Keaslian dari Matius 28:19 – baptisan dalam Trinitas

Pertanyaan:

Terima kasih kepada bapak Stefanus, mudah2an Bapak sabar atas banyaknya pertanyaan saya, saya senang karena tim katolisitas khususnya Bapak Stefanus dan Ibu Ingrid mau membagi pengetahuannya dengan saya.

Ok baiklah, bapak bertanya apakah menurut saya Mt 28:19 bukan bagian dari alkitab? jawaban saya:
Menurut penganut Trinitarian kata-kata Bapa dan Anak dan Roh Kudus tercatat dalam codex-codex tertua, abad V CE, tapi berdasarkan catatan Eusebius dari Cesaria yang hidup 270 A.D., – 340 A.D ia tidak pernah memasukkan kata-kata patros kai ton uiou kai ton agiou pneumatos Bapa dan Anak dan Roh Kudus ketika ia menquote Matt 28:19.

Woodrow Whidden, Ph. D., Jerry Moon, Ph. D., and John W. Reese dalam buku mereka “The Trinity”, menulis bahwa Constantin yang menuliskan Matt 28:19 dalam bible http://english.sdaglobal.org/research/mt2819.htm

Menurut info dibawah ini Joseph Ratzinger yang sekarang menjadi Paus pun mengakuinya.
He makes this confession as to the origin of the chief Trinity text of Matthew 28:19. “The basic form of our profession of faith took shape during the course of the second and third centuries in connection with the ceremony of baptism. So far as its place of origin is concerned, the text (Matthew 28:19) came from the city of Rome.” The Trinity baptism and text of Matthew 28:19 therefore did not originate from the original Church that started in Jerusalem around AD 33. It was rather as the evidence proves a later invention… Quoted from: Cardinal Joseph Ratzinger, Introduction to Christianity, pp.50-53.

Coba Bapak Stefanus check kebenarannya, tapi sejauh pencarian saya tidak ada sanggahan dari Vatican

Bahkan
Fr. Boismard insists that the Trinitarian formula in Matthew 28:19 does not go back to Jesus but was added by the “final redactor” of Matthew,….

silahkan klik link yang saya berikan dibawah ini:

http://www.catholicculture.org/culture/library/view.cfm?id=2851&CFID=20570655&CFTOKEN=58222882

Klik http://www.youtube.com/watch?v=i-XkAijKg44

Jawaban:

Shalom Kusno,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang apakah Mt 28:19 adalah merupakan bagian dari Matius sejak Alkitab ini dituliskan atau merupakan penambahan. Secara prinsip argumentasi Kusno adalah Mt 28:19 tidaklah asli walapun terdapat dalam Codex Vaticanus, karena 1) tulisan dari Eusebius yang tidak mendukung keaslian Mt 28:19 dan 2) Karena tiga orang ahli yang menuliskan bahwa Mt 28:19 ditulis oleh kaisar Constantine, 3) Cardinal Ratzinger mengatakan bahwa Mt 28:10 adalah merupakan ayat tambahan.

Jawaban saya untuk membuktikan keaslian dari ayat Mt 28:19 adalah dari: 1) Penyusunan Codex, 2) Analisa tulisan dari Eusebius, 3) Kesaksian dari para Bapa Gereja, 4) Analisa dari tulisan Cardinal Ratzinger. Mari kita melihatnya secara lebih mendalam.

1) Penyusunan Codex: Kita tahu bahwa tidak ada naskah asli dari seluruh Alkitab yang asli yang masih tertinggal, termasuk kitab Matius. Kitab Matius yang dituliskan dalam bahasa Ibrani (mungkin Aram) tidak ditemukan aslinya. Namun, kita mendapatkan kitab Matius dari codex tertua dari Alkitab yang kita kenal saat ini, seperti Codex Vaticanus adalah dari abad ke-empat. Kesenjangan waktu dari abad 1 sampai abad ke-4 disebabkan karena kaisar Diocletian pada tahun 303 memerintahkan untuk menghancurkan dan membakar seluruh Kitab Suci. Dan hal ini dituliskan sendiri oleh Eusebius yang mengatakan “I saw with mine own eyes the houses of prayer thrown down and razzed to their foundations, and the inspired and Sacred Scriptures consigned to the fire in the open market place” (H.E. VIII 2).

