Iman tanpa perbuatan adalah mati

Pertanyaan:

Ada pendapat bahwa perkataan dalam Injil Yakobus yang berbunyi bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati bukan berarti perbuatan baik dan benar yang secara kodrati dimiliki oleh semua orang yang baik. Perbuatan yang dimaksud dalam Injil tersebut adalah perbuatan mewujudkan iman seperti perbuatan Abraham yang tetap akan menyembelih Ishak putera kesayangannya karena beliau beriman kepada Allah sekalipun Abraham percaya bahwa perbuatan menyembelih anaknya bukanlah perbuatan yang baik dan benar. Bagaimana pendapat Bu Inggrid?
Hal lain yang ingin saya tanyakan adalah tentang pandangan bahwa gereja non-Katolik seperti gereja Protestan pada hakekatnya bukan gereja karena penyelenggaraan ibadahnya tidak dipimpin oleh pastor yang sudah mendapatkan sakramen imamat. Istilah gereja lokal dianggap merujuk kepada masing-masing gereja Katolik di paroki yang berada di bawah keuskupan yang sama dan keuskupan Roma (Paus). Apakah pandangan ini benar karena setahu saya gereja Katolik bercirikan am, kudus, katolik dan apostolik sehingga saya sering mengatakan gereja Katolik itu gereja universal sedangkan gereja non-Katolik merupakan gereja lokal? – Andryhart

Jawaban:

Shalom Andry,
A. Mengenai perbuatan dan iman, dan secara khusus iman Abraham
Pertama-tama mari kita melihat bahwa sebaiknya memang iman tidak dipertentangkan dengan kasih, sehingga sebagai pengikut Kristus baik Katolik maupun Protestan dapat menerima bahwa kita diselamatkan oleh karena iman yang dengan sendirinya menghasilkan perbuatan-perbuatan kasih. Sebab dengan demikian kita dapat berdialog dengan memusatkan pada persamaan daripada dari perbedaan yang ada.
Memang kita mengetahui dari tulisan Luther, bahwa ia menganggap Surat Yakobus sebagai “the Epistle of Straw” (Surat Jerami), walaupun menurut komentator dari gereja Protestan, maksud Luther menuliskan istilah itu adalah dalam konteks membandingkan surat Yakobus dangan keempat Injil. Jika keempat injil disebut emas, maka surat Yakobus di sini merupakan ‘jerami’. Soal bijak atau tidaknya istilah ini dipakai oleh Luther, saya tidak ingin memberi komentar.
Namun sebenarnya, yang lebih penting adalah isinya ayat Yak 2:24, karena itu di situ disebutkan, “…. manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman.” Hal ini nampak bertentangan dengan prinsip ajaran Luther, “Sola Fide/ salvation by faith alone”. Di ayat ini kata ‘alone’ dipakai, tetapi lengkapnya malah ‘not by faith alone’, yang mengacu pada iman dan perbuatan kasih, dan bukan hanya iman saja. Saya percaya, bahwa saudara/i kita yang beragama Kristen non-Katolik sesungguhnya juga setuju bahwa iman tak dapat dipisahkan dengan perbuatan kasih. Dan sesungguhnya ini tantangan bagi kita, baik yang Katolik dan Protestan, untuk semakin melihat hal ini secara objektif. Jangan hanya menekankan iman saja, tanpa perbuatan, atau sebaliknya perbuatan saja tanpa iman, karena keduanya tidak sesuai dengan kitab Suci.
Mengenai iman yang mati tanpa perbuatan, saya pikir sesungguhnya sudah sangat jelas. Iman yang tak diikuti perbuatan sama saja dengan hanya iman di mulut, tapi tidak ada bukti dan perwujudannya. Terus terang saya malah baru pernah mendengar bahwa ayat itu diartikan sebagai perbuatan Abraham dalam iman pada Allah “tetap mau mengorbankan anaknya Ishak, walaupun dia percaya bahwa perbuatan menyembelih anaknya bukanlah perbuatan yang baik dan benar”- seperti yang Andry tuliskan. Setahu saya bukan demikian yang kita ketahui dalam interpretasi penjelasan Alkitab menurut Gereja Katolik.
Berikut ini adalah interpretasi Gereja Katolik tentang iman Abraham, yang saya ketahui dari beberapa sumber:

