Mengapa kita berpantang dan berpuasa?

“What are you going to give up this Lent?”

Di Amerika ini, ada pertanyaan umum menjelang masa Prapaska. Dalam pembicaraan sehari- hari antar teman, seseorang dapat bertanya, “What are you going to give up this Lent?” (“Kamu mau pantang apa dalam Masa Prapaska ini?”). Ya, seharusnya pertanyaan ini timbul di hati kita sebelum kita memulai masa Prapaska, jika kita ingin membuat Masa Prapaska ini suatu kesempatan kita untuk bertumbuh secara rohani. Inilah kesempatan bagi kita untuk merenungkan, hal apa yang paling kita sukai, yang dapat kita ‘korbankan’ demi menyatakan kasih kepada Tuhan, yang lebih dahulu mengasihi kita. Hal yang disukai bisa berbeda antara orang yang satu dengan yang lain, dan karena itu, yang paling dapat merasakan efeknya adalah orang yang bersangkutan. Ada keluarga teman saya yang senengnya menonton TV, kemudian mereka memutuskan untuk mengurangi nonton TV sehingga hanya 1 kali seminggu, hari Sabtu. Waktu yang tadinya dipakai untuk nonton TV dipergunakan untuk berkumpul dan berdoa bersama. Ada pula keluarga yang suka makan di restoran. Maka mereka pantang makan di restoran di Masa Prapaska, supaya uang yang biasanya dipakai untuk makan di restoran itu dapat disumbangkan ke panti asuhan. Tahun lalu, di samping pantang daging,  suami saya memilih pantang kopi, dan saya pantang sambal. Minggu pertama sangat berat buat suami saya, yang sudah bertahun-tahun terbiasa minum kopi minimal 3 gelas sehari. Awalnya, kepalanya pusing dan selalu mengantuk, namun toh akhirnya bisa juga. Lalu saya, dengan pantang sambal maka makan apapun rasanya kurang pas di lidah saya. Tapi hal ini mengajarkan saya supaya tidak lekas komplain. Sebab ini bukan apa-apa jika dibandingkan dengan pengorbanan Yesus di kayu salib.

Memang, kita dapat menemukan banyak jenis pantang, dan mungkin pula kita dapat memilih yang  sedikit lebih sulit, yang melibatkan penguasaan diri. Contohnya, pantang membicarakan kekurangan orang lain, pantang membicarakan kelebihan diri sendiri,  pantang mengeluh/ komplain, pantang berprasangka negatif atau pantang marah bagi orang yang lekas emosi. Selanjutnya kita diajak untuk lebih mengarahkan hati kepada Tuhan dan berusaha menyenangkan hati-Nya dengan pikiran dan perbuatan kita.  Ini adalah contoh yang paling sederhana dari ucapan, “Aku mau mati terhadap diri sendiri dan hidup bagi Tuhan” (lih. Rom 6:8). Jadi pantang dan puasa bukan sekedar tidak makan daging atau tidak jajan, tetapi selebihnya tak ada yang berubah dalam hubungan kita dengan Tuhan dan sesama. Kita diundang untuk melihat ke dalam diri kita, untuk melihat kebiasaan apakah yang selama ini menghalangi kita untuk lebih dekat kepada Tuhan. Mari, pada masa Prapaska ini, kita membuat suatu usaha nyata untuk mengambil ‘penghalang’ tersebut dalam hidup kita. Dan dengan demikian, kita dapat mengalami hubungan yang lebih baik dengan Tuhan.

Buat apa berpantang dan berpuasa

Setiap masa Prapaska, kita diajak oleh Gereja untuk bersama-sama berpantang dan berpuasa. Puasa dan pantang yang disyaratkan oleh Gereja Katolik sebenarnya tidak berat, sehingga sesungguhnya tidak ada alasan bagi kita untuk tidak melakukannya. Namun, meskipun kita melakukannya, tahukah kita arti pantang dan puasa tersebut bagi kita umat Katolik?

