Kristus yang kita imani = Yesus menurut sejarah

Pendahuluan

Dewasa ini, dengan adanya aliran Modernisme dan Liberalisme, ada banyak orang yang mempertanyakan ke-Tuhanan Yesus. Mereka berpendapat, jika Kitab Suci tidak dapat dibuktikan secara historis, maka berarti isinya belum tentu benar. Akibatnya, mereka memisahkan Yesus sebagai Yesus yang sesungguhnya menurut sejarah (the Jesus of History), dan Yesus yang diimani oleh orang Kristen (the Christ of Faith), dan mengatakan bahwa Yesus yang diimani orang Kristen itu tidak sama dengan Yesus yang sesungguhnya ada dalam sejarah. Contohnya adalah the Five Gospels of the Jesus’ Seminar dan buku karangan Dan Brown, Da Vinci Code, yang intinya menyatakan bahwa seolah Yesus ‘dijadikan’ Tuhan oleh para pengikutNya, dan ke-Tuhanan Yesus baru diresmikan oleh Kaisar Konstantin sekitar tahun 325!

The Jesus of History= the Christ of Faith

Sesungguhnya, adalah sangat tidak masuk akal untuk memisahkan Yesus yang ada dalam sejarah dengan Kristus yang kita imani, apalagi jika kita mengatakan bahwa Yesus tidak pernah menyatakan DiriNya sendiri sebagai Tuhan. Jika kita memegang pendapat seperti demikian, kita seperti orang yang tidak percaya bahwa Bill Gates adalah seorang yang kaya, karena dia sendiri tidak pernah mengatakan, “Saya adalah orang kaya.” Padahal kenyataannya, Bill Gates adalah salah seorang yang berada dalam urutan atas orang-orang terkaya di dunia menurut Forbes magazine, dan yayasan yang didirikannya menyumbangkan sedikitnya 1.5 trilyun setiap tahun kepada para orang miskin. Jadi untuk tidak mempercayai bahwa Bill Gates adalah seorang yang kaya adalah sangat tidak masuk akal.

Demikianlah, kita tidak dapat memisahkan Yesus menurut sejarah dan menurut iman, karena memang keduanya adalah satu dan sama, dan Yesus yang sama itu menyatakan Diri-Nya sendiri sebagai Tuhan dengan berbagai cara di hampir semua bagian Injil. Pernyataan Yesus ini kemudian dinyatakan kembali oleh para rasul, sehingga para rasul bukannya mengada-ada, atau mengarang sesuatu yang tidak ada sebelumnya. Gereja Katolik menurut Vatikan II kembali menegaskan hal tersebut.

Orang Kristen yang mengatakan bahwa Yesus tidak pernah menyatakan Diri-Nya sebagai Tuhan sesungguhnya hampir mengingkari iman Kristen-nya sendiri. Rasul Paulus pernah berkata, jika Kristus tidak sungguh-sungguh bangkit, (dan karenanya bukan Tuhan), maka sia-sialah iman kita (lih. 1 Kor 15:14). Jadi iman kita didasari oleh penjelmaan Tuhan sebagai manusia di dalam diri Yesus Kristus yang bangkit dari mati. Inilah kebenaran sejarah yang kita imani, dan yang kita amini setiap kali kita mengucapkan Syahadat Aku Percaya: “Aku Percaya akan Allah, Pencipta langit dan bumi, dan akan Yesus Kristus, Putera-Nya yang tunggal Tuhan kita, yang dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria, yang menderita sengsara dalam pemerintahan Pontius Pilatus, disalibkan, wafat, dan dimakamkan, yang turun ke tempat penantian, pada hari ketiga bangkit dari antara orang mati…” Secara historis, Pontius Pilatus adalah nama gubernur pada jaman Yesus, sehingga dari sini kita mengetahui bahwa Yesus sungguh-sungguh hidup dan masuk dalam sejarah manusia.

Pemisahan the Jesus of history dan the Christ of Faith

Sesungguhnya, ide memisahkan Yesus menurut sejarah dan Kristus menurut yang diimani berakar dari jaman Pencerahan (Enlightenment) pada pertengahan abad ke- 19, di mana banyak para pakar Kitab Suci berpendapat bahwa Tuhan itu sepertinya hanya ‘penonton’ serupa ‘pembuat jam’ yang mengamati saja, tanpa dapat campur tangan di dalam sejarah manusia, kecuali dengan menetapkan hukum alam. Sehingga, mereka melucuti Injil dari pernyataan ke-Tuhanan Yesus dan keberadaan mukjizat-mukjizat, termasuk kelahiran Yesus dari Perawan Maria, dan kebangkitan badan, secara khusus kebangkitan Kristus sendiri. Salah seorang pelopor yang mengembangkan teori ini adalah David Friedrich Strauss in 1835 ((David Friedrich Strauss adalah tokoh Biblical Rationalism yang memakai filosofi Hegel untuk meneliti hidup Yesus. Buku karangannya adalah, Life of Jesus Critically Examined, dan ia berkesimpulan bahwa alkitab adalah mitos dan bukan sejarah.)) yang mengatakan bahwa Kristus yang diimani oleh orang Kristen berbeda dengan Yesus yang sesungguhnya dalam sejarah. Ide ini dinyatakan kembali oleh Albert Schweitzer dan kemudian oleh Rudolf Bultmann, yang menyimpulkan bahwa Yesus menurut sejarah hanyalah seorang Yahudi di Palestina yang mati disalib. ((Rudolf Bultmann, The History of the Synoptic Tradition, 1921, diterjemahkan oleh J Marsh, (Oxford, Blackwell, 1963) dan essaynya “The New Testament and Mythology”, dalam In Kerygma and Myth: A Theological Debate, vol.1, diterjemahkan oleh R.H. Fuller (London, 1953).)) Namun demikian, Bultmann menyimpulkan lebih jauh, dengan mengatakan hal ini memberikan ‘kebebasan’ bagi setiap orang Kristen untuk membentuk gambaran Yesus sendiri menurut iman yang sesuai dengan kebutuhannya. Ini adalah pemikiran Teologi Liberal yang melucuti Alkitab dan menyusun sendiri gambaran Yesus sesuai dengan keinginan manusia secara pribadi. Ini adalah ‘Relativism’: sebab Yesus digambarkan sesuai dengan kehendak pribadi dan bukannya sesuai dengan kebenaran yang sungguh terjadi. Pendapat seperti ini dikecam dengan keras oleh Paus Pius X dalam surat ensikliknya Pascendi Dominici gregis, yang menyebutkan ajaran yang sedemikian sebagai puncak dari segala ajaran sesat, “the synthesis of all heresies”, sebab ajaran tersebut menolak seluruh kebenaran objektif di dalam iman Kristiani.

Namun demikian, ajaran yang kita kenal sebagai ‘Modernism’ ini terus berlanjut sampai dengan abad ke 20, seperti yang kita lihat dalam the Five Gospels, hasil dari the Jesus Seminar. Dasar ajaran mereka: mereka tidak percaya bahwa ada Tuhan yang dapat menjadi manusia. Maka dengan ajaran ini, mereka ingin menghancurkan kebenaran Injil sebagai Sabda Tuhan.

Jika kita perhatikan, ajaran Modernism sesungguhnya ingin mengganti Trilemma tentang kemungkinan identitas Yesus menurut C.S. Lewis, yang sungguh terdengar sangat ‘keras’ di telinga orang Kristen (baca: Mengapa Orang Kristen percaya bahwa Yesus itu Tuhan?), yaitu: bahwa Kristus sungguh-sungguh Tuhan, atau Ia hanyalah seorang yang tidak waras ‘a lunatic’, atau Ia seorang yang lebih buruk daripada penipu ‘a liar’. Mereka menawarkan pendapat baru: bahwa Yesus sendiri tidak pernah menyatakan diri-Nya sebagai Tuhan. Dengan demikian, para Modernist sesungguhnya lebih ‘parah’ daripada yang menuduh Yesus sebagai ‘a lunatic/ a liar’ sebab kelompok yang terakhir ini setidak-tidaknya mengakui bahwa Yesus pernah menyatakan DiriNya sebagai Tuhan, hanya saja mereka tidak percaya; sedangkan para Modernist ini mengabaikan semuanya, dan menggeserkan tuduhan kepada para murid Yesus abad pertama, dengan mengatakan bahwa mereka (para murid) itu bersekongkol untuk mengarang suatu mitos/ legenda terbesar sepanjang sejarah, yaitu untuk mengatakan bahwa Yesus itu Tuhan.

