di surga. Namun masalahnya, kita tidak pernah tahu, kondisi rohani orang-orang yang kita doakan. Pada mereka memang selalu ada tiga kemungkinan tersebut, sehingga, yang kita mohonkan dengan kerendahan dan ketulusan hati adalah belas kasihan Tuhan kepada jiwa-jiwa tersebut, agar Tuhan memberikan pengampunan, agar mereka dapat segera bergabung dengan para kudus Allah di Surga.

Pengajaran tentang Api Penyucian termasuk dalam ajaran iman De fide (Dogma):

The Communion of the Faithful on earth and the Saints in Heaven with Poor Souls in Purgatory:
The living Faithful can come to the assistance of the Souls in Purgatory by their intercessions (suffrages)
.” ((Dr. Ludwig Ott, Fundamentals of Catholic Dogma, Illinois, TAN Books ands Publishers, 1974, p.321))

Terjemahannya:

Persekutuan umat beriman di dunia dan Para Kudus di Surga dengan Jiwa-jiwa yang menderita di Api Penyucian:
Para beriman yang [masih] hidup dapat membantu jiwa-jiwa di Api Penyucian dengan doa-doa syafaat (doa silih).

Silih di sini diartikan tidak saja doa syafaat, tetapi juga Indulgensi, derma dan perbuatan baik lainnya, dan di atas semua itu adalah kurban Misa Kudus. Ini sesuai dengan yang diajarkan di Konsili Lyons yang kedua (1274) dan Florence (1439).

Jadi meskipun umat Kristen non-Katolik tidak mengakui kitab Makabe, namun sesungguhnya mereka secara obyektif tidak dapat mengelak bahwa tradisi mendoakan jiwa orang yang telah meninggal sudah ada di zaman Yahudi sebelum Kristus. Tradisi ini kemudian diteruskan oleh para rasul, seperti yang dilakukan oleh Rasul Paulus ketika mendoakan Onesiforus yang sudah meninggal, “Kiranya Tuhan menunjukkan rahmat-Nya kepadanya [Onesiorus] pada hari-Nya.” (2 Tim 1:18). Tradisi mendoakan jiwa orang yang sudah meninggalpun dicatat dalam tulisan para Bapa Gereja, seperti:

1) Tertullian, yang mengajarkan untuk menyelenggarakan Misa kudus untuk mendoakan mereka pada perayaan hari meninggalnya mereka setiap tahunnya. ((Tertullian, De Monogamia 10; De exhort cas II, lif. St. Cyprian, Ep 1, 2)).

2) St. Cyril dari Yerusalem dalam pengajarannya tentang Ekaristi memasukkan doa-doa untuk jiwa orang-orang yang sudah meninggal ((St. Cyprian, Cat., Myst., 5.9 et seq)).

3) Sedangkan St. Yohanes Krisostomus dan St Agustinus mengajarkan bahwa para beriman dapat mendoakan jiwa orang-orang yang meninggal dengan mengadakan derma. ((St. Yohanes Krisostomus, Phil; hom 3,4; St. Agustinus, Enchiridion 110; Sermo 172, 2, 2)).

Karena hal mendoakan jiwa-jiwa orang yang sudah meninggal telah diajarkan dalam Kitab Suci dan telah dilakukan oleh Gereja sejak awal mula, terutama dalam perayaan Ekaristi maka, Katekismus Gereja Katolik mengajarkan:

KGK 1032 Ajaran ini juga berdasarkan praktik doa untuk orang yang sudah meninggal tentangnya Kitab Suci sudah mengatakan: “Karena itu [Yudas Makabe] mengadakan kurban penyilihan untuk orang-orang mati, supaya mereka dibebaskan dari dosa-dosanya” (2 Mak 12:45). Sudah sejak zaman dahulu Gereja menghargai peringatan akan orang-orang mati dan membawakan doa dan terutama kurban Ekaristi Bdk. DS 856. untuk mereka, supaya mereka disucikan dan dapat memandang Allah dalam kebahagiaan. Gereja juga menganjurkan amal, indulgensi, dan karya penitensi demi orang-orang mati.
“Baiklah kita membantu mereka dan mengenangkan mereka. Kalau anak-anak Ayub saja telah disucikan oleh kurban yang dibawakan oleh bapanya Bdk. Ayb 1:5., bagaimana kita dapat meragukan bahwa persembahan kita membawa hiburan untuk orang-orang mati? Jangan kita bimbang untuk membantu orang-orang mati dan mempersembahkan doa untuk mereka” (Yohanes Krisostomus, hom. in 1 Cor 41,5).

