Maria, Bunda Allah

Pendahuluan

Mungkin anda pernah mendengar komentar yang berkata, “Bunda Maria itu hanya manusia biasa seperti kita… Tuhan hanya ‘meminjam’ tubuhnya saja untuk melahirkan Yesus.” Benarkah? Sesungguhnya, tidak sesederhana itu. Sebab, semakin kita membaca dan merenungkan Kitab Suci dan tulisan dari para Bapa Gereja, kita akan semakin menyadari, bahwa meskipun Bunda Maria itu manusia ‘biasa’ sesungguhnya ia sangat istimewa. Ia tidak mungkin sama dengan kita, justru karena perannya sebagai Ibu Tuhan Yesus. Dibutuhkan kerendahan hati untuk mengakui, bahwa seberapapun dekatnya seseorang dengan Yesus, tidak ada yang melebihi kedekatan Bunda Maria dengan Yesus. Kenyataannya, semua gen sifat-sifat Yesus sebagai manusia diperoleh dari Bunda Maria. Maria mengandung Yesus, menyusui-Nya, membesarkan-Nya. Selama 30 tahun Maria hidup bersama Yesus yang menghormatinya sebagai Ibu-Nya. Bunda Maria mendampingi Yesus dengan setia sampai wafat-Nya di kayu salib. Di tengah derita-Nya di salib, Tuhan Yesus memikirkan nasib Bunda Maria yang akan ditinggalkan-Nya, sehingga Ia memasrahkan ibu-Nya itu kepada murid yang dikasihiNya. Selanjutnya, setelah kebangkitan dan kenaikan Yesus ke surga, Maria menyertai Gereja; sampai saat ia-pun diangkat ke surga hingga saat ini, ia menyertai kita semua. Tulisan berikut ini merupakan sekilas renungan tentang Maria sebagai Bunda Allah, yang mengambil sumber utama dari surat ensiklik Paus Yohanes Paulus II, Redemptoris Mater (Bunda Penyelamat) dan tulisan para Bapa Gereja.

Bunda Maria, Bunda Allah

Santo William pernah berkata, “Maria, dengan melahirkan Yesus Sang Penyelamat dan Kehidupan kita, membawa banyak orang kepada Keselamatan; dan dengan melahirkan Sang Hidup itu sendiri, ia memberikan kehidupan untuk banyak orang”. ((Liguori, St. Alphonsus, Hail Holy Queen! (Rockford, Illinois: Tan Books and Publishers, Inc., 1995), p. 21)) Maka, Bunda Maria sebagai Bunda Penyelamat menjalankankan peran yang istimewa di dalam rencana Keselamatan Allah. Memang benar jika dikatakan bahwa rencana keselamatan Allah merangkul semua orang (lih. I Tim 2:4), namun secara khusus Allah menyediakan tempat bagi Bunda Maria, yaitu seorang “perempuan” yang dijadikanNya sebagai Ibu Yesus Sang Putera Allah dan Sang Juru Selamat. ((Paus Yohanes Paulus, Surat Ensiklik, Redemptoris Mater, 7)) Rencana Allah ini telah dinubuatkan oleh para nabi,“Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki dan mereka akan menamakan Dia Immanuel, yang berarti, “Allah menyertai kita.” (Mat 1:23). Hanya karena ketaatan Bunda Maria, maka kelahiran Yesus yang dinubuatkan oleh para nabi selama sekitar 2000 tahun terpenuhi. Hanya karena kesediaan Maria, maka Allah Putera menjelma menjadi manusia, dan Bunda Maria adalah ibu dari Sang Immanuel, “Allah yang beserta kita” tersebut. Dalam diri Maria digenapi rencana keselamatan Allah, “tetapi setelah genap waktunya, maka Allah mengutus Anak-Nya yang lahir dari seorang perempuan dan takluk kepada hukum Taurat.” (Gal 4:4). Dan, sungguh Allah Putera itulah yang dikandung oleh Bunda Maria, sesuai dengan Kabar Gembira dari malaikat, “….sebab anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, anak Allah.” (Luk 1:35) Oleh karena itu, Elisabeth menyebut Bunda Maria sebagai “ibu Tuhanku.” (Luk 1:1-43) dan karena itu kita juga memanggil Maria sebagai Bunda Allah.
Tuhan, sebagai Allah Bapa yang Maha Pengasih mengiginkan agar setiap orang menjadi anak-Nya di dalam Kristus Putera-Nya, yang di dalam Roh Kudus-Nya dapat memanggil-Nya sebagai “Abba! Bapa!” (lih. Gal 4:6). Oleh karena itu, saat genaplah waktunya, Allah mengirimkan Putera-Nya, Yesus Kristus, melalui Bunda Maria yang diurapi oleh Roh Kudus. Pada saat Maria menjawab, “Terjadilah padaku menurut perkataanmu (Luk 1:38), terwujudlah karya Tuhan yang sangat ajaib: Allah yang tak terbatas oleh waktu, masuk ke dalam ruang waktu dan menjadi bagian dari sejarah umat manusia. Dengan demikian, sejarah manusia dikuduskan dan diisi dengan misteri Kristus. Penggenapan janji Allah ini menandai permulaan dari perjalanan Gereja, di mana Maria sebagai anggota pertamanya menjadi teladan bagi Gereja sebagai mempelai dan ibu, dengan menyatakan “ya” pada pemenuhan Perjanjian Baru. ((Cf. Ibid., 1))

