Keutamaan Petrus (1): Menurut Kitab Suci

Sebagai pemimpin, sebagai wasit

Hari Minggu  7 Feb 2010 yang lalu adalah hari yang penting bagi para penggemar football di Amerika. Beribu-ribu orang, kalau tidak berjuta-juta orang, menonton pertandingan Super bowl ini melalui televisi. Di tengah hiruk pikuknya pertandingan ini, sebenarnya kita sebagai umat beriman dapat belajar sesuatu. Yaitu, bahwa meskipun ada peraturan yang jelas dalam permainan football ini, tetapi toh ternyata dalam pelaksanaannya dibutuhkan wasit yang mengawasi jalannya pertandingan, agar peraturan permainan dapat dilaksanakan dengan baik. Demikianlah analogi sederhana ini pernah digunakan oleh Cardinal Henry Newmann untuk menggambarkan tugas Magisterium (Wewenang Mengajar) dalam kehidupan Gereja. Walau sudah ada aturannya yang tertulis dalam Kitab Suci, namun tetap diperlukan otoritas untuk menerapkannya, dan tugas ini dilakukan oleh Magisterium dengan melibatkan Tradisi Suci, yang berawal dari kuasa yang diberikan oleh Yesus kepada Rasul Petrus, yang atasnya Kristus mendirikan Gereja-Nya (Mat 16:18).

Di luar perkiraan banyak orang, sesungguhnya doktrin tentang keutamaan Paus ini, mempunyai dasar yang cukup jelas dan paling mudah dibuktikan. Demikianlah yang akan kami jabarkan dalam artikel seri mengenai keutamaan Petrus (the Primacy of Peter), yang dituliskan dengan mengambil sumber utama dari buku karangan Stephen K. Ray, Upon this Rock, San Francisco: Ignatius, 1999. Ray, yang adalah seorang convert dari evangelis Protestan, menyadari bahwa masalah utama yang memisahkan umat Katolik dan Protestan adalah hal otoritas. Protestan percaya hanya kepada otoritas Kitab Suci, sedangkan, Gereja Katolik pada kesatuan antara Kitab Suci, Tradisi suci dan Magisterium. Artikel seri berikut ini dituliskan untuk menunjukkan dasar pengajaran Gereja Katolik tentang keutamaan Rasul Petrus, yang bersumber dari Kitab Suci, pengajaran para Bapa Gereja dan fakta sejarah:

1. Keutamaan Petrus (the Primacy of Peter) menurut Kitab Suci ( bagian 1)
2. Bukti sejarah tentang keberadaan Rasul Petrus di Roma (bagian 2)
3. Tanggapan terhadap mereka yang menentang keberadaan Petrus di Roma (bagian 3)
4. Keutamaan Petrus (the Primacy of Peter) menurut Dokumen awal Gereja (bagian 4)
5. Keutamaan Petrus (the Primacy of Peter) menurut selama 500 tahun Gereja awal (bagian 5)
6. Keutamaan Petrus (the Primacy of Peter) menurut ajaran Gereja Katolik, dalam Konsili Vatikan I dan Konsili Vatikan II. (bagian 6- selesai)

Mari kita sekarang memulai bagian pertama yaitu Keutamaan Petrus (the Primacy of Peter) menurut Kitab Suci.

Keutamaan Petrus dalam kitab Perjanjian Baru

1. Yesus memilih kedua belas rasul, yang dimulai dengan Simon Petrus. Banyak ayat dalam Kitab Suci yang selalu menyebutkan Petrus sebagai yang pertama dari semua rasul yang lain, dan Yudas di urutan terakhir (lih. Mat 10:1-4; Mrk 3:16-19; Luk 6:14-16; Kis 1:13). Kadang-kadang para rasul disebut sebagai Petrus dan teman-temannya (Luk 9:32). Petrus sering berbicara atas nama semua rasul (Mat 18:21; Mrk 8:29; Luk 12:41; Yoh 6:69). Nama Petrus ditulis di dalam Alkitab sebanyak 191 kali (162 kali sebagai Petrus atau Simon Petrus, 23 kali sebagai Simon, and 6 kali sebagai Kephas). Sebagai perbandingan, Yohanes hanya disebut sebanyak 48 kali. Archbishop Fulton Sheen pernah menghitung bahwa semua nama rasul digabungkan hanya disebut 130 kali. Semua hal ini menunjukkan keutamaan Rasul Petrus jika dibandingkan dengan rasul-rasul yang lain. ((Stephen K. Ray, Upon this Rock, (San Francisco: Ignatius, 1999), p. 23))

2. Rasul Petrus memegang peran sebagai yang “pertama” di banyak kesempatan. Di awal pemberitaan-Nya, Yesus memilih untuk mengajar orang banyak dari perahu Simon (Luk 5:3). Rasul Petruslah yang berinisiatif untuk berjalan di atas air (Mat 14: 28-31). Rasul Petruslah yang dipilih oleh Tuhan Yesus untuk mengambil koin dari mulut ikan untuk membayar pajak bagiNya dan bagi Petrus sendiri (Mat 17: 24-27). Petruslah yang menerima wahyu dari Allah Bapa sehingga dapat mengenali identitas Yesus sebagai Putera Allah (Mat 16:16).

Yesus mengubah nama Petrus, yang semula bernama Simon, menjadi Kepha/ Petrus yang artinya, “Batu Karang” untuk menunjukkan penugasan yang baru yang diberikan oleh Kristus kepadanya (Mat 16:13- 20)

Walaupun demikian, Petrus juga ditegur oleh Yesus atas pengertiannya yang keliru tentang Mesias (Mat 16:23). Maka kita mengenal sifat dasar Petrus yang pemberani namun sering terlalu cepat bertindak, tanpa berpikir terlalu jauh, seperti terlalu cepat menjanjikan kesetiaan sebagai seorang martir namun kemudian malah menyangkal Yesus tiga kali; walaupun ia akhirnya bertobat (Mat 26:35; Luk 22:57-62). Di lain kesempatan ia terlalu cepat menggunakan pedang untuk memotong telinga Malkus (Yoh 18:10). Namun demikian, sesungguhnya Petrus mempunyai hati yang lembut, dan peka terhadap dosa dan kelemahannya (Luk 5:8; 22:61-62).

Kelemahan Petrus ini tidak mengubah kenyataan bahwa ia tetaplah terhitung sebagai “yang pertama” di antara para rasul. Petrus selalu disebut pertama kali di antara para rasul yang dipilih Yesus, untuk melihat-Nya dimuliakan di atas gunung Tabor (Mrk 9:2-9, 2 Pet 1:18); untuk mempersiapkan Perjamuan Terakhir (Luk 22:8); dan untuk melihat Yesus setelah kebangkitan-Nya (Luk 24:34; 1 Kor 15:5). Petruslah yang secara khusus didoakan oleh Yesus dan diberi tugas untuk menguatkan saudara-saudaranya yang lain (lih. Luk 22:32; Yoh 21:15-17). Segera setelah Yesus naik ke surga, Petrus mengambil alih kepemimpinan para rasul dengan mengambil inisiatif untuk memilih pengganti Yudas yang mengkhianati Yesus (Kis 1:15-26). Setelah Pentakosta, Petrus tampil mewakili para rasul mengkhotbahkan pesan Injil (Kis 1:14-40) yang mengkibatkan 3000 orang untuk dibaptis pada hari itu.

