Jika Tuhan sudah tahu sejumlah manusia akan masuk neraka, mengapa mereka tetap diciptakan?

Ada sejumlah orang menilai Tuhan tidak adil, karena walaupun Ia sudah tahu bahwa sejumlah manusia akan masuk neraka, namun Ia tetap menciptakan mereka juga. Benarkah demikian? Berikut ini adalah lima prinsip yang mendasari ajaran Gereja Katolik, yang tidak mempertentangkan tentang pengetahuan Tuhan dengan kenyataan bahwa sejumlah orang akan memilih untuk masuk neraka, dan kebijaksanaan Allah yang mengizinkan hal itu terjadi. Dengan kata lain, meskipun Tuhan mengetahui bahwa sejumlah manusia akan masuk neraka, namun Ia tetap menciptakan mereka juga, karena:

1. “Bonum diffusivum sui” (Kebaikan itu menyebar)

Kebaikan itu mempunyai sifat menyebar dengan sendirinya. Allah mengasihi manusia tanpa pandang bulu (lih. Kis 10:34). Allah yang mempunyai kebaikan yang sempurna, dengan suka rela menyampaikan kebaikan-Nya dengan menciptakan alam semesta, yang mencapai puncaknya pada manusia yang diciptakan-Nya menurut rupa dan gambar-Nya. Artinya manusia diciptakan sebagai mahluk yang mempunyai akal budi dan kehendak bebas, seperti diri Allah sendiri. Sebagai akibat dari kehendak bebas ini manusia memang dapat memilih untuk menolak Allah, namun dari pihak Allah, Ia tidak pernah menolak manusia. Ia tetap baik kepada semua orang. Itulah sebabnya, dikatakan bahwa, “…. Bapamu yang di sorga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar.” (Mat 5:45)

Tuhan tidak menggantungkan kebahagiaan-Nya dari manusia. Apakah manusia itu akan menerima-Nya atau menolak-Nya, tidak mengubah kesempurnaan-Nya. Sebab Allah menciptakan manusia menurut kerelaan hati-Nya, tak ada yang memaksa, dan bukan karena Ia kekurangan apa-apa. Rasul Paulus berkata, “Allah yang telah menjadikan bumi dan segala isinya, Ia, yang adalah Tuhan atas langit dan bumi, tidak diam dalam kuil-kuil buatan tangan manusia, dan juga tidak dilayani oleh tangan manusia, seolah-olah Ia kekurangan apa-apa, karena Dialah yang memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang.” (Kis 17:24-25)

2. Tuhan telah memberikan rahmat yang cukup kepada semua manusia untuk dapat diselamatkan.

Rasul Paulus mengajarkan bahwa Allah menghendaki, “supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran.” (1 Tim 2:4). Demikian pula, Rasul Petrus mengajarkan bahwa Tuhan, “menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat.” (2 Ptr 3:9). Maka, Gereja Katolik mengajarkan bahwa sesuai dengan kehendak-Nya itu, Allah memberikan rahmat yang cukup kepada semua orang agar dapat diselamatkan. “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu”…. (2 Kor 12:9). Allah memberikan rahmat-Nya ini kepada semua orang, namun agar dapat terwujudnya keselamatan itu, manusia harus turut bekerjasama dengan rahmat Allah itu. St. Agustinus mengatakan demikian, “God who created you without you cannot save you without you” atau terjemahannya, “Tuhan yang telah menciptakanmu tanpa-mu, tidak dapat menyelamatkanmu tanpa-mu.” (Sermon 169, 11,13).

Dengan prinsip ini, maka Gereja Katolik tidak mengajarkan bahwa sejak awal mula Tuhan sudah secara aktif ataupun berinisiatif memasukkan sejumlah orang ke neraka, dan sejumlah lagi ke Surga, sebagaimana dikenal dengan istilah “double predestination“, yang umum diyakini oleh sejumlah denominasi Kristen non- Katolik.

Dari pihak Allah, Allah telah mengutus Yesus Kristus Putera-Nya untuk menebus dosa umat manusia, dan menghantar manusia agar dapat selamat dan memperoleh kehidupan yang kekal (lih Yoh 3:16). Kini tergantung dari pihak manusia, apakah ia mau menerima rahmat Allah ini dengan mengimani Kristus, dan melaksanakan semua perintah-Nya, atau tidak.

