Keluarga Kudus, Teladan Bagi Keluarga Kita

[Pesta Keluarga Kudus: Yesus Maria dan Yusuf: Sir 3:2-6,12-14; Mzm 128:1-5; Kol 3:12-21; Mat 2:13-15, 19-23]

Di masa Natal ini, mata hati kita tertuju kepada Tuhan Yesus Kristus, yang telah lahir di kandang Betlehem. Ia memilih untuk dilahirkan dalam sebuah keluarga, yaitu dalam asuhan bapa angkat-Nya Yusuf, dan Bunda Maria. Ini adalah bukti bahwa Allah memandang keluarga sebagai sesuatu yang penting, sehingga Ia mengutus Putera-Nya untuk lahir dan menjadi bagian di dalamnya, yang kita kenal dengan sebutan Keluarga Kudus. Padahal sebenarnya bukan merupakan keharusan bagi Tuhan Yesus untuk lahir dan dibesarkan dalam sebuah keluarga, namun dalam kebijaksanaan dan kasih-Nya, Ia toh mengambil jalan ini. Yesus begitu ingin dekat dan menyatu dengan kita, sehingga Ia mau melewati setiap jengkal kehidupan sebagai manusia, dan menjadikannya sebagai bagian dari kehidupan-Nya sendiri.  Demi kasih-Nya yang begitu besar, Yesus Sang Putera Allah itu menghampakan diri-Nya, menjelma menjadi setitik sel dalam kandungan Bunda Maria, lahir sebagai bayi yang kecil, melewati masa kanak-kanak, tumbuh menjadi remaja dan dewasa dalam sebuah keluarga. Dengan demikian, Tuhan Yesus menguduskan setiap tahap kehidupan kita sebagai manusia, sebab Ia sendiri melewati semua tahapan itu.

Dan tahapan yang diambil-Nya juga bukan tahapan yang mudah. Tuhan Yesus lahir di kandang, berbaring di tempat makanan hewan, tanpa kenyamanan yang umum dialami bayi manusia. Bukan hanya itu saja, Injil hari ini mengisahkan bahwa tak lama setelah kelahiran-Nya, Yesus dibawa mengungsi ke Mesir, setelah Yusuf memperoleh pertanda melalui mimpi (lih. Mat 2:13). Tentulah keadaan ini bukan keadaan yang mudah. Sejumlah dari kita mungkin mengingat dengan jelas pengalaman menjadi pengungsi, ketika kita mengalami musibah banjir di Pluit tepat sekitar setahun yang lalu. Tapi pengungsian yang kita alami sungguh bukan apa-apa jika dibandingkan dengan pengungsian Kristus. Sebab di waktu pengungsian itu, kita masih terhubung dengan sesama saudara ataupun sahabat kita, tidak seperti yang dialami oleh Keluarga Kudus. Mereka menempuh jarak sekitar 400 km, dari Betlehem ke Mesir, menunggangi keledai dalam cuaca yang dingin, terpisah jauh dari sanak saudara dan teman. Mereka menyingkir dari ancaman pembunuhan bayi dan anak-anak di Betlehem atas perintah Raja Herodes (lih. Mat 2:16-18). Demikianlah sejak kelahiran-Nya, Kristus telah ditolak oleh bangsa-Nya sendiri. Bersama Yusuf dan Maria, Tuhan Yesus harus mengungsi di negeri asing, dalam keadaan miskin dan kekurangan. Suatu keadaan yang sangat kontras jika dibandingkan dengan kemeriahan Natal saat ini yang nampak di mall-mall ibukota. Sebab peristiwa kedatangan Kristus yang diperingati sesungguhnya sangat sederhana. Kesederhanaan Keluarga Kudus ini, selayaknya membuka mata hati kita, untuk melihat kehadiran Tuhan Yesus justru dalam peristiwa-peristiwa yang kecil dan sederhana. Dalam keluarga kita dan dalam komunitas kita, walaupun dalam keadaan yang paling sulit sekalipun,  Tuhan Yesus tidak pernah gagal untuk menyatakan kasih dan kehadiran-Nya. Hanya bersama Dia-lah, kita dapat menjalani kehidupan kita dengan suka cita dan dengan penuh pengharapan. Sebab Imanuel, yaitu Allah yang beserta kita itu adalah Yesus, yaitu Allah yang menyelamatkan.

