Hidup yang Diubahkan Kristus melalui Ekaristi

I. Yesus yang kita terima dalam Ekaristi

Ada sebagian umat Katolik yang mempertanyakan: Apakah yang dapat kita terima dari mengikuti Ekaristi? Pertanyaan ini muncul karena mengikuti perayaan Ekaristi dipandang sebagai rutinitas belaka. Bahkan ada yang mengatakan, seseorang tidak mendapatkan apa-apa dari Ekaristi: ini sebuah pernyataan yang mungkin timbul karena ketidaktahuan. Namun, kalau seseorang benar-benar memahami tentang apa sebenarnya makna Ekaristi, bahwa Yesus sendiri hadir secara nyata – tubuh, darah, jiwa dan ke-Allahan-Nya -, maka sesungguhnya tidak ada yang dapat menggantikan Ekaristi. Itulah sebabnya Gereja Katolik mengatakan bahwa Ekaristi adalah sumber dan puncak kehidupan Kristiani (LG,11, KGK 1324), karena di dalamnya terkandung seluruh kekayaan rohani Gereja, yaitu Kristus sendiri. (lih. KGK 1324)

Kalau banyak orang berdoa agar Kristus dapat mewarnai, memberikan inspirasi, dan memberikan kekuatan dalam kehidupan, maka doa apakah yang dapat melebihi Ekaristi, di mana Kristus sendiri menyediakan diri-Nya untuk bersatu dengan kita secara lahir dan batin: Ia menyerahkan diri-Nya untuk menjadi santapan rohani bagi kita, untuk bersatu dengan tubuh dan jiwa kita. Tidak ada persatuan yang lebih erat antara kita dengan Kristus dibandingkan dengan persatuan yang terjadi di dalam Ekaristi. Persatuan yang erat dan tak terpisahkan dengan Kristus inilah yang dapat mengubah kehidupan kita, sehingga kita dapat mengalami pertobatan yang terus menerus, mampu untuk menjalani hidup ini dengan penuh pengharapan termasuk di dalam penderitaan kita. Melalui Ekaristi, kita dibentuk oleh Kristus sehingga mampu untuk melayani dan mengasihi sesama, bertumbuh dalam kekudusan, agar kita dapat sampai kepada keselamatan kekal.

II. Buah-buah Ekaristi

Untuk dapat memahami bagaimana Ekaristi dapat mengubah kita, maka kita perlu melihat buah-buah dari Ekaristi. Katekismus Gereja Katolik (KGK, 1391-1401), menjelaskan tentang buah-buah Ekaristi, yang terdiri dari: (1) Memperdalam persatuan kita dengan Kristus (KGK, 1391-1392); (2) Memisahkan kita dari dosa (KGK, 1393); (3) Memperkuat kasih dan menghapus dosa ringan (KGK, 1394); (4) Menjauhkan kita dari dosa berat masa mendatang (KGK, 1395); (5) Mempersatukan kita dengan Gereja (KGK, 1396); (6) Mengarahkan kita untuk berpihak pada kaum miskin (KGK, 1397); (7) Kesatuan dengan seluruh umat Kristen (KGK, 1398-1401).

Dari penjelasan Katekismus Gereja Katolik di atas, maka kita dapat menarik kesimpulan bahwa buah-buah Ekaristi yang terutama adalah persatuan kita dengan Kristus sendiri, yang menyebabkan kita juga bersatu dengan Gereja yang adalah umat Allah, karena Kristus tak terpisahkan dengan Gereja-Nya, yang adalah anggota- anggota-Nya. Persatuan dengan Kristus ini juga yang memungkinkan kita untuk terpisah dari dosa sehingga kita dapat bertumbuh dalam kasih. Persatuan dengan Kristus ini membuat seseorang tidak mau mendukakan hati Kristus, termasuk dengan melakukan dosa ringan. Dan kalau seseorang telah mencoba melenyapkan dosa ketika dosa tersebut masih ringan, maka orang tersebut dapat dijauhkan dari dosa berat.  Dengan disposisi hati yang baik, maka kesatuan dengan Kristus dalam Sakramen Ekaristi akan membawa perubahan-perubahan di dalam kehidupannya ke arah yang lebih baik.