  1. Iman Abraham yang menyelamatkan seperti dituliskan dalam Roma 4; dipisahkan dari ‘perbuatan’, yang dalam hal ini diartikan sebagai perbuatan yang disyaratkan dalam hukum Taurat, yaitu sunat/ circumcision. Abraham dipilih/ dibenarkan Allah sebelum Allah memberikan hukum sunat, sehingga di sini jelas bahwa ia diselamatkan oleh iman kepada Allah dan bukan karena melakukan perbuatan menurut hukum Taurat yaitu sunat. Maka Abraham disebut sebagai bapa kaum beriman (bapa bangsa- bangsa), baik bagi bangsa yang bersunat maupun yang tak bersunat, agar olehnya seluruh bangsa diberkati (Gen 17:5;lih. KGK 59).
  2. Abraham juga dibenarkan Allah dengan iman dan pengharapannya, pada saat “tidak ada dasar untuk berharap” (Rom 4:18). Kita ketahui pada waktu janji Allah pertama diberikan kepadanya bahwa ia akan menjadi bapa bangsa, ia telah berumur 75 tahun (Kej 12: 1-4), dan istrinya Sarah telah mati haid, dan mereka belum mempunyai keturunan. Tetapi Abraham tetap percaya dan beriman kepada Tuhan.
  3. Iman Abraham mencapai puncaknya ketika ia taat pada perintah Allah untuk mempersembahkan anak kandungnya, Ishak. Para ahli Kitab Suci bahkan mengambil ayat ini sebagai dasar bahwa Abraham tentunya memiliki iman tentang kebangkitan orang mati, sebab ia yakin bahwa Allah yang telah menyebabkan kelahiran Ishak yang ajaib, dapat pula menyebabkan kebangkitan anaknya itu dari kematian.
  4. Allah memerintahkan Abraham mempersembahkan Ishak (Kej 22: 1-19) dengan dua maksud utama: 1) untuk menguji iman Abraham, agar terbukti bahwa ia layak disebut sebagai bapa orang beriman; 2) untuk memberikan pengajaran kepada umat beriman, bagaimana pengorbanan Ishak merupakan proto-tipe pengorbanan Yesus di kayu salib. Kisah Abraham yang rela mempersembahkan anaknya sebagai korban bakaran- dipakai untuk mengajarkan pada kita, bahwa Allah Bapa suatu saat nanti akan mengorbankan Putera-Nya sendiri yaitu Yesus sebagai korban penebus dosa kita manusia. Di sinilah pentingnya untuk membaca kitab Perjanjian Lama dalam terang Perjanjian Baru (lihat KGK 129) agar kita dapat lebih memahami kedalaman makna ayat dalam Kitab Suci.
    Kita percaya bahwa Allah tidak pernah menyuruh atau merencanakan sesuatu yang buruk, dan memang contoh tentang kisah Abraham ini hanya terjadi satu kali saja dalam seluruh Alkitab. Maka makna proto-tipe Ini menunjukkan betapa pentingnya maksud Allah memakai pengalaman pengorbanan Ishak pada Perjanjian Lama untuk dikaitkan dengan pemenuhannya di Perjanjian Baru, dalam diri Yesus Kristus. Jadi untuk maksud inilah (proto-tipe pengorbanan Yesus), Allah menyuruh Abraham mempersembahkan Ishak, dan bukan karena semata-mata memerintahkan Abraham untuk membunuh anak sendiri.
  5. Melalui kisah Abraham yang dengan taat merelakan anaknya ini, kita dapat juga melihat besarnya ketaatan Maria pada Perjanjian Baru. “Seperti Abraham yang menaruh harapan di saat tidak ada dasar untuk berharap bahwa ia akan menjadi Bapa banyak bangsa, maka Maria dengan kaul keperawanannya (silakan klik), percaya melalui kuasa Allah yang Maha Tinggi dan naungan Roh Kudus, ia akan menjadi ibu dari Allah Putera” (Redemptoris Mater / RM14)  Maka PL dimulai dari iman Abraham, dan PB dimulai dari iman Maria. Pengosongan diri Maria sebagai hamba Tuhan bahkan melebihi Abraham, karena tidak seperti pada PL, Ishak tidak jadi dikorbankan, tetapi di PB, Yesus tetap dikorbankan. Maria melihat sendiri kesengsaraan Putera-Nya Yesus Kristus yang melampaui segala ungkapan, dengan pengorbanan-Nya di kayu salib untuk menebus dosa-dosa manusia. Inilah yang mungkin disebut sebagai pengosongan diri yang paling dalam yang pernah terjadi dalam sejarah kehidupan manusia, yang disebut oleh Bapa Paus Yohanes II, bahwa pengosongan diri Maria ini sebagai “the deepest kenosis (self-emptying) in human history.” ( lihat RM 18-19). Para ibu yang pernah menyaksikan anaknya meninggal dunia di depan matanya akan lebih dapat memahami perasaan Bunda Maria. Apalagi dalam hal ini, Yesus disiksa sampai mati karena difitnah, dan Ia tidak melakukan kesalahan apapun.

