Mengapa kita berpantang dan berpuasa?

“What are you going to give up this Lent?”

Di Amerika ini, ada pertanyaan umum menjelang masa Prapaska. Dalam pembicaraan sehari- hari antar teman, seseorang dapat bertanya, “What are you going to give up this Lent?” (“Kamu mau pantang apa dalam Masa Prapaska ini?”). Ya, seharusnya pertanyaan ini timbul di hati kita sebelum kita memulai masa Prapaska, jika kita ingin membuat Masa Prapaska ini suatu kesempatan kita untuk bertumbuh secara rohani. Inilah kesempatan bagi kita untuk merenungkan, hal apa yang paling kita sukai, yang dapat kita ‘korbankan’ demi menyatakan kasih kepada Tuhan, yang lebih dahulu mengasihi kita. Hal yang disukai bisa berbeda antara orang yang satu dengan yang lain, dan karena itu, yang paling dapat merasakan efeknya adalah orang yang bersangkutan. Ada keluarga teman saya yang senengnya menonton TV, kemudian mereka memutuskan untuk mengurangi nonton TV sehingga hanya 1 kali seminggu, hari Sabtu. Waktu yang tadinya dipakai untuk nonton TV dipergunakan untuk berkumpul dan berdoa bersama. Ada pula keluarga yang suka makan di restoran. Maka mereka pantang makan di restoran di Masa Prapaska, supaya uang yang biasanya dipakai untuk makan di restoran itu dapat disumbangkan ke panti asuhan. Tahun lalu, di samping pantang daging,  suami saya memilih pantang kopi, dan saya pantang sambal. Minggu pertama sangat berat buat suami saya, yang sudah bertahun-tahun terbiasa minum kopi minimal 3 gelas sehari. Awalnya, kepalanya pusing dan selalu mengantuk, namun toh akhirnya bisa juga. Lalu saya, dengan pantang sambal maka makan apapun rasanya kurang pas di lidah saya. Tapi hal ini mengajarkan saya supaya tidak lekas komplain. Sebab ini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan pengorbanan Yesus di kayu salib.

Memang, kita dapat menemukan banyak jenis pantang, dan mungkin pula kita dapat memilih yang  sedikit lebih sulit, yang melibatkan penguasaan diri. Contohnya, pantang membicarakan kekurangan orang lain, pantang membicarakan kelebihan diri sendiri,  pantang mengeluh/ komplain, pantang berprasangka negatif atau pantang marah bagi orang yang lekas emosi. Selanjutnya kita diajak untuk lebih mengarahkan hati kepada Tuhan dan berusaha menyenangkan hati-Nya dengan pikiran dan perbuatan kita.  Ini adalah contoh yang paling sederhana dari ucapan, “Aku mau mati terhadap diri sendiri dan hidup bagi Tuhan” (lih. Rom 6:8). Jadi pantang dan puasa bukan sekedar tidak makan daging atau tidak jajan, tetapi selebihnya tak ada yang berubah dalam hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Kita diundang untuk melihat ke dalam diri kita, untuk melihat kebiasaan apakah yang selama ini menghalangi kita untuk lebih dekat kepada Tuhan. Mari, pada masa Prapaska ini, kita membuat suatu usaha nyata untuk mengambil ‘penghalang’ tersebut dalam hidup kita. Dan dengan demikian, kita dapat mengalami hubungan yang lebih baik dengan Tuhan.

Buat apa berpantang dan berpuasa

Setiap masa Prapaska, kita diajak oleh Gereja untuk bersama-sama berpantang dan berpuasa. Puasa dan pantang yang disyaratkan oleh Gereja Katolik sebenarnya tidak berat, sehingga sesungguhnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak melakukannya. Namun, meskipun kita melakukannya, tahukah kita arti pantang dan puasa tersebut bagi kita umat Katolik?

