Lectio Divina

Pendahuluan

Saya mempunyai seorang sahabat baik yang saya kenal sejak saya SMA kelas 2. Kami masih berhubungan dengan sangat baik sampai sekarang, bahkan seperti saudara sendiri. Usia persahabatan kami bahkan lebih panjang daripada usia kami saat pertama kali bertemu. Banyak sekali suka duka dalam persahabatan kami, namun satu hal yang kami akui, hal itu dimulai dengan saling mendengarkan satu sama lain. Ya, “mendengarkan” merupakan awal yang penting dalam membina persahabatan. Ini adalah suatu permenungan juga dalam hubungan kita dengan Tuhan. Jika sungguh kita ingin mengalami persahabatan yang erat dengan Allah, maka pertanyaannya adalah: sudah cukupkah kita menyediakan waktu untuk mendengarkan Dia?

Lectio Divina, apakah itu?

Tradisi Gereja Katolik mengenal apa yang disebut sebagai “lectio divina” untuk membantu kita umat beriman untuk sampai kepada persahabatan yang mendalam dengan Tuhan. Caranya ialah dengan mendengarkan Tuhan berbicara kepada kita melalui sabda-Nya. “Lectio” sendiri adalah kata Latin yang artinya “bacaan”. ((Lih. M. Basil Pennington, Lectio Divina, (New York: A Crossroad Book, 1998), p. 1)) Maka “lectio divina” berarti bacaan ilahi atau bacaan rohani. Bacaan ilahi/ rohani ini terutama diperoleh dari Kitab Suci. Maka memang, lectio divina adalah cara berdoa dengan membaca dan merenungkan Kitab Suci untuk mencapai persatuan dengan Tuhan Allah Tritunggal. Di samping itu, dengan berdoa sambil merenungkan Sabda-Nya, kita dapat semakin memahami dan meresapkan Sabda Tuhan dan misteri kasih Allah yang dinyatakan melalui Kristus Putera-Nya. Melalui Lectio divina, kita diajak untuk membaca, merenungkan, mendengarkan, dan akhirnya berdoa ataupun menyanyikan pujian yang berdasarkan sabda Tuhan, di dalam hati kita. Penghayatan sabda Tuhan ini akan membawa kita kepada kesadaran akan kehadiran Allah yang membimbing kita dalam segala kegiatan kita sepanjang hari. Jika kita rajin dan tekun melaksanakannya, kita akan mengalami eratnya persahabatan kita dengan Allah. Suatu pengalaman yang begitu indah tak terlukiskan!

Empat hal dalam proses Lectio Divina

Meskipun terjemahan bebas dari kata lectio adalah bacaan, proses yang terjadi dalam Lectio divina bukan hanya sekedar membaca. Proses lectio divina ini menyangkut empat hal, yaitu: lectio, meditatio, oratio dan contemplatio. ((Lih. Ibid., p. 57, 88)).

1. Lectio
Membaca di sini bukan sekedar membaca tulisan, melainkan juga membuka keseluruhan diri kita terhadap Sabda yang menyelamatkan. Kita membiarkan Kristus, Sang Sabda, untuk berbicara kepada kita, dan menguatkan kita, sebab maksud kita membaca bukan sekedar untuk pengetahuan tetapi untuk perubahan dan perbaikan diri kita. Maka saat kita sudah menentukan bacaan yang akan kita renungkan (misalnya bacaan Injil hari itu, atau bacaan dari Ibadat Harian), kita dapat membacanya dengan kesadaran bahwa ayat-ayat tersebut sungguh ditujukan oleh Tuhan kepada kita.

2. Meditatio
Meditatio adalah pengulangan dari kata-kata ataupun frasa dari perikop yang kita baca, yang menarik perhatian kita. Ini bukan pelatihan pemikiran intelektual di mana kita menelaah teksnya, tetapi kita menyerahkan diri kita kepada pimpinan Allah, pada saat kita mengulangi dan merenungkan kata-kata atau frasa tersebut di dalam hati. Dengan pengulangan tersebut, Sabda itu akan menembus batin kita sampai kita dapat menjadi satu dengan teks itu. Kita mengingatnya sebagai sapaan Allah kepada kita.