Dengan demikian, maka untuk mengatakan bahwa Mt 28:19 bukanlah menjadi text asli tidak akan dapat dibuktikan secara absolut kebenarannya, karena tidak ada text asli yang menjadi pegangannya, bahkan ada banyak kesaksian yang justru mendukung keaslian ayat Mt 28:19. Gereja Katolik yang mendapatkan mandat dari Kristus sendiri untuk memimpin umat Allah kepada keselamatan serta menjanjikan bahwa kuasa maut tidak akan mengalahkan Gereja (lih. Mt 16:18-19), menentukan kitab-kitab mana yang menjadi bagian dari Kitab Suci dan mana yang tidak menjadi bagian dari Kitab Suci. Penentuan kitab-kitab yang asli, bukanlah berdasarkan pada satu kesaksian dari Bapa Gereja saja, namun dari banyak kesaksian. Dan terutama, Gereja Katolik percaya bahwa Roh Kudus sendiri yang melindungi Gereja dari kesalahan.

2) Tentang tulisan Eusebius: Dikatakan bahwa ketika Eusebius mengutip Mt 28:19, dia tidak pernah mengutip dengan formula Trinitas (Bapa, Putera, dan Roh Kudus), namun hanya menggunakan kata “Yesus”. Hal ini dapat dilihat dari tulisannya “Demonstration of the Gospel“, Book I, Ch. 3,6, Ch 5,9, Ch 6,24; Book III, ch 6,132; ch 7,138, 236; book IX, Ch. 11.

a) Kita sebenarnya tidak dapat mengatakan bahwa karena kesaksian satu orang Church Father (dalam hal ini Eusebius) membuat Mt 28:19 menjadi tidak valid dan dipandang tidak asli. Rev. H.S. Miller, M.A General Biblical Introduction from God to us, (Houghton, N.Y: The Word-Bearer Press, 1947), hal 259), menganalisa berapa banyak tulisan dari Injil, Kisah Para Rasul, Surat-surat umum, Surat-Surat Paulus, dan Wahyu yang dikutip oleh beberapa Bapa Gereja. Berikut ini adalah data berapa banyak para Bapa Gereja mengutip Injil (Matius, Markus, Lukas, Yohanes): Justin Martyr (268), Irenaeus (1,038), Clement Alexandria (1,017), Origen (9,231), Tertullian (3,822), Hippolytus (734), Eusebius (3,258). Eusebius mengutip 3,258 dan Bapa Gereja lain mengutip sebanyak 16,110 ayat-ayat di dalam Injil. Dengan demikian, akan salah menjadi kurang kuat kalau menggantungkan kesimpulan hanya pada satu Bapa Gereja. Apakah Kusno dapat menemukan lagi dari Bapa Gereja lain yang mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh Eusebius?

Mari kita melihat apa yang ditulis oleh Eusebius dalam tulisannya yang lain di “Letter on the Council of Niceae“, dimana dia menuliskan “We believe . . . each of these to be and to exist: the Father, truly Father, and the Son, truly Son, and the Holy Ghost, truly Holy Ghost, as also our Lord, sending forth his disciples for the preaching, said, ‘Go teach all nations, baptizing them in the name of the Father and of the Son, and of the Holy Ghost.’ Concerning whom we confidently affirm that so we hold, and so we think, and so we have held aforetime, and we maintain this faith unto the death, anathematizing every godless heresy” (Letter to the People of His Diocese 3 [A.D. 323]).” Silakan membaca dokumen lengkap dari tulisannya di sini (silakan klik). Jadi, kita dapat melihat bahwa pengarang yang sama (Eusebius), yang digunakan sebagai argumentasi untuk mengatakan bahwa tidak ada baptisan dengan formula Trinitas, ternyata juga menuliskan dengan jelas tentang baptisan dengan formula Trinitas di tulisan “Letter on the Council of Niceae“. Dengan demikian, dapat saja terjadi bahwa dalam beberapa tulisan sebelumnya, Eusebius mungkin ingin memberikan penekanan dari sisi Kristologi. Dan jangan juga melupakan bahwa tulisan “Demonstration of the Gospel” hanya ditemukan setengahnya saja – yaitu hanya 10 buku terakhir dari 20 buku – , sehingga tulisan yang diberikan tidak lengkap.