Bagi kita orang Katolik, puasa dan pantang artinya adalah tanda pertobatan, tanda penyangkalan diri, dan tanda kita mempersatukan sedikit pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib sebagai silih dosa kita dan demi mendoakan keselamatan dunia. Jika pantang dan puasa dilakukan dengan hati tulus maka keduanya dapat menghantar kita bertumbuh dalam kekudusan. Kekudusan ini yang dapat berbicara lebih lantang dari pada khotbah yang berapi-api sekalipun, dan dengan kekudusan inilah kita mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah. Allah begitu mengasihi dan menghargai kita, sehingga kita diajak oleh-Nya untuk mengambil bagian dalam karya keselamatan ini. Caranya, dengan bertobat, berdoa dan melakukan perbuatan kasih, dan sesungguhnya inilah yang bersama-sama kita lakukan dalam kesatuan dengan Gereja pada masa Prapaska.

Jangan kita lupa bahwa  masa puasa selama 40 hari ini adalah karena mengikuti teladan Yesus, yang juga berpuasa selama 40 hari 40 malam, sebelum memulai tugas karya penyelamatan-Nya (lih. Mat 4: 1-11; Luk 4:1-13). Yesus berpuasa di padang gurun dan pada saat berpuasa itu Ia digoda oleh Iblis. Yesus mengalahkan godaan tersebut dengan bersandar pada Sabda Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci. Maka, kitapun hendaknya bersandar pada Sabda Tuhan untuk mengalahkan godaan pada saat kita berpuasa. Dengan doa dan merenungkan Sabda Tuhan, kita akan semakin menghayati makna puasa dan pantang pada Masa Prapaska ini.

Puasa dan pantang tak terlepas dari doa dan amal kasih

Jadi puasa dan pantang bagi kita tak pernah terlepas dari doa dan amal kasih. Dalam masa Prapaska, puasa, pantang dan doa disertai juga dengan perbuatan amal kasih bersama-sama dengan anggota Gereja yang lain. Dengan demikian, pantang dan puasa bagi kita orang Katolik merupakan latihan rohani yang mendekatkan diri pada Tuhan dan sesama, dan bukan untuk hal lain, seperti semata-mata ‘menyiksa badan’, diit/ supaya kurus, menghemat, dll. Janganlah kita lupa, tujuan utama puasa dan pantang adalah supaya kita dapat lebih menghayati kasih Tuhan yang kita terima dan kasih kepada Tuhan. Kita diajak untuk merenungkan sengsara Kristus demi menyelamatkan kita, dan selanjutnya kita diajak untuk menyatakan kasih kita kepada Kristus, dengan mendekatkan diri kepada-Nya dan sesama.

Dengan puasa kita mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah

Dengan mendekatkan dan menyatukan diri dengan Tuhan, maka kehendak-Nya menjadi kehendak kita. Dan karena kehendak Tuhan yang terutama adalah keselamatan dunia, maka melalui puasa dan pantang, kita diundang Tuhan untuk mengambil bagian dalam karya penyelamatan dunia, yaitu dengan berdoa dan menyatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib. Kita pun dapat mendoakan keselamatan dunia dengan mulai mendoakan bagi keselamatan orang-orang yang terdekat dengan kita: orang tua, suami/ istri, anak-anak, saudara, teman, dan juga kepada para imam dan pemimpin Gereja. Kemudian kita dapat pula berdoa bagi para pemimpin negara, para umat beriman, ataupun mereka yang belum mengenal Kristus.

Puasa dan Pantang menurut Ketentuan Gereja Katolik

Berikut ini mari kita lihat ketentuan tobat dengan puasa dan pantang, menurut Kitab Hukum Gereja Katolik:

  1. Kan. 1249 – Semua orang beriman kristiani wajib menurut cara masing-masing melakukan tobat demi hukum ilahi; tetapi agar mereka semua bersatu dalam suatu pelaksanaan tobat bersama, ditentukan hari-hari tobat, dimana umat beriman kristiani secara khusus meluangkan waktu untuk doa, menjalankan karya kesalehan dan amal-kasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang, menurut norma kanon-kanon berikut.

