Kehadiran Tuhan dalam mahluk ciptaan-Nya

St. Thomas menjelaskan tentang kehadiran Tuhan di mana-mana (the omnipresence of God), yaitu bahwa Tuhan ada di dalam semua ciptaan-Nya sebagai Penyebab dari keberadaan mereka (lih. Summa Theology, I, q.8, a.1). Jika Tuhan tidak hadir di dalamku sebagai Penyebab keberadaanku yang Dia pertahankan dan pelihara setiap waktu, maka aku akan tenggelam dalam ketiadaan, sebab keberadaanku bukan milik hakekatku, tetapi sebagai sesuatu yang diterima [dari Sang Pencipta].

Demikianlah yang ditulis oleh St. Thomas Aquinas:

… Sesuatu ada di mana ia bekerja. Sedangkan Tuhan bekerja di dalam segala sesuatu, menurut Yes 26:12, “Ya Tuhan, … sebab segala sesuatu yang kami kerjakan, Engkaulah yang melakukannya bagi kami.” Oleh karena itu Tuhan ada di dalam segala sesuatu.

Aku menjawab bahwa, Tuhan ada di dalam segala sesuatu; memang tidak sebagai bagian dari hakekat segala sesuatu itu, tidak juga sebagai bagian dari ciri-ciri mereka, tetapi sebagai Penyebab yang hadir pada tempat di mana Ia berkarya…Nah karena Tuhan adalah Diri-Nya sendiri dalam hakekat-Nya, maka mahluk ciptaan adalah akibat langsung dari-Nya, sebagaimana bernyala adalah akibat langsung dari api. Tuhan menyebabkan akibat ini, sebagaimana terang disebabkan di dalam udara oleh matahari, sepanjang udara tetap diterangi. Maka, sepanjang sesuatu itu ada, Tuhan harus ada di dalamnya, menurut cara ketentuan keberadaan. Keberadaan (being) adalah sesuatu yang ada di tempat yang paling dalam di dalam segala sesuatu, dan secara paling mendasar tak terpisahkan dari segala sesuatu itu…. Oleh karena itu, Tuhan ada di dalam segala sesuatu, dan di tempat yang paling dalam.

… Tuhan ada di atas segala sesuatu oleh keistimewaan kodrat-Nya; namun demikian, Ia berada di dalam segala sesuatu sebagai penyebab keberadaan segala sesuatu; seperti telah disebutkan di atas. (Summa Theology, I, q.8, a.1)

Dan seperti Tuhan hadir di dalam segala sesuatu dan memberikan keberadaan mereka, Ia hadir di semua tempat, memberikan keberadaan kepada segala sesuatu yang mengisi tempat itu.

St. Thomas Aquinas juga mengajarkan bahwa kehadiran Tuhan di mana-mana (omnipresent) dengan hakekatnya, kehadiran dan  kuasanya (lih. Summa Theology I, q.8, a.3): 1) Tuhan ada dengan hakekat-Nya di dalam segala sesuatu, dalam artian bahwa Ia memberikan keberadaan kepada segala sesuatu; 2) Tuhan ada di dalam segala sesuatu dengan kehadiran-Nya, dalam artian bahwa segala sesuatu diketahui/ dikenal secara sempurna oleh-Nya. Setiap tindakan dan gerakan hati kita diketahui/ dikenal oleh Tuhan lebih sempurna daripada kita mengenalinya sendiri. Maka kita selalu ada di dalam kehadiran Tuhan. Ini penting disadari dalam kehidupan rohani, yaitu bahwa kita selalu mengingat bahwa kita selalu berjalan di dalam kehadiran Allah. 3) Allah hadir di dalam segala sesuatu dengan kuasa-Nya, dalam artian bahwa segala sesuatu tunduk pada pengaturan dan kuasa-Nya. Keberadaanku terpampang di hadapan Tuhan dan Ia dapat melakukan apa saja seturut kehendak-Nya. Kuasa ini nyata secara khusus di dalam mukjizat Tuhan dan intervensi-intervensi adikodrati. Sebab dikatakan, “tiada yang mustahil bagi Tuhan” (lih. Luk 1:37).