KGK 1371 Kurban Ekaristi juga dipersembahkan untuk umat beriman yang mati di dalam Kristus, “yang belum disucikan seluruhnya” (Konsili Trente: DS 1743), supaya mereka dapat masuk ke dalam Kerajaan Kristus, Kerajaan terang dan damai:
“Kuburkanlah badan ini di mana saja ia berada: kamu tidak perlu peduli dengannya. Hanya satu yang saya minta kepada kamu: Di mana pun kamu berada, kenangkan saya pada altar Tuhan” (Santa Monika sebelum wafatnya, kepada santo Augustinus dan saudaranya: Agustinus, conf. 9,11,27).
“Lalu kita berdoa [dalam anaforal untuk Paus dan Uskup yang telah meninggal, dan untuk semua orang yang telah meninggal pada umumnya. Karena kita percaya bahwa jiwa-jiwa yang didoakan dalam kurban yang kudus dan agung ini, akan mendapat keuntungan yang besar darinya… Kita menyampaikan kepada Allah doa-doa kita untuk orang-orang yang telah meninggal, walaupun mereka adalah orang-orang berdosa… Kita mengurbankan Kristus yang dikurbankan untuk dosa kita. Olehnya kita mendamaikan Allah yang penuh kasih sayang kepada manusia dengan mereka dan dengan kita” (Sirilus dari Yerusalem, catech. myst. 5,9,10).

KGK 1414 Sebagai kurban, Ekaristi itu dipersembahkan juga untuk pengampunan dosa orang-orang hidup dan mati dan untuk memperoleh karunia rohani dan jasmani dari Tuhan.

Maka memang, mendoakan jiwa orang-orang yang sudah meninggal bagi orang Katolik merupakan salah satu perbuatan kasih yang bisa kita lakukan, terutama kepada orang-orang yang kita kasihi yang telah mendahului kita. Ini adalah salah satu dogma yang semestinya kita jalankan, sebagai orang Katolik. Tentu saja, kita tidak bisa memaksakan hal ini kepada mereka yang tidak percaya. Namun bagi kita yang percaya, betapa indahnya pengajaran ini! Kita semua disatukan oleh kasih Kristus: kita yang masih hidup dapat mendoakan jiwa-jiwa yang di Api Penyucian, dan jika kelak mereka sampai di surga, merekalah yang mendoakan kita agar juga sampai ke surga. Doa mereka tentu saja tidak melangkahi Perantaraan Kristus, sebab yang mengizinkan mereka mendoakan kita juga adalah Kristus, sebab di atas semuanya, Kristuslah yang paling menginginkan agar kita selamat dan masuk ke surga. Jadi doa para kudus saling mendukung dalam karya keselamatan Allah bagi manusia. Kita tergabung dalam satu persekutuan orang-orang kudus, karena kita semua adalah anggota Tubuh Kristus yang diikat oleh kasih persaudaraan yang tak terputuskan oleh maut, sebab Kristus Sang Kepala, telah mengalahkan maut itu bagi keselamatan kita.

183
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
54 Comment threads
129 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
75 Comment authors
febuhartonoexodussuluRomo Bernardus Boli Ujan, SVD Recent comment authors
febu
Member
febu

Syalom,
Kutipan di atas: “Kiranya Tuhan menunjukkan rahmat-Ny kepadanya [Onesiorus] pada hari-Nya.” (2 Tim 1:18). Mohon penjelasan apakah “pada hariNya” menunjukkan hari meninggalnya Onesiorus?

Terima kasih

[Dari Katolisitas: “Pada hari-Nya” mengacu kepada hari Penghakiman, yang dapat diartikan sebagai hari kematian, maupun Penghakiman Terakhir. Silakan membaca selanjutnya di artikel ini, silakan klik.]

exodus
Member
exodus

dalam artikel di atas dikatakan: doa- doa yang dipanjatkan untuk mendoakan jiwa-jiwa orang-orang yang sedang dimurnikan dalam Api Penyucian, sehingga mereka sudah pasti masuk surga, hanya sedang menunggu selesainya saat pemurniannya.

apakah itu berarti masing2 jiwa dalam Api penyucian memiliki waktu yang berbeda dalam selesainya pemurnian? atau secara bersamaan?

dari artikel di atas saya mendapat pengertian bahwa doa tsb bukan ditekankan pada masalah mendoakannya tapi pada perbuatan kasih kita yang pada akhirnya membantu kita untuk selamat juga.. karena jiwa2 dalam Api Penyucian sudah pasti masuk surga bukan? apakah kesimpulan saya ini sudah benar?

