Maria Dikandung Tanpa Noda: Apa Maksudnya?

Bunda Maria tanpa noda: apa maksudnya?

Berikut ini adalah cerita yang tidak ada hubungannya dengan Dogma Maria tersebut, tetapi mungkin dapat membantu kita untuk mengerti konsep dasarnya…

Suatu hari, di suatu desa terpencil, ada seorang (sebut saja bernama Sukri) menemukan kloset duduk yang dibuang di dekat jalan kampung. Ia tidak pernah melihat benda itu seumur hidupnya, sehingga tidak tahu kalau itu adalah kloset (jamban). Dia bahkan mengagumi benda itu, karena dipikirnya ‘antik’. Sukri membawa pulang kloset itu ke rumah dan dibersihkannya sampai ‘kincrong‘. Kebetulan esok harinya Sukri berulang tahun dan dia berencana mengundang teman-teman satu kampung. Dia berpikir, alangkah uniknya jika nasi tumpeng ulang tahunnya diletakkan di dalam ‘benda’ itu (yaitu kloset), supaya ‘penemuan baru’-nya ini dapat dipamerkan kepada teman-temannya.

Sekarang, bayangkanlah, jika anda termasuk di antara orang-orang yang datang ke pesta Sukri. Anda pasti tahu kalau ‘barang’ itu adalah kloset. Apakah reaksi anda begitu melihat nasi tumpeng yang ditempatkan di dalam kloset itu? Ada rasa aneh dan tidak ‘nyambung‘, bukan? Demikianlah, Yesus yang kemuliaan dan kekudusanNya jauh melebihi semua, tidak mungkin lahir ke dunia melalui seorang perempuan yang berdosa. Karena noda dosa itu jauh lebih buruk daripada kloset, dan Yesus itu kemuliaannya jauh mengatasi dan tidak dapat dibandingkan dengan nasi tumpeng; maka kesimpulannya, ada jurang yang tak terjembatani antara keduanya. Nasi tumpeng tak pernah klop diletakkan di dalam kloset; dan tentu, Yesus yang Maha Kudus, tak mungkin dapat dikandung oleh rahim seseorang yang tercemar dosa. Maka oleh kuasaNya, Allah menguduskan rahim itu, membuat ia terbebas dari noda dosa. Karena Tuhan tidak dapat mengingkari diri-Nya sendiri yang tanpa dosa, sama seperti Dia tidak dapat menjadi tidak setia (lih 2 Tim 2:13).

Dogma Perawan Bunda Maria dikandung tidak bernoda

Pada tanggal 8 Desember 1854, Paus Pius IX mengumumkan Dogma Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda (Ineffabilis Deus), yang menyatakan bahwa Bunda Maria dikandung tanpa noda dosa asal. ((Pada tanggal 8 Desember 1854, Paus Pius IX mengumumkan Dogma Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda (Ineffabilis Deus), yang bunyinya antara lain sebagai berikut: Dengan inspirasi Roh Kudus, untuk kemuliaan Allah Tritunggal, untuk penghormatan kepada Bunda Perawan Maria, untuk meninggikan iman Katolik dan kelanjutan agama Katolik, dengan kuasa dari Yesus Kristus Tuhan kita, dan Rasul Petrus dan Paulus, dan dengan kuasa kami sendiri: “Kami menyatakan, mengumumkan dan mendefinisikan bahwa doktrin yang mengajarkan bahwa Bunda Maria yang terberkati, seketika pada saat pertama ia terbentuk sebagai janin, oleh rahmat yang istimewa dan satu-satunya yang diberikan oleh Tuhan yang Maha Besar, oleh karena jasa-jasa Kristus Penyelamat manusia, dibebaskan dari semua noda dosa asal, adalah doktrin yang dinyatakan oleh Tuhan dan karenanya harus diimani dengan teguh dan terus-menerus oleh semua umat beriman.”))

Mungkin ada orang bertanya, -terutama mereka yang bukan beragama Katolik- kenapa ada perlakuan khusus buat Bunda Maria, bukankah Maria itu manusia biasa saja seperti kita? Lalu, kenapa baru pada tahun 1854 diumumkan dogma ini, apakah ini pengajaran buatan manusia saja (Paus dan pembantu-pembantunya) ataukah sungguh dari Allah? Mari kita lihat, kenapa kita sebagai orang Katolik percaya bahwa pengajaran ini berasal dari Allah, dan karenanya wajib kita yakini dan kita syukuri.

Bukan pengajaran ‘kagetan’ melainkan sudah diajarkan oleh para Bapa Gereja sejak lama

