Kenapa Tidak Ada Tarian, Sorak sorai dan Tepuk Tangan di Misa?

Pertanyaan:

Syalom,

Dalam Mazmur, terdapat ayat yang mengatakan bahwa tepuk tangan, bahkan bersorak dan menari sebagai cara memuji Tuhan tidak dilarang, namun mengapa ’sikap’ tersebut tidak dimasukkan ke dalam liturgi Misa? Kalau boleh, tolong katolisitas menjelaskan mengenai sejarah pembentukan liturgi dan tahap-tahap yang ada di dalamnya. Seperti Pembukaan, Saya Mengaku, Tuhan Kasihanilah Kami, dst, sampai kepada Konsekrasi, dan Berkat Penutup.

Terima kasih banyak.

Tuhan Yesus memberkati!…

Jawaban:

Shalom Ferry,

Walaupun tidak disebutkan di dalam dokumen Gereja, nampaknya, ada beberapa alasan yang masuk akal mengapa tari- tarian, tepuk tangan dan sorak sorai tidak dilakukan di dalam perayaan Misa (Ekaristi) Kudus:

1. Ekaristi adalah perayaan di mana kita dapat menyambut Kristus dan mempersatukan diri kita dengan Kristus Tuhan kita. Jika kita memakai analogi ibadah pada Perjanjian Lama, maka tahap persatuan ini menyerupai penyembahan yang tertinggi di Tempat Maha Kudus dalam Kemah Suci. Segala bentuk pujian sorak sorai dapat dilakukan di pelataran bait Allah (lih. Mzm 100:4), namun sorak sorai itu terhenti setelah imam yang mempimpin ibadah mewakili seluruh umat memasuki Kemah Suci di mana di sana terdapat tabut perjanjian Tuhan. Sang imam itu harus mempersiapkan dirinya dan membersihkan dirinya dari dosa sebelum melakukan pelayanan itu, sebab jika tidak demikian, ia wafat seketika di dalam Kemah Suci itu (lih. Im 22:9). Setelah Yesus wafat, tirai yang memisahkan ruang Bait Suci itu terkoyak (lih. Mat 27:51), dan karena rahmat Allah yang kita terima melalui kurban Kristus, kita umat beriman dapat menghampiri tempat Maha Kudus itu, yaitu tabernakel di mana Kristus bertahta di dalamnya dalam rupa Ekaristi. Namun sikap kita untuk menghampirinya adalah dengan sikap tunduk dan hormat, dan sebelumnya kitapun memeriksa diri kita agar bebas dari segala dosa berat, agar dapat layak menyambut-Nya.

2.  Hakekat perayaan Ekaristi adalah perayaan kurban Kristus yang menyerahkan diri-Nya dengan wafat di kayu salib demi menyelamatkan kita.

KGK 1362    Ekaristi adalah kenangan akan Paska Kristus, yang menghadirkan dan mempersembahkan secara sakramental kurban satu-satunya dalam liturgi Tubuh-Nya, yaitu Gereja. Dalam semua Doa Syukur Agung, sesudah kata-kata penetapan, kita temukan sebuah doa yang dinamakan anamnese atau kenangan.

Walaupun Ekaristi merupakan kenangan Paska Kristus, namun kemenangan Paska ini tidak terlepas dari sengsara dan wafat-Nya yang juga kita kenangkan pada saat yang sama. Maka tidak sepantasnya kita bertepuk, bersorak ataupun menari pada saat kita mengenangkan wafat seseorang, apalagi jika yang kita kenangkan adalah Kristus, yang telah wafat setelah melalui penderitaan yang sedemikian hebat, demi menanggung dosa kita manusia. Sikap yang lebih tepat adalah tunduk dan khidmat sambil mengenang Dia dan bersyukur atas begitu besar rahmat-Nya kepada kita.

3. Karena di sebagian besar budaya di dunia, tari- tarian, sorak sorai dan tepuk tangan di saat ini tidak lagi umum digunakan dalam ibadah penyembahan kepada Tuhan. Tari- tarian di belahan dunia Eropa dan Amerika lebih berkonotasi kepada pertunjukan (performance) daripada ungkapan penyembahan kepada Tuhan. Dengan demikian dalam ritus Latin tidak dikenal tari- tarian dalam ibadah Misa Kudus, karena sejak awal memang tidak ada budaya menari pada bangsa tersebut sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan. Mungkin akan sedikit berbeda pada budaya Afrika dan Asia, namun secara umum tari- tarian di dalam ibadah, apalagi jika hanya dibawakan oleh sekelompok orang tertentu, akan cenderung menjadi tontonan, dan menggeserkan pusat perhatian yang harusnya diberikan kepada Tuhan.