Stefanus Tay

Shalom Exodus,

Lamanya waktu seseorang berada di dalam Api Penyucian adalah berbeda antara satu dengan yang lain, karena proses penyucian jiwa antara satu orang dengan yang lain juga berbeda-beda. Hanya Tuhan saja yang tahu apakah jiwa seseorang telah murni dan sempurna dalam kasih, sehingga dapat menghadap Allah muka dengan muka dalam Kerajaan Allah.

Memang doa kita dapat membantu, karena memang tidak ada doa yang sia-sia, apalagi kalau doa tersebut mengalir dari kasih yang dalam. Berdoa untuk jiwa-jiwa di Api Penyucian, juga merupakan ungkapan kasih kita kepada sesama kita. Semoga dapat membantu.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

exodus
Member
exodus

terima kasih jawabannya pak Stef, kalau berbeda2 adalah lebih masuk akal bila doa2 kita berguna untuk orang2 yang ada dalam Api Penyucian

exodus
Member
exodus

Apakah doa arwah juga diajarkan oleh Yesus? karena menurut teman saya yang protestan tidak ada perintah Yesus ttg doa arwah itu pula salah satu mengapa protestan tidak menerima kitab deuterokanonika yang di terima oleh Gereja Katolik, karena menurut dia ke 66 kitab itu semuanya menekankan ttg Yesus Kristus

Ingrid Listiati
Member

Shalom Exodus, Fakta bahwa teks Kitab PL Septuaginta adalah kitab yang lebih banyak dikutip dalam kitab Perjanjian Baru, yaitu 340 kali (90%) jika dibandingkan dengan PL Ibrani yang hanya 33 kali (10%), maka kita mengetahui bahwa di zaman Yesus, kemungkinan besar Kitab Suci yang dipergunakan oleh Yesus dan para Rasul-Nya adalah Kitab Septuaginta, yaitu Perjanjian Lama yang ditulis dalam bahasa Yunani. Nah, dalam Kitab-kitab ini sudah ada ajaran untuk mendoakan arwah yang sudah meninggal, yang secara eksplisit tertulis dalam kitab 2 Makabe 12:38-45. Nah, maka walaupun Yesus tidak mengajarkan secara eksplisit tentang doa arwah, namun Ia tidak melarangnya. Rasul Yohanes… Read more »

exodus
Member
exodus

terima kasih bu Ingrid untuk penjelasannya, mengenai link2 yang ibu berikan saya sudah baca sebelumnya hanya pertanyaan itu saya ajukan disini karena teman saya bersikeras bahwa hal itu tidak di ajarkan oleh Yesus, barangkali mungkin ada tambahan lain yg bisa saya berikan kepada dia sebagai jawaban :)

[Dari Katolisitas: Apakah jawaban saya di link ini, silakan klik, belum dapat menjadi tambahan masukan bagi Anda?]

sulu
Member
sulu

shalom Katolisitas, saya pribadi berterima kasih dengan kesempatan membaca ulasan yg kemudian didiskusikan. banyak hal yg saya dapatkan menambah pengetahuan saya dlm merenungkan akan maksud firman Tuhan yang tertulis dalam alkitab. saya kagum dengan kekayaan kaum katolik akan sumber pengajaran iman yang begitu lengkap yang begitu sulit saya temukan dikalangan saya (non katolik). dari bahasan diatas saya memiliki kesimpulan sederhana sebagai berikut : 1. bahwa jiwa seseorang tidak akan mati (jiwa tidak akan binasa). 2. yang kita kenal dengan kematian didunia fana adalah kematian tubuh. 3. jiwa manusia yang sdh terpisah krn kematian memiliki 3 kemungkinan besar yg pertama lsg… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Sulu, Terima kasih atas pertanyaan Anda. Memang setelah meninggal, maka jiwa seseorang akan dihakimi (lih. Ibr 9:27). Di dalam Gereja Katolik, hal ini disebut Pengadilan Khusus, di mana seseorang yang telah meninggal langsung diadili secara pribadi, dengan kemungkinan: neraka, Api Penyucian dan Surga. Dalam 1Kor 51-56, maka kita melihat adanya penjelasan tentang apa yang terjadi ketika kematian dikalahkan, yaitu dalam kebangkitan orang mati, yang terjadi pada akhir zaman ketika nafiri yang terakhir dibunyikan. Ketika semua tubuh telah dibangkitkan dan kemudian bersatu dengan jiwa masing-masing, maka akan terjadi Pengadilan Umum. Penjelasan tentang kebangkitan badan secara detil dapat dilihat di sini… Read more »

