Iman dan pengabulan doa

Pertanyaan:

Pak Stef dan Bu Inggrid yth,
Setiap kali Yesus berkata: Imanmu telah menyelamatkanmu.
Pertanyaan saya:
– apa sih artinya “iman” itu?
– Bagaimanakah caranya agar kita bisa beriman dengan benar?
– Adakah hubungan antara Iman dengan: Mintalah maka kamu akan diberikan, ketoklah maka kamu akan dibukakan
– mengapa ada banyak orang yang meminta dengan sungguh-sungguh tetapi kok tidak diberikan juga, padahal sudah lama banget mintanya? misalnya minta jodoh! adakah hubungannya dengan iman disini?

Jawaban:

Shalom Pius Nugraha,

Terima kasih atas pertanyaan anda tentang iman, yang memang merupakan sesuatu yang sangat penting bagi kehidupan kita sebagai murid- murid Kristus. Untuk memperoleh pengertian yang lebih mendalam tentang iman, maka saya akan membahasnya dari definisi terlebih dahulu, baru kemudian kita dapat melihat kepada penerapannya dalam hidup kita. Semoga setelah itu kita semua dapat memeriksa, sejauh mana kita telah sungguh- sungguh beriman, dan apakah doa- doa kita sudah kita panjatkan dengan iman yang benar, dan ya, termasuk doa memohon jodoh, bagi mereka yang sedang bergumul dalam hal ini.

1. Definisi iman dari Kitab Suci:

“Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibr 11:1)

Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah… (Ef 2:8)

Dengan demikian kita mengetahui bahwa iman berkaitan dengan pengharapan akan keselamatan kekal yang diberikan karena kasih karunia Allah. Rasul Yakobus mengajarkan, bahwa agar iman itu menyelamatkan, maka iman itu harus disertai perbuatan-perbuatan kasih, sebab tanpa perbuatan, iman itu kosong dan mati.

“…iman bekerjasama dengan perbuatan-perbuatan dan oleh perbuatan-perbuatan itu iman menjadi sempurna…. Jadi kamu lihat, bahwa manusia dibenarkan karena perbuatan-perbuatannya dan bukan hanya karena iman…. Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati. (Yak 2:22,24,26)

Dengan demikian sangat eratlah kaitan antara iman dan kasih, sebab keduanya adalah karunia Roh Kudus. Iman, pengharapan dan kasih adalah kebajikan ilahi yang menghantar kita kepada keselamatan kekal oleh Kristus, dan yang terbesar di antara ketiganya itu adalah kasih.

Oleh Dia (Yesus Kristus) kita juga beroleh jalan masuk oleh iman kepada kasih karunia ini. Di dalam kasih karunia ini kita berdiri dan kita bermegah dalam pengharapan akan menerima kemuliaan Allah.” (Rom 5:2)

Malah kasih karunia Tuhan kita itu telah dikaruniakan dengan limpahnya kepadaku dengan iman dan kasih dalam Kristus Yesus. (1 Tim1:14)

Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. (1 Kor 13:2)

Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih. (1 Kor 13:13)

2. Pengertian iman menurut Magisterium Gereja Katolik

Iman, berasal dari kata pistis (Yunani), fides (Latin) secara umum artinya adalah persetujuan pikiran kepada kebenaran akan sesuatu hal berdasarkan perkataan orang lain, entah dari Tuhan atau dari manusia. Persetujuan ini berbeda dengan persetujuan dalam hal ilmu pengetahuan, sebab dalam hal pengetahuan, maka persetujuan diberikan atas dasar bukti nyata, bahkan dapat diukur dan diraba, namun perihal iman, maka persetujuan diberikan atas dasar perkataan orang lain. Maka iman yang ilahi (Divine Faith), adalah berpegang pada suatu kebenaran sebagai sesuatu yang pasti, sebab Allah, yang tidak mungkin berbohong dan tidak bisa dibohongi, telah mengatakannya. Dan jika seseorang telah menerima/ setuju akan kebenaran yang dinyatakan Allah ini, maka selayaknya ia menaatinya.

