Kesempurnaan Rancangan Keselamatan Allah

Pendahuluan

Orang berkata “banyak jalan menuju Roma”. Kita sering mendengar pepatah tersebut, dan orang-orang sering menerapkannya di dalam konteks agama, seolah-olah semua agama adalah sama karena mengajarkan tentang Tuhan dan perbuatan baik. Toh akhirnya, semua itu akan membawa seseorang kepada keselamatan. Namun, kenyataannya dibutuhkan peta yang baik untuk sampai ke Roma. Tanpa peta dan rencana yang baik, maka sangat sulit seseorang untuk sampai ke Roma dengan selamat. Dalam tulisan ini, maka kita akan melihat bahwa sesungguhnya Tuhan telah memberikan peta dan rencana keselamatan manusia yang memuncak pada kematian Yesus di kayu salib dan kebangkitan-Nya. Dan dari misteri Paska inilah Gereja dilahirkan untuk menjadi sakramen keselamatan bagi seluruh bangsa untuk memenuhi pesan Yesus yang terakhir, yaitu “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan ajarlah mereka melakukan segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu. Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.” (Mt 28:19-20).

Keselamatan adalah suatu tujuan

Doktrin tentang keselamatan adalah salah satu hal yang paling penting dalam setiap agama, karena keselamatan adalah tujuan akhir hidup manusia atau “END“. Tujuan akan menentukan langkah hidup seseorang. Jika seseorang mempunyai tujuan hidup untuk menjadi kaya, maka orang tersebut akan terus berusaha untuk menjadi kaya dengan tidak melewatkan peluang-peluang yang ada atau bahkan membuat peluang-peluang yang baru. Seseorang yang tujuan hidupnya menjadi seorang pemain bulutangkis yang terkenal akan berlatih secara teratur, baik latihan fisik maupun teknik bermain bulutangkis dengan baik. Dari sini kita melihat bahwa setiap usaha senantiasa dipengaruhi oleh tujuan akhir. Bahkan dapat dikatakan, bahwa seseorang yang tidak mempunyai tujuan akhir, tidak dapat mengambil keputusan dengan baik dan tidak akan mempunyai prinsip yang teguh.

Setiap agama mempunyai konsep keselamatan, baik tujuan akhir atau keselamatan itu sendiri maupun cara untuk mencapainya. Konsep ini dapat merupakan permenungan dari pemikiran manusia maupun dari wahyu Allah, seperti yang ditunjukkan oleh agama-agama yang mempercayai satu Tuhan. Untuk mengkaji konsep keselamatan tersebut, maka satu hal yang dapat menjadi tolak ukur adalah keharmonisan antara akal budi dan wahyu, karena keduanya bersumber dari Tuhan yang sama, sehingga tidak mungkin bertentangan. Jadi pada saat seseorang memaparkan konsep keselamatan, namun menyimpang dari akal sehat, maka konsep keselamatan tersebut perlu diragukan. Menyimpang dari akal sehat, misalnya adalah meragukan keadilan, kebaikan, dan kasih Tuhan. Hal yang lain adalah kalau konsep keselamatan tersebut bertentangan dengan hukum kodrat, misalkan: melakukan kekerasan, membunuh sesama, dll.

Bagi orang Katolik dan juga agama yang percaya akan satu Tuhan, maka tujuan akhir dari keselamatan adalah bersatu dengan Tuhan, walaupun konsep persatuan dalam tiap-tiap agama itu berbeda satu sama lain. Bagi umat Katolik, wujud persatuan dengan Tuhan adalah “beatific vision“, dimana seseorang dapat melihat Allah muka dengan muka, dapat mengetahui dan mengasihi Tuhan. Ini adalah perwujudan kasih yang sempurna, di mana dalam kehidupan kekal, manusia dapat memberi dan menerima kasih secara sempurna di dalam kehidupan Tritunggal Maha Kudus. Tujuan akhir ini adalah tujuan yang bersifat adi kodrati atau “supernatural“, yang melebihi tujuan akhir dari manusia yang sesuai dengan kodrat manusia. Hal ini disebabkan karena, melalui Pembaptisan, Tuhan mengangkat derajat manusia, sehingga manusia dapat menikmati kebahagiaan kekal bersama dengan Tuhan.

Artikel ini akan membahas tentang beberapa aspek dalam keselamatan dan hubungannya antara satu dengan yang lainnya, yaitu: 1) Penciptaan, 2) Dosa asal, 3) Inkarnasi, 4) Gereja, 5) Sakramen Pembaptisan, dan 6) Sakramen-sakramen lainnya, terutama Ekaristi.

Tuhan menciptakan manusia menurut gambaran-Nya.

Karena Tuhan adalah maha baik dan maha bijaksana, maka segala rancangan dan ciptaan-Nya adalah baik dan sempurna sesuai dengan kodrat yang diberikan. Di dalam kitab Kejadian, dikatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambaran Allah (Kej 1:26-27). Kemudian Tuhan mengatakan bahwa itu adalah sangat baik (Kej 1:31). Pada saat Tuhan menciptakan segala yang ada di bumi, maka Tuhan hanya bersabda, dan semuanya terjadi. Namun pada saat Tuhan menciptakan manusia, Dia melakukan suatu aktifitas yang tidak hanya bersabda, yaitu membentuk manusia dari tanah, dan kemudian Tuhan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidung manusia (Lih. Kej 2:7). Dari sini kita dapat melihat bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan lebih sempurna dibandingkan dengan semua yang ada di alam semesta, walaupun hanya sedikit lebih rendah dibandingkan dengan malaikat (lih. Ibr 2:7).