Gereja Katolik tidak pernah mengubah, menghapus, atau menambah pengajaran “deposit of faith” yang ada padanya sejak dari Gereja awal, namun hanya menjaga dan mempertahankannya. Perlu kita ingat bahwa Tradisi Suci dan Kitab Suci bagi orang Katolik itu sama pentingnya, karena berasal dari sumber yang sama: Allah sendiri. (Lihat artikel: Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan, Bagian 3) Dogma Perawan Maria dikandung tanpa noda ini telah dirintis oleh Paus Sixtus IV (abad ke-15) yang diteruskan sampai ke jaman Paus Pius IX (abad ke -19), tetapi sesungguhnya pengajaran tersebut sudah merupakan hal yang diyakini oleh Gereja sejak abad awal, seperti dinyatakan oleh Santo Ephraem (abad ke-4) ((Santo Ephraem dalam “Nisibene Hymns”, 27, (dikutip dan diterjemahkan dari buku The Teachings of the Church Fathers, ed. John R Willis, S.J., Ignatius Press, San Francisco, 2002 reprint, edisi asli Herder and Herder, New York, 1966 h. 361) menulis, “Sungguh Engkau, Tuhan, dan BundaMu adalah hanya satu-satunya yang cantik sempurna di dalam segala hal; sebab, Tuhan, tidak ada noda di dalam-Mu dan juga tidak ada noda apapun di dalam BundaMu…”)) dan Santo Agustinus (abad ke-5) ((Santo Agustinus, dalam “On Nature and Grace“, Chap. 36:42, (dikutip dan diterjemahkan dari buku The Teachings of the Church Fathers, Ibid., h. 265) menulis, “Kita harus menerima Perawan Maria yang kudus, tentangnya saya tidak akan pernah mempertanyakan jika kita membahas tentang dosa, karena hormatku kepada Tuhan, sebab dari Dia kita tahu akan betapa berlimpahnya rahmat untuk mengalahkan dosa sampai sekecil- kecilnya, telah diberikan kepadanya (Bunda Maria) yang telah dipercayakan untuk mengandung dan melahirkan Dia (Yesus) yang sudah pasti tidak berdosa…”))dengan dasar pemikiran dari Santo Ireneus (abad ke-2). ((Santo Irenaeus, dalam “Against Heresies, V, The New Creation in Christ” (dikutip dan diterjemahkan dari buku Early Christian Fathers, ed. Cyril C. Richardson, Touchstone, Simon & Schuster, NY, 1996) hl. 389-390, menyebutkan Maria sebagai Hawa yang baru, “Seluruh umat manusia berada dalam kuasa maut melalui perbuatan seorang perawan (Hawa), maka seluruh umat manusia juga diselamatkan melalui seorang perawan (Maria, Hawa yang baru) dan karenanya, ketidaktaatan seorang perawan diimbangi oleh ketaatan perawan yang lain.” Dari sini, para Bapa Gereja menyimpulkan bahwa ketaatan total Maria dimungkinkan oleh ketotalan kemurniannya tanpa dosa asal.))

Jadi Dogma tersebut bukan pengajaran ‘kagetan’ atau innovasi dari Paus Pius IX di abad ke-19!

Bunda Maria sendiri menyatakan dirinya sebagai “Immaculate Conception”

Empat tahun setelah pengajaran yang diberikan oleh Paus Pius IX, Bunda Maria menampakkan diri di Lourdes, Perancis (1858). Penampakan Bunda Maria di Lourdes (di grotto Massabielle) terjadi selama 18 kali kepada Bernadette Soubirous, seorang gadis desa yang yang waktu itu berumur 14 tahun. Penampakan Bunda Maria di Lourdes ini sudah diakui oleh Gereja Katolik sebagai penampakan yang otentik. Dalam penampakan itu (penampakan ke- 16), Bunda Maria menyatakan dirinya sebagai “Perawan yang dikandung tanpa noda dosa”/ the Immaculate Conception kepada Bernadette yang pada waktu itu tidak memahami makna “the Immaculate Conception“, terutama karena ia adalah gadis desa yang buta huruf. Pernyataan dari Bunda Maria ini mengkonfirmasikan ajaran dari Bapa Paus Pius IX, dan dengan demikian juga membuktikan infalibilitas ajaran Bapa Paus tersebut.

Dasar dari Kitab Suci

Alasan pertama Bunda Maria dikandung tanpa noda ini berhubungan dengan peran istimewanya sebagai Ibu Tuhan Yesus. Jadi, walaupun benar Maria manusia biasa, ia bukan manusia ‘kebanyakan’ seperti kita. Sebab, memang rencana keselamatan itu terbuka untuk semua orang (Yoh 3:16), tetapi Ia hanya memilih satu orang untuk menjadi ibu-Nya, yaitu Maria. Kita tahu bahwa Allah adalah Kudus, sempurna dan tak ada dosa di dalam Dia, maka sudah sangat layaklah bahwa ketika memutuskan untuk dilahirkan di dunia, Yesus menguduskan terlebih dahulu seseorang yang melaluinya Ia akan dilahirkan. Mungkin hal ini tidak terbayangkan oleh kita, karena kita manusia tidak bisa melakukannya. Kita tidak bisa memilih ibu kita sendiri, apalagi membuat dia kudus dan sempurna sebelum kita lahir. Tetapi, Allah bisa, dan itulah yang dilakukan-Nya. Mengapa Tuhan melakukan ini? Karena Ia tidak dapat mengingkari jati DiriNya sebagai Allah yang Kudus. Mari kita lihat kebesaran Allah melalui apa yang dilakukanNya terhadap Bunda Maria seperti yang ditulis dalam Alkitab.

1. Bunda Maria disebutkan pada awal mula, sebagai perempuan’ yang keturunannya akan mengalahkan ular (iblis) (Kej 3:15).

Di sini, perempuan yang dimaksud bukanlah Hawa, tetapi Hawa yang baru (‘New Eve’). Para Bapa Gereja membaca ayat ini sebagai nubuatan akan kelahiran Yesus (Adam yang baru) melalui Bunda Maria (Hawa yang baru). Hal ini sudah menjadi pengajaran Gereja sejak abad ke-2 oleh Santo Yustinus Martir, Santo Irenaeus dan Tertullian, yang lalu dilanjutkan oleh Santo Agustinus. ((John R Willis, S.J. ed., The Teachings of the Church Fathers, Ignatius Press, San Francisco, 2002 reprint, edisi asli Herder and Herder, New York, 1966 h. 356)) Sayangnya, memang dalam terjemahan bahasa Indonesia, pada ayat ini dikatakan ‘perempuan ini’, seolah-olah menunjuk kepada Hawa, namun sebenarnya adalah ‘the woman’ (bukan this woman) sehingga artinya adalah sang perempuan, yang tidak merujuk kembali ke lakon yang baru saja dibicarakan. ((“Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kej 3:15).)) Ungkapan ‘woman‘ ini yang kemudian kerap diulangi pada ayat Perjanjian Baru, misalnya pada mukjizat di Kana (Yoh 2:4) ((John 2:4, RSV Bible, “O Woman, what have you to do with me? My hour has not yet come.” Diterjemahkan di dalam bahasa Indonesia, “Mau apakah engkau dari pada-Ku, ibu? Saatku belum tiba.”)) dan di kaki salib Yesus, saat Ia menyerahkan Bunda Maria kepada Yohanes murid kesayanganNya (Yoh 19:26). ((John 19:26-27, RSV Bible, “When Jesus saw his mother, and the disciple whom he loved standing near, he said to his mother, “Woman, behold, your son! Then he said to the disciple, “Behold, your mother!” diterjemahkan di dalam bahasa Indonesia: Ketika Yesus melihat ibu-Nya dan murid yang dikasihi-Nya di sampingnya, berkatalah Ia kepada ibu-Nya, “Ibu, inilah anakmu! Kemudian kata-Nya kepada murid-muridNya: “Inilah ibumu!”))Pada kesempatan tersebut, Yesus mau menunjukkan bahwa Maria adalah ‘sang perempuan’ yang telah dinubuatkan pada awal mula dunia sebagai ‘Hawa yang baru’.