Para murid Yesus tidak mungkin ‘mengarang’ mitos ke-Tuhanan Yesus

Namun, sesungguhnya, akal sehat sendiri dapat membuktikan bahwa tuduhan tersebut tidak mungkin benar, dan bahwa tidak mungkin para rasul adalah pembohong. Berikut ini adalah alasannya:

1) Sebuah mitos tidak mungkin dapat dibuat dalam jangka waktu yang terlalu dekat dengan kejadian aslinya, yaitu pada saat banyak saksi mata kejadian yang masih hidup dan dapat ditanyakan konfirmasinya. Injil ditulis pada generasi yang sama dengan para saksi mata tersebut. Injil Matius pada tahun 50 AD, Lukas dan Markus sekitar 62-68 AD, dan Yohanes tahun 90 AD. ((Dalam hal urutan keempat Injil ini memang terdapat beberapa pendapat. Namun yang di sini dipakai adalah yang berdasarkan kesaksian para Bapa Gereja, yang dapat dikatakan mengamati langsung penurunan Injil. Saksi utama adalah Papias (70-155 AD) seorang uskup Syria dan murid Rasul Yohanes, dan St. Irenaeus (180 AD) yang mengatakan urutan Injil adalah Rasul Matius, yang pertama menuliskan Injil dalam bahasa Ibrani, kemudian Markus yang adalah murid Rasul Petrus yang menuliskan Injil berdasarkan khotbah Petrus; lalu Lukas yang adalah murid Rasul Paulus, yang menulis berdasarkan khotbah Rasul Paulus, dan Rasul Yohanes, yang menulis Injil saat ia hidup di Efesus, Asia Minor. Namun demikian, pada jaman Kulturkampf (1871-1878), mulai dikatakan bahwa Injil pertama adalah Markus, baru kemudian Matius, Lukas dan Yohanes. Alasannya antara lain karena, Injil Markus tidak dituliskan dengan urutan yang baik, dan kisah Injil Markus banyak terdapat di-Injil sinoptik lainnya, seolah Injil yang lain ‘mengutip’ Markus. Mengenai hal ini Papias mengatakan, bahwa Injil Markus dituliskan tidak berurutan secara historis, karena dituliskan berdasarkan urutan khotbah Petrus. Sedangkan kenyataan bahwa Injil Markus seolah ‘menggabungkan’ kisah dari Injil sinoptik lainnya semakin memperkuat keilahian pesannya, sebab meskipun Injil ditulis oleh beberapa orang, namun dapat menunjukkan kesamaan inti dan isi ajaran Yesus.
)) Juga penting diketahui, bahwa para pengarang Injil adalah saksi Kristus yang terdekat: Matius dan Yohanes adalah Rasul Yesus, Markus adalah pembantu terdekat Rasul Petrus, dan Lukas adalah pembantu terdekat Rasul Paulus. Jadi, kita dapat mempercayai keaslian dan kebenaran tulisan mereka. Seandainya isi keempat Injil tersebut tidak benar, harusnya terdapat bukti sejarah dari abad pertama yang menyangkal kebenaran Injil (terutama soal kebangkitan Yesus). Namun kenyataannya, tidak ada satupun klaim pada abad awal yang menyangkal kebenaran tersebut yang dapat ditemukan dalam sejarah. ((Klaim yang menolak kebangkitan Yesus hanya datang di abad-abad berikut, yang pada dasarnya tidak mempercayai kebangkitan, dan bukannya dikatakan dari saksi mata pada jaman Yesus sendiri.)) Rasul Paulus dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus (55-56 AD) secara jelas menyebutkan Kebangkitan Kristus yang pada suatu kesempatan disaksikan lebih dari 500 orang, dan banyak dari antara mereka masih hidup dan dapat ditanya konfirmasinya (lih. 1 Kor 15:3-8).

2) Sangat tidak mungkin jika kita berpikir bahwa para rasul dapat membuat kebohongan yang konsisten, sebab manusia pada dasarnya lemah dan mudah ‘jatuh’ oleh tawaran suap. Satu kesempatan tawaran saja dapat mengubah semuanya, namun demikian, tidak satupun dari mereka mengubah kesaksian mereka tentang Yesus, walaupun mereka dipenjara, disiksa, bahkan dibunuh sebagai martir karena kesaksian tersebut. Ini membuktikan bahwa yang mereka katakan tentang Yesus adalah kebenaran, sebab sangat tidak mungkin orang rela mati untuk membela sebuah kebohongan.

3) Sangat tidak mungkin bahwa serangkaian mitos dapat dibuat pada jaman sejarah (di mana segala sesuatu dapat dibuktikan benar atau tidaknya) dan mitos tersebut mendapatkan penghormatan dari banyak orang.

4) Joseph Ratzinger/ Paus Benediktus XVI dalam bukunya, Jesus of Nazareth mengatakan bahwa tidak mungkin bahwa sekelompok orang yang tidak terkenal ini (para rasul yang mayoritas hanya nelayan) dapat begitu kreatif dan begitu meyakinkan dan dapat mempengaruhi seluruh dunia. Menjadi lebih logis jika kesaksian yang mereka sampaikan sungguh-sungguh terjadi. ((Lihat Joseph Ratzinger, Pope Benedict XVI, Jesus of Nazareth, (Double Day, New York, 2007), p. 229))

5) Pertumbuhan jemaat Kristen yang begitu pesat pada abad pertama hanya dapat dijelaskan oleh kesaksian hidup para murid yang mencerminkan kekudusan, jumlah para murid yang dibunuh sebagai martir untuk membela iman mereka, termasuk di dalamnya hampir semua rasul Yesus, dan ke-empat tanda Gereja yang terbentuk pada saat itu: satu, kudus, katolik dan apostolik. Mitos atau legenda tidak akan mungkin pernah mempengaruhi banyak orang untuk percaya, apalagi sampai menyerahkan hidup mereka.

Maka kesimpulannya: apa yang dikatakan oleh para rasul itu adalah benar. Sebab ke-empat Injil sendiri dipenuhi oleh pernyataan ke-Tuhanan Yesus yang dikatakan oleh Yesus dengan berbagai cara.

Yesus menyatakan bahwa Dia adalah Tuhan dengan berbagai cara

Marilah kita lihat beberapa contohnya, seperti berikut:

1) Pertama-tama, ketika berusia 12 tahun dan Ia diketemukan di Bait Allah, Yesus mengatakan bahwa bait Allah adalah Rumah Bapa-Nya (lih. Luk 2:49). Dengan demikian, Yesus mengatakan bahwa Ia adalah Putera Allah.

2) Pernyataan ini ditegaskan kembali oleh Allah Bapa pada saat Pembaptisan Yesus, saat terdengar suara dari langit, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan.”(Mat 3:17; Luk 3:22). Pernyataan serupa kembali dinyatakan Allah Bapa pada saat Transfigurasi, Yesus dimuliakan di atas gunung (lih. Mat 17:5; Mrk 9:7).

3) Yesus adalah Tuhan yang mengatasi para malaikat. Setelah Dia mengatasi cobaan Iblis di padang gurun, para malaikat- pun datang melayani Dia (lih. Mat 3:11).