Pada saat Tuhan mengatakan bahwa manusia diciptakan menurut gambaran Allah, ini berarti bahwa manusia diciptakan sebagai mahluk spiritual, dan di dalam kondisi yang berkenan di hadapan Allah. Hal ini dikarenakan manusia diberikan suatu berkat yang dinamakan “rahmat kekudusan” dan juga “preternatural gifts1. Manusia juga dikaruniai akal budi, yang terdiri dari akal (intellect) dan keinginan (will). Dan akal budi inilah yang membuat manusia mempunyai kodrat untuk mengenal dan mengasihi pencipta-Nya.2 Dan sesuai dengan prinsip bahwa “segala sesuatu bergerak menuju tujuan akhir“, maka Tuhan telah memateraikan dalam diri manusia, yaitu keinginan untuk mencapai tujuan akhir untuk bersatu dengan Penciptanya, yaitu Tuhan.3

Dosa membuat manusia terpisah dari Allah.

Akal budi yang menjadi kodrat manusia, yang diciptakan menurut gambaran Allah adalah merupakan suatu berkat yang begitu indah. Dengan karunia akal budi, manusia mempunyai keinginan bebas, termasuk kebebasan untuk berkata “tidak” atau “ya” terhadap Penciptanya. Ini adalah suatu bentuk kasih Tuhan kepada manusia. Pada saat seseorang mengasihi, maka ia ingin memberikan kebebasan kepada orang yang dikasihi untuk mengasihi dengan bebas tanpa paksaan. Namun kebebasan yang disalahgunakan inilah yang menjadi sumber dosa pertama.

Adam dan Hawa berdosa pada saat mereka berkata “ya” terhadap godaan setan dan berkata “tidak” terhadap perintah Tuhan (Lih. Kej 3:1-7), atau pada saat manusia pertama menempatkan ciptaan lebih tinggi dari pada Sang Pencipta. Pada saat mereka menempatkan baik dan buruk dengan parameter mereka sendiri, dan bukan dari Tuhan, maka mereka tidak berada di dalam kasih Tuhan dan kebenaran. Atau dengan kata lain, mereka menjadi sombong dan lupa akan hakekat mereka yang sesungguhnya sebagai ciptaan yang tidak mungkin menjadi pencipta. Manusia seharusnya bergantung kepada Penciptanya terutama dalam menentukan yang benar dan yang salah. Jika kita berontak dari Allah dan ingin menentukan sendiri akan apa yang benar dan salah, maka kita menjadi seperti Adam dan Hawa yang jatuh ke dalam dosa asal.

Karena Tuhan adalah kudus (Maz 99:9) dan kasih (1 Yoh 4:8), maka dosa – yang berlawanan dengan kekudusan Tuhan dan merupakan penolakan akan kasih Allah – secara otomatis memisahkan manusia dengan Tuhan. Di dalam kitab kKejadian digambarkan manusia diusir dari Taman Firdaus (lih. Kej 3:22-24). Karena manusia pertama gagal untuk meneruskan “rahmat kekudusan atau sanctifying grace” dan “preternatural gifts4 yang telah diberikan Allah secara cuma-cuma, maka seluruh umat manusia kehilangan berkat-berkat ini.

Terlepas dari Tuhan dan terbelenggu oleh dosa, maka manusia tidak dapat berbuat apa-apa, seperti yang dikatakan oleh Yesus bahwa di luar Allah, manusia tidak dapat berbuat apa-apa (lih. Yoh 15:4). Karena dosa adalah penolakan manusia akan kasih Allah, maka dosa adalah ketidakadaan kasih. Oleh karena itu, dosa hanya dapat digagalkan dengan mengisinya dengan kasih. Namun terpisah dari Allah, maka manusia menjadi semakin tidak berdaya, karena ketiadaan kasih menjadi semakin dalam. Atau dengan kata lain, kasih adalah suatu pemberian, dan oleh karena manusia yang berdosa tidak punya kasih, maka ia tidak dapat memberikan kasih itu. Sebab seseorang tak dapat memberikan kasih kalau ia tidak terlebih dahulu mempunyai kasih itu. Oleh karena itu, manusia tidak dapat melepaskan diri dari belenggu dosa, tanpa bantuan Tuhan, Sang Kasih. Dan semakin manusia menjauh dari Allah atau Kasih itu sendiri (lih. 1 Yoh 4:8), maka manusia semakin tidak memiliki kasih dan semakin tidak berdaya untuk melepaskan diri dari belenggu dosa.

Karena dosa adalah suatu perlawanan dari hukum Tuhan, maka secara kodrat, dosa mempunyai suatu konsekuensi. Sebagai contoh, Kalau kita melanggar peraturan lalu lintas, maka kita juga menanggung akibat dari pelanggaran kita. Semakin yang dilanggar mempunyai derajat yang lebih tinggi, maka akibatnya akan semakin besar.

Karena manusia berdosa terhadap Tuhan yang mempunyai martabat yang begitu tinggi, maka manusia menjadi begitu berdosa dan tidak dapat menebusnya sendiri. Bayangkanlah, apakah ada bedanya kalau kita menghina teman kita dengan kalau kita menghina seorang presiden? Tentu saja ada suatu perbedaan yang besar, karena seorang presiden mempunyai martabat lebih tinggi dibandingkan dengan teman kita dan seorang presiden adalah suatu simbol dari suatu negara. Dan menghina presiden mempunyai implikasi menghina suatu negara. Tentu saja suatu negara mempunyai derajat lebih tinggi daripada seseorang atau beberapa individu. Oleh karena itu penghinaan terhadap suatu negara tidak cukup diselesaikan dengan permintaan maaf dari satu atau beberapa individu, namun harus diselesaikan antara perwakilan negara yang satu dengan perwakilan negara yang lain. Dengan alasan yang sama, maka manusia tidak dapat melepaskan diri dari dosa tanpa adanya campur tangan dari Tuhan sendiri.

