Kebahagiaan Manusia Hanya Ada di Dalam Tuhan

Pendahuluan

Apa yang menjadi kebahagiaan anda? Mungkin ada orang yang secara spontan mengatakan: saya bahagia kalau punya banyak uang, bisa makan yang enak, atau punya pasangan yang keren. Atau mungkin ada yang berpendapat bahwa kebahagiaan dicapai dengan kedudukan dan pendidikan yang tinggi, kesehatan yang prima, dan penampilan yang OK. Setidak-tidaknya itulah gambaran yang umum dipropagandakan melalui iklan dan film-film di televisi. Benarkah kebahagiaan kita dapat dicapai dengan hal-hal tersebut di atas?

Semua orang ingin bahagia

Semua orang, baik dewasa maupun anak-anak, ingin bahagia. Kebahagiaan diartikan sebagai pemenuhan semua keinginan hati kita. Jika kita perhatikan, pemenuhan kebahagiaan itu bergeser terus, manusia cenderung menginginkan sesuatu yang ‘lebih’: ingin lebih pandai, lebih sukses, lebih baik. Semua itu disebabkan karena di dalam diri kita ada keinginan untuk mencapai kesempurnaan akhir seperti halnya seorang atlet yang terus berjuang mencapai garis finish. Nah, masalahnya apa yang dicapai setelah garis akhir itu? Memang bagi kita yang masih hidup di dunia, titik akhir itu tidak dapat kita gambarkan secara persis. Tak heran, walaupun semua orang ingin bahagia, umumnya orang tidak tahu secara persis macam kehidupan seperti apa yang dapat menghantar kita ke sana. Akibatnya tiap-tiap orang mengejar hal yang berbeda-beda untuk mencapai kebahagiaan itu.

Apakah kebahagiaan ada di dalam uang?

Banyak orang ingin mencari uang sebanyak-banyaknya agar bahagia. Namun jika kita renungkan, uang dan kekayaan merupakan sesuatu yang lebih rendah daripada manusia itu sendiri. Uang dan kekayaan bersifat sementara: dapat mudah diperoleh, tetapi juga mudah hilang. Uang bukan tujuan, karena ia hanya alat untuk mendapatkan sesuatu yang lain. Uang memang diperlukan untuk membeli kebutuhan sehari-hari yang kita perlukan, namun semua kebutuhan kita itu ada umurnya. Tidak ada yang tetap selamanya.

Selama saya tinggal di Amerika ini saya sering sekilas melihat berita para selebriti yang cerita dan fotonya terpampang di aneka majalah dan surat kabar. Mereka sangat kaya, keren, terkenal, seolah tak ada yang kurang. Tapi banyak dari mereka yang terlibat masalah kehidupan, entah perceraian, ketergantungan obat, putus asa bahkan mau bunuh diri. Dari sini kita melihat bahwa uang tidak mungkin dapat menjadi tujuan akhir kebahagiaan kita. Demikian juga dengan kesehatan, kecantikan, dan kepandaian, karena pada suatu saat semuanya itu akan berkurang atau hilang.

Apakah kebahagiaan ada di dalam kehormatan?

Kardinal Henry Newman pernah berkata bahwa kehormatan/kemasyuran merupakan hal kedua yang dikejar orang setelah kekayaan. Namun jika kita renungkan, kehormatan atau tepatnya penghormatan dari orang lain merupakan sesuatu yang berubah-ubah/ tidak tetap, dan dapat pula salah. Lagipula, kata St. Thomas Aquinas, kehormatan itu diperoleh sebagai akibat dari sesuatu yang baik yang ada pada kita, tetapi bukan yang menjadi intisari dari diri kita. Misalnya, Mother Teresa dihormati karena menerima hadiah Nobel, namun hadiah itu hanya merupakan akibat dari segala kebaikan dan perbuatan kasih yang menjadi jati dirinya. Jadi penghormatan tidak pernah menjadi lebih penting daripada kebaikan yang terkandung dalam diri kita.

Apakah kebahagiaan ada di dalam kekuasaan?

Sama seperti uang, kekuasaan hanya merupakan alat untuk mencapai sesuatu. Jadi kekuasaan juga bukan inti dari dari kebahagiaan. Lagipula kekuasaan dapat disalahgunakan untuk melakukan sesuatu yang jahat, seperti yang kita lihat pada para pemimpin yang kurang bijaksana. Maka kekuasaan bukanlah inti dari kebahagiaan itu sendiri, karena kebahagiaan haruslah merupakan sesuatu yang benar-benar baik, dan tidak dapat berubah menjadi kejahatan.