  2. Kan. 1250 – Hari dan waktu tobat dalam seluruh Gereja ialah setiap hari Jumat sepanjang tahun, dan juga masa prapaskah.

  3. Kan. 1251Pantang makan daging atau makanan lain menurut ketentuan Konferensi para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan pada hari Jumat Agung, memperingati Sengsara dan Wafat Tuhan Kita Yesus Kristus.

  4. Kan. 1252 – Peraturan pantang mengikat mereka yang telah berumur genap empat belas tahun; sedangkan peraturan puasa mengikat semua yang berusia dewasa sampai awal tahun ke enampuluh; namun para gembala jiwa dan orangtua hendaknya berusaha agar juga mereka, yang karena usianya masih kurang tidak terikat wajib puasa dan pantang, dibina ke arah cita-rasa tobat yang sejati.

  5. Kan. 1253 – Konferensi para Uskup dapat menentukan dengan lebih rinci pelaksanaan puasa dan pantang; dan juga dapat mengganti-kan seluruhnya atau sebagian wajib puasa dan pantang itu dengan bentuk-bentuk tobat lain, terutama dengan karya amal-kasih serta latihan-latihan rohani.

Memang sesuai dari yang kita ketahui, ketentuan dari Konferensi para Uskup di Indonesia menetapkan selanjutnya :

  1. Hari Puasa dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama Masa Prapaska sampai dengan Jumat Agung.

  2. Yang wajib berpuasa ialah semua orang Katolik yang berusia 18 tahun sampai awal tahun ke-60. Yang wajib berpantang ialah semua orang Katolik yang berusia genap 14 tahun ke atas.

  3. Puasa (dalam arti yuridis) berarti makan kenyang hanya sekali sehari. Pantang (dalam arti yuridis) berarti memilih pantang daging, atau ikan atau garam, atau jajan atau rokok. Bila dikehendaki masih bisa menambah sendiri puasa dan pantang secara pribadi, tanpa dibebani dengan dosa bila melanggarnya.

Maka penerapannya adalah sebagai berikut:

  1. Kita berpantang setiap hari Jumat sepanjang tahun (contoh: pantang daging, pantang rokok dll) kecuali jika hari Jumat itu jatuh pada hari raya, seperti dalam oktaf masa Natal dan oktaf masa Paskah. Penetapan pantang setiap Jumat ini adalah karena Gereja menentukan hari Jumat sepanjang tahun (kecuali yang jatuh di hari raya) adalah hari tobat. Namun, jika kita mau melakukan yang lebih, silakan berpantang, setiap hari selama Masa Prapaska.

  2. Jika kita berpantang, pilihlah makanan/ minuman yang paling kita sukai. Pantang daging adalah contohnya, atau yang lebih sukar mungkin pantang garam. Tapi ini bisa juga berarti pantang minum kopi bagi orang yang suka sekali kopi, dan pantang sambal bagi mereka yang sangat suka sambal, pantang rokok bagi mereka yang merokok, pantang jajan bagi mereka yang suka jajan. Jadi jika kita pada dasarnya tidak suka jajan, jangan memilih pantang jajan, sebab itu tidak ada artinya.

  3. Pantang tidak terbatas hanya makanan, namun pantang makanan dapat dianggap sebagai hal yang paling mendasar dan dapat dilakukan oleh semua orang. Namun jika satu dan lain hal tidak dapat dilakukan, terdapat pilihan lain, seperti pantang kebiasaan yang paling mengikat, seperti pantang nonton TV, pantang ’shopping’, pantang ke bioskop, pantang ‘gossip’, pantang main ‘game’ dll. Jika memungkinkan tentu kita dapat melakukan gabungan antara pantang makanan/ minuman dan pantang kebiasaan ini.

  4. Puasa minimal dalam setahun adalah Hari Rabu Abu dan Jumat Agung, namun bagi yang dapat melakukan lebih, silakan juga berpuasa dalam ketujuh hari Jumat dalam masa Prapaska, (atau bahkan setiap hari dalam masa Prapaska).