III. Ekaristi membuat kita mempunyai ‘aroma’ Kristus

Kalau seseorang makan buah duren, maka tanpa orang berkata apapun, sesungguhnya semua orang akan tahu bahwa orang tersebut baru saja makan duren. Mengapa? Karena seluruh tubuhnya mengeluarkan bau duren, seolah-olah duren telah bersatu dengan seluruh tubuh dan darah dari orang itu, dan mempengaruhi aroma tubuhnya. Bagaimana kalau seseorang menyantap Kristus sendiri dalam Ekaristi? Seharusnya orang tersebut harus mengeluarkan aroma Kristus, sehingga orang-orang dapat melihat bahwa ada Kristus di dalam diri orang tersebut.

Seharusnya orang yang telah menyantap Kristus harus berubah secara perlahan-lahan menjadi semakin serupa dengan Kristus sendiri. Kristus yang tentu saja lebih kuat dari duren, mampu untuk mengubah kita dari dalam, sehingga kehidupan kita dapat memancarkan kasih Kristus. Di bawah ini, kita akan melihat perubahan seperti apa yang seharusnya terjadi dalam kehidupan kita kalau kita terus dipersatukan oleh Kristus dalam Ekaristi?

IV. Ekaristi membawa pada pertobatan yang terus menerus

Perubahan pertama yang terjadi dalam diri kita adalah pertobatan yang terus menerus. Belas kasihan Tuhan yang dinyatakan di dalam Ekaristi membawa pertobatan, yang artinya ‘berbalik dari dosa menuju Tuhan’. Hal ini disebabkan karena kita tidak dapat bersatu dengan Tuhan yang kudus, jika kita tetap tinggal di dalam dosa. Pertobatan yang diikuti oleh pengakuan dosa yang menyeluruh adalah langkah pertama yang harus dibuat jika kita ingin sungguh-sungguh memulai kehidupan rohani. Langkah ini adalah pemurnian dari dosa berat (mortal sin). ((Cf. St Francis de Sales, An Introduction to the Devout Life, (TAN Books and Publishers, Rockford, Illinois, USA, 1994), p.14-15)) Sakramen Ekaristi tidak secara langsung menghapuskan dosa-dosa berat ini -sebab dosa- dosa berat harus diakukan dan dimohon pengampunannya melalui sakramen Tobat- namun Ekaristi secara tidak langsung menyumbangkan pengampunan atas dosa-dosa tersebut. ((Lihat Lawrence G. Lovasik, The Basic Book of the Eucharist, p. 77.)) Selanjutnya melalui Ekaristi, Tuhan memberikan rahmat kepada kita agar kita sungguh-sungguh bertobat, ‘membenci’ dosa kita, dan hidup dalam pertobatan yang terus-menerus, sebab Dia membantu kita untuk melepaskan diri dari keterikatan yang tidak sehat kepada dunia, yang menurut Santo Franciskus de Sales adalah ‘segala kecenderungan untuk berbuat dosa’. Di dalam Ekaristi, kita ‘melihat’ penderitaan Kristus, sebagai akibat dari dosa-dosa kita, sehingga kita terdorong untuk menghindari dosa tersebut. Dengan pertobatan ini, selanjutnya kita dapat bertumbuh dengan berakar pada Kristus. ((lih. KGK, 1394))

V. Kesediaan untuk menyangkal diri dan memikul salib untuk mengikuti Kristus

Karena Ekaristi adalah menghadirkan kembali misteri Paskah – penderitaan, kematian, kebangkitan dan kenaikan Kristus ke Sorga – maka sesungguhnya, perubahan dalam hidup kita adalah kesediaan untuk turut serta dalam penderitaan Kristus dan menghadapinya bersama Kristus. Ini juga sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Kristus, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mat 16:24)

