Kasih adalah hakekat dari Tritunggal Maha Kudus

[Hari Raya Tritunggal Maha kudus: Ams 8:22-31; Mzm 8:4-9; Rm 5:1-5; Yoh 16:12-15]

Dear Pope Francis. Demikian judul buku unik terbitan Loyola Press dengan cover putih bergambar karikatur Paus berdiri di tengah-tengah anak-anak dengan baju warna warni. Di buku itu tertulis jawaban Paus Fransiskus terhadap 30 pertanyaan anak-anak dari berbagai belahan dunia. Salah satu pertanyaan menarik datang dari Canada, yaitu dari Ryan, umur 9 tahun. Bunyinya demikian:

Paus yang terkasih,

Adalah suatu kehormatan untuk menanyakan pertanyaanku kepadamu. Pertanyaanku adalah: apakah yang Allah lakukan sebelum menciptakan dunia?

Salam,
Ryan

Terhadap pertanyaan kritis ini, Paus Fransiskus menjawab:  

Ryan yang terkasih,

Ada keindahan dalam penciptaan. Dan ada kelembutan dan belas kasih Allah yang tak terbatas dan kekal. Allah mulai membuat sesuatu ketika Ia menciptakan dunia. Tetapi kalau saya mengatakan kepadamu bahwa Allah tidak melakukan apa-apa sebelum Ia menciptakan dunia, saya salah. Kenyataannya, Allah juga menciptakan waktu—yaitu keadaan “sebelum” dan “sesudah.” Tetapi saya tidak mau membuat kamu bingung dengan istilah-istilah ini. Pikirkanlah demikian: sebelum menciptakan apapun, Allah mengasihi. Itulah yang dilakukan oleh Allah: Allah sedang mengasihi. Allah selalu mengasihi. Allah adalah kasih. Sebelum melakukan apapun yang lain, Allah adalah kasih dan Allah sedang mengasihi.

Fransiskus.

Mari merenungkannya: Sebelum Allah melakukan apapun, Allah adalah kasih dan Allah sedang mengasihi. Dari kalimat sederhana inilah kita memahami hakekat Allah yang satu dengan tiga Pribadi. Allah Tritunggal Mahakudus, yang kita rayakan pada hari Minggu ini. Sebab pada saat belum ada sesuatupun yang diciptakan, hanya ada Allah. Sedangkan dalam perbuatan mengasihi, selalu ada pihak yang mengasihi, pihak yang dikasihi, dan kasih itu sendiri. Oleh karena itu, Allah yang satu itu adalah: Allah Bapa dan Putra yang saling mengasihi, dan Roh Kudus—yang adalah kasih sempurna antara Allah Bapa dan Putra.

Bacaan pertama hari ini menjabarkan adanya Tuhan dan Kebijaksanaan-Nya: “Tuhan telah memiliki aku sebagai permulaan pekerjaaan-Nya” (Ams 8:22).  LAI menerjemahkan kata kerja ָקָנה/  qānāh dengan kata menciptakan. Dalam kamus dapat dilihat bahwa kata tersebut artinya “membeli, memperoleh, memiliki, menciptakan.”  Dengan demikian, kita pahami bahwa Kebijaksanaan telah ada bersama dengan Allah sebagai milik-Nya. Di sini kata “menciptakan” maksudnya adalah ungkapan  penggambaran dari sesuatu yang ada sebagai milik Allah: yang sudah ada dalam diri Allah sebelum segala sesuatu diciptakan. Pemahaman ini penting, sebab pengertian sempit tentang arti “menciptakan” dapat mengarah kepada pandangan yang keliru, yaitu menyamakan Sang Kebijaksanaan sebagai suatu ciptaan. Ayat inilah yang dijadikan patokan oleh Arius di permulaan abad ke-4, dengan paham Arianisme, yang menganggap bahwa Yesus sebagai Putra tidak setara dengan Allah Bapa. Tentu interpretasi ini tidak benar, karena hanya melandaskan pada perikop ini saja, tanpa melihat kepada ayat-ayat lainnya dalam Kitab Suci yang menyatakan kesetaraan Kebijaksanaan dan Sang Sabda Allah itu dengan Allah sendiri, yang dalam Perjanjian Baru dinyatakan oleh Kristus dan di dalam Kristus. Sebab Kristus yang ada sebelum Abraham ada (Yoh 8:58) adalah Sang Firman yang telah ada sejak awal mula bersama-sama dengan Allah dan Ia adalah Allah. Oleh Sang Firman itu segala sesuatu diciptakan (lih. Yoh 1:1-2). Oleh karena itu dalam setiap penciptaan, didahului dengan, “Berfirmanlah Allah” (lih. Kej 1).