4) Pada saat Yesus memulai pengajaranNya, terutama dalam Khotbah di Bukit (Delapan Sabda Bahagia), Ia berbicara di dalam nama-Nya sendiri, untuk menyatakan otoritas yang dimiliki-Nya (Mat 5:1-dst). Ini membuktikan bahwa Ia lebih tinggi dari Musa dan para nabi ((Lihat misalnya para nabi mengatakan “Beginilah firman Allah, …” (Yeh 30:1; 33:1;34:1; Yer 6:22; 16:1; 32:6; Hos 1:1; Yoel 1:1, atau “demikianlah firman Tuhan”, (Yes 1:24; Yeh 30:10, dst), atau “beginilah firman Tuhan Allah ….”, (Yeh 43:11; Yer 15:19; 19:1; 25:32; 31:15, 16,23,35,37, Am 1:6); atau “Tuhan berfirman kepadaku,” (Yer 14:11).)), sebab Musa berbicara dalam nama Tuhan (lih. Kel 19:7) ketika Ia memberikan hukum Sepuluh Perintah Allah; tetapi Yesus memberikan hukum dalam nama-Nya sendiri, “Aku berkata kepadamu….” Hal ini tertera sedikitnya 12 kali di dalam pengajaran Yesus di Mat 5 dan 6, dan dengan demikian Ia menegaskan DiriNya sebagai Pemberi Hukum Ilahi (the Divine Legislator) itu sendiri, yaitu Allah. Demikian pula dengan perkataan “Amen, amen…”, pada awal ajaranNya, Yesus menegaskan segala yang akan diucapkan-Nya sebagai perintah; bukan seperti orang biasa yang mengatakan ‘amen’ diakhir doanya sebagai tanda ‘setuju’.

5) Jadi dengan demikian Yesus menyatakan bahwa Ia adalah Taurat Allah yang hidup, suatu peran yang sangat tinggi dan ilahi, sehingga menjadi batu sandungan bagi orang-orang Yahudi untuk mempercayai Yesus sebagai Sang Mesias. Hal ini dipegang oleh banyak orang Yahudi yang diceriterakan dengan begitu indah dalam buku Jesus of Nazareth, yaitu dalam percakapan imajiner seorang Rabi Yahudi dengan Rabi Neusner, ((Joseph Ratzinger, Pope Benedict XVI, Jesus of Nazareth, Ibid., p. 108-109, mengutip Rabbi Neusner (Jacob Neusner, A Rabbi Talks with Jesus (Montreal: McGill- Queen’s University Press, 2000), membayangkan suatu dialogue antara dirinya dengan seorang Rabbi kuno Yahudi tentang ajaran Yesus. Ia membandingkan ajaran Yesus dengan teks Talmud Babilonia untuk mencari kebenaran Hukum Tuhan. Rabbi itu bertanya kepada Neusner:

He: ”So, is this what the sage, Jesus, had to say?” (Jadi inikah yang dikatakan Yesus, sang saga?)

I: “Not exactly, but close.” (Tidak persis, tapi hampir mendekati)

He: “What did He leave out?” (Apa yang tidak disebutkan-Nya?)

I: “Nothing.” (Tidak ada)

He: “Then what did He add?” (Jadi, apa yang ditambahkan-Nya?)

I: “Himself”… (Diri-Nya sendiri)

He: “Well, why so troubled this evening?” (Lalu, kenapa engkau gundah sore ini?).
I: “Because I really believe there is a difference between “You shall be holy, for the Lord your God am holy” and “If you would be perfect, go, sell all you have and come, follow me.” (Sebab saya percaya ada perbedaan antara “Engkau harus menjadi kudus, sebab Tuhan Allahmu adalah kudus” dengan “Jika engkau mau sempurna, pergilah, juallah segala milikmu, dan datanglah, ikutlah aku.)

He: “I guess then, it really depends on who the ‘me’ is.” (Saya pikir, itu tergantung dari siapa sang ‘aku’ itu).))

Mengenai bagaimana mencapai kesempurnaan hidup: Kesempurnaan inilah yang dimaksudkan oleh Yesus ketika Ia berbicara dengan orang muda yang kaya, “Jika engkau mau sempurna, pergilah, juallah segala milikmu dan bagikanlah kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di surga, kemudian datanglah ke mari dan ikutlah Aku” (Mat 19:21). “Aku” di sini hanya mungkin berarti Tuhan sendiri.

6) Yesus menyatakan DiriNya sebagai Seorang yang dinantikan oleh para Nabi sepanjang abad (lih. Mat 13:17). Ia juga berkata,“…supaya kamu menanggung akibat penumpahan darah orang yang tidak bersalah mulai dari Habel, … sampai Zakharia… semuanya ini akan ditanggungkan pada angkatan ini!” (Mat 23:34-36). Secara tidak langsung Ia mengatakan bahwa darah-Nya yang akan tertumpah dalam beberapa hari berikutnya merupakan rangkuman dari penumpahan darah orang yang tidak bersalah sepanjang segala abad.

7) Yesus sebagai Tuhan juga terlihat dengan jelas dari segala mukjizat yang dilakukan dalam nama-Nya sendiri, yang menunjukkan bahwa kebesaran-Nya mengatasi segala sesuatu. Yesus menghentikan badai (Mat 8: 26; Mrk 4:39-41) menyembuhkan penyakit (Mat 8:1-16,  9:18-38, 14:36, 15: 29-31), memperbanyak roti untuk ribuan orang (Mat 14: 13-20; Mrk 6:30-44; Luk 9: 10-17; Yoh 6:1-13), mengusir setan (Mat 8:28-34), mengampuni dosa (Luk5:24; 7:48), dan membangkitkan orang mati (Luk 7:14; Yoh 11:39-44). Di atas semuanya itu, mukjizat-Nya yang terbesar adalah: Kebangkitan-Nya sendiri dari mati (Mat 28:9-10; Luk 24:5-7,34,36; Mrk 16:9; Yoh 20:11-29; 21:1-19).

8) Pada saat Ia menyembuhkan orang yang lumpuh, Yesus menyatakan bahwa Ia memiliki kuasa untuk mengampuni dosa (Mat 9:2-8; Luk5:24), sehingga dengan demikian Ia menyatakan DiriNya sebagai Tuhan sebab hanya Tuhan yang dapat mengampuni dosa.

9) Pada beberapa kesempatan, Yesus menyembuhkan para orang sakit pada hari Sabat, yang menimbulkan kedengkian orang-orang Yahudi. Namun dengan demikian, Yesus bermaksud untuk menyatakan bahwa Ia adalah lebih tinggi daripada hari Sabat (lih. Mat 12:8; Mrk 3:1-6).

10) Yesus juga menyatakan Diri-Nya lebih tinggi dari nabi Yunus, Raja Salomo dan Bait Allah (lih. Mt 12:41-42; 12:6). Ini hanya dapat berarti bahwa Yesus adalah Allah, kepada siapa hari Sabat diadakan, dan untuk siapa Bait Allah dibangun.

