Setup Menus in Admin Panel

Meditasi dan Kontemplasi

Pertanyaan:

Bu Ingrid,
Bagaimana ajaran katolik mengenai pemahaman meditasi dan kontemplasi, dan bagaimana pula perbedaannya karena akhir-akhir ini kita mengenal meditasi Kristiani dari Fr John Main OSB, seorang rahib Benedictin? Menurut Guigo (the ladder of monk), meditasi merupakan upaya memahami atau merenungkan karunia Allah sedangkan kontemplasi merupakan upaya merasakan indahnya karunia tersebut. Definisi lain mengatakan bahwa meditasi yang berasal dari kata meditare (“stare in medio”) berarti “berada di pusat,” sedangkan kontemplasi berarti bersama Allah di dalam hati kita.
Saya juga ingin bertanya tentang posisi manusia terhadap Allah menurut ajaran Katolik. Apakah manusia berhadapan dengan Allah seperti seorang hamba yang bertelut di hadapan sang Raja ataukah manusia boleh menjadi satu dengan-Nya seperti ajaran Alm Rm Dick Hartoko SJ, “manunggaling kawulo-gusti”? Dalam Alkitab kita memang menemukan ayat-ayat yang mendukung kedua pandangan tersebut. Dalam Lukas 10:42, Yesus mengatakan Maria telah memilih bagian yang terbaik yang tidak akan diambil dari padanya karena Maria telah duduk dekat kaki Tuhan dan mendengarkan perkataan-Nya. Sementara di dalam Yohanes 14:20, Yesus mengatakan, “Aku di dalam Bapa-Ku dan kamu di dalam Aku dan Aku di dalam kamu.”
Tuhan memberkati,

Andryhart

Jawaban:

Shalom Andryhart,
1) Jika kita melihat meditasi dan kontemplasi dalam tradisi doa Gereja Katolik, maka kita dapat melihat pengertian meditasi- kontemplasi yang anda sampaikan adalah benar. Dalam tradisi doa Karmelit, seperti yang diajarkan oleh St. Teresa dari Avila, dan diteruskan oleh Padre Tomas de Jesus (1587), maka terlihat meditasi dan kontemplasi merupakan dua metoda doa yang saling berkaitan. Ketujuh bagian dalam metoda doa Karmelit adalah: persiapan, pembacaan dari Alkitab/ bacaan rohani, meditasi, kontemplasi, ucapan syukur, permohonan, dan penutup.
Memang meditasi menurut St. Teresa dari Avila, sebaiknya diikuti oleh Prayer of recollection, yang artinya mengumpulkan semua usaha dari jiwa, yaitu, baik memori, imajinasi, intelek/ pemikiran, ataupun keinginan untuk dapat dipusatkan dan masuk dalam hadirat Allah. Langkah selanjutnya dari Prayer of recollection ini adalah Prayer of Quiet, yang menjadi awal dari kontemplasi. Di dalam bukunya “Puri Batin/ Interior Castle“, St. Teresa mengumpamakan sebuah ‘istana kristal’ yang berlapis-lapis yang ada dalam hati kita. Pada pusatnya hadirlah Yesus dengan terang-Nya yang memancar. Namun untuk sampai ke sana kita harus melalui lapisan-lapisan ‘bilik/ mansion‘ tersebut, yang totalnya berjumlah 7 lapisan. Pada lapisan awal itu terdapat banyak ‘binatang melata’ yang mengganggu kita, yaitu pikiran-pikiran yang mengganggu konsentrasi kita sewaktu berdoa. Nah, untuk menepiskan gangguan ini, menurut St. Teresa, seseorang harus mengumpulkan segenap kemampuan jiwanya, agar ia dapat terus memusatkan diri kepada Yesus yang ada pada lapisan yang terakhir (bilik yang ketujuh). Pada lapisan terakhir inilah kita mengalami persatuan dengan Allah yang menjadi tujuan kontemplasi. Maka terlihat di sini bahwa meditasi dan prayer of recollection tersebut merupakan langkah/ jalan menuju kontemplasi. Mungkin suatu saat nanti Katolisitas akan menuliskan apa saja ketujuh tahapan menurut St. Teresa tersebut, sehingga bersama kita akan dapat semakin memahami perjalanan doa menuju kontemplasi.