Bagi kita orang Katolik, puasa dan pantang artinya adalah tanda pertobatan, tanda penyangkalan diri, dan tanda kita mempersatukan sedikit pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib sebagai silih dosa kita dan demi mendoakan keselamatan dunia. Jika pantang dan puasa dilakukan dengan hati tulus maka keduanya dapat menghantar kita bertumbuh dalam kekudusan. Kekudusan ini yang dapat berbicara lebih lantang dari pada khotbah yang berapi-api sekalipun, dan dengan kekudusan inilah kita mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah. Allah begitu mengasihi dan menghargai kita, sehingga kita diajak oleh-Nya untuk mengambil bagian dalam karya keselamatan ini. Caranya, dengan bertobat, berdoa dan melakukan perbuatan kasih, dan sesungguhnya inilah yang bersama-sama kita lakukan dalam kesatuan dengan Gereja pada masa Prapaska.

Jangan kita lupa bahwa  masa puasa selama 40 hari ini adalah karena mengikuti teladan Yesus, yang juga berpuasa selama 40 hari 40 malam, sebelum memulai tugas karya penyelamatan-Nya (lih. Mat 4: 1-11; Luk 4:1-13). Yesus berpuasa di padang gurun dan pada saat berpuasa itu Ia digoda oleh Iblis. Yesus mengalahkan godaan tersebut dengan bersandar pada Sabda Tuhan yang tertulis dalam Kitab Suci. Maka, kitapun hendaknya bersandar pada Sabda Tuhan untuk mengalahkan godaan pada saat kita berpuasa. Dengan doa dan merenungkan Sabda Tuhan, kita akan semakin menghayati makna puasa dan pantang pada Masa Prapaska ini.

Puasa dan pantang tak terlepas dari doa dan amal kasih

Jadi puasa dan pantang bagi kita tak pernah terlepas dari doa dan amal kasih. Dalam masa Prapaska, puasa, pantang dan doa disertai juga dengan perbuatan amal kasih bersama-sama dengan anggota Gereja yang lain. Dengan demikian, pantang dan puasa bagi kita orang Katolik merupakan latihan rohani yang mendekatkan diri pada Tuhan dan sesama, dan bukan untuk hal lain, seperti semata-mata ‘menyiksa badan’, diit/ supaya kurus, menghemat, dll. Janganlah kita lupa, tujuan utama puasa dan pantang adalah supaya kita dapat lebih menghayati kasih Tuhan yang kita terima dan kasih kepada Tuhan. Kita diajak untuk merenungkan sengsara Kristus demi menyelamatkan kita, dan selanjutnya kita diajak untuk menyatakan kasih kita kepada Kristus, dengan mendekatkan diri kepada-Nya dan sesama.

Dengan puasa kita mengambil bagian dalam karya keselamatan Allah

Dengan mendekatkan dan menyatukan diri dengan Tuhan, maka kehendak-Nya menjadi kehendak kita. Dan karena kehendak Tuhan yang terutama adalah keselamatan dunia, maka melalui puasa dan pantang, kita diundang Tuhan untuk mengambil bagian dalam karya penyelamatan dunia, yaitu dengan berdoa dan menyatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib. Kita pun dapat mendoakan keselamatan dunia dengan mulai mendoakan bagi keselamatan orang-orang yang terdekat dengan kita: orang tua, suami/ istri, anak-anak, saudara, teman, dan juga kepada para imam dan pemimpin Gereja. Kemudian kita dapat pula berdoa bagi para pemimpin negara, para umat beriman, ataupun mereka yang belum mengenal Kristus.

Puasa dan Pantang menurut Ketentuan Gereja Katolik

Berikut ini mari kita lihat ketentuan tobat dengan puasa dan pantang, menurut Kitab Hukum Gereja Katolik:

  1. Kan. 1249 – Semua orang beriman kristiani wajib menurut cara masing-masing melakukan tobat demi hukum ilahi; tetapi agar mereka semua bersatu dalam suatu pelaksanaan tobat bersama, ditentukan hari-hari tobat, dimana umat beriman kristiani secara khusus meluangkan waktu untuk doa, menjalankan karya kesalehan dan amal-kasih, menyangkal diri sendiri dengan melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara lebih setia dan terutama dengan berpuasa dan berpantang, menurut norma kanon-kanon berikut.

  2. Kan. 1250 – Hari dan waktu tobat dalam seluruh Gereja ialah setiap hari Jumat sepanjang tahun, dan juga masa prapaskah.

