Jika ingin menyamai Allah tapi tidak makan buah, Adam & Hawa tetap diusir?

[Dari Katolisitas: tanya jawab ini adalah kelanjutan dari tanya jawab ini, silakan klik. Namun karena penjabarannya yang panjang, kami pisahkan dalam topik tersendiri]

Pertanyaan:

Shaloom Bu Inggrid,

Terima kasih atas jawabannya, tp mau iseng2 tanya, mungkin jawabannya tidak akan ada yang tau.

Dulu saya dibilang kalau karena Adam dan Hawa makan buah tsb, jadi manusia jatuh ke dalam dosa, karena mereka dulu tak tercemar oleh dosa

Jadi andaikan mereka tidak makan, tetapi udah ada pikiran mau menyamai Tuhan apakah mereka tetap diusir dr Taman Eden karena mereka sudah tercemar dosa…

Terima Kasih

Jawaban:

Shalom Leo,

Nampaknya kita tidak dapat memisahkan sama sekali hal memakan buah dan keinginan untuk menyamai Tuhan. Sebab dengan memakan buah itu, Adam dan Hawa menyatakan ketiadaktaatannya kepada Tuhan; atau hal memakan buah itu merupakan simbol dari ketidaktaatan mereka.

Berikut ini adalah jawaban dari Dr. Lawrence Feingold STL, pembimbing Teologis situs ini, dan saya sertakan terjemahannya di sampingnya:

Jawaban dari Dr. Lawrence Feingold STL tentang dosa asal Terjemahan oleh Ingrid Listiati, MTS
We can only speculate here using theological principles, and thus we cannot claim a certainty. However, I would answer as follows.

Genesis 1-3 are history, but a history that is archaic and symbolic, in accordance with the mentality of more earlier or more primitive cultures. Thus it is not necessary to take the account of the original sin literalistically. We can see eating of the fruit of the tree of the fruit of the knowledge of good and evil as a symbol of man seeking to make himself like God in a way that he cannot be: seeking to free himself from God’s dominion over good and evil.

Thus the essence of the original sin was precisely seeking to be God in a way in which a creature cannot be. No creature can have dominion over good and evil, for that belongs to God alone as the Creator and the Final End. He alone is the eternal moral law. The question that you asked seemed to separate the eating of the tree of the knowledge of good and evil, and desiring to be God (or better: desiring to be like God in a way that a creature cannot be–determining good and evil autonomously). I would say that the original sin was precisely the desiring to be morally autonomous. This desire was expressed or represented as eating of the fruit of the tree of knowledge of good and evil. In other words, we can distinguish the essence of the original sin (desiring moral autonomy), and the symbolic form in which this was represented.

I have a section on John Paul II’s interpretation of the original sin which might be helpful here. I wrote:

John Paul II gave a profound interpretation of the nature of the original sin in his encyclical of 1986, Dominum et vivificantem, on the role of the Holy Spirit in the life of the Church. In the second part of this encyclical he makes a brief analysis of the nature of the original sin of Adam and its paradigmatic value as a deliberate rejection of the truth of God’s Word and the goodness of His Law as an expression of His loving Providence. He writes: “This original disobedience presupposes a rejection, or at least a turning away from the truth contained in the Word of God, who creates the world. . . . He is the Word who is also the eternal law, the source of every law which regulates the world and especially human acts.”(Dominum et vivificantem 33)

The original sin, and every sin, is a rejection of the Word of God, the Logos, who is also God’s eternal law. The original sin, and every sin, is thus a rejection of Christ, the Logos, and a disbelief in the Logos as Eternal Law. John Paul II writes:

The rejection expresses itself in practice as ‘disobedience,’ in an act committed as an effect of the temptation which comes from the ‘father of lies.’ Therefore, at the root of human sin is the lie which is a radical rejection of the truth contained in the Word of the Father, through whom is expressed the loving omnipotence of the Creator. (Dominum et vivificantem 33)

In Dominum et vivificantem 36, John Paul II further develops the notion of the original sin as a refusal to respect the limitation of the human condition as a creature, subject to the eternal law of God. This law is a law of love, leading man to realize his beatitude through the perfection of his personality in perfect self-giving to neighbor and to God. The devil inspires man with a suspicion against the goodness of God and the gift of the eternal wisdom manifested in the law of God. The Pope writes:

The “image of God,” consisting in rationality and freedom, expresses the greatness and dignity of the human subject, who is a person. But this personal subject is also always a creature: in his existence and essence he depends on the Creator. According to the Book of Genesis, “the tree of the knowledge of good and evil” was to express and constantly remind man of the “limit” impassable for a created being. God’s prohibition is to be understood in this sense: the Creator forbids man and woman to eat of the fruit of the tree of the knowledge of good and evil. The words of the enticement, that is to say the temptation, as formulated in the sacred text, are an inducement to transgress this prohibition-that is to say, to go beyond that “limit”: “When you eat of it your eyes will be opened, and you will be like God [“like gods”], knowing good and evil.”