3. Setelah Pentakosta, peran kepemimpinan Petrus-pun jelas terlihat: Petrus mengubah kebiasaan Gereja yang hanya membaptis umat Yahudi, dengan membaptis Kornelius, umat non- Yahudi, beserta seisi rumahnya (Kis 10 dan 11). Paulus pun menemui Petrus (Kepha) dan tinggal bersamanya selama 15 hari (Gal 1:18), selanjutnya Paulus mendatangi Petrus lagi di Yerusalem dengan menjabarkan Injil yang diberitakannya (Gal 2:2) agar usahanya tidak percuma. Rasul Petrus juga membuat keputusan otoritatif di Konsili Yerusalem mengenai sunat (Kis 15). Sesudah Konsili Yerusalem, Rasul Petrus mengadakan perjalanan ke banyak daerah untuk mendirikan gereja-gereja pada daerah kekuasaan Kaisar Roma, untuk menyebarkan Injil ke ujung bumi, sesuai dengan pesan Kristus (lih. Kis 1:8). Akhirnya, ia menuju Roma (yang disebut Babilon 1 Pet 5:12-13) yang dianggap sebagai pusat dunia pada saat itu, untuk juga mendirikan gereja di sana, dan akhirnya wafat sebagai martir, bersama dengan Rasul Paulus.

Dari siapa saja kita mengetahui keutamaan Petrus?

1. Rasul Yohanes.
Andreas mula-mula bertemu dengan Simon, saudaranya, dan ia berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Mesias (artinya: Kristus).” Ia membawanya kepada Yesus. Yesus memandang dia dan berkata: “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus) (Yoh 1: 40-42).

Di Injilnya yang ditulis sekitar tahun 90-100 (60 tahun setelah kejadian), Rasul Yohanes masih mengingat kejadian tersebut, di mana Yesus memberi nama “Batu Karang” kepada Petrus. Perjanjian Lama mengajarkan kepada kita bahwa perubahan nama sejalan dengan panggilan/ penugasan yang baru dari Allah (lih. Kej 17:5; 32:28; 41:45), dengan demikian Rasul Yohanes mengakui misi Simon yang baru sebagai “Batu Karang.”

2. Rasul Matius
Matius selalu menuliskan Petrus dalam urutan pertama dari keduabelas rasul. Secara khusus, ia menuliskan Pengakuan Petrus (Mat 16: 13-20) yang menunjukkan keutamaan Rasul Petrus.

3. Lukas
Demikian pula dengan Lukas, yang menuliskan Petrus di urutan pertama, misalnya saat menuliskan kisah Yesus dimuliakan di atas gunung (Luk 8: 45: 9: 28, 32), dan para murid mengakui bahwa Kristus telah menampakkan diri kepada Simon (Petrus) (Luk 24:33-34) sesaat setelah kebangkitan-Nya.

4. Markus
Demikian pula Markus, dengan menuliskan bahwa malaikatpun saat memberitakan kebangkitan Yesus menyebutkan nama Petrus secara terpisah, sedangkan para rasul yang lain tergabung dalam “murid- murid-Nya” (Mrk 16:6-7).

5. Rasul Paulus
Dengan mengakui bahwa kepada Petruslah pertama Kristus menampakkan diri setelah kebangkitan-Nya (1 Kor 15:3-6). Kepada umat di Galatia, Paulus mengatakan bahwa ketika akhirnya ia “berhubungan dengan Gereja” setelah tiga tahun mewartakan Injil, ia menghubungi Rasul Petrus yang disebutnya sebagai ‘Kepha’ (Gal 1:17-18), dan dengan demikian ia mengakui keutamaan Petrus yang adalah “Batu Karang” yang ditunjuk oleh Kristus.

6. Konsili Yerusalem (49-50)
Kis 15 menjabarkan Konsili Yerusalem dimana Rasul Petrus berbicara untuk menyelesaikan konflik yang dihadapi oleh jemaat pada saat itu, yaitu mengenai masalah sunat. Setelah Petrus membuat keputusan yang mengikat semua umat beriman, maka semua umat terdiam, dan menerima keputusan ini. Paulus dan Barnabas kemudian mengisahkan pengalaman mereka, dan Yakobus menjabarkan pelaksanaan praktis yang harus dilakukan sesuai dengan keputusan Petrus. [Maka jika Yakobus membuat khotbah penutup di Konsili Yerusalem, itu disebabkan karena Yakobus adalah uskup Yerusalem, dan bukan karena ia mempunyai keutamaan di atas Petrus. Sebab yang disampaikannya juga hanya mendukung keputusan Petrus, dan bukan ia yang pertama kali membuat keputusan untuk menyelesaikan konflik yang ada].

Kita mengetahui bahwa Konsili Yerusalem mempunyai ciri-ciri seperti Konsili-konsili lainnya dalam sejarah Gereja: a) pertemuan para pemimpin seluruh Gereja; b) penetapan aturan yang mengikat semua umat Kristen, c) bersangkutan dengan hal iman dan moral, d) keputusannya ditulis sebagai pernyataan Gereja, e) Petrus memimpin seluruh kongregasi. ((The Acts of the Apostles, Navarre Bible (Dublin: Four Court Press 1992), 160-161))

7. Rasul Petrus sendiri
Umat Protestan ada yang berpendapat bahwa Petrus bukan pemimpin Gereja, dengan mengutip surat 1 Pet 5:1, di mana Rasul Petrus menyebut dirinya sebagai “teman penatua” (a fellow elder). Namun jika kita membaca ayat- ayat berikutnya, kita melihat bahwa Rasul Petrus mengajar para penatua tersebut dengan otoritas seorang pemimpin. Maka jika Petrus mengatakan sebagai “teman penatua”, ia seperti layaknya presiden sewaktu menyebut rakyatnya sebagai ‘saudara sebangsa dan setanah air’, tentu tidak berarti bahwa sang presiden tidak memiliki otoritas atas rakyatnya. Di sini Petrus menyatakan bahwa ia adalah ‘teman penatua’ untuk mengakui keberadaan mereka sebagai para pemimpin Gereja seperti dirinya, namun tentu Rasul Petrus menyadari atas kepemimpinannya atas mereka, oleh sebab itu ia  mengarahkan/ menasihati mereka.

8. Tuhan Yesus Kristus
Dengan memberikan nama “Batu Karang” kepada Petrus dan mengatakan bahwa Ia akan mendirikan jemaat/ Gereja-Nya atasnya (Mat 16: 15-19). Ayatnya sebagai berikut:

Lalu Yesus bertanya kepada mereka: “Tetapi apa katamu, siapakah Aku ini?” Maka jawab Simon Petrus: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Kata Yesus kepadanya: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga. Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.”

