Masih Perlukah Sakramen Pengakuan Dosa (Bagian 1) ?

Pendahuluan

Berapa sering kita mendengar saudara kita dari agama Kristen lain yang mengatakan bahwa “Pengakuan dosa adalah cuma karangan Gereja Katolik saja. Alkitab mengatakan bahwa Tuhan sendiri yang memberikan pengampunan, bukan pastor. Jadi sudah seharusnya kita langsung mengaku dosa langsung kepada Yesus, dan tidak perlu mengakukan dosa di hadapan pastor. Memangnya Kitab Suci mengajarkan pengakuan dosa? Ah, pastor khan cuma orang biasa, kenapa kita musti mengaku dosa di depan pastor?”

Kemudian ada komentar-komentar dari orang Katolik yang mengatakan “Setelah kita mengaku dosa, kita juga berdosa lagi, jadi pengakuan dosa tidak ada gunanya… Saya malu, karena saya kenal sama pastornya. Bagaimana kalau pastornya sampai membocorkan rahasia pengakuan dosa saya?” Kemudian ada lagi yang mengatakan bahwa pengakuan dosa hanya urusan satu kali dalam satu tahun.

Mari kita lihat satu persatu keberatan tersebut di atas berdasarkan Alkitab, Bapa Gereja, dari pengajaran Gereja, dan juga perkembangan Sakramen Pengakuan Dosa. Pada bagian pertama ini, kita akan menelaah terlebih dahulu tentang apa sebenarnya hakekat dari dosa, sehingga kita akan secara lebih jelas menghayati bahwa Sakramen Pengakuan Dosa sungguh merupakan berkat dari Tuhan untuk membantu kita bertumbuh dalam kekudusan.

Apakah ‘dosa’ itu?

Ada begitu banyak definisi tentang dosa. Namun, secara prinsip, dosa dapat dikatakan sebagai suatu keputusan ((Disebut suatu keputusan, karena dosa adalah suatu keputusan yang diambil oleh keinginan atau “the will“. Pikiran dapat saja membayangkan atau mempengaruhi “the will” untuk berbuat dosa. Namun kalau pada akhirnya seseorang mengambil keputusan untuk tidak menuruti pikiran tersebut, maka orang tersebut tidak berbuat dosa.)) dari pilihan ((Dosa adalah suatu pilihan, karena kita mempunyai kehendak bebas atau “free will” untuk memutuskan apakan kita memilih berdosa atau tidak.)) untuk menempatkan apa yang kita pandang lebih utama, lebih baik atau menyenangkan daripada hukum Tuhan(1 Yoh 3:4). Pada saat seseorang menempatkan ciptaan lebih tinggi daripada Penciptanya, maka orang tersebut melakukan dosa (St. Bonaventura).

Katekismus Gereja Katolik (KGK) mendefinisikan bahwa dosa adalah melawan Tuhan (KGK, 1850), namun secara bersamaan melawan akal budi, kebenaran, dan hati nurani yang benar. (KGK, 1849) Sebagai contoh, mari kita melihat dosa menggugurkan kandungan atau aborsi. Di Amerika, setiap 30 detik, ada satu bayi yang digugurkan. Namun, tetap saja ada beberapa negara bagian di Amerika yang melegalisir warganya untuk menggugurkan kandungan.

Dosa adalah melawan akal budi, karena hanya orang yang dapat menggunakan akal budi bertanggung jawab terhadap dosanya. Itulah sebabnya bahwa Sakramen Pengampunan dosa hanya dapat diterimakan kepada orang yang telah dibaptis dan mencapai usia yang dapat berfikir rasional.

Dengan akal budi, seharusnya kita memilih tujuan yang paling akhir, yaitu persatuan dengan Tuhan, namun kita sering dikaburkan dengan oleh pengaruh dunia ini, sehingga akal budi kita lebih banyak dipengaruhi dan didominasi oleh kedagingan atau “sense appetite“. (( Sebelum dosa asal, sense appetite atau keinginan daging tunduk sepenuhnya pada akal budi. Namun setelah dosa asal, semua orang mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa, atau yang disebut concupiscence (lih KGK, 2515).)) St. Paulus mengatakan pemberontakan keinginan daging melawan keinginan roh (lih. Gal 5:16-17,24; Ef 2:3). Secara nalar, kita dapat melihat bahwa menggugurkan kandungan adalah melawan akal budi, karena tidak seharusnya manusia membunuh sesamanya, apalagi anaknya sendiri.

Dosa adalah melawan kebenaran, karena kebenaran hanya ada pada Tuhan. Namun sering kita menganggap kejadian di dunia ini semuanya relatif, atau ibaratnya, tidak putih, tidak hitam, melainkan abu-abu. Karena kecendungan faham relativitas, maka kita tidak tahu lagi mana yang benar dan mana yang salah. Karena beberapa negara bagian di Amerika melegalisir pengguguran kandungan, banyak orang yang mungkin beranggapan bahwa hal ini adalah sesuatu yang wajar, yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun kebenaran tidak berpihak kepada mayoritas, yang sering berganti-ganti dari waktu ke waktu. Kebenaran adalah tetap dan tidak berubah, dan kebenaran sejati hanya dapat ditemukan dalam diri Yesus, karena Yesus adalah Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yoh 14:6).