Kristus adalah satu-satunya jalan untuk menyambung kembali hubungan manusia dengan Tuhan.

Di tengah-tengah ketidakberdayaan manusia, maka Tuhan yang begitu mengasihi umat-Nya tidaklah membiarkan manusia tidak berdaya dibelenggu dosa. Oleh karena itu, Tuhan sejak awal telah mempunyai rencana untuk mengutus Putera-Nya yang tunggal untuk keselamatan manusia dalam misteri Inkarnasi. Hal ini dinyatakan setelah manusia pertama jatuh ke dalam dosa, dimana Tuhan berkata kepada setan ” Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini [the woman], antara keturunanmu dan keturunannya; keturunannya akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.” (Kej 3:15). Perhatikan juga di ayat 21 ” Dan TUHAN Allah membuat pakaian dari kulit binatang untuk manusia dan untuk isterinya itu, lalu mengenakannya kepada mereka.” – yang dapat mengacu kepada kurban Kristus sebagai Anak Domba yang menghapus dosa. Dia yang melingkupi manusia dengan pengorbanan-Nya di kayu salib. Dan rencana Tuhan telah dipersiapkan dari awal mula dan Tuhan juga berbicara dengan perantaraan para nabi untuk mempersiapkan kedatangan Yesus Kristus ke dunia atau misteri Inkarnasi.

Misteri Inkarnasi ini menjadi begitu sempurna, karena Yesus sebagai Putera Allah, yang mempunyai derajat yang sama dengan Tuhan, menjadi manusia. Sama seperti contoh di atas, bahwa perwakilan suatu negara menyelesaikan permasalahan dengan perwakilan negara yang lain, maka Yesus, yang sungguh adalah Tuhan dan manusia dapat menyelesaikan permasalahan antara keduanya. Yesus mempunyai derajat yang sama dengan Allah Bapa dan pada saat yang bersamaan, Yesus – yang sungguh adalah manusia – menjadi perwakilan seluruh manusia yang telah berdosa. Maka, Yesus memberikan suatu korban yang berkenan kepada Allah Bapa demi tersambungnya kembali hubungan antara manusia dengan Tuhan.

Dan betapa besar harga yang dibayar oleh Kristus untuk memulihkan hubungan antara Allah dengan manusia! Ia menyerahkan diri-Nya, untuk disalibkan. Rasul Paulus menegaskan bahwa pengorbanan Kristus bukan hanya cukup untuk menanggung dan menebus dosa seluruh umat manusia, namun dipenuhi secara berlimpah (superabundant) karena dilakukan dengan kasih-Nya yang sempurna (lih. Rm 5:15-20). Kasih yang sempurna ini adalah jawaban yang sempurna atas kasih Tuhan yang telah dilanggar oleh manusia pertama, sehingga keselamatan atau kesatuan manusia dengan Tuhan menjadi sesuatu yang mungkin. Kasih inilah yang membuka pintu surga untuk seluruh umat manusia. Inkarnasi adalah jawaban yang sempurna untuk karya keselamatan Allah, karena Yesus turun menjadi manusia, sehingga manusia dapat naik untuk bersatu dengan Tuhan.

Gereja adalah Tubuh Mistik Kristus

Dari kayu salib inilah, Kristus melahirkan Gereja, yaitu Tubuh Mistik Kristus. Sama seperti Hawa dibentuk dari tulang rusuk Adam, maka Gereja terbentuk dari darah dan air yang mengalir dari luka di lambung Kristus.5 Dan lahirnya Gereja dimanifestasikan secara penuh pada saat Pentekosta, dimana Roh Kristus sendiri turun dan berkarya atas para rasul. Di kayu salib inilah, kasih Kristus yang sehabis-habisnya dicurahkan kepada Allah Bapa dan manusia untuk menebus dosa-dosa manusia.

Di kayu salib, saat darah dan air mengalir dari sisi Kristus, Gereja dilahirkan. Inilah pemenuhan dari janji Kristus ketika Dia mengatakan kepada rasul Petrus, “Engkau adalah Petrus dan di atas batu karang ini, Aku akan mendirikan Gereja-Ku dan alam maut tidak akan menguasainya.” (Mt 16:18) Namun kenapa Yesus melahirkan Gereja-Nya pada saat kematian-Nya di kayu Salib? Karena ini adalah puncak ketaatan dari Adam terakhir atau Kristus. Ketidaktaatan dan dosa Adam pertama ditebus dengan ketaatan dan kasih dari Adam yang baru (lih. Rm 5:15). Dan kemudian, pada saat hari Pentakosta – hari pemenuhan janji kristus, yang mengatakan akan mengirimkan Roh Penghibur, Roh Kebenaran (Yoh 15:26; 16:13) – Gereja dimanifestasikan secara penuh di hadapan berbagai macam bangsa dan bahasa. Dan Gereja ini adalah Gereja yang sama yang dikatakan oleh rasul Paulus sebagai Tubuh Mistik Kristus (Ef 5:23), dan juga Gereja yang bertahan terus sampai saat ini di bawah kepemimpinan rasul Petrus dan penerusnya (Mt 16:18). Gereja ini adalah Gereja Katolik.