Jemaat/ Gereja ini akan disertai oleh Kristus sampai akhir jaman,

Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”

Dengan demikian, Yesus menyatakan bahwa Ia telah memilih Petrus dari antara para rasul-Nya yang lain untuk memimpin Gereja, yaitu dengan memberikan kunci Kerajaan-Nya dan kuasa untuk ‘mengikat dan melepaskan’ (ay. 19). Maka dari ayat ini, setidaknya terdapat empat hal penting, yaitu: a) Petrus sebagai “Batu Karang”; b) Petrus yang kepadanya diberikan kunci Kerajaan Sorga dan diberi kuasa untuk ‘mengikat dan melepaskan’; c) Karena Yesus menjanjikan bahwa Gereja-Nya tak akan dikuasai oleh maut sampai akhir jaman, maka kuasa ‘mengikat dan melepaskan’ tersebut tidak dapat salah, dan berlaku juga pada para penerus Rasul Petrus. d) Yesus hanya mendirikan satu Gereja (bukan gereja-gereja) dalam pimpinan Petrus. Mari kita melihat satu- persatu point ini.

Petrus sebagai “Batu Karang”

“Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Mat 16:18)

RSV: And I tell you, you are Peter, and on this rock I will build my church, and the powers of death shall not prevail against it.

Gereja Katolik mengartikan “Batu Karang” ini sebagai Petrus, yang menerima nama barunya ini karena pengakuan imannya bahwa Kristus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Namun demikian, banyak umat Protestan yang tidak mengartikannya demikian.

  • Kalangan Protestan banyak yang mengartikan bahwa dalam bahasa Yunani, dikatakan bahwa Petrus adalah “Petros”  dan batu karang adalah “petra“. Dan ini berarti bahwa Petros dan petra tidak sama, karena petros artinya batu kecil dan petra artinya batu besar/ batu karang; sehingga tidak mungkin Yesus mendirikan Gereja-Nya di atas Petrus (petros), melainkan di atas pengakuan Petrus (petra).
  • Dari tata bahasa Yunani: Penggunaan Petros dan petra adalah karena tata bahasa Yunani, yang mengenal masculin dan feminin, yang diterapkan bukan hanya terhadap manusia, namun juga terhadap benda-benda. Jadi, dalam hal ini diterjemahkan “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Petros dan di atas petra ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.”Padahal sebenarnya, perbedaan ini disebabkan karena kata Petra tidak dapat digunakan untuk menggantikan nama Petrus, karena kalau demikian sama saja dengan memakai nama Michelle untuk Michael atau Fransiska untuk Fransiskus.
  • Namun pada jaman Yesus, bahasa yang dipakai adalah bahasa Aram, sehingga sebenarnyanya Yesus mengatakan, “Dan Akupun berkata kepadamu: Engkau adalah Kefas dan di atas Kefas ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” Yesus memberikan nama Kefas (Petrus) kepada Simon jauh sebelum pengakuan ini, yaitu pada waktu Yesus bertemu dengan Petrus, dimana Yesus berkata “Engkau Simon, anak Yohanes, engkau akan dinamakan Kefas (artinya: Petrus).” (Yoh 1:42).
  • Selanjutnya, mari kita tinjau dari kelogisan kalimat: Kalau kita menafsirkan bahwa Petros adalah Petrus dan kemudian Petra adalah pengakuan Petrus, maka akan terlihat tidak logis, sebab bunyinya kira-kira menjadi seperti berikut ini:Yesus berkata kepada Petrus: “Engkau adalah Petrus dan di atas pengakuanmu Aku akan mendirikan Gereja-Ku…”Dua kalimat tersebut tidak berhubungan. Dan kalau kita melihat dari bahasa Greek, dikatakan “Aku pun (memakai “kai“) berkata kepadamu, “Engkau adalah Petrus, dan  (memakai kata “taute” (this very)) di batu karang ini, Aku akan mendirikan Gereja-Ku”. Kai (dan) mengindikasikan bahwa kata benda yang dipakai harus merujuk kepada kata benda sebelumnya. Perhatikan, bahwa yang digunakan adalah kata dan, bukannya tapi. Jadi hal yang sedang dibicarakan adalah hal yang sama, yaitu Batu Karang (Kepha/ Petrus), yang sejak saat itu menjadi nama baru bagi Simon, sehingga ia tidak lagi dipanggil Simon, tetapi Petrus.

W.F. Albright, seorang ahli Kitab Suci Protestan yang dikenal secara internasional sebagai “the dean of biblical studies” menulis demikian, “… Tidak ada bukti bahwa Petrus atau Kepha adalah sebuah nama sebelum jaman Kristen…. Petrus sebagai Batu Karang akan menjadi pondasi dari komunitas di kemudian hari. Yesus… di sini memakai bahasa Aram, bukan Ibrani… Seseorang harus membuang interpretasi yang menyatakan bahwa ‘batu karang’ ini merupakan pengakuan iman Petrus atau pengakuannya akan kemesias-an Yesus. Untuk mengabaikan keutamaan Petrus di antara para murid pada jemaat perdana adalah sebuah pengingkaran suatu bukti…..” ((W.F. Albright  dan C. S. Mann. The Anchor Bible: Matthew (Garden City, NY: Doubleday & Co., 1971), p. 195))

Albright tidak sendirian dalam mengungkapkan interpretasi ini, sebab banyak ahli kitab suci Protestan lainnya, yang juga mengakui bahwa Petruslah Batu Karang yang dimaksud dalam pernyataan Yesus ini. Silakan klik di sini untuk membaca pengajaran mereka, antara lain Oscar Cullmann (Lutheran), Eduard Schweizer, Francis W. Beare dan Thomas G. Long (Reformed), D.A Carson, Herman Ridderbos, Caig Blomberg, Craig Keener (Evangelis Protestan), R. T France (Anglikan).

Senada dengan Albright, Cullmann menuliskan, “Tapi apa yang dimaksudkan oleh Yesus ketika mengatakan: “Di atas Batu Karang ini Aku akan mendirikan Gereja-Ku?” Ide para Reformer bahwa Ia [Yesus] mengacu kepada iman Petrus adalah sangat tidak terbayangkan (inconceivable)…. Sebab tidak ada referensi yang mengacu kepada iman Petrus. Yang ada, paralel/ perbandingan antara “Kamu adalah Batu Karang” dan “di atas Batu Karang ini Aku akan membangun” menunjukkan bahwa Batu Karang yang kedua adalah sama dengan Batu Karang yang pertama. Oleh karena itu, jelaslah bahwa Yesus mengacu kepada Petrus, yang kepadanya Ia telah memberi nama Batu Karang. Ia telah menunjuk Petrus… Dalam hal ini exegesis Gereja Katolik benar, dan semua usaha gereja Protestan untuk menghapuskan interpretasi ini harus ditolak.” ((Oscar Cullmann, dalam artikel “Rock” (petros, petra) trans. and ed. by Geoffrey W. Bromiley, Theological Dictionary of the New Testament (Eerdmans Publishing, 1968), volume 6, p. 108))

Maka di sini kita melihat, bahwa dengan memberi nama “Batu Karang” kepada Simon, maka Ia memberikan kepada Petrus identifikasi yang sangat penting, yang bahkan mengacu kepada diri-Nya sendiri (lih. 1 Kor 10:4). Namun ini tidaklah aneh, sebab memang Yesus mengidentifikasikan Gereja-Nya sebagai Tubuh-Nya sendiri dan Ia adalah Kepalanya (lih. Ef 5:22-33).