Dosa melawan hati nurani yang benar. Hati nurani yang benar ditekankan oleh KGK, karena jaman sekarang ini, begitu sulit untuk membentuk hati nurani yang benar. Kita perhatikan dalam kehidupan kita sehari-hari. Kalau kita mau berlaku jujur di dalam bisnis, kita dinasehati “jangan sok jujur”. Kalau di sekolah kita tidak mau nakal dan menyontek, kita akan dibilang “sok alim.” Seolah-olah sesuatu yang seharusnya benar, tidak boleh dipraktekkan. Dengan mentolelir kesalahan-kesalan kecil, maka hati nurani kita yang awalnya benar, yang diciptakan menurut gambaran Allah, menjadi tertutup dengan dosa, sehingga tidak murni lagi. Di sinilah pentingnya kebenaran yang diwartakan oleh Kristus melalui Gereja-Nya, sehingga Gereja dapat menjadi tiang penopang dan dasar kebenaran (lih 1 Tim 3:15) yang menuntun hati nurani umat-Nya. Seperti yang dilakukan Gereja Katolik di Amerika, mereka berperan aktif untuk menyuarakan kebenaran atau membangkitkan hati nurani yang benar dengan berjuang untuk menghentikan legalisasi aborsi.

Apakah bobot dosa berbeda-beda?

Dalam beberapa kesempatan, saya mendengarkan kotbah, ada yang mengatakan bahwa semua dosa adalah sama. Dosa kecil maupun besar menyedihkan hati Tuhan. Lebih lanjut, mereka mengatakan bahwa Alkitab mengajarkan bahwa semua dosa adalah sama, yaitu dosa berat, dengan upahnya adalah maut, jadi tidak ada istilah dosa ringan (Why 20:14-15; Eze 18:4; Rom 6:23). Jadi ajaran Gereja Katolik yang mengatakan bahwa dosa dibagi menjadi dua: dosa berat dan dosa ringan, dan juga bahwa dosa berat hanya dapat dilepaskan melalui Sakramen Pengakuan Dosa adalah sangat tidak mendasar.

Namun kalau kita teliti lebih mendalam, sesungguhnya pernyataan di atas justru kurang mendasar. Memang semua dosa menyedihkan hati Tuhan, namun Alkitab juga mengatakan bahwa ada dosa yang berat yang mendatangkan maut dan ada dosa ringan yang tidak mendatangkan maut (Lih 1 Yoh 5:16-17). Kita bisa melihat contoh dalam kehidupan sehari-hari, di mana kita akan dapat membedakan tingkatan dosa. Misalkan, dosa membunuh dan dosa ketiduran sewaktu berdoa. Tentu, kita mengetahui bahwa membunuh adalah dosa yang lebih berat daripada ketiduran saat berdoa yang disebabkan oleh tidak-disiplinan dalam meluangkan waktu untuk berdoa.

Dengan dasar inilah, Gereja Katolik mengenal dua macam dosa, yaitu: (1) Dosa berat atau “mortal sin” (KGK, 1856) dan (2) Dosa ringan atau “venial sin” (KGK, 1863)

Kalau dosa berat adalah melawan kasih secara langsung, maka dosa ringan memperlemah kasih. Jadi dosa berat secara langsung menghancurkan kasih di dalam hati manusia, sehingga tidak mungkin Tuhan dapat bertahta di dalam hati manusia. Dosa berat atau ringan tergantung dari sampai seberapa jauh dosa membuat seseorang menyimpang dari tujuan akhir, yaitu Tuhan. Dan persatuan dengan Tuhan hanya dimungkinkan melalui kasih. Jika dosa tertentu membuat seseorang menyimpang terlalu jauh sampai mengaburkan dan berbelok dari tujuan akhir, maka itu adalah dosa berat. ((St. Thomas Aquinas, ST, II-I, q.72, a.5)) Lebih lanjut dalam tulisannya “Commentary on the Sentence I,I,3“, St. Thomas Aquinas mengatakan bahwa dosa ringan tidak membuat seseorang berpaling dari tujuan akhir atau Tuhan. Digambarkan sebagai seseorang yang berkeliaran, namun tetap menuju tujuan akhir.

Untuk seseorang melakukan dosa berat, ada tiga syarat yang harus dipenuhi, yaitu: (1) Menyangkut kategori dosa yang tidak ringan, (2) tahu bahwa itu adalah sesuatu yang salah, dan (3) walaupun tahu itu salah, secara sadar memilih melakukan dosa tersebut. Dengan kata lain seseorang menempatkan dan memilih dengan sadar keinginan atau kesenangan pribadi di atas hukum Tuhan.

Apakah efek dari dosa?

Kita melihat bahwa dosa menghancurkan relasi kita dengan Tuhan, yaitu dengan menghancurkan prinsip vital kehidupan kita, yaitu kasih. Seperti 10 perintah Allah, dibagi menjadi dua, yaitu kasih kepada Tuhan dalam perintah 1-3, dan kasih kepada sesama dalam perintah 4-10, maka dosa juga mempunyai dua efek, yaitu: efek vertikal dan efek horisontal. Efek vertikal mempengaruhi hubungan kita dengan Tuhan, sedangkan efek horisontal mempengaruhi hubungan kita dengan sesama. Dapat dikatakan bahwa tidak ada dosa yang bersifat pribadi. Semua dosa kalau kita telusuri akan mempunyai dimensi sosial. Kita lihat saja dari hal yang sederhana, misalkan seorang ayah yang sering marah-marah di rumah akan mempengaruhi seluruh anggota di rumahnya, menyebabkan istri dan anak-anak ketakutan. Yang lebih parah, anak-anak pun dapat tumbuh sebagai pemarah.

