Keutamaan Petrus (4): Menurut Dokumen paling awal Gereja

Makin dekat ke sumber, makin jelas

Banyak orang mengatakan jika semakin dekat ke sumber air, maka airnya makin jernih, atau makin dekat ke sumber terang, maka terangnya makin jelas. Demikianlah, jika kita membaca tulisan- tulisan Bapa Gereja pada abad awal, kita dapat mengetahui dengan jelas keutamaan kepemimpinan para penerus Rasul Petrus, dalam mengatur dan mempersatukan Gereja.

Memang terjadi perkembangan dalam hal kepemimpinan Paus saat ini dengan Rasul Petrus dan para penerusnya pada abad- abad pertama, namun kita harus mengakui bahwa hakekat kepemimpinan Paus sudah ada sejak awal mula. Ini seperti halnya perkembangan organik suatu tumbuhan dari biji, lalu menjadi tumbuhan yang kecil dan lama- kelamaan menjadi besar; atau pertumbuhan manusia dari bayi menjadi dewasa.

Perkembangan Gereja mula-mula

Gereja mula-mula berawal dari dua belas rasul yang ketakutan setelah pemimpin mereka dihukum mati di kayu salib (Mrk 14:50), yang kemudian kembali berkumpul dalam ketakutan setelah kebangkitan Kristus, yaitu sekitar 120 orang (Kis 1:15). Kemudian pada saat Pentakosta, Roh Kudus turun atas para rasul (Kis 2). Selanjutnya Rasul Petrus berbicara dan mengajar yang menyebabkan 3000 orang dibaptis pada hari itu (Kis 2:5, 41). Sejak saat itu anggota Gereja terus bertambah (lih. Kis 2:47). Pada sekitar sepuluh tahun sesudah Pentakosta, Gereja mulai menerima orang-orang non- Yahudi yang bertobat sebagai anggota, dimulai dari Kornelius dan seluruh anggota keluarganya (Kis 10). Maka, Gereja terus bertumbuh dan “wajah” Gereja-pun berkembang, tidak persis sama dengan saat awal yang hanya melibatkan kalangan terbatas seputar para Rasul.

Maka kita ketahui, untuk mengatur jemaat/ Gereja, ditunjuklah beberapa orang sebagai pemimpin, karena tuntutan perkembangan ini (lih. Kis 6:1-6; 1 Tim 3:8). Uskup (penilik jemaat) pertama kali disebut pada surat Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi (Fil 1:1) dan Kis 20: 28, sekitar 30 tahun setelah peristiwa Pentakosta. Gerejapun mulai menyebar ke daerah-daerah dan negara-negara lain, seperti ke Antiokhia (Kis 11:19-26). Secara internal, Gerejapun mengalami perkembangan: Ibadah  tidak lagi terbatas di sinagoga, tetapi juga ke rumah-rumah umat beriman (Rom 16: 5; 1 Kor 16:19), dan semakin menunjukkan perbedaan liturginya dengan penyembahan umat Yahudi. Melalui surat-surat Rasul Paulus kitapun mempelajari bahwa titik perhatiannya bergeser; dari keselamatan umat non-Yahudi oleh iman yang terlepas dari hukum Taurat (dalam hal ini sunat) kepada pengaturan kepemimpinan hirarki Gereja. Rasul Paulus bersama dengan para Rasul lainnya mulai mempersiapkan kepemimpinan generasi kedua untuk memastikan bahwa Tradisi para rasul dapat dilanjutkan dengan baik ke generasi berikutnya (lih. 2Tim 2:2; Kis 20:28; 1 Tim 3:2; Titus 1:5-9). Uskup (penilik jemaat) ditunjuk untuk menggantikan kedudukan para Rasul (Tit 1:5). Di sinilah kita melihat perkembangan Gereja menjadi semakin membesar, sehingga membutuhkan juga kepemimpinan yang mengaturnya dalam kesatuan.

Khotbah/ pengajaran lisan menandai hari- hari pertama Gereja awal. Pada saat itu tidak ada pengajaran tertulis, entah dari Yesus atau dari para Rasul-Nya. Pengajaran lisan ini adalah cara utama untuk meneruskan kebenaran Tuhan kepada umat-Nya (1 Tes 2:13). Perkataan lisan ini dianggap sebagai sesuatu yang mengikat umat. Ini sudah terjadi sebelum ajaran-ajaran tersebut dituliskan. Maka Rasul Paulus mengingatkan kepada jemaat pertama untuk berpegang teguh terhadap Tradisi para Rasul yang diajarkannya (lih. 1 Kor 11:2). Setelah ajaran- ajaran tersebut ditulis, maka tulisan tersebut juga mempunyai otoritas yang mengikat seperti halnya pengajaran lisan para rasul, “Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (lih. 2 Tes 2:15).