3. Oratio
Doa adalah tanggapan hati kita terhadap sapaan Tuhan. Setelah dipenuhi oleh Sabda yang menyelamatkan, maka kita memberi tanggapan. Maka seperti kata St. Cyprian, “Melalui Kitab Suci, Tuhan berbicara kepada kita, dan melalui doa kita berbicara kepada Tuhan.” Maka dalam lectio divina ini, kita mengalami komunikasi dua arah, sebab kita berdoa dengan merenungkan Sabda-Nya, dan kemudian kita menanggapinya, baik dengan ungkapan syukur, jika kita menemukan pertolongan dan peneguhan; pertobatan, jika kita menemukan teguran; ataupun pujian kepada Tuhan, jika kita menemukan pernyataan kebaikan dan kebesaran-Nya.

4. Contemplatio
Saat kita dengan setia melakukan tahapan-tahapan ini, akan ada saatnya kita mengalami kedekatan dengan Allah, di mana kita berada dalam hadirat Allah yang memang selalu hadir dalam hidup kita. Kesadaran kontemplatif akan kehadiran Allah yang tak terputus ini adalah sebuah karunia dari Tuhan. Ini bukan hasil dari usaha kita ataupun penghargaan atas usaha kita. St. Teresa menggambarkan keadaan ini sebagai  doa persatuan dengan Allah/ prayer of union di mana kita “memberikan diri kita secara total kepada Allah, menyerahkan sepenuhnya kehendak kita kepada kehendak-Nya.” ((St. Teresa of Avila, The Way of Perfection, text prepared by Kieran Kavanaugh, OCD, Washington DC: ICS Publication, 2000), p. 358.))

Ke-empat fase ini membuat kelengkapan lectio divina. Jika lectio diumpamakan sebagai fase perkenalan, maka meditatio adalah pertemanan, oratio persahabatan dan contemplatio sebagai persatuan.

Bagaimana caranya memulai Lectio Divina

Karena maksud dari lectio divina adalah untuk menerapkan Sabda Allah dalam kehidupan kita, dan dengan demikian hidup kita diubah dan dipimpin olehnya, maka langkah-langkah lectio divina adalah sebagai berikut:

1. Ambillah sikap doa, bawalah diri kita dalam hadirat Allah. Resapkanlah kehadiran Tuhan di dalam hati kita. Mohonlah agar Tuhan sendiri memimpin dan mengubah hidup kita melalui bacaan Kitab Suci hari itu.

2. Mohonlah kepada Roh Kudus untuk membantu kita memahami perikop itu dengan pengertian yang benar.

3. Bacalah perikop Kitab Suci tersebut secara perlahan dan dengan seksama, jika mungkin ulangi lagi sampai beberapa kali.

4. Renungkan untuk beberapa menit, akan satu kata atau ayat atau hal-hal yang disampaikan dalam perikop tersebut dan tanyakanlah kepada diri kita sendiri, “Apakah yang diajarkan oleh Allah melalui perikop ini kepadaku?”

5. Tutuplah doa dengan satu atau lebih resolusi/keputusan praktis yang akan kita lakukan, dengan menerapkan pokok-pokok ajaran yang disampaikan dalam perikop tersebut di dalam hidup dan keadaan kita sekarang ini.

Berdoa Ibadat Harian/ Liturgy of the Hour

Tradisi Gereja Katolik juga mengenal adanya doa “Ibadat Harian/Liturgy of the hour/ Divine office“, yaitu doa yang pada awalnya didoakan oleh para biarawan/ biarawati. Doa ini secara lengkapnya terdiri dari doa pagi, dan doa sore, doa tengah hari, doa menjelang tengah hari, doa sesudah tengah hari, dan doa malam; serta bacaan dan renungan hari itu (Office of the Reading). Setelah Konsili Vatikan ke II, Ibadat Harian ini dianjurkan juga bagi para awam, terutama doa pagi (Laudes/ Morning prayer) dan doa sore (Vesper/Evening prayer). ((lih. Sacrosanctum Concilium, 87, 89)).