Kalau kita percaya bahwa Gereja adalah Tubuh Mistik Kristus yang didirikan oleh Kristus, dan keselamatan mengalir dari Kristus, Sang Kepala Gereja, maka akibat logis dari hal ini adalah keselamatan manusia mengalir dari Gereja. Mengapa keselamatan harus melalui mediasi Gereja? Hal ini adalah sesuai dengan prinsip “mediation“/ pengantaraan. Adalah menjadi kebijaksanaan Tuhan untuk memilih prinsip pengantaraan ini untuk melaksanakan rencana keselamatan umat manusia. Oleh sebab itu, prinsip ini menjadi “fitting” dan paling tepat. Dan rasul Paulus menegaskan bahwa sama seperti dosa turun ke dunia melalui satu orang (Adam), maka melalui satu orang juga, Adam yang baru (Kristus), maka belenggu dosa dipatahkan dan berkat-berkat mengalir (Rm 5:15). Dengan konsep “mediation” yang sama, maka pada masa Perjanjian Lama Allah mengutus para nabi untuk menjadi perantara antara Dia dan umat pilihan-Nya. Pada masa Perjanjian Baru, Kristus menjadi Pengantara yang sempurna antara Allah dan manusia, dan peran ini kemudian diteruskan oleh Gereja sampai akhir jaman. Oleh kuasa Roh Kudus, Gereja sebagai Tubuh Mistik Kristus juga menjadi perantara untuk membagikan berkat-berkat dari Kristus Sang Pengantara satu-satunya, melalui sakramen-sakramen.

Maka, kita melihat bagaimana Adam sesungguhnya dipilih Allah untuk menjadi suatu pengantara/ saluran “rahmat kekudusan (sanctifying grace)” yang dari Allah kepada segenap umat manusia, namun Adam gagal untuk melaksanakan tugas ini. Namun Allah terus menerus mengusahakan pulihnya hubungan kasih-Nya dengan manusia dengan mengutus para nabi. Dalam Perjanjian Lama, Tuhan berbicara kepada manusia dengan menggunakan perantaraan para nabi. Ia juga menggunakan perantaraan para imam untuk mempersembahkan kurban bakaran, baik berupa kurban syukur ataupun kurban penebus dosa. Sampai akhirnya Tuhan mengutus Putera-Nya sendiri, untuk menjadi Perantara yang sejati, yang menjadi Korban sekaligus Imam, untuk memulihkan hubungan manusia dengan Allah yang telah rusak oleh dosa. Kristuslah tanda Perjanjian Baru dan kekal; dan karena bersifat kekal, maka artinya, karya-Nya masih berlangsung sampai sekarang. Hal ini dimungkinkan karena karya Roh Kudus yang terus bekerja melalui Gereja-Nya.

Namun demikian, mungkin ada keberatan yang menyatakan bahwa Yesus adalah Perantara satu-satunya antara manusia dan Tuhan dan tidak ada yang lain (lih. 1 Tim 2:5), sehingga manusia tidak membutuhkan Gereja. Keberatan ini sesungguhnya tidak mendasar, dengan beberapa alasan. Pertama, Kristus adalah Kepala Gereja, dan Gereja adalah Tubuh Mistik Kristus (1 Kor 12:27). Oleh karena itu ada kesatuan yang terpisahkan antara Kristus dan Gereja-Nya. Tanpa Kristus sebagai Kepala Gereja, maka Gereja tidak mungkin menjadi perantara. Oleh karena itu, kalau Kristus menjadi Pengantara satu-satunya antara manusia dan Tuhan, maka Gereja juga menjadi perantara antara manusia dan Tuhan.

Kedua, kalau Kristus menjadi Pengantara satu-satunya, itu berarti tidak menghalangi yang lain menjadi perantara, sejauh perantara yang lain tetap berhubungan dengan satu-satunya Pengantara sejati, yaitu Kristus. Kalau Kristus yang melahirkan Gereja, maka tidaklah mungkin Gereja bertentangan dengan Kristus, sama seperti tubuh tidak mungkin bertentangan dengan kepala. Kita dapat melihat contoh sehari-hari, bahwa Kristus sebagai satu-satunya Pengantara tidak menghalangi umat Kristen untuk meminta doa dari sesama anggota dalam satu iman. Apakah umat yang lain kemudian kita anggap sebagai penghalang? Tentu saja tidak, karena doa dari umat yang lain adalah merupakan partisipasi di dalam Kristus dan bahkan Kristus sendiri yang memerintahkan kita untuk turut berpartisipasi dalam karya keselamatan Kristus.

Ketiga, karena Roh Kristus adalah sebagai Roh yang menuntun seseorang kepada pertobatan dan keselamatan dan Roh Kristus ini sendiri yang terus berkarya di dalam Gereja, maka Gereja menjadi sakramen keselamatan bagi manusia. Bagaimana kita tahu bahwa Roh Kudus bekerja secara terus-menerus, memberikan inspirasi, dan melindungi Gereja sampai akhir jaman? Hal ini terjadi karena hakekat Gereja itu sendiri, sebagai Tubuh Mistik Kristus, yang senantiasa bersatu dengan Kepala Gereja, yaitu Kristus. Oleh sebab itu, Roh Kristus sendirilah yang menjadi jiwa dari Gereja.