Untuk mengatakan bahwa Mt 28:19 ditulis oleh Kaisar Constantine adalah kurang dapat dipertanggungjawabkan. Untuk menyanggah hal ini, saya akan mengutip beberapa dokumen dan para Bapa Gereja yang hidup sebelum kaisar Constantine (306-337), dimana pada tahun 313, dia mentoleransi agama Kristen melalui Edict of Milan.

3) Kesaksian beberapa Bapa Gereja tentang Mt 28:19: Mari kita melihat apa yang dikatakan dalam tulisan Didache dan para Bapa Gereja sampai sekitar pertengahan abad ke-4. Sebagai catatan, Didache adalah ajaran para rasul yang dipakai sebagai pegangan bagi jemaat perdana.

Didache, The [70-100 AD] The Didache
“After the foregoing instructions, baptize in the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit, in living [running] water. If you have no living water, then baptize in other water, and if you are not able in cold, then in warm. If you have neither, pour water three times on the head, in the name of the Father, and of the Son, and of the Holy Spirit. Before baptism, let the one baptizing and the one to be baptized fast, as also any others who are able. Command the one who is to be baptized to fast beforehand for one or two days” (Didache 7:1 [A.D. 70]).
Tatian the Syrian [120-180 AD] The Diatessaron (Section 55)
“Then said Jesus unto them, ‘I have been given all authority in heaven and earth; and as my Father has sent me, so I also send you. Go now into all the world, and preach my gospel in all the creation; and teach all the peoples, and baptize them in the name of the Father and the Son and the Holy Spirit; and teach them to keep all whatsoever I commanded you: and lo, I am with you all the days, unto the end of the world’ [Matt. 28:18-20]” (The Diatesseron 55 [A.D. 170]).
Hippolytus [170-236 AD] The Antichrist
“When the one being baptized goes down into the water, the one baptizing him shall put his hand on him and speak thus: ‘Do you believe in God, the Father Almighty?’ And he that is being baptized shall say: ‘I believe.’ Then, having his hand imposed upon the head of the one to be baptized, he shall baptize him once. Then he shall say: ‘Do you believe in Christ Jesus . . . ?’ And when he says: ‘I believe,’ he is baptized again. Again shall he say: ‘Do you believe in the Holy Spirit and the holy Church and the resurrection of the flesh?’ The one being baptized then says: ‘I believe.’ And so he is baptized a third time” (The Apostolic Tradition 21 [A.D. 215]).
Tertullian [160-240 AD] Against Praxeas
“After his resurrection he promises in a pledge to his disciples that he will send them the promise of his Father; and lastly, he commands them to baptize into the Father and the Son and the Holy Ghost, not into a unipersonal God. And indeed it is not once only, but three times, that we are immersed into the three persons, at each several mention of their names” (Against Praxeas 26 [A.D. 216]).
Origen [185-254 AD] De Principiis (Book IV)
The Lord himself told his disciples that they should baptize all peoples in the name of the Father and of the Son and of the Holy Spirit . . . for indeed, legitimate baptism is had only in the name of the Trinity” (Commentary on Romans 5:8 [A.D. 248]).
Cyprian of Carthage [200-270 AD] Epistle 22
“He [Jesus] commanded them to baptize the Gentiles in the name of the Father and of the Son and of the Holy Spirit. How then do some say that though a Gentile be baptized . . . never mind how or of whom, so long as it be done in the name of Jesus Christ, the remission of sins can follow-when Christ himself commands the nations to be baptized in the full and united Trinity?” (Letters 73:18 [A.D. 253]).
Eusebius of Caesarea [265-340 AD] Letter on the Council of Nicaea
“We believe . . . each of these to be and to exist: the Father, truly Father, and the Son, truly Son, and the Holy Ghost, truly Holy Ghost, as also our Lord, sending forth his disciples for the preaching, said, ‘Go teach all nations, baptizing them in the name of the Father and of the Son, and of the Holy Ghost.’ Concerning whom we confidently affirm that so we hold, and so we think, and so we have held aforetime, and we maintain this faith unto the death, anathematizing every godless heresy” (Letter to the People of His Diocese 3 [A.D. 323]).
Athanasius, St [296-373 AD] De Synodis (Part II)
“And the whole faith is summed up, and secured in this, that a Trinity should ever be preserved, as we read in the Gospel, ‘Go ye and baptize all the nations in the name of the Father and of the Son and of the Holy Ghost’ (Matt. 28:19). And entire and perfect is the number of the Trinity (On the Councils of Arminum and Seleucia 2:28 [A.D. 361]).

