Macam-macam Halangan yang menggagalkan perkawinan

(Relevansi kann. 1083-1094)

Ada bermacam-macam halangan yang menggagalkan perkawinan

Kurangnya umur (bdk. kan 1083):

Syarat umur yang dituntut oleh kodeks 1983 adalah laki-laki berumur 16 tahun dan perempuan berumur 14 tahun dan bukan kematangan badaniah. Tetapi hukum kodrati menuntut kemampuan menggunakan akalbudi dan mengadakan penilaian secukupnya dan “corpus suo tempore habile ad matrimonium”. Hukum sipil sering mempunyai tuntutan umur lebih tinggi untuk perkawinan dari pada yang dituntut hukum Gereja. Jika salah satu pihak belum mencapai umur yang ditentukan hukum sipil, Ordinaris wilayah harus diminta nasehatnya dan izinnya diperlukan sebelum perkawinan itu bisa dilaksanakan secara sah (bdk kan. 1071, §1, no.3). Izin semacam itu juga harus diperoleh dari Ordinaris wilayah dalam kasus di mana orang tua calon mempelai yang belum cukup umur itu tidak mengetahui atau secara masuk akal tidak menyetujui perkawinan itu (bdk. kan 1071, §1, no.6).

Impotensi (bdk kan. 1084):

Impotensi itu adalah halangan yang menggagalkan, demi hukum kodrati, dalam perkawinan. Sebab impotensi itu mencegah suami dan istri mewujudkan kepenuhan persatuan hetero seksual dari seluruh hidup, badan dan jiwa yang menjadi ciri khas perkawinan. Yang membuat khas persatuan hidup suami istri adalah penyempurnaan hubungan itu lewat tindakan mengadakan hubungan seksual dalam cara yang wajar. Impotensi yang menggagalkan perkawinan, haruslah sudah ada sebelum perkawinan dan bersifat tetap. Pada waktu perkawinan sudah ada, bersifat tetap maksudnya impotensi itu terus menerus dan bukan berkala, serta tidak dapat diobati kecuali dengan operasi tidak berbahaya. Impotensi ada dua jenis: bersifat absolut dan relatif. Impotensi absolut jika laki-laki atau perempuan sama sekali impotens. Impotensi relatif jika laki-laki atau perempuan tertentu ini tidak dapat melaksanakan hubungan seksual. Dalam hal absolut orang itu tidak dapat menikah sama sekali, dalam impotensi relatif pasangan tertentu juga tidak dapat menikah secara sah.

Adanya ikatan perkawinan (bdk. kan 1085):

Ikatan perkawinan terdahulu menjadi halangan yang menggagalkan karena hukum ilahi. Kan 1085, §1: menghilangkan ungkapan “kecuali dalam hal privilegi iman” (Jika dibandingkan dengan kodeks 1917). Ungkapan ini berarti jika seorang yang dibaptis menggunakan privilegi iman walau masih terikat oleh ikatan perkawinan terdahulu, dia bisa melaksanakan perkawinan secara sah dan ketika perkawinan baru itu dilaksanakan ikatan perkawinan lama diputuskan.

Disparitas cultus (bdk. kan 1086):

Perkawinan antara dua orang yang diantaranya satu telah dibaptis dalam Gereja Katolik atau diterima di dalamnya dan tidak meninggalkannya dengan tindakan formal, sedangkan yang lain tidak dibaptis, adalah tidak sah. Perlu dicermati ungkapan “meninggalkan Gereja secara formal” berarti melakukan suatu tindakan yang jelas menunjukkan etikat untuk tidak menjadi anggota Gereja lagi. Tindakan itu seperti menjadi warga Gereja bukan Katolik atau agama Kristen, membuat suatu pernyataan di hadapan negara bahwa dia bukan lagi Katolik. Namun demikian janganlah disamakan tindakan itu dengan orang yang tidak pergi ke Gereja Katolik lagi tidak berarti meninggalkan Gereja. Ada dua alasan tentang norma ini: pertama karena tujuan halangan ini adalah untuk menjaga iman katolik, tidak ada alasan mengapa orang yang sudah meninggalkan Gereja harus diikat dengan halangan itu. Kedua, Gereja tidak mau membatasi hak orang untuk menikah.