Baptisan adalah pertemuan antara pengorbanan Kristus dan jawaban “ya” dari manusia

Kita melihat bahwa jalan sudah dibukakan oleh Kristus agar manusia dapat mencapai tujuan akhir, yaitu Surga. Kristus, melalui penderitaan-Nya di kayu salib telah melahirkan Gereja yang dinyatakan kepada dunia di hari Pentakosta. Sejak Pentakosta, Kristus memberikan Roh Kudus-Nya untuk berkarya secara terus-menerus di dalam Gereja-Nya yaitu Gereja Katolik. Karya Kristus nyata dalam ketujuh sakramen, yang ditentukan-Nya untuk menyalurkan berkat-berkat-Nya kepada setiap anggota Gereja. Selanjutnya, Tuhan juga terus mendorong setiap anggota-Nya agar dapat mengalami pertobatan dan mempunyai hubungan yang pribadi dengan-Nya. Dapat dikatakan bahwa Tuhan telah dan akan terus melakukan segala sesuatu untuk membawa manusia kepada-Nya.

Yang menjadi pertanyaan, apakah manusia benar-benar mau untuk menjawab panggilan Tuhan? Tindakan yang nyata dari manusia untuk menjawab tawaran kasih Kristus adalah dengan melalui Sakramen Pembaptisan, karena dengan Pembaptisan, seseorang diampuni dosanya, dan dilahirkan kembali di dalam Kristus. Melalui Baptisan, ia mendapatkan rahmat kekudusan, karunia Roh Kudus, “supernatural virtue atau kebajikan Ilahi”, yang mengalir dari Gereja dan bersumber pada Kristus. Juga melalui Sakramen Pembaptisan, seseorang menjadi anggota Gereja Katolik secara penuh. Rahmat kekudusan inilah yang membuat orang yang dibaptis menjadi berkenan di hadapan Allah, sama seperti keadaan Adam dan Hawa sebelum mereka berdosa. Itulah sebabnya Sakramen Pembaptisan menjadi satu-satunya cara untuk mendapatkan keselamatan, karena melalui Sakramen ini, seseorang diangkat menjadi anak Allah melalui Kristus, Sang Putera Allah.

Sakramen-sakramen lainnya, terutama Ekaristi, menghantar kepada kesempurnaan persatuan manusia dengan Allah di Surga

Setelah seseorang dilahirkan kembali di dalam Kristus, Allah sendiri menghendaki agar ia bertumbuh di dalam Dia. Pertumbuhan ini diperoleh dari diri-Nya sendiri dalam rupa Ekaristi, yaitu Tubuh, Darah, Jiwa dan ke-Allahan dari Kristus Sang Putera Allah. Ialah Sang Roti Hidup yang memberikan hidup-Nya kepada dunia (lih. Yoh 6:33). Ia bersabda bahwa barang siapa yang makan Tubuh-Nya dan minum Darah-Nya akan memperoleh hidup yang kekal (lih. Yoh 6:54). Oleh kuasa Roh Kudus yang terus menyertai Gereja-Nya, kurban Tubuh dan Darah Kristus ini dihadirkan kembali dalam Ekaristi, agar semua umat-Nya disatukan dengan-Nya dan menerima buah-buah penebusan-Nya.

Maka Ekaristi menjadi santapan rohani yang menyatukan kita dengan Tuhan sepanjang peziarahan kita di dunia, yang menghantarkan kita kepada kesempurnaannya di Surga kelak. Persekutuan antara manusia dan Tuhan yang dulu telah dirusak oleh dosa, kini dipulihkan oleh jasa pengorbanan Kristus; dan kita memperoleh buah-buahnya melalui sakramen-sakramen Gereja, terutama melalui Ekaristi, di mana kita menerima Kristus yang mempersatukan kita dengan Dia, dan melalui-Nya kita disatukan dengan Allah Bapa dan Roh Kudus.

Kesimpulan

Dari uraian di atas, maka terlihat jelas, bahwa keselamatan adalah adalah suatu anugerah dari Allah, di mana manusia sebenarnya tidak berhak untuk mendapatkannya karena terpisah oleh dosa, karena upah dosa adalah maut (Rm 6:23). Namun karena Tuhan begitu mengasihi manusia, Dia tidak membiarkan manusia untuk terpisah dari Tuhan untuk selamanya. Inkarnasi adalah jawaban dari Tuhan terhadap hukuman dosa, karena melalui Inkarnasi, Yesus dapat melaksanakan misi-Nya di dunia untuk menebus dosa-dosa manusia melalui misteri Paska-Nya, yaitu penderitaan, wafat-Nya di kayu salib, kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya ke Surga. Karya keselamatan ini diteruskan oleh Gereja Katolik, sebagai Tubuh Mistik Kristus, dengan sakramen-sakramen yang didirikan oleh Kristus, pertama-tama melalui Sakramen Pembaptisan yang menjadi pintu gerbang untuk menerima sakramen-sakramen yang lain, yang mencapai puncaknya dalam sakramen Ekaristi.

Dari sini kita melihat adanya suatu hubungan yang erat dan tak terpisahkan antara penciptaan, dosa, Inkarnasi, Gereja Katolik, dan Sakramen Pembaptisan, Ekaristi dan sakramen-sakramen lainnya. Keenam hal tersebut adalah karya Allah Tritunggal yang memuncak dalam misteri Inkarnasi Yesus Kristus, yaitu: 1) Tuhan menciptakan segalanya baik adanya, namun 2) dosa memisahkan manusia dari Tuhan, dan 3) Inkarnasi adalah jawaban dari Allah sehingga manusia dapat memperoleh keselamatan, 4) Gereja Katolik adalah Tubuh Mistik Kristus, yang menjadi sakramen keselamatan bagi umat manusia, dan 5) Sakramen Baptis menjadi sarana untuk keselamatan manusia, karena manusia menerima kembali harkatnya sebagai gambaran Allah untuk bersatu kembali dengan Allah. 6) Sakramen-sakramen -terutama Ekaristi- memelihara persatuan manusia dengan Allah sampai kepada kesempurnaan kesatuan ini di Sorga. Dalam beberapa tulisan mendatang tentang keselamatan, akan dibahas secara lebih mendalam mengapa keselamatan hanya ada di dalam Kristus dan hanya ada di dalam Gereja Katolik.