Apakah kebahagiaan ada di dalam kesenangan?

Kesenangan dalam hal ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu kesenangan jasmani dan kesenangan rohani. Kesenangan jasmani umumnya tidak membedakan kita dari hewan, maka sesungguhnya tidak mungkin menjadi inti kebahagiaan kita. Kedua, kesenangan jasmani juga bersifat sementara, seperti kenyang setelah makan tidak bertahan selamanya. Setelah beberapa saat, datanglah perasaan lapar kembali. Ketiga, kesenangan jasmani itu terbatas. Misalnya, sebanyak-banyaknya kita makan, tidak dapat sampai melewati batas. Padahal manusia pada dasarnya mencari sesuatu yang tidak terbatas. Keempat, tidak semua kesenangan jasmani adalah sesuatu yang baik. Misalnya makan terlalu enak ataupun berlebihan dapat menyebabkan kita menjadi kurang sehat.

Pada tingkatan rohani, kesenangan juga bukan merupakan tujuan akhir. Kesenangan hanya merupakan akibat dari tercapainya sesuatu, misalnya, rasa senang karena bercanda bersama teman atau ber-rekreasi bersama keluarga, dst. Jadi jelaslah bahwa kebahagiaan merupakan keadaan tercapainya sesuatu yang baik, daripada merupakan kesenangan yang menjadi akibat dari tercapainya hal itu. Contohnya, orang yang tulus tidak mengatakan bahwa kebahagiaannya dicapai dari kesenangan/ keuntungan yang diperoleh dari persahabatan, melainkan dari persahabatan itu sendiri.

Apakah kebahagiaan ada di dalam kebajikan?

Filsuf kuno (Stoa) menganggap bahwa kebahagiaan manusia ada dalam pencapaian kebajikan moral dan intelektual. Kelihatannya hal ini lebih mulia dari hal-hal di atas, namun jika kita teliti, kebajikan juga bersifat sementara -misalnya hari ini kita bisa sabar, besok tidak demikian- dan karenanya tidak sempurna. Padahal, manusia selalu mencari sesuatu yang tetap dan sempurna. Kebajikan hanya merupakan alat bagi manusia untuk mencapai tujuan yang lebih mulia, yaitu: dikasihi secara sempurna dan mengasihi dengan sempurna. Selanjutnya, pertanyaannya adalah: siapa yang dapat mengasihi kita dengan sempurna dan dapat kita kasihi dengan sempurna?

Kebahagiaan kita adalah persatuan dengan Tuhan

Saya pernah mendengar jika pasangan yang telah lama menikah, lama-kelamaan wajah dan sifatnya menjadi semakin mirip satu dengan yang lain. Walaupun itu belum terjadi pada saya dan suami saya, namun saya percaya untuk beberapa pasangan, inilah yang terjadi. Hal demikianlah yang juga diinginkan Kristus bagi kita anggota Gereja yang adalah mempelai-Nya, yaitu agar kita bertumbuh semakin menyerupai Dia. Sehingga, jika saatnya nanti kita kembali bertemu denganNya, Ia dapat melihat cerminan DiriNya dalam diri kita. Kini pertanyaannya, sudahkah kita menyerupai Dia?

Pertanyaan demikian menghantar kita pada suatu kebenaran yang lain, yaitu bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah (Kej 1:26). Ini membawa suatu akibat yang sangat luar biasa, manusia sebagai gambaran Allah (imago Dei) ini menjadi mampu untuk menerima rahmat Allah yang terbesar, yaitu Allah sendiri (capax Dei). Maka, walaupun ‘gambaran Allah’ dalam diri kita dirusak oleh dosa, tidak berarti bahwa kita sama sekali tidak berharga. Malah sebaliknya, Allah mengangkat kita dengan mengutus Kristus Putera-Nya ke dunia. Rasul Yohanes mengatakan, “Karena besarnya kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16). Tuhan mengutus Kristus, agar kita dapat kembali bersahabat dengan Allah, dan kemuliaan ‘gambaran-Nya’ di dalam kita dapat dipulihkan seperti keadaan aslinya. Jadi untuk persahabatan dengan Allah ini, kita diciptakan olehNya.