  3. Kan. 1251Pantang makan daging atau makanan lain menurut ketentuan Konferensi para Uskup hendaknya dilakukan setiap hari Jumat sepanjang tahun, kecuali hari Jumat itu kebetulan jatuh pada salah satu hari yang terhitung hari raya; sedangkan pantang dan puasa hendaknya dilakukan pada hari Rabu Abu dan pada hari Jumat Agung, memperingati Sengsara dan Wafat Tuhan Kita Yesus Kristus.

  4. Kan. 1252 – Peraturan pantang mengikat mereka yang telah berumur genap empat belas tahun; sedangkan peraturan puasa mengikat semua yang berusia dewasa sampai awal tahun ke enampuluh; namun para gembala jiwa dan orangtua hendaknya berusaha agar juga mereka, yang karena usianya masih kurang tidak terikat wajib puasa dan pantang, dibina ke arah cita-rasa tobat yang sejati.

  5. Kan. 1253 – Konferensi para Uskup dapat menentukan dengan lebih rinci pelaksanaan puasa dan pantang; dan juga dapat mengganti-kan seluruhnya atau sebagian wajib puasa dan pantang itu dengan bentuk-bentuk tobat lain, terutama dengan karya amal-kasih serta latihan-latihan rohani.

Memang sesuai dari yang kita ketahui, ketentuan dari Konferensi para Uskup di Indonesia menetapkan selanjutnya :

  1. Hari Puasa dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Hari Pantang dilangsungkan pada hari Rabu Abu dan tujuh Jumat selama Masa Prapaska sampai dengan Jumat Agung.

  2. Yang wajib berpuasa ialah semua orang Katolik yang berusia 18 tahun sampai awal tahun ke-60. Yang wajib berpantang ialah semua orang Katolik yang berusia genap 14 tahun ke atas.

  3. Puasa (dalam arti yuridis) berarti makan kenyang hanya sekali sehari. Pantang (dalam arti yuridis) berarti memilih pantang daging, atau ikan atau garam, atau jajan atau rokok. Bila dikehendaki masih bisa menambah sendiri puasa dan pantang secara pribadi, tanpa dibebani dengan dosa bila melanggarnya.

Maka penerapannya adalah sebagai berikut:

  1. Kita berpantang setiap hari Jumat sepanjang tahun (contoh: pantang daging, pantang rokok dll) kecuali jika hari Jumat itu jatuh pada hari raya, seperti dalam oktaf masa Natal dan oktaf masa Paskah. Penetapan pantang setiap Jumat ini adalah karena Gereja menentukan hari Jumat sepanjang tahun (kecuali yang jatuh di hari raya) adalah hari tobat. Namun, jika kita mau melakukan yang lebih, silakan berpantang, setiap hari selama Masa Prapaska.

  2. Jika kita berpantang, pilihlah makanan/ minuman yang paling kita sukai. Pantang daging adalah contohnya, atau yang lebih sukar mungkin pantang garam. Tapi ini bisa juga berarti pantang minum kopi bagi orang yang suka sekali kopi, dan pantang sambal bagi mereka yang sangat suka sambal, pantang rokok bagi mereka yang merokok, pantang jajan bagi mereka yang suka jajan. Jadi jika kita pada dasarnya tidak suka jajan, jangan memilih pantang jajan, sebab itu tidak ada artinya.

  3. Pantang tidak terbatas hanya makanan, namun pantang makanan dapat dianggap sebagai hal yang paling mendasar dan dapat dilakukan oleh semua orang. Namun jika satu dan lain hal tidak dapat dilakukan, terdapat pilihan lain, seperti pantang kebiasaan yang paling mengikat, seperti pantang nonton TV, pantang ’shopping’, pantang ke bioskop, pantang ‘gossip’, pantang main ‘game’ dll. Jika memungkinkan tentu kita dapat melakukan gabungan antara pantang makanan/ minuman dan pantang kebiasaan ini.

  4. Puasa minimal dalam setahun adalah Hari Rabu Abu dan Jumat Agung, namun bagi yang dapat melakukan lebih, silakan juga berpuasa dalam ketujuh hari Jumat dalam masa Prapaska, (atau bahkan setiap hari dalam masa Prapaska).