Namun demikian, walaupun Tuhan hadir di mana-mana (omnipresent), Tuhan hadir di dalam mahluk rohani yang dalam keadaan rahmat, dengan cara yang istimewa, yang lain dengan kehadiran-Nya pada segala sesuatu dengan ketiga macam kehadiran itu. Tuhan hadir dalam jiwa orang benar melalui kebijakan ilahi sebagai tujuan/ sasaran dari iman, pengharapan dan kasih orang tersebut. Jadi dengan cara ini, Tuhan hadir dalam jiwa kita, sebagai Kekasih jiwa kita. Inilah maksud dari pernyataan bahwa Allah Trinitas tinggal di dalam kita seperti tinggal di dalam bait-Nya.

St. Thomas Aquinas menjelaskan tentang perbedaan antara kehadiran Tuhan dalam segala sesuatu dan kehadiran dalam orang-orang yang mengimani-Nya, hal ini demikian:

“Dikatakan Tuhan ada di dalam sesuatu dengan dua cara: 1) cara yang pertama, menurut ketentuan Penyebab yang mengakibatkan terjadinya sesuatu; dan karena itu Tuhan ada di dalam segala sesuatu yang diciptakan oleh-Nya. 2) cara lainnya adalah, Ia ada di dalam segala sesuatu seperti tujuan/ sasaran pekerjaan ada di dalam orang yang mengerjakannya; dan ini sesuai dengan cara kerja jiwa, [yaitu] seperti halnya apa yang dikenal berada di dalam diri orang yang mengenal; dan apa yang diinginkan ada di dalam diri orang yang menginginkannya. Dengan cara yang kedua ini, Tuhan ada secara istimewa di dalam diri mahluk yang berakal budi yang mengenal dan mengasihi Dia, secara nyata dan secara tetap. Dan karena mahluk yang berakal budi memperoleh hak istimewa ini oleh karena rahmat Tuhan…. maka dikatakan bahwa Allah berada di dalam para kudus-Nya oleh karena rahmat.” ( Summa Theology, I, q.8, a.3)

Melalui Baptisan, kita memperoleh rahmat Tuhan yang membersihkan kita dari dosa, dan yang memberikan hidup ilahi kepada kita. Maka melalui Baptisan, derajat kita diangkat oleh Tuhan, dari keadaan kodrati sebagai manusia mahluk ciptaan-Nya, kepada keadaan adikodrati sehingga kita dapat menjadi anak-anak angkat-Nya, menerima hidup ilahi (digabungkan dalam kehidupan Allah sendiri) sehingga kelak berhak memperoleh warisan kehidupan kekal dalam Kerajaan Surga. Dalam kehidupan kekal di Surga inilah kita mengalami kesempurnaan hidup di dalam Allah, dalam kehadiran-Nya yang melingkupi kita dan menjadikan kita serupa dengan Dia (lih. 1 Yoh 3:2).

Betapa kita perlu mensyukuri rahmat Allah ini, yang memang dicurahkan kepada kita yang percaya kepada-Nya. Adalah menjadi tugas kita, untuk menjaga keadaan rahmat yang kita terima di saat Pembaptisan ini, agar kita sungguh didapati-Nya setia beriman sampai akhir, dengan selalu bekerja sama dengan rahmat Tuhan, yaitu dengan mewujudkan iman dalam perbuatan kasih, supaya kelak Tuhan berkenan menggenapi janji keselamatan kekal itu bagi kita.

 

36
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
9 Comment threads
27 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
10 Comment authors
JohnnyJohnyStefanus TayBudiQawula Recent comment authors
Johny
Guest
Johny

Shalom, beberapa waktu lalu Bu Ingrid pernah memberikan sebuah site yang waktu itu ditulis oleh Rev. Alexander Roberts, D.D, apakah dia seorang Katolik? Lalu yang kedua, Saya pernah membaca di The First Epistle of Clement to the Corinthians. Di sana tertulis ‘The Church of God which sojourns at Rome, to the Church……’. Setahu saya, kata sojourns itu menetap sementara. Apakah Gereja Katolik pernah berpindah selain di Vatican/Roma? Sepanjang sepengetahuan saya, Gereja Katolik sejak didirikan di Roma oleh St. Petrus, ya terus masih tetap di sana sampai sekarang ini. Atau saya yang salah baca / info. Mohon bantuannya, Pak Stef /… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Jonny, Pertanyaan Anda yang pertama, Alexander Roberts, D.D kelihatannya bukan seorang Katolik, namun presbyterian minister. Namun hal ini tidak menjadi masalah, karena yang kami berikan sebagai referensi adalah karyanya sebagai editor dalam menterjemahkan tulisan-tulisan para bapa Gereja awal. Pertanyaan yang kedua, dalam pembukaan “The First Epistle of Clement to the Corinthians”, St. Clement menuliskan “The church of God which sojourns at Rome, to the church of God sojourning at Corinth, to them that are called and sanctified by the will of God, through our Lord Jesus Christ: Grace unto you, and peace, from Almighty God through Jesus Christ, be… Read more »

