Mana yang lebih penting: Ekaristi atau Sabda Tuhan?

[Dari Katolisitas: Diskusi ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari diskusi di tanya jawab ini, silakan klik. Namun karena kami pandang menjurus ke topik yang semakin spesifik, kami memutuskan untuk menayangkan di topik terpisah]

Pertanyaan:

Shalom Bp. Herman Jay,

Terima kasih karna telah mengingatkan saya agar tidak menomorsatukan salah satu aspek dan mengabaikan aspek lain, dan tidak begitu mudah menganggap diri sendiri yang paling benar.

Saya menerima tawaran Anda agar kita saling memahami dan memperkaya pengetahuan dan penghayatan hidup beriman, sebagaimana yang telah Anda tulis di atas. Untuk itu, saya sangat memohon kesediaan Anda untuk sekali lagi menuliskan pengetahuan Anda kepada saya, agar saya bisa memperkaya pengetahuan dan penghayatan hidup beriman saya. Dan, kali ini saya akan menuliskan apa yang saya ketahui dan rasakan tentang Ekaristi, supaya Anda bisa mengoreksinya.

Awalnya adalah saya menulis di Lukas Cung says: March 26, 2011 at 9:58 am, untuk menanggapi tulisan Bp. Paulus Sutikno Panuwun. Singkat kata: saya menyangka Bp. Paulus agak ‘menyayangkan’ umat yang lebih mengutamakan Ekaristi, tapi Bp. Paulus membalas di Paulus Sutikno Panuwun says: March 26, 2011at 8:32 pm, bahwa ia tidak berpendapat seperti yang saya sangkakan. Saya pun menjadi lega karnanya…

Lalu, Bp. Albertus Magnus Herwanta menanggapi di albertus magnus herwanta says: March 30, 2011 at 6:18 pm. Dari tulisan Bp. Albertus: “…Firman Tuhan (Kitab Suci) yang menjadi sumber hidup dan penuntun langkah perjalanan kita.”, sekali lagi saya keliru menyangka. Saya menyangka Bp. Albertus berpendapat bahwa Kitab Suci adalah sumber hidup dan penuntun langkah perjalanan hidup. Ini yang di Lukas Cung says: April 1, 2011 at 1:07 pm, saya sebut tidak sependapat dengan Bp. Albertus. Menurut saya, sumber hidup dan penuntun langkah perjalanan saya adalah melulu Ekaristi (sesuai apa yang saya baca di Katolisitas.org, pada artikel “Ekaristi adalah Sumber dan Puncak Spiritualitas Kristiani”). Tapi, di albertus magnus herwanta says: April 4, 2011 at 10:23 am, Bp. Albertus menjawab: ia tidak bermaksud seperti yang saya sangkakan. Sekali lagi, saya menjadi lega karnanya…

Bp. Herman Jay yang saya hormati… Saya pada usia 30-an seperti saat ini, yang baru menemukan Ekaristi adalah sumber dan puncak hidup saya, adalah masa yang sangat terlambat. Seharusnya saya bisa menemukan ‘harta karun’ ini lebih awal.
Saya menemukan ‘harta karun’ ini dimulai ketika saya membaca buku-buku Scott Hahn (terjemahan bahasa Indonesia tentu saja). Ia menulis bahwa umat gereja lain mendapatkan ‘makan’ dari khotbah, Kitab Suci, nyanyi-nyanyian, namun umat Katolik mendapatkan ‘makan’ dari Tubuh dan Darah Kristus. Pikir saya, Scott Hahn ini ‘kan dari aliran gereja yang berprinsip ‘hanya Kitab Suci’, tapi koq ia bisa berpendapat bahwa umat Katolik mempunyai yang lebih, yaitu Ekaristi.
Di samping itu, saya pernah membaca bahwa Ekaristi adalah bentuk penyembahan tertinggi pada Gereja Katolik. Juga, Ibu Ingrid pernah menulis bahwa saat-saat setelah Komuni adalah saat-saat yang paling penting karna diri kita menyatu dengan Tubuh dan Darah Kristus. Untuk itulah mengapa saya berpendapat Ekaristi memang lebih penting daripada yang lain.
Betul bahwa dalam perayaan Misa Kudus ada Ibadat Sabda yang menghantarkan kita ke Ibadat Ekaristi. Tapi saya tidak berpendapat Ibadat Ekaristi mempunyai kedudukan yang sama dengan Ibadat Sabda. Contohnya Scott Hahn yang merasa di tempatnya yang lama sudah tersedia ‘Ibadat Sabda’ lantaran fokus utama mereka adalah kepada Kitab Suci, namun di Gereja Katolik sangat terasa fokus utamanya adalah kepada Ekaristi.
Dan, dengan sedikit “lancang” dan penuh rasa hormat, saya mau bertanya: Sudahkah Anda lebih rutin menerima Sakramen Tobat?
Bukan mau merasa lebih benar sendiri. Hanya, penerimaan saya terhadap Ekaristi, perlahan-lahan bertambah besar setelah saya lebih rutin menerima Sakramen Tobat.