Petrus sebagai pemegang Kunci Kerajaan Allah dan diberi kuasa “mengikat dan melepaskan”

1. “Kunci” yang diberikan di sini maksudnya adalah kuasa untuk memimpin dan mengatur Kerajaan Sorga. Dan karena Kerajaan Sorga yang ada di dunia ini adalah Gereja, maka Rasul Petrus (dan para penggantinya) diberi kuasa untuk memimpin Gereja. Karena Gereja direncanakan oleh Yesus untuk terus eksis sampai akhir jaman (Mat 16:18; 28:19-20), maka kuasa memimpin ini diberikan juga kepada para penerus Rasul Petrus.

Di Perjanjian Lama, tugas “pemegang kunci” ini telah digambarkan oleh Elyakim (Yes 22) yang diberi tanggungjawab untuk memegang kunci Rumah Raja Daud, sebagai pengatur rumah tangga, yang menjadi simbol kekuasaan Kerajaan Yehuda, “Maka pada waktu itu Aku akan memanggil hamba-Ku, Elyakim bin Hilkia: Aku akan mengenakan jubahmu kepadanya dan ikat pinggangmu akan Kuikatkan kepadanya, dan kekuasaanmu akan Kuberikan ke tangannya; maka ia akan menjadi bapa bagi penduduk Yerusalem dan bagi kaum Yehuda. Aku akan menaruh kunci rumah Daud ke atas bahunya: apabila ia membuka, tidak ada yang dapat menutup; apabila ia menutup, tidak ada yang dapat membuka.” (Yes 22:20-22)

Dengan diberikannya kuasa ini kepada Elyakim, tentu bukan berarti Elyakim menjadi “lebih tinggi daripada” Raja Daud. Pemberian kunci ini hanya dimaksudkan agar Elyakim menjadi pengurus, pengajar bagi kerajaan raja Daud tanpa ia menjadi lebih tinggi dari Raja Daud. Di PB, oleh Yesus, Sang Raja keturunan Daud, kerajaan Yehuda disempurnakan menjadi Gereja-Nya yang dibangun di atas Rasul Petrus (Mat 16:18-19). Dengan analogi yang sama, kuasa yang diberikan oleh Yesus kepada Rasul Petrus juga tidak membuat Petrus lebih tinggi daripada Yesus. Sebab biar bagaimanapun, Yesus tetaplah Sang Pemilik kunci yang menguasai kunci itu. Pada PL tugas mengatur rumah tangga kerajaan Daud diberikan kepada Elyakim, sedangkan pada PB, tugas mengatur Kerajaan Allah (yaitu Gereja) diberikan kepada Rasul Petrus dan para penerusnya.

Maka istilah ‘kunci’ ini adalah untuk menggambarkan pemberian kuasa yang penuh dan otoritas/ kuasa yang penuh, absolut dan tertinggi yang diberikan kepada Petrus -tentu setelah Kristus sendiri. Jadi “kunci” ini bukanlah hanya berarti kunci pintu masuk saja (pembuka pintu bagi orang-orang yang belum mengenal Kristus untuk mengimani-Nya), tetapi seluruh kunci bagi semua pintu rumah/ Kerajaan Allah tersebut, yang menyangkut seluruh kepemimpinan umat beriman. Tugas ini kemudian dijalankan oleh Magisterium (Paus dan para uskup dalam persekutuan dengan Paus), yaitu tugas/ wewenang untuk mengikat atau melepaskan dalam hal pengajaran iman dan moral (Mat 16:19; 18:18).

2. Menurut ajaran para Bapa Gereja yang akan dibahas di artikel berikutnya, kuasa “mengikat dan melepaskan” adalah kuasa mengajar dan kuasa untuk mengampuni dosa (Mat 16:19). Menurut Suarez, seorang Teolog Scholastik yang menggabungkan ajaran St. Gregorius dan St. Maximus, kuasa memegang kunci ini meliputi tiga hal, yaitu kuasa memberikan sakramen- sakramen, kuasa memimpin/ mengatur dan kuasa untuk mendefinisikan ajaran iman dan moral. ((lihat Suarez, De Poenit., disp xvi.)) Jadi di sini “kunci” bukan sesuatu yang dibagi-bagikan sama rata kepada semua pengikut Kristus. Interpretasi “kunci” di PB harus dilihat dalam konteksnya seperti di PL, sebab di PL pemberian kunci kerajaan Yehuda hanya diberikan kepada Elyakim, maka di PB, juga hanya kepada Rasul Petrus. Sedangkan karena Yesus menginginkan agar Kerajaan-Nya/ Gereja-Nya terus bertahan sampai akhir jaman (Mat 28:19-20), maka pemberian “kunci”/ wewenang ini berlangsung terus sampai kepada para penerus Petrus. Dan karena secara prinsip: yang diberi wewenang selalu tidak pernah mengatasi Yang Memberi wewenang, maka Petrus (dan penerusnya) yang diberi wewenang tidak akan pernah menjadi lebih tinggi daripada Kristus Sang Pemberi wewenang. Sebab apapun yang ditetapkan oleh Petrus adalah yang menjadi ketetapan Kristus. Petrus hanya menjalankan tugas, sesuai dengan wewenang yang diberikan kepadanya.

Flavius Josephus, seorang ahli sejarah di abad ke -1 menuliskan bahwa umat Yahudi pada saat itu memahami istilah “mengikat dan melepaskan” sebagai otoritas untuk mengatur, yang mengikat atau melepaskan masyarakat dari suatu kewajiban, untuk menghukum atau untuk mengampuni, dan untuk menentukan sesuatu sebagai sesuatu yang sah atau tidak sah. Kuasa ‘mengikat dan melepaskan’ ini diberikan oleh Ratu Alexandra (76-67 BC) kepada kaum Farisi. Kuasa inilah yang sering menjadi pertentangan antara para Rabi golongan Shamma dan Hillel, pada jaman Yesus, karena yang diikat oleh golongan yang satu dilepaskan oleh yang lain, demikian sebaliknya. Di sini Josephus tidak meragukan bahwa maksud ungkapan ‘mengikat dan melepaskan’ itu berkaitan dengan otoritas. ((Stanley L. Jaki, The Keys of the Kingdom (Chicago: Franciscan Herald Press, 1986), p.43))  Maka Yesus mengakhiri kesimpangsiuran ini dengan memberikan otoritas yang benar kepada Petrus, yang dipercayakan untuk memimpin Gereja-Nya.

3. Sebenarnya pemberian “kunci” dan wewenang selama pemimpin pergi sejenak, merupakan sesuatu yang wajar. Kita di duniapun menerapkannya, jika seorang pemimpin perusahaan bepergian selama beberapa waktu, maka ia akan memberikan kuasa kepada wakilnya yang akan berkuasa mengatur selama ia pergi. Hal yang sama terjadi pada Mat 16:13-19. Yesus memberikan kuasa kepada Petrus (dan para penerusnya), karena Ia menyadari tak bisa selamanya berada di dunia secara fisik untuk memimpin umat-Nya.