‘Hawa yang baru’ ini berperan berdampingan dengan Kristus sebagai ‘Adam yang baru’. Santo Irenaeus, mengatakan, “Ikatan yang disebabkan oleh ketidak-taatan Hawa telah diuraikan karena ketaatan Maria” sehingga selanjutnya dikatakan, “maut (karena dosa) didatangkan oleh Hawa, tetapi hidup (karena Yesus) oleh Maria.” ((Lihat Lumen Gentium 56, S. Ireneus, “dengan taat Maria menyebabkan keselamatan bagi dirinya maupun bagi segenap umat manusia” Maka … para Bapa zaman kuno, … menyatakan bersama Ireneus: “Ikatan yang disebabkan oleh ketidak-taatan Hawa telah diuraikan karena ketaatan Maria; apa yang diikat oleh perawan Hawa karena ia tidak percaya, telah dilepaskan oleh perawan Maria karena imannya” Sambil membandingkannya dengan Hawa, mereka menyebut Maria “bunda mereka yang hidup”. Sering pula mereka (St. Jerome, St. Agustinus, St. Cyril, St. Yohanes Krisostomus, St. Yohanes Damaskinus) menyatakan: “maut melalui Hawa, hidup melalui Maria.”)) Oleh karena itu, sudah selayaknya Allah membuat Bunda Maria tidak tercemar sama sekali oleh dosa, supaya ia, dapat ditempatkan bersama Yesus di tempat utama dalam pertentangan yang total melawan Iblis (lih. Kej 3:15).

2. Bunda Maria sebagai Tabut Perjanjian yang Baru.

Di dalam Kitab Perjanjian Lama, yaitu di Kitab Keluaran bab 25 sampai dengan 31, Kita melihat bagaimana ’spesifik-nya’ Allah saat Ia memerintahkan Nabi Musa untuk membangun Kemah suci dan Tabut Perjanjian. Ukurannya, bentuknya, bahannya, warnanya, pakaian imamnya, sampai seniman-nya (lih. Kel 31:1-6), semua ditunjuk oleh Tuhan. Hanya imam (Harun) yang boleh memasuki tempat Maha Kudus itu dan ia pun harus disucikan sebelum mempersembahkan korban di Kemah suci (Kel 40:12-15). Jika ia berdosa, maka ia akan meninggal seketika pada saat ia menjalankan tugasnya di Kemah itu (Im 22:9). Hal ini menunjukkan bagaimana Allah sangat mementingkan kekudusan Tabut suci itu, yang di dalamnya diletakkan roti manna (Kel 25:30), dan dua loh batu kesepuluh perintah Allah (Kel 25:16), dan tongkat imam Harun (Bil 17:10; Ibr 9:4). Betapa lebih istimewanya perhatian Allah pada kekudusan Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru, karena di dalamnya terkandung PuteraNya sendiri, Sang Roti Hidup (Yoh 6:35), Sang Sabda yang menjadi manusia (Yoh 1:14), Sang Imam Agung yang Tertinggi (Ibr 8:1)! Persyaratan kekudusan Bunda Maria -Sang Tabut Perjanjian Baru- pastilah jauh lebih tinggi daripada kekudusan Tabut Perjanjian Lama yang tercatat dalam Kitab Keluaran itu. Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru, harus kudus, dan tidak mungkin berdosa, karena Allah sendiri masuk dan tinggal di dalam rahimnya. Itulah sebabnya Bunda Maria dibebaskan dari noda dosa oleh Allah.

3. Bunda Maria dikatakan sebagai ‘penuh rahmat’ pada saat menerima Kabar Gembira.

Pada saat malaikat Gabriel memberitakan Kabar Gembira, ia memanggil Maria sebagai, ‘…hai engkau yang dikaruniai’, Tuhan menyertai engkau.’ (Luk 1:28) (“Hail, full of grace…”, – RSV Bible) Kata, ‘Hail, full of grace‘ ini tidak pernah ditujukan kepada siapapun di dalam Alkitab, kecuali kepada Maria. ((Lihat, Defining the Dogma of the Immaculate conception, Ineffabilis Deus, par. The Annunciation, “They (the Church Fathers) thought that this singular and solemn salutation, never heard before, showed that the Mother of God is the seat of all divine graces and is adorned with all gifts of the Holy Spirit…“)) Kepada Abraham yang akan menjadi Bapa para bangsa, ataupun kepada Musa salah satu nabi terbesar, Allah tidak pernah menyapa mereka dengan salam. Kepada Maria, Allah bukan saja hanya memberi salam, tetapi juga memenuhinya dengan rahmat (grace), yang adalah lawan dari dosa (sin). Dan karena dikatakan ‘full of grace’, maka para Bapa Gereja mengartikannya bahwa seluruh keberadaan Maria dipenuhi dengan rahmat Allah dan semua karunia Roh Kudus, sehingga dengan demikian tidak ada tempat lagi bagi dosa, yang terkecil sekalipun, sebab hadirat Allah tidak berkompromi dengan dosa. Artinya, Bunda Maria dibebaskan dari noda dosa asal.