Bunda Maria merupakan teladan kekudusan, ketaatan dan pengabdian

Alkitab mengatakan, “Sebab di dalam Dia (Kristus) Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” (Ef 1:4). Bunda Maria adalah seseorang yang secara sempurna memenuhi ayat ini; sebab ia telah ditentukan Allah sejak semula menjadi Ibu Sang Putera Allah. Dan untuk mempersiapkannya sebagai Tabut Perjanjian Baru yang mengandung Sabda yang menjadi manusia, Allah membebaskan Bunda Maria dari dosa asal, oleh karena jasa Yesus yang menyelamatkan dunia. (lihat artikel: Bunda Maria dikandung tanpa noda, apa maksudnya?) Jadi, penghormatan kepada Bunda Maria bukanlah ‘rekayasa’ Gereja Katolik, sebab yang pertama-tama menghormati Maria adalah Tuhan sendiri. Kita menghormati Bunda Maria sebab kita mengikuti teladan Allah sendiri, sebab Tuhanlah yang terlebih dulu mempercayakan Diri-Nya kepada Bunda Maria. Karena itu Bunda Maria disebut sebagai “penuh rahmat” seperti yang dikatakan oleh Malaikat Gabriel. Di dalam Bunda Maria, Putera Allah yang mengatasi segalanya mengambil rupa tubuh sebagai manusia. Maria menanggapi rahmat ini dengan iman tak bersyarat, dan karenanya ia dikatakan sebagai yang terberkati. Ia menerima rahmat dan tugas mulia ini dengan memberikan diri seutuhnya kepada Tuhan. ((Cf. Ibid., 9, 10, 12, 39))

Dengan mempercayakan diri kepada Tuhan, baik pada saat menerima kabar gembira maupun seterusnya sepanjang hidupnya, Bunda Maria menyatakan ketaatan iman. Dengan mengatakan, “Terjadilah padaku menurut perkataanmu” (Luk 1:38) ia mengatakan hal yang sama dengan yang dikatakan oleh Yesus kepada Allah Bapa, “Aku datang; …untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku” (Ibr 10:7). Imannya mengingatkan kita pada iman Bapa Abraham. Sebab Perjanjian Lama dimulai oleh iman Abraham, dan Perjanjian Baru dimulai oleh iman Bunda Maria.

Ketaatan Maria tetap teguh sepanjang hidupnya: di dalam menjalani kehidupan yang sangat miskin pada saat kelahiran Yesus; di saat menjalani pengungsian ke Mesir, di sepanjang tahun-tahun kehidupan Yesus yang tersembunyi di Nazareth, sampai menyertai Yesus di bawah kaki salib-Nya, dan ikut menganggung sengsara Yesus Puteranya (lih. Yoh 19:25). Bunda Maria adalah seseorang yang ‘miskin di hadapan Allah’ dan karenanya ia memiliki Kerajaan Sorga (lih. Mat 5:3). Ia hidup sedemikian miskin, (sebab bahkan orang termiskin sekalipun umumnya tidak melahirkan di kandang hewan) namun ia menjalaninya dengan iman dan ketaatan. Ia mempersembahkan Yesus di Bait Allah dan kemudian membesarkan dan mendidik Yesus hingga dewasa. Karena ketaatannya dalam mendengarkan dan melaksanakan kehendak Allah, Bunda Maria dipuji oleh Yesus, ketika ia dan saudara-saudari Yesus datang menghampiri Yesus. Yesus berkata, “Inilah ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Barangsiapa melakukan kehendak Allah, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku.” (Mrk 3:34-35). ((Ayat ini sering dipakai untuk menyatakan bahwa Yesus mempunyai banyak saudara. Namun yang dimaksud di sini adalah saudara sepupu, bukan saudara kandung. Untuk keterangan selanjutnya silakan baca artikel : Bunda Maria Tetap Perawan: Mungkinkah?. Ayat ini juga sering disalah-artikan, seolah Yesus tidak mau mengakui ibu dan saudara-saudarinya, dengan ‘membuka tali persaudaraan’ kepada semua saja yang melakukan kehendak Allah. Untuk itu, ada baiknya kita melihat ayat ini dalam Alkitab bahasa Inggris, Yesus mengatakan, “Who are My mother and my brethren? …Here are my mother and my brethren! Whoever does the will of God is my brother, and sister and mother.” Lihatlah bahwa Yesus menyatakan saudara-saudarinya dalam bentuk jamak: ‘brethern’, sedangkan untuk ibu-Nya, hanya satu/ tunggal, sebab hanya Bunda Maria-lah ibu-Nya, yang menjadi teladan dalam melaksanakan kehendak Tuhan.))