11) Yesus menyatakan Diri-Nya sebagai Tuhan, dengan berkata “Aku adalah… (I am)” yang mengacu pada perkataan Allah kepada nabi Musa pada semak yang berapi, “Aku adalah Aku, I am who I am” (lih. Kel 3:14):

a) Pada Injil Yohanes, Yesus mengatakan “Aku adalah….” sebanyak tujuh kali: Yesus menyatakan Dirinya sebagai Roti Hidup yang turun dari Surga (Yoh 6:35), Terang Dunia (Yoh 8:12), Pintu yang melaluinya orang diselamatkan (Yoh 10:9), Gembala yang Baik yang menyerahkan nyawa-Nya bagi domba-domba-Nya (Yoh 10:10), Kebangkitan dan Hidup (Yoh 11:25), Jalan, Kebenaran, dan Hidup (Yoh 14:6), Pokok Anggur yang benar (Yoh 15:1).

b) Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber air hidup yang akan menjadi mata air di dalam diri manusia, yang terus memancar sampai ke hidup yang kekal (Yoh 4:14). Dengan demikian Yesus menyatakan diri-Nya sebagai sumber rahmat; hal ini tidak mungkin jika Yesus bukan Tuhan, sebab manusia biasa tidak mungkin dapat menyatakan diri sebagai sumber rahmat bagi semua orang.

c) Yesus menyatakan, “Aku adalah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh 14:6); dan dengan demikian Ia menempatkan diri sebagai Pengantara yang mutlak bagi seseorang untuk sampai kepada Allah Bapa.

d) Ia menyatakan bahwa “… kamu akan mati dalam dosamu… jika kamu tidak percaya bahwa Akulah Dia” (Yoh 8:24) yang datang dari Bapa di surga (lih. Yoh 21-29).

e) Yesus mengatakan, “Aku ini (It is I)…”, pada saat Ia berjalan di atas air (Yoh 6:20) dan meredakan badai.

f) Ketika Yesus diadili di hadapan orang Farisi, dan mereka mempertanyakan apakah Ia adalah Mesias Putera Allah, Yesus mengatakan, “Kamu sendiri mengatakan, bahwa Akulah Anak Allah.” ((Ungkapan “kamu mengatakan demikian….” Adalah ungkapan dalam bahasa Ibrani yang menyatakan konfirmasi dari apa yang dikatakan.)) h) Mungkin yang paling jelas adalah pada saat Yesus menyatakan keberadaan DiriNya sebelum Abraham, “…sebelum Abraham jadi, Aku telah ada.” (Yoh 8:58)

g) Yesus mengatakan, “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan.” (Yoh 13:13).

12) Dengan demikian, Yesus menyatakan Diri-Nya sudah ada sebelum segala sesuatunya dijadikan. Dan ini hanya mungkin jika Yesus sungguh-sungguh Tuhan. Mengenai keberadaan Yesus sejak awal mula dunia dinyatakan oleh Yesus sendiri di dalam doa-Nya sebelum sengsara-Nya, “Bapa, permuliakanlah Aku pada-Mu sendiri dengan kemuliaan yang Kumiliki di hadirat-Mu sebelum dunia ada.” (Yoh 17:5)

13) Dengan keberadaan Yesus yang mengatasi segala sesuatu, dan atas semua manusia, maka Ia mensyaratkan kesetiaan agar diberikan kepadaNya dari semua orang. “Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih dari Aku, ia tidak layak bagi-Ku” (Mat 10:37). Ia kemudian berkata bahwa apa yang kita lakukan terhadap saudara kita yang paling hina, itu kita lakukan terhadap Dia (lih. 25:40). Ini hanya dapat terjadi kalau Yesus adalah Tuhan yang mengatasi semua orang, sehingga Dia dapat hadir di dalam diri setiap orang, dan Ia layak dihormati di atas semua orang, bahkan di atas orang tua kita sendiri.

14) Yesus menghendaki kita percaya kepada-Nya seperti kita percaya kepada Allah (lih. Yoh 14:1), dan Ia menjanjikan tempat di surga bagi kita yang percaya. Dengan demikian Ia menyatakan diriNya sebagai yang setara dengan Allah Bapa, “Siapa yang melihat Aku, melihat Bapa, (Yoh 14:9), Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Bapa (Yoh 10:38). Tidak ada seorangpun yang mengenal Anak selain Bapa, dan mengenal Bapa selain Anak (lih. Mat 11:27). Yesus juga menyatakan DiriNya di dalam kesatuan dengan Allah Bapa saat mendoakan para muridNya dan semua orang percaya, ”… agar mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau…” (Yoh 17:21). Ini hanya mungkin jika Ia sungguh-sungguh Tuhan. Pernyataan Yesus ini berbeda dengan para pemimpin agama lain, seperti Muhammad dan Buddha, sebab mereka tidak pernah menyatakan diri mereka sendiri sebagai Tuhan.

15) Ketika Yesus menampakkan diri kepada para murid setelah kebangkitan-Nya, Thomas, Rasul yang awalnya tidak percaya menyaksikan sendiri bahwa Yesus sungguh hidup dan ia berkata, “Ya Tuhanku dan Allahku”. Mendengar hal ini, Yesus tidak menyanggahnya (ini menunjukkan bahwa Ia sungguh Allah), melainkan Ia menegaskan pernyataan ini dengan seruanNya agar kita percaya kepadaNya meskipun kita tidak melihat Dia (Yoh 20: 28-29).

16) Yesus menyatakan Diri sebagai Tuhan, dengan menyatakan diriNya sebagai Anak Manusia, yang akan menghakimi semua manusia pada akhir jaman (lih. Mat 24:30-31), sebab segala kuasa di Surga dan di dunia telah diberikan kepada-Nya, seperti yang dikatakanNya sebelum Ia naik ke surga, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa di sorga dan di bumi. Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, dan Putera dan Roh Kudus…” (Mat 28:18). Dengan demikian, Yesus menyatakan diriNya sebagai Pribadi Kedua di dalam Allah Tritunggal Maha Kudus, dan dengan kuasaNya sebagai Allah ini maka ia akan menghakimi semua manusia di akhir dunia nanti, seperti yang dinubuatkan oleh nabi Daniel (Dan 7:13-14). Yesus tidak mungkin membuat pernyataan sedemikian, jika Ia bukan sungguh-sungguh Tuhan.

Para Rasul hanya meneruskan kesaksian ini

Jelaslah, bahwa dengan menyaksikan Yesus yang mereka kenal secara nyata dalam sejarah, maka para Rasul dapat dengan penuh keyakinan, menyatakan ke-Tuhanan Yesus. Rasul Petrus menyatakan Yesus Kristus sebagai Allah, dan bahwa ia dan rasul-rasul yang lain mendengar bagaimana pernyataan tersebut dinyatakan dari langit pada saat Yesus dimuliakan di atas gunung Tabor (lih. 2 Pet1:16-19). Rasul Paulus, menjabarkan kisah kebangkitan Yesus dengan menyebutkan juga adanya lebih dari 500 orang saksi yang melihat bahwa Yesus telah menampakkan diri-Nya dimulai dari hari ketiga setelah kematian-Nya (lih. 1 Kor 15:3-8). Rasul Paulus, yang juga menjadi salah satu saksi itu, kemudian mengajarkan bahwa Yesus, adalah Tuhan sebanyak sekitar 230 kali di dalam surat-suratnya kepada jemaat pertama. Rasul Yohanes mengungkapkan bahwa ia ‘mengingat’ akan apa yang dikatakan Yesus sebelumnya, pada ketiga kejadian yang cukup penting dalam sejarah hidup Yesus: pada saat Yesus menyucikan Bait Allah (Yoh 2:22), pada waktu Minggu Palma (Yoh 12:16),dan Kebangkitan Yesus (Yoh 20:8-9). Hal ini menyatakan bahwa yang ditulisnya benar-benar terjadi. Dari semua ini, kita melihat bahwa pernyataan para rasul adalah sangat jelas dan sederhana, yaitu: kesaksian tentang Yesus sebagai Tuhan adalah kebenaran, dan mereka adalah saksinya. Dengan demikian, tidak mungkin ada pemisahan antara Yesus menurut sejarah dan Yesus yang diimani.

Jadi Ke-Tuhanan Yesus bukan baru diresmikan di awal abad ke- 4!