Perkawinan yang melibatkan disparitas cultus (beda agama) ini, sesungguhnya tetap dapat dianggap sah, asalkan: 1) sebelumnya pasangan memohon dispensasi kepada pihak Ordinaris wilayah/ keuskupan di mana perkawinan akan diteguhkan. Dengan dispensasi ini, maka perkawinan pasangan yang satu Katolik dan yang lainnya bukan Katolik dan bukan Kristen tersebut tetap dapat dikatakan sah dan tak terceraikan; setelah pihak yang Katolik berjanji untuk tetap setia dalam iman Katolik dan mendidik anak-anak secara Katolik; dan janji ini harus diketahui oleh pihak yang non- Katolik (lih. kan 1125). 2) Atau, jika pada saat sebelum menikah pasangan tidak mengetahui bahwa harus memohon dispensasi ke pihak Ordinaris, maka sesudah menikah, pasangan dapat melakukan Convalidatio (lih. kann. 1156-1160) di hadapan imam, agar kemudian perkawinan menjadi sah di mata Gereja Katolik.

Tahbisan suci (bdk. kan. 1087):

Adalah tidak sahlah perkawinan yang dicoba dilangsungkan oleh mereka yang telah menerima tahbisan suci.

Kaul kemurnian dalam suatu tarekat religius (bdk. kan. 1088):

Kaul kekal kemurnian secara publik yang dilaksanakan dalam suatu tarekat religius dapat menggagalkan perkawinan yang mereka lakukan.

Penculikan dan penahanan (bdk. kan. 1089):

Antara laki-laki dan perempuan yang diculik atau sekurang-kurangnya ditahan dengan maksud untuk dinikahi, tidak dapat ada perkawinan, kecuali bila kemudian setelah perempuan itu dipisahkan dari penculiknya serta berada di tempat yang aman dan merdeka, dengan kemauannya sendiri memilih perkawinan itu. Bahkan jika perempuan sepakat menikah, perkawinan itu tetap tidak sah, bukan karena kesepakatannya tetapi karena keadaannya yakni diculik dan tidak dipisahkan dari si penculik atau ditahan bertentangan dengan kehendaknya.

Kejahatan (bdk. kan. 1090):

Tidak sahlah perkawinan yang dicoba dilangsungkan oleh orang yang dengan maksud untuk menikahi orang tertentu melakukan pembunuhan terhadap pasangan orang itu atau terhadap pasangannya sendiri.

Persaudaraan (konsanguinitas (bdk. kan. 1091):

Alasan untuk halangan ini adalah bahwa perkawinan antara mereka yang berhubungan dalam tingkat ke satu  garis lurus bertentangan dengan hukum kodrati. Hukum Gereja merang perkawinan di tingkat lain dalam garis menyamping, sebab melakukan perkawinan di antara mereka yang mempunyai hubungan darah itu bertentangan dengan kebahagiaan sosial dan moral suami-isteri itu sendiri dan kesehatan fisik dan mental anak-anak mereka.

Hubungan semenda (bdk. kan. 1092):

Hubungan semenda dalam garis lurus menggagalkan perkawinan dalam tingkat manapun. Kesemendaan adalah hubungan yang timbul akibat dari perkawinan sah entah hanya ratum atau ratum consummatum. Kesemendaan yang timbul dari perkawinan sah antara dia orang tidak dibaptis akan menjadi halangan pada hukum Gereja bagi pihak yang mempunyai hubungan kesemendaan setelah pembaptisan dari salah satu atau kedua orang itu. Menurut hukum Gereja hubungan kesemendaan muncul hanya antara suami dengan saudara-saaudari dari isteri dan antara isteri dengan saudara-saaudara suami. Saudara-saudara suami tidak mempunyai kesemendaan dengan saudara-saudara isteri dan sebaliknya. Menurut kodeks baru 1983 hubungan kesemendaan yang membuat perkawinan tidak sah hanya dalam garis lurus dalam semua tingkat.

Halangan kelayakan publik (bdk. kan. 1093):

Halangan ini muncul dari perkawinan tidak sah yakni perkawinan yang dilaksanakan menurut tata peneguhan yang dituntut hukum, tetapi menjadi tidak sah karena alasan tertentu, misalanya cacat dalam tata peneguhan. Halangan ini muncul juga dari konkubinat yang diketahui publik. Konkubinat adalah seorang laki-laki dan perempuan hidup bersama tanpa perkawinan atau sekurang-kurangnya memiliki hubungan tetap untuk melakukan persetubuhan kendati tidak hidup bersama dalam satu rumah. Konkubinat dikatakan publik kalau dengan mudah diketahui banyak orang.

Adopsi (bdk. kan. 1094):

Tidak dapat menikah satu sama lain  dengan sah mereka yang mempunyai pertalian hukum yang timbul dari adopsi dalam garis lurus atau garis menyamping tingkat kedua. Menurut norma ini pihak yang mengadopsi dihalangi untuk menikah dengan anak yang diadopsi, dan anak yang diadopsi dihalangi untuk menikah dengan anak-anak yang dilahirkan dari orang tua yang mengadopsi dia. Alasannya karena adopsi mereka menjadi saudara-saudari se keturunan.