Ketaatan Maria membawanya sampai ke gunung Golgotha. Di kaki salib inilah, Maria mengalami bagaimana kabar gembira malaikat Gabriel seolah ‘dijungkirbalikkan’: …bahwa anakNya akan menjadi besar…, dan kerajaan-Nya tidak akan berakhir (lih. Luk 1:32-33). Sedangkan yang terpampang di hadapan matanya adalah sebaliknya: Sang Putera dihina, disiksa sampai mati, seolah segalanya telah berakhir…. Namun demikian kita melihat, tidak ada ‘protes’ dan perlawanan keluar dari mulutnya. Di dalam iman Bunda Maria ‘menyimpan segala sesuatu di dalam hatinya’. Oleh karena itu, ia sungguh-sungguh bersatu dengan Kristus dan misteri suci-Nya yang menyangkut ‘pengosongan diri dan penghinaan diri’. Paus Yohanes Paulus II menyebutkan bahwa penderitaan Bunda Maria di kaki salib ini merupakan pengosongan ‘kenosis’ iman yang terdalam yang pernah terjadi di dalam sejarah manusia. Di kaki salib Kristus itulah, dipenuhi nubuat Simeon, “Dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri.” (Luk 2:35). ((Cf. Ibid., 13, 14, 15, 16, 17, 18)) Adakah derita ibu yang lebih hebat daripada melihat anak satu-satunya disiksa dan dibunuh di depan matanya?

Ketaatan Bunda Maria yang sedemikian inilah yang dianggap sebagai ‘obat’ dari ketidaktaatan Hawa, seperti yang dikatakan oleh para Bapa Gereja, terutama Santo Irenaeus. Lumen Gentium mengutipnya dengan mengatakan, “Ikatan yang disebabkan oleh Hawa telah dilepaskan oleh ketaatan Bunda Maria…” ((Lihat Lumen Gentium, Dokumen Vatikan II, Konstitusi Dogmatik tentang Gereja, 56, mengutip St Irenaeus, Against Heretics, III, 22,4:PG 7, 959 A; Harvey, 2, 124.)) Sehingga dikatakan, “Kematian oleh Hawa, namun kehidupan oleh Maria.” ((Ibid., mengutip St. Jerome, St. Agustinus, St. Cyril dari Jerusalem, St. Yohanes Krisostomus, St. Yohanes Damaskus.)) Karena itu, Maria ditempatkan pada pusat pertentangan antara Iblis dan ‘keturunan perempuan ini’ (lih. Kej 3:15) ((Cf. Ibid., 11, 19)) sebab ia adalah sang ‘perempuan’ yang telah dibuat kudus tak bernoda oleh Allah; ia bebas dari dosa asal, sehingga bersama dengan Putera-Nya dapat diletakkan di dalam pertentangan total melawan dosa dan Iblis. Pertentangan ini mencapai puncaknya seperti yang tertulis dalam kitab Wahyu, “Seorang perempuan berselubungkan matahari…..melahirkan Anaknya laki-laki… yang akan menggembalakan semua bangsa…” (Why 12:1,5). Sang Putera akan mengalahkan naga itu, yaitu Iblis. Maka kita mengetahui, bahwa sang Putera adalah Yesus, dan sang Ibu adalah Bunda Maria. ((Hahn, Scott, Hail, Holy Queen, (Broadway, New York: Doubleday, 2001), p. 39))

Bunda Maria, Bunda kita

Hubungan yang erat antara Maria dan Yesus Puteranya juga dapat kita lihat dengan jelas pada kisah mukjizat pada pesta perkawinan di Kana, yaitu pada saat Bunda Maria mengambil peranan penting dalam perwujudan mukjizat Yesus yang pertama ini. Dengan berkata pada Yesus, “Mereka kehabisan anggur”, dan kepada para pelayan, “Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!”, Bunda Maria menempatkan diri sebagai pengantara, bukan sebagai orang asing, tetapi sebagai ibu. Pengantaraan Maria sama sekali tidak menghalangi atau mengurangi pengantaraan Yesus yang esa dan satu-satunya kepada Allah Bapa (lih. 1 Tim 2:5) melainkan semakin menunjukkan kuasa pengantaraan Yesus itu. Konsili Vatikan II mengajarkan bahwa pengantaraan Bunda Maria merupakan bagian dari pengantaraan Yesus yang unik dan satu-satunya itu, sebab pengantaraan Maria ada di bawah kuasa pengantaraan Yesus. ((Redemptoris Mater, 21, 22, 38, 40))

Dengan mengandung Yesus yang adalah Kepala dari Tubuh mistik Gereja, Bunda Maria juga mengandung kita umat beriman, karena kita semua adalah anggota Tubuh Kristus/ Gereja. Oleh karena itu St. Bernardus mengatakan bahwa Bunda Maria adalah “Leher dari Tubuh Mistik Kristus” ((Miravalle, Mark, STD, Introduction to Mary, (Santa Barbara: Queenship Publishing Company, 1993), 63, 76)) yang menghubungkan Yesus Sang Kepala dengan semua anggota Tubuh-Nya yaitu Gereja-Nya. Inilah sebabnya mengapa Bunda Maria yang hadir di dalam misteri Kristus sebagai ibu, juga menjadi ibu rohani bagi semua orang percaya.