Mathius
Guest
Mathius

Terima kasih utk Tim Katolisitas terutama utk pak Stef dan Bu Ingrid yang tlh dgn setia melayani pertanyaan2 yang masuk, sya ingin bertanya mengenai doa orang2 yang telah berada dlm kerahiman Allah (org kudus). Dimanakah sya bisa mendapatkan ayat2 yang menjelaskan bahwa mereka senantiasa mendoakan kita yang msh mengembara di dunia ini. Terima kasih sblmnya. Tuhan memberkati pak Stef dan ibu Ingrid beserta Tim

[Dari Katolisitas: Silakan membaca artikel ini terlebih dahulu, silakan klik]

Andreas Hanafia
Guest
Andreas Hanafia

Siapa saja yang boleh memimpin Ibadat Sabda Peringatan Arwah ?
[dari Katolisitas: No hp dan Pin BB Anda kami catat, namun tidak kami tayangkan, terima kasih]

Romo Bernardus Boli Ujan, SVD
Guest
Romo Bernardus Boli Ujan, SVD

Salam Andreas,

Siapa saja boleh memimpin Ibadat Sabda Peringatan arwah, asal sungguh mempersiapkan diri.

Doa dan Gbu,
Rm Boli

ompapang
Guest
ompapang

Salam kasih dalam Kristus, > Namun masalahnya, kita tidak pernah tahu, kondisi rohani orang-orang yang kita doakan. Pada mereka memang selalu ada tiga kemungkinan tersebut, sehingga, yang kita mohonkan dengan kerendahan dan ketulusan hati adalah belas kasihan Tuhan kepada jiwa-jiwa tersebut, agar Tuhan memberikan pengampunan, agar mereka dapat segera bergabung dengan para kudus Allah di Surga. # Banyak sekali ungkapan kata ‘TIDAK PERNAH TAHU’ saya temukan dalam diskusi di Blok Katolisitas ini. Salah satu contohnya adalah kutipan diatas. ‘TIDAK PERNAH TAHU’adalah ungkapan rational atau nalar, bukan ungkapan keimanan. Padahal ada yang mengatakan nalar adalah musuh iman. Kalau kita mengaku sebagai… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Ompapang, Di situs ini kami tidak dapat menyampaikan pandangan pribadi ataupun kehendak pribadi kami. Yang kami sampaikan di sini adalah ajaran iman Katolik, sebagaimana disampaikan oleh tiga pilar kebenaran, yaitu Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja Katolik. Maka topik-topik yang jelas tercakup dalam ketiga pilar tersebut, dapat kami jabarkan dengan pasti; sedangkan topik-topik yang tidak tertulis secara eksplisit, tidak dapat kami jabarkan dengan tingkat kepastian yang sama dengan apa yang tertulis secara eksplisit. Untuk topik-topik tersebut, yang dapat kami sampaikan adalah prinsipnya yang diajarkan dalam ketiga pilar itu, dan kemudian menarik kesimpulan berdasarkan prinsip itu. Namun adakalanya, memang… Read more »

Theresia
Guest
Theresia

Salam, Tim katolisitas,

Saya ingin bertanya,
pada saat ziarah ketika peringatan hari arwah, doa apa yang harus diucapkan atau dilakukan, selain doa Rosario, apakah cukup dengan Rosario atau bisa ditambah, seperti doa Kerahiman Ilahi? Apakah dalam gereja ada tata cara doa ketika ziarah dan ketentuan untuk perlengkapan seperti bunga atau lilin ?

Dan untuk melakukan ziarah, apakah dalam gereja diperbolehkan melakukannya setiap waktu sesuai masing2 pribadi selain hari arwah atau hanya pada saat peringatan hari arwah?