Dengan uraian di atas, sesungguhnya jelas bahwa Ke-Tuhanan Yesus bukan rekayasa para murid, atau bahkan seperti yang dituduhkan banyak orang, ‘baru diresmikan’ di tahun 325 oleh Kaisar Konstantin. Yang benar adalah: Yesus sebagai Tuhan sudah menjadi kepercayaan jemaat Kristiani sejak zaman para rasul, namun kemudian sekitar tahun 319, terdapat ajaran sesat dari Arius, yang mengatakan bahwa Yesus adalah bukan Tuhan dan tidak sejajar dengan Allah Bapa. Untuk menolak ajaran sesat ini, maka Gereja Katolik, yang waktu itu disponsori oleh pemerintah Konstantin, mengadakan Konsili Nicea (325), yang dihadiri oleh sekitar 300 uskup yang hampir semua serentak menolak ajaran sesat Arianisme ini. ((Ada kebohongan besar dalam buku Da Vinci Code yang menyatakan bahwa sebelum Konsili Nicea Yesus hanya dilihat sebagai Nabi dan manusia biasa, dan bahwa diadakan voting pada Konsili tersebut yang hanya berselisih tipis antara uskup yang menerima dengan yang menolak . Kenyataan sejarah yang benar adalah, dari 300 uskup yang hadir, hanya dua orang uskup yang setuju dengan pendapat Arius, (lihat http://en.wikipedia.org/wiki/First_Council_of_Nicaea) yaitu, Arius sendiri dan Eusebius dari Nicomedia!)) Konsili ini menyatakan bahwa Yesus adalah satu substansi (con-substantial) dengan Allah Bapa. Dengan demikian, Konsili Nicea bertujuan untuk menegaskan kembali ajaran Gereja tentang ke-Tuhanan Yesus, dan bukan baru meresmikan ke- Tuhanan Yesus!

Penegasan dari Gereja Katolik dewasa ini

Vatikan II melalui Dei Verbum menolak pendapat kaum Modernist ini. Gereja menegaskan kembali asal Injil ini dari para Rasul sendiri yang menjadi saksi hidup Yesus, dan dengan demikian mengkonfirmasi kebenaran pesan Injil (lih. DV 18). ((Vatikan II, Dei Verbum, 18, mengatakan, “Selalu dan di mana-mana Gereja mempertahankan dan tetap berpandangan, bahwa keempat Injil berasal dari para rasul. Sebab apa yang atas perintah Kristus diwartakan oleh para rasul, kemudian dengan ilham Roh ilahi diteruskan secara tertulis kepada kita oleh mereka dan orang-orang kerasulan, sebagai dasar iman, yakni Injil dalam keempat bentuknya menurut Mateus, Markus, Lukas dan Yohanes.”)) Selanjutnya, Gereja menegaskan nilai historis Injil, dengan menyebutkan bahwa apa yang tertulis di dalamnya adalah yang sungguh-sungguh Yesus perbuat dan ajarkan untuk keselamatan kekal (lih. DV 19). ((Vatikan II, Dei Verbum 19, “…bahwa keempat Injil tersebut, yang sifat historisnya diakui tanpa ragu-ragu, dengan setia meneruskan apa yang oleh Yesus Putera Allah selama hidupnya diantara manusia sungguh telah dikerjakan dan diajarkan demi keselamatan kekal mereka, sampai hari Ia diangkat (lih. Kis1:1-2). Sesudah kenaikan Tuhan para Rasul meneruskan kepada para pendengar mereka apa yang dikatakan dan dijalankan oleh Yesus sendiri, dengan pengertian yang lebih penuh, yang mereka peroleh karena dididik oleh peristiwa-peristiwa mulia Kristus dan oleh terang Roh kebenaran.”))

Paus Yohanes Paulus II dalam surat Apostolik Novo Millineo Ineunte, mengulangi DV 18 dan DV 19, bahwa Injil dituliskan berdasarkan kesaksian historis/ sejarah. Walaupun demikian, kita tidak menganggap Injil sebagai buku biografi Yesus dalam urutan kronologis. Perhatian pada urutan kronologis dapat membuat seseorang menjadi seperti para Modernist, yang melihat Injil sebagai buku cerita, dan menganggap Injil Yohanes sebagai hanya puisi tentang Yesus, yang ditulis oleh para murid Rasul Yohanes, dan kemudian ditulis seolah-olah dikatakan oleh Yesus!

Mengenai hal ini, Paus Benediktus XVI melalui Jesus of Nazareth mengatakan bahwa memang Injil Yohanes tidak dituliskan dengan urutan historis yang kaku seperti dalam transkrip rekaman, tetapi dalam hal isi, merupakan pernyataan-pernyataan yang berasal dari Yesus sendiri, sehingga pesan Injil tersebut menunjuk kepada Yesus yang sesungguhnya. Segala gambaran dalam Injil Yohanes (air, roti, anggur, Gembala) seperti halnya perumpamaan- perumpamaan yang tertulis dalam Injil Matius, Lukas, dan Markus, dimaksudkan untuk menggambarkan Yesus dan rencana keselamatan-Nya.

Katekismus Gereja Katolik juga sangat jelas menegaskan kembali sikap Gereja dalam hal ini ((Lihat Katekismus Gereja Katolik 512- 682)) : bahwa Kristus yang tertulis dalam Injil adalah Kristus yang sama dengan Kristus yang ada di dalam sejarah. Injil membantu kita untuk mengalami Yesus yang sungguh hadir dalam sejarah, dan mengimani-Nya. Paus Benediktus XVI menegaskan, bahwa segala gambaran Yesus yang dihasilkan oleh metoda historis modern janganlah sampai membuat kita menciptakan sendiri gambaran Yesus, dan kemudian menyebutnya sebagai Yesus menurut sejarah, lalu menuduh bahwa Injil hanya rekaan jemaat abad pertama. Sekali lagi, hal ini tidak mungkin terjadi, sebab cara sedemikian pasti menimbulkan kontradiksi yang tidak memungkinkan berkembangnya Iman Kristiani sampai sekarang, yang sudah mengubah dunia. ((Lihat Joseph Ratzinger, Gospel, Catechesis, Catechism: Sidelights on the Catechism of the Catholic Church, p. 64-66.))

Penutup

Pada akhirnya, kita harus mengakui soal menerima ke-Tuhanan Yesus adalah soal iman. Bagi mereka yang percaya, memang bukti sejarah sampai sedetail-detail-nya tidak diperlukan. Tapi bagi mereka yang tidak percaya, bahkan bukti yang sudah nyata dan detail sekalipun tidak dirasa cukup. Akhirnya, kita meyakini bahwa iman adalah karunia. Kita percaya akan janji Tuhan Yesus, “… Inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman.” (Yoh 6:40). Dan karena Tuhan Yesuslah yang menghakimi semua orang di akhir zaman nanti, patutlah kita memegang janjiNya ini, dan dengan iman yang teguh kepada-Nya, kita percaya Dia akan memenuhi janji-Nya. Terpujilah Tuhan Yesus!

66
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
29 Comment threads
37 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
35 Comment authors
brianjoyomarutoAdongPrimadi Setiawanjunior Recent comment authors
leonard
Guest
leonard

Syaloom, Saya cuma mao sharing saja karena saya perna mengalami krisis Iman seperti yang di tulis di artikel atas 1. Apakah Yesus adalah Tuhan? Dia ga perna ngomong “Aku adalah Tuhan” 2. Apakah Alkitab benar2 bisa dipercaya, kalau2 saja boongan Yesus bangkit dr kubur.(Pikiran Skeptis yang sering muncul klo saya baca Alkitab”), cm karangan saja. Jawaban yang saya cari dan terima 1. Ketika Tuhan bertanya ke murid2 “siapakah Aku ini menurut mu?” lalu St Petrus mengatakan “Engkau adalah mesias, Anak Allah yang hidup!” Lalu Yesus berkata “berbahagialah sengkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku… Read more »

salam
Guest
salam

Menurut Matius, Yesus lahir pada masa Herodes masih hidup, bertepatan dengan menghadapnya orang majusi kepadanya ( pada 6- 4 SM )

Sedangkan menurut Lukas Yesus lahir pada saat sensus Kirenius ( 7 Masehi) yang mana Herodes sudah lama mati dan Yudea dimasukkan dalam propinsi Syria di bawah gubernur Kirenius

Mana yang benar ?