B. Mengenai arti kata gereja lokal

Setahu saya di dalam dokumen Vatikan II tidak disebutkan bahwa gereja lokal itu mengacu kepada gereja Kristen non-Katolik. Dalam teks Vatikan II dipergunakan istilah particular churches (gereja khusus/ setempat) untuk menggambarkan gereja lokal yang dikepalai oleh uskup,

sedangkan digunakan universal Church (Gereja secara universal) untuk menggambarkan keseluruhan Gereja Katolik di bawah kepemimpinan Bapa Paus. Hal ini jelas disebutkan dalam Lumen Gentium 23.

Dalam Dekrit tentang Ecumenism (Unitatis Redintegratio), Gereja Katolik mengakui keberadaan gereja-gereja dan jemaat- jemaat Kristen non-Katolik, yang disebut dalam bahasa Inggris sebagai “Separated Churches and Ecclesial Communities” (lihat UR 19):

“Gereja-Gereja dan Jemaat-jemaat gerejawi, yang ….. atau sesudah itu [krisis Abad Pertengahan], telah terpisahkan dari Takhta Apostolik di Roma, masih tetap mempunyai ikatan dengan Gereja katolik karena kekerabatan yang istimewa serta hubungan-hubungan berkat kehidupan umat kristen dalam satu persekutuan gerejawi selama abad-abad sebelumnya.

Akan tetapi Gereja-Gereja serta Jemaat-Jemaat gerejawi itu karena beragamnya asal-usul, ajaran dan hidup rohani tidak sedikit pula berbeda bukan hanya dari kita, melainkan juga antara mereka sendiri. Maka sukar sekali memberi gambaran semestinya tentang mereka. Dan itu memang tidak kami maksudkan di sini.
Sungguhpun gerakan ekumenis dan kerinduan untuk berdamai dengan Gereja katolik belum dimana-mana merupakan arus yang kuat, kami berharap, supaya dalam hati segenap umat kristen semangat ekumenis dan sikap saling menghargai lambat-laun makin berkembang.
Akan tetapi harus diakui, bahwa antara Gereja-Gereja serta Jemaat-Jemaat itu dan Gereja katolik masih terdapat perbedaan-perbedaan cukup penting, bukan hanya yang bersifat historis, sosiologis, psikologis dan budaya, melainkan terutama menyangkut cara menafsirkan kebenaran yang diwahyukan. Supaya kendati perbedaan-perbedaan itu dialog ekumenis dapat lebih mudah diadakan, dalam artikel-artikel berikut kami bermaksud mengutarakan apa yang dapat dan harus merupakan dasar maupun dorongan bagi dialog itu.”