“Disobedience” means precisely going beyond that limit, which remains impassable to the will and the freedom of man as a created being. For God the Creator is the one definitive source of the moral order in the world created by him. Man cannot decide by himself what is good and what is evil-cannot “know good and evil, like God.” In the created world God indeed remains the first and sovereign source for deciding about good and evil, through the intimate truth of being, which is the reflection of the Word, the eternal Son, consubstantial with the Father.

Kita hanya dapat memperkirakan di sini dengan menggunakan prisnip- prinsip teologis, dan karena itu kita tidak dapat mengklaim pasti benar. Namun demikian, saya akan menjawab demikian:

Kitab Kejadian 1-3 adalah kisah sejarah, namun merupakan sejarah yang archaik dan simbolis, sesuai dengan mentalitas dari budaya- budaya yang lebih awal atau yang lebih primitif. Karena itu, tidaklah perlu untuk menangkap kejadian tentang dosa asal dengan cara literalistik. Kita dapat melihat hal memakan buah pohon pengetahuan tentang hal yang baik dan yang buruk sebagai simbol dari manusia yang ingin menjadikan dirinya sendiri sebagai Tuhan dengan cara yang tidak dapat dilakukannya: [yaitu] menghendaki untuk membebaskan dirinya sendiri dari kuasa Tuhan atas hal baik dan yang buruk.

Maka hakekat dari dosa asal tepatnya adalah menghendaki untuk menjadi Tuhan dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh mahluk ciptaan. Tak ada mahluk ciptaan yang mempunyai kuasa atas hal yang baik dan buruk, sebab kuasa itu adalah milik Tuhan saja sebagai Pencipta dan Tujuan Akhir. Ia sendiri adalah Sang hukum moral yang kekal. Pertanyaan yang Anda ajukan sepertinya memisahkan antara hal memakan buah pohon pengetahuan baik dan buruk dengan keinginan untuk menjadi Tuhan (atau: keinginan untuk menjadi seperti Tuhan dengan cara yang tak dapat dilakukan oleh mahluk ciptaan– yaitu menentukan hal yang baik dan buruk, secara otonom, terlepas dari Tuhan). Saya katakan bahwa dosa asal adalah kehendak untuk menjadi otonom secara moral. Kehendak ini dinyatakan atau dilambangkan sebagai memakan buah dari pohon pengetahuan akan hal yang baik dan buruk. Dengan kata lain, kita dapat membedakan hakekat dosa asal (yaitu menghendaki otonomi moral) dan bentuk simbolis yang melambangkannya [yaitu makan buah pohon tersebut].

Saya mempunyai secuplik tulisan tentang interpretasi Paus Yohanes Paulus II tentang dosa asal, yang mungkin dapat membantu di sini, demikian saya menuliskannya:

Paus Yohanes Paulus II memberikan interpretasi yang mendalam tentang kodrat dosa asal dalam surat ensikliknya tahun 1986, Dominum et vivificantem, tentang peran Roh Kudus dalam kehidupan Gereja. Di bagian kedua dari surat ensiklik ini, ia membuat analisa singkat tentang kodrat dosa asal Adam dan nilai maknanya sebagai penolakan yang disengaja akan kebenaran Sabda Tuhan dan kebaikan Hukum-Nya sebagai sebuah pernyataan Penyelenggaraan-Nya yang penuh kasih. Paus menulis, “Ketidaktaan awal ini didahului oleh sebuah penolakan, atau setidaknya sebuah pengingkaran dari kebenaran yang terkandung di dalam Sabda Allah yang menciptakan dunia… Ia adalah Sang Sabda yang juga adalah hukum yang kekal, sumber dari setiap hukum yang mengatur dunia dan secara khusus perbuatan- perbuatan manusia” (Dominum et vivificantem 33)