3. Mengetahui tidak sama dengan menyebabkan, “knowing is not the same as causing“.

Selanjutnya, perlu diketahui bahwa Tuhan tetap setia kepada manusia, meskipun manusia tidak setia kepada-Nya, sebab Ia tak dapat menentang hakekat Diri-Nya sendiri sebagai Allah yang setia (lih. 2 Tim 2:13). Tuhan akan tetap setia dalam bersikap adil dan berbelas kasih, meskipun sejumlah manusia menyalahgunakannya ataupun menentang-Nya. Maka Tuhan dapat mengetahui bahwa sejumlah orang akan menyalahgunakan kehendak bebas mereka, bahkan di saat yang paling genting dalam hidup mereka; namun demikian Allah akan tetap setia terhadap rencana-Nya untuk memberikan rahmat kasih karunia dan pemulihan terhadap dosa-dosa, bahkan meskipun Ia telah mengetahui bahwa orang-orang tersebut tidak akan menggunakannya.

Jadi harus dibedakan di sini: mengetahui tidak sama dengan menyebabkan. Tuhan sudah tahu bahwa sejumlah orang akan tidak bekerjasama dengan rahmat-Nya, namun bukan Ia yang menyebabkan mereka memutuskan demikian. Dengan kata lain, dalam setiap tindakan penyelamatan terdapat dua hal, yaitu: rahmat Allah dan kerjasama dari pihak manusia. Demikian pula dalam setiap perbuatan dosa terdapat dua hal: bantuan Tuhan bagi kita agar kita tidak melakukan dosa, dan juga, kekerasan hati kita menolak bantuan Tuhan itu. Dengan demikian, Tuhan tidak bertanggungjawab atas dosa-dosa yang kita perbuat, meskipun Ia telah mengetahuinya.

4. Tuhan memperlakukan manusia dengan hormat, dengan memberikan tanggungjawab moral kepadanya.

Tuhan tidak memperlakukan manusia seperti robot, yang dipaksa-Nya harus tunduk kepada semua kehendak-Nya. Namun Tuhan memperlakukan kita manusia dengan hormat -Ia menghormati martabat manusia- dengan memberikan kepada kita manusia tanggungjawab moral. Sebagai akibatnya, Allah juga memberikan konsekuensi kepada kita jika kita gagal melaksanakan tanggungjawab itu. Tuhan tetap memperlakukan manusia dengan layak, bahkan meskipun Ia telah mengetahui bahwa mereka akan menyalahgunakan kehendak bebas yang Tuhan berikan kepada mereka.

Maka hidup ini memang menyerupai arena pertandingan, di mana kita manusia secara nyata diuji. Allah memberikan ujian yang nyata ini, sebab adalah baik bagi kita untuk turut mengusahakan keselamatan itu. Rasul Paulus berkata, “tetaplah kerjakan keselamatanmu dengan takut dan gentar… ” (Flp 2:12). Maka Allah menghendaki agar kita setia dan bekerjasama dengan rahmat-Nya untuk mengerjakan keselamatan kita, agar lulus dalam ujian hidup dan memperoleh mahkota kehidupan (lih. 1 Kor 9:25; Yak 1:12; Why 2:10). Namun jika hidup ini merupakan ujian yang sungguh, bukan hanya rekaan, maka harus diterima bahwa sejumlah orang akan bekerjasama dengan Allah dan memenangkannya, namun sejumlah yang lain tidak. Tuhan yang Maha Tahu, mengetahui semuanya itu, namun ini tidak menjadikan ujian itu tidak ada artinya. Tujuan dari ujian dalam hidup ini adalah untuk mewujudkan kemungkinan kerjasama kita yang sejati dengan Tuhan, untuk mencapai kehidupan kekal di Surga.

5. Ada elemen misteri dalam rencana Tuhan sehingga kita manusia tak mampu menyelami sepenuhnya pemikiran Tuhan.

Namun pada akhirnya, memang harus diakui bahwa ada elemen misteri dalam rencana Tuhan sehingga kita manusia tidak dapat sepenuhnya memahami-Nya. Nabi Yesaya berkata, “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu. (Yes 55:8-9)

Maka mungkin saja kita sekarang belum sepenuhnya memahami mengapa Tuhan menciptakan dunia dengan segala isinya, termasuk mereka yang akan menolak Dia. Baru pada saat kelak kita memandang Dia dalam keadaan-Nya yang sebenarnya di surga, kita akan memperoleh pengetahuan yang sempurna akan Dia (lih. 1 Yoh 3:2) dan segala penggenapan rencana-Nya. Dalam keterbatasan kita kita tidak bisa menilai dan menghakimi Tuhan, tentang keputusan Tuhan menciptakan umat manusia seperti sekarang ini; sebab apa yang kita ketahui tentang Allah sangatlah terbatas, sedangkan pengetahuan Allah itu sungguh tak terbatas. Allah mengetahui segala sesuatu dengan sempurna, termasuk alasan mengapa Ia menciptakan dunia sebagaimana adanya sekarang.