155
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
59 Comment threads
96 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
69 Comment authors
GeorgianaRm Gusti KusumawantamalfianafaniangelAlida Recent comment authors
martha
Guest
martha

Salam Romo,
Saya seorang Katolik menikah dengan pria non Katolik (Muslim) secara KUA. Untuk memudahkan mengurus perijinan saya (terpaksa) mengucapkan syahadat..saya telah menikah selama 5 tahun dan dikaruniai seorang putra dan saya tetap dengan keyakinan saya dan ke Gereja (meskipun di KTP berbeda). Apakah saya masih boleh menerima komuni di gereja? Apakah putra saya juga bisa mendapat sakramen baptis?

Romo Wanta, Pr.
Guest

Martha Yth

Seorang Katolik wajib hukumnya menikah di Gereja Katolik. Maka jika menikah bukan di Gereja Katolik dia melanggar hukum akan kena sangsi. Menikah di luar Gereja Katolik tidak sah maka tidak dapat komuni kudus. Sebaiknya anda membereskan perkawinan dengan meminta pada pastor paroki anda pengesahan sederhana, tunjukkan surat baptis anda, surat perkawian KUA, lalu ajak pasangan anda untuk memberesan perkawinan, dimulai pengakuan dosa, syahadat para rasul, kursus singkat perkawinan sebagai pemulihan dan pembaruan dan pengesahan sederhana perkawinan. Sesudah itu anda bisa komuni kudus.

Silakan segera, saya yakin akan dilayani, jika ada kesulitan tanyakan pada saya lagi nanti saya bantu.

salam
Rm Wanta

anya
Guest
anya

dear romo wanta: terima kasih atas jawaban romo sebelumnya…ada beberapa pertanyaan tambahan dari kasus teman saya ini. 1. teman prianya yang sudah menikah 3 tahun dengan pasangan seimannya ini ternyata mereka menikah karena alasan kehormatan.artinya dulu istri dari pria ini pernah pacaran 5 tahun lebih dan bertunangan tetapi gagal. kemudian bertemu dengan pria katolik ini yang menikahinya setelah 2 tahun berpacaran si pria katolik ini merasa pernikahan mereka terjadi bukan karena cinta tapi demi pelampiasan pribadi ato kehormatan salah satu pasangan. 2. teman saya ini yang menikah di KUA juga merasa sudah tidak mencintai suaminya setelah dia diselingkuhi dan berniat… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Anya, Pada prinsipnya, perkawinan yang sudah sah tidak dapat dibatalkan. Maka jika ingin memohon pembatalan perkawinan, silakan dilihat dahulu, apakah memang ada dasar yang mendukung permohonan tersebut, yaitu apakah ada: 1) halangan menikah, 2) cacat kanonik, atau 3) cacat forma kanonika. Dan ketiga hal ini terjadi sejak sebelum atau pada saat perkawinan diteguhkan. Silakan membaca lebih lanjut prinsip dasarnya di artikel ini, silakan klik. Jika sudah pernah menikah di agama lain saja  merupakan halangan menikah baginya untuk menikah (lagi) di Gereja Katolik, apalagi orang yang sudah pernah menikah di Gereja Katolik. Maka jika dikatakan bahwa perkawinan karena terpaksa demi… Read more »

hendrykus
Guest
hendrykus

Bgm klo nda ada bukti n saksinya, namun pembatalan perkawinan tetap dikeluarkan oleh gereja katholik di daerah lain dan sudah keluar surat pembatalannya meskipun blum disampaikan kpd pastor pertama tmpt berlgsungnya perkawinan pertamanya? Catatan keduanya menikah secara khatolik dan sekarang perkawinan keduanya sudah diberkati lagi di gereja katolik di daerah lain

Romo Wanta, Pr.
Guest

Hendrykus Yth,

Dalam proses hukum acara buku VII KHK 1983 prinsipnya tidak mungkin tak ada bukti diambil sebuah keputusan, kalau ini terjadi maka keputusan itu tidak sah. Seluruh proses hukum acara harus dilalui, kalau tidak batal demi hukum

salam
Rm Wanta

hendrykus
Guest
hendrykus

Makasih byk atas penjelasannya romo, cuma yang saya msh bingung ttg hukum acara semuanya hrs dilalui itu bgm/contoh2nya bgm? Trz atas dasar bukti dan saksi bgm Ɣªηƍ di benarkan smp bisa keluar/terbit pembatalan perkawinan di paroki kota lain??