Bunda Maria merupakan pemenuhan janji Tuhan yang telah disebutkan pada awal mula (lih. Kej 3:15) dan pada akhir jaman (Why 12:1-5). Ia hadir pada awal misi keselamatan Yesus (lih. Yoh 2:1-12) sampai pada akhirnya, saat ia berdiri di bawah kaki salib Yesus (lih. Yoh 19:25). Ia ada pada saat Sang Sabda menjelma menjadi manusia di dalam rahimnya, dan ia hadir pada saat kelahiran Gereja di hari Pentakosta. Dengan demikian ia telah menjadi contoh dalam perjalanan iman. Bunda Maria adalah seseorang yang pertama kali percaya akan janji Keselamatan, dan dengan imannya, ia menjadi teladan pertama sebagai saksi apostolik Gereja. ((Cf. Redemptoris Mater., 23, 24, 25, 26, 27,28)) Karena itu, Bunda Maria adalah juga Bunda Gereja.

Sejak awal Bunda Maria telah memberikan dirinya tanpa batas kepada Yesus Puteranya, dan ia berbuat yang sama terhadap Gereja, yang adalah ‘anak angkat’-nya. Setelah Kristus bangkit dan naik ke surga, Bunda Maria tetap memberikan dirinya sebagai pengantara semua anak-anak-nya kepada Tuhan. ((Cf. Ibid., 40)) St. Alphonsus Liguori mengatakannya dengan begitu indah, dengan mengutip kisah dari kitab 2 Sam 14:4-11. Seorang perempuan bijak dari Tekoa menghadap Raja Daud, “Tuanku, hambamu ini mempunyai dua orang anak laki-laki, dan malangnya hamba ini, salah seorang dari puteraku itu membunuh yang lain, sehingga hamba kehilangan seorang putera, dan keadilan menghendaki agar anakku yang lain itupun mendapat hukuman mati karena perbuatannya..…; kasihanilah hamba, dan janganlah hamba sampai kehilangan kedua puteraku.” Bunda Maria dapat berkata yang serupa, “Tuhanku, hamba mempunyai dua putera, Yesus dan manusia; manusia membunuh Puteraku Yesus di salib, dan kini, keadilanMu menuntut puteraku yang bersalah. O, Tuhan, Yesusku sudah wafat, kasihanilah hamba, sebab hamba sudah kehilangan seorang, mohon jangan biarkan hamba juga kehilangan anakku yang lain.” ((Liguori, St. Alphonsus, Hail Holy Queen! (Rockford, Illinois: Tan Books and Publishers, Inc., 1995), 45)) Dan seperti Raja Daud akhirnya berbelas kasihan kepada ibu dari Tekoa itu dan mengabulkan permohonannya, maka Tuhan-pun berbelas kasihan dan tidak menghukum para pendosa yang didoakan oleh Bunda Maria. Oleh pengantaraannya ini, maka Bunda Maria dikatakan sebagai Mediatrix.

Bunda Maria Teladan Gereja

Bunda Maria adalah teladan Gereja dalam hal iman, kasih dan persatuan yang sempurna dengan Kristus. Bunda Maria adalah contoh sempurna yang mencerminkan Kristus. Ia adalah contoh tetap bagi Gereja, sebab Gereja juga dipanggil untuk menjadi Ibu dan perawan, sebagai mempelai Kristus. (lihat artikel: Bunda Maria tetap perawan, mungkinkah?) Bunda Maria bekerjasama dalam kelahiran Gereja dan perkembangannya. Sekarang ini, pada saat digalakkannya gerakan Ekumenism di mana semua orang Kristen berjuang untuk mencapai persatuan, ketaatan Maria menjadi contoh yang paling sempurna. Dengan mempelajari dan merenungkan peran Bunda Maria dalam Gereja, semua umat Kristen akan dapat melakukan perkataan Yesus -seperti yang menjadi pesan Bunda Maria pada mukjizat di Kana. Dengan demikian, perkataan Yesus, “supaya mereka semua (umat Kristen) menjadi satu…”(Yoh 17:21), dapat terlaksana dengan dipimpin oleh Bunda Maria, yang menjadi ibu bagi semua pengikut Kristus. Sungguh benar, bahwa keibuan Maria adalah rahmat yang diberikan kepada setiap orang. Kristus Penyelamat kita mempercayakan Ibu-Nya sendiri kepada murid yang dikasihiNya. Murid itu mewakili semua umat manusia. Jadi artinya Kristus memberikan Ibu-Nya untuk menjadi ibu bagi kita semua ((Cf. Redemptoris Mater., 42, 44, 30, 45)) (lih. Yoh 19:26-27).

Mari kita renungkan, sudahkah kita ‘menerima’ Maria sebagai Ibu kita sendiri? Jika kita mau sungguh mengasihi Tuhan Yesus seperti Rasul Yohanes, bukankah kitapun perlu meniru teladannya untuk menerima Maria di dalam ‘rumah’ hati kita dan di dalam kehidupan kita?