  5. Waktu berpuasa, kita makan kenyang satu kali, dapat dipilih sendiri pagi, siang atau malam. Harap dibedakan makan kenyang dengan makan sekenyang-kenyangnya. Karena maksud berpantang juga adalah untuk melatih pengendalian diri, maka jika kita berbuka puasa/ pada saat makan kenyang, kita juga tetap makan seperti biasa, tidak berlebihan. Juga makan kenyang satu kali sehari bukan berarti kita boleh makan snack/ cemilan berkali-kali sehari. Ingatlah tolok ukurnya adalah pengendalian diri dan keinginan untuk turut merasakan sedikit penderitaan Yesus, dan mempersatukan pengorbanan kita dengan pengorbanan Yesus di kayu salib demi keselamatan dunia.

  6. Maka pada saat kita berpuasa, kita dapat mendoakan untuk pertobatan seseorang, atau mohon pengampunan atas dosa kita. Doa-doa seperti inilah yang sebaiknya mendahului puasa, kita ucapkan di tengah-tengah kita berpuasa, terutama saat kita merasa haus/ lapar, dan doa ini pula yang menutup puasa kita/ sesaat sebelum kita makan. Di sela-sela kesibukan sehari-hari kita dapat mengucapkan doa sederhana, “Ampunilah aku, ya Tuhan. Aku mengasihi-Mu, Tuhan Yesus. Mohon selamatkanlah …..” (sebutkan nama orang yang kita kasihi)

  7. Karena yang ditetapkan di sini adalah syarat minimal, maka kita sendiri boleh menambahkannya sesuai dengan kekuatan kita. Jadi boleh saja kita berpuasa dari pagi sampai siang, atau sampai sore, atau bagi yang memang dapat melakukannya, sampai satu hari penuh. Juga tidak menjadi masalah, puasa sama sekali tidak makan dan minum atau minum sedikit air. Diperlukan kebijaksanaan sendiri (prudence) untuk memutuskan hal ini, yaitu seberapa banyak kita mau menyatakan kasih kita kepada Yesus dengan berpuasa, dan seberapa jauh itu memungkinkan dengan kondisi tubuh kita. Walaupun tentu, jika kita terlalu banyak ‘excuse’ ya berarti kita perlu mempertanyakan kembali, sejauh mana kita mengasihi Yesus dan mau sedikit berkorban demi mendoakan keselamatan dunia.

Tidak terbatas Pantang dan Puasa dan derma/amal

Dalam masa Prapaska ini, dapat pula kita melakukan sesuatu yang baik yang belum secara konsisten kita lakukan. Misal, bangun lebih pagi setiap hari untuk berdoa, misal dari yang biasanya 5 menit, usahakan jadi 10 menit; atau dari yang biasanya 10 menit, usahakan jadi 20 menit, atau yang 30 menit jadi 1 jam. Memulai hari dengan berdoa dan merenungkan Sabda Tuhan adalah sesuatu yang perlu kita usahakan setiap hari.

Mengikuti Misa Harian (di samping Misa hari Minggu, tentu saja) adalah sesuatu yang dapat pula kita lakukan, jika itu memang memungkinkan dalam situasi kita. Jangan terlalu cepat mengatakan tidak mungkin, jika belum pernah mencoba. Apalagi jika kita tidak mencobanya karena malas bangun pagi. Mengikuti Misa dan menyambut Kristus dalam Ekaristi adalah bukti yang nyata bahwa kita sungguh menghargai apa yang telah dilakukan-Nya bagi kita di kayu salib demi keselamatan kita. Kita dapat pula meluangkan waktu untuk doa Adorasi, di hadapan Sakramen Maha Kudus, jika memang ada kapel Adorasi di paroki/ di kota tempat kita tinggal. Atau kita dapat mulai berdoa Rosario setiap hari. Atau mulai dengan setia meluangkan waktu untuk mempelajari Kitab Suci dan Katekismus Gereja Katolik. Atau mengikuti Ibadat Jalan Salib di gereja, atau jika tidak mungkin, melakukannya bersama dengan keluarga di rumah.

Dalam relasi kita dengan sesama, juga tidak terbatas dengan ‘asal sudah nyumbang, maka sudah beres’. Dengan merenungkan sengsara Tuhan Yesus, maka kita diajak untuk lebih peka terhadap sikap kita terhadap sesama yang kurang beruntung. Misalnya, yang paling dekat adalah pembantu rumah tangga dan supir. Pernahkah kita memberi kesempatan pada mereka untuk beristirahat, misalnya memberi mereka libur? Libur di sini tidak termasuk hanya pada libur Lebaran, dst, tetapi libur/ istirahat agar mereka juga dapat berekreasi dan melepas lelah. Atau apakah kita menjalin persahabatan dengan sesama anggota Paroki yang berkekurangan?