Dosa asal dan setiap dosa, adalah penolakan akan Sabda Tuhan, Sang Logos, yang adalah hukum Tuhan yang kekal. Dosa asal dan setiap dosa adalah penolakan terhadap Kristus, Sang Logos, dan ketidakpercayaan akan Sang Logos sebagai Hukum yang kekal. Paus menulis:

Penolakan menyatakan dirinya di dalam kehidupan sehari- hari sebagai ‘ketidaktaatan’, di dalam sebuah tindakan yang dilakukan sebagai akibat dari godaan yang datang dari ‘bapa segala kebohongan’ [Iblis]. Oleh karena itu, akar dari dosa manusia adalah kebohongan yang adalah penolakan radikal akan kebenaran yang terkandung di dalam Sabda Allah Bapa, yang melaluinya dinyatakan kemahakuasaan Sang Pencipta yang penuh kasih. (Dominum et vivificantem 33)

Di dalam Dominum et vivificantem 36, Paus Yohanes Paulus II selanjutnya mengembangkan pandangan bahwa dosa asal adalah penolakan untuk menghormati batasan keadaan manusia sebagai mahluk ciptaan, yang tunduk kepada hukum Tuhan yang kekal. Hukum ini adalah hukum kasih, yang memimpin manusia untuk menyadari kebahagiaan akhirnya melalui penyempurnaan kepribadiannya di dalam hal pemberian diri yang sempurna kepada sesama dan kepada Tuhan. Iblis mendorong manusia dengan kecurigaan melawan kebaikan Tuhan dan karunia kebijaksanaan kekal yang dinyatakan di dalam hukum Tuhan. Paus menulis:

“Gambaran Tuhan” yang terdapat di dalam kemampuan akal budi dan kehendak bebas, menyatakan kebesaran dan martabat manusia, yang adalah seorang pribadi.  Namun tokoh pribadi ini juga selalu adalah mahluk ciptaan: di dalam keberadaannya dan hakekatnya, ia tergantung kepada Sang Pencipta. Menurut Kitab Kejadian, ‘pohon pengetahuan akan yang baik dan buruk’ adalah untuk mengekspresikan dan mengingatkan manusia secara terus menerus tentang batasan yang tak dapat diseberangi oleh seorang mahluk ciptaan. Larangan Tuhan harus dipahami dalam arti ini: Sang Pencipta melarang manusia laki-laki dan perempuan untuk makan buah pohon pengetahuan tentang hal yang baik dan buruk. Kata- kata bujukan yaitu godaan, seperti yang dirumuskan di dalam teks suci adalah rayuan untuk melanggar larangan ini- yaitu, untuk melanggar “batas” itu: “Ketika kamu memakannya, matamu akan terbuka dan kamu akan menjadi seperti Tuhan, dengan mengetahui hal- hal yang baik dan buruk.”

“Ketidaktaatan” berarti melampaui batas itu, yang tetap tak terseberangi bagi kehendak dan kebebasan manusia sebagai mahluk yang diciptakan. Sebab Tuhan Pencipta adalah satu-satunya sumber yang definitif akan keteraturan moral di dunia yang diciptakan oleh-Nya. Manusia tidak dapat memutuskan sendiri apa yang baik dan apa yang buruk -manusia tidak dapat “mengetahui hal yang baik dan buruk seperti Tuhan.” Di dunia yang diciptakan, sungguh Tuhan tetaplah menjadi sumber yang pertama dan agung untuk memutuskan tentang hal yang baik dan buruk, melalui kebenaran yang intim, yang adalah permenungan Sang Sabda, Putera Allah yang kekal, yang sehakekat dengan Allah Bapa.

Jadi nampaknya pengandaiannya yang kurang tepat, ya, Leo. Sebab kejadian memakan buah pohon pengetahuan itu adalah simbol dari penolakan Adam dan Hawa untuk taat kepada Tuhan. Maka saya ingin merevisi dan melengkapi apa yang sudah saya katakan sebelumnya, bahwa memang umumnya dosa dimulai di pikiran dahulu baru kemudian setelah dikunyah- kunyah diwujudkan dalam perbuatan. Namun di kisah terjadinya dosa asal ini tidak dibedakan antara dosa di pikiran dahulu baru kemudian diwujudkan dalam perbuatan, sebab secara keseluruhan kejadian memakan buah tersebut adalah simbol yang menggambarkan ketidaktaatan Adam dan Hawa karena mereka ingin menjadi seperti Tuhan, dengan menentukan sendiri bagi mereka apa yang baik dan yang buruk (secara moral), tanpa mengindahkan kehendak Tuhan Pencipta mereka.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

14
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
4 Comment threads
10 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
9 Comment authors
Stefanus TayMaximillian ReinhartTri HandoyoMonicaMachmud Recent comment authors
Maximillian Reinhart
Guest
Maximillian Reinhart

Salam Damai Dalam Kristus.