Atau contoh yang lain, yaitu dosa manusia pertama, menghasilkan dosa asal, yang menyebabkan terputusnya persatuan antara manusia dengan Tuhan, dan pada saat yang sama membawa dosa asal bagi seluruh umat manusia (Rom 5:12). Sebagai akibat dari dosa Adam (Kej 3:1-6), manusia kehilangan (1) rahmat kekudusan, dan (2) empat berkat “preternatural“, yang terdiri dari a) keabadian atau “immortality“, b) tidak adanya penderitaan, c) pengetahuan akan Tuhan atau “infused knowledge“, dan d) berkat keutuhan (integrity), yaitu harmoni dan tunduknya nafsu dan emosi kedagingan (sense appetite) kepada akal budi (reason). Karena kehilangan berkat-berkat tersebut, maka manusia mempunyai concupiscense (KGK, 2515) atau “the tinder of sin” (KGK, 1264), atau kecenderungan untuk berbuat dosa ((Jacques Dupuis, The Christian Faith: In the Doctrinal Documents of the Catholic Church, 7th ed. (New York: Alba House, 2001), 512, p.203.; KGK, 405.)), di mana manusia harus berjuang terus untuk menundukkan keinginan daging. St. Paulus menyebutnya sebagai nafsu kedagingan yang berlawanan dengan keinginan Roh (Lih Gal 5:16-17, Gal 5:24; Ef 2:3). Manusia tidak dapat melawan semuanya ini tanpa berkat dari Tuhan yang memampukan manusia untuk “berkata tidak” terhadap dosa. Karena dosa pertama dari Adam adalah dosa kesombongan, maka kerendahan hati adalah penawar dari dosa yang memampukan manusia untuk menerima berkat dari Tuhan secara berlimpah. Mari sekarang kita melihat secara lebih jelas proses perkembangan dari dosa.

Bagaimana proses Dosa berkembang?

Pernah saya tidak mengindahkan sakit gigi, karena kadang muncul dan kadang hilang. Namun lama-kelamaan sakitnya bertambah parah, sehingga harus dilakukan operasi. Nah, proses dari dosa sama seperti contoh di atas, mulai dari hal kecil, dipupuk terus-menerus sehingga menjadi besar dan sulit diatasi. Mari kita melihat perkembangan dari dosa: ((Francis Spirago, The Catechism Explained: An Exhaustive Explanation of the Catholic Religion (Tan Books & Publishers, 1994), p. 451-454))

  1. Tahap 1: Pikiran tentang dosa datang dalam pikiran. Ini bukan dosa, tetapi suatu godaan. Pada tahap ini, penolakan terhadap dosa akan menjadi lebih mudah kalau kita membuang jauh-jauh pemikiran tersebut dengan cara mengalihkannya kepada hal-hal lain, seperti: berdoa, atau pemikiran tentang neraka, dll.
  2. Tahap 2: Kalau pikiran dosa (godaan) ini tidak segera dibuang jauh-jauh, maka akan menjadi dosa ringan (venial sin). Ini adalah seperti menguyah-nguyah dosa di dalam pikiran. Sama seperti telur yang dierami, yang pada waktunya akan menetas, maka dosa yang terus dituruti di dalam pikiran, hanya menunggu waktu untuk membuahkan dosa (lih Yak 1:15).
  3. Tahap 3: Tahap ini adalah perkembangan dari pemikiran dosa yang didiamkan atau dinikmati oleh pikiran, kemudian akan membuahkan keinginan untuk berbuat dosa. Di sini bukan hanya pikiran, namun godaan sudah sampai di hati (the will). Yesus mengatakan bahwa orang yang mempunyai keinginan untuk berbuat dosa, sudah berbuat dosa (Mat 5:28).
  4. Tahap 4: Akhirnya dalam tahap ini, seseorang memutuskan untuk berbuat dosa. Pada tahap ini keinginan untuk berbuat dosa sudah menjadi keputusan untuk berbuat dosa namun masih merupakan dosa yang ada di dalam hati. Ini adalah sama seperti seseorang yang ditawarkan suatu jabatan dengan cara korupsi. Dia mempunyai tiga pilihan: menolak, bernegosiasi, atau mengiyakan. Tahap ini keinginan dan pikiran saling mempengaruhi, namun akhirnya membuahkan kemenangan bagi setan, sehingga seseorang memutuskan untuk berbuat dosa.
  5. Tahap 5: Pada saat kesempatan untuk berbuat dosa muncul, maka keputusan untuk berbuat dosa yang ada di dalam hati menjadi suatu tindakan nyata. Setelah keputusan untuk berbuat dosa dalam keinginan menjadi kenyataan, maka jiwa seseorang juga telah jatuh ke dalam dosa. Sama seperti air yang menjadi es dan memerlukan panas untuk mencairkannya, maka seseorang masih tetap dalam kondisi berdosa sampai dia bertobat.
  6. Tahap 6: Perbuatan dosa yang sering diulang akan menjadi kebiasaan berbuat dosa (habit of sin) atau kebiasaan jahat (vice). Dengan pengulangan perbuatan dosa, maka ada suatu tahap kefasihan untuk berbuat jahat dan keinginan hati sudah mempunyai kecenderungan untuk berbuat jahat. Bapa Gereja menghubungkan bahwa tiga kali Yesus membangkitkan orang mati melambangkan Yesus membangkitkan manusia dari dosa di dalam hati, dosa yang dinyatakan dalam perbuatan, dan dosa yang sudah menjadi kebiasaan. Yesus membangkitkan anak perempuan Yairus (Luk 8:49-56) di dalam rumahnya yang melambangkan kebangkitan dari dosa yang masih di dalam hati. Sedangkan kebangkitan anak janda di pintu gerbang (Luk 7:11-16) melambangkan kebangkitan dari dosa yang telah dinyatakan dalam perbuatan. Akhirnya, kebangkitan Lazarus yang telah dikubur (Yoh 11:3-43), melambangkan kebangkitan dari dosa yang sudah menjadi kebiasaan. Untuk membangkitkan Lazarus, Yesus menangis, menyuruh seseorang membuka batu kubur, berseru dengan suara keras, meminta orang untuk membuka kain penutup, dan membiarkan dia pergi. Ini menunjukkan bahwa begitu sulit untuk menghancurkan dan memutuskan ikatan dosa yang sudah menjadi kebiasaan.
  7. Tahap 7: Perbuatan dosa dan kebisaan untuk berbuat dosa akan disusul dengan dosa yang lain. Karena rahmat Tuhan tidak dapat bertahta lagi dalam hati orang ini dan seseorang tidak dapat melawan dosa tanpa rahmat Tuhan, maka orang ini tidak mempunyai kekuatan untuk keluar dari dosa dan malah berbuat dosa yang lain. Alkitab menyatakan bahwa Tuhan mengeraskan hati Firaun untuk menggambarkan akan kebiasaan berbuat dosa, yang menjadikan Firaun berbuat dosa yang lain secara terus-menerus (Kel 9:12). Rasul Paulus menyatakan bahwa Allah menyerahkan mereka kepada pikiran-pikiran yang terkutuk, sehingga mereka melakukan apa yang tidak pantas, karena mereka tidak merasa perlu untuk mengakui Allah (Rom 1:28).
  8. Tahap 8: Pada saat kejahatan benar-benar berakar dalam jiwa seseorang, maka seseorang akan melakukan dosa yang benar-benar jahat sampai pada titik membenci Tuhan. Dengan sadar dan segenap hati dia akan melawan dan menghujat Roh Kudus, dimana merupakan dosa yang tidak terampuni (Mrk 3:29).