Mari kita berhenti sejenak dan merenungkan hal ini. Untuk kebahagiaan inilah Allah menciptakan kita: yaitu agar kita menerima DiriNya dan agar kita memberikan diri kita seutuhnya kepadaNya, sehingga tidak ada lagi jarak antara kita dengan Dia. Allah ingin sungguh bersahabat dan bersatu dengan kita! Inilah kasih Agape, kasih persahabatan yang membuat persatuan yang erat tak terpisahkan, yang kita terima melalui Kristus yang telah menjelma menjadi manusia.

Kebahagiaan dicapai dengan memberikan diri kita (self-giving)

Namun, bukan itu saja: Penjelmaan Yesus menjadi manusia juga menunjukkan kepada kita bagaimana caranya hidup agar kita bahagia. Yesus mengajarkan kita Delapan Sabda Bahagia (Mat 5: 1-12), dan hidupNya sendiri adalah pemenuhan Sabda Bahagia tersebut. Dan semasa hidupNya di dunia, Ia adalah manusia yang paling berbahagia, karena satu hal ini: Ia memberikan Diri-Nya seutuhnya kepada Allah Bapa dan kepada manusia. Salib Kristus adalah puncak dan bukti yang sungguh nyata akan hal ini. Pandanglah salib Kristus, dan kita akan menemukan jawaban akan pertanyaan, “apa yang harus kulakukan agar hidup bahagia?” Sebab di sana, di dalam keheningan Kristus akan menjawab kita, “Mari, ikutlah Aku… berikanlah dirimu kepada Tuhan dan sesama….”

Mungkin kita bertanya, bagaimana mungkin pengorbanan dapat membuat kita bahagia? Ini memang merupakan misteri kasih Allah yang dinyatakan oleh Kristus kepada kita, dan kitapun diundang untuk melakukan yang sama, karena memang hakekat kasih adalah pengorbanan. Walaupun tentu saja, pengorbanan kita tidak dapat dibandingkan dengan pengorbanan Yesus, namun, Tuhan menghendaki kita untuk belajar berkorban dan ‘memberikan diri’ dalam kehidupan kita sehari-hari. Segala usaha untuk menghindari pengorbanan dalam mencari kesenangan, akan berakhir pada kebahagiaan semu. Dewasa ini, contoh yang dapat kita lihat begitu nyata. Mereka yang mencari kelimpahan harta duniawi tanpa pernah berpikir untuk membagi akan mengalami kekosongan hidup. Mereka yang mencari kesenangan dalam seks bebas tanpa mempedulikan tanggung jawab membentuk keluarga, pada satu titik akan mengalami kesedihan dan kehilangan jati diri. Mereka yang mencari kehormatan dan kekuasaan tanpa memperhatikan yang lemah, juga pada akhirnya tidak dihormati. Mungkin justru pada titik ter-rendah ini, manusia akhirnya dapat melihat bahwa kebahagiaan bukan berarti hanya ‘mengumpulkan’ tetapi ‘membagikan’; bukan hanya ‘menerima’, tetapi lebih dari itu: ‘memberi’. Sebab dengan memberi, kita menerima, seperti perkataan St. Franciskus dari Asisi.

Marilah kita mengingat sabda Yesus, “Akulah Jalan, Kebenaran dan Hidup (Yoh 14:6). Maka dengan melihat dan mengikuti Yesus, kita percaya kita akan sampai kepada Bapa. Singkatnya, hanya dengan meniru Yesus, kita dapat hidup bahagia. Lihatlah pada Yesus yang dengan kehendak bebas-Nya selalu memberi. Yesus memberikan Diri-Nya secara total kepada Allah Bapa untuk melaksanakan rencana Bapa menyelamatkan dunia. Yesus memberikan Diri-Nya secara total kepada kita manusia, untuk mengampuni kita dan mempersatukan kita kembali dengan Allah.