Wah, banyak sekali sesungguhnya yang dapat kita lakukan, jika kita sungguh ingin bertumbuh di dalam iman. Namun seungguhnya, mulailah saja dengan langkah kecil dan sederhana. St. Theresia dari Liseux pernah mengatakan tipsnya, yaitu, “Lakukanlah perbuatan-perbuatan yang kecil dan sederhana, namun dengan kasih yang besar.”

Penutup

Maka untuk menjawab pertanyaan awal, “Mau pantang apa aku pada Masa Prapaska ini?”, kita perlu kembali melihat ke dalam hati kita masing-masing. Pasti jika kita mau jujur, akan selalu ada yang dapat kita lakukan. Mengurangi nonton TV, mengurangi ngemil/ jajan, mengurangi nonton bioskop, tidak main game di internet, dll hanya contoh saja, namun itu belum lengkap, jika kita tidak menggunakan waktu tersebut, untuk hal-hal lain yang lebih mendukung perbuatan kasih kita kepada Tuhan dan sesama.

Ya, dengan Rabu Abu, kita diingatkan bahwa hidup kita di dunia ini hanyalah sementara, maka mari kita mempersiapkan diri bagi kehidupan kita yang sesungguhnya di surga kelak. Kita hanya dapat masuk surga dan memandang Tuhan hanya jika kita memiliki kekudusan itu (lih. Ibr 12:14), maka sudah saatnya kita bertanya pada diri sendiri: sudahkah aku hidup kudus? Masa pertobatan adalah masa rahmat yang Tuhan berikan pada kita, untuk mengatur kembali fokus kehidupan kita. Apakah yang menjadi pusat kegiatanku sehari-hari: aku atau Tuhan? Jika kita masih banyak menemukan ‘aku’ sebagai pusatnya, mungkin sudah saatnya kita mulai mengubahnya….

19/12/2018

78
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
38 Comment threads
40 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
38 Comment authors
TribarfinTiaJohnalexemma Recent comment authors
Tia
Member
Tia

Dear Katolistas Team,

Saya punya pertanyaan mengenai pantang dan puasa.
1. Jika kita berkomitmen untuk pantang daging, apakah ikan juga termasuk daging? karena saya mendengar kalau ikan dan daging itu berbeda.
2. Jika kita berkomitmen pantang jajan, apakah jika pada hari kamis (atau hari2 sebelumnya) kita sudah membeli snack, maka hari Jumat kita diperbolehkan untuk memakan snack itu? atau tidak diperbolehkan karena sudah termasuk jajan walaupun membelinya bukan di hari Jumat? Dan jika membeli sayur mayur untuk dimasak ataupun membeli sayur matang pada hari Jumat, termasuk jajan atau tidak?

Mohon petunjuknya. Thanks before & God bless! ^^

Stefanus Tay

Shalom Tia, Secara prinsip, Gereja Katolik hanya memberikan batasan yang sungguh minimal tentang pantang dan puasa. Hal ini disebabkan karena Gereja memandang bahwa pantang dan puasa merupakan manifestasi agar kita turut serta dalam penderitaan Kristus. Jadi, pada waktu pantang dan puasa, maka yang terpenting melakukannya atas dasar kasih kepada Kristus dan menjadi kesempatan agar kita semakin dekat kepada Kristus. Tentang pantang daging, Anda dapat makan ikan. Namun, semua orang dapat melakukan lebih daripada yang disyaratkan. Kalau mau pantang jajan pada hari Jumat, maka yang penting kita tidak makan jajanan pada hari Jumat. Jadi pantangnya tidak makan jajanan bukan pantang beli… Read more »

Tribarfin
Member
Tribarfin

Shalom , Bgaimna cara mnghitung kita berpuasa slama 40 hari sdangkn di kalender sya sudah mlakukan kalkulasi mlai dri hri Rabu Abu sampai paskah trnyata lebih dari 40 hari (tanpa mnghitung hari Minggu). Mohon penjelasannya, trimakasih.