Kuasa ‘mengikat dan melepaskan’ yang bersifat tidak mungkin salah (infallible)

Kuasa infalibilitas yang diberikan Kristus kepada Petrus dan para penerusnya adalah berdasarkan perkataan Yesus,  “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini Aku akan mendirikan jemaat-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya. Kepadamu akan Kuberikan kunci Kerajaan Sorga. Apa yang kauikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kaulepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga.” (Mat 16:19) Karisma infalibilitas ini diberikan oleh Tuhan Yesus untuk melindungi Gereja dari kesalahan dan perpecahan, yang menghantar Gereja kepada “alam maut” (ay. 18). Tanpa kuasa wewenang mengajar yang dijamin tidak salah ini, maka Gereja tidak mempunyain patokan yang pasti  dalam hal ajaran iman dan moral. Jika demikian halnya, maka kebenaran menjadi sesuatu yang relatif dan tiap pribadi dapat mengklaim pemahamannya yang paling benar, lalu memisahkan diri dari kesatuan Gereja, dan ini tidaklah dikehendaki oleh Kristus, sebab Ia menghendaki agar Gereja-Nya selalu bersatu (lih Yoh 17:20-23).

Maka yang dibicarakan dalam hal infalibilitas ini bukanlah mencakup segala sesuatu tentang diri Petrus dan para penerusnya; dan bahwa mereka tidak mungkin salah sebagai manusia. Ini adalah pandangan yang sangat keliru! Contoh yang sering diajukan untuk menyanggah infalibilitas Petrus adalah kisah Paulus yang pernah menentang Rasul Petrus karena kesalahannya (Gal 2: 11-14). Namun yang salah di sini bukanlah ajaran Petrus, tetapi sikapnya yang tidak konsisten dalam menerapkan keputusan Konsili Yerusalem perihal menyikapi kesamaan kedudukan umat yang bersunat dan tidak bersunat.  Maka hal ini bukan bukti yang menentang infalibilitas. Sebab sebagai manusia Petrus (dan para penerusnya) bisa salah, namun yang tidak bisa salah di sini hanya ketika ia sedang menjalankan perannya sebagai Petrus, pemimpin Gereja, pada saat ia mengumumkan ajaran iman dan moral secara definitif yang berlaku untuk seluruh Gereja.

Karisma infalibilitas ini tidak berlaku dalam segala hal, namun hanya dalam hal iman dan moral, yaitu pada saat mereka mengajarkan dengan tindakan definitif, seperti yang tercantum dalam Dogma dan doktrin resmi Gereja Katolik. Maksud infalibilitas di sini adalah Yesus memberikan kuasa kepada Petrus dan para penerusnya untuk memberikan pengajaran yang tidak mungkin salah dalam hal iman dan moral, yang merupakan ketentuan yang ‘mengikat’ manusia di dunia dan kelak diperhitungkan di sorga.

Kepemimpinan dan Karisma infalibilitas ini diberikan juga kepada para penerus rasul Petrus

Mungkin ada umat Protestan yang beranggapan bahwa kuasa memimpin Gereja dan karisma infalibilitas ini hanya diberikan kepada Petrus saja, tetapi tidak kepada para penerusnya. Namun ini sungguh tidak masuk akal, karena Kristus berjanji akan menyertai Gereja-Nya sampai akhir jaman. Jika para rasul dan Gereja awal saja memerlukan pemimpin, apalagi Gereja-Nya di kemudian hari! Sebab, banyak dari jemaat awal mendengar pengajaran langsung dari Kristus sendiri dan para rasul-Nya namun, setelah para rasul wafat, maka Gereja bahkan semakin membutuhkan adanya otoritas kepemimpinan yang dapat menjaga kemurnian ajaran-ajaran mereka agar dapat diturunkan dengan baik tanpa ‘dikorupsi’.

Maka jika Yesus memberikan kuasa untuk “mengikat dan melepaskan” tersebut kepada para rasul (Mat 18:18), namun Rasul Petrus menerima karisma ini secara pribadi pada saat Tuhan Yesus memberikan kepadanya “kunci” kerajaan surga. Tuhan Yesus mengetahui pentingnya otoritas ini, dan karena itu, tidak mungkin Yesus memberikan kuasa ini kepada Petrus dan para penerusnya, tanpa jaminan bahwa Ia akan menghindarkan mereka dari mengajarkan ajaran yang sesat pada saat mereka menjalankan tugas mereka sebagai gembala Gereja.

Yesus hanya mendirikan satu Gereja, dan Gereja-Nya ini adalah yang dipimpin Petrus

Pada Mat 16:18, Yesus mengatakan akan mendirikan Gereja-Nya (bukan gereja- gereja), dan ini sejalan dengan pengajaran-Nya di ayat-ayat yang lain misalnya:

“Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala.” (Yoh 10: 16)

“Simon, Simon, lihat, Iblis telah menuntut untuk menampi kamu seperti gandum, tetapi Aku telah berdoa untuk engkau, supaya imanmu jangan gugur. Dan engkau, jikalau engkau sudah insaf, kuatkanlah saudara-saudaramu.” (Luk 22: 31-32)

“Dan bukan untuk mereka ini saja Aku berdoa, tetapi juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku oleh pemberitaan mereka; supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku. Dan Aku telah memberikan kepada mereka kemuliaan, yang Engkau berikan kepada-Ku, supaya mereka menjadi satu, sama seperti Kita adalah satu: Aku di dalam mereka dan Engkau di dalam Aku supaya mereka sempurna menjadi satu, agar dunia tahu, bahwa Engkau yang telah mengutus Aku dan bahwa Engkau mengasihi mereka, sama seperti Engkau mengasihi Aku.”

Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus pula kepadanya untuk kedua kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus kepada-Nya: “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.” Kata Yesus kepadanya untuk ketiga kalinya: “Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Maka sedih hati Petrus karena Yesus berkata untuk ketiga kalinya: /”Apakah engkau mengasihi Aku?” Dan ia berkata kepada-Nya: “Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku.”

Sejak awal Yesus bermaksud mendirikan hanya satu Gereja, dan Ia telah memilih Petrus sebagai pemimpinnya. Ia sudah menyadari bahwa Petrus akan jatuh menyangkal Dia, namun Ia juga mengetahui bahwa sesudah itu, Petrus akan insaf. Yesus secara khusus mendoakan Petrus supaya ia dapat bangkit untuk menguatkan para murid yang lain. Di sini Yesus menugasi Petrus untuk menjadi pemimpin, yang menggembalakan kawanan murid-Nya yang lain. Maka Yesus tidak pernah bermaksud untuk mendirikan Gereja yang dikoyakkan oleh banyak perpecahan dan persaingan antar denominasi. Ia juga tidak mungkin menginginkan adanya “kesatuan yang tidak kelihatan”, sebab hanya kesatuan yang kelihatan-lah yang dapat dilihat oleh dunia. Jika di suatu komunitas Kristen yang terkecil sekalipun membutuhkan seorang pengajar, pemimpin dan pemersatu, seperti halnya peran ayah dalam keluarga, maka menjadi sangat nyata bahwa Gereja di seluruh dunia memerlukan seorang pemimpin. Kristus sepenuhnya mengetahui akan hal ini, sehingga Ia menunjuk Petrus sebagai pemimpin Gereja-Nya di dunia untuk menggembalakan kawanan umat pilihan-Nya (lih. Yoh 21:15-17).