St. Klemens dari Roma dan St. Ignatius dari Antiokhia

Gereja kemudian tersebar ke seluruh daerah, dan Gereja kemudian mempunyai kata sifat, yaitu “Katolik”, untuk menjelaskan ke-universalannya, yang mencakup segala bangsa di semua daerah di sepanjang waktu. Gereja sejak awal sudah mempunyai ke-empat tandanya sejak awal mula, yaitu: satu, kudus, katolik dan apostolik, yang dinyatakan sekitar dua abad kemudian pada Konsili Nicea. Perkembangan Gereja secara organik ini tidak mengubah esensi Gereja pertama yang didirikan oleh Kristus. Di tengah tekanan- tekanan, entah dari tuntutan perkembangan, maupun dari berkembangnya ajaran- ajaran sesat ataupun penganiayaan di abad- abad awal, kepemimpinan Gereja malah menjadi semakin terbentuk. Ini seperti proses pendewasaan dari sebuah organisme yang hidup dan bertumbuh.

Berikut ini kita akan melihat dokumen Gereja yang ter-awal, yang dituliskan oleh dua orang murid rasul Petrus, yaitu yang ditulis oleh St. Klemens dari Roma dan St. Ignatius dari Antiokhia. Tradisi para Bapa Gereja mengatakan bahwa kedua orang ini ditahbiskan oleh Rasul Petrus sendiri. ((Tentang St. Klemens, Tertullian menuliskan, “Klemens ditahbiskan oleh Rasul Petrus” untuk menggantikannya sebagai Uskup Roma (Demurer against Heretics 32, 1-3, in William A Jurgens, The Faith of Early Fathers (Collegeville, Minnesota: Liturgical Press, 1970), 1:122). Tidak dijabarkan secara detail di sini, namun nampaknya St. Klemens setelah ditahbiskan oleh St. Petrus, tidak langsung menjadi Uskup Roma, namun Linus- lah yang menduduki posisi tersebut selama 24 tahun, dan baru kemudian St. Klemens melanjutkannya selama 9 tahun. Sedangkan St. Ignatius, adalah, menurut tulisan St. Yohanes Krisostom, adalah penerus Rasul Petrus di Gereja Antiokhia)). St. Klemens (96) adalah Uskup Roma urutan ke-4 yaitu ketiga setelah Rasul Petrus, yang juga adalah muridnya. Origen, Eusebius dan St. Jerome mengatakan bahwa St. Klemens ini adalah Klemens yang disebut oleh Rasul Paulus dalam Fil 4:3. St. Klemens menjadi Uskup di Roma, pada jaman Rasul Yohanes masih hidup, dan ia-lah yang menulis “Surat pertama Klemens kepada jemaat di Korintus” atas nama Gereja Roma pada tahun 96. Sedangkan St. Ignatius dari Antiokhia (35- 107), adalah penerus langsung Rasul Petrus di Antiokhia, yang diarak dari kota ke kota di Kerajaan Roma, sebelum akhirnya dibunuh sebagai martir di Roma. Di tengah kondisi yang memalukan ini, sebelum wafatnya ia menulis tujuh surat kepada Gereja- gereja ((New Advent Catholic encyclopedia: Tujuh surat St. Ignatius ditujukan kepada Gereja- gereja di Efesus, Magnesia, Tralles, Roma, Philadelphia, Smyrna, dan kepada Polycarpus)), sebelum akhirnya ia dengan lapang menyerahkan nyawanya demi kasihnya kepada Yesus Penyelamatnya.

Surat pertama St. Klemens kepada jemaat di Korintus

Surat St. Klemens ditujukan kepada jemaat di Korintus yang sedang menghadapi masalah yang serius. Kesatuan jemaat terancam oleh beberapa orang yang dengan sombong mengambil peran para tertahbis (klerus) dan menentang para klerus tersebut. St. Klemens menuliskan surat untuk menegur para pelanggar aturan itu, dan mendorong jemaat untuk tetap bersatu. St. Irenaeus (202) menulis, “Pada jaman Klemens terjadi pertengkaran yang tidak kecil di jemaat Korintus, dan Gereja Roma mengeluarkan surat yang sangat berkuasa kepada jemaat Korintus, mendorong mereka untuk berdamai, memperbaharui iman mereka dan menyatakan Tradisi yang mereka terima dari para rasul.” ((St. Irenaeus, Against Heresies, 3,3,3, ANF, 1:416)). Jemaat di Korintus tidak berkeberatan terhadap surat St. Klemens, surat ini malah dibacakan secara teratur di Gereja Korintus selama berabad- abad, dan juga di Gereja-gereja lainnya. ((Eusebius, Church History 3, 16, NPNF 2, 147)) Pada jaman surat St. Klemens itu ditulis, Rasul Yohanes sebenarnya masih hidup dan tinggal di Gereja Asia sekitar 240 mil dari Korintus. Namun Rasul Yohanes tidak diminta pendapatnya untuk mengatasi masalah di Gereja Korintus. Tugas ini diemban oleh Uskup Roma yang tinggal lebih dari 600 mil dari Korintus. Bahkan surat St. Klemens ini masih sering dibacakan sampai abad ke- 3 dan ke- 4 dan dianggap sebagai salah satu kitab kanonik dalam PB menurut codex Alexandrian. ((NPNF 1,1:147, n.1))

Berikut ini adalah surat Pertama St. Klemens kepada Gereja di Korintus (96) dan  surat St. Ignatius kepada Gereja Roma (106): ((disarikan dari Stephen K Ray, Upon this Rock, (San Francisco: Ignatius Press, 1999) p. 124- 144))

A. Surat St. Klemens kepada Gereja di Korintus (96)

1. St. Klemens berbicara atas nama Gereja di Roma, dari kursi Rasul Petrus.

“Gereja Tuhan yang ada di Roma, kepada Gereja Tuhan yang ada di Korintus, kepada mereka yang dipanggil dan dikuduskan oleh kehendak Tuhan, melalui Tuhan kita Yesus Kristus: semoga dilipatgandakan kasih karunia bagimu, dan damai sejahtera, dari Tuhan yang Maha Besar melalui Yesus Kristus.”