20
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
8 Comment threads
12 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
8 Comment authors
AndreeJohnjonni A simarmataAida BelaNotoherub Recent comment authors
Andree
Member
Andree

shalom, saya mau tanya, menurut anda mengapa Allah ingin menciptakan dunia dan manusia, sedang Ia bisa bahagia tanpa hal-hal ini? (berdasarkan isi artikel)
Karena jika Ia tidak melakukan penciptaan maka tidak ada konflik yang terjadi.

Stefanus Tay

Shalom Andree,
Berikut ini adalah alasan mengapa Allah menciptakan manusia.

[qa id=14129]

Semoga dapat membantu.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

John
Member
John

Shalom pak Stef & bu Ingrid yg t’kasih… Saya amat suka dgn artikel ini. Sangat m’cerahkan mngenai perihal Allah yg mahatahu & kehendak bebas manusia utk mmilih keselamatan. Kita b’setuju bahawa Allah mngetahui akan ketidakupayaan manusia utk hidup kudus secara sempurna & cenderung b’dosa. Maka sebab itu Kristus datang k dunia utk mnebus kita, spy kita layak di mata Allah. Kita jg b’setuju bhawa Allah mngetahui bahawa manusia akan jg terus mnolak karya keselamatanNya, sehingga akn ada yg dlempar k dlam neraka. Menarik kita kpd soalan saya, pada waktu Kejadian. Kiranya Allah mngetahui bhawa akan ada manusia yg mnolak Dia,… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom John, Sejujurnya hal berapa banyak orang yang kelak masuk Surga dan berapa banyak yang masuk neraka, itu pada akhirnya hanya Tuhan saja yang mengetahuinya. Kita dapat mempunyai pandangan yang berbeda-beda, itu boleh saja, karena sepanjang pengetahuan saya, Gereja juga tidak pernah mengajarkan secara definitif tentang manakah yang lebih banyak: orang-orang yang masuk Surga atau neraka, atau berapakah prosentasenya. Yang jelas kita ketahui adalah, Allah itu Allah yang Maha sempurna, karena itu dalam kesempurnaan-Nya, Ia sesungguhnya tidak memerlukan manusia untuk membuatnya bahagia atau tidak bahagia. Maka jika Allah menciptakan manusia, itu adalah karena kemurahan-Nya, yang mengalir dari kebaikan-Nya. Dalam kebaikan-Nya… Read more »

Aida Bela
Guest
Aida Bela

Dear Katolisitas mohon nimbrung:

Segala yang diciptakan TUHAN baik adanya,baca lagi kejadian : Allah melihat bahwa semuanya itu baik. Jika TUHAN HANYA TAHU MENCIPTAKAN kebaikan dan neraka sudahlah pasti bukan sebuah kebaikan darimanakah neraka? Dan siapakah yang menciptakanya?

Salam

Stefanus Tay

Shalom Aida Bela, Tentang neraka, Katekismus Gereja Katolik (KGK 1037) menuliskan demikian: KGK 1037.    Tidak ada seorang pun ditentukan lebih dahulu oleh Tuhan supaya masuk ke dalam neraka (bdk. DS 397; 1567); hanya pengingkaran secara sukarela terhadap Tuhan (dosa berat), di mana orang bertahan sampai akhir, mengantarnya ke sana. Dalam perayaan Ekaristi dan dalam doa harian umatnya Gereja senantiasa mohon belas kasihan Allah, supaya “jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” (2 Ptr 3:9):”Terimalah dengan rela persembahan umat-Mu. Bimbinglah jalan hidup kami dan selamatkanlah kami dari hukuman abadi agar tetap menjadi umat kesayangan-Mu (MR, Doa Syukur… Read more »

jonni A simarmata
Guest
jonni A simarmata

Salam Aida
Siapakah yang menciptakan neraka ?
Neraka adalah suatu tempat dan kondisi dimana eksistensi Tuhan tidak ada. Tuhan mengijinkan adanya neraka karena rahmat kehendak bebas yang dimiliki oleh malaikat dan manusia. Artinya Tuhan tidak pernah menciptakan neraka tetapi mengijinkan keberadaannya.