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati  – http://www.katolisitas.org

19/12/2018

6
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
3 Comment threads
3 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
5 Comment authors
J MandalikaenjeioIngrid ListiatiLianandryhart Recent comment authors
J Mandalika
Guest
J Mandalika

Kitab Yakobus 2 berbicara mengenai orang Kristen yang “mengatakan” (ayat 14) bahwa mereka mempunyai iman tetapi tidak nampak dalam perbuatan-perbuatannya. Ini dicontohkan oleh Yakobus dengan mengatakan ada seorang yang tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari dan orang Kristen hanya ngomong “kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!”, tetapi ia tidak memberikan kepadanya. Maka Yakobus bertanya “apakah gunanya ngomong tapi faktanya tidak memberi?” Demikian juga dengan iman. Banyak orang ngomong memiliki iman tetapi orang-orang tidak bisa membedakan apakah mereka itu adalah orang percaya yang sejati atau bukan, sebab mereka tidak berbuah sama sekali. Iman seperti ini adalah sia-sia dan bukan… Read more »

Lian
Guest
Lian

Syalom,,
Dalam Roma 4 dikatakan bahwa Abraham dibenarkan karena iman,, sedangkan di surat Yakobus dikatakan bahwa Abraham dibenarkan oleh perbuatan.. manakah yg benar..??
Dan apakah maksud Rasul Paulus mengatakan bahwa kita dibenarkan hanya oleh iman dan BUKAN perbuatan.. apakah memang Rasul Paulus tdk menganggap penting perbuatan..?? dan apakah Rasul Paulus dan Yakobus berbeda pendapat dlm hal ini..??
Sebab Jelas sekali Tulisan Paulus yg memisahkan iman dari perbuatan..
Mohon Penjelasan detailnya..
Trima kasih..

enjeio
Guest
enjeio

Dear Lian, Rasul Paulus tidak mengatakan bahwa kita dibenarkan “hanya” oleh iman. Yang mengatakan ini adalah Martin Luther di Roma 3:28, dimana ia menambahkan kata “hanya” atau “saja”. Roma 3:28 “Karena kami yakin, bahwa manusia dibenarkan karena iman, dan bukan karena ia melakukan hukum Taurat.” Paulus mengatakan “dibenarkan karena iman” (Roma 3:28) – tidak ada embel-embel kata “hanya”. Dan Paulus juga mengatakan bahwa perbuatan juga penting (Roma 2:6-13). Jadi, tidak ada pertentangan antara Paulus dan Yakobus (Pertentangan mulai muncul karena ada tambahan kata “hanya” atau “saja” oleh Martin Luther). Bagi, Katolik, Iman dan Perbuatan, kedua-duanya adalah membenarkan. Kita dibenarkan oleh… Read more »

andryhart
Guest
andryhart

Ada pendapat bahwa perkataan dalam Injil Yakobus yang berbunyi bahwa iman tanpa perbuatan adalah mati bukan berarti perbuatan baik dan benar yang secara kodrati dimiliki oleh semua orang yang baik. Perbuatan yang dimaksud dalam Injil tersebut adalah perbuatan mewujudkan iman seperti perbuatan Abraham yang tetap akan menyembelih Ishak putera kesayangannya karena beliau beriman kepada Allah sekalipun Abraham percaya bahwa perbuatan menyembelih anaknya bukanlah perbuatan yang baik dan benar. Bagaimana pendapat Bu Inggrid? Hal lain yang ingin saya tanyakan adalah tentang pandangan bahwa gereja non-Katolik seperti gereja Protestan pada hakekatnya bukan gereja karena penyelenggaraan ibadahnya tidak dipimpin oleh pastor yang sudah… Read more »

V.P.Kusnadi Sutedjo
Guest
V.P.Kusnadi Sutedjo

Stef & Ingrid ykk;
Pada hari ini dalam bacaan injil,kita baca Yesus memberikan kuasa pengampunan dosa kepada para rasul.(sehingga kita memiliki sakramen pengampunan).
Kadang2 Paus atau Uskup memberikan absolusi dgn persyaratan melakukan perbuatan tertentu,misalnya ziarah ke…….Pertanyaan saya adalah,kalau kita bandingkan dgn perikop dlm Flp3: 1-11 St.Paulus mengajarkan agar kita jangan menaruh percaya pd hal2 yg lahiriah utk diselamatkan (misalnya sunat tak akan menyelamatkan kita)dan melakukan perbuatan tertentu utk mendapatkan absolusi itu bukab kah percaya pada hal2 yg lahiriah ?Terima kasih utk penjelasannya Tuhan Memberkati katolisitas

[dari katolisitas: silakan melihat artikel di atas – silakan klik]

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X