 

Catatan kaki:

1 Menurut St. Thomas Aquinas, yang ada pada Adam dan Hawa adalah rahmat pengudusan / “sanctifying grace” dan 4 jenis karunia yang disebut ‘preternatural gifts’ yaitu: 1) keabadian atau immortality, 2) tidak ada penderitaan, 3) pengetahuan akan Tuhan atau ‘infused knowledge’ dan 4)berkat keutuhan atau ‘integrity’ maksudnya, adalah harmoni atau tunduknya nafsu kedagingan pada akal budi. Namun, Adam dan Hawa belum sampai melihat Tuhan muka dengan muka, yaitu mengenal Allah dengan sempurna di dalam Allah sendiri.

2 KGK 32

3 Thomas Aquinas, Summa Theologica, II-I, q.1, a.1 Adalah merupakan kodrat manusia untuk bertindak sesuai dengan tujuan akhir yang telah ditetapkan oleh Penciptanya.

4 Menurut St. Thomas Aquinas, yang ada pada Adam dan Hawa adalah rahmat pengudusan / “sanctifying grace” dan 4 jenis karunia yang disebut ‘preternatural gifts’ yaitu: 1) keabadian atau immortality, 2) tidak ada penderitaan, 3) pengetahuan akan Tuhan atau ‘infused knowledge’ dan 4)berkat keutuhan atau ‘integrity’ maksudnya, adalah harmoni atau tunduknya nafsu kedagingan pada akal budi. Namun, Adam dan Hawa belum sampai melihat Tuhan muka dengan muka, yaitu mengenal Allah dengan sempurna di dalam Allah sendiri.

Rahmat pengudusan dan ke-empat karunia preternatural gifts ini yang hilang akibat dosa asal, sehingga manusia mempunyai kecenderungan berbuat dosa, atau disebut sebagai concupiscentia/ concupiscence. Concupiscence/ kecenderungan berbuat dosa ini adalah mencakup keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup (1 Yoh 2:16)

5 KGK 766

36
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
16 Comment threads
20 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
19 Comment authors
augustAndyKurHansSonny Ngsari aritonang Recent comment authors
august
Member
august

Shalomm Team katolisitas di manapun berada saat ini…. setelah lama tidak bertanya pada situs ini … langsung saja ya, ke pokok kebingungan pemahaman saya dalam mencerna Kitab Suci pada bacaan harian Injil Kitab Suci tanggal 19 Agustus 2014 pada kalender Liturgis yaitu Matius 19 : 23-30 (atau Markus 10 : 28 -31 dan Lukas 18 : 28 – 30) …. di perikop tersebut disebutkan bahwa Santo Petrus bertanya pada Yesus mengenai upah yang diperoleh setelah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Yesus dan Yesus menjawab seperti pada perikop tersebut …pertanyaan saya dari pandangan pemahaman saya (dan bagaimana maksud menurut Terang Roh… Read more »

AndyKur
Member
AndyKur

Shalom bu Inggrid dan tim katolisitas

Saya ingin bertanya, kenapa saat adam dan hawa makan buah dari pohon terlarang, Tuhan tidak membunuh mereka saat itu juga? kan Tuhan jg bisa menciptakan adam dan hawa yang baru lagi, sehingga kita tidak kena dosa asal

Mohon tanggapannya
Terima kasih sebelumnya

Ingrid Listiati
Member

Shalom AndyKur, Adalah rencana Allah menurut kebijaksanaan-Nya sendiri, bahwa Ia telah menciptakan sepasang manusia pertama (Adam dan Hawa), untuk dijadikan orang tua pertama (first parents) bagi semua bangsa manusia. Kejatuhan mereka ke dalam dosa sehingga mewariskan dosa asal ini kepada semua umat manusia keturunannya, menjadikan Allah merencanakan untuk mengutus Kristus Putera-Nya untuk menebus dosa tersebut. Sabda Allah kemudian menyatakan Kristus sebagai Adam yang baru, untuk dikontraskan dengan Adam yang pertama. Oleh pelanggaran Adam yang pertama, seluruh umat manusia jatuh ke dalam penghukuman dan kuasa maut; sedangkan oleh karunia Kristus, Sang Adam yang kedua, semua orang beroleh pembenaran untuk hidup yang… Read more »

AndyKur
Member
AndyKur

Oooo, iya bu. Terima kasih untuk penjelasannya bu. Saya jd semakin paham. Trus bu, saya punya satu prtnyaan bu, dulu prnh saya tnyakan ke guru agama saya wktu SMP. Cuma stlh saya pkr2 jwbannya kok gak msk akal ya bu Prtnyaan saya begini bu, kl memang Tuhan tahu Adam dan Hawa akan memakan buah dari pohon pengetahuan baik dan jahat, kenapa Tuhan tetap menaruhnya di bumi bu? Waktu itu guru agama saya menjawab, kl asal mula bumi di kitab kejadian itu lebih berdasarkan legenda. Stlh saya pkr2 kan gak mgkn to bu, kitab Kejadian itu hanya legenda belaka? itu pasti… Read more »

Hans
Guest
Hans

Syalom Pak Stefanus dan Bu Inggrid.