Hati kita ‘menginginkan’ Tuhan

Kita menyadari bahwa untuk tujuan persatuan dengan Allah ini, manusia dikaruniai akal budi dan kehendak bebas yang membedakannya dengan binatang. Cara kerja akal dan kehendak/ keinginan manusia umumnya adalah: apa yang ditangkap oleh akal itulah yang diinginkan, contohnya, jika kita melihat sesuatu yang kita pandang baik, kita lalu menginginkannya. Nah, berbeda dengan hewan, akal budi manusia ini tidak saja hanya dapat menangkap benda-benda jasmani dan sementara, melainkan juga dapat menangkap sesuatu yang bersifat tak terbatas, misalnya bagaimana sampai akal budi kita menangkap keberadaan Tuhan. (silakan membaca: Bagaimana Membuktikan bahwa Tuhan itu Ada?). Maka, setelah akal budi kita ‘menangkap’ keberadaan Tuhan yang Maha segalanya, sangat wajar jika kemudian kita ‘menginginkan’ Tuhan. Artinya kita ingin mengenal dan mengasihi Tuhan yang sempurna dan tidak terbatas. Hal ini pula yang menyebabkan kita akhirnya tidak mungkin lagi dipuaskan oleh benda- benda jasmani dan sementara. Ya, sebab kita menginginkan sesuatu tetap selamanya. Kita menginginkan Kesempurnaan dalam hal Kebaikan, Keindahan, Kebenaran, Kasih yang tertinggi. Dan itu hanya dapat dipenuhi oleh Tuhan!

Tak mengherankan jika Santo Agustinus pernah berkata, “Hatiku tidak akan pernah beristirahat sampai aku beristirahat dalam Tuhan.” Santo Yohanes Salib menggambarkan peristirahatan dalam Tuhan ini sebagai persatuan atau “perkawinan mistik” dengan Allah. Apa yang terjadi di dalam persatuan dengan Allah ini? Alkitab mengatakan kita akan melihat Allah, seperti yang dijanjikan Yesus, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah (Mat 5: 8). Kita akan melihat Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya, sehingga kita akan menjadi sama seperti Dia (1 Yoh 3:2). Kita akan sungguh mengenal Allah seperti halnya kita sendiri dikenal oleh Allah (lih. 1 Kor 13:9-12). Pengenalan Allah ini dicapai melalui Kristus, sabda-Nya yang sempurna.

Kemudian, pengenalan akan Allah ini serta merta diikuti oleh kasih. Kita terdorong untuk mengasihi Allah tanpa syarat, oleh karena kita telah mengenal Allah yang demikian mengasihi kita tanpa batas. Oleh kasih persahabatan dengan Allah ini kita akan memiliki kesamaan keinginan dengan Dia. Setelah menerima kasih Tuhan yang begitu besar, kita akan menyerahkan diri kita kepada Tuhan dengan mengembalikan kasihNya yang telah kita terima. Artinya kita mengasihi Tuhan dengan kasihNya sendiri. Dengan demikian kita ikut mengambil bagian di dalam kehidupan kasih Allah antara Allah Bapa dan Allah Putera, yang mendatangkan Roh Kudus. Inilah yang dimaksud dengan persatuan sempurna dengan Tuhan, yaitu saat kita dapat “dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah” (Ef 3:19).

Persatuan dengan Allah ini mengubah kita seutuhnya menjadi ilahi. Ini adalah sesuatu yang sangat mulia, agung, dan mendalam, sehingga tidak dapat digambarkan dengan perkataan, dan dilukiskan di dalam pikiran. Rasul Petrus mengatakan, “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”(1 Kor 2: 9) Dan rahmat yang tersembunyi ini adalah Allah sendiri.

Kebahagiaan dapat mulai kita kecap di dunia

Begitu indah tak terselami kebahagiaan kekal ini, sehingga Tuhan mempersiapkan kita dengan memberikan sedikit pengalaman percikan kebahagiaan ini selagi kita masih hidup di dunia. Kita menyembah Sakramen Maha Kudus di dalam Adorasi sebagai persiapan kita memandang Allah di surga nanti. Kita menerima Kristus dalam Ekaristi sebagai persiapan bagi kita untuk menyambut Kristus di surga. Kristus yang kita terima dalam Ekaristi ini menjadi sumber kasih kita, baik kepada Tuhan dan sesama. Jika kita memberikan diri kita kepada sesama sesuai dengan panggilan hidup kita, kita sudah dapat menikmati kebahagiaan di dunia. Jadi, kebahagiaan kita di dunia ini tergantung dari seberapa banyak kita berpegang dan meniru teladan Kristus, dan mengambil bagian di dalam kehidupan-Nya, dan ketaatan-Nya akan kehendak Bapa.