Romo Wanta, Pr.
Guest

Hendrykus Ytk,

Perkawinan kedua tidak sah. Harus diberitahu dan dibuktikan bahwa tidak sah supaya pasangan dan ramanya mengerti. Yang berhak memberi tahu adalah saksi yang tahu menyampaikan kepada pastor paroki.

salam
rm wanta

anya
Guest
anya

Dear Romo,dan Saudara Moderator yang terkasihh dalam Tuhan Kita Yesus Kristus, Saya ingin bertanya tentang teman saya dan rencana kehidupan dia ke depan. Pertanyaan saya : 1. Teman saya ini seorang katolik dan menikah dengan seorang pria muslim dan dikaruniai 2 anak, kini status mereka sudah bercerai dan teman saya mengasuh ke2 anaknya (single parent). Mereka dahulu menikah secara beda agama dan teman saya ini tetap dengan iman Katoliknya. Saat ini teman saya berhubungan dengan seorang pria Katolik yang sudah berkeluarga secara Katolik tapi tidak memiliki momongan sampai saat ini. Teman saya itu mengutarakan bahwa pria Katoliknya ini akan membatalkan… Read more »

Romo Wanta, Pr.
Guest

Anya Yth Perceraian dan pemisahan merupakan peristiwa yang menyedihkan termasuk kami Gereja dalam hal ini para pastor, yang seharusnya membuat keluarga kristiani rukun dan harmonis. Secara pribadi perkawinan yang direncanakan dengan memutuskan perkawinan sebelumnya artinya ada agenda tersembunyi untuk mendapatkan pasangan baru, dan hal ini tidak diperkenankan. Gereja tidak menginginkan perkawinan dengan catatan usaha memutuskan perkawinan sebelumnya. Karena itu saya tidak menganjurkan menikah dengan orang Katolik yang pernah menikah dengan sengaja atau kemauan memutuskan perkawinannya. Cobalah meminta pertimbangan dengan pastor paroki anda yang lebih tahu kehidupan anda sendiri. Saya memohon mencoba untuk merujukkan perkawinan yang retak dan gagal sehingga bisa… Read more »

anya
Guest
anya

Dear Romo Wanta, Terima kasih atas jawabannya romo..tapi ada penjelasan berikutnya romo tentang alasan teman saya ini, yaitu 1. teman saya yang tetap Katolik ini dan cowo Katolik tersebut sudah berkenalan sejak mereka TK hingga SMP di sekolah Katolik. Mereka mengakui sejak SMP mereka sudah saling suka walau cuma cinta monyet atau dalam bahasa sekarang cinta pertama mereka. 2. lalu mereka terpisah hingga pada tahun 2002 teman saya ini terpaksa menikah secara beda agama karena married by accident dengan pria muslim yang memberikan 2 anak dan akhirnya mereka bercerai 3. lalu beberapa tahun kemudian sekitar tahun 2010 teman saya ini… Read more »

Yunni
Guest
Yunni

Romo Yth, Ibu saya (55 tahun) dijadwalkan dibaptis pada Natal tahun ini, namun dikarenakan bapak (72 tahun) saya belum Katolik dan dulu mereka menikah secara adat, romo paroki mewajibkan untuk melakukan pemberesan perkawinan, kalau tidak, tidak boleh ikut pembaptisan. Yang menjadi kendala saat ini adalah, bapak saya berkeberatan untuk diajak ke gereja untuk bertemu dengan romo, dikarenakan juga hubungan kedua orangtua saya yang tidak lagi harmonis, tidak ada lagi komunikasi yang baik antara suami istri. Bapak saya tidak menunjukkan pertentangan apapun atas keputusan Ibu saya masuk Katolik, tetapi yah itu, beliau tidak tertarik/berminat melakukan proses2 untuk ke Gereja. Oleh karena… Read more »

Romo Wanta, Pr.
Guest

Yunni Yth,

Untuk kasus ini dibereskan dengan “sanatio in radice” karena seharusnya convalidatio simplex namun pihak yang tidak mau urusan gereja, maka yang sadar akan pengesahan kanonik dipakai dasar untuk memohon kemurahan dari Uskup sehingga perkawinannya sejak awal adalah sah dan ibu bisa komuni. Rama Paroki hendaknya melihat motivasi ibu yang mau dibaptis melebihi aturan kanonik yang menuntut kehadiran bapak yang non Katolik. Saya anjurkan dibaptis lalu dibereskan perkawinannya.