Maka tepatlah jika Magisterium Gereja Katolik menghubungkan iman dengan ketaatan dan mendefinisikannya sebagai berikut:

“Kepada Allah yang menyampaikan wahyu manusia wajib menyatakan “ketaatan iman” (Rom16:26; lih. Rom1:5 ; 2Kor10:5-6). Demikianlah manusia dengan bebas menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah, dengan mempersembahkan “kepatuhan akalbudi serta kehendak yang sepenuhnya kepada Allah yang mewahyukan[4], dan dengan secara sukarela menerima sebagai kebenaran wahyu yang dikurniakan oleh-Nya. Supaya orang dapat beriman seperti itu, diperlukan rahmat Allah yang mendahului serta menolong, pun juga bantuan batin Roh Kudus, yang menggerakkan hati dan membalikkannya kepada Allah, membuka mata budi, dan menimbulkan “pada semua orang rasa manis dalam menyetujui dan mempercayai kebenaran”[5]. Supaya semakin mendalamlah pengertian akan wahyu, Roh Kudus itu juga senantiasa menyempurnakan iman melalui kurnia-kurnia-Nya.” (Konsili Vatikan II tentang Wahyu Ilahi, Dei Verbum 5)

Maka dalam hal ini iman tidak berupa perasaan atau pendapat, tetapi merupakan sesuatu yang tegas, perlekatan akalbudi dan pikiran yang tak tergoyahkan kepada kebenaran yang dinyatakan oleh Tuhan. Maka motif sebuah iman yang ilahi adalah otoritas Tuhan, yaitu berdasarkan atas Pengetahuan-Nya dan Kebenaran-Nya. Jadi, kita percaya akan kebenaran- kebenaran itu bukan karena pikiran kita mampu sepenuhnya memahaminya atau kita dapat melihatnya, namun karena Allah yang Maha Bijaksana dan Maha Benar menyatakannya. Kebenaran yang dinyatakan oleh Allah ini diberikan melalui Sabda-Nya, yaitu yang disampaikan kepada kita umat beriman melalui Kitab Suci dan Tradisi Suci, sesuai dengan yang diajarkan oleh Magisterium Gereja Katolik, yang kepadanya Kristus telah memberikan kuasa untuk mengajar dalam nama-Nya. Nah, untuk menerima kebenaran yang dinyatakan Allah ini, diperlukan kasih karunia dari Allah sendiri, dan untuk menanggapinya dengan ketaatan, diperlukan kerjasama dari pihak kita manusia.

Selanjutnya, Katekismus Gereja Katolik mengajarkan,

KGK 1814    Iman adalah kebajikan ilahi, olehnya kita percaya akan Allah dan segala sesuatu yang telah Ia sampaikan dan wahyukan kepada kita dan apa yang Gereja kudus ajukan supaya dipercayai. Karena Allah adalah kebenaran itu sendiri. Dalam iman “manusia secara bebas menyerahkan seluruh dirinya kepada Allah” (Dei Verbum 5).Karena itu, manusia beriman berikhtiar untuk mengenal dan melaksanakan kehendak Allah. “Orang benar akan hidup oleh iman” (Rom 1:17) Iman yang hidup “bekerja oleh kasih” (Gal 5:6).

3. Iman mempunyai dimensi obyektif dan subyektif

Melihat penjelasan di atas, maka kita mengetahui bahwa iman mempunyai dimensi obyektif dan subyektif. Obyektif, karena dasar kepatuhan akalbudi dan kehendak kita adalah kebenaran dari Tuhan (dari Kitab Suci dan Tradisi Suci), yang tidak mungkin salah; namun juga subyektif karena berhubungan dengan kebajikan yang dimiliki oleh tiap- tiap orang, yang melaluinya ia dapat menjadi taat beriman.