Dalam banyak kesempatan, Tuhan memberikan kepada kita ‘latihan’ agar sedikit demi sedikit, kita dapat belajar memberikan diri kita dan meniru Kristus, sesuai dengan maksudNya dalam menciptakan kita. Tentu, ‘latihan’ ini sangat penting, agar kita dapat memberikan diri kita seutuhnya pada Tuhan dan menyambut kesempurnaan ‘kepenuhan Allah’ di surga kelak. Sebab, jika kita tidak terbiasa ‘memberikan diri’ dan ‘menginginkan Tuhan’, bagaimana kita dapat mengharapkan bahwa kita dapat mencapai kebahagiaan surgawi yang mensyaratkan demikian? Sebab pada akhirnya nanti, yang ada tinggal Satu, yaitu hanya Tuhan saja meraja di dalam semua (lih.1 Kor 15:28), dan kita tergabung di dalam Kesatuan yang mulia itu, bersama-sama dengan semua orang pilihan-Nya. Inilah Gereja yang berjaya di surga. Di dalam kemuliaan Tuhan ini tiada lagi tangis dan air mata (lih. Why 21:4)), yang ada hanyalah Kasih, dan sungguh, hanya di dalam Sang Kasih ini kita menemukan kebahagiaan tanpa akhir.

Penutup

Allah menciptakan kita sesuai dengan citra-Nya dan telah menanamkan di dalam hati kita keinginan untuk mengenal dan mengasihi Dia. Maka, kebahagiaan sejati manusia hanya ada di dalam Tuhan, sebab manusia diciptakan sesuai dengan gambaran Allah, sehingga mampu menerima kehidupan ilahi yang dikurniakan Allah kepadanya sebagai sumber kebahagiaan sejati. Namun demikian, betapapun kita menyadari bahwa kebahagiaan kita ada di dalam Tuhan, kalau kita tidak mengarahkan hidup kita ke sana, itu belum berguna bagi kita. Ibaratnya kita tahu tujuan perjalanan kita, tetapi kita memilih untuk tidak bergerak ke sana. Maka, mari, jangan sia-siakan hidup yang Tuhan berikan kepada kita. Kita arahkan segala karunia yang telah kita terima, untuk mencapai kebahagiaan kita di dalam Tuhan. Artinya, berkat kesehatan, rejeki, kepandaian, bakat, keluarga, dst kita arahkan untuk kemuliaan Tuhan. Di atas segalanya, marilah kita berusaha agar ‘gambaran Allah’ yang ada pada diri kita tidak dirusak oleh dosa. Singkatnya, kita berusaha hidup kudus, memberikan diri kita kepada Tuhan dan sesama(silakan baca: Apa itu kekudusan? dan Semua Orang Dipanggil untuk Hidup Kudus). Jangan lupa, bahwa hanya dengan kekudusan kita dapat ‘melihat’ Allah dan masuk ke dalam Kebahagiaan Surgawi.

Doa

“Tuhan yang Maha Pengasih, Engkaulah Kebahagiaanku. Aku bersyukur untuk besarnya kasih-Mu kepadaku, terutama karena Engkau menciptakan aku untuk mencapai kebahagiaan bersama-Mu. Ampunilah aku, yang sering terlalu menyibukkan diri untuk mencari kebahagiaan semu di dunia. Terangilah akal budiku, agar aku dapat melihat kehadiran-Mu di dunia, sehingga aku dapat menginginkan Engkau dengan lebih sungguh. Kumohon ya Tuhan, siapkanlah hatiku, agar aku dapat memandang Engkau di surga kelak dengan hati penuh syukur, dan dengan Kasih yang kuterima dari-Mu, aku dapat mempersembahkan diriku seutuhnya. Biarlah kerinduanku kepada-Mu bertambah hari demi hari, dan mata hatiku dapat tertuju kepada-Mu. Penuhilah aku dengan kasih-Mu, agar aku mampu untuk memberikan diriku kepada sesama seturut teladan Yesus Putera-Mu, sehingga kebahagiaan yang Kaujanjikan dapat mulai kukecap di dunia ini. Segala pujian, syukur dan kemuliaan hanya bagiMu, ya Tuhan. Dalam nama Yesus kunaikan doa ini. Amin.”


Kardinal J.H. Newman, mix. 5, Tentang Kekudusan, seperti dikutip dalam KGK 1723, “Kekayaan adalah salah satu berhala dewasa ini, dan selanjutnya kesohoran …. Kemasyuran, kenyataan bahwa seorang dikenal dan disanjung dunia…telah dianggap sebagai sesuatu hal yang baik dalam dirinya sendiri, suatu kebaikan tertinggi, suatu obyek untuk dihormati”

Lihat St. Thomas Aquinas, Summa Theologiae, I-II, q.2, a. 2-3 : Menurut St. Thomas kehormatan itu diperoleh sebagai akibat dari sesuatu yang baik yang ada pada kita, tetapi bukan merupakan sebab atau hakekat dari diri kita.