Lalu, apakah kemudian saya mengabaikan aspek lain?
Kalau Bp. Herman membaca tulisan saya di Lukas Cung says: April 1, 2011 at 1:07 pm: “Memang, membaca dan merenungkan Firman Tuhan (Kitab Suci) adalah sangat penting buat saya, karna saya bisa mengetahui dan mengerti apa saja yang ingin dikatakan oleh Tuhan kepada saya” – tulisan yang Bapak komentari itu – rasa-rasanya saya tidak ‘mengangkat tinggi-tinggi Ekaristi dan membuang jauh-jauh Kitab Suci’.
Saya juga menulis di Lukas Cung says: March 26, 2011 at 9:58 am: “Tema APP, membaca Kitab Suci, rosario, doa harian, menimba pengetahuan dari Katolisitas dll, menurut saya adalah cara-cara yang bisa membantu kita untuk semakin menghayati Ekaristi”. Jadi, mohon Bp. Herman menjawab: apakah menurut Bapak saya telah menomorsatukan salah satu aspek dan mengabaikan aspek lain?
Dan, mohon Bp. Herman mengoreksi saya berikut ini, yaitu menurut saya, menghayati Ekaristi adalah mau mengasihi sesama dalam kehiduapn sehari-hari dan mau menjadi semakin kudus – bukan hanya khusuk menghayati Ekaristi secara ritual – tapi bersedia “diutus” seperti yang selalu diucapkan oleh pastor usai berkat penutup dalam misa kudus (Mari pergi! Kita diutus!). Kalau saya berpendapat seperti itu, apakah saya telah merasa benar sendiri?

Mohon maaf untuk kata-kata saya yang kurang berkenan…

Terima kasih.

Salam,
Lukas Cung

Dan, kepada Bp. Stef dan Ibu Ingrid, saya menyampaikan terima kasih yang besar karna telah membuat saya mengerti dari sebelumnya tidak mengerti, bahwa Ekaristi memang sumber dan puncak hidup saya. Yakinlah, dengan menunjukkan apa yang belum saya mengerti, saya tidak berpendapat Anda berdua merasa paling benar sendiri – saya malah berpendapat, Anda berdua telah menunjukkan apa yang sebenarnya diajarkan oleh Gereja Katolik.

Jawaban:

Shalom Lukas Cung, Herman Jay, Albertus Magnus,

Sebenarnya saya sangat terkesan dengan membaca dialog tentang Ekaristi antara anda berdua, dan juga dengan Paulus dan Budi. Sebenarnya menurut saya, pada prinsipnya semua setuju bahwa Ekaristi merupakan sumber dan puncak kehidupan Kristiani. Namun demikian perayaan Ekaristi ini, memang terdiri atas dua bagian yang tidak terpisahkan yaitu Liturgi Sabda dan Liturgi Ekaristi, dan keduanya penting dan tidak terpisahkan. Jadi memang sikap yang tepat adalah jangan mempertentangkannya, untuk menanyakan mana yang lebih penting, namun melihatnya sebagai satu kesatuan dalam satu perayaan Ekaristi.

Mungkin tulisan dari Paus Benediktus XVI dalam Ekshortasi Apostoliknya, Verbum Domini, yang belum lama ini dikeluarkan, dapat membantu kita untuk lebih memahaminya. Paus menulis demikian:

“Dalam kata- kata Konstitusi tentang Liturgi Suci [Konsili Vatikan II] Sacrosanctum Concillium, “Kitab Suci adalah merupakan yang terpenting di dalam perayaan liturgi. Daripadanya diambil bacaan- bacaan, yang dijelaskan di dalam homili dan mazmur dinyanyikan. Dari Kitab Sucilah, permohonan, doa- doa dan lagu pujian liturgis memperoleh inspirasi dan isinya. Dari Kitab Suci, kegiatan- kegiatan liturgis dan tanda- tanda memperoleh maknanya.” (SC 24) Bahkan lagi, harus dikatakan bahwa Kristus sendiri “hadir di dalam Sabda-Nya, karena Ia sendirilah yang bersabda ketika Kitab Suci dibacakan di Gereja.” (ibid. 7) Memang, “perayaan liturgi menjadi presentasi Sabda Tuhan yang berkesinambungan, lengkap dan efektif. Sabda Tuhan, yang terus menerus diwartakan di dalam liturgi, selalu adalah Sabda yang hidup dan efektif melalui kuasa Roh Kudus. Sabda tersebut menyatakan kasih Allah Bapa yang tidak pernah gagal di dalam efektivitasnya terhadap kita. (Ordo Lectionum Missae, 4)” (Verbum Domini, 52)