4. Dasar dari Kitab Wahyu

Kita mengetahui dari Kitab Wahyu, bahwa Bunda Maria-lah yang disebut sebagai perempuan yang melahirkan seorang Anak laki-laki, yang menggembalakan semua bangsa… yang akhirnya mengalahkan naga yang adalah Iblis (Why 12: 1-6). Kemenangan atas Iblis ini dimungkinkan karena dalam diri Maria tidak pernah ada setitik dosa pun yang menjadi ‘daerah kekuasaan Iblis’.

Dasar dari Tradisi Suci

Berikut ini adalah pengajaran para Bapa Gereja yang menyatakan bahwa Bunda Maria tidak bernoda:

1. St. Irenaeus (180): “Hawa, dengan ketidaktaatannya [karena berdosa] mendatangkan kematian bagi dirinya dan seluruh umat manusia, … Maria dengan ketaatannya [tanpa dosa] mendatangkan keselamatan bagi dirinya dan seluruh umat manusia…. Oleh karena itu, ikatan ketidaktaatan Hawa dilepaskan oleh ketaatan Maria. Apa yang terikat oleh ketidakpercayaan Hawa dilepaskan oleh iman Maria.” ((Lihat St. Irenaeus, Against Heresies, 189 AD, 3:22:24))

2. St. Hippolytus (235): “Ia adalah tabut yang dibentuk dari kayu yang tidak dapat rusak. Sebab dengan ini ditandai bahwa Tabernakel-Nya dibebaskan dari kebusukan dan kerusakan.” ((St. Hippolytus, Orations Inillud, Dominus pascit me ))

3. Origen (244): “Bunda Perawan dari Putera Tunggal Allah ini disebut sebagai Maria, yang layak bagi Tuhan, yang tidak bernoda dari yang tidak bernoda, hanya satu satunya” ((Origen, Homily 1)).

4. Ephraim (361): ”Engkau sendiri dan Bunda-Mu adalah yang terindah daripada semua yang lain, sebab tidak ada cacat cela di dalam-Mu ataupun noda pada Bunda-Mu… ((St. Ephraim, Nisibene Hymns 27:8))

5. St. Athanasius (373), “O, Perawan yang terberkati, sungguh engkau lebih besar daripada semua kebesaran yang lain. Sebab siapakah yang sama dengan kebesaranmu, O tempat kediaman Sang Sabda Allah? Kepada ciptaan mana, harus kubandingkan dengan engkau, O Perawan? Engkau lebih besar daripada semua ciptaan, O Tabut Perjanjian, yang dilapis dengan kemurnian, bukannya dengan emas! Engkau adalah Tabut Perjanjian yang didalamnya terdapat bejana emas yang berisi manna yang sejati, yaitu: daging di mana Ke-Allahan tinggal.” ((St. Athanasius, Homily of the Papyrus of Turin, 71:216))

6. Ambrose (387): “Angkatlah tubuhku, yang telah jatuh di dalam Adam. Angkatlah aku, tidak dari Sarah, tetapi dari Maria, seorang Perawan, yang tidak saja tidak bernoda, tetapi Perawan yang oleh rahmat Allah telah dibuat tidak bersentuh dosa, dan bebas dari setiap noda dosa.” ((St. Ambrose, Commentary on Psalm 118: Sermon 22, no.30, PL 15, 1599)).

7. St. Gregorius Nazianza (390): Ia [Yesus] dikandung oleh seorang perawan, yang terlebih dahulu telah dimurnikan oleh Roh Kudus di dalam jiwa dan tubuh, sebab seperti ia yang mengandung layak untuk menerima penghormatan, maka pentinglah bahwa ia yang perawan layak menerima penghormatan yang lebih besar. ((St. Gregorius, Sermon 38))

8. St. Augustine (415): Kita harus menerima bahwa Perawan Maria yang suci, yang tentangnya saya tidak akan mempertanyakan sesuatupun ketika ia kita membicarakan tentang dosa, demi hormat kita kepada Tuhan; sebab dari Dia kita mengetahui betapa berlimpahnya rahmat untuk mengalahkan dosa di dalam segala hal telah diberikan kepadanya, yang telah berjasa untuk mengandung dan melahirkan Dia yang sudah pasti tidak berdosa ((St. Augustine, Nature and Grace 36:42))

9. Theodotus (446): “Seorang perawan, yang tak berdosa, tak benoda, bebas dari cacat cela, tidak tersentuh, tidak tercemar, kudus dalam jiwa dan tubuh, seperti setangkai lili yang berkembang di antara semak duri.” ((Theodotus, Homily 6:11)).

10. Proclus dari Konstantinopel (446): “Seperti Ia [Yesus] membentuknya [Maria] tanpa noda dari dirinya sendiri, maka Ia dilahirkan daripadanya tanpa meninggalkan noda. ((Proclus, Homily 1))

11. St. Severus (538): “Ia [Maria] …sama seperti kita, meskipun ia murni dari segala noda, dan ia tanpa noda.” ((St. Severus, Hom. cathedralis, 67, PO 8, 350))

12. St. Germanus dari Konstantinopel (733), mengajarkan tentang Maria sebagai yang “benar- benar terpilih, dan di atas semua, … melampaui di atas semua dalam hal kebesaran dan kemurnian kebajikan ilahi, tidak tercemar dengan dosa apapun.” ((Germanus dari Konstantinopel, Marracci in S. Germani Mariali))

Jika Maria tanpa noda dosa, apakah dia membutuhkan Kristus untuk menyelamatkannya?

Jawabnya tentu: YA! Karena segala keistimewaan yang diberikan kepadanya hanya mungkin diperoleh melalui Keselamatan yang diberikan oleh Kristus sendiri. Duns Scotus (1264- 1308) seorang Franciskan mengatakan hal ini dengan indahnya, “Malah Maria, melebihi siapapun membutuhkan Kristus sebagai Penyelamatnya, sebab ia dapat tercemar oleh noda dosa asal seandainya rahmat dari Sang Penyelamat tidak mencegah hal ini.” ((Diterjemahkan dari New Catholic Encyclopedia, The Catholic University of America, Washington D.C., 1967, Book VII, p. 381.)) Keistimewaan rahmat yang membuat Maria dibebaskan dari noda dosa asal adalah bentuk penghormatan Yesus kepada Maria ibu-Nya, sesuatu yang menjadi hak-Nya sebagai Tuhan.