Dari beberapa tulisan para Bapa Gereja di atas, maka kita melihat bahwa ada cukup banyak tulisan Bapa Gereja yang mengutip Mt 28:19, termasuk kutipan baptisan dengan formula Trinitas – dalam nama Bapa, Putera dan Roh Kudus. Karena beberapa tulisan di atas dituliskan sebelum kaisar Constantine, maka ini juga membuktikan bahwa tidak mungkin kaisar Constantine yang menambahkan Mt 29:19.

4) Tentang tulisan dari Cardinal Ratzinger: Beberapa website dalam bahasa Inggris mengutip tulisan Cardinal Ratzinger untuk membuktikan bahwa Mt 28:19 adalah ayat tambahan dan bukan merupakan bagian dari Injil Matius. Mungkin Kusno mengambil kutipan ini dari beberapa website, yang menuliskan “He makes this confession as to the origin of the chief Trinity text of Matthew 28:19. “The basic form of our profession of faith took shape during the course of the second and third centuries in connection with the ceremony of baptism. So far as its place of origin is concerned, the text (Matthew 28:19) came from the city of Rome.” The Trinity baptism and text of Matthew 28:19 therefore did not originate from the original Church that started in Jerusalem around AD 33. It was rather as the evidence proves a later invention… Quoted from: Cardinal Joseph Ratzinger, Introduction to Christianity, pp.50-53.” Dapatkah Kusno memberikan referensi secara spesifik buku cetakan tahun berapakah dari Introduction to Christianity yang dikutip? Atau kalau Kusno mengutip dari suatu website, tanyakan sumbernya secara jelas.

a) Saya telah mengecek dari buku yang sama dari penerbit Ignatius Press, 2004, dengan ISBN: 1-58617-029-5. Dan di buku tersebut hal. 50-53 tidak memberikan kutipan seperti yang disebutkan di atas. Hal 50-53 membahas tentang apa yang disebut dengan “I believe“. Kalau kita mau mengaitkan dengan Trinitas, maka Cardinal Ratzinger di buku yang sama membahasnya di “bab V – Belief in the Triune God“, hal 162-190. Dan di halaman tersebut dia meninjau dari beberapa sisi untuk menerangkan ajaran Trinitas, serta mencoba menjawab keberatan-keberatan tentang doktrin Trinitas.

b) Kemudian, kalau kita melihat di bagian belakang, buku ini memberikan index ayat-ayat yang dikutip dalam buku ini. Di hal 378 dikatakan bahwa kutipan Mt 28:19 terdapat di hal 83 dan 331.
Mungkin maksud dari kutipan di atas adalah dari hal 83, yang mengatakan “The basic form of our profession of faith took shape during the course of the second and third centuries in connection with the ceremony of baptism. So far as its place of origin is concerned, the text comes from the city of Rome; but its internal origin lies in worship; more precisely, in the conferring of baptism. This again was fundamentally based on the words of the risen Christ recorded in Matthew 28:19: “Go therefore and make disciples of all nations, baptizing them in the name of the Father and of the Son and of the Holy Spirit.” In accordance with this injunction, three questions are put to the person to be baptized: “Do you believe in God the Father Almighty? Do you believe in Jesus Christ, the Song of God…? Do you believe in the Holy Spirit…?” The person being baptized replies to each of these three questions with the word “Credo” – I believe – and is then each time immersed in the water. Thus the oldest form of the confession of faith takes the shape of a tripartite dialogue, of question and answer, and is, moreover, embedded in the ceremony of baptism.