Notoherub
Guest

Shalom bp Stefi Tay, terima kasih penjelasan dan pencerahannya. Kristus Jesus Tuhan Allah senantiasa memberkati pelayanan bp/ibu dan diberkati agar banyak orang menjadi terang. Amen. GBY.

notoherubowo
Guest
notoherubowo

Shaloom bp Stefanus Tay/ibu Ingrid Tay, Sy perlu bertanya beberapa hal prinsip dasar katolik, 1. Mengapa “tradisi suci”, “ajaran” katolik tidak pernah menganjurkan atau mempunyai doa khusus kepada st. Petrus sbg “pemegang kunci kerajaan surga” dengan dasar alkitabiah Mateus 16:19 sebagaimana disampaikan bhw : “Kepadamu akan kuberikan kunci kerajaan surga, dan apa yang kau ikat di dunia akan terikat disurga ……”, Demikian pula tidak ada devosi khusus st. Petrus seperti adanya doa dan devosi kepada st Maria memohon pertolongan, keselamatan dan pembebasan dari api pencucian sebagaimana termasuk dalam doa rosario. 2. Dalam Johanes 19:30 sebelum Jesus wafat, Jesus menyatakan “…..sudah… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Notoherubowo, Terima kasih atas pertanyaannya. Berikut ini adalah jawaban yang dapat saya berikan atas beberapa pertanyaan Anda. 1. Kalau kita mempelajari doa-doa dalam Gereja Katolik, maka kita akan menemukan doa-doa yang menyatakan bahwa Petrus adalah pemegang kunci Kerajaan Sorga yang dipercayakan Kristus, karena doa adalah ungkapan iman. Sebagai contoh: Thou art the Shepherd of the sheep, the Prince of the Apostles, unto thee were given the keys of the kingdom of heaven. “Thou art Peter; and upon this rock I will build my Church.” Raise us up, we beseech Thee, O Lord, by the apostolic assistance of blessed Peter,… Read more »

Notoherubowo
Guest
Notoherubowo

Menanggapi jawaban ibu dgn contoh dotter, sy kurang sependapat krn dotter adalah manusia biasa yg mempunyai keterbatasan, sy kira dokter tahu jenis sakitnya pasien namun juga tahu juga bhw ubatnya belum tersedia dan teruji secara kilnis. Ini berbeda dgn Allah sendiri yg tidak hanya tahu tapi pasti dpt menyelamatkan. Justru pertanyaannya adalah kita adalah umat terpilih, bagaimana mereka2 yg tak termasuk pilihan Allah, apakah mereka seperti sekam u/ kemudian dibakar? Thx GBY, notoheru.

Stefanus Tay

Shalom Noto,
Allah telah melakukan semuanya agar semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (1Tim 2:3-4). Jadi, kalau sampai ada yang tidak diselamatkan, maka kesalahan bukan pada Allah namun pada manusia. Kita mungkin dapat ‘mempertanyakan’ Allah, kalau Dia seolah-olah tidak melakukan apa-apa. Namun, bagaimana mungkin kita masih mempertanyakan Allah, kalau Dia telah mengutus Putera-Nya untuk menderita dan wafat bagi kita, sehingga melalui Gereja dan Sakramen-sakramen, serta doa pertobatan yang dipanjatkan dapat sungguh-sungguh berdaya guna untuk menyelamatkan kita semua, belum lagi kalau kita juga melihat bahwa rahmat-Nya senantiasa membantu seluruh umat manusia?

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Notoherubowo
Guest
Notoherubowo

Shalom pak, itu benar sekali bhw u/ kita yg hidup dalam pemeliharaan katolik boleh merasa aman sepanjang kita hidup dalam iman dan perbuatan ditambah Katolik mempunyai banyak facilitas atau feature untuk keseelamatan. Oleh sebab itu celakalah bila orang Katolik sampai perlu keluar atau bahkan menjual Kristus halnya untuk jabatan posisi atau kekayaan duniawi. Justru pertanyaan sy sebetulnya adalah bagi orang orang yg belum mengenal, Jesus atau dibesarkan di lingkungan atheis atau dilingkungan dewa dewa sesembahannya. Perenungan saya adalah mereka bukan umat pilihan, artinya mereka akan termasuk ranting atau ilalang atau sekam yg dibakar? Apakah kita ikut membiarkan mereka tanpa usaha… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Notoherubowo, Prinsip yang kita pegang adalah bahwa Tuhan tidak akan menuntut manusia untuk melakukan sesuatu yang tidak diketahuinya. Maka di sini ada peran hati nurani. Adalah kewajiban manusia untuk mengasah hati nuraninya, namun memang ada kemungkinan orang itu, yang bukan karena kesalahannya sendiri, tidak sampai kepada pengetahuan akan Kristus dan Gereja-Nya. Gereja melihat bahwa jika memang bukan karena kesalahannya sendiri, namun orang itu selalu mencari Tuhan dan melaksanakan kehendak Tuhan yang ia ketahui melalui hati nuraninya, maka rahmat Tuhan tetap dapat menjangkau mereka. Namun jika hal ini terjadi, hal ini hanya mungkin karena jasa pengorbanan Kristus yang tak terpisahkan… Read more »