Pendarasan doa Ibadat Harian ini mempunyai makna yang sangat dalam, yang jika didoakan bersama-sama dengan imam, dapat merupakan suara Gereja, sebagai Mempelai Kristus kepada Kristus, atau bahkan juga doa kita sebagai anggota-anggota Tubuh Kristus dengan kesatuan dengan Kristus sebagai Kepalanya, kepada Allah Bapa. ((lih. Sacrosanctum Concilium, 84))

Begitu indahnya doa Ibadat Harian ini, doa ini terdiri dari kutipan-kutipan mazmur yang kemudian diikuti oleh perikop singkat dari Kitab Suci. Selanjutnya baru diikuti oleh Kidung Zakaria (untuk doa pagi) atau Kidung Magnificat (untuk doa sore) dan baru kemudian doa-doa permohonan, dan diakhiri oleh doa Bapa Kami dan doa penutup. Selanjutnya silakan klik di sini untuk memperoleh keterangan lebih lanjut tentang doa Ibadat Harian/ “Liturgy of the Hour” ini.

Contoh merenungkan Alkitab dengan Lectio divina

Mari kita melihat bacaan Injil kemarin, Kamis 13 Agustus 2009, yang diambil dari Mat 18:21-19:2. Di dalam perikop tersebut diceritakan perumpamaan tentang pengampunan. Pada saat kita merenungkan perikop ini, maka kita dapat bertanya pada diri sendiri, apakah yang Tuhan inginkan agar kita terapkan dalam kehidupan kita sehari hari?

Maka kita bisa membayangkan salah satu tokoh dalam perikop itu, misalnya, kita menjadi hamba itu yang berhutang sepuluh ribu talenta. Namun oleh belas kasihan raja [yaitu Tuhan], maka hutang hamba itu dihapuskan. Namun kemudian kita berjumpa dengan orang yang telah menyakiti hati kita, dan kita merasa sulit untuk mengampuni. Dengan demikian, kita bersikap seperti hamba itu, yang walaupun sudah diampuni dan dihapuskan hutangnya, namun tidak dapat/ sukar mengampuni orang lain. Mari dengan jujur melihat, apakah kita pun pernah atau sering bersikap seperti hamba yang tidak berbelas kasihan ini?  Siapakah kiranya orang yang Tuhan inginkan agar kita ampuni? Tanyakanlah kepada Tuhan dalam hati, “Tuhan, tunjukkanlah kepadaku, adakah aku pernah bersikap demikian? Siapakah yang harus kuampuni…?

Sambil terus merenungkan ayat demi ayat dalam perikop tersebut, bercakap-cakaplah dengan Tuhan dalam keheningan batin. Mungkin Tuhan ingin mengingatkan kita akan ayat ini, “Bukankah engkaupun harus mengasihani kawanmu seperti Aku telah mengasihani engkau?” (Mat 18:33). Jika ayat itu yang sungguh berbicara pada kita hari ini, maka kita mengingatnya dan mengulanginya kembali dalam hati, sebagai perkataan Tuhan yang ditujukan kepada kita. Dan semakin kita merenungkannya, semakin hiduplah perkataan itu di batin kita, dan bahkan kita dapat mendapat dorongan untuk menerapkannya.

Atau jika pada saat ini kita masih terluka atas perlakuan seseorang kepada kita, maka, kitapun dapat membawanya ke hadapan Kristus. Kita dapat pula menyatakan kepada-Nya, betapa kita ingin mengampuni, namun rasa sakit masih begitu mendalam dan nyata dalam hati kita. Maka, mungkin ayat yang berbicara adalah beberapa ayat sesudahnya yang berkata, “Orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia dan Iapun menyembuhkan mereka di sana.” (Mat 19:2). Kita dapat membayangkan bahwa kita berada di antara orang yang berbondong-bondong itu, dan memohon agar Ia menyembuhkan luka-luka batin kita. Biarlah ayat Mat 19:2 meresap dalam hati kita, dan kita ulangi berkali-kali sepanjang hari, “…. dan Tuhan Yesus-pun menyembuhkan luka-luka batinku di sana.” Biarkan jamahan Tuhan yang menyembuhkan banyak orang pada 2000 tahun yang lalu menyembuhkan kita juga pada saat ini. Dengan kita mengalami kesembuhan batin, maka sedikit demi sedikit Tuhan membantu kita untuk mengampuni, sebab kekuatan kasih-Nya memampukan kita melakukan sesuatu yang di luar batas kemampuan kita sebagai manusia.