Cardinal Arinze menjelaskan dengan sangat lugas di U-Tube, tentang hal ini, silakan klik

Atau lebih jelasnya, Cardinal Joseph Ratzinger (sekarang Paus Benediktus XVI) dalam bukunya The Spirit of the Liturgy (San Francisco: Ignatius Press, 2000), p. 198, menuliskan demikian:

“Tarian bukanlah merupakan bentuk ekspresi bagi liturgi Kristen. Sekitar abad ke-3, ada usaha dari kalangan Gnostic- Docetic untuk memperkenalkan tarian ke dalam liturgi. Untuk orang- orang ini, penyaliban Kristus hanya merupakan bayangan/ ilusi …. [Bagi mereka] Tarian dapat mengambil tempat bagi liturgi Salib, sebab, toh Salib bagi mereka hanya bayangan. Tarian cultic dalam agama- agama lain mempunyai maksud yang berbeda- beda – mantra, magis imitatif, ekstase mistik – yang semuanya tak ada yang kompatibel dengan maksud utama dari liturgi sebagai “kurban yang pantas” (reasonable sacrifice). Adalah suatu kekacauan untuk mencoba membuat liturgi menjadi “menarik” dengan memperkenalkan tarian pantomim (bahkan sedapat mungkin ditarikan oleh grop dansa ternama), yang sering kali (dan benar, dari sudut pandang profesionalisme) berakhir dengan applause -tepuk tangan. Setiap kali tepuk tangan terjadi di tengah liturgi yang disebabkan oleh semacam prestasi manusia, itu adalah tanda yang pasti bahwa esensi liturgi  telah secara total hilang, dan telah digantikan dengan semacam pertunjukan religius. Atraksi sedemikian akan memudar dengan cepat- ia tak dapat bersaing di arena pertunjukan untuk mencapai kesenangan (leisure pursuits), dengan memasukkan tambahan berbagai bentuk gelitik religius.”

Namun selanjutnya, Cardinal Ratzinger mengatakan juga demikian sehubungan dengan inkulturasi:

“Tak ada ritus Kristen yang memasukkan tarian. Apa yang orang- orang sebut sebagai tarian di bentuk ritus Ethiopia atau Zaire (Kongo) dalam liturgi Roma adalah sebenarnya prosesi ritmis yang teratur, yang sesuai dengan martabat kesempatan tersebut. Hal itu memberikan tata sikap yang teratur di batin dan keteraturan bagi variasi tahap-tahapan liturgi, yang memberikan keindahan, dan di atas semua itu, membuatnya menjadi pantas bagi Tuhan.” (Ibid. p. 199)

Atas pemahaman ini, maka memang masih diperbolehkan adanya semacam tarian (atau lebih tepatnya, disebut prosesi) penghantar persembahan dalam Misa Kudus, yang dalam budaya Afrika, atau budaya tradisional Asia, namun itupun bukan bersifat tontonan, namun hanya menggambarkan ungkapan penghormatan menurut budaya tersebut untuk menggabungkan kurban dari umat (dari “hasil bumi dan usaha manusia”) yang disatukan dengan kurban Kristus dalam Ekaristi.

Jadi prinsipnya, dalam perayaan Ekaristi, yang merupakan bentuk ibadah tertinggi, bentuk penyembahan tidak melibatkan tarian, tepuk tangan ataupun sorak sorai, agar umat dapat lebih memusatkan perhatian kepada kurban Kristus yang sedang dihadirkan kembali di altar, oleh kuasa Roh Kudus. Sedangkan di luar liturgi yang resmi, misalnya di dalam persekutuan doa ataupun pertemuan- pertemuan jemaat lainnya, diperkenankan cara memuji Tuhan dengan sorak sorai, tarian dan tepuk tangan, sebab memang cara- cara tersebut dicatat dalam Kitab Mazmur sebagai cara- cara memuji Tuhan (lih Mzm 47:1, 100: 1-4, 149:3). Namun tentu jika diadakan tarian, tepuk tangan ataupun sorak sorai, semua hal ini melibatkan semua umat yang hadir (jadi tujuannya bukan sebagai tontonan), dan semua ini ditujukan kepada Tuhan, dan bukan kepada para pemimpin pujian ataupun para penari. Selanjutnya jangan dilupakan, bahwa pujian dan penyembahan kepada Tuhan juga dapat dilakukan dengan sikap diam dan hening (lih. Mzm 46:11) karena justru di dalam keheningan itu, kita akan dapat semakin mengalami kehadiran Allah.