Bunda Maria, Bunda Allah menurut Bapa Gereja

Para Bapa Gereja menghubungkan peran Maria sebagai Bunda Allah dengan perannya sebagai Hawa yang baru (the new Eve). Bunda Maria melahirkan Tuhan Yesus yang menyelamatkan manusia dari dosa yang diturunkan dari dosa Hawa. Karena dalam Pribadi Yesus, ke-Allahan dan kemanusiaan-Nya bersatu dengan sempurna, maka Bunda Maria dikatakan sebagai Bunda Yesus dan Bunda Allah, sebab, Yesus itu Allah.

1. St. Yustinus Martir (155) membandingkan Hawa dengan Bunda Maria. Hawa, manusia perempuan pertama terperdaya oleh Iblis yang kemudian membawa maut; sedangkan Maria percaya kepada pemberitaan malaikat Gabriel, dan karena itu ia mengandung Putera Allah yang membawa hidup. ((Lihat St. Yustinus Martir, Dialogue with Trypho the Jew, 155 AD, p.100))

2. St. Irenaeus (180): “Ikatan ketidaktaatan Hawa dilepaskan oleh ketaatan Maria. Apa yang terikat oleh ketidakpercayaan Hawa dilepaskan oleh iman Maria.” ((Lihat St. Irenaeus, Against Heresies, 189 AD, 3:22:24))

3. St. Gregorius Naziansa (390) menyatakan, barangsiapa tidak percaya bahwa Bunda Maria adalah Bunda Allah, maka ia adalah orang asing bagi Allah. Sebab Bunda Maria bukan semata-mata saluran, melainkan Kristus sungguh-sungguh terbentuk di dalam rahim Maria secara ilahi (karena tanpa campur tangan manusia) namun juga manusiawi (karena mengikuti hukum alam manusia). ((Lihat Robert Payesko, The Truth about Mary, Volume 2, (Queenship Publishing company, California, USA, 1996), p. 2-180.))

4. St. Ambrosius (397): “Kejahatan didatangkan oleh perempuan (Hawa), maka kebaikan juga harus didatangkan oleh Perempuan (Maria); sebab oleh karena Hawa kita jatuh, namun karena Maria kita berdiri; karena Hawa kita menjadi budak dosa, namun oleh Maria kita dibebaskan…. Hawa menyebabkan kita dihukum oleh buah pohon (pohon pengetahuan), sedangkan Maria membawa kepada kita pengampunan dengan rahmat dari Pohon yang lain (yaitu Salib Yesus), sebab Kristus tergantung di Pohon itu seperti Buahnya…” ((Diterjemahkan dari Virgin Wholly Marvelous, seperti dikutip oleh Robert Payesko, Ibid., p. 2-78.))

5. St. Agustinus (416): ”Kita dilahirkan ke dunia oleh karena Hawa, dan diangkat ke surga oleh karena Maria.” ((St. Agustinus, Sermon))

6. St. Cyril dari Alexandria (444): “Bunda Maria, Bunda Allah…, bait Allah yang kudus yang di dalamnya Tuhan sendiri dikandung… Sebab jika Tuhan Yesus adalah Allah, bagaimanakah mungkin Bunda Maria yang mengandung-Nya tidak disebut sebagai Bunda Allah?” ((Lihat St. Cyril dari Alexandria, Epistle ro the Monks of Egypt, I ))

7. Doktrin Maria sebagai Bunda Allah/ “Theotokos” dinyatakan Gereja melalui Konsili di Efesus (431) dan Konsili keempat di Chalcedon (451). Pengajaran ini diresmikan pada kedua Konsili tersebut, namun bukan berarti bahwa sebelum tahun 431, Bunda Maria belum disebut sebagai Bunda Allah, dan Gereja ‘baru’ menobatkan Maria sebagai Bunda Allah pada tahun 431. Kepercayaan Gereja akan peran Maria sebagai Bunda Allah dan Hawa yang baru sudah berakar sejak abad awal. Keberadaan Konsili Efesus yang mengajarkan “Theotokos” tersebut adalah untuk menolak pengajaran sesat dari Nestorius. Nestorius hanya mengakui Maria sebagai ibu kemanusiaan Yesus, tapi bukan ibu Yesus sebagai Tuhan, sebab menurut Nestorius yang dilahirkan oleh Maria adalah manusia yang di dalamnya Tuhan tinggal, dan bukan Tuhan sendiri yang sungguh menjelma menjadi manusia. ((Lihat William C. Placher, Readings in the History of Christian Theology, vol. 1, (Westminster John Knox Press, Kentucky, USA, 1988) p. 69-70: Nestorius mengenali Yesus yang lahir dari rahim Maria sebagai Bait Sang Sabda (a temple of the Logos) di mana Sang Sabda itu tinggal, dan bukannya Sang Sabda (the ‘Logos’) itu sendiri. Menurut Nestorius, Allah ada di dalam bayi Yesus, ada di dalam diri manusia yang tersalib di Kalvari, namun sang manusia itu bukan Tuhan sendiri. Jadi Nestorius gagal membedakan sifat keilahian dan kemanusiaan Yesus yang bersatu secara sempurna dalam Pribadi Yesus. Nestorius gagal melihat bahwa Maria adalah seorang Ibu dari seorang Pribadi manusia, yang kebetulan juga adalah Pribadi Allah. Jadi, Maria adalah ibu dari Yesus yang adalah Allah dan manusia, meskipun ia hanya melahirkan kemanusiaan Yesus.))