Dari tahapan perkembangan dosa, kita akan melihat bahwa dosa adalah sesuatu yang serius, yang kalau kita memandangnya sambil lalu, kita akan terjerumus perlahan-lahan dan jatuh ke dalam jurang kehancuran untuk selamanya. Permasalahannya, pada jaman sekarang ini, kesadaran, kepekaan akan perbuatan dosa dan resikonya semakin lama semakin memudar, sehingga dengan gampangnya seseorang berbuat dosa. Mari sekarang kita perbandingkan antara sesuatu yang bersifat jasmani dan yang rohani.

Jadi apakah Sakramen Pengakuan Dosa?

Selama tinggal di Amerika, saya melihat bahwa orang Amerika begitu memperhatikan kesehatan jasmani. Mereka berdiet, berolahraga secara teratur. Bahkan yang sudah tuapun tidak mau ketinggalan, mereka aktif berolahraga dengan berenang, jalan kaki, dll. Semuanya dilakukan dengan teratur, demi satu tujuan, yaitu agar badan mereka sehat, mungkin ada yang mempunyai tujuan lain agar bentuk lahiriah mereka lebih indah. Data di Amerika menunjukkan bahwa mereka menggunakan 6% dari uang mereka untuk kesehatan jasmani, seperti olahraga, ikut fitness club, dll. ((Lihat data dari The New York Times)) Saya tidak tahu data di Indonesia, namun mungkin datanya hampir sama dengan di Amerika, bahwa begitu banyak orang menggunakan uangnya untuk kesehatan jasmani.

Semua orang begitu peka terhadap kesehatan jasmani dan keindahan tubuh. Namun pertanyaannya adalah mengapa terhadap kesehatan rohani, kita sering kurang peka bahkan kadang kita sering mengacuhkannya? Mungkin kita akan lebih peka terhadap sesuatu yang dapat kita raba dan lihat. Namun kalau kita pikir, kesehatan rohani jauh lebih penting daripada kesehatan jasmani. Ini dapat dibuktikan bahwa Yesus datang ke dunia ini bukan untuk menyembuhkan semua penyakit jasmani, namun Dia datang untuk menyembuhkan penyakit rohani, yaitu dosa.

Nah, dosa adalah suatu penyakit yang begitu berbahaya. Salah satu penyembuhannya adalah dengan menerima sakramen pengakuan dosa. Di dalam Sakramen Pembaptisan, dosa asal dan seluruh dosa yang kita lakukan sebelum kita dibaptis dihapuskan. Namun sebagai manusia, kita dapat jatuh lagi ke dalam dosa setelah pembaptisan, bahkan kita dapat jatuh ke dalam dosa yang berat. Dosa berat yang kita lakukan setelah Pembaptisan hanya dapat diampuni dengan menerima Sakramen Tobat (KGK, 1423) atau Sakramen Pengakuan Dosa (KGK, 1424), atau Sakramen Pengampunan Dosa (KGK, 1424). Di dalam Sakramen inilah, kita juga bertemu dengan Dokter dari segala dokter, yaitu Yesus sendiri yang hadir di dalam diri imam/pastor. Untuk bertemu dengan Yesus di dalam Sakramen Pengampunan, diperlukan kerendahan hati dan penyesalan, sehingga Yesus sendiri akan memulihkan dan menyembuhkan hati kita.

Namun demikian, masih banyak orang yang meragukan tentang Sakramen Tobat yang dapat memberikan kesehatan rohani bagi kita. Silakan membaca bagian-2, yaitu jawaban terhadap keberatan-keberatan tentang Sakramen ini ditinjau dari Alkitab, Bapa Gereja, dan penerapan sakramen ini dalam sejarah Gereja.