Salam dan berkat Tuhan,
rm wanta

Yunni
Guest
Yunni

Romo yang baik,

Terima kasih atas jawaban romo. Setelah membicarakan kembali dengan romo paroki, dikatakan bahwa ibu saya tetap boleh ikut pembaptisan. Puji syukur kepada Tuhan.
Sekali lagi terima kasih atas jawaban romo yang mencerahkan kebingungan saya.

Salam,

Yunni

Yuvina
Guest
Yuvina

Romo, Saat ini saya sedang mengajukan Proses Anulasi ke Rm Purbo. Saya sudah pernah bertemu dengan Rm Purbo sebanyak 3x. Alasan sy mengajukan anulasi adalah sbb. : Kami menikah bulan september 2009. Dalam perjalanan perkawinan kami yang masih seumur jagung saya sudah mengalami penganiayaan fisik yang sangat parah. Suami sy seorang “Pendoa Katolik”. Dia bilang dia memdapatkan karunia “penglihatan” dan ” Pendengaran” dari Roh Kudus. Sebelum menikah saya tidak mengetahui semua ini. Saya hanya tau dia seorang pendoa. Yang saya sesalkan dia selalu mendapatkan bisikan dari “Roh Kudus” ( versi suami saya ) bahwa saya selingkuh. Pernah juga suatu ketika… Read more »

Romo Wanta, Pr.
Guest

Yuvina Yth, Silakan membawa surat permohonan anulasi itu ke Tribunal Jakarta melalui Rama Andang dan sebisa mungkin berjumpa dengan dia, di Kramat VI nomor 22 Jakarta Pusat. Semoga berhasil salam Rm Wanta Tambahan dari Ingrid, Shalom Yuvina, Saya sungguh sangat prihatin dengan apa yang anda alami dalam kehidupan perkawinan Anda. Saya hanya ingin bertanya, apakah Anda sudah pernah menerima surat tanda terima dari Tribunal bahwa surat libellus Anda sudah diterima? Jika belum, atau jika ada kemungkinan surat itu hilang, maka silakan mengikuti saran Romo Wanta, untuk menuliskan kembali surat permohonan pembatalan perkawinan (libellus) itu ke Tribunal perkawinan di Jakarta (jika… Read more »

dave
Guest
dave

Romo YTH, Mohon masukan dari Romo. Saya bertemu dengan seseorang yang saya sayangi 6 bulan sebelum dia menikah. Sebenarnya memang dia telah merencanakan pernikahan dan kanonik sebelum bertemu saya. Setelah bertemu saya, dia menceritakan dia sudah tidak ingin melanjutkan rencana pernikahannya. Dia memilih mengagalkannya. Tetapi dari pihak calon suaminya memaksakan begitupun dari keluarga dia tanpa memperdulikan dia. Walau kami akhirnya menjalani hubungan tapi ditentang keluarga. Sambil keluarganya menyiapkan pernikahan dan terus memaksa dengan ancaman2. Sampai pada akhirnya kami tidak dapat membendungnya lagi, mereka menikah secara katolik walau si suami bukan katolik sementara dia katolik. Sampai setelah menikah, saya mencoba untuk… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Dave, Sambil menunggu jawaban Rm Wanta, izinkan saya menanggapi dahulu pertanyaan Anda: Membaca kisah Anda, nampaknya harus diterima terlebih dahulu faktanya, demikian: teman anda itu telah menikah di Gereja Katolik dengan suaminya, walaupun suaminya itu non- Katolik. Sedangkan prinsip yang dipegang oleh Gereja Katolik adalah: semua perkawinan dianggap sah, kecuali dapat dibuktikan kebalikannya (lih. Kan. 1060). Maka dalam kasus perkawinan teman anda itu: Perkawinan itu telah melalui proses kanonik, dan dengan demikian meskipun ada perbedaan agama, hal itu nampaknya telah diselesaikan dengan adanya dispensasi dari pihak Keuskupan. Maka terus terang saja, posisi Anda tidak mudah. Sebab perkawinan yang sudah… Read more »

christ
Guest
christ

Dear Romo, Saya pria Katholik menikah dengan non Katholik (Muslim). Kami melakukan pernikahan 2 x karena alasan formalitas, yang pertama adalah tahun 2001 secara KUA dengan memalsukan identitas saya, yang kedua tahun 2003, dengan orang yang sama, secara gereja (catatan sipil), dengan dispensasi. Hingga sekarang kami belum dikaruniai keturunan (belum punya anak). Setelah 8 tahun, kami sepakat untuk berpisah (dikarenakan faktor ekonomi, ketidakharmonisan dalam keluarga dll). Istri hingga sekarang beragama Muslim (KTP), dan kemudian dengan mudah menikah lagi dengan seorang Muslim (duda) berbekal surat cerai dari Pengadilan Agama, atas dasar pernikahan secara Muslim kami, sedangkan saya hingga sekarang masih mengurus… Read more »