Jelaslah bahwa doktrin Maria Bunda Allah bukan untuk semata-mata menghormati Maria, tetapi terutama untuk menghormati Yesus, yang walaupun sungguh-sungguh manusia, namun juga sungguh-sungguh Allah. Gereja selalu mengimani Pribadi Yesus yang tunggal, yang merupakan persatuan sempurna antara keilahian dan kemanusiaan-Nya. Namun demikian, kita tidak mempercayai bahwa Maria memiliki keilahian seperti dewi. Pendapat yang demikian juga sesat. Jadi yang tepat adalah: Pribadi Ilahi Yesus yang telah ada di sepanjang segala waktu mempersatukan Diri-Nya dengan tubuh kemanusiaanNya di dalam rahim Maria. Untuk ini, Bunda Maria disebut sebagai Bunda Allah. Sama seperti kita mengatakan ibu Siti Habibah bukan saja sebagai ibunda Bapak Susilo Bambang Yudhoyono, tetapi juga sekaligus ibunda Bapak Presiden RI, sebab Bapak SBY adalah Bapak Presiden RI. Dengan analogi ini, maka Bunda Maria adalah Bunda Yesus dan Bunda Tuhan sebab Yesus adalah Tuhan kita.

Kesimpulan

Bunda Maria berdiri di pusat misteri Keselamatan, seperti dikatakan oleh Paus Yohanes Paulus II, “sebab menjadi keajaiban alam yang luar biasa, ia mengandung Pencipta-nya” –for to the wonderment of nature, she bore her Creator. Betapa istimewanya peran Bunda Maria dalam perwujudan rencana Keselamatan Allah kepada umat manusia, sebab ia dipercaya untuk mengandung, melahirkan, membesarkan dan mendampingi Kristus Sang Putera sampai kesudahan-Nya di salib Golgotha. Selanjutnya Bunda Maria hadir di sepanjang segala abad untuk membantu Gereja, dan semua umat Kristen, di dalam pergumulan antara kebaikan dan kejahatan, untuk memastikan agar mereka tidak terjatuh, dan jika mereka terjatuh, ia membantu mereka untuk bangkit kembali. ((Cf. Redemptoris Mater, 51,52.))

29
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
17 Comment threads
12 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
22 Comment authors
widiaJA Lebertagusyusup sumarnoDonny Recent comment authors
widia
Member
widia

Shalom. Adakah dasar Alkitabiah bahwa Maria telah dikuduskan sejak lahir?
Dia adalah alat yang Tuhan pakai layaknya kita yang adalah berdosa, hanya oleh anugrah-Nya dilayakkan.

[dari katolisitas: Silakan melihat artikel ini- silakan klik]

JA Lebert
Member
JA Lebert

Apa beda istilah Christokos Vs Theotokos ?

Terima kasih….

Donny
Guest
Donny

Maaf, saya mau bertanya Pak/Bu.

Mengapa kita katolik sangat menghormati Bunda Maria? Padahal saya pernah membaca ayat alkitab, saat itu seorang yahudi mengucapkan ke Yesus bahwa berbahagialah yang Melahirkan dan Mengusui Yesus(Bunda Maria), namun Yesus malah menjawab berbahagialah mereka yang menaati firman Tuhan. Dari sini saya pikir Yesus tidak terlalu menganggap spesial KeluargaNya, dan menganggap spesial semua orang yang menaati firman Tuhan.
Yang kedua saya pikir kadang kita katolik membuat Bunda Maria lebih baik hati daripada Yesus sendiri. Kita yakin doa yang melalui perantaraan Bunda Maria lebih Didengar daripada doa yang langsung ke Yesus sendiri. Apakah memang begitu?

Terima kasih, mohon penjelasannya.

yusup sumarno
Guest
yusup sumarno

Selain penjelasan katolisitas yang memamng tepat, menurut saya kalimat Yesus (“Ibuku dan saudara saudaraku adalah….”)tidak perlu ditafsirkan bahwa Yesus “meremehkan” atau tidak menghormati Maria. Bagi saya, Yesus adalah orator yang handal dan pengirim pesan yang sangat cerdas. Yesus selalu menjawab/mengajar dalam konteks. Ia tidak pernah lari dari konteks. Dengan kata lain Ia selalu memulai / menyampaikan kabar baikNya dari konteks. Ini sangat jelas saat Ia mau menyampaikan kabar baik bahwa semua muridNya hendaknya mendengarkan dan melaksanakan firman Allah. Maka pada saat/timing yang tepat (saat orang banyak mengatakan ibuNya mencarinya), Ia langsung mengatakan “Ibu dan saudara saudaraku adalah….”. Contoh lain adalah… Read more »

Valderasz
Guest
Valderasz

Jika Jesus itu Putra Allah, mengapa Beliau disalib, Bapak manakah yg tdk murka melihat putranya disalib, lalu apakah salah Jesus hingga Beliau harus disalib, yg terakhir siapakah yg menyalib atau memerintahkan untuk menyalib Jesus ataukah Allah sendiri ? Dari buku yg pernah saya baca, sesungguhnya rahmat Allah itu melebihi murkanya.