Budi
Guest
Budi

Kepada Pak Stef / Bu Ingrid, Nama saya Johnny dan saya masih SMUK. Mohon maaf kalau saya memiliki pertanyaan & filosofi yang aneh. Saya sering punya imajinasi dan pikiran terliar (bukan pornofgrafi pak Stef, hehehe). Dan saya berusaha menjawab pikiran saya sendiri. Saya cuman ingin konfirmasi dari Pak Stef atau Bu Ingrid apakah JAWABAN pemikiran ini saya sudah benar dan sesuai ajaran Yesus. Maaf ya pak Stef / Bu Ingrid kalau pikiran ini kayak orang gila, tapi pertanyaan ya tetaplah sebuah pertanyaan. Tapi kalau anda repot dan tidak menjawab, saya sangat paham dan maaf mengganggu anda. PERTANYAAN 1 Saya sering… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Johnny, Terima kasih atas pertanyaan Anda yang sebenarnya merupakan cermin dari kerinduan hati Anda untuk mencari kebenaran. Berikut ini adalah beberapa prinsip untuk menjawab beberapa pertanyaan yang Anda ajukan: 1. Secara prinsip Allah memang tak terbatas; keberadaan-Nya tidak bergantung dari lainnya, bahkan sebaliknya keberadaan yang lain tergantung dari Allah; Dia melampaui segala sesuatu dan segala sesuatu yang baik diciptakan-Nya. Namun demikian, kita harus berpegang pada prinsip bahwa semua yang diciptakan Tuhan adalah baik. Dengan demikian, kita tidak dapat mengatakan bahwa Tuhan menciptakan dosa atau kejahatan (evil). Evil adalah ketidakberadaan kebaikan, di mana Tuhan adalah kebaikan itu sendiri. Sama seperti… Read more »

Budi
Guest
Budi

Shalom Pak Stef, terima kasih atas jawabannya. Saya ada pemikiran lagi, mohon diberi masukan. Pikiran saya yang ke-1 : Ketika saya membaca daftar dogma dari Dr. Ludwig, saya seperti sudah mengetahui semua tentang Tuhan sendiri (maksudnya memahami dia secara keseluruhan). Jadi kalau bahasa jawanya :’Tuhan ya mek paling ngono-ngono tok, paling-paling omnipotent, omniscience, omnipresent, good, eternal, just, gak ono seng laene maneh seng nggarakno aku kaget’. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Tuhan sendiri dapat dipahami secara penuh melalui analogi kita, bahasa kita, otak kita & dengan semua daftar dogma Dr. Ludwig. Alias daftar dogma itu ‘membatasi’ Tuhan sendiri. Penyelesaian Saya (apakah… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Budi, Terima kasih atas pertanyaannya. Daftar dogma yang diberikan oleh Ludwig Ott sebenarnya merupakan pengelompokan dan ringkasan yang sebelumnya telah didefinisikan oleh Gereja, baik melalui konsili-konsili maupun ex-cathedra, yang berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi Suci. Dengan demikian, semua dogma adalah berdasarkan Firman Allah, yang diformulasikan sedemikian rupa sehingga ajaran ini dapat diwariskan dari satu generasi ke generasi lain tanpa ada penyimpangan maupun distorsi. Semua dogma yang didefinisikan dengan kata-kata manusia, tentu saja tidak dapat menangkap keseluruhan dari Allah, karena kata-kata kita terbatas untuk menggambarkan Allah yang tak terbatas. Namun, apa-apa yang diperlukan oleh manusia untuk mengenal Allah dan menuju… Read more »

Budi
Guest
Budi

Shalom Pak Stef,

kalau begitu, apakah juga dapat dikatakan bahwa meskipun dengan semua macam-macam dan jenis dogma Gereja Katolik, kita tetap hanya dapat mengetahui SECERCAH dari Tuhan yang amat sangat tidak terbatas itu?