Terimakasih,

Theresia

Ingrid Listiati
Member

Shalom Theresia, Cara yang terbaik untuk medoakan arwah adalah: 1) Memasukkan intensi Misa untuk keselamatan jiwa orang yang Anda doakan, khususnya pada bulan November, terutama pada hari arwah tanggal 2 November. 2) Mengunjungi kuburnya antara tanggal 1 s/d 8 November, dan mendoakan di sana dengan sungguh-sungguh. Doanya tidak diharuskan doa apa, tetapi jika untuk persyaratan Indulgensi adalah mendoakan intensi Bapa Uskup pada bulan itu, yang minimal dipenuhi dengan doa satu kali Bapa Kami dan satu kali Salam Maria, atau doa lain untuk mendoakan Bapa Paus. Selanjutnya untuk ketentuan untuk memperoleh Indulgensi penuh, silakan klik di sini. 3) Menerima Komuni kudus… Read more »

Theresia
Guest
Theresia

Terimakasih Ibu Inggrid atas jawabannya yang sangat membantu. :)

Salam,
Theresia

Caroline
Guest
Caroline

Dear ibu Inggrid Kedua orang tua saya dikremasi dan abunya dilarung ke laut sedang untuk indulgensi harus ke kubur, selama ini kami tidak pernah mengunjungi tempat dilarung karena ke dua orangtua kami mengatakan dust to dust yang penting mendoakan arwah dari mana saja bisa dilakukan karena kedua orang tua kami tidak ingin menyusahkan keturunannya sehingga menginginkan dikremasi dan dilarung. Mohon info Salam Caroline [Dari Katolisitas: Silakan menghubungi Romo dan komunitas gerejawi di paroki Anda, sebab jika banyak umat yang mengalami seperti Anda, dapat diadakan Misa untuk mendoakan arwah di tepi pantai dekat paroki yang bersangkutan. Hal tersebut beberapa kali pernah… Read more »

Rina
Guest
Rina

Selamat siang Ibu Inggrid & Bp. Stefanus,

Ibu saya baru saja meninggal dunia. Saya ingin mendoakan arwahnya. Saya belum paham mengenai doa 7 hari, 40 hari 100 hari. Mohon penjelasannya, sesuai ajaran Katolik.
Terima kasih.

Ingrid Listiati
Member

Shalom Rina, Kami turut berduka cita atas meninggalnya ibu Anda. Semoga kerahiman Allah menyambutnya, dan Tuhan memberi penghiburan dan kekuatan iman kepada segenap keluarga yang ditinggalkannya. Sepanjang pengetahuan kami, Gereja tidak mengharuskan tentang mendoakan jiwa orang-orang yang meninggal pada hari ke 7 atau ke-40 ataupun ke-100. Yang diajarkan secara eksplisit adalah agar kita mendoakan jiwa-jiwa orang beriman yang telah meninggal dunia pada sepanjang bulan November, terutama dari tanggal 1 s/d 8 November. Pada masa sembilan hari itu, Gereja mendoakan para jiwa orang beriman, dan memasukkannya dalam intensi Misa Kudus. Gereja memberikan Indulgensi penuh dan Indulgensi sebagian, bagi umat yang mendoakan… Read more »

Rina
Guest
Rina

Terima kasih banyak atas doanya untuk ibu saya & penjelasannya.

Salam Damai,
Rina

hartono
Member
hartono

Dear Bu Ingrid Ini mumpung waktunya mendekati bulan Nopember, saya mau bertanya 1. Dalam mendoakan orang yang sudah meninggal, dalam penjelasan Ibu masih agak rancu, sebenarnya doanya ditujukan untuk memohonkan ampun atas dosa-dosa yang telah dilakukan atau memohonkan indulgensi (dua hal yang berbeda kan Bu?). 2. Dilingkungan kami, kebanyakan orang memang menjadi latah, setiap orang katolik yang meninggal oleh keluarganya selalu didoakan (3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari dst, sampai 1000 hari ya), termasuk balita atau bahkan anak yang sudah meninggal dalam kandungan ketika dilahirkan, naka-anak inikan sebenarnyakan tidak pernah berbuat dosa sehingga menurut pendapat saya, mereka tidak… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Hartono, Pertama-tama, perlu diketahui terlebih dahulu, pengertian tentang keadaan jiwa-jiwa yang seperti apakah yang dapat kita doakan. Jika hal ini telah dipahami, maka tidak ada yang rancu. Gereja Katolik mengajarkan bahwa seseorang yang meninggal dalam keadaan sempurna dalam kasih, maka akan segera masuk Surga setelah kematian, dan dengan demikian tidak memerlukan doa-doa kita, sebab jiwanya telah bersatu dengan Tuhan. Sebaliknya, jiwa-jiwa yang meninggal dalam keadaan menolak Allah -yaitu berdosa berat dan tidak bertobat- telah memisahkan diri dari Allah, akan masuk neraka dan dalam keadaan ini, tidak dapat didoakan untuk beralih ke Surga. Sedangkan jiwa-jiwa lainnya, yang meninggal dalam keadaan… Read more »