137
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
55 Comment threads
82 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
61 Comment authors
krisnaFransiska Estye.sutanto70KefasTribarfin Recent comment authors
krisna
Member
krisna

https://www.facebook.com/OnlineKatolik/photos/a.235308626488054.66089.200189706666613/861741673844743/?type=1&theater Saya sebagai seorang katolik tentunya sudah paham dan mengerti pentingnya sakramen pengakuan dosa…. Maka dari itu saya ingin bertanya kepada Bapak Ibu pengelola katolisitas.org…. Katekismus Gereja Katolik 1456 … “Jadi kalau warga beriman Kristen berusaha mengakukan semua dosa yang mereka ingat, mereka tanpa ragu-ragu menyampaikan segala-galanya kepada kerahiman ilahi, agar mereka diampuni. TETAPI SIAPA YANG BERBUAT LAIN DAN DENGAN SENGAJA MENDIAMKAN SESUATU, IA TIDAK MENYAMPAIKAN APA-APA KEPADA KEBAIKAN ILAHI DEMI PENGAMPUNAN OLEH IMAM. ‘Karena kalau orang sakit merasa malu membuka lukanya kepada dokter, maka obat tidak akan menyembuhkan apa yang tidak dikenalnya’ (Hieronimus, Eccl. 10,11)” (Konsili Trente: DS 1680… Read more »

Fransiska Esty
Member
Fransiska Esty

Shalom,saya mau tanya mengapa manusia butuh pertobatan sebagai penyembuhan jiwa??

Ingrid Listiati
Member

Shalom Fransiska Esty, Pertobatan merupakan langkah penerimaan bahwa kita telah berdosa di hadapan Tuhan. Hal ini diperlukan, sebab seperti orang yang sakit yang datang kepada dokter dan minta disembuhkan, pertama-tama ia harus mengakui terlebih dahulu bahwa ia sakit. Demikianlah, pertobatan itu seperti halnya mengakui adanya luka/ sakit di jiwa kita, sehingga jika kita mau sembuh, pertama-tama kita harus mengakui adanya sakit itu terlebih dahulu. Katekismus mengajarkannya demikian: KGK 1848    Santo Paulus berkata: “Di mana dosa bertambah banyak, di sana kasih karunia Menjadi berlimpah-limpah”. Tetapi supaya melaksanakan pekerjaannya, rahmat harus membongkar dosa, menobatkan hati kita, dan mengantar kita “dengan perantaraan kasih… Read more »

Kefas
Member
Kefas

Shalom tim katolisitas, dari tahapan-tahapan dosa di atas, saya menyimak ada bagian dua yang seperti mengunyah-ngunyah pikiran-pikiran dosa. bagaimanakah agar kita tidak mengunyah-ngunyah dosa?dari pengalaman saya, misalnya saya melihat seorang wanita yang berpakaian tidak sopan dsb, pikiran saya cenderung berpikir tidak murni. pada awalnya saya langsung memotong pemikiran seperti itu. namun kok rasanya pikiran-pikiran ini seperti tertimbun dan lama-kelamaan malah meledak sehingga saya harus terjatuh lagi dalam dosa ketidakmurnian. bagaimanakah caranya untuk mengatasi hal ini?

Ingrid Listiati
Member

Shalom Kefas, Agaknya, resep utama untuk memutuskan segala bentuk keterikatan terhadap dosa bukanlah hal yang baru dan Anda-pun sebenarnya sudah mengetahuinya. Yaitu: doa, permenungan Sabda Tuhan dan penerimaan sakramen-sakramen terutama sakramen Ekaristi dan sakramen Pengakuan dosa secara rutin. Doa yang dimaksud di sini bukan hanya doa 5 menit setiap pagi dan malam, tetapi doa yang sesering mungkin, terutama pada saat godaan itu datang. Juga termasuk dalam doa, adalah permenungan akan sengsara Tuhan Yesus, seperti doa Jalan Salib, agar kita teringat akan penderitaan yang Tuhan Yesus pikul karena segala dosa-dosa kita. Permenungan ini akan mendorong kita untuk tidak mau jatuh pada… Read more »

Kefas
Member
Kefas

Shalom terima kasih bu Ingrid untuk jawabannya.. selanjutnya saya ingin bertanya lagi: 1. apakah setelah mengakukan dosa dan memperoleh pengampunan, kemudian melaksanakan penitensi, dosa2 tersebut dilupakan oleh Tuhan dan pada saat kita dihakimi tidak akan diungkit lagi oleh Tuhan Yesus? 2. Bisakah saya mengakui dosa orang lain?karena ada teman saya yang ingin mengaku dosa tapi bukan Katholik? 3. Bagaimana cara untuk mendoakan nenek moyang kita yang telah meninggal sebelum dibabtis (dalam arti masih hidup dalam penyembahan berhala dsb.)? 4, saya merasa malu jika setiap minggu harus mengakui dosa yang sama. Karena kesan saya romo tempat saya mengaku sepertinya mulai tidak… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Kefas, 1. Jika kita telah bertobat, mengakui dosa dalam sakramen Pengakuan dosa, dan melaksanakan penitensinya, maka kita telah diampuni. St. Paus Pius X, dalam Katekismus-nya tentang sakramen Pengakuan dosa: 19. “Sakramen Pengakuan dosa menyampaikan rahmat pengudusan yang olehnya dosa-dosa berat diampuni dan juga dosa-dosa ringan yang kita akui, dan yang karenanya kita bertobat. Sakramen tersebut mengubah penghukuman/ siksa dosa yang kekal menjadi siksa dosa sementara, yang bahkan darinya ia [sakramen itu] mengampuni lebih kurang menurut sikap batin kita. Sakramen itu menghidupkan kembali jasa-jasa perbuatan baik yang  kita lakukan sebelum kita berbuat dosa berat; dan memberikan kepada jiwa kita bantuan… Read more »

Tribarfin
Member
Tribarfin

Shalom katolisitas, Apakah mngucapkn kata – kata sperti ” Astagfirullah” ,” Allahuakbar” dll. apabila dilakukn penilaian dri perspektif Katolik adalah sbuah dosa? Saya sering mngucapkn kata-kata seperti itu krna tersugesti oleh kaum muslim dskitar tmpat tinggal sya. Tlong penjelasannya .

Salam dlm Kristus Yesus.