Nah, melihat pola tingkatan ini, maka ajaran Fr. John Main OSB dengan memperkenalkan cara meditasi dengan mantra Kristiani, ataupun ajaran Romo Yohanes O Carm tentang doa Yesus dengan ritme tarikan/ hembusan nafas, dapat dikatakan tidak bertentangan dengan tradisi doa meditasi Katolik. Dengan catatan, jika mau menggunakan ‘mantra’ untuk membantu, kata itu haruslah yang umum kita kenal dan kita ketahui artinya dalam tradisi Kristiani. Jika demikian, tentu hal ini dapat saja dilakukan, karena itu hanya merupakan cara memusatkan hati dan pikiran. Jika kita sudah terbiasa dengan ritme tersebut, maka akan lebih mudah bagi kita untuk menggunakan imajinasi atau pikiran kita untuk merenungkan tentang Allah. Jadi prinsipnya mirip dengan yang diajarkan oleh St. Teresa, bahwa kita perlu memusatkan segenap hati dan pikiran kepada Tuhan di dalam doa-doa kita. Ini sungguh merupakan perjuangan, karena memang tak jarang, begitu kita mulai berdoa, ada banyak pikiran yang dapat mengganggu konsentrasi kita. St. Teresa mengandaikan tahap pemula ini sebagai seorang petani yang harus bersusah payah menimba air sumur untuk mengairi sawahnya, sedangkan lama kelamaan jika tidak terlalu banyak usaha yang diperlukan, itu seumpama petani yang mengairi sawahnya dengan mengarahkan air dari sungai/ mata air.
Jika kita dengan disiplin melatih rohani kita dengan meditasi/ prayer of recollection, maka ada saatnya dimana doa bukan menjadi sesuatu yang sangat sulit/ merupakan perjuangan keras [untuk mengalahkan pikiran yang berkecamuk] namun hati yang terarah kepada Tuhan akan lebih mudah tercapai. Di sini, perlu kita ketahui bahwa ada dua jenis kontemplasi, yang pertama disebut acquired contemplation yaitu kontemplasi yang diperoleh dengan ‘usaha’ dari pihak kita, dan kedua, disebut sebagai infused contemplation, yaitu kontemplasi yang sungguh diberikan dari Allah sendiri.  Tentu kedua tahap ini mensyaratkan disposisi hati yang baik di dalam doa dan kehidupan rohani kita. Menurut St. Teresa, pure contemplation adalah infused contemplation, yang hanya dapat diberikan oleh Allah sendiri.Di akhir kontemplasi ini adalah pengalaman persatuan dengan Tuhan, dimana hanya kasih Allah yang begitu besar yang mengatasi segalanya, sehingga tidak dapat lagi diuraikan dengan kata-kata. St. Teresa mengandaikan hal ini sebagai seorang petani yang tidak perlu lagi mengairi sawahnya, karena hujan yang begitu deras telah turun dari surga dengan limpahnya, dan sang petani hanya menikmati siraman air kehidupan tersebut dengan kebahagiaan yang tak terlukiskan. Perlu juga diketahui, bahwa St. Teresa tidak merendahkan makna doa vokal/ dengan kata-kata. Sebab jika didoakan dengan sepenuh hati, maka doa vokal ini dapat pula menghatar seseorang kepada kontemplasi.

2) Melihat pengertian di atas, maka hubungan kita dengan Tuhan di dunia ini sesungguhnya meliputi kedua sisi yang anda sampaikan. Yaitu kita harus belajar bertumbuh dalam kerendahan hati untuk duduk di kaki Tuhan seperti Maria (Luk 10:42), dan mempunyai hati sebagai seorang hamba, yang mau dengan segenap jiwa dan tenaga berusaha melaksanakan kehendak-Allah. Namun, kita juga percaya, bahwa di tengah-tengah perjalanan hidup kita di dunia ini, Tuhan menyertai kita dan tinggal di tengah kita. Inilah yang secara khusus kita rayakan dan kita alami dalam Ekaristi Kudus. Walaupun, kita juga menyadari bahwa persatuan kita dengan Allah secara sempurna hanya terjadi di Surga, namun sementara hidup kita di dunia, Tuhan telah mengizinkan kita untuk mulai mengalami rahmat persatuan itu, melalui dan di dalam Gereja Katolik. Lumen Gentium 1 dan KGK 776 mengatakan, Gereja adalah sarana keselamatan bagi semua orang, “tanda dan sarana persatuan mesra dengan Allah dan kesatuan seluruh umat manusia.”
Memang pada akhirnya, jika kita sampai di surga nanti, yang ada tinggal persatuan kita yang sempurna dengan Tuhan, atau disebut juga dengan kontemplasi yang sempurna (beatific vision), di mana kita memandang Allah di dalam Dia dalam keadaan yang sebenarnya (1Yoh 3:3), karena kita telah dipersatukan dengan Kristus. Dalam hal ini, tepatlah apa yang disampaikan oleh Alm Rm Dick Hartoko SJ, “manunggaling kawulo-gusti”. Namun perlu kita ingat dalam persatuan antara kita dengan Allah ini tidak menjadikan kita manusia sebagai Allah. Setiap manusia akan tetap mempunyai identitasnya sendiri-sendiri, namun semuanya tergabung dalam kesatuan yang sempurna dalam kesatuan Umat Allah, sebagai satu Tubuh Kristus, yang dibangun sebagai Bait Roh Kudus, di mana Allah meraja di dalam semua (lih. 1Kor 15:28). Inilah tujuan akhir dari Gereja yang jaya di surga kelak.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