“…[di Perayaan Ekaristi] Kesatuan antara Sabda Tuhan dan Ekaristi mengambil dasar dari kesaksian Kitab Suci (lih. Yoh 6; Luk 24), diajarkan oleh para Bapa Gereja dan diteguhkan kembali di dalam Konsili Vatikan II…. Di dalam pribadi-Nya sendiri, Yesus membawa penggenapan gambaran kuno: “Roti Surga adalah roti yang telah turun dari surga dan memberi hidup kepada dunia” … “Akulah Roti hidup” (Yoh 6:33-35). Di sini “hukum telah menjadi Seseorang. Ketika kita menyambut Yesus, kita menyantap Tuhan yang hidup,… kita sungguh memakan ‘Roti dari surga’ (J. Ratzinger (Benedict XVI), Jesus of Nazareth, New York, 2007, p. 268). Di khotbah di Kapernaum, prolog Injil Yohanes diterangkan secara lebih mendalam. Di sana Sabda Tuhan (Logos) menjelma menjadi daging, dan daging ini menjadi ‘roti’ yang diberikan kepada dunia (lih. Yoh 6:51), dengan penyebutan pemberian diri Kristus dalam misteri salib, yang diteguhkan kembali dengan Sabda tetang darah-Nya yang diberikan sebagai minuman (lih. Yoh 6:53). Misteri Ekaristi menyatakan manna yang sejati, Roti yang sejati dari surga: itu adalah Sabda Tuhan yang menjadi daging, yang menyerahkan diri-Nya untuk kita di dalam misteri Paska.

Pernyataan Lukas tentang para murid di perjalanan ke Emaus memampukan kita untuk merenungkan lebih lanjut tentang kaitan ini, antara mendengarkan Sabda dan pemecahan roti (lih. Luk 24:13-35). Yesus menampakkan diri kepada murid- murid-Nya sehari setelah hari Sabat, mendengarkan mereka saat mereka mengatakan tentang pupusnya harapan mereka, dan, bergabung dengan mereka dalam perjalanan mereka, “menjelaskan kepada mereka apa yang tertulis tentang Dia di dalam seluruh Kitab Suci” (Luk 24:27). Kedua murid mulai melihat Kitab Suci dengan cara yang baru dengan ditemani oleh Ia yang berjalan bersama mereka ini, yang kelihatannya secara tak terduga sangat memahami kehidupan mereka. Apa yang terjadi pada saat itu tidak lagi terlihat sebagai suatu kegagalan, tetapi sebagai penggenapan dan awal yang baru. Namun demikian, nyatanya bahkan kata- kata ini tidak cukup bagi kedua murid itu. Injil Lukas mengatakan bahwa “terbukalah mata mereka dan merekapun mengenali Dia” (24:31) hanya ketika Yesus mengambil roti, mengucap syukur, memecah-mecahkannya dan membagikannya kepada mereka, sementara sebelumnya “ada sesuatu yang menghalangi mata mereka” (24:16). Kehdiran Yesus, pertama- tama dengan Sabda-nya dan kemudian dengan tindakan pemecahan roti, memungkinkan para murid itu untuk mengenali Dia. Sekarang mereka dapat menghargai dengan cara yang baru semua yang telah mereka alami dengan Dia: “Bukankah hati kita berkobar-kobar, ketika Ia berbicara dengan kita di tengah jalan dan ketika Ia menerangkan Kitab Suci kepada kita?”

Dari kejadian- kejadian ini, jelaslah bahwa Kitab Suci sendiri mengarahkan kita kepada sebuah penghargaan yang tak terpisahkan antara Sabda Tuhan dengan Ekaristi. “Tidaklah pernah dapat dilupakan bahwa Sabda Ilahi, yang dibacakan dan diwartakan oleh Gereja, mempunyai sebagai satu maksudnya, [yaitu] kurban Perjanjian Baru dan perjamuan rahmat, yaitu, Ekaristi.” (Ordo Lectionum Missae, 10). Sabda dan Ekaristi begitu dalam terjalin satu sama lain sehingga kita tidak dapat memahami salah satu tanpa satu yang lainnya: Sabda Tuhan secara sakramental menjadi daging dalam perayaan Ekaristi. Ekaristi membuka bagi kita kepada pemahaman Kitab Suci, seperti halnya Kitab Suci menerangi dan menjelaskan tentang misteri Ekaristi. Tanpa kita mengenali kehadiran Tuhan yang nyata di dalam Ekaristi, pemahaman kita akan Kitab Suci tetap tidak sempurna. Karena alasan ini “Gereja telah menghormati Sabda Tuhan dan misteri Ekaristi dengan penghormatan yang sama, meskipun tidak dengan penyembahan yang sama, dan telah selalu dan di manapun menekankan dan meneguhkan dengan syarat- syaratnya tentang penghormatan itu. Digerakkan oleh teladan Pendirinya, Gereja telah tidak pernah berhenti merayakan misteri Paska ini dengan berkumpul bersama untuk membaca “apa yang tertulis tentang Dia di dalam seluruh Kitab Suci” (Luk 24:27) dan untuk melaksanakan karya keselamatan melalui perayaan peringatan Tuhan dan melalui sakramen- sakramen.” (Ibid.)