Terima kasih

Stefanus Tay

Shalom Budi, Terima kasih atas pertanyaannya. Apa yang kita ketahui tentang Tuhan melalui dogma dan doktrin Gereja Katolik yang berdasarkan Kitab Suci dan Tradisi Suci, sesungguhnya telah sangat banyak dan luar biasa. Hal ini hanya mungkin tercapai karena Allah sendiri yang menyatakan diri-Nya kepada manusia, terutama ketika Allah menjadi manusia dan berbicara secara langsung kepada manusia, memberikan teladan dalam perkataan dan perbuatan. Dengan kata lain, apa yang dituliskan dalam Kitab Suci serta dogma Gereja telah cukup untuk menuntun manusia kepada keselamatan. Namun, apakah dengan demikian, melalui dogma dan doktrin, kita telah mengerti dan mengetahui sebagaimana adanya Allah? Tentu saja kita… Read more »

Budi
Guest
Budi

Syalom Pak Stef, Terima kasih atas jawabannya. PAK STEF BERKATA : ‘Namun, apakah dengan demikian, melalui dogma dan doktrin, kita telah mengerti dan mengetahui sebagaimana adanya Allah? Tentu saja kita mengetahui dan mengerti Allah sejauh Dia menyatakan diri-Nya dan sejauh kata-kata dapat menuangkan kebenaran tersebut. Karena kata-kata kita terbatas untuk menuliskan Allah yang adalah tak terbatas’ RESPON SAYA : Soalnya saya sering berpikir apakah Tuhan itu dapat dijelaskan apa adanya oleh semua jumlah, semua jenis & semua macam dogma? Contohnya Tuhan itu baik, kuat, mulia, ‘DAN SEBAGAINYA’. Nah kata-kata ‘DAN SEBAGAINYA’ ini sering kali saya berpikir ada berapa banyak yah… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Johnny, Secara prinsip, pembagian atribut Allah (attributes of God) bukanlah membagi Allah menjadi bagian, karena Allah adalah simple dan tak terbagi. Jadi semua atribut tersebut adalah esensi dari Allah sendiri – sebagai contoh Allah adalah kasih, Allah adalah adil, dll. Pada saat kita mengatakan Allah adalah kasih, Allah adalah adil, kita tidak membagi Allah menjadi beberapa bagian, namun seperti melihat dalam kaca prisma, dan melihat bayangan Allah dari berbagi sudut, namun yang kita lihat adalah keseluruhan Allah. Kalau Anda ingin mendalami pembagian atribut Allah, maka Anda juga dapat membaca beberapa artikel dalam New Advent – silakan klik dan klik… Read more »

Johnny
Guest
Johnny

Syalom Pak Stef, Terima kasih atas jawabannya. Maaf, menurut saya website New Advent terlalu lama & belum up to date (walaupun memang masih bisa dipelajari). Lagipula saya kesulitan dengan bahasa inggrisnya yang terlalu rumit. hehehehe. Maap ya Pak Stef. JAWABAN ANDA : “….Jadi semua atribut tersebut adalah hakekat Allah sendiri – sebagai contoh Allah adalah kasih, Allah adalah adil, DAN LAIN-LAIN….” RESPON SAYA : Saya memang setuju dan mengetahui bahwa Tuhan itu tidak terbagi-bagi / simple. Kata ‘DAN LAIN-LAIN’ inilah yang buat saya penasaran apakah atribut Tuhan hanya itu-itu saja (kalau di web yang Pak Stef beri, cuman beberapa saja).… Read more »

Johnny
Guest
Johnny

Syalom Pak Stef, Saya cukup terkejut dengan jawaban anda yang cepat. PERKATAAN ANDA : Kembali ke atribut Allah, maka semua atribut Allah memang tidak dapat menggambarkan Allah “sebagaimana adanya Dia secara absolut dan sempurna”, karena analogi dan kata-kata kita terbatas sedangkan Allah tidak terbatas. RESPON SAYA : Nah, itulah maksud saya selama ini Pak Stef. Bahwa apa yang kita ketahui tentang Tuhan itu cumanlah SECERCAH (seperti & sama persis dengan jawaban prinsip dogma ‘KESIMPULAN SAYA’ di email sebelumnya).Tapi memang ini sudah cukup menuntun kita ke surga. Dan kita tidak perlu mencari-cari atribut yang lain karena ini di luar kemampuan kita… Read more »