4. Bagaimana beriman yang benar?

a. Dari uraian di atas, kita mengetahui bahwa iman adalah karunia Allah sehingga manusia dapat menerima apa yang diwahyukan Allah. Jadi untuk beriman yang benar, pertama- tama, kita harusmengetahui Kebenaran yang diwahyukan Allah itu. Kitab Suci mengajarkan:

“Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Rom 10:17)

Selanjutnya, Kitab Suci juga mengajarkan bahwa firman Kristus itu disampaikan secara lisan dan tertulis. Dengan demikian Gereja Katolik mengajarkan agar kita berpegang kepada Kitab Suci (ajaran firman Tuhan yang tertulis) dan Tradisi Suci (ajaran firman Tuhan yang disampaikan lisan oleh Kristus dan para rasul). Keduanya ini adalah sumber iman kita sebagai murid- murid Kristus. Rasul Paulus mengajarkan:

“Sebab itu, berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan, maupun secara tertulis.” (2 Tes 2:15)

Jadi langkah awal untuk beriman dengan baik, adalah kenalilah dan pelajarilah kebenaran firman Tuhan, baik melalui Kitab Suci maupun Tradisi Suci, dan keduanya ini disampaikan dengan setia oleh Magisterium Gereja Katolik.

b. Karena kita mengetahui bahwa iman kita peroleh dari kasih karunia Allah, maka untuk bertumbuh di dalam iman, kita juga harus mengandalkan kasih karunia Allah ini. Kita harus hidup di dalam Kristus dan menerima rahmat-Nya, dan kita umat Katolik menerima rahmat ini melalui sakramen- sakramen, terutama sakramen Ekaristi, di mana kita menyambut Tubuh Kristus sendiri.

“Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” (Yoh 6:56-57)

c. Selanjutnya, untuk menjadikan iman itu benar- benar hidup dan bertumbuh, iman itu harus dibarengi dengan perbuatan kasih:

“Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati.” (Yak 2:26)

5. Apakah ada hubungan antara iman dengan pengabulan doa permohonan?

Adalah suatu yang menarik bahwa anda bertanya apakah ada hubungan antara iman dengan firman Tuhan yang mengatakan, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.” (Luk 11:9-10; Mat 7:7). Jawabnya: Tentu ada. Jika permohonan kita belum dikabulkan, kita selayaknya memeriksa batin; apakah kita sudah meminta dengan benar kepada Tuhan? Sebab yang menjadi fokus utama pada saat kita “meminta” kepada Tuhan, seharusnya adalah segala sesuatu yang dapat menghantar kita kepada keselamatan kekal, yang menjadi tujuan iman kita. Jika itu yang kita minta dengan iman, pasti itu akan dikabulkan oleh Tuhan. Sebab, jangan lupa, selanjutnya Tuhan Yesus berkata:

“Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan Roh Kudus kepada mereka yang meminta kepada-Nya.” (Luk 11:13)

“Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan firman-Ku tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.” (Yoh 15:7)

“Sampai sekarang kamu belum meminta sesuatupun dalam nama-Ku. Mintalah maka kamu akan menerima, supaya penuhlah sukacitamu.” (Yoh 16:24)

Jadi yang harus menjadi pertanyaan berikutnya adalah, apakah kita pernah meminta Roh Kudus, atau untuk hidup dalam pimpinan Roh Kudus? Apakah kita sudah tinggal di dalam Kristus dan di dalam firman-Nya, dan melaksanakan perintah- perintah-Nya? Apakah kita sudah memohon dalam nama Tuhan Yesus? Sebab hal- hal di atas belum dilakukan, maka sudah saatnya kita memperbaiki sikap batin kita, dan mulai melakukannya. Sedangkan jika sudah melakukannya, mari kita tingkatkan, supaya kita bertumbuh di dalam iman dan kebenaran, sebab Kitab Suci mengatakan:

“Doa orang yang benar, bila dengan yakin didoakan, sangat besar kuasanya.” (Yak 5:16)

Selanjutnya bagi kita umat Katolik, ini adalah kesempatan bagi kita untuk merendahkan hati dan memohon dukungan doa dari para orang kudus, terutama Bunda Maria. Kita belajar daripadanya, untuk mempunyai iman dan penyerahan diri yang total kepada Tuhan.