Selanjutnya tentang topik kenapa tepuk tangan yang sifatnya applause tidak diperkenankan di Misa Kudus, sudah pernah dibahas di artikel ini, silakan klik.

Sedangkan tentang topik tahapan liturgi Ekaristi memang belum secara mendetail kami uraikan, namun sekilas sudah pernah dibahas dalam artikel Cara Mempersiapkan Diri Menyambut Ekaristi, silakan klik.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

45
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
19 Comment threads
26 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
28 Comment authors
rudolfRD. Bagus KusumawantaEwiStefanus TayRahadian Ario Recent comment authors
rudolf
Guest
rudolf

shalom tim katolisitas
sebelumnya saya ingin minta maaf jika terkesan menghakimi…tapi saya ingin bertanya mengenai drama yang sering dibawakan untuk mengganti waktu kotbah…hal ini sering saya alami waktu mengikuti perayaan ekaristi kaum muda (EKM) di mana pada saat kotbah, imam duduk lalu diganti dengan pentas drama atau tarian..apakah hal ii diperbolehkan?saya hanya merasa tidak enak saja melihat anak-anak muda itu berteriak atau melompat-lompat di depan tabernakel…terima kasih sebelumnya..

Ewi
Guest
Ewi

Dear pengasuh Katolisitas, Saya ingin menanyakan hal yang berkaitan dengan tari-tarian dan tata liturgi dalam perayaan Ekaristi. Saya tinggal di Bali. Rumah saya hanya 10 menit berjalan kaki ke gereja. Namun bisa dihitung dengan jari, saya dan keluarga mengikuti misa di gereja itu. Kami lebih memilih mengikuti misa di Kuta atau Renon yang kalau dihitung jaraknya setengah jam dan satu jam perjalanan dengan kendaraan. Alasannya adalah: 1. Liturgi yang bertele-tele dan sering terlalu berlebihan. Sehingga misa yang biasanya berjalan selama satu atau satu setengah jam, di gereja ini sampai dua setengah jam. Itu bukan misa hari Minggu biasa. Dan hampir… Read more »

RD. Bagus Kusumawanta
Guest
RD. Bagus Kusumawanta

Ewi yth Saya memahami kesulitan dan keluhan yang anda alami mengenai tari-tarian masuk dalam liturgi. Sekarang ini KWI sedang membahas tarian apakah yang diperbolehkan masuk dalam liturgi. Tarian yang macam mana bisa masuk dalam perayaan liturgi. Tarian yang diperkenankan adalah yang memiliki makna dan mendukung liturgi gereja dan tidak mengganggu jalannya liturgi. Kalau membuat lama dan menjenuhkan sehingga liturgi menjadi lama dan membosankan lebih baik ditinjau kembali tarian itu. Saya mengenal dan tahu baik di mana anda ke Gereja. Jika anda tidak suka saya kira tidak berdosa kalau anda misa di tempat lain, namun haruslah dipikirkan kegiatan lingkungan paroki di… Read more »

Rahadian Ario
Guest
Rahadian Ario

Salam sejahtera katolisitas.org Saya seorang Katolik, namun sudah lama tdk mengikuti misa. Saya lebih banyak mengikuti gereja pacar saya yg beraliran karismatik. Namun dengan semua yg terjadi sy melihat keberagaman akan ajaran kristen yg berbeda beda walaupun saya kurang nyaman dengan gaya karismatik. Tp saya berusaha menghargai. Dengan adanya web ini katolisitas.org saya banyak terbantu dalam apologetik sy saat pacar saya menanyakan tentang iman katolik sy. Dia pd intinya jg mengalami sebuah pemikiran yg sama dan merasakan kenyamanan pd gereja katolik saat mengajaknya mengikuti misa. Namun keluhannya sama seperti komentar2 di atas yaitu bosan dan ngantuk. Melihat ajaran, cara ibadah,… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Rahadian Ario, Kalau kita sungguh mengerti apa yang terjadi di dalam Ekaristi – yang adalah menghadirkan kembali misteri Paskah Kristus – dan ini adalah cara yang diinginkan oleh Kristus untuk menyembah-Nya, maka sesungguhnya, tidak ada yang dapat menggantikan Sakramen Ekaristi. Silakan melihat beberapa artikel sehubungan dengan Ekaristi ini – silakan klik. Tentang perpecahan gereja, kita melihat bahwa sejarah membuktikan bahwa tanpa adanya otoritas dalam menentukan pengajaran dan administrasi – seperti yang terdapat dalam Gereja Katolik – maka akan timbul perpecahan. Perpecahan ini dapat anda lihat di grafik berikut ini:  Mohon maaf, kami belum mempunyai waktu untuk menjabarkan semua denominasi.… Read more »