Memang, pada akhirnya, lectio divina ini tidak akan banyak berguna jika kita berhenti pada meditatio/ permenungan, tapi tanpa langkah selanjutnya. Kita harus menanggapi apa yang Tuhan sampaikan lewat sabda-Nya, dan membuat keputusan tentang apakah yang akan kita lakukan selanjutnya, setelah menerima pengajaran-Nya. Maka langkah berikut, kita dapat mengadakan percakapan/ oratio yang akrab dengan Tuhan Yesus, entah berupa ucapan syukur, pertobatan, atau permohonan, yang semua dilakukan atas dasar kesadaran kita akan besarnya kasih Tuhan kepada kita.

Kesadaran akan kasih Kristus inilah yang sedikit demi sedikit mengubah kita, dan mendorong kita untuk juga memperbaiki diri, supaya dapat mengikuti teladan-Nya untuk hidup mengasihi orang-orang di sekitar kita, terutama anggota keluarga kita sendiri: suami, istri, orang tua, dan anak-anak. Kasih-Nya ini pula yang membangkitkan di dalam hati kita rasa syukur, atas pengampunan dan pertolongan-Nya pada kita. Dengan memandang kepada Yesus, kita dapat melihat dengan jujur ke dalam diri kita sendiri, untuk menemukan hal-hal yang masih harus kita perbaiki, agar kita dapat hidup sesuai dengan panggilan kita sebagai murid- murid-Nya.

Jika melalui lectio divina akhirnya kita mampu mengalahkan kehendak diri sendiri untuk mengikuti kehendak Allah, maka  kita perlu sungguh bersyukur. Sebab sesungguhnya, ini adalah karya Roh Kudus yang nyata dalam hidup kita. Perubahan hati, atau pertobatan terus menerus yang menghantar kita lebih dekat kepada Tuhan dengan sendirinya mempersiapkan kita untuk bersatu dengan-Nya dalam contemplatio. Dalam contemplatio ini, hanya ada Allah saja di dalam hati dan pikiran kita. Kerajaan-Nya memenuhi hati kita, sehingga kehendak-Nya sepenuhnya menjadi kehendak kita. “Jadilah padaku ya Tuhan, menurut kehendak-Mu….” Dan dalam keheningan dan kedalaman batin kita masuk dalam persatuan dengan Dia.

Jika arti doa yang sesungguhnya adalah “turun dengan pikiran kita menuju ke dalam hati, dan di sana kita berdiri di hadapan wajah Tuhan, yang selalu hadir, selalu memandang kita, di dalam diri kita.” ((Henri J.M. Nouwen, The Way of the Heart, (New York: Ballantine Books, 1991), p.59)), maka contemplatio adalah puncak doa. Ini adalah saat di mana kita memandang Yesus dengan pandangan iman: “Aku memandang Dia dan Dia memandangku.” ((KGK 2715)) Pandangan kepada Yesus ini adalah suatu bentuk penyangkalan diri, di mana kita tidak lagi menghendaki sesuatu yang lain daripada kehendak Allah. Dengan pandangan ini kita mempercayakan seluruh diri kita ke dalam tangan-Nya, dan kita semakin terdorong untuk mengasihi dan mengikuti Dia yang terlebih dahulu mengasihi kita.

Apa buah-buah dari Lectio divina?

Buah-buah dari Lectio divina adalah Compassio dan Operatio. ((lih. M. Basil Pennington, Lectio Divina, Ibid., p. 89)). Dengan persatuan kita dengan Tuhan, maka kita membuka diri juga untuk lebih memperhatikan dan mengasihi sesama dan ciptaan Tuhan yang lain. Kita juga didorong untuk melakukan tindakan nyata untuk membantu sesama yang membutuhkan pertolongan, ataupun untuk selalu mengusahakan perdamaian dengan semua orang. Dengan demikian perbuatan kita menjadi kesatuan dengan doa kita, atau dengan perkataan lain kita memiliki perpaduan sikap Maria dan Martha (lih. Luk 10:38-42).

