Memaknai Liturgi Jumat Agung

[Jumat Agung: Yes 52:13-53:12; Mzm 31:2-25; Ibr 4:14-16; 5:7-9; Yoh 18:1-19:42]

Perayaan Trihari Suci, yaitu sejak Kamis Putih sampai dengan Minggu Paskah, menjadi puncak perayaan liturgi setiap tahunnya. Sungguh, meskipun kita merayakannya tahun demi tahun, tetap saja kedalaman maknanya tak akan terselami sampai tuntas, selama kita masih berziarah di dunia ini. Homili tentang Sengsara, Wafat dan Kebangkitan Tuhan Yesus yang ada di sepanjang sejarah Gereja, juga begitu banyak, dan mungkin tidak terhitung. Berikut ini adalah salah satu cuplikannya, yaitu homili dari imam pengkhotbah kepausan, Fr. Raniero Cantalamessa, OFM Cap.: [1]

“Sejumlah Bapa Gereja di abad-abad awal menyertakan suatu gambaran tentang keseluruhan misteri penebusan. Bayangkanlah, kata mereka, bahwa sebuah pertarungan yang hebat terjadi di stadium. Seorang yang gagah berani melawan seorang penganiaya yang kecam yang telah membuat seluruh penduduk kota menjadi budak. Sang petarung mengalahkan sang penganiaya itu, dengan usaha dan penderitaan yang luar biasa. Kamu ada di teras penonton; kamu tidak bertarung, ataupun berbuat usaha apapun atau menjadi luka. Namun demikian, kalau kamu mengagumi orang yang berani itu, kalau kamu bersukacita dengan dia atas kemenangannya, kalau kamu menganyam mahkota, bangkit dan menggerakkan para penonton untuknya, kalau kamu berlutut dengan sukacita di hadapan sang pemenang, mencium kepalanya dan menjabat tangan kanannya; dengan kata lain, kalau kamu menyambut kemenangannya dengan amat hangat seperti halnya kemenanganmu sendiri, kukatakan kepadamu, bahwa tentu kamu akan memiliki sebagian dari hadiah si pemenang.

Namun demikian, lebih lagi: bayangkan, bahwa sang pemenang tidak memerlukan hadiah yang telah dimenangkannya untuk dirinya sendiri, tetapi menghendaki di atas segalanya, untuk melihat bahwa para pendukungnya dihormati dan menganggap sebagai hadiah pertarungannya, jika temannya itu diberi mahkota. Dalam kasus ini, mungkin, apakah orang itu tidak akan menerima mahkota meskipun ia tidak berusaha keras ataupun menjadi terluka? Ia pasti akan mendapatkannya!

Maka, kata para Bapa Gereja, itulah yang terjadi antara Kristus dan kita. Pada salib, Yesus mengalahkan musuh (iblis). “… kita tidak bersusah payah berjuang, kita tidak terluka, kita bahkan tidak melihat pertarungan itu, tetapi kita memperoleh kemenangan. Pertarungan itu adalah milik Kristus, tetapi mahkotanya adalah milik kita. Dan karena kita juga adalah pemenang, mari mengikuti apa yang dilakukan oleh para prajurit dalam kasus serupa: dengan suara sukacita, marilah kita mengagungkan kemenangan. Mari kita menyanyikan pujian kepada Tuhan”! Tak mungkinlah kita menjelaskan dengan lebih baik, arti liturgi yang kita sedang rayakan.

Namun demikian, apakah yang kita lakukan merupakan sebuah gambaran/  tanda dari kejadian masa lampau, atau apakah itu adalah kejadian itu sendiri? Itu adalah keduanya! “Kami—kata St. Agustinus kepada orang-orang—tahu dan percaya dengan iman yang pasti bahwa Kristus wafat hanya sekali untuk kita  […]. Kamu tahu secara sempurna bahwa segalanya telah terjadi hanya sekali. Dan tetapi  perayaan memperbaharuinya secara berkala […]. Kebenaran historis dan perayaan liturgis tidak bertentangan satu sama lain, seolah yang kedua adalah salah dan hanya yang pertama saja yang sesuai dengan kebenaran. Nyatanya, dari apa yang menurut sejarah terjadi hanya sekali,  upacara secara berulang-ulang memperbarui perayaan itu di dalam hati umat beriman.”

Liturgi “memperbarui” kejadian itu: betapa banyak diskusi telah terjadi selama lima abad terakhir, tentang arti kata ini, terutama ketika diterapkan pada kurban salib Kristus dan Misa! Paus Paulus VI menggunakan sebuah kata kerja yang dapat memuluskan jalan kepada persetujuan ekumenis terhadap argumen tersebut: kata “menggambarkan/ represent”,  yang dipahami dalam arti yang kuat dari re-presenting/ menghadirkan kembali, artinya adalah untuk menjadikan apa yang telah terjadi, hadir kembali dan berdayaguna.

Kita tidak hanya merayakan suatu peringatan tahunan, tetapi sebuah misteri. Lagi, St. Agustinus menjelaskan perbedaan antara keduanya. Dalam perayaan “dengan cara anniversary (kejadian yang diperingati setiap tahun)”, tak ada hal lain yang disyaratkan— katanya—daripada untuk menunjukkan dengan upacara religius suatu hari dalam tahun, yang didalamnya peringatan suatu kejadian dilakukan”. [Namun] dalam perayaan  “dengan cara misteri, dalam sakramen”, “tak hanya kejadiannya diperingati, tetapi itu dilakukan sedemikian dimana artinya dipahami dan diterima dengan penuh iman dan bakti.”

Ini mengubah segalanya. Maka itu tidak hanya masalah menghadiri sebuah penggambaran, tetapi masalah “penerimaan” maknanya, yaitu beralih dari para penonton menjadi para pelaku. Menjadi tergantung kita, peran apa yang mau kita lakukan dalam drama itu, siapa yang kita inginkan: Petrus, Yudas, Pilatus, orang banyak, Simon orang Kirene, Yohanes, Maria … tak seorangpun dapat tetap ‘netral’. Tak mengambil peran berarti menjadi seperti Pilatus yang mencuci tangannya, atau orang banyak “yang berdiri dan menonton” (Luk 23:35).

Jika ketika kamu pulang sore ini, dan seseorang bertanya kepada kita, “Dari mana kamu?”… Kita mesti menjawab, setidaknya di dalam hati: “di Kalvari!”

 

[1] Fr. Raniero Cantalamessa OFM. Cap, Homily on the Celebration ot the Passion of the Lord,  6 April 2012.

19/12/2018
Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X