  5. Waktu berpuasa, kita makan kenyang satu kali, dapat dipilih sendiri pagi, siang atau malam. Harap dibedakan makan kenyang dengan makan sekenyang-kenyangnya. Karena maksud berpantang juga adalah untuk melatih pengendalian diri, maka jika kita berbuka puasa/ pada saat makan kenyang, kita juga tetap makan seperti biasa, tidak berlebihan. Juga makan kenyang satu kali sehari bukan berarti kita boleh makan snack/ cemilan berkali-kali sehari. Ingatlah tolok ukurnya adalah pengendalian diri dan keinginan untuk turut merasakan sedikit penderitaan Yesus, dan mempersatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib demi keselamatan dunia.

  6. Maka pada saat kita berpuasa, kita dapat mendoakan untuk pertobatan seseorang, atau mohon pengampunan atas dosa kita. Doa-doa seperti inilah yang sebaiknya mendahului puasa, kita ucapkan di tengah-tengah kita berpuasa, terutama saat kita merasa haus/ lapar, dan doa ini pula yang menutup puasa kita/ sesaat sebelum kita makan. Di sela-sela kesibukan sehari-hari kita dapat mengucapkan doa sederhana, “Ampunilah aku, ya Tuhan. Aku mengasihi-Mu, Tuhan Yesus. Mohon selamatkanlah …..” (sebutkan nama orang yang kita kasihi)

  7. Karena yang ditetapkan di sini adalah syarat minimal, maka kita sendiri boleh menambahkannya sesuai dengan kekuatan kita. Jadi boleh saja kita berpuasa dari pagi sampai siang, atau sampai sore, atau bagi yang memang dapat melakukannya, sampai satu hari penuh. Juga tidak menjadi masalah, puasa sama sekali tidak makan dan minum atau minum sedikit air. Diperlukan kebijaksanaan sendiri (prudence) untuk memutuskan hal ini, yaitu seberapa banyak kita mau menyatakan kasih kita kepada Yesus dengan berpuasa, dan seberapa jauh itu memungkinkan dengan kondisi tubuh kita. Walaupun tentu, jika kita terlalu banyak ‘excuse’ ya berarti kita perlu mempertanyakan kembali, sejauh mana kita mengasihi Yesus dan mau sedikit berkorban demi mendoakan keselamatan dunia.

Tidak terbatas Pantang dan Puasa dan derma/amal

Dalam masa Prapaska ini, dapat pula kita melakukan sesuatu yang baik yang belum secara konsisten kita lakukan. Misal, bangun lebih pagi setiap hari untuk berdoa, misal dari yang biasanya 5 menit, usahakan jadi 10 menit; atau dari yang biasanya 10 menit, usahakan jadi 20 menit, atau yang 30 menit jadi 1 jam. Memulai hari dengan berdoa dan merenungkan Sabda Tuhan adalah sesuatu yang perlu kita usahakan setiap hari.

Mengikuti Misa Harian (di samping Misa hari Minggu, tentu saja) adalah sesuatu yang dapat pula kita lakukan, jika itu memang memungkinkan dalam situasi kita. Jangan terlalu cepat mengatakan tidak mungkin, jika belum pernah mencoba. Apalagi jika kita tidak mencobanya karena malas bangun pagi. Mengikuti Misa dan menyambut Kristus dalam Ekaristi adalah bukti yang nyata bahwa kita sungguh menghargai apa yang telah dilakukan-Nya bagi kita di kayu salib demi keselamatan kita. Kita dapat pula meluangkan waktu untuk doa Adorasi, di hadapan Sakramen Maha Kudus, jika memang ada kapel Adorasi di paroki/ di kota tempat kita tinggal. Atau kita dapat mulai berdoa Rosario setiap hari. Atau mulai dengan setia meluangkan waktu untuk mempelajari Kitab Suci dan Katekismus Gereja Katolik. Atau mengikuti Ibadat Jalan Salib di gereja, atau jika tidak mungkin, melakukannya bersama dengan keluarga di rumah.