6. Mengapa sudah minta dengan sungguh- sungguh tetapi belum diberikan juga? Seperti minta jodoh.

Hal pengabulan doa memang merupakan hak Tuhan.  Kita percaya bahwa Allah adalah Bapa yang baik dan Ia akan turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia (lih. Rom 8:28). Dengan mengimani hal ini, maka jika kita harus menunggu pengabulan doa kita, kita percaya bahwa Allah sedang membentuk kita sesuai dengan rencana-Nya. Dalam masa penantian ini, Tuhan menginginkan agar kita bertumbuh dalam iman dan ketekunan. Percaya sepenuhnya bahwa Allah Bapa kita akan memberikan yang terbaik; entah jawab-Nya : “Ya”, “tidak”, atau “tunggu”.

Dalam hal jodoh, memang ada bagian yang harus dilakukan dari pihak yang memohon kepada Tuhan. Orang ini harus juga membuka diri dalam pergaulan, melibatkan diri dalam suatu komunitas Katolik, jika ingin mendapatkan jodoh seiman, dan harus mempunyai sikap ramah dan bersahabat kepada semua orang. (Ikutilah persekutuan doa, kegiatan lingkungan/ mudika paroki, kursus evangelisasi, atau koor gereja, atau Legio Mariae, atau kursus Kitab Suci, atau kegiatan lain yang memungkinkan anda memperdalam iman anda dan berinteraksi dengan sesama umat beriman). Seseorang yang meminta jodoh, tidak bisa hanya tinggal di kamar atau di rumah sendiri, lalu berharap ada yang datang mengetuk pintu dan memperkenalkan diri sebagai “sang jodoh”. Orang yang sungguh ingin menikah dan membina kehidupan keluarga harus berani menyatakan imannya dengan kasih dan pengorbanan kepada orang- orang yang ia jumpai. Karena sesuatu yang harus dipunyai oleh seorang suami atau istri dalam keluarga yang benar di mata Tuhan adalah kasih yang total dan rela berkorban. Pendeknya, orang ini harus berani berteman, mengasihi dan memperhatikan orang lain. Jadi pertemanan tidak terbatas hanya bermotif “untuk dipacari”, tetapi membina persahabatan yang baik dengan semua orang. Sebab mungkin saja rencana Tuhan bekerja melalui orang- orang lain, yaitu mereka yang diperhatikan/ menerima kasih itulah yang akhirnya dapat memperkenalkan kepadanya seseorang yang nantinya akan menjadi “sang jodoh” baginya.

Jika anda sedang bergumul dengan hal ini, silakan meningkatkan ketekunan anda dalam doa, membaca sabda Tuhan, dan menerima sakramen- sakramen, terutama Ekaristi. Dalam doa- doa anda fokuskan doa anda untuk bertumbuh di dalam iman, pengharapan dan kasih kepada Tuhan, maka jika anda meminta jodoh, mintalah agar Tuhan mempertemukan anda dengan seseorang yang dapat membawa anda lebih dekat kepada Tuhan. Jadi, fokus utamanya tetap Tuhan dan keselamatan kekal terlebih dahulu, baru kemudian permohonan anda. Hal ini berlaku untuk permohonan apapun, baik itu untuk jodoh, kesehatan ataupun pekerjaan. Jangan lupa, Tuhan bersabda:

“Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.” (Mat 6:33)

Mungkin maksud Tuhan menunda pengabulan doa anda dalam hal jodoh adalah, supaya anda bertumbuh di dalam iman anda terlebih dahulu, supaya anda menemukan juga jodoh anda yang dapat sehati sepikir dengan anda; agar kalian bersama- sama nanti dapat bersatu dalam kasih dan melayani Tuhan, saling menguduskan sampai kalian memasuki kehidupan yang kekal.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