2. St. Klemens memohon maaf kepada jemaat di Korintus.

“Saudara- saudara yang terkasih, karena bencana yang tiba- tiba meledak dengan cepat dan berturut- turut, dan karena pengalaman- pengalaman yang melanda kami, kami menjadi sepertinya lambat, kami pikir, dalam memberikan perhatian kepada perselisihan yang terjadi dalam komunitas-mu.”

Masa kepemimpinan Klemens sebagai Paus adalah dalam periode pemerintahan kaisar Domitian yang terkenal sangat kejam dalam penganiayaan umat Kristiani di Roma (sekitar 51-96). Memang tidak ditemukan bukti permohonan Gereja di Korintus kepada Gereja Roma untuk menyelesaikan perselisihan di antara Gereja Korintus. Namun sebagai Uskup Roma, St. Klemens menganggap hal ini sebagai tugasnya. Ia meminta maaf bukan karena ia mencampuri/ mengatur urusan Gereja Korintus, tetapi ia minta maaf karena tidak menulis surat lebih awal untuk mengatasi perselisihan ini.

3. St. Klemens mengajarkan tentang jalur apostolik.

“Para rasul mengkhotbahkan Injil yang mereka terima dari Kristus kepada kita, dan Yesus Kristus adalah Duta Tuhan. Dengan perkataan lain, Kristus datang dengan pesan Tuhan, dan para Rasul dengan pesan Kristus. Karena itu, kedua pengaturan ini terjadi atas kehendak Tuhan. Jadi setelah menerima perintah dan dijamin sepenuhnya melalui kebangkitan Tuhan Yesus Kristus…. mereka pergi… dari negeri ke negeri…dan dari kota ke kota, mereka mengajar, dan dari antara pengikut yang pertama para Rasul menunjuk mereka yang telah mereka uji dengan Roh Kudus, untuk bertindak sebagai para uskup dan diakon bagi umat. Dan ini bukanlah inovasi, sebab telah lama sebelum Kitab Suci berbicara tentang para uskup dan diakon; dikatakan bahwa: “Aku akan mendirikan kepemimpinan mereka dalam hal pelaksanaan hukum dan pelayanan mereka dalam kesetiaan.” Para rasul, juga telah diberi pengertian oleh Tuhan Yesus Kristus bahwa jabatan uskup dapat menimbulkan hal- hal yang penuh intrik. Untuk alasan ini, dilengkapi dengan pengetahuan, mereka menunjuk orang- orang seperti yang telah disebutkan di atas, dan kemudian memberlakukan ketentuan sekali untuk selamanya demikian: ketika orang- orang ini meninggal dunia; orang- orang lain yang telah disetujui harus melanjutkan tugas pelayanan suci mereka. Akibatnya, kami menganggapnya sebagai suatu ketidakadilan, [jika] orang-orang yang telah ditunjuk oleh mereka atau selanjutnya, dengan persetujuan seluruh Gereja, dikeluarkan dari pelayanan suci, untuk digantikan oleh orang- orang lain dengan reputasi yang tinggi.”

4. St. Klemens mengajarkan tentang otoritas dari Tuhan.

“Terimalah nasihat kami, dan kamu tidak akan menyesal. Sebab selama Tuhan hidup, dan Tuhan Yesus hidup, dan Roh Kudus, … demikianlah ia, yang dengan kerendahan hati dan bergegas dalam kelemahlembutan, tanpa menyesal, telah melaksanakan perintah- perintah yang diberikan oleh Tuhan [melalui kami], menjadi terdaftar dan namanya terletak di antara mereka yang diselamatkan melalui Yesus Kristus… tetapi jika orang- orang tertentu menjadi tidak taat akan kata- kata yang diucapkan oleh Dia [Yesus Kristus] melalui kami, biarlah mereka mengerti bahwa mereka akan menyusahkan diri sendiri di dalam pelanggaran yang tidak kecil dan bahaya; tetapi kami tidak bersalah atas dosa ini.”

5. Klemens mensyaratkan ketaatan terhadap suratnya ini.

“Sebab kamu akan memberikan suka cita yang besar dan kegembiraan, jika kamu memberikan ketaatan kepada hal- hal yang dituliskan oleh kami melalui Roh Kudus, dan cabutlah kemarahan yang tidak benar dari kecemburuanmu, sesuai dengan permohonan yang telah kami buat demi damai sejahtera dan perjanjian di dalam surat ini.”