Dalam relasi kita dengan sesama, juga tidak terbatas dengan ‘asal sudah nyumbang, maka sudah beres’. Dengan merenungkan sengsara Tuhan Yesus, maka kita diajak untuk lebih peka terhadap sikap kita terhadap sesama yang kurang beruntung. Misalnya, yang paling dekat adalah pembantu rumah tangga dan supir. Pernahkah kita memberi kesempatan pada mereka untuk beristirahat, misalnya memberi mereka libur? Libur di sini tidak termasuk hanya pada libur Lebaran, dst, tetapi libur/ istirahat agar mereka juga dapat berekreasi dan melepas lelah. Atau apakah kita menjalin persahabatan dengan sesama anggota Paroki yang berkekurangan?

Wah, banyak sekali sesungguhnya yang dapat kita lakukan, jika kita sungguh ingin bertumbuh di dalam iman. Namun seungguhnya, mulailah saja dengan langkah kecil dan sederhana. St. Theresia dari Liseux pernah mengatakan tipsnya, yaitu, “Lakukanlah perbuatan-perbuatan yang kecil dan sederhana, namun dengan kasih yang besar.”

Penutup

Maka untuk menjawab pertanyaan awal, “Mau pantang apa aku pada Masa Prapaska ini?”, kita perlu kembali melihat ke dalam hati kita masing-masing. Pasti jika kita mau jujur, akan selalu ada yang dapat kita lakukan. Mengurangi nonton TV, mengurangi ngemil/ jajan, mengurangi nonton bioskop, tidak main game di internet, dll hanya contoh saja, namun itu belum lengkap, jika kita tidak menggunakan waktu tersebut, untuk hal-hal lain yang lebih mendukung perbuatan kasih kita kepada Tuhan dan sesama.

Ya, dengan Rabu Abu, kita diingatkan bahwa hidup kita di dunia ini hanyalah sementara, maka mari kita mempersiapkan diri bagi kehidupan kita yang sesungguhnya di surga kelak. Kita hanya dapat masuk surga dan memandang Tuhan hanya jika kita memiliki kekudusan itu (lih. Ibr 12:14), maka sudah saatnya kita bertanya pada diri sendiri: sudahkah aku hidup kudus? Masa pertobatan adalah masa rahmat yang Tuhan berikan pada kita, untuk mengatur kembali fokus kehidupan kita. Apakah yang menjadi pusat kegiatanku sehari-hari: aku atau Tuhan? Jika kita masih banyak menemukan ‘aku’ sebagai pusatnya, mungkin sudah saatnya kita mulai mengubahnya….

19/12/2018

78
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
38 Comment threads
40 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
38 Comment authors
TribarfinTiaJohnalexemma Recent comment authors
Lusia Rina
Guest
Lusia Rina

saya masih bingung soal berpuasa dengan definisi makan kenyang sekali sehari???
apakah maksudnya hanya makan sebanyak 1 x dalam jangka waktu jam 06.00 sampe jam 18.00 atau bagaimana ya???

surya ikhwan
Guest
surya ikhwan

Shalom pak Stef & ibu Inggrid
Dalam memasuki masa PraPaskah ini apabila kita melakukan doa Rosario apakah kita mengam
bil Peristiwa Sedih saja atau menurut urutan Peristiwa doa Rosario biasa?
Sekian pertanyaan saya untuk jawaban nya saya mengucapkan terima kasih Tuhan memberkati!

Donny Wardana
Guest
Donny Wardana

Shalom….
Saya ingin bertanya mengenai doa dengan berpuasa.
Jika saya ingin berdoa sambil berpuasa, sebaiknya apa yg harus sy lakukan?
Mohon petunjuk cara2 berdoa sambil berpuasa. Dan berapa lama saya harus lakukan doa puasa tersebut.
Terima kasih.
Tuhan memberkati kita semua. Amin.