[dari katolisitas: Silakan menghitung dari tanggal 5 Maret – 19 April, tanpa menghitung hari Minggu]

maria
Guest
maria

Dear admin

mohon tolong jelaskan tentang matiraga rohani atau matiraga batin

terima kasih

John
Guest
John

Shalom team katolisitas yg t’kasih…

Menurut sya, ibadat b’puasa & pantang ini sngat perlu & unik skali m’mandang’n sejajarnya dgn p’tobatan & p’mnungan karya kasih Yesus.

Yg ingin sya tnya’n, knapa b’puasa tdk t’masuk dlm Sakramen kudus kita? Krna mnurut sya, b’puasa m’rupakan 1 pilar @ tanda yg dpt m’dorong kpd kselamatan (mlalui p’tobatan & doa)…

Mhon p’cerahan… Krna sya rsa skiranya b’puasa t’msuk dlm Sakramen kudus, pasti kta umat katolik x akn m’anggap enteng ibadat t’sbut…

Thanx in advance
Salam kasih dlm Kristus

emma
Guest
emma

dear katolisitas, saya ingin bertanya tentang kewajiban puasa saya memiliki seorang teman yang pada masa puasa lalu berpuasa dengan mengganti makan normal menjadi roti tawar selama jam kerja, saya perhatikan dia memakan roti tsb 2-3 lembr selama 8 jam kerja dan minum normal, saya bertanya-tanya, bisa ya puasa dengan cara itu? karena selama ini saya mengetahui puasa berpantang daging, garam.. sedangkan berpuasa dengan mengganti dengan makan roti tawar belum pernah saya ketahui.. ternyata sampai detik saya enlis ini, teman kerja yang seiman ini masih menjalani puasa degan cara ini.. saya takut salah kaprah tentang apa yang dia jalani.. mohon bantuan… Read more »

Yindri
Guest
Yindri

Shalom bu Ingrid Saya merasa bersalah krn anak saya pas masa pra paskah kemaren mau berpuasa (hanya makan gandum tawar saja dan air putih), tapi tidak sy ijinkan krn masih terlalu kecil (9th). Selain masalah usia, sebelumnya anak sy mengalami keadaan yg kurang baik oleh teman disekolahnya, beberapa temannya selalu mengambil jatah makan anak saya, ini berlangsung setahun lebih tanpa sy ketahui setelah anak saya jatuh sakit (lambungnya), baru sy mengetahuinya (anak sy menutupi hal ini), krn hal ini sy menyarankan dia utk berpantang saja. Anak sy sempat ngotot, tapi ttp saya larang, akhirnya dia nurut. Sebagai ortu, benarkah yg… Read more »

Erika Aurelia
Guest
Erika Aurelia

Kak , umur ku 12 tahun , aku sedeng belajar puasa untuk mempersiapkan Jumat Agung nanti , sebenarnya aku takut banget di bilang “alim” makanya aku tidak mau memberitahukan kepada ibuku . Hari ini aku terus dipaksa makan sama ibuku tapi aku menolak dan menaruhkan kembali ke meja . Aku berdosa tidak ketika aku menolak ? Apa yang kuharus lakukan ?

Herman Jay
Guest
Herman Jay

Dasar Pemikiran Ketentuan Masa Puasa Sebagai upaya pendewasaan pengetahuan dan penghayatan iman Katolik, seyogyanya dijelaskan latar belakang dan alasan dari setiap ketentuan masa puasa . 1, Rentang umur yang wajib berpuasa : 18 – 60 tahun. Mengapa startnya mulai usia 18 tahun? Mengapa bukan mulai dari umur yang lebih muda? 2. Rentang umur yang wajib pantang : 14 – 60 tahun. Mengapa startnya mulai usia 14 tahun? 3. Mengapa puasa katolik lebih enteng dari puasa islam? Kayaknya puasa katolik puasa bohong-bohongan. 4. Banyak umat sekarang melek kesehatan, sehingga sudah tidak makan daging atau tidak merokok , tidak jajan berlebihan walau… Read more »

Markus
Guest
Markus

Salam Damai Sejahtera bagi kita semua. Saya mau tanya, apakah puasa bagi orang Katolik menjelang Paskah itu wajib? Mohon penjelasannya.Terima kasih.