Surat St. Klemens mengklaim bahwa ia berbicara dengan otoritas dari Roh Kudus. Ini menyerupai klaim yang dibuat oleh Rasul Paulus dalam 1 Tes 2:13. Surat Klemens ini merupakan bukti supremasi Paus di abad pertama. Tidak ada protes dari siapapun terhadap surat ini; sebaliknya, St. Irenaeus dan St. Ignatius memuji surat ini, dan jemaat Korintus menghargainya dan membacanya dalam Ibadah suci mereka pada hari Minggu (hati Tuhan) selama bertahun- tahun sesudahnya. ((lih. Luke Rivington, The Primitive Church and the See of Peter, (London: Longmans, Green and Co., 1894) p.9))

6. St. Klemens dan Gereja Roma mengirimkan utusan ke Korintus

Bergegaslah dan kirimkan utusan kami, Klaudius Efebus, Valerius Vito, dan Fortunatus, kembali kepada kami dengan damai dan suka cita, sehingga kabar tentang perjanjian dan kesatuan yang kami doakan dan kami rindukan dapat sampai kepada kami secepatnya, dan kami dapat segera bersuka cita karena  kembalinya keteraturanmu. Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus bersamamu, dan dengan setiap dan semua orang di manapun yang telah dipanggil oleh Allah melalui Dia, dan melalui Dia, kemuliaan dan hormat bagi Tuhan dengan kekuatan, kebesaran, dan kekuasaan yang kekal dari segala abad, sekarang dan selama- lamanya. Amin.”

Beberapa komentar tentang surat St. Klemens

1. Buku The Shepherd of Hermas yang sering kali dianggap sebagai karya literatur Kristen yang sangat berharga di abad ke- 2 mengajarkan bahwa Gereja awal melihat Uskup Roma mempunyai tanggung jawab untuk kesejahteraan dam kesatuan komunitas Kristiani secara keseluruhan. Ia [Uskup Roma] adalah penerus Rasul Petrus dan memenuhi peran sebagai gembala di Gereja. ((lih. The Shepherd of Hermas, Vision 2,4, in The Apostolic Fathers, trans. Francis X Glimm, Gerald G. Walsh, SJ and Joseph M. F Marique SJ, The Fathers of the Church, vol. 1 (Washington, DC: Catholic Univ. of America Press, 1981), 241-242))

2. Dionysius menyatakan pentingnya surat St. Klemens yang masih dibacakan di hadapan jemaat Korintus sampai abad berikutnya. Pada akhir abad ke- 2, Dionysius menulis surat kepada Paus Soter, Uskup Roma, demikian:

“Hari ini adalah hari Tuhan, kami menguduskannya, dan membaca suratmu [Paus Soter], yang harus kami baca berkali- kali karena pengajaran yang berharga, seperti halnya surat yang dituliskan oleh Klemens atas namamu.” ((Eusebius, The History of the Church 4, 23, trans. G.A. Williamson (Harmondsworth, Middlesex, England: Penguin Books, 1965), 132)) Atas namamu” di sini maksudnya adalah atas nama Gereja Roma. Perkataan Dionysius ini menunjukkan adanya sikap dari uskup- uskup yang mengakui otoritas dan tanggungjawab Paus/ uskup Roma.

3. Eusebius, seorang sejarahwan, juga menuliskan pentingnya surat Klemens.

“Rasul ini (Paulus) di dalam suratnya kepada jemaat di Filipi memberitahukan pada kita bahwa Klemens adalah kawan sekerja-nya….”…bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.” (Flp 4:3)… Ia (Klemens) menulis atas nama Gereja Roma kepada Gereja Korintus, ketika terjadi pemberontakan di Gereja Korintus…. dan [kejadian pemberontakan ini] mengacu kepada [kesaksian] Hegesippus, saksi yang dapat dipercaya. ((Eusebius, The Church History 3, 15-16, NPNF 2, 1:147)).

4. Sejarahwan Protestan, Philip Schaff menulis,

“Contoh pertama perihal otoritas Paus ditemukan pada akhir abad pertama di dalam surat Uskup Roma, Klemens … Adalah sukar dipungkiri bahwa dokumen tersebut menjabarkan superioritas tertentu di atas semua kongregasi biasa. Di sini, Gereja Roma, tanpa diminta (seperti kelihatannya), memberikan nasihat, dengan kebijaksanaan administratif yang superior, kepada sebuah gereja penting di Timur, mengirimkan utusan-utusannya, dan memerintahkan keteraturan dan kesatuan dengan nada yang tenang berwibawa dan penuh otoritas, seperti alat Tuhan dan Roh Kudus. Ini menjadi lebih mengejutkan jika Rasul Yohanes, seperti kelihatannya, masih hidup di Efesus, yang lebih dekat dengan Korintus daripada Roma.” ((Phillip Schaff, History of the Christian Church (Grand Rapids, Michigan: Eerdmans, 1980), 2:157-158)).

B. Surat St. Ignatius kepada jemaat di Roma (106)

Latar belakang surat ini dikisahkan oleh Eusebius. St. Ignatius adalah Uskup Antiokhia yang kedua setelah Rasul Petrus. St. Ignatius dikirim dari Siria ke Roma untuk menjadi mangsa/ korban binatang buas karena menjadi saksi Kristus. Pada saat ia dalam perjalanan di Asia di bawah pengawasan yang ketat… ia menguatkan paroki- paroki di kota-kota persinggahannya, di mana ia memberikan homili dan pengajaran, dan memperingatkan mereka secara khusus untuk melawan ajaran sesat yang marak pada saat itu, dan untuk secara khusus berpegang teguh pada tradisi para rasul. ((Eusebius, The Church History 3, 36, NPNF 2, 1: 166-169))