[Dari Katolisitas: silakan anda membaca artikel di atas, silakan klik, dan di sini silakan klik, dan tanya jawab di bawah artikel- artikel tersebut. Semoga anda dapat memperoleh jawabannya]

chris
Guest

Yth Katolisitas,

“Kita berpantang setiap hari Jumat sepanjang tahun (contoh: pantang daging, pantang rokok dll) kecuali jika hari Jumat itu jatuh pada hari raya, seperti dalam oktaf masa Natal dan oktaf masa Paskah. Penetapan pantang setiap Jumat ini adalah karena Gereja menentukan hari Jumat sepanjang tahun (kecuali yang jatuh di hari raya) adalah hari tobat. Namun, jika kita mau melakukan yang lebih, silakan berpantang, setiap hari selama Masa Prapaska.”

Bagaimana dengan hari Jumat 25 Maret 2011 (masa Prapaska) bertepatan dengan Hari Raya Kabar Sukacita apakah juga pantang? Terima kasih.

ayu dystia
Guest
ayu dystia

saya mau nanyak, sebelum kita memulai puasa pada kalender liturgi, kita ditandai dengan?
tolong jawab ya.
thanks

[Dari Katolisitas: Kita memulai Masa Prapaska/ masa puasa dengan Rabu Abu, dan pada Rabu Abu ini kita umat Katolik mengikuti Misa Kudus, dan menerima tanda abu pada dahi kita, yang mengingatkan kita akan masa pertobatan ini: bahwa kita ini debu dan akan kembali menjadi debu; dan oleh karena itu kita harus bertobat dan percaya kepada Injil]

nand
Guest
nand

Halo Katolisitas, saya katolik tetapi masih dalam tahap belajar untuk mendalami ajaran Gereja. saya mau bertanya 1. bagaimana peraturan puasa dalam masa prapaskah maupun masa advent? 2. mengapa doa bapa kami dalam alkitab berbeda dengan ajaran katolik? 3. apa perbedaan ajaran katolik dengan aglikan? 4. alkitab terbitan mana yang lebih baik dipakai umat katolik? saya sedikit kurang nyaman dengan terbitan LAI. dan kalau ada, dimana saya bisa mendapatkannya di Pontianak? disini semuanya menggunakan LAI. 5. bagaimana cara terbaik untuk berdiskusi tentang ajaran dengan umat kristen non-katolik? saya sedikit kesulitan untuk meluruskan pandangan mereka berhubung saya bersekolah di sekolah protestan injili.… Read more »

Kenneth
Guest
Kenneth

Shalom,

Apakah hari Jumat di luar masa prapaskah kita WAJIB melakukan laku tobat, atau hanya fakultatif saja. Saya dengar di US kewajiban melakukan laku tobat (pantang, atau pengganti ekuivalennya) hanya pada jumat di masa prapaskah saja. Uskup US menyatakan di luar masa prapaskah, setiap jumat adalah hari tobat, tetapi tidak terikat hukuman dosa berat bagi yang tidak melakukannya.

Apakah di sebagian besar keuskupan di dunia juga seperti itu sekarang?

Terima kasih,
Kenneth

Rm Gusti Kusumawanta
Member

Kenneth Yth

Tidak wajib melakukan laku tobat, tergantung pada intensi masing-masing pribadi, kodeks menganjurkan melakukan olah tobat di hari Jumat di luar masa puasa. Untuk Gereja Katolik di seluruh dunia prakteknya bagaimana, saya kurang tahu. Di Indonesia bukan hanya Jumat, kadang Senin Kamis banyak yang melakukan aksi tobat dengan berpuasa. Semuanya itu baik adanya.

salam
Rm Wanta

Andry
Guest
Andry

Shalom,

Saya ingin bertanya sehubungan dengan Veronica yang mengusap wajah Yesus. Pada saat jalan salib, ada perhentian dimana Veronica mengusap wajah Yesus. Di film “the passion of the christ” juga terlihat Veronica yang mengusap wajah Yesus. Bahkan sejak kecil,peristiwa ini sudah dikenalkan kepada anak-anak kita yang Katolik. Namun,pertanyaan saya timbul ketika disuruh untuk membandingkan isi film The Passion of the Christ dengan bacaan injil. Ternyata kisah Veronica tidak terdapat di injil manapun. Jadi, darimanakah peristiwa ini berasal? Mengapa di Injil tidak dituliskan tentang “veronica”?
Demikian pertanyaan saya.