Romo Wanta, Pr.
Guest

Christ Yth Lakukanlah langkah perceraian sipil dahulu karena itu juga menjadi bukti untuk menyatakan bahwa perkawinanmu dulu memang gagal. Kemudian silahkan menulis surat libellus ke Tribunal di mana anda dulu diteguhkan perkawinan. Selanjutnya akan diproses. Tentu anda harus mencantumkan pokok-pokok anulasi yang kuat, karena itu silahkan hubungi pastor paroki di mana anda tinggal, untuk mendapatkan pendampingan. Langkah ini adalah langkah terburuk dalam kasus-kasus perkawinan, namun apa boleh buat untuk mendapatkan keadilan dan status yang jelas. Untuk lebih jelasnya silahkan membaca artikel terkait di katolisitas.org. salam Rm Wanta Tambahan dari Ingrid: Shalom Christ, Sebenarnya andalah yang paling mengetahui adakah pokok- pokok… Read more »

Loren
Guest
Loren

Salam Damai!
Mat hari minggu tim Katolisitas!
Saya mau bertanya, apakah seorang mualaf (dari Katolik masuk islam) yang telah bercerai dengan suaminya bisa diterima menjadi anggota gereja Katolik, dan menikah dalam Katolik?
Trims atas jawabannya.

Romo Wanta, Pr.
Guest

Loren Yth

Maksudnya dia kembali menjadi Katolik lagi setelah bercerai? Allah tidak pernah menolak umat-Nya yang kembali ke pangkuan-Nya. Karena itu umat Katolik yang kembali bertobat setelah murtad atau pindah agama akan diterima. Tentu ada aturannya: harus mengikuti pelajaran agama, pernyataan tobat dan pengakuan iman Gereja Katolik, pelajaran komuni pertama.

Kalau menikah di Gereja Katolik harus memiliki status liber tidak ada ikatan perkawinan sebelumnya. Jika ada perlu dibereskan terlebih dahulu, artinya yang bersangkutan perlu memohon kemurahan hati Bapa Uskup untuk memutuskan ikatan perkawinannya yang terdahulu.

salam
Rm Wanta

fredrik
Guest
fredrik

Dear Romo, saya seorang Katolik, yang dibesarkan dari keluarga Katolik. Yang ingin saya tanyakan .. apakah pembaptisan untuk pindah agama tidak diperlukan ijin dari lembaga yang membaptis. Sebagai contoh dari lahir dibaptis Katolik secara diam diam untuk kepentingan pribadi orang tersebut pindah ke agama bukan Katolik tanpa pemberitahuan apa apa ke pihak lembaga agama Katolik dan orang tua. Apakah seseorang dalam keluarga Katolik berhak berpindah pindah agama karena alasan sudah dewasa dan akan menikah. Apakah ada sanksi apabila memiliki 2 surat baptis yang masih berjalan.. apakah kedua lembaga berhak mengeluarkan surat baptis tanpa menerima surat surat pemberitahuan tentang pindah agama… Read more »

Romo Wanta, Pr.
Guest

Fredrik Yth Pembaptisan baik di Gereja Katolik maupun gereja-gereja non Katolik yang diakui sebagai tindakan sah adalah sakramen yang tidak terhapuskan. Sakramen pembaptisan adalah sakramen dasar dan pintu masuk ke sakramen lain yang memeteraikan orang di dalam Tubuh Kristus. Baptisan memberikan suatu meterai yang tidak terhapuskan, oleh karena itu tidak bisa dua kali menerima baptisan. Pindah agama tidak perlu izin karena lembaga keagamaan tidak memperkenankan umatNya pindah agama. Kalau izin pasti tidak diberi. Karena itu bagi Gereja Katolik tidak mungkin diberikan 2 surat baptis. Seseorang yang sudah pernah dibaptis di gereja non Katolik yang sah diterima oleh Gereja Katolik tidak… Read more »