Dengan demikian mari kita semua mengambil sikap Gereja, yang tidak memisahkan Sabda Tuhan dengan Ekaristi, dan memberikan penghormatan yang sama terhadap keduanya. Sebab kehadiran Kristus yang nyata di dalam Ekaristi hanya dimungkinkan oleh kuasa Roh Kudus pada saat Sabda Tuhan dibacakan pada saat pengucapan syukur dalam konsekrasi; dan melalui kehadiran Kristus dalam Ekaristi itulah hati kita dapat dikobarkan untuk meresapkan Sabda Tuhan dan melaksanakannya di dalam hidup kita. Oleh karena itu, kita tidak perlu mencari manakah di antara keduanya yang lebih penting, karena keduanya merupakan satu kesatuan.

Jadi Lukas Cung, adalah sangat baik untuk mencintai Ekaristi, namun saya mengusulkan, agar sebaiknya tidak menggunakan istilah “penuntun langkah perjalanan saya adalah melulu Ekaristi“, karena sebenarnya Ekaristi yang ada di sini tidak terpisahkan dengan Sabda Tuhan yang diwartakan dengan pembacaan Kitab Suci, sehingga agak rancu jika dikatakan “melulu” Ekaristi, seolah ibadat Ekaristi berdiri sendiri. Mari jangan mempertanyakan mana yang lebih penting antara keduanya, sebab Ekaristi dan Sabda Tuhan keduanya penting dan tak terpisahkan. Namun demikian saya kagum dengan semangat anda dan kecintaan anda kepada Ekaristi. Sungguh kita semua selayaknya berdoa mohon rahmat Tuhan agar semakin dapat memahami makna perayaan Ekaristi, yang terdiri dari kesatuan antara Ekaristi dan Sabda Tuhan. Sebab Ekaristi merupakan puncak pewartaan Sabda Tuhan, dan di dalam Ekaristi digenapilah Sabda Tuhan ini,

“… betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus… yang melampaui segala pengetahuan” (Ef 3:18)

Semoga Tuhan membantu kita untuk semakin dapat menghayati kasih-Nya yang tak terbatas kepada kita yang dinyatakan melalui Ekaristi, saat Kristus Sang Sabda itu berkenan masuk ke dalam jiwa dan tubuh kita, agar kita diubah, sedikit demi sedikit, untuk menjadi semakin menyerupai Dia.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

6
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
4 Comment threads
2 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
6 Comment authors
Ingrid ListiatiandryIon salamboy refraLukas Cung Recent comment authors
andry
Guest
andry

Ytk Ibu Inggrid, Ketika menyambut tubuh dan darah Yesus dalam ekaristi, kita harus berdialog dengan Yesus secara pribadi. Menurut Ibu, berapa lama minimal kita harus berdialog ? Apa saja yang harus saya katakan dalam dialog ini ? Apakah ada hukum gereja yang mengaturnya? Dalam ekaristi imam mencampurkan roti, anggur dan air. Jika roti akan mengalami transubstansi menjadi tubuh Kristus dan anggur menjadi darah Kristus, apakah air dapat dianggap sebagai penderitaan kita yang disatukan dalam penderitaan salib Kristus untuk turut dipersembahkan kepada Allah sebagai bagian dari karya keselamatan manusia (refleksi Sr Emanuel dari Medjugorje) ? Terima kasih atas kesediaan Ibu untuk… Read more »

Ion salam
Guest
Ion salam

Apakah lebih bermakna Ekaristi daripada Firman Tuhan itu sendiri? Mohon uraiannya ya romo ? Karena pada saat Misa masih ada aja yg datang walaupun pembacaan Injil tlh selesai.
Terimakasih

Gbu

[dari katolisitas: silakan melihat jawaban di atas – silakan klik]

boy refra
Guest
boy refra

Saya melihat Ekaristi atau Sabda Tuhan adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan karena Yesus hadir dalam kedua unsur tersebut

Lukas Cung
Guest
Lukas Cung

Shalom Bu Ingrid, Bp. Herman Jay, dan Bp. Albertus Magnus,

Iya, sekarang saya mengerti sudah… Terima kasih atas diskusinya, dan terima kasih Bu Ingrid atas jawabannya.

Selamat Paskah dari Balikpapan.

Terima kasih.

Salam,
Lukas Cung

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X