Jika otoritas kepemimpinan di Gereja ini diabaikan, maka yang terjadi adalah perpecahan gereja, dan ini sudah terbukti sendiri dengan adanya banyak sekali denominasi Protestan (sekitar 28.000). Perpecahan ini umumnya dimulai dengan ketidaksesuaian pemahaman dalam hal doktrin baik iman maupun moral antara para pemimpin gereja Protestan, dan karena tidak ada otoritas yang mengaturnya, masing-masing bebas memisahkan diri dan mendirikan denominasi yang baru.

Gereja sebagai pilar kebenaran

Gereja yang dipimpin oleh Petrus dan para penerusnya yang mengajarkan ajaran yang tidak mungkin salah itulah yang dimaksudkan oleh Rasul Paulus ketika mengatakan demikian, “Jadi jika aku terlambat, sudahlah engkau tahu bagaimana orang harus hidup sebagai keluarga Allah, yakni jemaat [Gereja] dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran.” (1 Tim 3:15). Demikianlah, kita ketahui bahwa memang Gerejalah yang melanjutkan secara turun temurun ajaran Kristus dan para rasul, baik yang lisan (dalam Tradisi Suci) dan yang tertulis (dalam Kitab Suci). Kita tidak dapat menyangkal fakta bahwa Magisterium Gereja Katolik-lah yang menentukan kanon Kitab Suci di abad ke 4 melalui Tradisi Suci, sehingga umat Kristiani sekarang mempunyai Kitab Suci.

Sebagai umat Katolik, kita sudah selayaknya bersyukur kepada Tuhan, atas janji Tuhan yang telah dibuktikannya selama lebih dari 2000 tahun ini, bahwa Gereja-Nya yang dipimpin oleh Petrus dan para penerusnya, selalu mengajarkan Kebenaran, sehingga dapat terus bertahan dalam kesatuan, dengan Kristus sebagai Kepalanya.

Syukur bagi-Mu ya Tuhan, atas karunia kepemimpinan Petrus dan para penerusnya dalam Gereja Katolik. Bantulah kami agar dapat selalu hormat dan taat kepada pengajaran mereka, sebagai tanda hormat dan ketaatan kami kepada-Mu yang telah memilih mereka. Amin.”

[Bersambung ke artikel Keutamaan Petrus (2): Bukti sejarah tentang keberadaan Rasul Petrus di Roma]

40
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
17 Comment threads
23 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
22 Comment authors
Antonio Mario PaulusMarzelanonymousMonicaPetrus Sudjono Recent comment authors
Antonio Mario Paulus
Guest
Antonio Mario Paulus

Syalom. Sebelumnya saya ingin mengucapkan terima kasih kepada tim katolisitas atas pelayanannya memperkenalkan iman dan ajaran Gereja Katolik Roma. Banyak pengetahuan tentang iman dan ajaran Gereja Katolik Roma yang saya dapatkan dari website ini. Dalam tulisan ini ada beberapa hal yang saya ingin tanyakan mengenai Suksesi Pathriakh Agung Anthiokhia selaku penerus Rasul Petrus. Mengapa keutamaan Rasul Petrus hanya tertuju pada Pathriakh Agung Roma selaku penerus Rasul Petrus padahal Pathriakh Agung Anthiokhia pun juga mewarisi jalur suksei apostolik Rasul Petrus? Apakah pada Pathriakh Agung Anthiokhia selaku penerus Rasul Petrus juga mewarisi kuasa menggembala secara universal, kuasa memutus-sambungkan, kuasa kunci Kerajaan Surga?… Read more »

Marzel
Guest
Marzel

Syalom Lisa, Saya tertarik untuk menanggapi pernyataan Lisa di atas. Semoga admin Katolisitas mengijinkan. Berikut pernyataan Lisa: “KRISTUSLAH yang Menjadi DASAR PONDASI IMAN KRISTIANI Saya adalah pengikut KRISTUS, bukan pengikut Petrus, bukan pengikut Bunda Maria, bukan pengikut Paus Hanya KRISTUS” Tanggapan saya: Saya sangat setuju dengan pernyataan Lisa di atas. Bahwa saya yg beragama Kristen (pengikut Kristus) yang bernaung dibawah arahan Gereja Katolik Roma, juga melandaskan iman saya pada Kristus Yesus. Bukan pada Bunda Maria, para paus, atau para kudus di surga. Atau pada St. Petrus maupun St. Paulus sekalipun. Tetapi saya ingin menegaskan bahwa seluruh umat Katolik Roma pun,… Read more »

anonymous
Guest
anonymous

Dear katolisitas, terima kasih atas pembahasannya, saya pernah diskusi dengan seorang teman mengenai hal ini dan berikut adalah tanggapannya. Saya sharingkan di sini karena saya pun ingin tahu apa jawaban dari sanggahannya. ‎5 Poin Alasan Penolakan Gereja Orthodox bahwa Batu Karang (dalam bahasa aslinya Petra) dalam Injil Matius 16 : 18 dirujukkan kepada Petrus. 1. Tak sesuai dengan Iman Gereja Perdana, Para Bapa Gereja Perdana telah menjelaskan iman mereka yang sampai saat ini masih sama dengan iman Gereja Orthodox yakni Batu karang bukanlah pribadi Petrus melainkan Pengakuan Petrus. “Kemudian, Iman adalah dasar Gereja, sebab hal itu tidak dikatakan pada daging… Read more »

Monica
Guest
Monica

Shalom katolisitas, Beberapa waktu yang lalu saya berpikir mengenai santo Petrus, dia dipilih menjadi pemimpin umat Allah, tetapi dia pernah menikah, jadi kalau jadi pastur apakah jika dahulu pernah menikah boleh jadi pastor? Kemudian beberapa waktu yang lalu seorang teman saya mengatakan bahwa pada zaman dahulu, sebelum ditetapkan secara hukum kanonik, pastor, uskup boleh menikah dan punya anak, apakah itu benar? Apakah ada masa di mana para pastor dan imam boleh menikah dan diizinkan Gereja? Yang terakhir, benarkah pernah ada seorang wanita yang pernah menyamar menjadi laki-laki untuk menggantikan kakaknya menjadi imam dan akhirnya, tanpa diketahui ia akhirnya diangkat menjadi… Read more »

Antares
Guest

Masalah Simon Kefa atau Petrus bukan satu satu sebagai GEREJA yang dipatok secara Dogma, tapi Yesus berkata jadikanlah semua bangsa muridKu ini JUGA amanat agung kepada MURID MURIDNYA murid lain juga mendapat Amanat agung, kalau hanya Petrus dikatakan pemegang Kunci Kerajaan di Surga jadi Murid yang lain GMANA>>>????