nana
Guest
nana

saya mau bertanya, apakah jika sepasang katolik mau menikah tapi salah satu pihak dari orang tua perempuan tidak mau hadir pada saat sakramen pernikahan nantinya karena tidak mau merestui hanya karena alasan yang sepele,karena dia merasa tidak dilibatkan dalam persiapan pernikahan lalu dia menjadi marah (memang papa saya benar2 pemarah,ada masalah kecil saja lgs marah dan dulu pada waktu saya masi masih SEKOLAH DASAR mau menerima sakramen ekaristi/terima komuni pertama pun dia marah2 ga senang dengan alasan yang tidak jelas, tidak mengijinkan saya untuk terima komuni pertama dan tidak hadir pada saat saya komuni pertama,untungnya saya bisa terima komuni pada… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Nana, Terima kasih atas sharingnya. Memang situasi yang anda hadapi adalah situasi yang sulit. Namun dalam suasana yang bahagia ini, saya ingin menyarankan agar anda dan calon anda untuk datang ke papa dan meminta maaf, jika dirasa cara anda berdua dalam mempersiapkan perkawinan tidak sesuai dengan harapan papa. Silakan membicarakan hal ini dengan pasangan anda. Carilah waktu yang tepat, dan ada baiknya anda berbicara sendiri dengan papa anda, minta maaf, dan mencoba mengerti sudut pandang papa anda. Setelah papa anda dapat mengerti, silakan mengajak pasangan anda untuk bersama-sama berbicara dengan papa. Yang terpenting, berdoalah agar Tuhan dapat memberikan hati… Read more »

Stella
Guest
Stella

Shallom Romo Wanta / Ibu Inggrid / Pak Stef, Ada kasus dari seorang katekumen. Seorang Ibu (sebut saja Ani) saat ini sedang ikut katekumen, beliau berusia 58th, dengan 1 anak. beliau menikah tahun 1983 dengan seorang WNA Taiwan dan menikah di Taiwan, saat itu keduanya bukan katolik. Awalnya Ibu Ani ini memang dikekang oleh keluarga besarnya dalam mencari pasangan, shg beliau akhirnya bekerja di Taiwan & dapat pasangan (sebut saja Bpk Yan) org Taiwan. Pernikahan di lakukan di Taiwan dicatatkan di kantor pernikahan Taiwan (mungkin seperti catatan sipil Indonesia) dan mereka tinggal di Taiwan. Thn 84, ibu ani hamil dan… Read more »

yani
Guest
yani

Dear Romo,

Saya cuma mau bertanya kalo ada misalnya calon pasangan saya berasal dari agama lain dan sudah bercerai, terus sekarang mau menikah di gereja Katolik apakah bisa? Atau kalau misalnya calon pasangan saya dibaptis menjadi katolik, apakah bisa menerima sakramen perkawinan secara katolik? terima kasih dan Tuhan memberkati

Ingrid Listiati
Member

Shalom Yani, Prinsipnya, Gereja Katolik mensyaratkan kedua mempelai pria dan wanita dalam status liber/ bebas, maksudnya tidak pernah terikat dalam perkawinan terdahulu. Sehingga kalau salah satu sudah pernah menikah (walaupun di agama bukan Katolik), maka perkawinan tersebut tidak dapat diberkati oleh Gereja Katolik, sebab Gereja Katolik tetap menghargai ikatan perkawinan kodrati yang sudah disahkan menurut agama lain. Jika pasangan ingin diberkati di Gereja Katolik, maka ikatan perkawinan terdahulunya harus dibereskan dahulu. Artinya, silakan dilihat, apakah ada kemungkinan pembatalan perkawinan. Menurut Gereja katolik, ada tiga hal yang membatalkan perkawinan: 1) halangan menikah, silahkan klik di sini; 2) cacat konsensus, dan 3)… Read more »

GUSTY
Guest
GUSTY

mau tanya Romo.Teman sy laki2 menikah pertama dgn istri yg dr protestan masuk katolik jd menikah secara khatolik gtu.trus ni teman sy ni dalam perjalanan pernikahan rupanya ada masalah dlm rumahtangganya dan mengajukan cerai sipil di pengadilan negeri.setelah mendapat putusan cerai sipil kemudian teman sy menikah lg dgn istri ke2 secara protestan dan teman sy pun masuk protestan krn. kesal atau blm mendapatkan restu scara adminstrasi dr pihak Greja khatolik atas istri pertamanya, singkat kata mungkin dia maunya cepat.pertanyaan saya apakah pernikahan ke2 dr teman saya ini sah menurut GK dan SIPIL?dan apakah istri ke 1 dpt melakukan gugatan krn… Read more »

ronny
Guest
ronny

Shalom Romo n saudara/i sekalian. Saya mau nanya. Ada seorang teman saya yang sudah menikah secara katolik n pada akhirnya harus bercerai dikarenakan suaminya narkoba dan mencampakkan istrinya. seandainya istrinya tersebut mau menikah lagi secara katolik, apakah diperbolehkan? serta apakah ada dispensasi khusus dan diperbolehkan menerima komuni kudus?