ignas royadi
Guest
ignas royadi

malam bu Inggrit dan Bp.Stef
sy mau tanya:
apakah boleh kita mendoakan atau bikin itensi di dalam misa utk keluarga kita yg sdh meninggal TETAPI waktu meninggal BELUM Katolik???

maafkan jika sdh ada di dlm artikel mengenai mendoakan org meninggal.. namun sy tidak atau belum membaca nya

Terima kasih atas penjelasan nya

salam kasih

ignas

Ingrid Listiati
Member

Shalom Ignas, Nampaknya, yang perlu dipegang prinsipnya adalah kita mendoakan jiwa-jiwa orang-orang yang sudah meninggal agar beroleh kemurahan Tuhan sehingga mereka dapat digabungkan dengan jiwa-jiwa para kudus dalam Kerajaan Surga. Maka, jiwa-jiwa yang dapat didoakan adalah mereka yang sedang dimurnikan dalam Api Penyucian. Jiwa-jiwa yang sudah berada di neraka tak dapat lagi didoakan, sebab mereka tak akan mungkin beralih ke surga, sedangkan jiwa-jiwa yang sudah ada di surga, sesungguhnya tidak memerlukan doa-doa kita lagi sebab mereka telah bersatu dengan Tuhan. Nah, yang menjadi persoalan adalah kita tidak dapat mengetahui apakah keadaan leluhur kita, setelah wafatnya. Tentu kita memohon dan berharap… Read more »

A rahmad sulfhy
Guest
A rahmad sulfhy

Dalam ajaran islam memang ada yg menganjurkan untuk mendoakan orang yg sudah meningal dan tidak mendoakan orang yg sdh meninggal seperti islam yg menganut NU(Nahdatul Ulama)itu mewajibkan pengikutnya untuk mendoakan umat muslim yg sdh meninggal sedangkan islam yg menganut ajaran MD (Muhamad Diyah) menyuruh umatnya untk tidak blh mendoakan orang yg sdh meniggal.
Dalam ajaran islam yg saya anut kelak pada hari akhir/kiamat nabi ISA as. akan di bangkitkan kmbali ke muka bumi ini untk mebimbing semua umat

Stefanus Tay

Shalom A Rahmad,

Terima kasih atas komentar Anda. Dalam ajaran Gereja Katolik, Kristus yang adalah sungguh Allah dan sungguh manusia akan datang lagi ke dunia dan memerintah untuk selamanya. Namun pemerintahan-Nya bukan terjadi di bumi namun bumi yang baru atau Sorga, karena kedatangan-Nya adalah merupakan hari kiamat. Keterangan tentang hal ini dapat dibaca di artikel ini – silakan klik. Semoga dapat membantu.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

pet
Guest
pet

Lihat Ibrani 10:26-27

10:26 Sebab jika kita sengaja berbuat dosa , sesudah memperoleh pengetahuan tentang kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu. 10:27 Tetapi yang ada ialah kematian yang mengerikan akan penghakiman dan api yang dahsyat yang akan menghanguskan semua orang durhaka.

Artinya dosa tetap dosa, setelah kematian tidak ada lagi cara untuk menghapus dosa. artinya kalau kita sdh tahu kebenaran dan tetap melakukan dosa, ya api neraka akan menghanguskan kita. Makanya kita hanya minta pimpinan Roh Kudus agar paham dan mengerti akan kebenaran Firman Tuhan…Shalom dan Tuhan memberkati