Terima kasih..
Tuhan memberkati.

Kenneth
Guest
Kenneth

(silahkan pertanyaan ini dipindahkan ke artikel yang cocok, bila perlu) Shalom, Saya ada empat pertanyaan mengenai Pekan Suci: 1. Menurut Vatikan II, “umat beriman disarankan (tidak wajib) untuk memperpanjang puasa dan pantang hingga hari sabtu suci.” Apakah ini berarti puasa dan pantang juga disarankan untuk diperpanjang sampai setelah liturgi malam paskah dilangsungkan? Dengan kata lain, bolehkah “lepas” dari puasa dan pantang setelah menjalankan liturgi malam paskah (vigil)? 2. Kapan masa paskah dimulai? Pada saat “Gloria” di malam paskah atau pada hari minggu paskah pagi? 3. Apakah di Indonesia (dan di negara-negara lain) wajib berpantang daging pada hari-hari Jumat NON-prapaskah (seperti… Read more »

Rm Gusti Kusumawanta
Member

Kenneth Yth Berdasarkan KHK 1983, peraturan tentang pantang dan puasa tidak hanya disaat masa tobat Prapaskah melainkan juga diperkenankan untuk melakukan olah rohani pantang dan puasa setiap hari jumat sepanjang tahun. Hari Minggu sebagai hari Tuhan tidak perlu berpantang dan berpuasa karena hari sukacita kebangkitan Tuhan. Pantang dan puasa hanya pada hari Jumat Agung, sedangkan Sabtu suci melakukan ibadat lamentasi ratapan hingga persiapan Sabtu Paskah di malam hari. Arti malam tentu setelah matahari terbenam kalaupun lewat 39 menit tidak salah juga karena alasan pastoral diperkenankan agar misa pertama dan selanjutnya ada tenggang waktu untuk persiapan imam dan umat. Setelah vigili… Read more »

anonymous
Guest
anonymous

Salam,

ada yang kelupaan nanya. KHK 1250-1251 menyatakan soal hari Jumat adalah hari pertobatan. Kalo seseorang tidak berpuasa / berpantang di hari itu, apakah dia berdosa berat ? karena saya berdiskusi dengan seorang teman dan mnrtnya pelanggaran KHK merupakan “Grave Matters”. Cuma sejauh saya baca KHK kok pelanggaran berat biasanya diberitahukan secara jelas contoh mengenai perselingkuhan atau seks di luar nikah.

terima kasih, salam dan doa

Herman Jay
Guest
Herman Jay

Bagi rakyat Indonesia yang katolik dan miskin, kehidupan sepanjang tahun pada hakekatnya dijalani dengan berpantang dan berpuasa. Dalam masa puasa, mereka harus berpuasa dan berpantang apalagi? Sehari-hari mereka tidak makan daging dan ikan, apalagi makanan2 mewah yang dijual di mal-mal.

poNy
Guest
poNy

salam Ing….

saya mau menanya…

1.apakah kita boleh bpuasa pada hari bukan bulan puasa(puasa katolik ditetapkan bulan februari-awal april). jadi boleh tidak jika kita melakukan puasa(kehendak sendiri) selama 40 hari seperti puasa yg dilakukan pada “bulan puasa”(february-awal april) pada hari-hari lain, mungkin saja pada bulan selain february-april?
2. apakah maksudnya “berbuka puasa” dalam puasa katolik? sebab ada umat yang makan pada siang hari dan dimana dikatakan “bbuka puasa”?
3.apakah ada doa khas utk umat ketika bpuasa?

salam kasih …..
( DO EVERYTHING IN LOVE 1KOR 16:14)

Isa Inigo
Guest
Isa Inigo

Shalom Pak Stef dan Bu Ingrid. Saya mau tanya, siapakah yg memulai tradisi mencari telur paskah? Apa pula maksudnya? Saya ucapkan terima kasih seblumnya, katolisitas makin jadi berkat!
Shalom: Isa Inigo