[dari katolisitas: silakan membaca artikel di atas – silakan klik]

Herman Jay
Guest
Herman Jay

Puasa Tidak Sejalan Dengan Kristianitas?
Saya bertemu dengan seseorang dari salah satu gereja. Kebetulan bulan bulan puasa, sehingga pembicaraan melantur ke pokok pembicaraan tentang puasa.
Saya menyatakan orang kristen juga mengenal puasa. Namun, di gereja orang tersebut, puasa tidak dijalankan lagi dengan alasan Yesus sudah membebaskan semua pengikutnya dari kewajiban berpuasa.
Walau menjadi pengikut Kristus, tidak berarti cara hidup Yesus harus diikuti semua pengikutnya. Kalau Yesus tidak kawin, toh pengikutnya tidak harus tidak kawin.

Stefanus Tay

Shalom Herman Jay, Saya rasa, saya tidak perlu mengungkapkan bahwa Yesus (lih. Mat 4:1-2; Mrk 1:12-13; Luk 4:1-2), dan jemaat perdana melakukan puasa (lih. 2Kor 6:5; 2Kor 11:27; Kis 9:9; Kis 13:2-3; Kis 14:23) . Lihat juga artikel di atas – silakan klik – tentang pentingnya berpuasa dan berpantang. Kalau memang ukuran yang dipakai adalah walaupun menjadi pengikut Kristus namun tidak perlu mengikuti kehidupan Kristus, maka pertanyaan saya adalah: Apakah mereka perlu mengampuni dosa sesama, karena Kristus mengajarkan pengampunan? Apakah mereka perlu untuk berdoa, karena Kristus berdoa? Kalau memang perlu, maka mengapa puasa tidak perlu? Dan apakah parameternya, perintah mana… Read more »

LOVE GOD
Guest
LOVE GOD

shalom.
Saya ada satu soalan.
Kalau Yesus berpuasa selama 40 hari ketika berada di bumi sebelum diangkat naik ke syorga, mengapa kita tidak berpuasa selama tempoh tersebut?

[Dari Katolisitas: Masa Puasa dan pantang Umat Katolik adalah empat puluh hari, yaitu dalam Masa Prapaska. Silakan membaca di artikel di atas, tentang Mengapa Kita Berpantang dan Berpuasa, silakan klik]

maria
Guest
maria

salam sdr Ocavianus sy mw sharing kisah sy.sy pnya penyakit maaq.lumayan parah.dulu krn alasan itu sy tdk mampu utk berpuasa tp mungkin krn dorongan Roh Kudus sy mencoba belajar puasa.awal cukup berat bukan krn tdk kuat menahan lapar tp krn waktu makan perut sy tdk bs menerima mknan,kepala pusing,perut mual.walaupun mknan msuk tp sy akn menderita sepanjang mlm.stamina drop begitu jg dg ketahanan tubuh turun.sy tdk putus asa,sy hrs mengalahkn penyakit ini.awalnya sy cb sehari puasa,sehari recovery begitu seterusnya smp paskah.mungkin krn Roh Kudus jg smp sekarang sy mampu berpuasa 2x seminggu dn saat prapaskah sy mampu puasa spti yg… Read more »

Ocavianus
Guest
Ocavianus

Bagaimana cara orang yang menderita gastroentritis (sejenis magh) melakukan puasa pada masa Pra-Paskah? Terima kasih. Tuhan memberkati.

ikang
Guest
ikang

shalom.

saya ingin bertanya bagaimana cara umat katolik berpuasa pada masa advent dan pada masa prapaskah.dan makanan dan minuman apa saja yang boleh dihidangkan dalam berpuasa,dari pukul berapa hingga pukul berapa!! saya bertanya sebab iman saya kurang dan saya ingin lebih mengerti tentang agama yang saya peluk!!!mohon pencerahaannya nya teman2.