Potongan kutipan surat St. Ignatius di alinea terakhir yang menandai spiritualitasnya yang mendalam adalah sebagai berikut:

“… agar aku tidak hanya bicara tetapi sungguh akan dan tidak hanya dikatakan sebagai seorang Kristen, tetapi sungguh menjadi seorang Kristen… Aku menulis kepada semua Gereja… bahwa aku ingin mati bagi Tuhan… Aku menderita menjadi makanan bagi binatang buas, yang melaluinya aku akan mencapai Tuhan. Aku adalah gandum Tuhan, biarlah aku digiling oleh gigi- gigi binatang buas sehingga aku ditemukan sebagai roti Kristus….” ((St. Ignatius dari Antiokhia, Epistle to the Romans 3-6, ANF, 1:74-76))

1. Pendahuluan

“Ignatius, yang juga disebut Theoforus, kepada Gereja yang telah mengalami belas kasihan di dalam kebesaran Allah Bapa dan Yesus Kristus, Putera-Nya yang tunggal, yang mengatasi segalanya, Gereja yang dikehendaki oleh Dia yang menghendaki semua yang ada, yang terkasih dan yang diterangi melalui iman dan kasih Yesus Kristus Tuhan kita; yang memimpin di tempat terutama dalam kekuasaan Roma, sebuah Gereja yang layak bagi Tuhan, layak dihormati, layak diberi ucapan selamat, layak dipuji, layak menerima sukses, layak menerima pengudusan, dan memimpin di dalam kasih, mempertahankan hukum Kristus, dan mengemban nama Allah Bapa: kepadanya [Gereja Roma] aku memberi hormat di dalam nama Yesus Kristus Putera Bapa. Ucapan selamat dari hati karena sukacita yang tak tertandingi di dalam Yesus Kristus Tuhan kita, kepada mereka yang dipersatukan di dalam daging dan roh dengan setiap perintah-Nya; yang tetap menikmati kepenuhan kasih karunia Allah dan dijauhkan dari setiap noda asing.”

St. Ignatius menuliskan surat kepada tujuh Gereja, ((St. Ignatius menuliskan surat kepada Gereja- gereja di Efesus, Magnesia, Tralles, Roma, Philadelphia, Smyrna, dan kepada Polycarpus)) namun pembukaan surat kepada Gereja Roma sungguh menunjukkan kata pujian yang tidak dapat dibandingkan dengan surat- suratnya yang lain. Di sini St. Ignatius mengakui bahwa Gereja Roma memimpin dengan kasih atas Gereja- gereja yang lain. Gereja Roma juga dihormati karena bebas dari ajaran sesat. Hal ini disebabkan tidak saja karena Gereja Roma menghindari ajaran sesat, namun juga sebab ia memegang keutamaan dan janji perlindungan dari Kristus sendiri. Bahkan ketika Gereja Timur diguncang ajaran- ajaran sesat seperti Arianisme, Docetisme, Nestorianisme, dst, Gereja Roma selalu bebas dari noda heresi tersebut.

2. Gereja Roma memimpin dengan kasih atas Gereja Antiokhia

St. Ignatius dicabut dari kepemimpinannya oleh otoritas kaisar Roma, sehingga Gereja Antiokhia ditinggalkan tanpa uskup. St. Ignatius memohon kepada Gereja Roma untuk menggembalakan umat-nya meskipun Gereja Roma berjarak 1300 mil dari Antiokhia. Walaupun St. Ignatius menulis surat kepada beberapa Gereja lainnya, namun hanya kepada Gereja Roma ia mempercayakan Gereja Antiokhia, agar sama seperti Gereja Roma memperhatikan Gereja Korintus, demikian pula Gereja Roma terhadap Gereja Antiokhia. ((lih. B.C Butler, The Church and Infallibility (New York: Sheed and Ward, 1954), p.131)) Demikianlah katanya:

“Ingatlah di dalam doa- doamu, Gereja di Siria yang sekarang mempunyai Tuhan sebagai Gembalanya di tempatku. Yesus Kristus sendiri akan menjadi Uskupnya, bersama denga kasihmu.” ((St. Ignatius dari Antiokhia, Epistle to the Romans, 9, 1))

3. St. Ignatius tidak berani memberikan perintah kepada Gereja Roma

“Mohonlah kepada Kristus atas namaku, bahwa melalui sarana-sarana ini [penderitaannya] aku dapat membuktikan pengorbanan bagi Tuhan. Tidak seperti Petrus dan Paulus, aku tidak mengeluarkan perintah apapun kepadamu. Mereka adalah para Rasul, aku adalah seorang terhukum….” ((St. Ignatius dari Antiokhia, Epistle to the Romans, 4, In Clement and Ignatius, Epistle 82))

Tulisan ini tidak sama dengan isi suratnya kepada Gereja- gereja yang lain, di mana ia sering mengajarkan demikian, “Taatilah uskupmu”, “Berpartisipasilah dalam satu Ekaristi”, “Jangan terbawa oleh ajaran sesat”, “Hindarilah skisma”, dst. Namun dalam surat kepada Gereja di Roma, St. Ignatius tidak mengatakan tentang hal ini sedikitpun.