elsa
Guest
elsa

Salam tim Katolisitas saya pernah mengikuti salah satu diskusi atau sharing di facebook, ada komentar yang mengutip kata2 dari Mother Teresa, kurang lebih seperti ini; ‘akan lebih baik kalau seorang Muslim menjadi Muslim yang lebih baik, seorang Hindu menjadi seorang Hindu yang lebih baik ato seorang Kristen/nasrani menjadi seorang Kristen yang lebih baik.’ Apa ya yang dimaksud Ibu Teresa ini? Menurut saya Ibu Teresa ingin mengajarkan kerukunan sehingga dengan demikian tercipta kedamaian. Tapi walaupun benar demikian, apakah berarti kita bisa memeluk agama apapun dengan ajarannya masing2 walaupun agama tersebut mengajarkan ajaran yang salah asalkan kita menjadi penganut agama tersebut dengan… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Elsa, Terima kasih atas pertanyaannya. Memang perkataan yang terberkati Bunda Teresa dari Kalkuta sering disalahartikan. Mungkin kutipan wawancara Bunda Teresa dengan majalah time (silakan klik) dapat membantu: Q: Friends of yours say you are disappointed that your work has not brought more conversions in this great Hindu nation. A: Missionaries don’t think of that. They only want to proclaim the word of God. Numbers have nothing to do with it. But the people are putting prayer into action by coming and serving the people. Everywhere people are helping. There may not be a big conversion like that, but we… Read more »

salam
Guest
salam

Kalau Yesus benar benar tokoh sejarah …. maka hidupnya (lahir hingga mati) pada tahun berapa ????

timotius sandip
Guest
timotius sandip

saya pribadi memberikan penghargaan yang tinggi untuk Ingrid Listiati dan Stefanus Tay yang mau berbagi pengetahuan kepada semua orang dan memberikan keterangan dengan santun, saya rasa anda sudah melakukan tindakan yang terpuji dan mengharumkan nama Yesus Kristus. YBY

[Dari Katolisitas: Terima kasih atas dukungan anda, dan mohon doa untuk karya kerasulan ini. Semoga nama Tuhan semakin dimuliakan.]

Paulus Prana
Guest
Paulus Prana

Ikut urun rembug. 1. Substansi masalahnya menurut saya bukan pada KONGRUEN atau KONTRADIKTIF nya figur Yesus historis dan dogmatis. Kedua kesimpulan di atas muncul sebagai hasil pen-Dikotomi-an aspek historis & dogmatis figur tsb. Jadi, kedua aspek Atributif tersebut TIDAK RELEVAN untuk di-dikotomi-kan, sebab Relevansi utama dari iman seseorang adalah Substansi & Esensi. Benar, Atribut & Simbol juga bermakna, tetapi relevansi utama-nya seharusnya “beyond” hal-hal tsb. 2. Tidak bisa diabaikan, bahwa Hampir Semua History, termasuk dokumen sejarah resmi, pasti mengandung distorsi, reduksi, eksagerasi, deviasi, politisasi, dan sarat dengan benturan kepentingan sosial masyarakat. Sehingga kebenaran / kesalahannya tidak dapat kita telan mentah-mentah.… Read more »

sunjoyo
Guest
sunjoyo

Bagi saya sangat penting bahwa Yesus secara dogmatis sesuai dengan Yesus secara historis. Sebab bagaimana mungkin sy mengimani ajaran seseorang yang bahkan tidak pernah eksis?

Salam Kasih.

[Dari Katolisitas: Ya, anda benar. Itulah yang diajarkan oleh Gereja Katolik, bahwa Kristus secara dogmatis (yang kita imani) sama dengan Yesus secara historis (yang hadir dalam sejarah manusia)]

bara
Guest
bara

bagi orang-orang yang sama sekali tidak pernah membaca alkitab khususnya perjanjian baru pasti sudah terkecoh dengan isi artikel di atas, padahal admin: hanya menafsirkan berbagai ayat alkitab agar sesuai dengan keyakinan yang diyakininya, tidak memberikan ayat-ayat alkitab secara keseluruhan (ada ayat-ayat yang sepertinya sengaja tidak diungkapkan) contoh: kuasa bukan milik yesus (matius 28:18, yohanes 5:30, lukas 11:20, yohanes 11:41-44 dll)

Stefanus Tay

Shalom Bara, Terima kasih atas tanggapan anda tentang kristologi. Kalau kita mau jujur, justru sebaliknya ada banyak pihak yang mencoba menampilkan sisi kemanusiaan Yesus, tanpa mau tahu sisi keilahian Yesus. Umat Kristen justru mempercayai keduanya. Jadi, tidak ada pertentangan antara ayat-ayat yang anda tampilkan – yang mengedepankan kodrat manusia dari Yesus – dengan ayat-ayat yang kami tampilkan – yang membuktikan bahwa Yesus adalah Tuhan, karena umat Kristen percaya bahwa Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia. Jadi, kami tidak pernah menolak bahwa Yesus mempunyai kodrat manusia. Beberapa ayat yang menjadi keberatan bagi agama lain telah dibahas dalam beberapa tanya jawab,… Read more »

bara
Guest
bara

Anda menganggap ayat-ayat yang saya tulis tidak ada pertentangan didalamnya itu karena anda melihat dengan perspektif yang selama ini anda yakini berdasarkan dogtrin gereja, selain itu tidak. ingat! dogtrin gereja 100% Tuhan dan 100% manusia untuk menunjuk diri yesus merupakan jalan tengah yang kompromistis terhadap perselisihan pendapat dalam memahami siapakah yesus sebenarnya, Tuhan? ataukah manusia? pada masa awal gereja. perselisihan pendapat itupun sebagai bukti bahwa pada masa awal gereja satu-kesatuan antara Tuhan-manusia merupkan suatu hal yang tak terperikan, tak terpikirkan, dan irasional. jika kodrat yesus sebagai Tuhan (?) dan kodrat yesus sebagai manusia merupakan sesuatu yang tidak bertentangan di dalam… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Bara, Terima kasih atas komentarnya. Memang umat Kristen percaya bahwa Kristus mempunyai dua kodrat, yaitu sungguh Allah dan sungguh Tuhan. Kepercayaan ini bukanlah merupakan jalan tengah, namun itu adalah fokus dari wahyu Allah yang telah dinubuatan sebelumnya dan dipenuhi dalam diri Kristus. Perjanjian Lama memberikan nubuat begitu banyak tentang diri Yesus. Oleh karena itu, saya menyarankan agar anda dapat membaca beberapa artikel Kristologi di bawah ini: Iman Katolik bersumber pada Allah Tritunggal dan berpusat pada Kristus, Allah yang menjelma menjadi manusia untuk menyelamatkan kita. Inkarnasi, Allah menjadi manusia, adalah perbuatan Tuhan yang terbesar, yang menunjukkan segala kesempurnaanNya: KebesaranNya, namun… Read more »

serly
Guest
serly

shalom…
saya mau tanya knp grja katolik mengakui adanya keselamatan di agama lain.. ini tercantum dalam konsili vatikan 2, padahal kita tahu dalam injil mengatakan bahwa “Akulah jalan kebenaran dan hidup tidak ada seorangpun yang sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Aku”. gereja protestan sendiri pun tidak mengakui adanya keselamatan diluar kristus..
makasi.. GBU