Saya ingin bertanya, jikalau Tujuan umat manusia adalah keselamatan, dan Tuhan menginginkan seluruh umat manusia selamat, apakah artinya ada neraka? Dan jikalau ada orang yang masuk neraka, apakah artinya Tuhan gagal menyelamatkannya?

Terimakasih

Sonny Ng
Guest
Sonny Ng

Shalom pengasuh Katolisitas.org,

Ada pendapat dari saudara saya yang seorang Protestan, mengatakan bahwa isi Alkitab intinya hanyalah pribadi Allah Putera, yaitu Yesus. Pertama-tama dia menggunakan Lukas 24:27 sebagai pengantar.

Saudara saya tetap setuju bahwa di dalam Alkitab juga berisi tentang pribadi Allah Bapa dan Allah Roh Kudus, namun dia menekankan bahwa pribadi yang paling utama dalam Tritunggal adalah Allah Anak/Putera. Saudara saya juga menyertakan ayat dari Injil Matius 3:17 untuk memperkuat argumen-nya. Dia mengatakan bahwa ayat ini menandakan bahwa Allah Bapa selalu mengacu pada Allah Anak/Yesus.

Mohon bantuannya, Tuhan memberkati pelayanan Katolisitas.org.

Ingrid Listiati
Member

Shalom Sonny, Gereja Katolik, berdasarkan Kitab Suci mengajarkan bahwa seluruh rencana keselamatan Allah adalah karya Allah Tritunggal. Atas prinsip ini, dan jika kita menerima bahwa Kitab Suci dan Tradisi Suci menyatakan rencana keselamatan Allah, maka kesimpulannya adalah, dalam Kitab Suci dan Tradisi Suci, dinyatakan karya Allah Tritunggal secara bersama-sama, sejak dari penciptaan dunia, sepanjang sejarah manusia yang puncaknya adalah misteri Inkarnasi Kristus yang mengarah kepada misteri Paska-Nya, dan bahwa misteri Paskah-Nya itu terus dihadirkan kembali oleh Gereja-Nya, sampai akhir zaman. Katekismus Gereja Katolik mengajarkannya demikian: KGK 257     “O Cahaya yang membahagiakan, Tritunggal dan Kesatuan asli” (LH Madah “O lux… Read more »

sari aritonang
Guest
sari aritonang

mengapa yesus harus menjelma menjadi manusia hanya untuk disiksa dan menebus dosa.,sedangkan dia adalah tuhan kalo dia tuhan seharusnya dia tidak perlu menjelma menjadi manusia hanya untuk menebus dosa? dia bisa dengan mudah menyelamatkan semua manusia dengan kekuatanya ?mohon dijelaskan

[dari katolisitas: Silakan melihat artikel ini – silakan klik dan klik ini]

marlen
Guest
marlen

syalom pak stef n bu inggrid.,
saya ingin bertanya, mengapa Tuhan harus menciptakan manusia, padahal Tuhan sudah tahu bahwa manusia akan berbuat dosa, (kalau Tuhan sudah tahu bahwa manusia akan berbuat dosa mengapa Tuhan harus menciptakan manusia., dan apa sebenarnya tujuan penciptaan.?

[Dari Katolisitas: Silakan membaca artikel ini terlebih dahulu, silakan klik.]

yusup sumarno
Guest
yusup sumarno

mengapa Bapa harus mengurbankan Putra?
bukankah Bapa maha rahim/pengampun?
mengapa untuk bisa mengampuni manusia Bapa harus mengurbankan Putra?
dengan kata lain, mengapa harus melalui salib agar Bapa bisa mengampuni dosa manusia. bukankah tanpa salib Bapa dengan mudah mengampuni dosa manusis karena Ia maha rahim?

[dari katolisitas: silakan melihat jawaban ini – silakan klik]

unreligion
Guest

halah kalo yesus itu tuhan. kenapa harus segala mao disalib.
untuk mengampuni dosa manusia?
kan dia tuhan. mao dia hapus ya tinggal bilang hapus.
knapa sgala jadi manusia disiksa pula hahaha…
gak logis bngt dh

[dari katolisitas: Silakan melihat artikel ini – silakan klik, dan ini – silakan klik]

Martin
Guest
Martin

Salam hangat untuk Tim Katolisitas, Terima kasih untuk situs yang sangat bermanfaat ini. Saya cukup sering berkunjung dan baca2. Namun, saya jadi bertanya2 mengenai sebuah pertanyaan mendasar. Saya ingin bertanya, mengapa manusia harus melewati tahap2 hidup, di dunia, kemudian ke api pencucian (bila baik), dan akhirnya baru ke Surga bertemu dengan Penciptanya (atau selama2nya di Neraka)? Mengapa Manusia tidak langsung diciptakan di Surga? Apakah Tuhan tidak bisa menciptakan Manusia dengan kehendak bebas, tapi sekaligus juga bisa mampu menolak dosa, dan suci? Sehingga kita langsung layak hidup bersama denganNya? Saya yakin bisa. Terima Kasih. Maaf kalau sudah ditanyakan sebelumnya. Martin [dari… Read more »

leonard
Guest
leonard

Syalom Katolisitas, Saya mempunyai pemikiran tentang keselamatan dan saya percaya hanya Kristus yang dpt menghantar kita ke Bapa. Pertanyaaannya: 1. Bagaimana menurut gereja Katolik, orang yang tidak percaya Kristus (walau sudah diinjili tapi mereka melakukan kasih? Apakah mereka dibenarkan oleh Yesus? Padahal dalam percakapan dengan Nikodemus Tuhan berkata dalam Yoh 3:5-8 “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan oleh Air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan daging adalah daging, dan apa yang dilahirkan roh adalah roh. Janganlah engkau heran. Karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia… Read more »