Stefanus Tay

Shalom Pet,

Saya tidak tahu apakah Anda setuju atau tidak setuju bahwa kita dapat mendoakan orang-orang yang sudah meninggal dari komentar Anda. Apakah kalau dosa tetap dosa, maka Anda tidak setuju adanya dosa ringan dan dosa berat dan dosa yang mendatangkan maut dan dosa yang tidak mendatangkan maut? Sebagai catatan pada waktu umat Katolik mendoakan jiwa-jiwa yang meninggal, maka yang dapat didoakan adalah jiwa-jiwa di Api Penyucian. Jiwa yang di neraka tidak dapat diubah keadaannya dengan doa-doa kita.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Stefanus Tay

Shalom Pet,

Saya tidak tahu apakah Anda setuju atau tidak setuju bahwa kita dapat mendoakan orang-orang yang sudah meninggal dari komentar Anda. Apakah kalau dosa tetap dosa, maka Anda tidak setuju adanya dosa ringan dan dosa berat dan dosa yang mendatangkan maut dan dosa yang tidak mendatangkan maut? Sebagai catatan pada waktu umat Katolik mendoakan jiwa-jiwa yang meninggal, maka yang dapat didoakan adalah jiwa-jiwa di Api Penyucian. Jiwa yang di neraka tidak dapat diubah keadaannya dengan doa-doa kita.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

ignas royadi
Guest
ignas royadi

bu Inggrit dan Bp.Stef
sy mau tanya:
apakah boleh kita mendoakan atau bikin itensi di dalam misa utk keluarga kita yg sdh meninggal TETAPI waktu meninggal BELUM Katolik???

maafkan jika sdh ada di dlm artikel mengenai mendoakan org meninggal.. namun sy tidak atau belum membaca nya

Terima kasih atas penjelasan nya

salam kasih

ignas

[dari katolisitas: Tidak menjadi masalah untuk mendoakan anggota keluarga yang belum Katolik, karena kita tidak tahu jiwa anggota keluarga kita ada di mana. Dan kita hanya mengharapkan belas kasih Tuhan. Dalam setiap Misa, Gereja senantiasa mendoakan jiwa-jiwa yang masih berada di dalam Api Penyucian.]

Oktavianus
Guest
Oktavianus

Shalowm Ignas Royadi, lakukan saja, toh anda seorang Katolik, tentu berdoa dgn cara Katolik & melalui Gereja Katolik, jd tidak ada salahnya membuat intensi/wujud utk keluarga yg sdh meninggal meskipun ybs bukan Katolik. Di dlm ekaristi kita berdoa jg utk para pemimpin negara yg bukan Katolik kan?

Tetap Semangat Demi Kemuliaan Allah!

John
Guest
John

Tidak ada dasar kebenarannya mendoakan orang mati, sekalipun alasannya untuk kasih dan keselamatan. Sekalipun kita berdoa untuk orang mati, doa itu tidak akan mengubah kondisi mereka yang dalam keadaan roh, sebab alam roh adalah kekal. Dan tidak ada satupun dalam Alkitab yang memerintahkan untuk melakukan praktek demikian (Api penyucian / doa orang mati / babtisan bagi orang mati dll). Paulus pun pernah mengkritik sidang Korintus yang gemar praktek ini namun malah tidak mempercayai lagi tentang hari kebangkitan. Ayat inipun tidak memiliki nilai perintah untuk dibabtis bagi orang mati. Tentang si kaya dan lazarus sudah jelas tempat orang mati adalah di… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom John, 1. Mendoakan orang mati? Nampaknya ada salah paham di sini. Sebab Kristus sendiri mengajarkan kepada kita bahwa orang-orang yang meninggal dunia di dalam Kristus itu bukan orang-orang yang mati, melainkan orang-orang yang hidup. Kristus bersabda, “Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati…. ” (Yoh 11:25) Maka jika umat Katolik mendoakan orang percaya yang meninggal, itu adalah karena kami mengimani sabda Tuhan ini, yaitu bahwa jiwa mereka tetaplah hidup, walaupun badannya sudah mati. Nah, jiwa-jiwa orang beriman yang meninggal dalam keadaan kudus/ sempurna, dapat bersatu dan memandang Allah dalam Kerajaan Surga (lih.… Read more »