Budi
Guest
Budi

Shalom Paf Stef, Terima kasih atas prinsip-prinsip yang telah anda berikan. Sebenarnya Pak Stef, dengan prinsip-prinsip yang sudah anda berikan, saya melihat jawaban saya itu kelihatannya sesuai dengan perkataan anda. Di bawah ini, saya menuliskan kesimpulan saya dengan melampirkan pula jawaban Pak Stef dan jawaban romo. Kalau JAWABAN SAYA ini sudah sesuai dengan Dogma Gereja Katolik, maka Pak Stef cukup konfirmasi saja bahwa sudah benar. Sehingga saya tidak terjebak pada sebuah jawaban yang berasal dari pemikiran saya sendiri, bukan dari Dogma Gereja Katolik. JAWABAN DARI PERTANYAAN 1 · Jawaban Pak Stef : Secara prinsip Allah memang tak terbatas; keberadaan-Nya tidak… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Budi, Saya akan menjawab secara prinsip saja. Semoga prinsip dasar ini dapat menjawab pertanyaan Anda. Dari awal, saya mencoba untuk menekankan bahwa prinsip kebalikan versi Anda – yang menempatkan kebaikan dan keburukan secara sejajar dan menganggap keduanya adalah sesuatu yang positif – justru tidak tepat. Dan menjadi kesalahan fatal, kalau Anda melihat bahwa kelengkapan atau kesempurnaan dilihat dari memiliki kedua unsur kebalikan tersebut. Tuhan adalah sempurna dalam segala yang baik, karena di dalam Tuhan tidak ada yang tidak baik. Tuhan adalah kudus. Itu berarti kekudusan di dalam Tuhan adalah sempurna, bahkan Tuhan sendiri hakekatnya adalah kudus. Namun, kita tidak… Read more »

Qawula
Guest
Qawula

Kalau Allah ada di dalam segala sesuatu sebagai sebab dari keberadaan sesuatu itu, apakah itu berarti Allah ada di dalam iblis dan neraka?

[dari katolisitas: Ya, dalam konteks Ia memberikan keberadaan kepada segala sesuatu. Namun, kehadiran Tuhan dalam diri orang yang dalam kondisi rahmat adalah kehadiran yang sungguh spesial, yaitu sebagai kekasih (the beloved) jiwa kita.]

Qawula
Guest
Qawula

Mungkinkah Allah yang Maha Kudus dapat bercampur dengan iblis dan neraka?

[dari katolisitas: Maksudnya Allah hanya menjaga keberadaan mereka, seperti jiwa manusia dan iblis yang kekal adalah tetap kekal. Namun, mereka mengalami keterpisahan untuk selamanya dengan Allah]

Donny
Guest
Donny

Shalom.. Katolisitas. Maaf, saya mau bertanya, jika Tuhan hadir dalam segala sesuatu dalam kehidupan manusia, mengapa masih ada orang yang tidak percaya dengan adanya Tuhan. Kemudian saya percaya pada Tuhan, tapi jujur kadang sulit untuk merasakan bahwa Tuhan hadir dalam diri saya, sulit merasakan bahwa Tuhan memang sangat peduli pada saya. Kira-kira apa yang harus saya lakukan agar saya semakin tahu dan sadar bahwa Tuhan ada dalam diri saya ini. Terima kasih. Semoga kasih Tuhan semakin nyata dalam hidup saya. [Dari Katolisitas: Mungkin artikel ini dapat membantu?, silakan klik. Sebab masalahnya ada pada manusia, bukan pada Tuhan. Tuhan selalu siap… Read more »

Donny
Guest
Donny

Maaf, tapi di link tersebut dijelaskan usaha manusia dalam lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Dalam kehidupan nyata saat ini, terlihat sepertinya Tuhan enggan menunjukkan keberadaan-Nya. Teman saya bertanya pada saya seperti ini, “Untuk apa Tuhan menciptakan dunia ini ? Memberikan kehidupan pada manusia, hingga sampai semua hal, sampai Tuhan sendiri menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus, dan mati di kayu salib demi menyelamatkan manusia yang diciptakan-Nya tersebut.Memberikan kehidupan pada manusia, kemudian mematikan manusia tersebut, mengadili untuk dimasukkan ke surga atau ke neraka. Untuk apa semua itu ? Bukankah lebih baik Tuhan santai-santai tanpa perlu mengurusi dan mengatur hidup manusia… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Donny, Allah adalah Kasih (1Yoh 4:8), dan dan hakekat kasih itu adalah memberi. Kesempurnaan kasih dalam diri Allah, nyata dalam pemberian diri yang timbal balik dalam kehidupan Pribadi-Nya yang ilahi: Allah Bapa, Putera dan Roh Kudus, sebagaimana pernah dijabarkan di artikel ini, silakan klik. Hakekat dari kebaikan itu adalah memancar/ menyebar ke luar dengan sendirinya, Bonum est difussivum sui. Karena Allah itu baik dan Allah itu kasih; maka sudah menjadi sifat Allah untuk menyebarkan kasih dan kebaikan-Nya. Untuk menyebarkan kebaikan-Nya inilah, Allah menciptakan dunia, yang mencapai puncaknya pada penciptaan manusia yang diciptakan-Nya menurut gambar dan rupa-Nya. Namun Allah tidak… Read more »