Kristofer
Guest
Kristofer

Halo…
saya sepertinya mengalami kegagalan dalam pantang dan puasa…
ketika akan menghadapi Masa Prapaskah, saya berniat untuk pantang “tidak malas”
namun apa yang terjadi…
akhir akhir ini saya digoda sekali main game dan akhirnya saya bermain.. (padahal sebelumnya saya tidak terlalu suka main game…)
dan saya ingin sekali makan daging ketika hari rabu dan jumat (hingga kelupaan hari, dan makan daging..) … (padahal hari biasanya gak ada daging, tidak masalah..)

apakah pantang puasa saya gagal total??

Jus Soekidjo
Guest
Jus Soekidjo

“Mari bertanggungjawab” adalah tema APP 2009 untuk Keuskupan Agung Jakarta. Tema ini menurut saya menarik, karena dalam banyak hal para pemimpin negeri ini tidak pernah bertanggungjawab. Dalam masa Prapaskah yang ditandai dengan penerimaan abu pada Rabu Abu, banyak umat yang tidak menjalankan dengan baik. Dengan kata lain, mereka kurang bertanggung jawab. Kebebasan yang diberikan Tuhan kepada kita sering kurang kita pertanggungjawabkan. Dalam banyak hal, kita masih banyak kekurangan dan kurang bertanggungjawab. Ternyata untuk menjadi murid Yesus yang sejati luar biasa sulitnya. Oleh karena itu, Gereja memberikan persyaratan minimal dalam pantang dan puasa. Walaupun persyaratan minimalpun, terkadang kita kurang bertanggungjawab, dan… Read more »

restroika
Guest

Syalom,,,,
Selamat Pagi Ibu Inggrid.

Terima kasih atas penayangan artikel ini, akhirnya terjawab semua kebingungan saya tentang makna “sekali makan dalam puasa”.

Chandra
Guest
Chandra

Pagi Bu Ingrid, Hari ini adalah awal puasa dan pantang kita menjelang Paskah. Jika kita melihat ketentuan (minimum) dari puasa dan pantang kita, yaitu Hari Puasa dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan Jum’at Agung. Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jum’at selama Masa Prapaska sampai dengan Jumat Agung. Karena sedemikian minimumnya ketentuan puasa dan pantang kita, kadangkala puasa kita sering dikatakan bukan puasa oleh saudara kita dari non-kristen. Walaupun sebenarnya bagi saya puasa dan pantang kitapun bukan hal yang ringan (meskipun ketentuannya minimum), justru karena minimum saya merasakan godaan lebih besar, contohnya saat kita makan tapi tidak… Read more »

Ririn
Guest
Ririn

Shallom bu Inggrid,

Maaf kalo pertanyaan saya terlalu sepele. Saya baru menjadi katholik (dari protestan)Sya mau menanyakan, rabu abu itu sebenarnya apa maknanya ya? Kata abu sendiri darimana ya bu? apa hanya menandakan masuknya masa prapaskah?
Terimakasih

Salam,

linda
Guest
linda

to: Ibu Ingrid Listiati,
pagi Ibu Ingrid ……….

mengenai pantang & puasa, makan kenyang 1x, boleh ngak kita minum selama kita berpuasa?

sorenya kita boleh ngak utk makan kenyang lagi?
selama saya menjalani pantang & puasa, saya makan kenyang 1x lalu selama itu saya tidak makan & minum lagi?

soalnya saya kurang paham mengenai puasa yg benar & kalo puasa umat muslim kan 1 hari mereka tdk makan & minum sampe sore, apakah kita umat katholik utk berpuasa makan kenyang 1x sampe besok lagi.

saya ucapkan terima kasih atas perhatiannya
Linda.

GBU………

Margaret
Guest
Margaret

Pagi Ing…

Rabu Abu dan Jumat Agung puasa n pantang kan?

Gbu…

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X