Donny
Guest
Donny

Masih dengan Donny lagi. Karena sangat tertariknya saya dengan point yang kelima, maka kadang saya merasa bahwa katolisitas.org kadang telah mencoba melewati batas tersebut. Saya tidak terlalu suka dengan 4 point lainnya dalam artikel ini. Tanggapan saya untuk point pertama. Apakah kebaikan adalah benar-benar kebaikan jika kebaikan tersebut menciptakan kejahatan ? Dijelaskan kebaikan Allah memberikan manusia kehendak bebas sehingga ada manusia yang menolak Allah dan hidup dalam kejahatan. Secara tidak langsung ini mengatakan bahwa kebaikan dari Allah menjadikan kejahatan dalam diri manusia yang bebas memilih menolak Allah. Tanggapan saya untuk point kedua. Adalah usaha yang sia-sia dari Allah memberikan Rahmat… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Donny, Terima kasih atas tanggapannya. Tidak ada maksud dari kami untuk melewati batas rencana Allah. Bahkan kami mengakui bahwa ada elemen misteri di dalam diskusi ini, yang kami sendiri dan semua teolog tidak akan mampu menjawab secara persis pertanyaan ini. Elemen misteri dalam teologi adalah sesuatu yang sebenarnya wajar, mengingat yang kita diskusikan adalah Tuhan yang tak terbatas. Jadi, dalam keterbatasan pemikiran kita, maka kita seperti mencoba menyusun puzzle, sehingga misteri Allah harapannya lebih terkuak dan dapat kita yakini lagi. Berikut ini adalah tanggapan yang dapat saya berikan atas beberapa tanggapan Anda. 1. Kebaikan adalah kebaikan, walaupun ada kejahatan,… Read more »

Donny
Guest
Donny

Makasih Pak Stef atas tanggapannya. Tapi saya masih lebih suka point yang kelima pada penjelasan di artikel atas. hehe Saya masih berpikiran dengan begitu kita akan menilai keMahatahuan Allah: – Allah tidak mampu mendayagunakan RahmatNya(dalam hal ini jika manusia tidak mau bekerja sama dengan Allah.). -Orangtua dengan segala usahanya tersebut ternyata tidak mampu menjadikan anaknya menjadi anak yang baik. -Allah berbeda dengan dokter. Dengan menganalogikan pada dokter, kita akan bilang bahwa Allah tidak maha Kuasa. Pertanyaan saya lagi mengenai kehendak bebas pada manusia. Seberapa besar Allah menghormati kehendak bebas pada manusia? Manusia diberi kehendak bebas adalah ketika manusia tersebut bisa… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Donny, Harus diakui bahwa apapun analogi yang dibuat manusia untuk menggambarkan Allah ataupun sifat-sifat Allah tetaplah tidak dapat menggambarkan keseluruhan Allah. Sebab apapun atau siapapun yang digunakan dalam analogi itu sifatnya terbatas, sedangkan Allah tidak terbatas. Maka analogi hanya dapat menggambarkan sebagian dari realitas yang ada pada Allah, agar kita manusia memahami prinsipnya. Umpamanya, jika Allah dianalogikan sebagai orang tua, itu adalah untuk menggambarkan adanya kasih yang sedemikian pada Allah kepada kita, yaitu kasih tanpa syarat, kasih yang tidak memaksa dan kasih yang total sampai rela berkorban, yang umumnya diberikan oleh orang tua kepada anaknya. Namun analogi ini memang… Read more »

Donny
Guest
Donny

Terima kasih banyak Bu Inggrid. Tuhan memberkati kita semua.

Donny
Guest
Donny

Terima kasih atas artikel yang bagus ini.
Saya sangat tertarik dengan point yang kelima. Untuk dapat menerima Tuhan dengan baik, maka kita kita harus belajar untuk rendah hati. Kita harus belajar berterima dan menghormati semua rancangan Tuhan yang mungkin tidak dapat kita pahami. Seperti tertulis dalam Matius 18:1-4, kita harus belajar merendahkan diri seperti anak kecil yang polos. Anak kecil tanpa kesombongan.
Ya Allah Bapa di sorga, ajarlah hatiku untuk dapat menerimaMu seperti anak kecil. Hancurkanlah kesombongan yang ada dalam diriku ini. Amin
Terima kasih.
Tuhan memberkati katolisitas.org

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X