Donny
Guest
Donny

Terima kasih Bu, atas jawabannya. Saya mengerti bahwa hidup dengan kasih akan sangat luarbiasa. Saya setuju itulah mungkin alasan mengapa Tuhan menciptakan semuanya, termasuk manusia(saya hanya tidak yakin itu yang sebenarnya karena itu tidak tertulis dengan jelas di Alkitab dan pertimbangan pribadi saya yang lain). Secara pribadi menurut saya, hidup seperti itulah yang nanti akan ada di surga. Tapi jika memang pada mulanya alasan “kasih” lah yang menyebabkan Tuhan menciptakan dunia ini, mengapa itu tidak disebutkan di Alkitab ? Mengapa dalam perjanjian lama tertulis, sepertinya manusia diciptakan hanya untuk sekedar menjaga ciptaanNya yang lain ? Jika memang untuk alasan “kasih”… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Donny, 1. Kita diciptakan dalam kasih Allah untuk menjadi anak-anak Allah yang dikasihi-Nya. Bahwa Tuhan menciptakan kita untuk maksud kasih, itu disebutkan secara eksplisit maupun implisit dalam Kitab Suci. Salah satu penjabaran rencana Tuhan sejak awal mula terhadap kita manusia yang diciptakannya, itu disebutkan dalam surat Rasul Paulus demikian: “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus yang dalam Kristus telah mengaruniakan kepada kita segala berkat rohani di dalam sorga. Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus… Read more »

Donny
Guest
Donny

Sekali lagi Terima kasih banyak Bu. Tapi saya akan mencoba memperjelas pertanyaan/pernyataan saya yang sepertinya kurang jelas. -Saya bisa berterima bila kita diciptakan untuk merasakan kasih Allah. Saya juga paham bahwa Allah itu tidak pilih kasih. Pertanyaan saya adalah; jika memang pada mulanya Allah menciptakan semuanya karena kasih, mengapa dalam perjanjian lama tidak disebutkan dengan jelas, bahwa alasannya adalah kasih? Kisah Nabi Nuh dan Penghancuran Kota Sodom dan Gomora, menurut saya tidak mencerminkan Allah yang penuh kasih. Dalam perjanjian lama tersebut, terlihat “sepertinya” Allah hanya mengasihi manusia yang mengasihiNya juga. Atau secara kesuluruhan, saya meragukan bahwa Allah penuh kasih dalam… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Donny, 1. Tentang keadilan dan belas kasih Allah Pertama-tama mari dipegang dulu prinsipnya, bahwa untuk memahami makna ajaran dalam Kitab Suci, kita perlu melihat Kitab Suci secara keseluruhan. Artinya, sekalipun kita membaca sebuah perikop Kitab Suci, kita perlu melihatnya dalam kesatuan dengan ayat-ayat yang lain, dan tidak untuk mempertentangkannya dengan ayat-ayat yang lain. Atas prinsip dasar ini, kita dapat membaca kisah-kisah dalam Perjanjian Lama dalam perspektif yang benar. Kisah-kisah Perjanjian Lama yang menekankan sifat keadilan Allah tidak untuk dipertentangkan dengan sifat belaskasih-Nya yang nampak jelas dalam kisah-kisah Perjanjian Baru. Sebab kedua sifat Allah ini sudah selalu ada bersama-sama sejak… Read more »

Donny
Guest
Donny

Terima kasih banyak Bu.., atas penjelasannya. Tapi mohon maaf, saya tidak terlalu puas dengan jawaban Ibu. Saya pikir Bu Inggrid tidak mempertimbangkan fakta yang ada di masyarakat saat ini, yang sebagian sudah saya sebutkan diatas.
Perlu Ibu ketahui, teman saya yang saya ceritakan diatas, dia dulu SMP di sekolah katolik, dan tinggal di asrama sekolah katolik tersebut. Dia mengaku sering ikut misa. Dia ikut ibadat rutin tiap hari. Dalam bahasanya dia bilang bahwa dia berdoa seratus kali tiap hari. Tapi dia merasa bahwa dia belum menemukan sesuatu yang membuatnya bisa percaya pada Tuhan.