Mari, memulai perjalanan iman dengan Lectio divina

Jika kita membaca pengalaman para orang kudus, kita mengetahui bahwa banyak dari mereka menerapkan lectio divina dalam kehidupan rohani mereka. Diakui bahwa perjalanan menuju contemplatio bukan sesuatu yang mudah, karena memerlukan disiplin dan kesetiaan kita untuk menyediakan waktu untuk berdoa. Namun demikian, sesungguhnya setiap orang dapat mulai menerapkan lectio divina ini dalam kehidupan sehari-hari.

Banyak orang keliru jika berpikir bahwa membaca dan merenungkan Alkitab secara pribadi hanya dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu yang tingkat pendidikan yang tinggi tentang Alkitab. Kenyataannya, sebagian besar perikop Kitab Suci tidak sulit di-interpretasikan. Bahkan perikop yang mengandung ayat yang sulit sekalipun, akan tetap berguna untuk direnungkan. Maka sesungguhnya, tidak ada alasan bagi kita untuk malas membaca dan merenungkan Kitab Suci. Kita dapat menggunakan ayat-ayat Kitab Suci untuk berdoa dan untuk menjadi penuntun sikap kita sehari-hari. Membaca atau menghafalkan ayat- ayat Alkitab adalah sesuatu yang baik, tetapi alangkah lebih baik jika kita meresapkannya dan membiarkan hidup kita terus menerus diubah olehnya. Tentu, ke arah yang lebih baik, agar kita semakin dapat mengikuti teladan Kristus Tuhan kita.

“O, Tuhan Yesus, tambahkanlah di dalam hatiku, kasih kepada-Mu; sehingga aku dapat setia menginginkan persahabatan dengan Engkau melalui doa dan Sabda.”

42
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
19 Comment threads
23 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
21 Comment authors
DonnyIoannesmaria angeliquesoero2376Krist Retno Recent comment authors
Donny
Member

Selamat Pagi Pak/Ibu.. Saya mau meminta saran. Jadi selama Masa Adven nanti, kita mahasiswa ingin mengadakan lectio divina. Rencananya ingin diadakan sebanyak 2 kali seminggu, total selama Masa Adven maka akan diadakan sebanyak 7 kali. Saya meminta saran dari Katolisitas, perikop Alkitab mana saja yang kiranya kami bisa coba pahami dengan berlectio divina yang sebanyak 7 kali itu. Inginnya ketujuh perikop tersebut saling berhubungan dan membentuk suatu kesatuan yang utuh, sehingga ketika kami telah selesai mengikuti ketujuh lectio divina tersebut, kami mendapat suatu pembelajaran yang utuh. Inginnya lagi, ada penjelasan juga dari katolisitas tentang ketujuh perikop tersebut, agar nanti pembelajaran… Read more »

Donny
Member

thanks thanks..

Ioannes
Guest
Ioannes

Salam,

Ada sedikit kerancuan mengenai frase “Your prayer is the word you speak to God. When you read the Bible, God speaks to you; when you pray, you speak to God”.

Di dalam artikel ini, dikatakan bahwa St. Siprianus yang mengatakannya. Namun, artikel Bagaimana Menginterpretasikan Kitab Suci Menurut Pengajaran Gereja Katolik :

http://katolisitas.org/?p=6144/

menunjukkan bahwa kata-kata tersebut diutarakan oleh St. Agustinus dalam Komentar Mengenai Mazmur. Manakah yang benar? Terima kasih.

Pacem,
Ioannes

maria angelique
Guest
maria angelique

Shalom bu Ingrid, menarik sekali pembahasannya. saya ingin bertanya. Dalam doa pribadi dan perenungan Kitab Suci, biasanya saya mulai dengan menyembah Tuhan dalam doa, pujian dan senandung roh, lalu hening. Saat itu saya merasakan dalam hadirat Tuhan yang kuat, lebih jelas menangkap pesan Sabda dan juga suara Tuhan. Rasanya nyaman berkontemplasi saat itu hingga waktu tidak terasa. Sedangkan bila saya langsung doa, hening, lalu membaca KS, kok susah rasanya masuk dalam kontemplasi. Masalahnya adalah saat saya memimpin dalam suatu kelompok doa yang sifatnya umum (bukan karismatis, dimana senandung roh ‘kurang lazim’, jadi saya harus bijak untuk tidak menggunakannya), meskipun saya… Read more »

soero
Guest
soero

semua yang sudah dijelaskan diatas memang sudah dilakukan oleh biarawan terutama biara trapist..