Tinggalkan pesan

34 Komentar di "Meditasi dan Kontemplasi"

Ingatkan untuk

Disortir menurut:   terbaru | terlama
fxe
Guest
fxe
3 tahun 6 bulan yang lalu
Dear Katolisitas; Belakangan ini, ada banyak kesalahpahaman mengenai praktek doa: baik “Meditasi Kristiani” oleh Fr. John Main OSB, “Doa Yesus, dan khususnya “Doa Keterpusatan/Centering Prayer” oleh Fr. Thomas Keating OCSO. Ada kekuatiran dari sejumlah kalangan kalau praktek doa ini meninggalkan spritualitas orthodox Gereja Katolik karena tercampur kedalam “spiritualitas timur” atau “TM/new age”. Kekuatiran ini diperparah oleh beberapa praktisi meditasi ini yg memang menyimpang, entah karena ketidak-tahuan mereka, ataupun mereka memang berniat indiferentisme atau sinkretisme. Untuk mengetahui maksud/tujuan “asli” praktek2 doa di atas, sumber terbaik adalah mendengar dari TANGAN PERTAMA. Sayang, Fr. John Main OSB sudah meninggal. Tetapi Fr. Thomas Keating… Read more »
marlena
Guest
marlena
3 tahun 10 bulan yang lalu

salam damai,bu,,saya mau nanya..kalo roh kudus masuk dalam tubuh kita,apa yang akan kita rasa?karna,dulu,waktu saya berdoa utk novena 3 salam maria,,saya merasa tubuh saya melayang-layang,dan tubuh saya gementar dan,bibir saya ingin mengatakan sesuatu,tapi,ngga terkeluar,,jadinya..saya sangat ketakutan dan saya cepat-cepat habiskan doa itu,,,dan setelah habis,saya seperti ngga da hala tuju,contohnya,keluar kamar,masuk kamar,,bantu saya ya? siapa saja yang mempunyai jawapan,,,,GOD BLESS YOU!

Romo Yohanes Dwi Harsanto
Guest
Romo Yohanes Dwi Harsanto
3 tahun 9 bulan yang lalu
Salam Marlena, Silahkan merenungkan apa yang Anda alami dengan informasi berikut ini. Silahkan cek juga ke KGK pada nomer-nome tersebut. Kegiatan Roh Kudus pada makhluk ciptaan ialah: memberi rahmat pada manusia (KGK 2003); menghidupi semua makhluk (KGK 703); Membimbing melalui rahmat menuju kebebasan rohani (KGK 1742); memungkinkan hubungan kita dengan Kristus (KGK 683), membangkitkan iman (KGK 683), menganugerahkan cinta sebagai anugerah yang pertama (KGK 733, 735). Lagi pula, dalam suratnya kepada umat Galatia, St Paulus memberi kita pedoman bagaimana hidup yang dalam roh jahat/ buah roh yang jelek dan apa tolok ukur jika dibimbing dalam Roh Kudus (Gal 5: 16-22).… Read more »
RK
Guest
RK
4 tahun 3 bulan yang lalu
Dear Mba’ Inggrid Saya pernah menjalani meditasi sekitar tahun 1995, namun akhirnya saya memutuskan untuk berhenti berlatih karena di samping hal-hal baik yang diperoleh dari meditasi, saya menemukan juga hal-hal lain yang bersinggungan dengan supranatural. Dalam artian, salah satu hasil dari meditasi yang pasti adalah kepekaan, intuisi dan sensitivitas kita semakin tajam, namun pada taraf tertentu dan hanya pada orang tertentu juga bisa disertai dengan manifestasi supranatural, misalnya ‘merasakan’ kehadiran roh lain. Memang justru manifestasi ini tidaklah muncul selama menjalani meditasi karena pada saat itu pikiran kita diikat dengan mantra (dalam meditasi kristiani adalah ma-ra-na-tha, dan dalam doa Yesus adalah… Read more »
ferdi
Guest
ferdi
4 tahun 4 bulan yang lalu