1) Kalau ini yang menjadi dasar dari kutipan di atas, yang ingin menyatakan bahwa Cardinal Ratzinger percaya bahwa text Mt 28:19 berasal dari Roma dan bukanlah merupakan ayat yang asli, maka saya perlu mempertanyakan penyimpangan dari pengutipan paragraf tersebut. Apakah kesalahan yang dibuat dari kutipan di atas adalah karena penulis tidak dapat menyimpulkan secara benar tulisan dari Cardinal Ratzinger atau memang mempunyai maksud yang tidak baik dengan memberikan kesimpulan yang tidak jujur.

2) Mari kita menganalisa satu-persatu dari kalimat yang dikutip. Dikatakan “The basic form of our profession of faith took shape during the course of the second and third centuries in connection with the ceremony of baptism.” Ini adalah kutipan yang benar.

Kemudian di kalimat selanjutnya dikatakan “So far as its place of origin is concerned, the text (Matthew 28:19) came from the city of Rome.” Ini adalah kutipan yang tidak jujur. Cardinal Ratzinger mengatakan “So far as its place of origin is concerned, the text comes from the city of Rome.” Setelah kata “The text” tidak diberikan kutipan “(Matthew 28:19)”. Jadi “The text” yang merujuk kepada Mt 28:19 adalah kesimpulan dari penulis yang jelas-jelas salah. Kalau kita melihat tulisan Cardinal Ratzinger, maka kita dapat menyimpulkan bahwa “the text” merujuk kepada kalimat sebelumnya, yang mengatakan “The basic form of our profession of faith took shape during the couse of the second and third centuries in connection with the ceremony of baptism.” Jadi “the text” merujuk bukan kepada Mt 28:19, namun kepada “the ceremony of baptism“. Dengan demikian, the ceremony of baptism berasal dari Roma, yang diperjelas di footnote, dimana beberapa pertanyaan dalam the ceremony of baptism menggunakan “Sacramentarium Gelasianum” dan juga dari text yang ditulis oleh St. Hippolytus dalam bukunya “Traditio Apostolica“. Dan kalimat selanjutnya yang mengatakan “The Trinity baptism and text of Matthew 28:19 therefore did not originate from the original Church that started in Jerusalem around AD 33. It was rather as the evidence proves a later invention… ” adalah tidak pernah ditulis oleh Cardinal Ratzinger. Dengan cara pengutipan yang tidak jujur, seolah-olah kalimat terakhir adalah bagian dari tulisan Cardinal Ratzinger, namun hal ini tidaklah benar, seperti yang dibuktikan dari text yang saya kutip dari buku Cardinal Ratzinger.

3) Bahkan kalau kita melihat tulisan dari Cardinal Ratzinger, beliau menegaskan bahwa sumber dari doa aku percaya, yang juga dimanifestasikan dalam liturgi dan upacara baptisan, sesungguhnya bersumber pada perkataan Kristus sendiri yang mengatakan “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,” (Mt 28:19). Dan dengan demikian Cardinal Ratzinger tidak mempertanyakan Mt 28:19, namun justru sebaliknya mempercayai bahwa perkataan “baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus” (Mt 28:19) adalah asli dan tidak perlu dipertanyakan.

4) Halaman lain yang memuat Mt 28:19 adalah hal 331, dimana Cardinal Ratzinger menuliskan “After all, we saw in our introductory reflections that the whole Creed grew up out of the triple baptismal question about faith in the Father, Son, and Spirit, a question that for its part rests on the baptismal formula recorded in Matthew (Mt 28:19). To that extend the oldest form of the Creed with its tripartite arrangement is indeed one of the main roots of the trinitarian image of God.

Dengan demikian, paragraf tersebut (hal 331) merupakan penegasan dari apa yang dikatakan di hal 83.