4. Gereja Roma adalah Guru bagi semua

“Engkau tidak pernah mengumpati siapapun. Engkau telah mengajar orang- orang lain. Apa yang kuinginkan adalah ajaran- ajaran yang kautanamkan dalam inisiasi para murid tetap berlaku…” ((St. Ignatius dari Antiokhia, Epistle to the Romans, 3,2, In Clement and Ignatius, Epistle 81)).

Di sini St. Ignatius mengakui bahwa Gereja Roma- lah yang mengajar Gereja- gereja yang lain, termasuk gereja-gereja Timur -kemungkinan Ia mengacu kepada surat St. Klemens- padahal Gereja Roma menerima Injil dari Timur, yaitu melalui pewartaan para Rasul. Antiokhia, tempat asal St. Ignatius adalah pusat Kristianitas yang pertama, yang terbentuk karena penganiayaan di Yerusalem dan kehancuran Yerusalem. Namun Ignatius sebagai Uskup Antiokhia tidak memerintah atas Gereja Roma tetapi malah memujinya karena telah mengajarkan jemaat/ Gereja yang lain.

Beberapa komentar tentang surat St. Ignatius

1. Eusebius menyatakan pentingnya surat Ignatius

Eusebius menulis sejarah pada saat yang berdekatan dengan masa Bapa Gereja di abad awal dan beberapa kali mencantumkan nama St. Ignatius.

“Pada saat itu Papias, uskup Hierapolis menjadi terkenal, demikian juga Ignatius, yang dipilih menjadi uskup Antiokhia, kedua setelah Petrus,… Irenaeus juga menyebutkan kemartiran Ignatius dan surat- suratnya … Polycarpus juga menyebut surat- surat St. Ignatius ini dalam suratnya kepada jemaat di Filipi: “…. Karena itu aku menasihatkan kamu, untuk taat dan melaksanakan dengan semua kesabaran seperti yang kamu lihat dengan matamu sendiri, tidak hanya pada yang terberkati Ignatius, Rufus dan Zosimus, tetapi juga pada orang- orang lain di antara kamu sendiri… dan bahwa mereka pergi kepada tempat yang disediakan bagi mereka di samping Tuhan, yang dengan-Nya mereka telah menderita… Surat- surat Ignatius yang dikirimkan kepada kami dan umat yang lain…kami kirimkan kepadamu… Surat- surat itu melengkapi surat ini, dari surat- surat itu kamu akan memperoleh keuntungan besar. Sebab mereka menunjukkan iman dan kesabaran dan pengajaran yang berkaitan dengan Tuhan kita….”((Eusebius, The Church History, 3, 36 in NPNF 2, 1:166-169))

Jemaat awal menghormati St. Ignatius, untuk kekudusan hidupnya dan kesetiaannya kepada pengajaran Yesus Kristus.

2. St. Yohanes Krisostomus menghormati Ignatius dan tahbisan apostoliknya

“[Ignatius] memimpin Gereja di antara kita dengan terhormat, dan dengan kehati- hatian seperti yang dikehendaki oleh Kristus … Ia telah melakukan perbincangan yang sungguh dengan para rasul, dan meminum mata air rohani. Orang seperti apakah yang telah dibimbing, dan yang di manapun berbincang- bincang dengan mereka [para rasul] dan telah mengalami kebenaran- kebenaran….? Ignatius kelihatan layak mengemban jabatannya yang agung, bahwa ia memperolehnya dari para orang kudus itu, dan bahwa tangan- tangan para Rasul telah menyentuh kepalanya yang kudus … Aku telah menyebut Petrus, ini adalah seorang yang telah menggantikan jabatan setelahnya [di Antiokhia].

3. Adolf Harnack, seorang teolog Protestan mengatakan:

“… tetaplah jelas bahwa Ignatius menunjukkan de facto keutamaan Gereja Roma di antara gereja- gereja lainnya, dan bahwa ia [Ignatius] mengetahui kegiatan habitual yang penuh energi dari Gereja ini dalam hal melindungi dan mengajar gereja- gereja yang lain.” ((Dogmengescihchte, 4 th ed., p.486, seperti dikutip dalam Steven Ray, Upon This Rock, p. 141))

4. Nicholas Afanassieff,  seorang teolog Orthodox juga mengakui keutamaan Gereja Roma dalam bukunya, The Primacy of Peter, walaupun kemudian Gereja Timur tidak setuju dalam hal bentuk aktualnya.

“Ia [Ignatius] menggambarkan gereja- gereja lokal tergabung dalam kongregasi ekaristik dengan setiap gereja dalam cara yang khusus, dan Gereja Roma dalam kedudukannya, berada di ‘tempat utama’. Sehingga, kata Ignatius, Gereja Roma memang mempunyai prioritas di dalam seluruh kumpulan gereja- gereja yang disatukan oleh perjanjian kesepakatan. Kita tidak diajarkan oleh Ignatius (atau oleh Klemens) mengapa Gereja Roma harus memimpin, dan mengapa bukan gereja yang lain. Bagi Ignatius hal itu sepertinya sudah nyata sendiri dan sepertinya seperti membuang- buang waktu untuk membuktikannya. Pada masa itu tidak ada gereja lain yang mengklaim peran ini, yang dimiliki oleh Gereja Roma.” ((seperti dikutip dalam John Meyendorff, ed. The Primacy of Peter, (New York: St. Vladimir’s Seminary Press, 1992), p. 127))

Lalu Afanassieff membatasi apa yang disebut sebagai prioritas ini, namun ini tidak mengubah kenyataan bahwa terdapat sebuah prioritas Gereja Roma dibandingkan dengan gereja- gereja yang lainnya. Gereja Timur juga seperti juga dengan Gereja Katolik mengakui adanya unsur hirarki dalam Gereja, keberadaan uskup, dan bahkan keutamaan uskup Roma dalam dunia kekristenan. Prinsip ini bertentangan dengan konsep gereja individual yang independen seperti yang banyak diyakini oleh beberapa denominasi gereja dewasa ini.