22
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
11 Comment threads
11 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
15 Comment authors
abcCaecilia Triastutisbastiantdanielsiska Recent comment authors
abc
Guest
abc

shalom katolisitas,
saya ingin meminta saran sebelumnya dari bp stef/ibu ingrid saya minta maaf kalo saya salah menempatkan pertanyaan saya di kolom ini. Setiap kali saya ke gereja kenapa perasaan saya tidak tenang dan tidak pernah bisa konsentrasi saya sudah berusaha untuk fokus tenang tapi tetap tidak bisa serasa malas sekali pergi ke gereja tapi apabila tidak pergi ke gereja saya serasa kangen untuk pergi ke gereja,walau terasa malas untuk ke gereja saat ini saya usahakan malah ke gereja tiap hari apa yang bisa saya lakukan supaya saat di gereja saya bisa fokus/konsentrasi dan tidak ogah2an mengikuti misa?

Stefanus Tay

Shalom ABC, Prinsip yang harus kita pegang adalah iman tidak tergantung dari perasaan. Perasaan senang, sedih, tersentuh, bosan, akan datang silih berganti. Pada waktu kita berdoa dan menyembah Tuhan, maka harus mengalir dari hati kita sebagai ungkapan kasih kepada Tuhan. Jadi, mau kita merasakan bosan atau tidak, kita harus tetap menyembah Tuhan, terutama mencapai puncaknya di dalam Sakramen Ekaristi. Prinsip kedua, kita dapat meminta kepada Tuhan untuk memberikan kepada kita pengalaman rohani, sehingga kita dapat terus bertahan dalam situasi ini dan justru situasi ini dapat semakin membuat hubungan kita dengan Tuhan semakin akrab. Kalau Dia memandang baik agar kita mempunyai… Read more »

sbastiant
Guest
sbastiant

syalom, bolehkah sy brtanya tentang membentengi diri dari hal~hal buruk dan mempunyai iman yg kuat?

Caecilia Triastuti
Editor

Shalom Sbastiant, terima kasih untuk pertanyaan yang baik ini. Iman yang kuat tumbuh dari iman yang aktif, untuk selalu mencari apa yang dikehendaki Allah, bagaimana kita dapat menyenangkan hati Allah dan tidak mendukakan hati-Nya, sembari terus berlatih untuk taat kepadaNya, dalam suka maupun duka hidup ini. Karena iman adalah karunia Allah kepada kita, iman akan berkembang dan tumbuh jika kita memberikan respon kasih kepada Allah yang sudah terlebih dahulu mengasihi kita dengan kasih tanpa syarat. Semakin kita membuka diri dengan rendah hati di hadapan Allah untuk menerima rahmat kasih-Nya, kasih kita kepadaNya akan semakin dikuatkan dan dimurnikan, sehingga dalam setiap… Read more »

daniel
Guest
daniel

apa hubungan antara iman dan doa???

siska
Guest
siska

shalom,
sy ingin bertanya berkaitan dgn iman dan jodoh yg sdh dbhas d atas.
sy sdg mendoakan pria yg adalah pelayan Tuhan,dan beliau brcrita ttg pnglamanya dan mengajak sy utk minta tuntunanNya kmn arah hubungan ini (teman atau kekasih?)
krn dikatakan jg bhw beliau blm menemukan apa2 dr prkenalan ini. namun sy terlanjur membawa perasaan sy,sy takut jika beliau bukan jodoh yg disediakan Tuhan utk sy. trima ksh..

princess
Guest
princess

Ibu… Mengenai pengabulan doa, misalnya kita sudah novena dll, tapi dalam ms sdg menjalani novena, saya merasa banyak sekali gangguan yg membuat saya ragu utk melanjutkan novena saya. Contoh misalnya dlm hal jodoh. Saya mendoakan seseorang, di mana dgnnya saya merasa damai. Saya doa novena, tapi dlm perjalanan doa itu, saya malah mendapat berita dr teman kalo org itu hy menganggap saya sbg tmn dan tidak lebih. Saya sampai berpikir, kalo begitu, saya tdk prlu lanjutkan novena lg, mgkin kan ini udah suara Tuhan sendri yg ingin memberitahu bahwa mmg kami tdk bisa sama2.. Tapi di satu sisi lg, saya… Read more »