Aldi
Guest
Aldi

Dear Pengurus Katolisitas Saya mempunyai masalah seperti yang disebutkan teman-teman diatas. Pada saat saya mau ke Gereja saya benar benar rindu karena saya sudah cukup lama tidak ke Gereja. Masalahnya disini saya kurang dapat menghayati “arti” dari Misa itu sendiri. Jujur kalau saya boleh terus terang, memang tata liturgi dari Gereja Katolik saat mengadakan Misa sungguh membosankan. Cenderung monoton. Tidak membuat umat tertarik untuk bersemangat untuk menyanyi,dll. Inilah yang seharusnya diperbaiki dari Misa Gereja Katolik. Perlu diadakan perubahan misalnya,kalau bisa lagu lagunya dibuat agar tidak cenderung monoton tetapi tidak mengubah esensi Misa itu sendiri. Sekali-kali, boleh diadakan seperti Kebaktian Agama… Read more »

Ingrid Listiati
Guest
Ingrid Listiati

Shalom Aldi, 1. Menemukan Tuhan dalam keadaan yang rutin dan biasa-biasa saja. Adalah suatu kecenderungan manusia, untuk lebih menyukai hal-hal yang sensasional, suasana meriah, ataupun yang menyentuh perasaan. Manusia lekas bosan terhadap sesuatu yang sifatnya rutin dan berkesan “itu lagi, itu lagi”. Tetapi, sejujurnya, dalam realitas kehidupan, ada banyak hal di mana keadaan yang ‘itu-itu juga’ harus kita hadapi, seperti, setiap hari dimulai dengan matahari yang sama yang terbit di timur, kita memulai hari dengan bangun dari tidur, berdoa, mandi, dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan rutin entah pergi ke sekolah/ kuliah, bekerja di kantor atau kegiatan lainnya, dst, yang hampir sama setiap… Read more »

Pierre
Guest
Pierre

Hi Ingrid, Memang, banyak orang yang menyayangkan kenapa di gereja Katolik misanya membosankan, dan kurang variasi. Saya sendiri sering mempertanyakan hal itu meskipun tidak ada sedikit pun pikiran untuk ‘pindah’, tapi saya melihat fenomena bahwa banyak orang yang imannya goyah karena hal ini. Saya mungkin bisa menjawabnya dengan perumpamaan begini: Skenario 1: Anda lapar, dan anda masuk ke warung sederhana dimana makanannya hanya nasi dan tempe, dan minumnya air putih. Semuanya serba swalayan, dan anda tinggal masuk dan makan, semua gratis, anda bisa tambah sepuasnya. Skenario 2: Anda lapar, dan anda masuk ke restoran yang mewah, anda masuk dijamu, diajak… Read more »

Nicholas
Guest
Nicholas

Dear Katolisitas,
Salam damai dalam Kristus

saya ingin menanyakan, apakah di dalam Misa Kudus diperbolehkan beberapa orang menari/ bergerak di depan altar saat lagu pujian? (katanya suasana meriah) NB: tetapi tidak setiap lagu.
berhubung teman saya ada yang tidak setuju, saya jadi ingin menanyakan kepada pihak Katolisitas agar diluruskan. Jujur saja saya juga merasa aneh jika Misa Kudus yang seharusnya khidmat malah ada yang menari di depan altar, dan juga karena cenderung ke Protestan.

Terima kasih, mohon bimbingan.