Selanjutnya, Rasul Paulus mengajarkan bahwa Sang Firman yang telah menciptakan kita, juga adalah Ia yang membenarkan dan menyelamatkan kita. Kita dibenarkan karena Tuhan kita Yesus Kristus. Oleh Dia kita beroleh jalan masuk kepada Allah Bapa, karena iman akan kasih karunia Allah (lih. Rm 5:1-2). Ini sejalan dengan perkataan Yesus sendiri, bahwa Ia adalah jalan, kebenaran dan hidup, dan bahwa tak ada seorangpun dapat datang kepada Bapa kalau tidak melalui Dia (lih. Yoh 14:6). Dalam kasih karunia Allah ini, kita berharap akan menerima kemuliaan Allah. Dan pengharapan ini tidak mengecewakan, sebab kita telah menerima curahan kasih Allah yaitu oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Dari Bacaan Kedua ini terlihat adanya kesatuan tak terpisahkan antara Yesus Kristus sebagai jalan masuk kepada Allah Bapa, dan  Roh Kudus yang dicurahkan untuk meneguhkan pengharapan kita sebagai orang beriman.

Bacaan Injil kembali meneguhkan akan kesatuan Yesus dengan Bapa sebab segala sesuatu yang Bapa punya—yaitu Roh-Nya—adalah kepunyaan Yesus juga (lih. Yoh 16:15). Oleh karena itu, Yesus berjanji kepada para murid-Nya, bahwa Ia akan mengutus Roh Kudus, yaitu Roh Kebenaran—Roh-Nya sendiri, sebab Yesus adalah Kebenaran—agar dapat memimpin para murid-Nya kepada seluruh kebenaran (Yoh 16:12). Janji Yesus ini ditepati-Nya, dan kita baru saja merayakannya secara meriah minggu lalu di Hari Raya Pentakosta.

Di Hari Raya Tritunggal Mahakudus ini, mari kita menyadari bahwa Allah adalah Kasih yang dalam kekekalan selalu mengasihi. Karena itu Allah menghendaki kita masuk ke dalam kehidupan ilahi-Nya—yaitu kesatuan Bapa Putra dan Roh Kudus—yang penuh kasih. Dan bahwa Allah adalah Kebenaran—yang membenarkan kita oleh iman akan kasih karunia Allah itu.

Di hari istimewa ini, mari kita ucapkan doa yang disusun oleh St. Katarina dari Siena:

“… O Tritunggal Mahakudus, Engkau bagai misteri yang dalam seperti lautan. Di dalam Engkau, semakin aku mencari, semakin aku menemukan; dan semakin aku menemukan, semakin aku mencari. Sebab bahkan ketika aku terbenam di dalam kedalaman-Mu, jiwaku tak pernah puas, selalu lapar akan Engkau, Trinitas yang kekal, berharap dan rindu untuk melihat Engkau, Sang Terang Sejati… Engkau memberi kami makan dengan manisnya Engkau, rasa manis yang daripadanya tidak ada sedikitpun jejak kepahitan. O Tritunggal yang kekal! Amin.”

19/12/2018
Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X