Ingrid Listiati
Member

Shalom Tribarfin, Silakan membaca artikel di atas, silakan klik, untuk mengetahui tentang definisi dosa; dan tentang relitas dosa dalam hidup manusia, klik di sini. Pendek kata, dosa adalah perbuatan yang melawan akal sehat, melawan hati nurani dan melawan kehendak Allah. Nah, ungkapan-ungkapan yang Anda sebutkan memang tidak melawan Allah, dan kemungkinan juga umum diucapkan oleh umat Kristen di Arab, sebab mengandung arti yang positif/ tidak menentang Allah. Namun jika diucapkan di sini, memang persoalannya menjadi berbeda, karena ungkapan itu tidak umum diucapkan oleh umat Kristiani di Indonesia, dan bahkan dapat menjadi batu sandungan, terutama kepada saudara-saudari kita yang muslim, yang… Read more »

Sam
Guest
Sam

Apakah ketika kita mengakukan dosa kita, setelah itu seluruh dosa kita PASTI diampuni atau cuma sekedar harapan? kalau menurut pemahaman saya baca baca di ekaristi.org, dikatakan kita tidak dapat mengetahui secara absolute certainty kalau kita diampuni.

Ingrid Listiati
Member

Shalom Sam, Asalkan seseorang telah melakukan pemeriksaan batin yang baik, dan telah mengakukan semua dosanya dalam sakramen Pengakuan dosa, maka dosanya akan diampuni, oleh karena janji Kristus sendiri terhadap Gereja-Nya. Namun jika ia tidak mengakui semua dosanya, maka dosanya yang masih disembunyikannya itulah yang belum memperoleh pengampunan. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan: KGK 1456    Pengakuan di depan imam merupakan bagian hakiki dari Sakramen Pengakuan: “Dalam Pengakuan para peniten harus menyampaikan semua dosa berat, yang mereka sadari setelah pemeriksaan diri secara saksama… juga apabila itu hanya dilakukan secara tersembunyi dan hanya melawan dua perintah terakhir dari sepuluh perintah Allah (Bdk. Kel 20:17;… Read more »

sparx
Guest
sparx

Ketika kita mengakukan dosa kita, setelah itu dosa kita benar benar telah dihapuskan. Bagaimana kalau ketika kita mengakukannya, kita tidak benar benar bertobat, atau dengan kata lain pertobatan itu hanya di mulut saja? apakah dosa kita tetap telah dihapuskan?

Bernabas Irijanto Batu
Guest
Bernabas Irijanto Batu

Adalah sebuah MAKNA yang sangat VISIONER ! Ketika Santo PETRUS yang dipilih / ditunjuk oleh Allah BAPA, lalu disampaikan oleh Allah PUTERA untuk menjadi BATU KARANG Jemaat didirikan dan diberikan KUNCI SURGA. Betapa tidak, Santo Petrus adalah Sosok Pendosa dan bahkan Penghianat Tuhan Yesus yang nyata dan berulang ulang. Adalah suatu CONTOH untuk Umat yang diharapkan untuk tetap Setia dan Bertobat dalam kehidupan Jemaat Tuhan sampai akhir zaman. Kenapa bukan Santo Yohanes atau Santo lain yang lebih taat dan setia untuk layak ditunjuk / dipilih BAPA lalu disampaikan PUTERA sebagai tempat Tuhan mendirikan Jemaat-Nya dan bahkan diberikan Kunci Surga sebagai… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Bernabas, Silakan terlebih dahulu membaca artikel seri tentang Keutamaan Petrus di situs ini: Keutamaan Petrus (1): Menurut Kitab SuciKeutamaan Petrus (2): Bukti Sejarah tentang Keberadaan Petrus di RomaKeutamaan Petrus (3): Tanggapan terhadap Mereka yang Menentang Keberadaan Petrus di RomaKeutamaan Petrus (4): Menurut Dokumen Awal GerejaKeutamaan Petrus (5): Dalam Gereja di Lima Abad Pertama Adalah merupakan kebijaksanaan Tuhan Yesus, bahwa Ia telah menunjuk Rasul Petrus sebagai batu karang, yang atasnya Ia mendirikan Gereja-Nya. Allah yang mengetahui segala sesuatu, mengetahui setiap kelebihan dan kekurangan setiap murid-Nya, dan atas kehendak-Nya ia telah memilih Rasul Petrus sebagai pemimpin para rasul dan pemimpin Gereja-Nya… Read more »

Bernabas Irijanto Batu
Guest
Bernabas Irijanto Batu

Syaloom katolisitas.org, Kalau boleh saya sharing dan mohon koreksi tentang pandangan saya ini !? 1. Sakramen Pengakuan Dosa adalah ANUGERAH KASIH yang sangat LUAR BIASA yang dijalankan dan dimaknai oleh Gereja Katolik. Betapa tidak, hal ini sesuai dengan Injil Yohanes 20 : 22 – 23 20:22 Dan sesudah berkata demikian, Ia mengembusi mereka dan berkata: “Terimalah Roh Kudus. 20:23 Jikalau kamu mengampuni dosa orang, dosanya diampuni, dan jikalau kamu menyatakan dosa orang tetap ada, dosanya tetap ada.” 2. Mengakui DOSA adalah bukan perkara yang MUDAH bagi Manusia, walaupun itu hanya bercanda. Karena Pengakuan Dosa membutuhkan keberanian yang Luar Biasa dan… Read more »