Luhut Tamba
Guest
Luhut Tamba

Pengasuh yang terkasih…. saya seorang Katolik yang sangat mengasihi iman Katolik walaupun saya masih banyak kekurangan untuk menjadi seorang Katolik yang baik, beruntunglah saya menemukan forum ini, dgn harapan wawasan saya tentang iman saya bisa terbina. Sedikit pertanyaan saya kali ini, yaitu,: – bagaimana berpuasa menurut iman Katolik? Dan apakah puasa Senin-Kamis (seperti yg banyak dilakukan di Jawa) sesuai dgn iman Katolik? – bulan ini dalam tradisi Katolik adalah bulan Rosario, apakah berdoa Rosario dalam bulan ini harus dilakukan pada jam yang sama (bila mendaraskannya tiap hari)? Terimakasih sebelumnya kepada admin yg telah menjawab pertanyaan saya ini, semoga kita semua… Read more »

Bernardus Aan
Guest
Bernardus Aan

Salam Damai Kristus sdri Desy, Saya hanya menambahkan saja bahwa pada Umat Gereja Perdana juga melakukan puasa Hari Rabu dan Jum’at. Ini terdapat pada Didakhe (Ajaran Tuhan melalui 12 Rasul kepada seluruh bangsa) pada Bab 8. Dari terjemahan http://www.ekaristi.org bunyi dari bab tersebut adalah sebagai berikut : Bab 8. Puasa dan Berdoa (Doa Bapa Kami). Tapi janganlah puasamu seperti orang orang munafik (farisi), karena mereka hanya berpuasa pada hari kedua dan kelima dalam satu minggu. Sebaliknya, berpuasalah pada hari keempat (Rabu) dan pada hari Persiapan (Jumat). Jangan berdoa seperti orang orang munafik (farisi), sebaliknya seperti yang diperintahkan Tuhan dalam GerejaNya,… Read more »

desy
Guest
desy

yth.katolisitas saya dan ibu saya melakukan puasa seminggu 2x setiap hari rabu dan jumat.walaupun masa puasa sudah berakhir kami masih berpuasa sebagai ujud syukur kami kepada Tuhan.puasa ini kami lakukan sudah cukup lama.pernah teman ibu saya,banyak sebenarnya yng menanyakn kepada ibu saya kenapa hari rabu dan jumat,tidak senin dan kamis?jawabnnya karena senin dan kamis,tradisi jawa,kami ingin mengikuti tradisi katolik,rabu,karena awal dari puasa(rabu abu),jumat karena sengsara dan wafat yesus(jumat agung). kenapa masih puasa,kan masa puasa sudah habis dan begitu juga bila memilih hari rabu dan jumat karena alasan tresebut tidak dibenarkan karena itu hanya untuk pas masa puasa.apkah benar yang kami… Read more »

fenky
Guest

Dear Katolisitas, terima kasih atas jawaban yang diberikan. Untuk poin no.7 memang saya tidak memiliki dasar apapun dalam mengatakan bahwa hanya ada 20% saja umat Katolik yang berpuasa. Itu semata hanyalah pendapat pribadi saya, harap perhatikan di atas saya menggunakan kata mungkin, yang berarti saya tidak dapat menunjukkan bukti atau fakta apapun. Saya rasa karena beberapa pengalaman pribadi yang saya alami sehingga saya sampai menyatakan seperti itu. Saya mohon maaf menyatakan sesuatu yang tak berdasar. Silakan mengunjungi link berikut: http://www.cathnewsindonesia.com/2010/12/21/iman-terkisis-dalam-kesibukan-hidup/. Mungkin artikel dalam link tersebut sedikit banyak mempengaruhi pendapat saya. Sekedar sharing, dulu saat masih bersekolah, kebetulan saat itu bulan… Read more »

fenky
Guest

Dear Katolisitas, saya memiliki pertanyaan mengenai aturan pantang dan puasa. Berhubung selama ini pertanyaan saya ini sering mendapat jawaban yang bermacam-macam (berbeda-beda), saya harap katolisitas dapat memberikan jawaban yang pasti yang dapat saya jadikan pegangan. Jika Katolisitas sudah pernah membahasnya mohon memberikan linknya. Aturan puasa dalam gereja Katolik (dalam surat KWI) pada intinya hanya terdiri dari satu kalimat berikut: “Makan kenyang satu kali.” Sementara keterangan yang lainnya adalah siapa saja yang wajib melakukannya, atau kapan saja waktu untuk melakukannya. Padahal kalimat “makan kenyang satu kali” tersebut sangat ambigu dan menimbulkan banyak pemahaman (dan pertanyaan), setidaknya bagi saya, dan inilah yang… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X