Fani
Guest
Fani

Romo,
Apakah suami sudah berkata cerai atau pisah itu termasuk perkawinan sudah bubar?

[dari katolisitas: Dalam katolik tidak ada istilah perceraian. Yang ada adalah kalau terbukti bahwa perkawinan tidak sah, maka dapat dilakukan pembatalan/anulasi. Silakan melihat artikel dan tanya jawab ini – silakan klik.]

Bernadetha A.
Guest
Bernadetha A.

Dear Romo, Saya sudah menikah selama 6 tahun setelah 8 tahun pacaran. Selama menikah banyak sekali permasalahan dari keluarga suami yang membuat saya stress kadang saya merasa tidak kuat dengan banyaknya cobaan. Selama menikah, suami tidak mau memiliki anak. Bahkan diajak untuk konsultasi ke pakar kesehatan dia menolak. Untuk berhubungan saja suami saya selalu menolak dengan alasan capek. Dan selama kami menikah, suami menolak untuk pergi ke gereja. Untuk pergi ke gereja saja kita bisa bertengkar bahkan ia pernah melempari saya ketika saya mengajak dia ke gereja. Awal pernikahan suami memang sibuk dengan pekerjaannya bahkan sering ditugaskan ke luar kota.… Read more »

emma
Guest
emma

Romo,
Apakah sudah ada contoh kasus pernikahan yang dibatalkan pada keuskupan surabaya??
karena mama saya cerita kalau temannya sudah mengurus sejak berusia 30-an hingga kini sudah hampir 50 belum juga ada pembatalan, apakah sangat rumit untuk mendapatkan pembatalan pernikahan bila hanya dari pihak lelaki atau wanita saja yang mengurus pembatalan? atau memang harus ada dua belah pihak agar proses bisa berlangsung lancar?? kalau salah satu pihak lepas tangan apa mungkin bisa diproses pembatalan pernikahannya??
terima kasih Romo
GBU

juli
Guest
juli

Romo nama saya juli, saya sudah pacaran selama 1 tahun dengan orang yang berbeda agama. Saya bingung saya mau membawa hubungan ini menjadi serius ke jenjang pernikahan. Tp saya sadar bahwa saya gak mungkin menikah dengan orang yang beda agama. bagaimana kami untuk memantapkan n bisa untuk menikah dengan pacar saya ini. saya minta tolong romo bantu kami untuk memecahkan masalah ini.
Terima kasih sebelumnya Romo.

Heinz
Guest
Heinz

Salam Romo & Tim Katolisitas., Saya bersyukur bisa mengetahui halaman web ini. sya telah mndapat bnyak pengetahuan yang menguatkan keyakinan akan Iman Katolik saya. Terpujilah Allah. Saya ada beberapa pertanyaan mengenai pernikahan beda agama. Seorang rekan kerja saya adalah janda 2 anak yg ditinggal mati oleh suaminya. mereka adalah adalah keluarga katolik. saat ini dia berpacaran dengan seorang duda cerai (protestan) yang juga telah memiliki anak. Karena pihak laki2 bersedia mengikuti kepercayaan rekan saya, mereka sedang dalam proses pengurusan untuk menikah di GK, namun terdapat ganjalan karena status pernikahan pihak laki2. pertanyaan saya: 1. bagaimana status anak hasil perkawinan pihak… Read more »

elizabeth
Guest
elizabeth

shalom Rm. Wanta

Aku dulu menikah secara katolik. Dan thn 4thn yl aku bercerai sah di catatan sipil. Sekarang aku mau bertanya : seandainya kl nanti aku menikah lagi diberkati di gereja non katolik. Apakah aku masih bisa menerima komuni ? dan apakah pernikah aku di anggap sah oleh Tuhan ? Apakah secara katolik aku dianggap berzinah krn tidak ada pembatalan pernikahan. Terima kasih

Salam
Elizabeth

felix
Guest
felix

Dear Stef, Ingrid and Romo, Saya mau bertanya tentang suatu kisah nyata. Sejujurnya saya sangat bingung, apakah hal ini bener atau tidak. Mungkin saudara Stef, saudari Ingrid atau Romo yang bisa menjelaskan secara detail. Pertanyaan saya: Ada satu pasangan yg baru menikah dan skrg menjadi katolik. Permasalahan di sini, sang suami ini dari gereja protestan dulunya and uda pernah menikah 2 kali. Trus pisah dgn istri nya yg pertama and kedua. Nah skrg ini dia menikah dgn istri ketiga. Dan saya sangat kaget meliat mereka di gereja katolik and menerima hosti. Apakah gereja katolik mengakui dan mengijinkan mereka itu utk… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X