Jery
Guest
Jery

1. Apakah tidak percaya kepada Tuhan Yesus dan ajaranNya bisa disamakan / dikategorikan dengan menghujat Roh Kudus? Mohon diberi contoh hal – hal yang dikategorikan dengan menghujat Roh Kudus dalam kehidupan sehari – hari. 2. Bagaimanakah pandangan gereja Katolik terhadap kebaikan yang sudah ada pada Manusia sejak manusia itu sendiri diciptakan ? apakah hal tersebut masih dipertahankan sampai sekarang ? 3. Apakah yang dimaksud dengan ada kebenaran ditiap Agama – agama apapun agama tersebut ? apakah hal tersebut bisa mengantar / menuntun Agama selain Kristen kelak bisa masuk dalam kerajaan surga tanpa perantaraan Kristus ? 4. Bagaimanakah pandangan gereja Katolik… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Jery, 1. Tentang dosa menghujat Roh Kudus Tentang dosa menghujat Roh Kudus, silakan klik di sini. Di sana telah disebutkan pengertiannya dan contoh-contohnya. 2. Tentang kebaikan pada diri manusia Gereja Katolik mengajarkan bahwa meskipun manusia pertama sudah jatuh dalam dosa, namun manusia tidak menjadi rusak sama sekali sehingga tidak lagi ada kebaikan di dalam diri mereka. Manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah, maka meskipun dirusak oleh dosa, namun tetaplah itu tidak mengubah kenyataan bahwa manusia diciptakan Allah baik adanya. Oleh karena itu martabat manusia tetap harus dijunjung tinggi. Katekismus mengajarkan: KGK 405    Walaupun “berada pada setiap orang secara… Read more »

Orang Berd*sa
Guest
Orang Berd*sa

Shalom om Stef,tante Inggrid,romo Santo,& seluruh Tim Katolisitas. Saya seorang Katolik dan saya sudah berusha mengimani serta mengikuti semua ajaran Katolik sebaik mungkin.tapi ada satu hal yang masih suka menghalangi yaitu rasa penasaran saya (yang suka tiba2 muncul) dengan Masturbasi dan Pornografi. sebenarnya saya sudah berusaha meniatkan untuk tidak lagi penasaran dengan hal tersebut sejak pengakuan saya yang terkahir kemarin yaitu hari jum’at.sayangnya,apa mungkin karena beban tugas kuliah yang yang sementara saya pikul atau mungkin karena kesengajaan saya sendiri yang mungkin mau mencobai Rahmat Tuhan(walaupun sebenarnya saya tidak mau melakukan itu) ,tepat kemarin sore saya jatuh lagi bahkan sampai 2… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Orang Berd*sa, Pertama-tama, marilah kita sadari bahwa jika kita jatuh ke dalam dosa, namun segera menyesalinya, itu adalah karena Roh Kudus yang menyadarkan kita. Untuk itu kita perlu bersyukur, karena Tuhan memampukan hati nurani kita untuk menanggapi rahmat-Nya dengan pertobatan. Nampaknya inilah yang terjadi pada Anda, sehingga Anda berkehendak untuk segera mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan Dosa, setelah Anda jatuh ke dalam dosa tersebut. Bahwa kenyataannya niat Anda belum sampai terlaksana, anggaplah itu sebagai kesempatan untuk membuktikan keteguhan niat Anda untuk bertobat, dan keesokan harinya kembali meminta kesediaan Romo untuk memberikan sakramen Pengakuan Dosa. Janganlah berpikiran terlalu negatif, sebab… Read more »

fxe
Guest
fxe

Salam sdr. Berd*sa, Jumat tgl.26 Anda mengaku dosa karena godaan seksual, tgl.29 Anda jatuh ke dosa yg sama. Hari Senin tgl.30 Anda ingin mengaku dosa lagi karena dosa yg sama. Mungkin sebelum tgl.26 Anda sudah mengaku dosa beberapa kali kepada Romo untuk dosa seksual yg sama tsb. Bila demikian, mungkin saja Romo “agak” menghindar sewaktu Anda bertemu tgl.30. Marilah kita melihat secara positif sikap Romo tsb. Misalnya, pada tgl.30 Anda dapat mengaku dosa, apakah Anda dapat yakin selama 5-hari kedepan tidak jatuh lagi ke godaan seksual yg sama? Mungkin, Romo tsb mengajak Anda menyadari bahwa: Setelah mengaku dosa tidak berarti… Read more »

Orang Berd*sa
Guest
Orang Berd*sa

Terima Kasih Solusinya,Puji Tuhan beberapa hari yang lalu saya sudah mendapat absolusi. Maksud saya, Absolusi ( Sakramen Pengakuan Dosa )
Tolong Doakan Perjuangan saya supaya jangan saya jatuh lagi.

GOD Bless u all… ^_^

[Dari Katolisitas: Kami turut mendoakan, agar rahmat Allah yang Anda terima dalam sakramen Pengakuan Dosa itu memampukan Anda untuk seterusnya menolak bujukan dosa tersebut.]

Frans
Guest
Frans

Tahap 6: Bapa Gereja menghubungkan bahwa tiga kali Yesus membangkitkan orang mati melambangkan Yesus membangkitkan manusia dari dosa di dalam hati, dosa yang dinyatakan dalam perbuatan, dan dosa yang sudah menjadi kebiasaan. Yesus membangkitkan anak perempuan Yairus (Luk 8:49-56) di dalam rumahnya yang melambangkan kebangkitan dari dosa yang masih di dalam hati. Sedangkan kebangkitan anak janda di pintu gerbang (Luk 7:11-16) melambangkan kebangkitan dari dosa yang telah dinyatakan dalam perbuatan. Akhirnya, kebangkitan Lazarus yang telah dikubur (Yoh 11:3-43), melambangkan kebangkitan dari dosa yang sudah menjadi kebiasaan. Untuk membangkitkan Lazarus, Yesus menangis, menyuruh seseorang membuka batu kubur, berseru dengan suara keras,… Read more »