Apa pentingnya Dogma ini buat kita?

Bunda Maria yang tidak bernoda, tubuh dan jiwanya, tidak dimaksudkan ‘hanya’ untuk melukiskan keistimewaan Maria, tetapi untuk memberi gambaran bagi Gereja. ((Lihat Hugo Rahner, SJ, Our Lady and the Church, (Zaccheus Press, Bethesda, 1968, reprint 1990), p. 17, “But this mystery of the Immaculate Conception of Mary is not only a personal priviledge granted to her who was to become the Mother of God. Mary thereby become the figure of the Church…” and p. 20, “The word ‘immaculate’ indeed sums up the mystery of our own spiritual life. We are members of the Church, and in us the Church’s mystery must be accomplished; it begins with Mary Immaculate, and we in turn, by the power of the Holy Spirit, must once more become immaculate. In each of us the victory over the serpent must be achieved….”)) Seperti Maria, Gereja juga dikatakan sebagai ‘tidak bernoda.’ Hal ini juga dikatakan oleh Rasul Paulus yang mengatakan bahwa Kristus akan menempatkan Gereja di hadapanNya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut …supaya GerejaNya kudus dan tidak bercela” (Ef 5:27). Jadi, kita sebagai anggota Gereja diajak untuk melihat Maria sebagai teladan. Kita harus berjuang ‘mengalahkan’ bujukan Iblis setiap hari, dengan mengandalkan kekuatan Roh Kudus.

Kesimpulan:

Dogma Maria Dikandung Tanpa Noda Dosa Asal (Ineffabilis Deus/ The Immaculate Conception) adalah pengajaran yang berdasarkan atas kebijaksanaan Allah yang tak terselami, yang membebaskan Bunda Maria dari dosa asal, sebab ia telah dipilih Allah sejak semula untuk menjadi Ibu PuteraNya Yesus Kristus. Pengajaran yang telah berakar lama dalam Gereja ini mengajak kita untuk melihat Bunda Maria sebagai teladan kekudusan, agar kitapun dapat berjuang hidup kudus setiap hari dengan mengandalkan rahmat Tuhan. Jadi fokus utama dogma ini bukan semata- mata untuk meninggikan Maria, tetapi untuk menyatakan kerahiman Tuhan yang tiada terbatas untuk menguduskan Maria sebagai ibu yang mengandung dan melahirkan Tuhan Yesus di dunia ini. Karena itu, Maria adalah model bagi Gereja dan teladan bagi kita masing-masing dalam hal kekudusan.

58
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
28 Comment threads
30 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
31 Comment authors
Ignatius SandjajaRENYAOlvyBernardus Aan Yunanto PrasetyoArnaldo Basmeri Recent comment authors
arliando
Guest
arliando

Shalom kakak-kakak saya mau bertanya mengenai the woman,

di alkitab ESV, kejadian 3:15 berkata demikian “I will put enmity between you and the woman, and between your offspring and her offspring; he shall bruise your head and you shall bruise his heel.”

tapi di kejadian 3:16 muncul the woman lagi demikian, ” To the woman he said, ….”

Saya masih mengalami kesulitan untuk memahami the woman di bagian ini, karena menurut saya the woman merujuk pada hawa bukan maria (kej 3:16)

Mohon bimbingan dari kakak-kakak pembimbing ya. Terima kasih TUHAN memberkati.

Stefanus Tay

Shalom Arliando, Kita harus melihat konteks dari ayat tesebut, yaitu Kej 3:14-17 sebagai berikut:  “14 Lalu berfirmanlah TUHAN Allah kepada ular itu: “Karena engkau berbuat demikian, terkutuklah engkau di antara segala ternak dan di antara segala binatang hutan; dengan perutmulah engkau akan menjalar dan debu tanahlah akan kaumakan seumur hidupmu. 15  Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini [the woman], antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” 16  Firman-Nya kepada perempuan itu [the woman]: “Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi… Read more »

arliando
Guest
arliando

terima kasih pak Gbu

Dela
Guest
Dela

Untuk Katolistas:
Saya bingung menjelaskan kepada teman2 Protestan yang mengatakan demikian:

supaya Maria bisa dikandung tanpa noda, maka rahim ibunya juga harus tanpa noda. Supaya rahim ibunya Maria bisa tanpa noda, maka rahim neneknya Maria juga harus tanpa noda. Padahal kalau diurut2 achirnya sampai pada moyangnya YESUS yang adalah Rahab si pelacur.

Apakah mbak Inggrid dan pak Steve bisa membantu?

Salam Kasih

Stefanus Tay

Shalom Dela, Argumentasi bahwa kalau Maria diberi rahmat tanpa noda dan implikasinya adalah orang tua dan nenek, buyut sampai ke Adam juga tidak berdosa, menunjukkan ketidaktahuan akan dogma ini. Maria diberikan rahmat tanpa noda karena memang peran yang harus diembannya, yaitu menjadi Bunda Allah, menjadi Bunda Sang Penebus. Tuhan tidak perlu menyucikan sampai ke orang tua, nenek dan buyut Bunda Maria, karena Yesus tidak dikandung oleh mereka, namun Yesus dikandung oleh satu manusia, yaitu Bunda Maria. Dengan demikian, keistimewaan ini adalah keistimewaan yang diberikan hanya kepada Bunda Maria, yang diberikan menurut kerelaan dan kebijaksanaan Tuhan mengingat akan misi yang telah… Read more »

Maximillian Reinhart
Guest
Maximillian Reinhart

Yth. Katolisitas.
Mungkin ada orang bertanya, -terutama mereka yang bukan beragama Katolik – KENAPA baru pada tahun 1854 diumumkan dogma ini, apakah ini pengajaran buatan manusia saja (Paus dan pembantu-pembantunya) ataukah sungguh dari Allah?
Aku senang jika ada jawaban :
KARENA …….?
Terima kasih.