[Dari Katolisitas: Silakan membaca artikel di atas, silakan klik]

Gorby
Guest
Gorby

Teman, saya bertanya kalo tarian , nyanyi , sorak sorai tidak boleh di misa
berati persekutuan doa pada Katolik Karismatik tidak diperbolehkan ??
Soalnya saya sering mengikuti misa karismatik dan Persekutuan doa , awal2nya ada lagu pujian seperti tarian , nyanyian, puji2an , paz romo masuk sudaj msk ke dalam misa
Kenapa sekarang saat misa biasa harian atau sabtu minggu kenapa tidak dibuat format misa karismatik ??
Ketika kita di surga maka kita akan menyayikan lagu pujian terus menerus bahkan bersorak sorai kalo di dunia kita gak terbiasa gimana nanti di surga ?

Regina
Guest
Regina

Shalom Gorby cuma sekedar sharing, suatu kali sebelum saya berdoa rosario, pagi hari kira-kira jam 9 pagi, saat itu suana hening,di rumah saya sendirian, tetangga kanan kiri pun sepi karena sekolah dan kerja, waktu saya duduk dan siap berdoa, tiba-tiba saya mendengar suara koor dari kejauhan… ternyata lagunya lagu “GLORIA (kemuliaan)”, dan itu saya merasa seperti suara koor dari surga karena umat katolik di sini (mataram) adalah minoritas, dan tidak mungkin ada suatu persekutuan yang menyanyikan lagu itu begitu indah dan sempurna. Setelah itu baru saya sadari, bahwa kelak kita di surga, lagu-lagu pujian yang akan kita nyanyikan adalah Kyrie-Gloria.… Read more »

thomas
Guest
thomas

pertanyaannya adalah Kenapa Tidak Ada Tarian, Sorak sorai dan Tepuk Tangan di Misa? yang akhirnya menjadi monoton dan membosankan.. melihat hal di atas saya jadi tertarik menambahkan kenapa kenapa yang lainnya.. misalnya: kenapa lagunya tidak pop (populer)?, kenapa tidak boleh bersorak sorai?, kenapa romo berjubah, tidak ber jas yg keren?, kenapa gereja bentuknya tidak dibikin minimalis modern?, dan kenapa warna temboknya itu itu melulu tidak ceria dan bikin ngantuk? kenapa di dalam gereja tidak dihiasi dengan tata cahaya (lighting) yg keren?, kenapa soundsistemnya juga biasa biasa aja? aduuuhh.. kenapa kegiatannya itu itu melulu, gak kreatif?, kenapa kok sepi? kemudian saya… Read more »

manns
Guest
manns

selamat pagi, dan selamat Natal & tahun baru bwt para pengasuh sekalin yg terkasih…… ne pengalamanku sewaktu mengikuti perayaan ekaristi pergantian tahun di Gereja St.Antonius Kotabaru Yogya,,,,,, di awal missa ada sekelompok anak muda yang menari dengan bagusnya (sayangnya ini dilakukan di Gereja dengan ceweknya yang memakai rok diatas lutut) dan di sepanjang missa banyak dinyanyikan lagu-lagu pop rohani yang entah diambil darimana, yang pasti tidak ada imprimatur dan nihil obstatnyakarena lagunya ada yangn berisi lirik-lirik yang tidak sesuai dg iman kita, misalnya percaya takdir, dsb saat seruan tobat selesai (memakai visualisasi di layar) mungkin karena saking terharunya, imam lupa… Read more »

Romo Bernardus Boli Ujan, SVD
Guest

Salam Manns, Mengenai misa OMK dengan tarian. Berikut ini adalah tanggapan saya terhadap pernyataan Anda: Anda: …di awal missa ada sekelompok anak muda yang menari dengan bagusnya … Tanggapan saya: Ini sungguh bagus, apalagi kalau koreografinya cocok dengan teks nyanyian liturgi pada perayaan yang bersangkutan, dan tarian itu bukan untuk pertunjukan, melainkan untuk mengiringi perarakan masuk sampai di kaki altar sehingga mempunyai fungsi liturgis, bukan jadi tontonan belaka. Bahkan kalau memungkinkan seluruh umat dapat membuat gerakan di tempat (menurut rubrik Tata Perayaan Ekaristi 2005 yang telah disetujui oleh Kongregasi Ibadat) Anda:…(sayangnya ini dilakukan di Gereja dengan ceweknya yang memakai rok… Read more »

chianx
Guest
chianx

Syalom Romo Harsanto dan bu Ingrid, Bagi saya dan sebagian umat memang tidak masalah mengimani dan menghayati Misa, sekalipun itu Misa harian. Tetapi lain halnya dengan umat yang masih belum matang rohaninya atau masih setengah-setengah menjalani hidup mengikuti Kristus dalam Gereja Katolik. Terhadap umat seperti ini akan sulit dengan hanya mengatakan persiapkan diri sebaik-baiknya sebelum Misa. Umat spt ini sudah bagus datang tidak terlambat. Kita juga harus melihat kenyataan, mungkin tidak sampai separuh umat Katolik yang menghayati Misa. Kalau umat Katolik bisa menghayati dan mengimani Misa, paling tidak umat ini akan datang juga paling tidak seminggu sekali dalam misa harian.… Read more »