Ingrid Listiati
Member

Shalom Donny, Saya sudah berusaha menjawab pertanyaan Anda dengan mengambil dasar dari ayat-ayat Kitab Suci dan dari dokumen Gereja Katolik. Kalau Anda tidak puas, ya itu adalah hak Anda, tapi dari pihak saya, saya tidak dapat mengubah jawaban saya. Sebab saya tidak dapat menjawab dengan maksud untuk memuaskan pembaca, tetapi pertama-tama, saya mempunyai komitmen untuk menyampaikan apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik, tentang topik yang ditanyakan. Anda menyampaikan fakta, bahwa ada banyak orang sekarang yang tidak dapat mengalami kehadiran Tuhan. Ya, saya juga mengetahui akan hal itu. Tetapi keadaan ini tidak untuk dijadikan dasar bagi kita untuk mengatakan bahwa memang… Read more »

Donny
Guest
Donny

Eh ga jadi deh… Maklum Bu, masih muda jadi agak labil. hehe Untuk ketidaktahuan saya akan pertentangan yang ada dalam alkitab tersebut, saya baru-baru ini telah menemukan jawabannya di 1 Petrus 3: 18-20. Memang Allah terlihat tidak memiliki kasih yang besar dalam kisah Nabi Nuh,tapi Allah telah menebusnya dengan mengirimkan Roh Yesus untuk memberitakan Injil kepada roh mereka. Ini berarti Allah masih mungkin untuk mengampuni dan memberikan kehidupan yang kekal kepada roh orang yang tidak taat pada Allah dalam kisah Nabi Nuh. Tuhan memang Maha besar dan Maha Mengasihi. Ajari kami untuk selalu mengasihi sepertiMu Bapa. Amin Tuhan memberkati kita… Read more »

djawari
Guest
djawari

Hello Katolisitas.org

Saya ingin tanya tentang kemaha hadiran Allah (omnipresence of God).

Apakah Allah bisa memutuskan untuk tidak hadir di suatu tempat?

Jika jawabannya ‘tidak’ maka berarti Allah tidak mahakuasa karena bagaimana Allah disebut mahakuasa tetapi tetapi faktanya tidak mampu melakukannya?

Jika jawabannya ‘ya’ maka berarti Allah tidak maha hadir

Salam kasih Tuhan Yesus

Ingrid Listiati
Member

Shalom Djawari, Agaknya prinsip yang harus dipahami adalah apa yang dinyatakan Allah dalam Kitab Suci tentang Diri-Nya, sebagaimana disampaikan oleh Rasul Paulus, “…. Dia [Allah] tidak dapat menyangkal diri-Nya” (2 Tim 2:13). Artinya, kalau Allah menyatakan diri-Nya sebagai Maha besar dan Maha kuasa (Mzm 96:4; Neh 9:32; 2 Mak 1:25), dan bahwa Allah juga adalah Kasih (1 Yoh 4:8), maka Ia tidak mungkin menjadi Kejahatan. Walaupun Allah Maha kuasa artinya dapat melakukan apa saja, tetapi tidak mungkin Allah menjadi jahat, sebab kejahatan itu bertentangan dengan kasih; karena Allah tidak mungkin menyangkal diri-Nya sendiri. Sebab tidak ada pertentangan dalam diri Allah.… Read more »

Frans The
Guest
Frans The

Hallo Ingrid,

Apa kabar? Sudah lama tidak bertemu.

Saya ingin tanya. Dimanakah Tuhan berada?
Selama ini saya menjawab ada di hati setiap orang tapi ada yang berpendapat Tuhan berada dimana mana, dan orang ini mengatakan kalau itu benar berarti ada dibenda apa saja?

Tolong dijelaskan.

Terima kasih dan salam,
Frans The

Ingrid Listiati
Member

Shalom Ko Frans, Tentang kehadiran Tuhan dalam mahluk ciptaan, silakan membaca terlebih dahulu artikel di atas, silakan klik. Dari prinsip di atas, kita perlu membedakan adanya 3 jenis kehadiran Tuhan: 1) Kehadiran Tuhan di mana-mana, karena Ia adalah Tuhan yang Maha Hadir (omni-present), yaitu melalui pengetahuan-Nya, kuasa-Nya dan hakikat-Nya, yang memebrikan keberadaan kepada segala sesuatu. “Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia” (Ibr 4:13). “Sebab di dalam Dia kita hidup, kita bergerak, kita ada …” (Kis 17:28). “Tidakkah Aku memenuhi langit dan bumi? demikianlah firman TUHAN.” (Yer 23:24).… Read more »