[dari katolisitas: silakan melihat link ini – silakan klik dan klik ini]

Setyawati Wardhani
Guest
Setyawati Wardhani

Salam Damai Sejahtera…
Saya sangat senang dengan keteladanan bunda kita ini dan saya sangat kagum akan beliau… apabila ada yang mempunyai foto beliau dan keluarga kudus Nazarehtsaya mau juga di tgd fb saya… Terimakasih sebelumnya…

Anton Gunar
Guest
Anton Gunar

Damai Kristus Beserta Kita,

Dear Inggrid…
Kisah tentang St. Yusuf sedikit sekali diberitakan dalam ke 4 Injil Perjanjian Baru,
kira-kira St. Yusuf meninggal atau kemana, sehingga pada saat Yesus wafat beliau tidak disinggung lagi dalam Injil, adakah sumber berita yang lain selain ke 4 Injil yang menjadi sumber informasi tentang St. Yusuf ?.

Tuhan Beserta Kita.
Anton Gunar.

vano
Guest
vano

Shalom, saya hanya ingin meminta tanggapan Katolisitas tentang situs ini:
http://www.babylonmysteryreligion.com/motherandchild.htm

Apakah benar demikian/

Salam

[dari katolisitas: Terima kasih atas pertanyannya. Silakan membaca artikel ini – klik ini dan juga ini – klik di sini.]

darmadi
Guest
darmadi

terimakasih Bunda Maria , dgn bantuanmu juga kami turut berharap dan memuliakan Tuhan Yesus.semoga Bunda Maria bahagia selalu bersama Tuhan Yesus.amin

chris
Guest

Yth Pak Stef, Bu Ingrid, Rm Wanta

apa arti ular yang berada di bawah kaki Bunda Maria? Sering saya temui. Apa arti ular yang diinjak Bunda Maria? Perlawanan dengan iblis?

Kemudian saya ingin tanya tentang Hari Raya Kabar Sukacita (saya bingung dimana kalau mau membuka topik baru).

Sejak kapan Hari Raya Kabar Sukacita dirayakan oleh Gereja Katolik? Tanggal penetapannya apakah selalu 9 bulan sebelum hari raya Natal? Kalau saya perhatikan Hari Raya ini diperingati di tengah masa Prapaskah.

Terima kasih
Tuhan memberkati.
chris

Stefanus Tay

Shalom Chris, Terima kasih atas pertanyaanya tentang ular di bawah kaki Bunda Maria dan tentang kabar sukacita. Tentang pertanyaan pertama, anda dapat melihatnya di sini (silakan klik) point 7. Tentang pesta kabar sukacita (annunciation), Gereja Katolik memperingatinya setiap tanggal 25 Maret, sedangkan perayaan Paskah jatuh pada tanggal 22 Maret sampai 25 April. Oleh karena itu, kalau hari Paskah jatuh pada tanggal setelah 25 Maret, maka Pesta Kabar Gembira akan dirayakan pada masa prapaskah. Kalau tanggal 25 Maret jatuh pada masa prapaskah, maka pada hari pesta tersebut, umat Katolik tidak berpuasa, meskipun pada masa prapaskah. Pesta ini dimulai sekitar abad ke-6,… Read more »

agus
Guest
agus

salam sejahtera,, terimakasi atas penjelasan tentang ular di bawah kaki bunda Maria, saya ingin menambahkan lagi pertanyaa, apakah arti atau maknanya: 1. mengapa kepala dan ekor ular yang diinjak tersebut tidak bertemu 2. bagaimana mengenai buah “sebut saja apel” yang ada di mulut ular itu (apakah ada arti atau maknanya? trimakasi [Dari Katolisitas: Agaknya tidak semua sampai sekecil-kecilnya penggambaran tentang kisah dalam perikop Kitab Suci harus mempunyai alasan teologis. Sebab para artis/ seniman yang menggambarkannya tetap memiliki kebebasan untuk mengekspresikan karyanya, asalkan masuk akal dan sesuai dengan garis besar/ inti makna perikop yang ingin digambarkan. Soal kepala dan ekor ular… Read more »

Machmud
Guest
Machmud

Salam damai sejahtera

Dear Stef

Cuma ingin tahu saja :

Mengapa jawaban yang diberikan Yesus pada orang yang berkata kepada-Nya tentang ibu dan saudara2-Nya dalam (Mat 12 : 47) koq tidak sesuai dengan kenyataan.
Bahkan Yesus mengatakan bahwa ibunya adalah seperti yang ditulis dalam (Mat 12 : 48 – 49 – 50)

Sedangkan di Yoh 19 : 26 – 27 , malah menyuruh Maria untuk menerima Yohanes sebagai anaknya dan Yohanes menerima Maria sebagai ibunya .