Stefanus Tay

Shalom Serly, Terima kasih atas pertanyaannya tentang konsep keselamatan. Gereja Katolik mempunyai pengajaran yang sama, yaitu tidak ada keselamatan di luar Gereja Katolik (extra ecclesiam nulla salus). Namun, hal ini harus dimengerti seperti yang Gereja maksudkan. Untuk itu, saya ingin menyarankan untuk membaca beberapa artikel ini: Invincible ignorance dalam jaman iniPenjelasan tentang Deklarasi Dominus IesusKeselamatan dan hubungannya dengan BaptisanApakah yang diselamatkan hanya orang Katolik dan yang lainnya pasti masuk neraka?Keselamatan: theosentris, kristosentris, eklesiosentris?Apa itu “Implicit desire for Baptism?”Apakah orang Katolik dijamin pasti selamat?Baptisan rindu menurut St. ThomasDosa menghujat Roh Kudus – dosa yang tak terampuniTidak ada keselamatan kecuali melalui YesusSekali… Read more »

filipus edy yanto
Guest
filipus edy yanto

Syalom, Tuhan beserta kita
saya lupa di ayat berapa tapi saya ingat tulisannya yaitu ketika murid Yesus mendengar ada orang dari sukubangsa lain yang dapat menyembuhkan orang dengan nama Yesus Tuhan kita, mereka (para murid protes) kenapa orang-orang tersebut bisa menyembuhkan orang lain. lalu Yesus jawab bahwa , orang yang membela Yesus tidak mungkin menjelek-jelekan Yesus, yang intinya atau artinya musuh kita adalah iblis bukan orang yang pro kebaikan , apalagi yang pro Yesus. jadi hanya ada dua apabila kita keluar dari jalur yesus dan berbuat kesalahan maka langsung di tangkap oleh iblis. terima kasih

Yanto
Guest
Yanto

The Jesus of History= the Christ of Faith Sesungguhnya, adalah sangat tidak masuk akal untuk memisahkan Yesus yang ada dalam sejarah dengan Kristus yang kita imani, apalagi jika kita mengatakan bahwa Yesus tidak pernah menyatakan DiriNya sendiri sebagai Tuhan. Jika kita memegang pendapat seperti demikian, kita seperti orang yang tidak percaya bahwa Bill Gates adalah seorang yang kaya, karena dia sendiri tidak pernah mengatakan, “Saya adalah orang kaya.” Padahal kenyataannya, Bill Gates adalah salah seorang yang berada dalam urutan atas orang-orang terkaya di dunia menurut Forbes magazine, dan yayasan yang didirikannya menyumbangkan sedikitnya 1.5 trilyun setiap tahun kepada para orang… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Yanto, Terima kasih atas pertanyaanya tentang Yesus Kristus. 1) Yanto mengatakan "saya mengambil cuplikan kata2 diatas, kita harus ingat saat para Rasul diturunkan ke suatu kaum/bangsa dia akan memperkenalkan dirinya siapa dia dan apa tujuannya karena memang kalo tidak diberitau semua orang tidak akan tau siapa dia dan apa tujuannya." Saya memakai contoh yang diberikan, yaitu tentang Bill Gates dengan segala kekayaannya, untuk menyanggah begitu banyak saudara dari agama yang lain, yang menuntut ke-Allahan Yesus dengan syarat yang dibuatnya sendiri, yaitu bahwa Yesus harus mengatakan "Aku adalah Tuhan dan sembahlah Aku". Dalam beberapa artikel saya ingin menegaskan bahwa Yesus… Read more »

V.P.Kusnadi Sutedjo
Guest
V.P.Kusnadi Sutedjo

Pak Stef & Ibu Ingrid yg terkasih.

Beberapa waktu yg lalu saya baca jawaban pertanyaan di Web. anda ttg jangan merokok yg anda ambilkan dari Katekismus/Kitab Hukum Kanonik.Waktu itu saya tak sempat catat dgn baik,sewaktu saya akan catat saya tak dpt menemukannya kembali.Sudikah Pak Stef & Ibu Ingrid menirimkan copy jawaban itu ke saya.Terima kasih atas bantuannya.

Syalom
kusnadi.

Stefanus Tay

Shalom Kusnadi,

Untuk jawaban tentang apakah merokok boleh atau tidak silakan untuk membacanya di jawaban ini (silakan klik).

Salam kasih dari http://www.katolisitas.org
stef

giant
Guest
giant

Syalom.. sy salut banget dgn website ini.menjadi tempat untuk mencari jawab2an yg bisa dipertangaung jwb kan atas pertanyaan2 yg umum,tapi sangat sulit memuaskan. thanks banget atas waktu yg udah diberikan dalam pelayanan dgn website ini. sy berharap bisa segera bertemu dgn bpk stef n ibu ingrid untuk mendapatkan pengajaran lbh lanjut diPDKK GOLGOTA. GBU

andryhart
Guest
andryhart

Shallom, Semoga Pak Stefanus berkenan menjawab dua pertanyaan berikut ini: (1) Saya pernah membaca nubuat bahwa Yesus sebagai Mesias akan melewati gerbang timur Bait Allah dengan menunggang keledai (Minggu palma) dan sesudah itu, gerbang timur tidak akan dilewati oleh siapa pun. Selanjutnya gerbang timur ditembok oleh Kaisar Romawi pada jaman tersebut dan Bait Allah kemudian diruntuhkan sehingga nubuat tersebut memang terpenuhi. Apakah Pak Stefanus dapat menjelaskan lebih lanjut mengapa gerbang timur Bait Allah dianggap begitu penting sehingga dinubuatkan? Mengapa Yesus memilih keledai sebagai tunggangan-Nya? Apakah hal ini dilakukan-Nya untuk menggenapi nubuat tersebut? (2) Saya masih ingin bertanya lebih lanjut tentang… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Andryhart, Terima kasih atas pertanyaannya. Maaf, saya baru dapat menjawabnya sekarang karena kesibukan kuliah. Mari kita melihat pertanyaan Andryhart satu-persatu. A. GERBANG TIMUR (GOLDEN GATE): (1) Beberapa fakta tentang Gerbang Timur: (a) Gerbang Timur ini memang disebutkan sebagai gerbang yang sangat penting, seperti yang tertulis di Yehezkiel 44:1-3 mengatakan "1. Kemudian ia membawa aku kembali ke pintu gerbang luar dari tempat kudus, yang menghadap ke timur; gerbang ini tertutup. 2. Lalu TUHAN berfirman kepadaku: "Pintu gerbang ini harus tetap tertutup, jangan dibuka dan jangan seorangpun masuk dari situ, sebab TUHAN, Allah Israel, sudah masuk melaluinya; karena itu gerbang itu… Read more »

andryhart
Guest
andryhart

Ada sebuah kisah menarik yang patut direnungkan dalam kaitannya dengan perbedaan iman antara penganut agama Kristen dan non-Kristen. Kisahnya adalah sebagai berikut: Pada suatu hari, seorang pangeran Arab, Abd-ed-Kader, berjalan bersama seorang pejabat Negara Perancis di sepanjang jalan Marseille, Perancis. Tiba-tiba mereka berdua berpapasan dengan seorang pastor yang sedang membawa piala berisi hosti untuk diberikan kepada seseorang yang sedang berada di ambang ajalnya. Pejabat Perancis itu segera berhenti, menundukkan kepalanya dan berlutut seraya membuat tanda salib. Sahabatnya, pangeran Arab itu, bertanya mengapa dia bertingkah seperti itu. “Saya sangat memuja Tuhanku yang tengah dibawa oleh pastor itu kepada orang sakit,” jawab… Read more »

Fredy
Guest
Fredy

Terpujilah Engkau Allah, Tuhan Yesus Kristus. Khalik Langit dan Bumi.. Saya adalah seorang Kristen Protestan yang sedang bertumbuh dalam iman. Jujur, saya senang sekali adanya website ini, apalagi dalam hal tanya jawab terutama kepada saudara2 kita yang Muslim, bagaimana menjawab setiap pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu ditanyakan (seperti meragukan Ketuhanan Yesus Kristus). Tetapi dengan segala hormat, jika saya boleh bertanya apakah Paus yang hidup di jaman pertengahan, walaupun ia adalah wakil Kristus dengan tradisi Rasul Petrus (menurut Doktrin katolik) berdosa dan masuk neraka, karena ia telah melakukan penyelewengan terhadap Alkitab (misal dalam Ilmu Pengetahuan), menjadikan diri lebih berkuasa dan mentasbihkan… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Fredy, Terima kasih atas kunjungan dan dukungannya terhadap website ini. Berikut ini adalah jawaban dari saya: (I) Pertanyaan dari orang Muslim: memang bagi kita yang beriman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan, maka pertanyaan tentang ke-Tuhanan Yesus Kristus tidak perlu lagi dipertanyakan. Namun bagi saudara kita kaum Muslim, ini adalah pertanyaan yang wajar, karena mereka tidak mempercayai bahwa Yesus adalah Tuhan. Tentu saja kita harus menghargai pertanyaan mereka dan kita berharap bahwa mereka bertanya dengan niat yang baik. Kita percaya bahwa pencarian kebenaran yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan menuntun semua orang kepada Kebenaran itu sendiri, dimana sebagai umat Kristen, kita… Read more »

Kristofer
Guest
Kristofer

Pak Stef,
saya mau nanya ttg
LG 14 menegaskan bahwa “… andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan”

apakah kita sebagai umat Katolik perlu untuk memberitahu kepada orang orang ttg Yesus mendirikan Gereja Katolik?
Bagaimana seharusnya sikap kita?