Maka, seperti dahulu Kristus hadir di tengah-tengah St. Yusuf dan Bunda Maria, kini Ia-pun mau hadir di tengah keluarga kita. Mari kita menyediakan tempat bagi-Nya, dalam hati kita, dan dalam keluarga kita. Semoga dengan kehadiran Kristus di dalam keluarga kita, kita dimampukan untuk mengenakan “belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran” (Kol 3:12), agar kitapun dapat mengalami kebahagiaan dan kasih sejati, sebagaimana dialami oleh Keluarga Kudus: Yesus, Maria dan Yusuf.

19/12/2018

3
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
2 Comment threads
1 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
2 Comment authors
Ingrid Listiatiyusup sumarno Recent comment authors
yusup sumarno
Guest
yusup sumarno

Bu Ingrid, bnyk trm kasih. Sya selalu senang krn Ibu selalu mmberikan jwaban yg ckup panjang. Tampak sekali menjawab dgn hati.

yusup sumarno
Guest
yusup sumarno

Pak Stef dan bu Ingrid, terima kasih atas renungan ini.
Saya jadi penasaran dg sosok Yusuf, suami Maria. Dalam yesaya.indocell.net , dalam tulisan ” Manusia Allah” , Yusup berkata pda Maria bahwa ia adalah sahabat ayahnya, ia yang membuatkan buaian Maria, bahwa usianya 2x lebih dari usia Maria yang baru berumur 15 tahun,dsb. Pertanyaannya adalh siapakah Yusuf, dalam arti apakah ia seorang duda ataukah ia memang belum menikah saat bertunangan dgn Maria? Mohon penjelasan. Terima ksih

Ingrid Listiati
Member

Shalom Yusup Sumarno, Sebenarnya, gambaran Yusuf yang sudah lansia kemungkinan diambil dari penjabaran injil apokrif, the Protoevangelium of James yang dikecam oleh St. Thomas Aquinas. Proto-injil Yakobus itu sendiri bukan injil kanonik, maka apa yang tertulis di sana tidak dapat dijadikan sebagai patokan kebenaran. Kitab itu bahkan dikecam oleh St. Thomas Aquinas, yang menganggapnya tidak otentik. Tentang kisah St. Yusuf, kita memang mempunyai beberapa sumber lain, di luar Kitab Suci, karena Kitab Suci memang tidak menjabarkan tentang kehidupan St. Yusuf. Menarik kita renungkan di sini adalah penjabaran tentang St. Yusuf menurut para mistik seperti Maria de Agrida yang terberkati, Anne… Read more »

yusup sumarno
Guest
yusup sumarno

Bu Ingrid, bagaimana persisnya memahami Injil Yoh bab 1 ayat 13?
Bukankah faktanya kita lahir dari darah dan daging dan lahir dari keinginan seorang lelaki (ayah kita)? Mohon penjelasan. Terima kasih.

Ingrid Listiati
Member

Shalom Yusup Sumarno,  Yoh 1:13 selayaknya dibaca dalam kesatuan dengan ayat-ayat sebelumnya yaitu ayat 11 dan 12, agar dapat lebih kita pahami konteksnya: “Ia [Yesus Kristus] datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya; orang-orang yang diperanakkan bukan dari darah atau dari daging, bukan pula secara jasmani oleh keinginan seorang laki-laki, melainkan dari Allah.” (Yoh 1:11-13) Penjelasan yang kami sarikan dari A Catholic Commentary on Holy Scripture, Dom Orchard OSB, gen ed. tentang ayat-ayat tersebut adalah: Yesus datang kepada kepunyaannya -yaitu… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X