Yohanes Dwi Harsanto Pr
Guest
Yohanes Dwi Harsanto Pr

Salam Chianx, Terima kasih atas usulannya. Para pastor paroki di bawah reksa pastoral uskup tentu tahu berdasarkan dokumen dan situasi umat, apa yang harus dibuat. Maka, usulan Anda sudah sering dilaksanakan dan dievaluasi. Jangan lupa, selalu berkomunikasi dengan pastor paroki karena mereka tahu situasi lapangan dan jika Anda pun mengajukan usul berdasarkan data, bukan asumsi, tentu mereka akan mempertimbangkan bagaimana pelaksanaan liturgi yang baik. Salam Yohanes Dwi Harsanto Pr Tambahan dari Ingrid: Shalom Chianx, Menurut hemat saya, terbuka terhadap kondisi riil umat Katolik memang penting, namun bukan berarti bahwa prinsip utama yang harus diterapkan kemudian seolah ‘dikalahkan’ demi mengikuti selera… Read more »

Bonar Siahaan
Guest
Bonar Siahaan

Yth. Pengasuh Katolisitas

Sehubungan dengan pengalaman saya mengikuti Perayaan Ekaristi pada mana selama ini bait Mazmur tanggapan didaraskan/dinyanyikan oleh Pemazmur, namun di stasi dimana saya mengikuti Perayaan Ekaristi, bait Mazmur tanggapan selain didaraskan/dinyanyikan oleh Pemazmur juga didaraskan/dinyanyikan oleh Paduan Suara bersama dengan Pemazmur.
Yang menjadi pertanyaan saya, apakah hal ini dibenarkan? Bagaimana seharusnya?
Terima kasih atas penjelasannya..
Salam.

Romo Bernardus Boli Ujan, SVD
Guest

Salam Bonar,

Tentang pembawa ayat-ayat Mazmur, menurut Pedoman Umum Misale Romawi (PUMR) no 61, “pemazmur melagukan ayat-ayat Mazmur dari mimbar atau tempat lain yang cocok”. Kalau tidak ada pemazmur, Mazmur dapat dibawakan oleh lektor (PUMR no 196), bukan oleh koor. Jadi kalau ada koor, sebaiknya dipilih salah satu anggota koor untuk melatih dan membawakan Mazmur dari mimbar sabda.

Salam dan doa. Gbu.
Rm Boli.

Ion salam
Guest
Ion salam

syaloom…
dear Katolisitas

bagaimana umat Katolik yg tidak merayakan/menerima sakramen Ekaristi setiap minggunya?
biasanya ini terjadi di stasi masing2.
terimakasih

Yohanes Dwi Harsanto Pr
Guest
Yohanes Dwi Harsanto Pr

Salam Ion Salam,

Untuk keperluan ibadat hari Minggu tanpa imam yang otomatis tanpa Ekaristi, Komisi Liturgi KWI menerbitkan buku “Perayaan Sabda Hari Minggu”. Tahun 2012 akan terbit buku PSHM yang baru, terjemahan sesuai editio typica dari Vatikan.

Jadi, umat Katolik tetap berkumpul dan beribadat dengan merayakan Sabda Allah di hari Minggu di mana tanpa imam. Pemimpin liturginya ialah asisten imam atau awam stasi setempat yang disetujui pastor paroki.