Stefanus Tay

Shalom Maximillian Reinhart, Terima kasih atas pertanyaannya. Kalau ada yang mempertanyakan mengapa dogma Maria dikandung tanpa noda baru diresmikan tahun 1854, maka kita dapat menjawabnya dari tiga hal: (1) Pengajaran ini bersumber pada Kitab Suci, (2) Dikuatkan oleh tulisan para Bapa Gereja; (3) Dogma sering dikeluarkan untuk melawan bidaah. Sumber dari Kitab Suci dan tulisan Bapa Gereja mulai tahun 180 oleh St. Irenaeus dapat dibaca di artikel di atas – silakan klik, yang membuktikan bahwa pengajaran ini bukan karangan Gereja Katolik. Dari point ke-3, kita melihat ada banyak dogma yang diberikan Gereja untuk menegaskan pengajaran Gereja yang telah dipercayai dari… Read more »

terang
Guest
terang

Shalom,

Maria sebagai Tabut Perjanjian Baru

Saya mau menanyakan:
1. Apa Tabut itu, dan apa fungsinya?
2. Kalau dikatakan demikian, ayat mana di Alkitab yang mendukung?(harus nyambung, bukan pemikiran
pribadi).

Terimakasih.

terang
Guest
terang

Shalom.,

Maria dikandung Tanpa Noda Dosa Asal.

Pertanyaan saya, benarkan demikiran?
Bagaimana halnya dengan ayat-ayat berikut:

Roma 5:12
Akibat dosa asal, maka semua orang pasti mati.
-Mana buktinya, kalau Maria tidak mengalami kematian?
(harus tertulis hikmatnya di alkitab).

Ayub 15:14
Masakan manusia bersih, masakan benar yang lahir dari perempuan?
-Bukankah Maria juga dilahirkan dari perempuan ??

Terimakasih.

Bernardus Aan
Guest
Bernardus Aan

Salam Damai Kristus Ibu Ingrid, Saya masih bingung dengan apakah Sang Theotokos bebas dari dosa asal ataupun tidak. Kebingungan saya begini : 1. Apabila Sang Theotokos tidak bebas dari dosa asal, kenapa Malaikat Gabriel menyampaikan Salam Maria Penuh Rahmat. Sedangkan akibat dari dosa asal adalah manusia kehilangan seluruh Rahmat Tuhan? Jadi kalau dipandang dari akibat dosa asal menyebabkan manusia kehilangan Rahmat Tuhan maka jelas-jelas Sang Theotokos bebas dari dosa asal. 2. Tetapi apabila Sang Theotokos bebas dari dosa asal maka menurut Kitab Suci akibat dari dosa asal secara langsung bagi kaum Hawa adalah “”Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Bernardus Aan, Terima kasih atas pertanyaannya tentang Maria dikandung tanpa noda. Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan: 1. Salam dari malaikat Gabriel kepada Maria, yaitu “penuh rahmat” memang menunjukkan bahwa rahmat Allah yang menyelimuti Maria sedemikian penuh, sehingga tidak ada ruang untuk dosa. 2. Salah satu upah dari dosa adalah kesakitan ketika melahirkan anak (lih. Kej 3:16). Why 12:2 menuliskan “Ia sedang mengandung dan dalam keluhan dan penderitaannya hendak melahirkan ia berteriak kesakitan.” Tradisi memberikan beberapa interpretasi, seperti: 1) Maria yang melahirkan Yesus, 2) Gereja yang melahirkan umat beriman, 3) Israel yang melahirkan Mesias. Mengapa kalau Maria… Read more »

zenny p
Guest
zenny p

Dibeberapa keluarga di daerah saya, kalau doa lingkungan (kring) yang dipasang diatas meja patung Bunda maria tanpa SALIB YESUS, apakah dibenarkan cara seperti ini ?
Kadang2 saya berpikir, kalau orang katolik doa tanpa ada salib, tapi hanya patung Bunda Maria. Maka saya tidak “terlalu menyalahkan” teman2 Prostestan yang menganggap orang Katolik menyembah Bunda Maria, bukan menyembah Yesus.
Kalaupun ada salib, ukurannya cuma kecil, bahkan patung Bunda Maria bisa 5 s/d 10 kali lebih besar dari pada salib.
Bagaimana mengatasi hal tersebut…………. ?
Terimaksih/ Tuhan memberkati.

Joseph Haryanto
Guest
Joseph Haryanto

Dear Katolisitas, Saya mohon bantuan untuk bisa memahami Dogma Maria Dikandung Tanpa Noda. Saya sudah membaca uraian Katolisitas, dan saya bisa menerima. Tapi ada pendapat dari Gereja Ortodox bahwa Bunda Maria bukan dikandung tanpa noda, dia jg manusia biasa seperti yg lain. Menurut Gereja Ortodox, Maria menjadi murni (dibersihkan dari dosa/noda) saat Bunda Maria menerima salam dari Malaikat Gabriel. Jadi saat Kabar Gembira itu (entah oleh salam Malaikat Gabriel atau karena kepatuhan Bunda Maria untuk menanggapi salam itu), ALLAH ROH KUDUS menguduskan Bunda Maria sehingga dia layak menjadi Ibu TUHAN. Seperti ini pertanyaan yg masuk di Wall Facebook saya: “Jika… Read more »

Vano
Guest
Vano

Shalom saya ingin menanyakan kepada team Katolisitas

Maria dikandung tanpa noda — sedangkan pada LG57 dinyatatkan demikian : Sungguh, kelahiran KRISTUS tidak merusakkan integritas perawani bundaNya, melainkan justru menyucikannnya (LG 57; KGK 499).