Pentingnya tulisan St. Ignatius untuk memahami ajaran Apostolik

“Adalah jelas bukan melebih-lebihkan pentingnya kesaksian yang dituliskan oleh surat- surat Ignatius tentang karakter pengajaran Kristianitas yang bersifat apostolik. Uskup Antiokhia yang wafat sebagai martir ini merupakan penghubung yang penting antara para Rasul dan para Bapa Gereja di masa Gereja awal. Menerima dari para Rasul sendiri, di mana ia menjadi auditor, tidak hanya isi dari wahyu, tetapi juga interpretasi-nya yang diinspirasikan [oleh Roh Kudus], yang terdapat pada sumber mata air Injil Kebenaran; kesaksiannya pasti membawa bersamanya kepentingan yang besar dan tuntutan agar dipertimbangkan dengan seserius mungkin. Kardinal Newman tidak melebih- lebihkan pada saat ia mengatakan bahwa “Semua sistem pengajaran Katolik dapat ditemukan, setidak- tidaknya dalam outline/ prinsip, …, dalam ketujuh suratnya ini.” ((Catholic Encyclopedia, 7:646, kutipan dari Cardinal Newman diambil dari ‘The Theology of the Seven Epistle of St. Ignatius’, in Historical Sketches, I, London, 1890))

Pengamatan yang sama juga disampaikan oleh seorang teolog Protestan, J.N.D Kelly, “… Ia [Ignatius dari Antiokhia] kelihatannya menunjukkan bahwa Gereja Roma menempati kedudukan istimewa, ia berbicara tentang “Gereja yang mempunyai keutamaan di daerah Roma’. Sesuatu dimaksudkan lebih daripada sekedar otoritas di kawasan [Roma] tersebut, sebab ia terus memberikan penghormatan kepada Gereja Roma sebagai yang memiliki: “keutamaan kasih” (a primacy of love); ekspresi yang diterjemahkan oleh beberapa orang, dengan setengah memaksa, “memimpin atas komunitas kasih” (atas Gereja universal). Apa yang dibayangkan oleh para Bapa Gereja hampir selalu adalah komunitas yang kelihatan dan empiris. Para Bapa Gereja hanya mempunyai sedikit atau [bahkan] tidak ada bayangan sedikitpun tentang pembedaan yang kemudian menjadi penting, antara Gereja yang kelihatan dan tak kelihatan.” ((J.N.D Kelly, Early Christian Doctrine (San Francisco: Harper & Row, 1978), p. 191))

Kesimpulan

Dari tulisan St. Klemens dan St. Ignatius ini, yang adalah kawan sekerja Rasul Petrus dan Paulus, kita dapat melihat secara obyektif keutamaan Gereja Roma di antara seluruh Gereja. Mungkin sudah saatnya kita mengakui bahwa kedua orang ini, yang hidup dan bekerja bersama dengan para Rasul, mengetahui pikiran para Rasul dan Gereja awal, lebih daripada kita semua yang hidup berjarak 20 abad kemudian. Jika kita harus memilih dalam hal ajaran, kepada siapakah kita akan percaya: kepada para Bapa Gereja ini yang meneruskan perkataan para Rasul yang masih terngiang di telinga mereka, ataukah kepada para pengajar modern yang mempunyai teori- teori inovatif dalam hal teologi dan ekklesiologi pada 20 abad berikutnya?

Bersambung ke artikel berikutnya: Keutamaan Petrus selama 500 tahun Gereja awal (bagian 5)

32
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
13 Comment threads
19 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
16 Comment authors
PencariRobert IgnatiusHestipetrus rolliesTONO SUTONO Recent comment authors
Pencari
Guest
Pencari

Selamat Pagi Katolisitas…

Mau tanya dong terkait surat St. Clement I kepada jemaat di Korintus ini…
Apakah ada surat atau tulisan bapa2 Gereja yang menceritakan sebenarnya ada masalah apa yg terjadi pada jemaat Korintus ? Dan adakah sumber yg menceritakan bagaimana masalah itu sampai kepada St. Clement, apakah berupa surat atau utusan ? Jika surat, dimanakah bisa kita baca surat tersebut ?

Terima kasih atas penjelasannya..