Stefanus
Guest
Stefanus

Shalom Katolisitas.org Saya bersyukur boleh membaca artikel ini dan sangat berguna sekali bagi kehidupan rohani kita semua, yang saya ingin tanyakan adalah kata ini: “Dosa berat yang kita lakukan setelah Pembaptisan hanya dapat diampuni dengan menerima Sakramen Tobat (KGK, 1423) atau Sakramen Pengakuan Dosa (KGK, 1424), atau Sakramen Pengampunan Dosa (KGK, 1424).” dan juga kutipan tentang (habit of sin) atau kebiasaan berbuat dosa, terutama yang saya baca di artikel “Berfantasi sex apakah dosa?” yang dikatakan bahwa dosa dapat dikalahkan dengan kebajikan. Pertanyaan saya, 1)Apakah seorang yang berdosa berat akan terampuni diluar pengakuan dosa dengan kebajikan yang dia lakukan, contoh dia… Read more »

Aldo
Guest
Aldo

Saya hampir 6 tahun hidup di Seminari menengah dan tinggi, hingga akhirnya saya putuskan untuk mengundurkan diri. Semenjak itulah saya tidak pernah mengaku dosa lagi, saya menganggap bahwa Tuhan yg akan memaafkan saya secara langsung tanpa pengakuan dosa, tp apa yg terjadi, saya semakin semena-mena dlm hidup, toh saya tdk perlu lg mengaku dosa dan Tuhan pasti memaafkan saya. Ketika kita mulai berpikir demikian, kita akan terus-terus terjatuh dlm dosa, menyepelekan atau menggampangkan terhadap dosa itu sendiri. Karena saat kita hanya meminta maaf pada Tuhan, dan tidak mendapatkan penitensi, saya rasa kita gampang sekali untuk kembali jatuh dlm dosa tersebut,… Read more »

Richard
Guest
Richard

Shalom Om Stef n Tante Inggrid dalam Tuhan Kita Yesus Kristus…

Sebagai orang berdosa,saya hanya mau tahu kira-kira berapa kali waktu yang dibutuhkan untuk kita sebagai manusia-manusia berdosa untuk melakukan Sakramen Pengakuan Dosa?

Itu Saja,
Terima Kasih n Tuhan Yesus Memberkati..

Ingrid Listiati
Member

Shalom Richard, Secara teknis, seharusnya setiap kali, sesudah kita jatuh dalam dosa berat, kita perlu segera mengaku dosa dalam Sakramen Pengakuan dosa. Pengakuan akan dosa berat ini penting, sebab sesungguhnya jika kita belum mengakuinya, kita tidak dapat menerima Komuni kudus. Nah tentang apa itu dosa berat, sudah dijelaskan di artikel di atas, yaitu 1) obyek moralnya berat (artinya memang akibatnya berat/ buruk bagi diri sendiri maupun orang lain), 2) kita sudah tahu bahwa perbuatan itu dosa, 3) namun tetap kita lakukan juga, dengan kehendak bebas kita. Misalnya sudah tahu bahwa menyontek itu dosa, dan akibatnya buruk terhadap diri sendiri dan… Read more »

Salu
Guest
Salu

Dear Admin, Berikut kutipan dr artikel di atas, Sebagai akibat dari dosa Adam (Kej 3:1-6), manusia kehilangan (1) rahmat kekudusan, dan (2) empat berkat “preternatural“, yang terdiri dari a) keabadian atau “immortality“, b) tidak adanya penderitaan, c) pengetahuan akan Tuhan atau “infused knowledge“, dan d) berkat keutuhan (integrity), yaitu harmoni dan tunduknya nafsu dan emosi kedagingan (sense appetite) kepada akal budi (reason). Pertanyaan saya, klau mamusia pertama punya –berkat keutuhan (integrity), yaitu harmoni dan tunduknya nafsu dan emosi kedagingan (sense appetite) kepada akal budi (reason)– mengapa Hawa masih bisa tergoda dan tunduk pada hawa nafsu/bujukan setan (ular)?? Kan logikanya klau… Read more »

horey
Guest
horey

Syalome . hawa adalah manusia ciptaan tuhan allah yang kekal, yg di buatkalah olehnya (allah) dr tanah liat,dan dengan kuasanyalah jadilah hawa. Dan pada dasarya kenapa hawa begitu tertipudaya oleh setan, karna setan merasa iri kpada tuhan allah atas penciptaanya setan yg dr api sedangkan hawa dr tanah, itu sebabnya hawa di bujukrayu setan dg iming2 kesenangan sesa’at pada hawa yang akhirnya hawa bisa berdosa. Dan pada saat itulah setan berjanji untuk terus mnjerumuskan kaum adam hawa dg iming2 kesenangan duniawi sesaat yg pada akhirya mmbawa kaum hawa pada jurang kenistaan dan berdosa. Mereka (setan) ada dimananana,tangan,telinga,mulut,hidung,mata,bahkan d otak kita… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Horey, Kitab Suci tidak mengajarkan bahwa Allah menciptakan setan dari api. Setan adalah malaikat yang jatuh dalam dosa. Para malaikat itu adalah mahluk rohani yang murni, sehingga tidak terdiri dari suatu materi apapun, termasuk dari api. Silakan membaca di sini tentang kejatuhan malaikat, silakan klik. Allah menciptakan manusia terdiri dari tubuh dan jiwa, yang pada mulanya baik dan kudus adanya. Bahwa kemudian manusia pertama jatuh dalam dosa, itu adalah kesalahan manusia sendiri. Karena dosa asal inilah, selanjutnya kita manusia yang adalah keturunan Adam dan Hawa, mempunyai kecenderungan berbuat dosa, walaupun kita sudah dibaptis. Namun demikian, dengan bantuan rahmat Allah,… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X