Ingrid Listiati
Guest

Shalom Princess, Nampaknya, sikap batin yang benar dalam hal meminta jodoh kepada Tuhan, yaitu, mohonlah agar Tuhan memberi jodoh yang dapat mendekatkan Anda kepada Tuhan, sebab persatuan dalam Tuhan itulah yang membuat hubungan kasih suami istri dapat langgeng. Itulah sebabnya penting agar selain berdoa Anda perlu juga membina persahabatan dengan OMK di gereja, atau komunitas gerejawi lainnya, sebab seringkali jawaban Tuhan diberikan di sana. Kalau seandainya sudah ada orang yang disukai tetapi ternyata dianya hanya mau berteman saja dan tidak lebih, maka Anda harus punya kebesaran dan kerendahan hati untuk menerimanya. Sebab yang namanya cinta tidak dapat dipaksakan. Lebih baik… Read more »

princess
Guest
princess

Makasih banyak Bu Ingrid dan Mbak Tri..
Puji tuhan n syukur saya ucapkan, dgn mdpt jwb tsb di atas, sy jd semakin kuat dan yakin pd Tuhan..
Sungguh bnr2 iman sy diteguhkan, dan sy akan terus berharap hy pdNya..
Juga sy berniat utk bnr2 lebih dkt lg dgn Tuhan dlm situasi apa pun..
Mhon dkungan nya ya Bu, Mbak..

Makasih juga atas doanya utk saya..
Sy sguh bersukacita atas ini..
Tuhan sgt syng sama saya..

Sekali lagi, makasih byk Bu Ingrid n Mbak Tri..
Rahmat dan Berkat Tuhan sllu menyertai kalian..
Amin..
Gbu always.. ^^

rhaen
Guest
rhaen

Apa benar, hanya dengan iman kita mampu meminum racun dan tidak terjadi apa-apa….???

Stefanus Tay

Shalom Rhaen, Terima kasih atas pertanyaannya tentang Markus 16:18, yaitu “mereka akan memegang ular, dan sekalipun mereka minum racun maut, mereka tidak akan mendapat celaka; mereka akan meletakkan tangannya atas orang sakit, dan orang itu akan sembuh.” Pada masa awal kekristenan, maka tanda-tanda ini sungguh sangat diperlukan agar banyak orang percaya kepada Kristus dan pengajarannya. Walaupun demikian, tidak pernah para rasul memegang ular maupun meminum racun hanya sekedar membuktikan janji ini. Namun, kalau sesuatu itu terjadi, seperti Rasul Paulus yang dipatuk ular (Kis 28:3) dan dipandang baik oleh Tuhan, maka Rasul Paulus tidak mengalami apa-apa. Dan dengan kejadian ini, maka… Read more »

rhea
Guest
rhea

Shalom…

Saya ingin bertanya hal yang sering menjadi perdebatan : benarkah nasib /jalan hidup manusia sudah digariskan oleh Tuhan ( diluar kematian)? benarkah apa yang kita sudah/akan jalani/alami dalam hidup ini sesungguhnya telah ditentukan oleh Tuhan? Terkait soal ‘jodoh’, sering kita dengar orang mengatakan jodoh kita sesungguhnya telah ditetapkan oleh Tuhan, dan orang yang telah berusaha untuk mendapatkan jodoh, tetapi tidak juga mendapat , berarti Tuhan ‘menganggap’ itu yang terbaik bagi dia? Benarkah demikian?

Terimakasih
Salam,
Rhea.