5) Hal-hal lain: Tentang kutipan anda yang ini “Fr. Boismard insists that the Trinitarian formula in Matthew 28:19 does not go back to Jesus but was added by the “final redactor” of Matthew,….” tidak perlu saya tanggapi lebih jauh, karena tidak berarti teolog Katolik yang anda kutip menyuarakan ajaran Gereja Katolik resmi. Kalau Kusno dapat mengutip ajaran Gereja Katolik dari dokumen resmi Gereja Katolik, saya akan menanggapinya dengan panjang lebar. Apakah anda percaya kutipan dari Fr. Boismard tersebut? Apakah dasar bahwa tulisan dari Fr. Boismard adalah benar? Anda dapat membaca sanggahan tentang hal ini di sini (silakan klik). Dan link dari catholicculture.org di sini (silakan klik), justru untuk menyanggah apa yang ditulis oleh Fr. Boismard, maka artikel itu ditulis, dimana pada akhir dari artikel tersebut dituliskan “All this would be laughable if it were not so sad—and if the stakes for the faith were not so high. It would certainly appear, though, that the faith of the Church is being challenged by scholars far beyond the ranks of the Jesus Seminar; the faith of the Church is evidently being equally challenged by some of the scholars supposedly within the Church’s own ranks.” Jadi kesimpulan dari artikel tersebut adalah ingin menunjukkan bahwa Fr. Boismard adalah salah satu biblical scholar yang mengajarkan sesuatu yang bertentangan dengan pengajaran dari Gereja Katolik. Namun, umat Katolik percaya bahwa Roh Kudus akan melindungi Gereja-Nya dari kesalahan-kesalahan pengajaran dan Gereja telah memberikan pondasi yang kuat untuk menginterpretasikan Alkitab dengan baik.

KESIMPULAN:

Dari pemaparan di atas, maka terlihat bahwa Mt 28:19 adalah asli, berdasarkan kesaksian dari beberapa Bapa Gereja dan terutama karena janji Kristus sendiri untuk melindungi Gereja-Nya, sehingga tidak salah dalam menentukan buku-buku mana yang menjadi bagian dari Alkitab. Tuduhan yang mengatakan bahwa bahwa Eusebius tidak percaya akan keaslian dari Mt 28:19 karena di salah satu bukunya (Demonstration of the Gospel) tidak memuat formula baptisan Trinitas tidaklah cukup kuat, karena di buku yang lain (Letter on the Council of Niceae), dia justru memuat kutipan Mt 28:19 secara lengkap. Tuduhan bahwa Mt 28:19 ditulis oleh Kaisar Constantine tidaklah mendasar, karena kita melihat kutipan dari para Bapa Gereja sebelum masa Kaisar Constantine, telah mengutip Mt 28:19 dengan formula baptisan Trinitas. Tuduhan bahwa Cardinal Ratzinger mengatakan bahwa text Mt 28:19 adalah berasal dari Roma menurut saya adalah paling tidak dapat dipertanggungjawabkan, yang menandakan ketidaktahuan atau ketidakjujuran. Saya percaya Kusno tidak bermaksud tidak baik, karena saya pikir Kusno juga mengutip dari banyak website dalam bahasa Inggris yang menuliskan tentang hal ini. Bagi saya, sekali seorang penulis melakukan kutipan yang tidak jujur dan mencoba untuk membelokkan maksud dari tulisan aslinya, maka penulis tersebut tidak dapat dipercaya (kecuali hal ini dilakukan karena ketidaktahuan si penulis). Jadi, kalau Kusno melihat ada orang yang menuliskan tentang Cardinal Ratzinger tidak percaya akan keaslian Mt 28:19 berdasarkan bukunya “Introduction to Christianity” padahal dia justru menuliskan sebaliknya, maka saran saya adalah agar Kusno tidak mempercayai penulis dan sumber dari kutipan tersebut, karena telah sengaja memutarbalikkan apa yang dituliskan oleh Cardinal Ratzinger.

Semoga dengan jawaban ini, minimal Kusno dapat melihat bahwa kepercayaan umat Kristen terhadap Trinitas bukanlah sekedar sebuah spekulasi, namun berdasarkan Wahyu Allah, dimana Tuhan sendiri yang mengatakannya kepada manusia.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – www.katolisitas.org

16
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
5 Comment threads
11 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
6 Comment authors
LeoCisko KidStefanus Tayfxeyohanes yudi purnomo Recent comment authors
Leo
Guest
Leo