Nicholas
Guest
Nicholas

Shalom Katolisitas
Saya ingin bertanya, apakah ada tanda-tanda tertentu saat kita tidak dalam keadaan rahmat (state of grace)? Apa saja tanda-tanda jika kita sudah tidak lagi menjadi tempat kediaman Roh Kudus?

terima kasih

[Dari Katolisitas: Yang menyebabkan orang tidak lagi dalam keadaan rahmat adalah dosa berat. Silakan membaca terlebih dahulu artikel-artikel berikut:
Masih Perlukah Pengakuan Dosa (bagian 1), untuk memahami apakah bedanya dosa berat dan dosa ringan
Dosa berat dalam hubungannya dengan keselamatan
Mengapa kita perlu tahu dosa berat dan dosa ringan?
Dosa menghujat Roh Kudus dan dosa berat.]

frans
Guest

Shalom Inggrid Membaca naskah anda dan tanggapan sdr Fxe, serta jawabannya dari anda timbul pertanyaan dalam hati saya, karena ketidak fahaman tentang keberadaan Tuhan dalam segala hal. Pertanyaan saya dilatar belakangi oleh firman Tuhan mulai dari Kitab Kejadian dalam proses penciptaan, Tuhan menghembuskan RohNya dalam diri kita. Dus berarti ada roh Tuhan dalam diri kita. Yang ke dua sabda Yesus sendiri “Bapa ada dalam Aku dan Aku dalam Bapa, Aku didalam engkau dan engkau dalam Aku. (mohon maaf tidak hafal tempatnya dalam Injil dan tidak hafal persis kalimatnya, mohon koreksi) Kesimpulannya Tuhan di dalam aku. Kalo pemahaman saya ini saya… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Frans, Prinsipnya adalah, Roh Tuhan ada di dalam diri ciptaan-Nya, namun tidak menjadi satu dan sama dengan hakekat/ kodrat ciptaan-Nya. Keberadaan Allah dalam diri kita manusia, tidak menjadikan kita otomatis adalah Allah juga. Adanya partikel Allah dalam diri ciptaan yang suatu saat akan bersatu menjadi Allah adalah ajaran Panteisme, yang tidak sesuai dengan ajaran Kristiani. Iman Kristiani mengajarkan bahwa Allah melampaui segala ciptaan-Nya dan karena itu, hakekat Allah tidak tercampur baur dengan hakekat manusia. Dalam diri Kristuspun, yang mempunyai dua kodrat (kodrat Allah dan manusia), kedua kodrat tersebut tidak tercampur baur, namun tergabung secara hypostatic, sedemikian, sehingga masing-masing kodrat… Read more »

frans
Guest

Shalom Inggrid.
Trimakasih atas penjelasannya. Tuhan memberkati.

fxe
Guest
fxe

Dear Katolisitas, Saya ingin sharing renungan yang saya kumpulkan dari beberapa sumber, rasanya seperti merangkai sebuah puzzle. Mohon saran-saran bila ada keping-keping puzzle yang belum lengkap, atau malah salah pasang. Ayat pertama dari seluruh Kitab Suci adalah: “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”. Tetapi Allah tidak menciptakan lalu meninggalkannya (seperti seorang pembuat jam), melainkan Allah terus memelihara dan menghidupi ciptaan-Nya. Segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan segala sesuatu ada di dalam Dia, maka Dia ada di dalam segala sesuatu dan tanpa Dia tidak ada sesuatu pun yg sudah dijadikan dapat mempertahankan keberadaannya. Maka dalam konteks manusia, sejak dia diciptakan… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Fxe, Terima kasih atas pertanyaan dan sharing pemahaman Anda. Izinkan saya menanggapi, bukan atas dasar pandangan saya pribadi, tetapi saya mengutip apa yang diajarkan oleh St. Thomas Aquinas, tentang kehadiran Tuhan, silakan klik di sini. Atas dasar ajaran St. Thomas Aquinas ini saya menanggapi pernyataan Anda. Secara umum, kita tidak dapat mengatakan bahwa kehadiran Allah dalam diri kita sebelum dan sesudah dibaptis itu sama, hanya kita saja yang secara subyektif memaknainya berbeda. Kalau menurut St. Thomas Aquinas, terdapat perbedaan antara kehadiran Allah di dalam diri seseorang, sebelum dan sesudah ia dibaptis. Perbedaan ini tidak disebabkan karena perasaannya terhadap kehadiran… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X