Semoga bisa memahami apa yang aku tanyakan.

Malaikatpun diberikan free will oleh Allah untuk menerima atau menolak Allah.
bagi yang menerima Allah, maka berdiam di sorga dan yang menolak Allah, dilepas ke bumi.

Kata penolakan berkonotasi tidak bagus, apakah semua yang tidak bagus itu berasal dari iblis (termasuk Adam dan Hawa yang menolak taat dan patuh kepada Allah) – sementara saat itu saja sesungguhnya belum ada iblis?

Semoga ada pencerahan penjelasan yang membumi, terima kasih.

Max.

Stefanus Tay

Shalom Maximillian Reinhart,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang kehendak bebas. Manusia dapat menolak perintah Allah bukan hanya karena godaan setan, namun terutama karena manusia secara salah menggunakan kehendak bebas, yaitu ketika manusia menempatkan diri sendiri sebagai parameter kebenaran. Dalam kondisi inilah, maka manusia jatuh ke dalam dosa, yaitu dosa kesombongan. Setan dapat menggoda, namun, manusia tetap bertangungjawab untuk memberikan jawaban akhir: apakah manusia mau berkata ya terhadap dosa, atau menolak dosa. Semoga keterangan ini dapat memperjelas.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Monica
Guest
Monica

Shalom,

Saya pernah mendengar dari pengajar agama saya kalau cerita Adam dan Hawa hingga Nuh hanya kisah semata, tidak terjadi secara historis melainkan hanya merupakan suatu refleksi iman dari sang penulis Kitab. Sementara tulisan yang terbukti secara historis mulai dari Abraham, benarkah itu?

Terima Kasih ^^
Monica

[Dari Katolisitas: Pertanyaan serupa sudah pernah ditanyakan dan dijawab di sini, silakan klik]

Leo
Guest
Leo

Syaloom Bu Inggrid, Saya hanya paham sedikit dr penjelasan teologis di atas, Karena sulit sekali berpikir kalau makan buah pengetahuan itu hanya simbol (maklum dr kecil saya dijelaskan Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa karena makan (literally) buah pengetahuan baik dan buruk). Dan juga karena ada pohon kehidupan yang dapat membuat manusia hidup selama-lamanya, apakah itu simbolis juga? Yang saya tangkap adalah pada saat Adam dan Hawa yang dalam keadaan penuh rahmat yang pikirannya sejalan dengan Allah (dibuktikan dengan menamakan seluruh binatang di dunia tanpas salah) pas digoda dan terbersit pikiran ingin menyamai Allah, sebenarnya makan tidak makan sudah… Read more »

Tri Handoyo
Guest
Tri Handoyo

Shalom sdr. Leo Tapi, sepengetahuan saya, Allah melarang Adam dan Hawa memakan buah dari pohon pengetahuan tentang baik dan jahat… klo mereka makan maka akibatnya mereka mati… Berarti konsekuensi dengan memakan buah itu adalah mati… tetapi Adam dan Hawa tetap kibulin sama iblis yang menyerupai ular yang iming2nya klo makan maka akan seperti Allah penciptanya… di sinilah ketidak taatan Adam dan Hawa, sehingga mereka di usir dari taman eden… tapi ada yang masih menjadi pertanyaan saya… apakah yang dimaksud Allah dengan berkata “sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati” mengartikan bahwa : 1. manusia sebelumnya memiliki kehidupan abadi di… Read more »

fxe
Guest
fxe

Bu Ingrid; sedikit nanya juga: “…and desiring to be God (or better: desiring to be like God in a way that a creature cannot be–determining good and evil autonomously). I would say that the original sin was precisely the desiring to be morally autonomous.” Pertanyaan: apakah “suatu perbuatan” disebut baik / buruk karena dia memang baik / buruk di dalam dirinya sendiri (menuruti development of morality autonomy manusia), ataukah “suatu perbuatan” menjadi baik / buruk karena (tergantung pada) Tuhan yg menyatakan baik / buruk ? misalnya: “membunuh orang” dipahami sebagai tindakan buruk di dalam dirinya sendiri, tetapi seandainya Tuhan yang… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X