Gak masuk Surga kah???
Dogma gereja yang melakukan / menciptakan pemikiran itu hanya Eklusif namanya buat gereja Katolik dan ini bertentangan dengan amanat Agung

CEK http://www.youtube.com/user/soreshmessianic?blend=22&ob=5#p/u/5/UCvHVw6nxCg

Stefanus Tay

Shalom Antares, Terima kasih atas tanggapannya. Kalau anda tidak mempercayai bahwa Kristus mendirikan Gereja di atas rasul Petrus (lih. Mat 16:16-19) seperti yang juga telah diterangkan di atas, maka silakan untuk memberikan argumentasi. Amanat Agung di Mat 28:19-20 tidak bertentangan dengan Mat 16:16-19. Bahwa Yesus memberikan perintah untuk memberitakan kabar gembira, menjadikan seluruh bangsa menjadi murid Kristus dan membaptis mereka memang benar, namun dalam amanat agung ini, Yesus tidak pernah memberikan kunci Kerajaan Sorga kepada semua orang. Bandingkan dengan Mat 16:16-19, di mana Kristus memberikan kunci Kerajaan Sorga kepada Petrus. Jadi, pemberian kunci Kerajaan Sorga ini bukanlah karangan Gereja Katolik,… Read more »

Petrus Sudjono
Guest
Petrus Sudjono

Syaloom, Pengasuh ijinkan saya ikut nimbrung dalam topik ini. Saya ikut diskusi ini dengan cuplikan dalam doa yang diajarkan oleh Tuhan Yesus sendiri (Allah Putra) di Mat 6:10 yaitu : “datanglah Kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di Sorga” Mari kita bahas satu anak kalimat doa “datanglah Kerajaan-Mu”, Mu dalam doa tersebut selama ini kami orang Katolik meyakini adalah Allah Bapa, dan kami meyakini bahwa Kerajaan Allah Bapa di Surga adalah hanya “satu” dan mutlak tidak ada Kerajaan Allah lain di Surga. Kemudian anak kalimat “jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di Sorga”, yang mempunyai arti bahwa Yesus berkehendak bahwa kondisi… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Petrus, Terima kasih atas komentarnya. Persatuan umat beriman memang dapat kita hubungkan dengan doa Bapa Kami, yaitu petisi ke-tiga “Jadilah kehendak-Mu di atas bumi seperti di dalam Sorga”. Kalau di dalam Sorga ada kebahagiaan sejati dan persatuan sejati antara Kristus dan seluruh umat Allah dan kalau Kristus adalah Kepala Gereja dan Tubuh Mistik Kristus adalah Gereja Katolik, maka memang kehendak Tuhan di dunia ini adalah agar umat Allah dapat bersatu dalam kawanan-Nya. Persatuan umat beriman juga merupakan doa dari Yesus di Yoh 17, yang dipanjatkan-Nya sebelum Dia menderita sengsara. Oleh karena itu, mari, dalam kapasitas kita masing-masing, kita berusaha… Read more »

stan
Guest
stan

Mengapa St. Petrus dan St. Paulus begitu penting sekali kepada gereja awal kita? Apakah role mereka pada waktu itu?

Caecilia Triastuti
Editor

Shalom Stan, Ijinkan saya membantu memberikan jawaban. Santo Petrus adalah murid Yesus yang pertama, diberiNya nama khusus “Batu Karang”, kepada siapa Tuhan mempercayakan Gereja-Nya untuk digembalakan dan yang atasnya Kristus mendirikan Gereja-Nya (Mat 16 : 18). Peran dan keutamaan St Petrus secara lebih jelas dan gamblang dapat dibaca di sini, silahkan klik dan di sini, silahkan klik  Sedangkan St Paulus dikuduskan dan dipilih Allah melalui peristiwa pertobatan yang sangat khusus (Kis 9 : 1 – 19a), di mana tugas utamanya adalah memberitakan nama-Nya kepada bangsa-bangsa lain (non-Yahudi) dan para raja serta orang-orang Israel (Kis 9 : 15). St Paulus meletakkan… Read more »

tiyang desa
Guest
tiyang desa

Anda menafsirkan ketika Tuhan Yesus berkata: engkau adalah Petrus, diatas batu karang ini akan kudirikan jemaat-Ku, anda menafsirkan yg dimaksud batu karang adalah benar-benar untuk petrus, kemudian perkembangannya anda mengakui Paus sebagai penerus petrus, menurut saya tidak demikian kata “batu karang ini ” itu kiasan untuk menunjuk pd diri Tuhan Yesus sendiri sbg batu penjuru sebagai dasar Bait Allah yg kudus ini sama artinya ketika Tuhan Yesus berkata: robohkanlah bait Allah ini dan dalam 3 hari akan kudirikan lagi, bait Allah ini kata kiasan yg menunjuk pada diri Tuhan Yesus sendiri. sudah lama keberadaan Paus vatikan byk disoorot sbg Antikris… Read more »

Tristan
Guest
Tristan

Shalom team katolistas Kecukupan Alkitabiah hanya didalam ke-66 kitab. Anggapan ketidakcukupan inilah mengakibatkan keluarnya ajaran “SOLA POPE.” Sola Pope adalah : 1. Paus adalah wakil tunggal KRISTUS (Vicar of CHRIST) 2. Paus mengeluarkan ketetapan wahyu baru tanpa salah ( Infallible) 3. Paus mengeluarkan ketetapan semua ajaran tradisi GRK Kekristenan begitu menghormati wibawa Firman Tuhan yang tertulis sehingga tidak ada yang berani menambah ataupun menguranginya. • Ulangan 12:32 Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu lakukan dengan setia, janganlah engkau menambahinya ataupun menguranginya. Kalau Alkitab sudah lengkap dalam ajaran iman dan moral ternyata ada tambahan ajaran yang sejenis dan infallible oleh Paus,berarti… Read more »

Abraham Martinus Setyabudi
Guest
Abraham Martinus Setyabudi

[Dari Katolisitas: komentar ini dipindahkan dari bagian artikel lain, karena topik yang dibahas lebih cocok dengan artikel di atas] @ Inggrid, Rasul Petrus tidak mengacu pada gereja Katolik, Pemimpin katolik adalah seorang paus, Petrus bukanlah Paus karena Petrus menikah dan punya mertua sedangkan paus tidak menikah. kematian Petrus dengan cara yang sangat kejam dengan disalib terbalik di Roma yang mana sebagai pusat Katolik. Dia mati sebagai martir karena disuruh menyembah dewa2 roma tetapi dia mempertahankan injil sampai mati. Kalau Petrus sebagai rasul yang dianggap sebagai pendiri Katolik mengapa dia dibunuh di Roma yang merupakan pusat Katolik? Katolik adalah bentukan kaisar… Read more »