Terima-kasih

Stefanus Tay

Shalom Kristofer, Terima kasih atas pertanyaannya tentang Lumen Gentium 14 (LG, 14), dimana dikatakan "… andaikata ada orang, yang benar-benar tahu, bahwa Gereja Katolik itu didirikan oleh Allah melalui Yesus Kristus sebagai upaya yang perlu, namun tidak mau masuk ke dalamnya atau tetap tinggal di dalamnya, ia tidak dapat diselamatkan”. Pembahasan tentang hal ini pernah saya jawab disini (silakan klik). Karena ini adalah hal yang begitu penting – tentang keselamatan kekal – maka kita harus mewartakan kebenaran ini. Namun pertanyaannya adalah dengan cara seperti apa? Kita tidak dapat memaksakan kehendak kita, namun kita tetap harus mewartakan kebenaran dengan dasar kasih.… Read more »

hadi santosa
Guest
hadi santosa

Salam Sejahtera dalam Yesus Kristus Tuhan kita,

Saya seorang Protestan, ingin belajar mengenai Katolik.

Mohon petunjuk.

Terima kasih.

andryhart
Guest
andryhart

Shalom, Ada dua hal yang membuat saya tetap memeluk agama Katolik (karena saya tidak terlahir dalam keluarga yang beragama Katolik): (1) Ajaran Yesus seperti Khotbah di Bukit kelihatannya tidak masuk di akal manusia sekalipun mengandung kebenaran Ilahi. Friedrich Nietzsche, seorang filsuf Jerman, mengatakan bahwa Khotbah di Bukit menunjukkan mentalitas budak dan gaya hidup sang pencundang. Albert Schweitzer mengatakan bahwa manusia kebanyakan tidak mungkin melaksanakan ajaran Kristus tersebut. Hanya orang-orang suci dan Mahatma Gandhi yang kelihatannya bisa mengamalkan ajaran ini. Ajaran Yesus lainnya seperti mengampuni musuh yang telah menganiaya kita dan bahkan berdoa baginya juga tidak masuk di akal manusia sekalipun… Read more »

Petrus Bangkit
Guest
Petrus Bangkit

setelah melihat beberapa artikel di web ini, banyak hal yang bisa saya pelajari, tentang “KASIH” (dan itu tidak saya dapatkan di forum2 kebanyakan yang mengatasnamakan -dialog Kristen – Islam) sungguh bagi saya akan sangat berarti kontraproduktif jika membanding2kan antara Katholik-Kristen-Ortodok-Islam-dll.. karena yang kita perdebatkan adalah masalah keyakinan, sesuatu yang sangat fundamental. dan akan berguna bukan untuk didebatkan, tapi untuk di sharingkan dalam rangka menemukan sebuah konsensus yang indah.. bagi saya Agama adalah sarana menuju Keselamatan, dan bukan keselamatan itu sendiri. Bukan berarti ketika saya beragama “A” saya pasti selamat. nope! Seringkali saya menyesalkan bagi mereka yang menganggap Tuhan adalah sesbuah… Read more »

Ali
Guest
Ali

Yesus Kristus cenderung mengajarkan damai ke semua orang.
Itulah kenapa pada jaman dahulu banyak orang yang tidak setuju dengan cara Yesus bahkan Dia ditolak oleh bangsaNya sendiri.
sewaktu Yesus disalibkan malah masih mengampuni orang romawi yang menyiksa Dia.
Adakah nabi atau apapun orang suci yang mampu seperti Dia?.
kemudian Yesus selalu memberi perumpamaan dan itu kenapa?.
sampai ribuan tahun perumpamaan tersebut masih berlaku?.
adalah karena kita manusia tidak bisa menerima KEBENARAN.
Jujur saja pada diri sendiri.

Sakerah
Guest
Sakerah

Kalau Allah tidak menjadi manusia , aku langsung jadi atheis. Trus Allah hanya bisa dibuktikan di bibir dan cuma di angan-angan saja. Kita berbangga menjadi Kristen Katolik, sebab Allah sendiri yang membuat dan menciptakan Agama Kristen Katolik.
Kalau ada jalan tol menuju surga, mengapa memeilih lewat jalan tikus ?

fajar
Guest
fajar

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah, dari Muhammad, Rasulullah, untuk Heraklius, Penguasa Romawi. Salam sejahtera semoga selalu terlimpah kepada orang-orang yang mau mengikuti kebenaran. Sesungguhnya aku bermaksud mengajakmu memeluk Islam. Masuklah Islam, niscaya kamu akan selamat. Masuklah Islam niscaya Allah akan menganugerahimu dua pahala sekaligus. Jika kamu berpaling dari ajakan yang mulia ini, maka kamu akan menanggung dosa seluruh pengikutmu. Wahai Ahli Kitab, marilah kepada suatu kalimat ketetapan yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita mempersekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak pula sebagian kita menjadikan… Read more »

Stefanus Tay

Salam damai, Fajar, Pertama-tama, Selamat Hari Raya Idul Fitri. Terima kasih anda sudah mengunjungi web-site ini. Memang untuk mengikuti kebenaranlah kita sama-sama berjuang di dalam hidup ini. Bagi kami kaum Nasrani, kami menemukan kebenaran di dalam Yesus Kristus, yang berkata, "Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku" (Yoh 14:6). Kami meyakini bahwa kami menyembah Allah yang satu dalam Tiga Pribadi, sesuatu yang mungkin dianggap tidak masuk di akal bagi orang-orang yang bukan beragama Kristen,  namun bagi kami, itu justru merupakan misteri Allah yang teragung (silakan baca Trinitas: Allah yang satu dalam… Read more »

Wella De Lekhen
Guest
Wella De Lekhen

trimaksih mba inggrid..stevanus n saudara/i yg telah menjelaskan hal2 yg membuat saya tetap/tambah Percaya bahwa YESUS adalah Anak ALLAH n saya yakin akan Kekudusan gereja Katolik.
Segala komentar/pertanyaan yg menghujat Kristus menambah semangat hatiku u melangkah ke gereja (7 thn saya tdk ke gereja).
Saya sangat bersyukur bisa menemukan website ini…trimaksih…trimakasih….

KIRANYA DAMAI TUHAN KITA YESUS KRISTUS SELALU MENYERTAI KITA SEMUA

Veronica
Guest
Veronica

BerimaN berarti kita setuju dan sangat menerima bahwa Ajaran gereja Katolik bahwa Jesus adalh Tuhan dan Juru Selamat yang adalah juga Yesus orang Nasaret itu yang oleh sejarah diceritakan. Jadi rasanya kita tidak perlu lagi berpolemik atau menyangsikan Ketuhanan Jesus itu. Terima Saja, karena Orang yang menentang pun tak dapat membuktikan nya dan apalagi tidak hidup di Zaman Jesus itu.Maka,menurut hemat saya adalah buang2 waktu menentang hal ini. lebih baik berdoa dan Mohon Rahmat Allah agar kita semakin beriman akan Yesus Sang Tokoh sejarah itu adalah TUHAN YESUS KRISTUS, ya dan amin,

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X