Salam
Yohanes Dwi Harsanto Pr

Maximillian Reinhart
Guest
Maximillian Reinhart

Shalom Ingrid. Namun selanjutnya, Cardinal Ratzinger mengatakan juga demikian sehubungan dengan inkulturasi: “Tak ada ritus Kristen yang memasukkan tarian. Apa yang orang- orang sebut sebagai tarian di bentuk ritus Ethiopia atau Zaire (Kongo) dalam liturgi Roma adalah sebenarnya prosesi ritmis yang teratur, yang sesuai dengan martabat kesempatan tersebut. Hal itu memberikan tata sikap yang teratur di batin dan keteraturan bagi variasi tahap-tahapan liturgi, yang memberikan keindahan, dan di atas semua itu, membuatnya menjadi pantas bagi Tuhan.” (Ibid. p. 199) Atas pemahaman ini, maka memang masih diperbolehkan adanya semacam tarian (atau lebih tepatnya, disebut prosesi) penghantar persembahan dalam Misa Kudus, yang… Read more »

Gabriel Dibya
Guest
Gabriel Dibya

Selamat pagi, saya baru beberapa kali membuka website ini dan menemukan beberapa artikel yang cukup menarik.
saya mau bertanya mengenai pujian dan penyembahan. umumnya dalam suatu persekutuan doa senantiasa diawali dengan hal tersebut, ada yang menyebutnya praise and worship, yang bertujuan menyegarkan roh dan jiwa. memang saya betul merasakan itu. dalam suatu artikel lain dituliskan bahwa perayaan Ekaristi juga merupakan pujian dan penyembahan bahkan dikatakan sebagai puncak dari hal tersebut. Lantas apa yang berbeda dari keduanya? mengapa ada orang yang saat mengikuti misa kemudian terasa kering, padahal dikatakan pujian penyembahan menyegarkan jiwa dan roh.

terima kasih.

Flo
Guest
Flo

dear Katolisitas, terimakasih atas pengajarannya. Saya menjadi semakin mengenal tentang ajaran gereja Katolik. Namun demikian, pada praktiknya tari-tarian dilakukan saat Misa Kudus di gereja di Indonesia. Hari ini, 29 oktober 2011, saya merayakan Ekaristi di paroki Katedral Santa Maria Diangkat ke Surga. Kebetulan saat itu Misa orang muda Katolik se-dekenat Jakarta Pusat. Pada arak-arakan diawali dengan tari-tarian Bali, lalu ada juga orang muda yang membawa bendera merah putih karena bertepatan dengan peringatan Sumpah Pemuda, lalu juga dinyanyikan satu dua lagu pop yang diaransemen ulang dengan indah. Itu hanya terjadi saat Misa orang muda itu saja. Saat saya mahasiswa di Jogja… Read more »

Yohanes Dwi Harsanto Pr
Guest
Yohanes Dwi Harsanto Pr

Salam Flo, Yang dipaparkan Ingrid bukan ajarannya sendiri namun peraturan/ajaran Gereja Katolik Roma dalam hal Liturgi Suci. Sebagai warga Katolik, kita wajib mengetahui dan berusaha mentaati ajaran Gereja Katolik, juga dalam hal liturgi. Mengenai aturan liturgi, aturan liturgi dibuat para bapa Gereja demi perlindungan martabat perayaan iman agar ungkapan iman umat selaras dengan tujuan Kristus mendirikan Gereja-Nya. Dalam hal ini, aturan liturgi jika dibaca baik-baik dan lengkap (sayangnya ada pula imam pemimpin liturgi yang tidak sempat membacanya) akan mendorong kita mempersiapkan dan melaksanakan liturgi yang sungguh sesuai dengan kehendak Gereja, bukan kehendak atau selera sendiri. Mengenai patokan inkulturasi, sudah ada… Read more »

stefanus tribudi
Guest
stefanus tribudi

Pengasuh Katolisitas yth.

mohon penjelasan mengenai tata gerak bagi umat maupun anggota koor pada saat Doa Syukur Agung, dalam TPE buku merah ada bagian panduan sikap tubuh untuk ” berlutut / berdiri “, mana yg harus kita prioritaskan ‘berlutut’ atau ‘berdiri’. Terimakasih atas penjelasannya.