[Dari Katolisitas: Silakan anda membaca terlebih dahulu jawaban ini, silakan klik]

Ignatius
Guest
Ignatius

Yg blm mampu sy pelajari n sulit utk sy tanggapi tu bagaimana merasakan ttg iman?Ktika sy mlkkn ssuatu ada semcm dorongan yg kuat utk melakukannya,misalnya dlm berdoa,spt ada kekuatan yg mndorong utk melakukan itu,apakah itu iman ataukah perasaan???
kadang sy sulit membedakan n merenungkan pernyataan “Iman tanpa Perbuatan adl mati”atau sbliknya “perbuatan tnpa iman adl mati” trutama utk mngaplikasikan dlm sikap sehari – hari,bgmn sy dpt memahaminya,tlng dicontohkan sikap yg baik ttg hal ini.
Trims n Tuhan Berkati.Amin
By
Ignatius Dave

Ollyvia Hansen
Guest
Ollyvia Hansen

Shalom Pak Stef dan Bu Inggrid, terkait dengan jodoh, sudah dijelaskan bahwa dengan doa kita dapat mengerti maksud Tuhan. Tapi terkadang saya melihat dalam hal jodoh ini menjadi lebih membingungkan, dalam arti, semua di sini sekarang terkait antara dua hal: 1. Kehendak Tuhan 2. Kehendak Pribadi Saya yakin bahwa Tuhan pasti akan mempertemukan orang yang sepadan dengan kita sebagai jodoh. tapi dalam situasinya jika seseorang sudah jatuh cinta, pasti akan sulit sekali untuk membedakan, Apakah ini kehendak Tuhan? atau kehendak pribadi?? yang ingin saya tanyakan bagaimana cara kita membedakan ini, kehendak Tuhan atau kehendak pribadi? adakah kekhasan tertentu yang Tuhan… Read more »

Budijanto Maslim
Guest
Budijanto Maslim

Salam Damai,

Yang Terkasih Ibu Ingrid
Bu Ingrid mohon penjelasan akan hal dibawah ini :
Apa beriman itu sama dengan percaya ?
Apakah beriman benar dan beriman sejati sama ? Dan apa perbedaannya ?
Kalau orang katolik dikatakan sebagai orang beriman dalam pengertian yang mana ?
Bagaimana dengan Orang yang beriman lainnya ??
Terima kasih atas kesediaan bu Ingrid.
Salam Kasih dalam Yesus Kristus

Pius Nugraha
Guest
Pius Nugraha

Pak Stef dan Bu Inggrid yth,
Setiap kali Yesus berkata: Imanmu telah menyelamatkanmu.
Pertanyaan saya:
– apa sih artinya “iman” itu?
– Bagaimanakah caranya agar kita bisa beriman dengan benar?
– Adakah hubungan antara Iman dengan: Mintalah maka kamu akan diberikan, ketoklah maka kamu akan dibukakan
– mengapa ada banyak orang yang meminta dengan sungguh-sungguh tetapi kok tidak diberikan juga, padahal sudah lama banget mintanya? misalnya minta jodoh! adakah hubungannya dengan iman disini?

Berkah Dalem
Pius Nugraha

[Dari Katolisitas: pertanyaan ini sudah dijawab di atas, silakan klik]

Machmud
Guest
Machmud

Salam damai sejahtera Sdr. Pius Nugraha Terkadang memang permintaan doa yang dipanjatkan pada Tuhan dengan sungguh-sungguh tidak segera di jawab oleh Tuhan, tetapi hal itu tidak boleh membuat kita harus menyesalinya; sebab apa yang dipikirkan oleh Allah tidak sama dengan apa yang dipikirkan oleh manusia. Sebaliknya kita harus tetap bersyukur. Kita lihat contoh yang sedikit extrem misalnya : Waktu Paulus dan Silas dihukum sampai ber-darah2 punggungnya , Tuhan bahkan tidak menolongnya . Baru pada waktu mereka di pasung, tangan Tuhan mulai berkarya dengan menggoncangkan penjara tempat dimana mereka dipasung. Dan akibatnya kepala penjara beserta keluarganya bertobat. Sehingga kita bisa melihat… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X