Bu Inggrid mau nanya: bolehkah melakukan meditasi doa Yesus tanpa pendamping yang berpengalaman?

[dari katolisitas: Tidak menjadi masalah untuk melakukan doa Yesus secara pribadi.]

yongky
Guest
yongky
4 tahun 11 bulan yang lalu
dear , katolisitas saya ingin menanyakan mengenai meditasi katolik , – saya pernah mengikuti meditasi katolik yang diadakan oleh gereja , 1. kami peserta di beri pengetahuan tentang cara masuk dalam keheningan , yaitu dengan membuka cakra – cakra manusia , kalau tidak salah dari aliran tertentu yang saya lupa namanya 2. setelah itu kita berdoa secara katolik , dan mulai mengambil posisi duduk yang relax dan mulai mengambil nafas teratur dari hidung dan dimasukan ke ulu hati dan ditekan terus sampai kepusar , dan di teruskan sampai ke cakra dibawah , (maaf ) , diantara dubur dan kelamin ,… Read more »
Tommy Gunawan
Guest
Tommy Gunawan
5 tahun 6 bulan yang lalu
Selamat pagi, bapak-ibu yang diberkati Tuhan. Sebelumnya, saya mengucapkan terimakasih atas web ini. Sungguh! Sungguh sangat berguna dalam perjalanan iman saya. Saya pribadi semakin mencintai ajaran katolik dan sangat terdorong menekuni ajaran katolik karena web ini. Semoga kita semakin menyerupai Yesus. Dalam kesempatan ini, saya ingin bertanya mengenai: – metode meditasi yang saya temukan dalam kumpulan artikel di alamat web ini: http://gerejastanna.org/category/renungan/meditasi/ Apakah Meditasi Mengenal Diri yang dibahas di sana sesuai dengan ajaran katolik? Karena sepemahaman saya, yang saya baca di kumpulan artikel di sana, sepertinya mirip dengan meditasi zen. – apakah pengalaman kontemplasi Bernadette Roberts sesuai dengan ajaran katolik?… Read more »
dewi
Guest
dewi
5 tahun 8 bulan yang lalu
syallom bu Iggrid, saya baru bergabung dgn meditasi di gereja saya yg dibimbing oleh seorang suster, ada beberapa yg ingin saya tanyakan bu 1. mantra maranatha apa kah diucapkan dgn bersuara(sampai ke telinga kita) atau cukup diucapkan di batin saja ? 2. waktu pertama kali ikut, malamnya saya buang buang air sampai 4 kai bu ( tapi saya tidak lemas, tidak seperti orang diare krn salah makan atau krn virus), apa memang di meditasi ada proses detoks bu? 3. saat meditasi tubuh saya seperti bergoyang kesamping dan kebelakang,apa memang bisa seperti itu bu? padahal sy hanya duduk rileks dan tegap… Read more »
Albertus Koensmadhi
Guest
Albertus Koensmadhi
6 tahun 5 bulan yang lalu

Terima-kasih Ingrid atas semua keterangan yang diberikan tentang meditasi dan kontemplasi Katolik. Tolong diberitahu jika ada tulisan2 mutakhir tentang meditasi dan kontemplasi, dan sekali lagi terima-kasih.

flavianus apul
Guest
flavianus apul
6 tahun 7 bulan yang lalu

iya mba inggrid yang di atas saya mengerti.

Yang saya permasalahan di sini bila:

1.ada praktek doa seperti halnya doa syafaat versi protestan,atau ada sautan umat pada saat pemimpin doa membawakan doa.