Dari ayat2 tersebut diatas, tidak ada pernyataan dari Yesus bahwa Maria adalah ibu-Nya, mengapa ?

Salam
Mac : 17.February.2010

Aloysius Suhardi
Guest
Aloysius Suhardi

Ma kasih membantu saya menemukan makna Maria sebagai Buda Allah.

bernardus
Member
bernardus

[Dari Admin: pertanyaan ini dipindahkan dari artikel lain] Salam sejahtera, Saya ingin menanyakan tentang doa kepada Bunda Maria. Saat kita berdoa kepada Bunda Maria (rosario, novena, dll.), yang benar adalah: 1. kita memohon sesuatu kepada Bunda Maria, atau 2. kita memohon sesuatu kepada Tuhan Yesus melalui perantaraan Bunda Maria? (memohon didoakan) Karena topik ini juga sering menjadi perdebatan dengan “tetangga” kita. Dan banyak dari umat Katolik sendiri yang “bingung” saat ditanya mengenai hal ini. Tetangga kita menganggap umat Katolik melakukan yang no.1. Sedangkan saya pribadi menganggap bahwa umat Katolik (saya pribadi) melakukan yang no.2, seperti kita yang meminta ibu kita… Read more »

Gamaliel
Guest
Gamaliel

Syalom, Saudari Inggrid dan pengelola website ini serta segenap pembaca! Saya mempunyai cerita unik tentang patung Bunda Maria di Ashram Gandhi Puri (komunitas Hindu, semacam ‘pesantren’ Hindu di Bali). Di komunitas Hindu tersebut, ternyata ditempatkan pula patung Bunda Maria (serupa dengan patung-patung Bunda Maria di Gereja, tetapi uniknya Bunda Maria berdiri di atas teratai, seperti tokoh dalam patung Hindu). BR. Indra Udayana (Gus Indra) bertutur bahwa ia memasang patung Bunda Maria ini karena suatu pengalaman rohani berjumpa dengan Bunda Maria. BR. Indra saat itu sedang mengalami suatu problem yang cukup berat. Di dalam doanya, ia mengalami ‘perjumpaan’ dengan Bunda Maria.… Read more »

agustinus ruswiyanto hardi
Guest
agustinus ruswiyanto hardi

Menurut saya: Bunda Maria boleh saja di kagumi dipuja-puji di hormati bahkan di muliakan karena kesucian , ketaatan dan kerendahan hatinya dan harus dijadikan teladan hidup bagi umat ber iman.(Maria Pahlawan umat manusia) jangan kuatir Tuhan Yesus tidak akan marah kok karena dengan melakukan seperti yang saya utarakan di atas ber arti kita lebih menghormati dan lebih memuliakan Tuhan Yesus karena dengan berbuat demikian kita berusaha untuk merendahkan hati dan merasa miskin dihadapan Allah (Merasa sebagai orang yang selalu jatuh dalam dosa) sehingga merasa tidak pantas untuk menghadap apalagi memohon sesuatu kepada Allah secara langsung. Pesan saya: -Janganlah sombong dan… Read more »

pangu
Guest
pangu

bagus banget artikeleee… buat yg luwih apix meneng yo…

aQ seneng lhooo………

gendut
Guest
gendut

Salam dalam Kasih Tuhan.
Benarkah kalau berdoa dengan lilin menyala, menjadi ruangan tempat kita berdoa bertambah banyak energi positif ?
Salam,

Julius Santoso
Guest
Julius Santoso

Sdr. Ingrid Listiani, mohon penjelasan ayat dibawah ini, saya sudah membaca berulang kali namun belum juga mengerti maksudnya.
Kejadian 3:15
Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”

Terima kasih.

Felix
Guest
Felix

Hi,

Aku baru ingat soal menyalakan lilin di dkt Bunda Maria.

Sebenernya apa artinya dari menyalakan lilin ini? Apakah dgn adanya lilin, itu sangat membantu di dlm doa?
Saya tau lilin itu melambangkan terang Kristus, tapi napa setiap org yg berdoa di dpn bunda Maria, rata2 itu menyalakan lilin.

Terima kasih.

Gbu
felix

Ingrid Listiati
Guest

Shalom Felix, Menyalakan lilin di depan patung Bunda Maria/ Santo/ Santa merupakan simbol yang memiliki makna yang mendalam, antara lain: 1) Lilin yang bernyala mengingatkan kita pada Pembaptisan kita, dan bahwa kita mengambil bagian di dalam hidup Kristus, dan di dalam hidup Gereja, termasuk dalam hubungan kita dengan para orang kudus yang sudah mendahului kita, terutama di sini adalah Bunda Maria, Bunda Yesus yang telah diberikan oleh Kristus menjadi Bunda Gereja dan Bunda kita juga. 2) Saat kita meninggalkan lilin yang bernyala, kita diingatkan agar jiwa kita tidak akan pernah meninggalkan kehadiran Allah yang disertai dengan persekutuan para orang kudus-Nya.… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X