Yang menjadi pertanyaan:
Yang pertama maria telah dikandung tanpa noda, tanpa dosa tanpa cela. Dia kudus, suci tak berdosa (anggap umurnya 0 tahun)

Namun dalam LG57, peristiwa maria melahirkan YESUS (anggap umurnya 16 thn) kog dinyatakan sbg peristiwa yg menyucikan?

Salam

Vano

fenky
Guest

Berikut kutipan yang saya terima dari seorang teman lewat email: “…yang diberi salam oleh Malaikat Agung Gabriel dua ribu tahun yang lalu sebagai “Putri Kesayangan”2 Allah yang benar-benar menjadi ciptaan Allah yang paling terberkati; hanya pada Dia ada kesempurnaan dan keindahan3 Maria mewujudkannya dalam rahimnya, “Tabut Baru Perjanjian Baru”, yang tidak ternodai dengan dosa yang paling kecil, dosa asal, atau dosa pribadi. Sebaliknya Yesus, Allah-Manusia, telah mewarisi dari bunda-Nya sifat manusia berdosa.” Pertanyaan saya: tepatkah kalimat ‘Sebaliknya Yesus, Allah-Manusia, telah mewarisi dari bunda-Nya sifat manusia berdosa.’ di atas? Jika tepat, apakah hal itu berarti Tuhan Yesus memiliki dosa asal, sedangkan… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Fenky, Terima kasih atas pertanyaannya. Tanggapan di atas sebenarnya tidaklah tepat bahwa Yesus telah mewarisi dosa asal. Secara prinsip kita tidak dapat memisahkan dua kodrat Yesus, yaitu sungguh Allah dan sungguh manusia, walaupun dua kodrat tersebut menjalankan apa yang menjadi kodratnya masing-masing dan kedua kodrat ini terikat dalam kesatuan yang tak terpisahkan – atau disebut hypostatic union. Satu-satunya yang memisahkan manusia dengan Allah adalah dosa. Jadi, tidak mungkin Yesus, yang sungguh Allah dan sungguh manusia, serta ingin membebaskan manusia dari dosa, namun Dia sendiri berdosa. Untuk itulah, Maria yang melahirkan Yesus, yang mengandung Yesus selama 9 bulan, yang bersama-sama… Read more »

Phiner
Guest
Phiner

Pesta Hati Maria Tak Bernoda (Heart of Mary Immacilate) dirayakan pada hari Sabtu setelah Hari Raya Hati Yesus yang Mahakudus (hari Jumad). Maka ada tradisi setiap hari Sabtu ada devosi ke Bunda Maria.

MEDYA IKA AYU
Guest
MEDYA IKA AYU

Shalom mba Inggrid,

Saya ingin menanyakan bahwa diterangkan di artikel diatas bahwa Bunda Maria telah dipersiapkan sejak awal dan dibebaskan dari dosa asal. Lalu bagaimana dengan kehendak bebas (free will) yang dimiliki oleh setiap manusia, tak terkecuali Bunda Maria. Bunda Maria juga sebagai manusia bukan?? Nah, kalau begitu berarti sejak awal Allah sudah tahu bahwa kelak Bunda Maria akan menjawab “iya/fiat” untuk menjadi tabut perjanjian baru. Bagaimana kalau Bunda Maria kelak tidak menjawab “ya” melainkan “tidak”, apakah ia tetap terbebas dari dosa asal atau bagaimana dengan kekudusannya yang sudah Allah persiapkan sejak ia belum dilahirkan ke dunia??

Terima kasih sebelumnya,
Tuhan Memberkati
Salam dari
Ayu

Stefanus Tay

Shalom Medya Ika Ayu, Terima kasih atas pertanyaannya hubungan antara kehendak bebas Bunda Maria. Justru karena Bunda Maria telah dipersiapkan oleh Allah secara khusus, mengingat peran yang harus dijalankannya sebagai Bunda Allah, maka dia telah menerima rahmat khusus dari Allah, yaitu dia dilahirkan tanpa noda asal. Namun, rahmat Allah ini tidak menjadikan Bunda Maria kehilangan kehendak bebasnya. Kita melihat hawa pertama, yang diciptakan tanpa noda asal, memilih untuk melawan Allah dengan kesombongannya dan berkata “tidak” dengan melawan Allah. Sedangkan Bunda Maria, Hawa kedua, memilih untuk mengatakan “ya” kepada rencana keselamatan Allah. Karena Allah maha tahu, maka sebelum dunia dijadikan Dia… Read more »

Novan
Guest
Novan

Shalom pengurus katolisitas,

untuk topik ini, kenapa tidak ditambahkan juga mengenai penampakan Bunda Maria di Lourdes? Bukankah saat itu Bunda Maria sendiri yang mengatakan bahwa Dia adalah yang dikandung tanpa noda?

Salam, Novan.

[Dari Katolisitas: Terima kasih, ini adalah saran yang baik. Kami sudah menambahkannya di artikel di atas]

redemptus Pramudhianto
Guest
redemptus Pramudhianto

shalom Katolisitas

saya mau bertanya tentang Maria dikandung tanpa noda apakah sama pengertian dan pemahamannya dengan pilihan nama pelindung paroki Hati Maria Tak Bernoda?. kalau sama tanggal berapa yach hati maria tak bernoda ini diperingati sebagai hari pestanya?