2376Krist Retno
Guest
2376Krist Retno

Dear Team,

Mohon bisa dijelaskan mengenai beberapa metode pendalaman Kitab Suci seperti metode “Lectio Divina”, “Amos”, “TAT’, Metode 7 Langkah, dll atau apakah ada buku khusus tentang hal tsb? karena yang saya tau baru 1 yaitu Lectio Divina terbitan dari Carmel?
Jawaban dan penjelasannya sangat saya butuhkan. Terima kasih.

Salam,
Kristianne

[dari katolisitas: Silakan membaca artikel tentang lectio Divina di atas – silakan klik. Kami belum pernah mendengar metode Amos dan TAT. Sedangkan Metode 7 langkah, prinsipnya sama seperti Lectio Divina.]

Aquilino Amaral
Guest
Aquilino Amaral

Salam bu Inggrid

ketika saya membaca sala satu dokumen katolik, meyatakan ada kurang lebih 4 lectio Divina .
ibu bisa mejelaskan lebih sederhana agar saya bisa mengerti
yaitu; 1). Lectio, 2). Oratio, 3). Meditatio, dan 4). Comtemplatio.

Saya masih bingung tentang keempat hal itu, mohon di jelaskan dengan bahasa yang lebih sederhana!

Salam
Aquilino Amaral

[Dari Katolisitas: Silakan anda membaca terlebih dahulu artikel di atas, dan jika masih ada yang belum jelas, silakan bertanya kembali]

Aquilino Amaral
Guest
Aquilino Amaral

salam bu Ingrid, saya pernah bergabung dalam organisasi THS-THM yang didirikan oleh Romo Akbar Pr serta Romo yang lain. Di organisasi THS-THM lebih fokus pada doa dan meditasi. di tahun 1993, Romo Akbar membuka cabang THS-THM di Kabupaten kami yaitu Covalima perbatasan dengan NTT. di kegiatan retret kami di arahkan untuk membaca injil dan renungan selama tiga hari. Romo Akbar menguasai semua ayat alkitab terutama PB. di situ baru saya mengenal alkibat. dan setelah kami melakukan sendiri. kadang kami harus ke gua untuk bermeditasi. Apakah bermiditasi di dalam gua-gua atau tempat kerabat tidak salah dan melanggar kegiatan meditasi yang terfokus… Read more »

Thomas G. Witono
Guest
Thomas G. Witono

Bu Ing,

Terima kasih banyak atas penjelasannya.

Salam,
Thomas

Thomas G. Witono
Guest
Thomas G. Witono

Bu Ing, Saya mengenal kata Lectia Divina dari majalah bulanan Kuasa Doa edisi Vo.5.No.4 Juni 2010 apad halaman 95-96, karena saya ingin mengetahui lebih dalam arti Lecti Divina maka saya coba masuk ke website google dan, Puji Tuhan saya mendapatkan website http://www.katolisitas.org. Kebiasaan saya dan keluarga selalu melakukan doa Angelus pada pagi hari jam.5 / jam.6, jam.12.siang dan jam18 sore, dan pada jam.00 tengah malam saya sendiri melakukan doa Pasarah / Rosario. Untuk bacaan Kitab Suci dalam doa kadang dilakukan tengah malam, kadanga pagi hari, dan kadang sore hari. Dengan melakukan Doa Angelus saya bersyukur dan berterima kasih kepada TuhanYesus… Read more »

delfinaspm
Guest
delfinaspm

apa yang perlu dipersiapkan seorang pemimpin lectio dalam pertemuan lectio divina bersama dan bagaimana teknis dan pesan utamanya? karena injil yang dipakai adalah injil hari Minggu? trims