2.ada prakter pemimpin doa membawakan doa pada saat peserta yang lain menyanyikan lagu pujian.

dalam prakteknya 2 point di atas ada pada saat saya mengikuti sesi meditasi lingkungan,bagaimana…?
dan sebenarnya nyanyian pujian yang di bawakan sumbernya dari mana,lagu2 katolik kah atau bebas saja…?

Terimakasih.

andryhart
Guest
andryhart
7 tahun 4 bulan yang lalu
Bu Ingrid, Bagaimana ajaran katolik mengenai pemahaman meditasi dan kontemplasi, dan bagaimana pula perbedaannya karena akhir-akhir ini kita mengenal meditasi Kristiani dari Fr John Main OSB, seorang rahib Benedictin? Menurut Guigo (the ladder of monk), meditasi merupakan upaya memahami atau merenungkan karunia Allah sedangkan kontemplasi merupakan upaya merasakan indahnya karunia tersebut. Definisi lain mengatakan bahwa meditasi yang berasal dari kata meditare (“stare in medio”) berarti “berada di pusat,” sedangkan kontemplasi berarti bersama Allah di dalam hati kita. Saya juga ingin bertanya tentang posisi manusia terhadap Allah menurut ajaran Katolik. Apakah manusia berhadapan dengan Allah seperti seorang hamba yang bertelut di… Read more »
flavianus apul
Guest
flavianus apul
6 tahun 7 bulan yang lalu

meditasi Kristiani dari Fr John Main OSB,urutannya seperti apa..?

gendutinjel
Guest
gendutinjel
7 tahun 8 bulan yang lalu

Yth : Stefanus Tay & Inggrid Listiati

Perihal meditasi yg sudah sampai di Lingkungan saya (aliran ‘x’ bukan dari Gereja Katolik) tapi sangat disosialisasikan oleh beberapa oknum senior Lingkungan dengan alasan untuk penyembuhan.
Bahkan salah satu seksi di gereja memanggil masternya dari Philipina yang notabene beragama Katolik ?
Tetapi yang aneh Ajaran/Prinsip Dasarnya aliran ‘x’ itu adalah ‘hitam dan putih adalah sama/seimbang !
Terus saya bertanya, klo atas dasar pengajaran seperti itu dapat berarti Tuhan Yesus dan Raja Setan itu seimbang dong ?
Sepengetahuan saya itu,sudah bertentangan dengan Injil(Sabda Tuhan) deh…dan banyak umat yang tertarik ajaran meditasi tersebut.

Salam dalam Kasih Yesus Kristus,
Gendut

Jus Soekidjo
Guest
Jus Soekidjo
7 tahun 8 bulan yang lalu

Peri hal meditasi. Kalau dalam meditasi kita arahkan untuk mencari “keperkasaan, kekuatan”, jelas meditasi seperti tidak boleh. Tetapi kalau kita mau meditasi di mana Kitab Suci sebagai sumber inspirasi dan pegangan hidup, maka itu malah dianjurkan. Meditasi Kitab Suci yang berbasiskan “lectio divina”, yang merupakan tradisi gereja perdana, menurut saya saya sangat dianjurkan dewasa ini. Lectio divina sampai saat ini banyak dilakukan tidak hanya oleh biarawan-biarawati, tetapi juga oleh awam yang kini mulai diminati oleh umat. Jika orang mengalami krisis iman, mari kembali kepda “lectio divina”.

Tuhan berkati.

Jus S

Ingrid Listiati
Guest
7 tahun 8 bulan yang lalu
Shalom Gendut, Kami prihatin dengan adanya banyak orang Katolik yang tertarik mengikuti meditasi non-Katolik yang mengajarkan ‘keseimbangan antara hitam (kejahatan) dan putih (kebaikan)’. Kelihatannya meditasi semacam ini adalah semacam aliran New Age yang tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Gereja Katolik tidak pernah mengajarkan bahwa kekuatan baik seimbang dengan kekuatan yang jahat, apalagi mensejajarkan Kristus dengan Iblis. Hal ini sungguh tidak sesuai dengan ajaran Gereja Katolik. Saya pernah menuliskan tanggapan Gereja Katolik mengenai aliran New Age ini, dalam tulisan ini (silakan klik). Jadi memang sebaiknya kita waspada terhadap aliran-aliran meditasi semacam ini. Jangan sampai, demi mengejar kesembuhan, kita tidak lagi… Read more »
wpDiscuz
katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. @Copyright katolisitas - 2008-2016 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial |
Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.