kris
Guest
kris

Ini sedikit tanggapan berdasarkan apa yang saya ketahui. 1. Karena Petrus menikah maka Petrus bukan Paus?. (Yang saya tahu, dua premis ini tidak punya hubungan sebab akibat). 2. Roma sebagai Pusat Katolik?. (Yang saya tahu, saat Petrus masuk ke Roma. Roma adalah pusat negara Romawi. Kristiani (atau marilah kita sebut Katolik saat itu) masih berupa gerakan bawah tanah pada waktu itu.) 3. Katolik adalah bentukan Kaisar Roma?. (Yang saya tahu, Katolik didirikan oleh Kristus sendiri, saat Kristus mengangkat Petrus sebagai batu karangnya. Baru sesudah bertahun2 kemudian Kaisar Roma mengangkat Katolik sebagai agama resmi negara Romawi karena perkembangannya yang sangat pesat… Read more »

johanes
Guest
johanes

@Abraham: salam kenal, Anda menggunakan prinsip ganda dalam menilai sesuatu. disatu pihak: Anda meragukan ajaran Katolik mengenai Petrus sebagai Paus pertama di Gereja katolik di pihak lain: Anda mengakui Tradisi suci gereja Katolik mengenai Yesus bertemu Petrus di jalan menuju Roma yang sangat terkenal dengan istilah: QUO VADIS?.sementara apa yang anda ungkapkan ini tidak tertulis dalam Alkitab. Dari tulisan anda, saya ada 2 kesimpulan: 1. Anda seorang Katolik yang pindah ke Protestan: Saran: perdalamlah pengetahuan katolik di web ini. belajarlah seperti anak sulung yang akhirnya menyesal dan pulang kembali ke rumah bapanya.Sebab rumah Bapanya sangat berkelimpahan. 2. Anda seorang Protestan:… Read more »

Leonard
Guest
Leonard

Shalom,

Juga saya masih belum mengerti soal penggunaan kata “petros” dan “petra”, jadi “petra” diatas itu digantikan dari kata “petros” diubah menjadi “petra” karena itu benda mati? Benarkah begitu?

Salam damai Kristus Tuhan.

Leonard
Guest
Leonard

Shalom,

Akhirnya, ia menuju Roma (yang disebut Babilon 1 Pet 5:12-13). Mengapa Babylon disebut juga Roma?
http://en.wikipedia.org/wiki/Babylon, Bukannya berbeda yah?

Terima Kasih.

Stefanus Tay

Shalom Leonard, Terima kasih atas pertanyaannya. Tentang Petrus datang ke Roma, anda dapat membacanya di sini (silakan klik). Tentang Babilon adalah Roma di ayat 1 Pet 5:13, maka kita dapat menjabarkannya dengan beberapa bukti ini: (saya telah menuliskannya di sini – silakan klik) a) Babilon adalah nama lain dari Roma. Kita dapat melihat di kitab Wahyu, dimana para malaikat mengatakan “Sudah rubuh, sudah rubuh Babel, kota besar itu, yang telah memabukkan segala bangsa dengan anggur hawa nafsu cabulnya.”(Why 17:5). Dan lebih lanjut dikatakan “Sudah rubuh, sudah rubuh Babel, kota besar itu, dan ia telah menjadi tempat kediaman roh-roh jahat dan… Read more »

Edwin
Guest
Edwin

Saya hanya ingin menyampaikan sedikit koreksi.
8. Tuhan Yesus Kristus
Dengan memberikan nama “Batu Karang” kepada Petrus dan mengatakan bahwa Ia akan jemaat/ Gereja-Nya atasnya (Mat 16: 15-19).

Menurut saya, moderator perlu menyisipkan satu kata kerja setelah kata “akan”. Yang kalau menurut perkiraan saya kata kerja tersebut adalah “mendirikan. Dengan demikian kalimat tersebut akan menjadi lebih logis.

8. Tuhan Yesus Kristus
Dengan memberikan nama “Batu Karang” kepada Petrus dan mengatakan bahwa Ia akan mendirikan jemaat/ Gereja-Nya atasnya (Mat 16: 15-19).

Terima kasih

Stefanus Tay

Shalom Edwin,
Terima kasih atas koreksinya. Kami telah mengoreksi kekurangan tersebut. Kalau anda masih menemukan ada kejanggalan-kejanggalan yang lain, sebagai akibat kekurang-telitian kami, silakan menyampaikannya kepada kami, sehingga kami dapat mengkoreksinya dengan segera.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef & ingrid – http://www.katolisitas.org

hendri
Guest
hendri

Syukur kepada Allah!!

yohanes yudi purnomo
Guest
yohanes yudi purnomo

Para ahli Alkitab sudah menjelaskan, dan mereka dari gereja Protestan… tapi masih ada dari mereka yang tidak mempercayainya…???
Inilah yang menjadi masalah antara gereja yang mempunyai pemimpin dengan yang tidak… bisa membuat ketetapan sendiri demi kemenangan dan kemenangan…
Semoga Tuhan menerangi jiwa kita semua…

yang berdosa,
yohanes yudi

Riswan Adrian
Guest
Riswan Adrian

Salam kasih semua Pengen ikut nimbrung nih, kalau tidak salah alkitab berbicara bahwa kitab suci atau firman Tuhan berguna utk mendidik, menuntun orang kepada kebenaran, menyatakan kesalahan dst…. jadi setiap orang percaya yg mempunyai kerinduan utk mengerti sabda Tuhan langsung mencari kepada sumber yg paling terutama yaitu Firman Tuhan.Yang saya mau tanya apa benar dalam hal petafsiran Firman Tuhan apakah yg boleh mentafsirkan Firman Tuhan itu hanya pimpinan2 petinggi gereja katolik? apakah hamba2 Tuhan non katolik yg memberitakan Firman Tuhan salah dalam memberikan pengertian Firman Tuhan? Alkitab tidak bisa berdiri sendiri harus di topang dengan tradisi2 suci dan magnistrum gereja,… Read more »

johanes
Guest
johanes

SANGAT INDAH……

Laurensius
Guest
Laurensius

Terima kasih untuk bu Inggrid atas artikelnya, saya tunggu bagian 4-6.

Untuk Lisa, kebetulan saat ini masih berlangsung diskusi mengenai Petrus di forum Catholic.com,
http://www.forums.catholic.com/showthread.php?t=426671 (kalau moderator berkenan saya memberi link), kalau anda tertarik, anda bisa ikut berpartisipasi.

Lisa
Guest
Lisa

Salam kasih Ibu Ingrid, terimakasih atas jawaban2 Ibu. Ada beberapa keberatan yang ingin saya ajukan sebagai pertanyaan dan juga sanggahan atas argumen ibu. Mohon kiranya ibu dapat memebrikan tanggapan. Ibu menuliskan: Kepada Petrus, Tuhan YESUS memberikan kuasa untuk menentukan apa yang diperbolehkan dan apa yang tidak diperbolehkan dalam hal iman dan moral, yang menjadi arti dari istilah “apa yang kauikat di dunia akan terikat di surga, apa yang kau lepas di dunia akan terlepas di surga.” (Mat 16: 19). Maka “hal tidak mungkin salah” ini hanya bersangkutan ketika Petrus (dan para penerusnya) mengajar dalam hal iman dan moral, dan tidak… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X