Hesti
Guest
Hesti

Dear Bpk Stefanus, berikut pendapat saya tentang pergantian para Rasul Definisi: Doktrin bahwa ke-12 rasul mempunyai pengganti-pengganti yang menerima wewenang melalui pelantikan ilahi. Di Gereja Katolik Roma, para uskup secara kelompok dikatakan sebagai pengganti rasul-rasul, dan paus dikatakan sebagai pengganti Petrus. Mereka berkukuh bahwa paus-paus Roma muncul segera setelah menduduki jabatan dan melaksanakan tugas-tugas Petrus, yang konon diberi wewenang utama atas seluruh Gereja oleh KRISTUS. Bukan ajaran Alkitab. Apakah Petrus adalah ”batu karang” yang di atasnya gereja dibangun? Mat. 16:18, TB: ”Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak… Read more »

petrus rollies
Guest
petrus rollies

Syalom, saya mau tanya kalau saya mau buka situs daftar paus n fotonya alamat webnya di mana ya, terima kasih.

Giovanni Parera
Guest
Giovanni Parera

Dear Katolisitas,

Kapankah artikel tentang
1. Keutamaan Petrus (the Primacy of Peter) selama 500 tahun Gereja awal (bagian 5)
dan
2. Keutamaan Petrus (the Primacy of Peter) menurut ajaran Gereja Katolik, dalam Konsili Vatikan I dan Konsili Vatikan II. (bagian 6- selesai)
akan dimuat??

Salam kasih,

Giovanni

[dari katolisitas: Maaf, kami belum sempat menyelesaikannya. Mohon kesabarannya.]

Marcellus Rudy
Guest
Marcellus Rudy

Duh komentarnya dan tanya jawab tanpa emosi mantap sekali untuk membangun iman Katholik saya..

Terima Kasih Tuhan karena menemukan situs ini..

tristan
Guest
tristan

Tambahan lagi sebelum lupa ada fakta yang menarik Gal 2:11 Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterang-terang menentangnya, sebab ia salah. Gal 2:12 Karena sebelum beberapa orang dari kalangan Yakobus datang, ia makan sehidangan dengan saudara-saudara yang tidak bersunat, tetapi setelah mereka datang, ia mengundurkan diri dan menjauhi mereka karena takut akan saudara-saudara yang bersunat. Gal 2:13 Dan orang-orang Yahudi yang lainpun turut berlaku munafik dengan dia, sehingga Barnabas sendiri turut terseret oleh kemunafikan mereka. Gal 2:14 Tetapi waktu kulihat, bahwa kelakuan mereka itu tidak sesuai dengan kebenaran Injil, aku berkata kepada Kefas di hadapan mereka semua: “Jika engkau,… Read more »

Tristan
Guest
Tristan

Saya lebih tertarik sejak kapan Roma menjadi pusat agama Kristen? Sidang Jemaat pertama diadakan di Yerusalem bukan di Roma. (ini yang tercatat dalam Kisah para Rasul 15) Bahkan mungkin pada saat itu belum ada kumpulan jemaat di Roma. Jemaat yang pertama kali disebut Kristen adalah jemaat Antiokhia. Dan ini menjadikan Antiokhia menjadi pusat kumpulan jemaat Kristen di daerah Asia Kecil. Kisah para Rasul 11:26 Mereka tinggal bersama-sama dengan jemaat itu satu tahun lamanya, sambil mengajar banyak orang. Di Antiokhialah murid-murid itu untuk pertama kalinya disebut Kristen. Roma masih jauh dari tahun-tahun tersebut, bahkan bagian akhir kitab Kisah para Rasul jemaat… Read more »

Lian
Guest
Lian

syalom,,
mau tanya juga tentang paus tandingan..
pd waktu paus gregorius XII berkuasa, kan ada 2 paus tandingan yaitu paus benediktus XIII dan paus Yohanes…
bgaimana menentukan paus yg sesungguhnya?? dan apakah kalau sudah ada nama paus benediktus XIII, walaupun dia bukan paus yg sah, tetapi namanya tetap dihitung??? dalam artian kalau nanti ada paus yg memilih nama benediktus, maka ia harus memakai nama benediktus XIV,, karena Benediktus XIII sudah dipakai walaupun bukan sbgai paus yg sah…??

joula Randang
Guest
joula Randang

Puji Tuhan,… Tuhan Yesus dampingilah terus gereja-MU yang masih berjuang di muka bumi ini…amin..

Alexander Pontoh
Guest
Alexander Pontoh

yang masih menjadi pertanyaan dibenak saya. Kenapa Tuhan memberikan karunia bahasa roh kepada orang-orang Protestan? kalau Tuhan saja memberikan karunia-karunianya meski “teologi” mereka tidak sesuai dengan Gereja yang didirikan oleh Yesus sendiri, kenapa harus di masuk didalam Gereja Katolik? pertanyaan ini yang menyebabkan saya menganut pandangan “I put no stock in religion” dulu sekitar tahun 2002-2003, saya pernah menyukai pandangan New Age. tetapi tnyt pandangan new age kurang bagus dan tidak sesuai dengan iman kristen. ah… saya jadi ingat dulu saya pernah membaca tulisan-tulisan stephen tong di internet. waktu itu saya masih tidak mengerti protestan. saya baca saja, saya anggap… Read more »

Christopher
Guest
Christopher

yth katolisitas…

terima kasih atas penjelasan mengenai Keutamaan Petrus ini…

salam damai dan kasih…

Alexander Pontoh
Guest
Alexander Pontoh

teori- teori inovatif dalam hal teologi dan ekklesiologi? bisa tolong diperjelas.

thomas
Guest
thomas

puji Tuhan..

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X