Lihat, William E.May, An Introduction to Moral Theology, (Our Sunday Visitor, Inc., Huntington, Indiana 46750), p. 19, “Every living human body… is a living image of the all-holy. …God created a being inwardly capable of receiving our Lord’s own divine life. God cannot become incarnate in a pig or a cow or an ape because these creatures of His are not inwardly capable of being divinized. But, as we know from God’s revelation, He can become incarnate in His human creature… Every human being, therefore, is intrinsically valuable, surpassing in dignity the material universe, a being to be revered and respected from the very beginning of its existence.”

Lihat Veritatis Splendor, The Splendor of Truth, Encyclical Letter of John Paul II, 2, “It is Christ… who fully discloses man to himself and unfolds his noble calling by revealing the mystery of the Father and the Father’s love.

Lihat St. Yohanes Salib, Stanza 39, no 3, Collected Works, 558: “By His divine breath-like spiration, the Holy Spirit elevates the soul sublimely and informs her and makes her capable of breathing in God the same spiration of love that the Father breathes in the Son and the Son in the Father. This spiration of love is the Holy Spirit Himself, who … breathes out to her (the soul) in this transformation in order to unite her to Himself.

Lihat Veritatis Splendor, The Splendor of Truth, 19.

6
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
3 Comment threads
3 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
4 Comment authors
Caecilia LukitoIngrid ListiatiearlynIngrid ListiatiJulius Santoso Recent comment authors
Caecilia Lukito
Guest
Caecilia Lukito

Utk Earlyn,
welcome home, saya percaya Anda banyak didoakan oleh orang2 yang amat sangat mencintai Anda, sama seperti saya sedang berjuang agar saudara saya mau kembali ke rumah yang sejati yaitu Gereja Katolik, percayalah, bahwa Anda saat ini tidak sedang sendirian. GBU

earlyn
Guest
earlyn

[dari admin: komentar ini kami pindahkan ke artikel: Kebahagiaan manusia hanya ada dalam Tuhan] salam damai…..ibu Ingrid saya mau kongsikan kesaksian saya kembali kepada gereja khatolik…Saya dari msia dulunya saya memang dilahirkan sebgai kristian RC tetapi apabila berkahwin saya menukar agama saya menjadi “I”.hal ini berlaku kerana ceteknya tentang cinta sehingga sanggup menjual Yesus..dalam tempoh berkahwin saya sering dicurangi oleh suami(Sekarang bekas suami) dan segala perbuatannya diperlihatkan oleh Yesus melalui mimpi atau penglihatan selepas saya berdoa(tetap berdoa dalam kristian secara sembunyi)bila saja saya mendapat tahu apa pun perbuatannya yang tidak baik saya tetap memaafkan bukan kerana cinta pada suami tetapi… Read more »

Julius Santoso
Guest
Julius Santoso

Sdr. Ingrid Listiani yang dikasihi Tuhan.

Apakah yang Tuhan Yesus maksudkan ‘pikullah kuk yang Kupasang’ dalam Matius 11:28-30? (dalam perjanjian baru).
Berarti ada kuk yang dipasang dalam perjanjian lama?.

Terima kasih atas penjelasannya.

Ingrid Listiati
Guest

Shalom Julius yang juga dikasihi Tuhan, ‘Kuk’ yang disebutkan di dalam Matius 11:28-30 adalah metafor dari ketaatan kepada perintah Tuhan. Kuk sebenarnya adalah alat yang biasa dipasangkan pada leher hewan seperti kerbau, agar mereka dapat membajak atau menarik beban/kereta. Walaupun demikian, kuk di sini bukan bermaksud untuk menyamakan kita dengan kerbau tersebut. Yesus hanya mengambil arti bahwa dengan mengenakan kuk, hewan itu menjadi tunduk kepada sang pemilik, untuk melakukan kehendak pemiliknya. Seperti kita ketahui, kita semua adalah milik Tuhan, dan sudah menjadi kehendakNya agar kita mengikuti perintah-perintah-Nya. Di dalam Perjanjian Lama, ‘kuk’ yang dimaksud adalah hukum Taurat (Sir 51:26; Yer… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X