Yohanes Dwi Harsanto Pr
Guest
Yohanes Dwi Harsanto Pr

Salam Stefanus Tribudi, Prioritas untuk gerak tubuh “berlutut atau berdiri” ialah dengan memperhatikan situasi riil dan budaya setempat. Karena itulah rubrik mengatur dengan pilihan tersebut, yaitu “atau berlutut atau berdiri”. Jika tempat duduk dilengkapi tempat berlutut dan budaya setempat lebih cocok dengan berlutut, maka sebaiknya berlutut. Jika budaya setempat, misalnya Eropa-Amerika lebih menyatakan tanda “hormat” jika berdiri, maka berdirilah. Jika tidak ada tempat berlutut, sebaiknya berdiri, kendati secara budaya lebih pas untuk berlutut. Silahkan tim Liturgi memutuskan, agar ada gerakan yang disepakati demi kekhusukan dan dukungan antar para peraya liturgi. Sikap berlutut dan berdiri hanya bisa dilakukan di gereja dengan… Read more »

Ferry Tigor Purba
Guest
Ferry Tigor Purba

Syalom Ibu Ingrid Listiati, terima kasih banyak atas penjelasannya yang sungguh baik!… Kemarin saya membaca sebuah buku yang berjudul “Bertemu Yesus di Surga” oleh Dean Braxton (seorang Kristen Protestan), di mana saat dirawat di RS karena batu ginjal, mengalami penurunan kesadaran hingga ke tingkat koma dan bahkan di-CPR selama 1 jam 45 menit. Dan selama waktu tersebut, Dean Braxton bertemu dengan Yesus di Surga.. Memang Braxton mengatakan bahwa tidak ada kata-kata yang pas untuk mendeskripsikan keadaan surga karena begitu indahnya, megahnya, dan agungnya Tuhan Yesus di sana. Braxton melihat makhluk-makhluk di surga, seluruhnya memuji dan menyembah Allah, dari posisi berlutut… Read more »

Machmud
Guest
Machmud

Shalom Ingrid

Mohon tanya :
Mengapa Tuhan menyuruh kita untuk meniru kecerdikan dari Ular / Satan ? Seperti ayat berikut ini :

Hendaklah engkau cerdik seperti Ular dan tulus seperti burung Merpati

Terima kasih
Mac

[Dari Katolisitas: Pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]

Dominicus Endy
Guest
Dominicus Endy

Berkah dalem Bu Ingrid

Bagi “saudara” kita yang lain, menari, tepuk tangan dan sorak sorai adalah ungkapan syukur mereka kepada Yesus karena berkat Yesus mereka terselamatkan, dan juga mereka melakukannya merupakan persembahan bagi Yesus dan hanya untuk Yesus sebagai ungkapan syukurnya.

Hendrik Tang
Guest

Tanggapan singkat :
Agar umat lebih dapat yakin menyambut komuni sebagai Tubuh dan Darah Kristus, apakah kita harus dalam suasana “mourning” terus, harusnya tegas, gembira dan yakin, apalagi Yesus Kristus sudah bangkit 2000 tahun lebih, sudah bangkit ! TIDAK ADA LAGI “mourning” nya, apalagi terus menerus sedemikian lamanya! Mungkin liturginya harus dirubah sedikit, suasananya harus seperti meyakinkan sebelum konsekrasi dan kita akan dijamah/bersatu pada saat menerima di dalam mulut umat, harus lebih “hidup” yang membawa umat ke suasana bahwa Yesus Kristus sudah bangkit, karena Dia memang bangkit ! Amin.

Ferry
Guest
Ferry

Syalom,

Dalam Mazmur, terdapat ayat yang mengatakan bahwa tepuk tangan, bahkan bersorak dan menari sebagai cara memuji Tuhan tidak dilarang, namun mengapa ‘sikap’ tersebut tidak dimasukkan ke dalam liturgi Misa? Kalau boleh, tolong katolisitas menjelaskan mengenai sejarah pembentukan liturgi dan tahap-tahap yang ada di dalamnya. Seperti Pembukaan, Saya Mengaku, Tuhan Kasihanilah Kami, dst, sampai kepada Konsekrasi, dan Berkat Penutup.
Terima kasih banyak.

Tuhan Yesus memberkati!…

[Dari Katolisitas: Pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]

Machmud
Guest
Machmud

Dear Ingrid

Apakah ayat yang dicantumkan berikut ini sudah betul ?

Selanjutnya jangan dilupakan, bahwa pujian dan penyembahan kepada Tuhan juga dapat dilakukan dengan sikap diam dan hening (lih. Mzm 46:10) karena justru di dalam keheningan itu, kita akan dapat semakin mengalami kehadiran Allah.

Maz 46 : 10 yang menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi, yang mematahkan busur panah, menumpulkan tombak, membakar kereta-kereta perang dengan api!
Maz 46 : 11 “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!”

Ayat yang mana, yang menunjukkan bahwa pujian dan penyembahan dapat dilakukan dengan hening?

Terima kasih
mac

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X