Machmud
Guest
Machmud

Salam Sejahtera Saya mengutip sedikit ulasan yang diberikan oleh Ingrid tentang Bunda Maria sbb : Bunda Maria sebagai Tabut Perjanjian yang Baru. Di dalam Kitab Perjanjian Lama, yaitu di Kitab Keluaran bab 25 sampai dengan 31, Kita melihat bagaimana ’spesifik-nya’ Allah saat Ia memerintahkan Nabi Musa untuk membangun Kemah suci dan Tabut Perjanjian. Ukurannya, bentuknya, bahannya, warnanya, pakaian imamnya, sampai seniman-nya (lih. Kel 31:1-6) Kalau pada saat Allah menciptaan alam semesta beserta dengan segala isinya Alkitab hanya menuliskannya dalam 2 bab saja, sedangkan didalam pembuatan Kemah Suci Alkitab menuliskan demikian teliti sampai memerlukan 7 bab. Apakah ada makna atau arti… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Machmud, Terima kasih atas pertanyaannya. Di dalam Alkitab sesuatu yang penting bukan tergantung dari banyaknya bab atau ayat. Oleh karena itu buku yang isinya lebih pendek sama pentingnya dengan buku yang isinya lebih panjang. Sebagai contoh, Surat Rasul Yohanes 1, 2, 3 termasuk buku-buku yang isinya pendek, namun menyajikan begitu banyak hal-hal penting. Untuk pertanyaan Machmud kenapa Allah memberikan perintah yang begitu detil tentang kemah Allah dan tabut perjanjian, saya telah menjawabnya dalam jawaban yang lain, dimana saya katakan: Mengenai pertanyaan tentang arti dari ukuran-ukuran tentang tabernakel, kemah Allah seperti yang disebutkan di Kel 25-31, saya belum riset secara… Read more »

V.P.Kusnadi Sutedjo
Guest
V.P.Kusnadi Sutedjo

Terima kasih atas pencerahannya.Saya tolong tanya,apakah Devosi pada Bunda Maria itu HARUS dilakukan oleh orang Katolik?.Kalau ya apakah dasar hukum/ajaran Gerejanya dan kalau tidak apa dasar hukum Gerejanya.Terima kasih atas pencerahannya.

andryhart
Guest
andryhart

Seorang teman Kristen bertanya kepada saya, mengapa orang Katolik menyanyikan nderek Bunda Maria dan bukan nderek Gusti Yesus. Jawab saya, karena kita ikut Bunda Maria yang mengarahkan pandangan dan harapan kita kepada Yesus. Bunda Maria sebagai individu yang paling dekat dengan Yesus dapat menuntun kita menuju kepada puteranya Yesus sebagaimana Yesus yang menjadi jalan bagi kita untuk menuju kepada Allah. Barangkali rama atau teman Katolik memiliki jawaban yang lebih tepat terhadap pertanyaan orang Kristen bukan-Katolik ini?

andryhart
Guest
andryhart

Bunda Maria merupakan tabut perjanjian baru karena mengandung Yesus yang merupakan simbol perjanjian baru yang dibuat Allah dengan seluruh umat manusia (bukan hanya bangsa Yahudi). Seperti halnya tabut perjanjian lama yang harus dihormati dan disucikan karena berisikan simbol perjanjian lama yang berbentuk loh batu Musa, maka Bunda Maria pun disucikan Allah sehingga dia patut disebut Maria immaculata. Hal lain yang istimewa bagi Bunda Maria adalah bahwa teladan ketaatannya kepada Allah telah membuatnya menjadi tokoh yang berlawanan dengan Hawa. Jika Hawa membuat manusia menanggung dosa asal, maka Bunda Maria turut membantu Yesus untuk membebaskan manusia dari dosa asal.

Oelean
Guest
Oelean

Terima kasih atas pencerahan yang luar biasa ini. Saya percaya jika Elizabeth saja kepenuhan Roh Kudus saat menerima kunjungan Maria, apalagi Bunda Maria yang sedang mengandung Kristus dalam rahimnya. (Luk 1: 39-54) Tapi maafkan pertanyaan dan pemikiran saya : 1. Mengapa pada saat Yesus di Bait Allah, orang tuanya bahkan Bunda Maria sendiri tidak/ belum mengerti mengenai perkataan Yesus ; dan apa maksudnya ayat “.. dan ibuNya menyimpan semua perkara itu dalam hatinya” (Luk 2:48-51) 2. Selain pesta pernikahan di Kana, mengapa peranan Bunda Maria tidak dicatat secara lebih luas dan khusus lagi di alkitab, misalnya pada periode Yesus hidup… Read more »

Ingrid Listiati
Guest

Shalom Oelean, Berikut ini adalah tanggapan atas pertanyaanmu, berdasarkan atas A Catholic Commentary on Holy Scripture, Dom Bernard Orchard, ed. Thomas Nelson and Sons, Canada, 1953): 1) Pada saat Yesus berumur 12 tahun, Bunda Maria dan Yesus mengikuti Yusuf ke Bait Allah di Yerusalem, berkaitan dengan perintah bahwa laki-laki dewasa (di atas 13 tahun) harus beribadah di Bait Allah di Yerusalem tiga kali dalam setahun, termasuk pada hari raya Paska Yahudi (lih. Kel 23:14-17; Ul 16:16). Namun, kebiasaan ini kadang didahulukan satu atau dua tahun. Konon, menurut kebiasaan pula, orang-orang sekampung berangkat bersama-sama, rombongan pria dan wanita dipisah. Anak-anak kecil… Read more »

hermanwib
Guest
hermanwib

Salam damai Kristus. Terima kasih atas uraian bu Ingrid. Perihal ayat ” …. ibuNya menyimpan semua perkara itu dalam hatinya” (Luk 2:48-51) … “, untuk saya pribadi menjadi semacam reflexi batin bahwa menjadi orang beriman itu memerlukan suatu proses, sama seperti Bunda Maria yg pada awalnya tidak banyak tahu (juga pada Luk 1:29, 34; Luk 2:33). Hal ini menyemangati saya untuk selalu berusaha lebih baik (ucapan, tindakan, pengetahuan mengenai alkitab dll) dari hari ke hari. Jika saya sedang jatuh, adanya reflexi “bhw ini adalah suatu proses” akan menghibur dan mendorong saya untuk segera minta bantuan Nya dan bangun kembali. Tentu… Read more »

dominic kho
Guest
dominic kho

Yesus adalah Allah Putra yg ingin lahir di dunia ini melalui seorang gadis sederhana bernama Maria. Dan sebagai Allah Putra ,Ia mempunyai kuasa untuk mensucikan kandungan dan meniadakan dosa asal ibundaNya,siapakah yg berani menentang/melawan kehendakNya.

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X