Dear Pak Stef dan Bu Inggrid, Ada yang saya mao tanyakan tentang baptisan. Beberapa hari ini bacaan kita adalah Kisah Para Rasul, di situ sering sekali dikatakan mereka membaptis dalam nama Yesus. Dan seperti pada bacaan hari ini dr Kis 19, ditanyakan “sudahkan kamu menerima Roh Kudus ketika kamu percaya? Ketika mereka mendengar hal itu mereka memberi diri mereka dibaptis dalam Nama Tuhan Yesus”. Bukan hanya di ayat itu saja bahkan di Kis 2:38, Kis 8:16, Kis 10:48. Dan ketika saya membaca di salah satu artikel di sini (saya lupa) di surat baptis salah satu denominasi lain, dituliskan “dibaptis dalam… Read more »

Cisko Kid
Guest
Cisko Kid

Surat paulus menunjukkan bahwa tak satupun dari12 murid Yesus yang mengajar ke segala bangsa …. seperti yang diperintahkan kepada mereka di mat 28:19 – 20 … Gal 2:7 Tetapi sebaliknya, setelah mereka melihat bahwa kepadaku telah dipercayakan pemberitaan Injil untuk orang-orang tak bersunat, sama seperti kepada Petrus untuk orang-orang bersunat Gal 2:8  —  karena Ia yang telah memberikan kekuatan kepada Petrus untuk menjadi rasul bagi orang-orang bersunat, Ia juga yang telah memberikan kekuatan kepadaku untuk orang-orang yang tidak bersunat. 12 murid Yesus hanya mengajar bangsa bersunat / Israel menunjukkan fakta bahwa mereka tidak mengenal perintah di Mat 28:19-20 mereka ternyata… Read more »

fxe
Guest
fxe

Dear Katolisitas; Mohon penjelasan (mohon berikan link bila hal ini sudah pernah dibahas); kalau sebelum naik ke Surga , Yesus benar bersabda spt Mt.28:19-20, kenapa: 1. di awal-awal Kisah Para Rasul masih ada perdebatan mengenai atas nama siapa Baptisan diberikan? (bukankah di Mt.28:19-20, Yesus sudah memerintahkan Baptisan atas nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus?) 2. kenapa Rasul Petrus perlu penampakan dari Tuhan berupa makanan haram yg harus dia makan, untuk menyakinkan Petrus menginjili orang asing? (Bukankah di Mt.28:19-20 Yesus memerintahkan untuk mengajar semua bangsa?) Benarkah argumen bahwa fakta adanya 2 hal diatas , maka Mt.28:19-20 ditambahkan kemudian (tidak ada di… Read more »

yohanes yudi purnomo
Guest
yohanes yudi purnomo

Salam damai,
Wah, yang ini bener-2 memberi kedamaian.
Saya salut dengan ketelitian Pak Stef dan tim Katolisitas yang sedemikian detil sehingga pemutar-balikan Trinitas dapat diketahui dengan sangat baik dan semakin jelas terlihat adanya indikasi provokasi dalam hal ini yang dilakukan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab.
Semoga Roh Kudus akan selalu melindungi gereja yang sedang berziarah di dunia ini.
Terimakasih atas pencerahan ini.

yang berdosa,
yohanes yp

kusno
Guest
kusno

Terima kasih kepada bapak Stefanus, mudah2an Bapak sabar atas banyaknya pertanyaan saya, saya senang karena tim katolisitas khususnya Bapak Stefanus dan Ibu Ingrid mau membagi pengetahuannya dengan saya. Ok baiklah, bapak bertanya apakah menurut saya Mt 28:19 bukan bagian dari alkitab? jawaban saya: Menurut penganut Trinitarian kata-kata Bapa dan Anak dan Roh Kudus tercatat dalam codex-codex tertua, abad V CE, tapi berdasarkan catatan Eusebius dari Cesaria yang hidup 270 A.D., – 340 A.D ia tidak pernah memasukkan kata-kata patros kai ton uiou kai ton agiou pneumatos Bapa dan Anak dan Roh Kudus ketika ia menquote Matt 28:19. …… [dari katolisitas:… Read more »

fxe
Guest
fxe

Mohon penjelasan;

Ada pendapat sbb:
Seandainya Mt.28:19 ada sedari awal (asli), mengapa di Kisah Para Rasul masih ada perdebatan mengenai forma Baptisan (Baptis atas nama siapa)?

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X