Andreas Gentur Panuwun
Guest
Andreas Gentur Panuwun

Bu Ingrid dan Pak Stef Yang Terkasih dalam Tuhan, Mohon penjelasannya : Terkait pertanyaan, mengapa malaikat yg lebih sempurna dari Adam dan hawa bisa jatuh juga dalam dosa? Dan apakah bahasa sempurna tersebut hanya diberikan kepada mereka karena Tuhan menciptakan mereka dengan memiliki kehendak bebas(free will) serta atas kesamaan bahwa Tuhan juga memilki kehendak bebas spt mereka ? Apakah kehendak bebas Malaikat, Adam dan Hawa; tidak sama dengan kehendak bebas yg dimiliki Tuhan ? Artinya bahwa Kehendak bebas Tuhan memang sempurna sesuai dengan sifatNya yg tdk mungkin berbuat dosa; sementara kehendak bebas Malaikat , Adam dan Hawa memang belum sempurna,… Read more »

Gregorius
Guest
Gregorius

Syaloom,

Saya hendak bertanya. Bagaimana dengan konsep keselamatan bagi manusia sebelum Yesus menebus dosa2 manusia di kayu salib?
Apakah penebusan Yesus berlaku surut?

Pertanyaan kedua yg menurut saya masih ada hubungannya, apakah bagi manusia yg meninggal sebelum Kristus menebus dosa2 manusia, saat itu masih ada di api penyucian? Atau langsung menuju surga (yg baik) dan neraka (tidak baik)?

Mohon kalau memang team katolisitas sudah menjelaskan atas pertanyaan saya, saya diberi link nya.
Terima kasih atas penjelasannya.

Peace,

Gregorius

Deasy
Guest
Deasy

Dear Pak Stef & Ibu Inggrid,
saya mau tanya, manakah istilah yang benar: pentekosta, pantekosta, pentakosta? Dalam bahasa inggris, istilahnya disebut ‘pentecost’

Terima kasih sebelumnya.
Deasy.

Ingrid Listiati
Member

Shalom Deasy,
Yang benar seharusnya Pentakosta, karena maksudnya adalah merayakan hari ke-limapuluh setelah hari Kebangkitan Kristus. Maka lima puluh hari ini dihitung dari sejak Malam Paskah (Easter Vigil), dan hari ke-limapuluh ini jatuh pada hari Minggu, tujuh minggu setelah Paskah.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Alexander Pontoh
Guest
Alexander Pontoh

pada saat manusia pertama menempatkan ciptaan lebih tinggi dari pada Sang Pencipta
–>
mmg apa yang ditempatkan oleh adam lebih tinggi dari pada Sang Pencipta?

Ingrid Listiati
Member

Shalom Alexander Potoh, Yang ditempatkan oleh Adam lebih tinggi daripada Sang Pencipta adalah dirinya sendiri dan keinginannya. Kitab Suci mengatakan bahwa Iblis berkata kepada Hawa, bahwa buah pohon pengetahuan itu akan menjadikan mereka seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat (lih. Kej 3:5). Kemudian, Hawa melihat bahwa buah pohon itu menarik, karena memberi pengertian (Kej 3:6). Di sini diketahui bahwa Hawa lebih mempercayai perkataan Iblis itu daripada sabda Allah yang mengatakan demikian, “…janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kej 2:17). Di sini kita ketahui bahwa manusia pertama tersebut lebih memilih untuk percaya… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Alexander Pontoh, Yang ditempatkan oleh Adam lebih tinggi daripada Sang Pencipta adalah dirinya sendiri dan keinginannya. Kitab Suci mengatakan bahwa Iblis berkata kepada Hawa, bahwa buah pohon pengetahuan itu akan menjadikan mereka seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat (lih. Kej 3:5). Kemudian, Hawa melihat bahwa buah pohon itu menarik, karena memberi pengertian (Kej 3:6). Di sini diketahui bahwa Hawa lebih mempercayai perkataan Iblis itu daripada sabda Allah yang mengatakan demikian, “…janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” (Kej 2:17). Di sini kita ketahui bahwa manusia pertama tersebut lebih memilih untuk percaya… Read more »

Machmud
Guest
Machmud

Dear Romo Wanta Pr

Apa bedanya kerajaan Allah dalam kalimat doa Bapa kami dengan kerajaan Surga ?

Terima kasih
Machmud

Julius Santoso
Guest
Julius Santoso

Syalom Pak Stef dan Ibu Inggrid. Saya mohon penjelasan kutipan dari Yoh 10:11 dan 14 ini : Yoh 10:11 Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba-dombanya; Yoh 10:14 Akulah gembala yang baik dan Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku Pertanyaannya : 1. Apakah yang dimaksud dengan Gembala yang baik?. 2. Apakah ada gembala yang tidak baik? Dan ditujukan kepada siapakah perkataan Yesus ini?. 3. Apakah terjadinya perpecahan di tubuh Kristen ini dapat dikatakan bersumber dari gembala yang tidak baik?. 4. Apakah Yoh 10:11 ini merupakan nubuat untuk diriNya sendiri?. Terima kasih atas penjelasan yang akan… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X