yusup sumarno
Guest
yusup sumarno

dear katolisitas, katolisitas menulis: “Yesus Kristus sendirilah mendirikan ketujuh sakramen. Sakramen yang dimaksud di sini adalah tanda dan sarana di mana rahmat yang menguduskan dan menyelamatkan disampaikan Allah kepada umat-Nya. Sakramen telah ada sejak awal mula Gereja, dan Gereja Katolik melestarikannya, sebab inilah yang diajarkan oleh para Rasul dalam Kitab Suci, agar yang dilakukan oleh jemaat bukan hanya ajaran yang tertulis dalam Kitab Suci, tetapi juga ajaran-ajaran para rasul yang disampaikan secara lisan (lih. 2 Tes 2:15)”. saya percaya pernyataan di atas. saya hanya ingin tahu di manakah itu bisa saya temukan. (sakramen imamat ada di perikop mana? sakramen minyak… Read more »

yusup sumarno
Guest
yusup sumarno

Dear katolisitas,

banyak terima kasih. saya belum baca semua link tapi dari beberapa yang sudah saya baca sudah yakin bahwa memang semua sakramen didirikan oleh Yesus sendiri. sangat membantu dan mencerahkan

Agung
Guest
Agung

Anda mengatakan: Sekalipun berdasarkan kasih, untuk apa kita repot2 melakukan hal itu bila ALlah sendiri tidak memerintahkan ?

Jawaban Anda sepertinya memisahkan antara Allah dengan kasih. Apakah ada kasih yang bukan berasal dari Allah?

Bukankah tidak ada juga yang memerintahkan Yesus untuk turun ke dunia lalu berkorban menebus dosa manusia?

Manusia memang tidak bisa menyelamatkan manusia lainnya tetapi apakah Anda tahu kalau Allah menjadikan manusia sebagai rekanNya untuk menyelamatkan manusia lainnya?

[Dari Katolisitas: mungkin ayat yang dimaksud di sini adalah 1 Kor 3:9]

Ioannes
Guest
Ioannes

Salam, John Saya setuju dengan John bahwa kita harus “melakukan semua yang diperintahkan Allah dengan tekun dan setia.” Oleh sebab itu, Gereja mendoakan jiwa-jiwa yang berada dalam Api Penyucian karena itulah yang diajarkan oleh Yesus melalui Kitab Suci dan ajaran Para Rasul. Berbagai kutipan yang membuktikan bahwa Api Penyucian adalah ajaran yang telah ada sedari Gereja Perdana banya bertebaran dalam situs ini. Bila anda belum puas, anda bisa mencari cetakan buku tulisan Bapa Gereja atau karya yang merangkum tulisan beberapa Bapa-bapa gereja tersebut. Tulisan mereka tentu menjadi bukti apa yang diajarkan Gereja di zaman tersebut. Mungkin yang cukup menarik adalah… Read more »

Melo
Guest
Melo

Shalom..yang harus diralat pada artikel ini adalah : protestan memang didasari iman, namun tentu juga dengan perbuatan. Hanya saja, apa itu perbuatannya, rasional atau tidak, juga kami pikirkan. Termasuk mendoakan orang yang meninggal. Iman tanpa perbuata kosong.

[dari katolisitas: Apakah Anda ingin menyatakan bahwa berdoa untuk jiwa-jiwa di Api Penyucian adalah perbuatan tidak rasional? Kalau maksud Anda demikian, dapatkah Anda memberikan alasannya?]

Agung
Guest
Agung

Berdoa untuk orang yang meninggal itu rasional jika Anda percaya bahwa yang mati hanya badannya, tidak termasuk jiwanya.

Kecuali jika Anda menganggap mereka yang telah meninggal itu sudah benar-benar musnah tubuh dan jiwanya, maka memang percuma kita mendoakannya.

Jika kita mendoakan seorang teman yang badannya sakit supaya ia sembuh, tidak ada alasan untuk tidak mendoakan jiwa seseorang yang badannya sudah meninggal supaya jiwanya juga disembuhkan dan dapat bersatu dengan Tuhan.

Ioannes
Guest
Ioannes

Salam, Melo Berbicara soal rasionalnya suatu tindakan iman, saya setuju dengan Melo. Tentu saja Gereja Katolik mengajarkan bahwa iman dan rasio tidak bertentangan satu sama lain, justru menguatkan dan membawa jiwa manusia lebih dekat pada Allah. Oleh sebab itu, Gereja mengajarkan adanya api penyucian dan berdoa bagi jiwa-jiwa karena ajaran tersebut memang ada sedari awal berdirinya Gereja : If a man departs this life with lighter faults, he is condemned to fire which burns away the lighter materials, and prepares the soul for the kingdom of God, where nothing defiled may enter…It remains then that you be committed to the… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X