Yos. Suradi
Guest

Mohon disampaikan urutan lectio divina yang benar, karena akan kami kembangkan di paroki kami untuk tahun 2010, termasuk tata cara dan etikanya secara kristiani, supaya kami tidak salah langkah, beserta hal-hal yang perlu kami persiapkan. GBU

yos. suradi
Guest
yos. suradi

trims atas penelasan tambahan untuk langkah-langkah lectio divina. GBu

Fransiskus Suhartoyo
Guest
Fransiskus Suhartoyo

Salam kenal

Saya baru mengenal situs LECTIO DIVINA dari teman, dan waktu saya coba explore saya tertarik pada “Sample of Pray” disitu saya temukan “sample prayer for a Pastor” dan “sample prayer for a Pastor’s wife”
nah untuk sample prayer yg terachir saya mulai bingung???
Apa yang dimaksud dengan A PASTOR’S WIFE? Mohon penjelasan, terima kasih GBU

Machmud
Guest
Machmud

Salam damai sejahtera

Apakah gereja Katolik tidak mengajarkan / menganjurkan umatnya untuk berdoa setiap saat atau berdoa tanpa henti ?

Salam
mac

Mbah Harto, T.O. Carm
Guest

Imam-imam yang melakukan Lectio Devina dalam mempersiapkan homili, homili atau khotbahnya menjadi bagus: runtut (bahasa dan logical squensisnya teratur), mewnyentuh, dan “cemanthel” di hati/ingatan umat. Ibaratnya, umat pulang dari gereja ada yang dapat dibawa pulang.

Monica
Guest
Monica

shalom…

saya telah membaca jawapan yang diberikan pada Aaron…dan ada dinyatakan bhw ibadah kita itu ada 7 waktu…apakah itu wajib kita lakukan? sebab saya belum pernah tahu yang kita kena beribadah sebanyak 7 waktu…

salam damai…

Ignatius Ryan
Guest
Ignatius Ryan

Saya melihat pembahasan Lectio Divina dengan Liturgy of the Hour (doa brevir) disatukan pada artikel ini. Apa hubungan antara Lectio Divina dengan Liturgy of the Hour? Apakah kedua hal ini terpisah sama sekali, atau Lectio Divina diterapkan dalam setiap pembacaan dalam Liturgy of the Hour, atau bagaimana? Selama ini saya sudah memulai Lectio Divina, tetapi baru bisa mengambil waktu sebelum tidur dan hanya membaca bacaan Injil harian. Apakah hal ini diperbolehkan?

Terima kasih,

Ryan

Jus Soekidjo
Guest
Jus Soekidjo

Bagi sahabat-sahabatku yang mencintai keheningan, dapat bergabung dengan komunitas meditasi Kitab Suci berdasarkan “lectio divina”. Di Jakarta, beberapa paroki telah mengaplikasikan “meditasi Kitab Suci” sebagai bagian dari seksi katagorial, di mana umat selain diajak untuk membaca (lectio), merenungkan (meditatio), berdoa berdasarkan Kitab Suci (oratio), tetapi juga diajak untuk menghayati kehadiran Tuhan di dalam suasana hening (contemplatio). Banyak manfaat dapat diraih melalui lectio divina.

Untuk yang berminat, dapat menghubungi saya melalui email . God bless and love you full.

Jus Soekidjo

Felix SB
Guest
Felix SB

Shalom Bu…
Dengan membaca artikel diatas saya menghubungkan pada apa yang disebut dengan Suara Hati itu,
jika kita menanyakan apakah suara hati itu kepada seorang anak2, tentu akan di jawabnya bahwa Suara Hati itu adalah suara Tuhan.
sudah lama saya ingin sekali belajar dapat menangkap suara-suara Tuhan di dalam melengkapi kehidupan saya (dapat di lakukan setiap waktu),
sekarang pertanyaan saya adalah:
apakah sebetulnya suara hati itu, dan bagaimana caranya membedakan bahwa suara itu benar2 dari Tuhan?
adakah lectio divina akan membawa kita kepada kepekaan terhadap suara Tuhan ?

demikian pertanyaan saya ini bu, terimakasih.
soegihato

wahyu nugroho
Guest
wahyu nugroho

Shalom bu inggrid aku mau tanya nih
Bagaimana kita lebih intim dengan Tuhan Allah dan Bunda Maria? terus cara meditasi dan cara lectio devina yang benar bagaimana biar kita bisa mendapatkan inner voice? terus bahasa roh tu bisa diajarkan gak? terima kasih, Wahyu Nugroho.

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X