Bagaimana kita dapat menyangkal diri dan memikul salib? Kita bersama-sama menyadari bahwa nilai-nilai yang ada di dunia ini sering bertentangan dengan nilai-nilai kekristenan. Rasul Yohanes mengatakan bahwa semua yang ada di dunia ini – yaitu keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup – bukanlah berasal dari Bapa (lih. 1Yoh 2:16). Penyangkalan diri diwujudkan dalam penyangkalan kedagingan kita, nafsu-nafsu kita yang tidak teratur; menyangkal diri yang menomor-satukan pekerjaan, harta dan kekuasaan; dan menyalibkan keangkuhan diri kita. Ini bukanlah pekerjaan yang mudah.

Namun, semua bentuk penyangkalan diri ini dan pengorbanan memikul salib terlebih dahulu dilakukan oleh Kristus sendiri. Dan kurban Kristus inilah yang dihadirkan kembali secara nyata dalam setiap perayaan Ekaristi. Oleh karena itu, kita yang telah dipersatukan oleh Kristus di dalam Ekaristi, diberikan kekuatan oleh Kristus untuk melakukan penyangkalan diri, memikul salib untuk mengikuti Dia. Semua penderitaan yang dialami oleh Kristus menjadi inspirasi dan kekuatan bagi kita untuk menghadapi berbagai penderitaan dengan tetap berpengharapan. Untuk mencapai hal ini, tidak ada cara lain, kecuali jika kita menyatukan penderitaan kita dengan penderitaan Kristus; agar oleh kuasa-Nya kitapun dimampukan untuk menghadapinya dengan tegar oleh karena percaya bahwa penderitaan akan membawa kita kepada kebangkitan bersama Kristus. Persatuan diri kita dengan Kristus dapat kita alami dan hayati di dalam setiap perayaan Ekaristi Kudus.

VI. Siap untuk melayani bersama Kristus

Kristus mengatakan, “Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu; sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.” (Mat 20:26-28) Persatuan dengan Kristus seharusnya membawa kita kepada semangat pelayanan, karena untuk itulah Kristus datang, yaitu untuk melayani kita manusia.

Menarik bahwa di ayat Mat 20:28, ketika Kristus berbicara tentang melayani, Ia menyebutkan tentang pemberian nyawa atau pemberian diri. Memang melayani adalah memberikan diri kita kepada orang lain. Sama seperti Kristus yang kematian-Nya [penyerahan diri-Nya] dihadirkan kembali di dalam setiap perayaan Ekaristi. Dia telah wafat, memberikan di-Nya untuk seluruh umat manusia. Oleh karena itu, kita juga harus memberikan diri kita untuk orang lain, yang harus kita mulai dari orang-orang terdekat kita: keluarga, komunitas kita, paroki kita, dan komunitas lainnya. Semangat Ekaristi akan menghasilkan bagi kita kekuatan untuk dapat melayani sesama, mengasihi mereka apa adanya, sama seperti Kristus rela mati untuk kita walaupun kita masih dalam kondisi berdosa (lih. Rom 5:8).

VII. Bertumbuh dalam kekudusan dengan spiritualitas Ekaristi

Kalau setiap hari kita mempunyai spiritualitas Ekaristi, maka kita akan semakin erat bersatu dengan Kristus. Misteri Paskah Kristus dapat menjadi kekuatan bagi kita untuk menjalankan hidup ini dalam terang kematian dan kebangkitan Kristus, sehingga pada saat kita menghadapi penderitaan kita tidak kehilangan harapan dan sebaliknya pada saat kita mengalami kebahagiaan kita tidak lupa kepada Tuhan yang telah memberikan kebahagiaan kepada kita.

Semangat kematian dan kebangkitan Kristus yang kita rayakan dalam peristiwa Ekaristi juga menyadarkan bahwa Kristus yang adalah Allah sungguh mengasihi kita, sehingga tidak ada cara lain bagi kita kecuali membalas kasih Kristus, dengan cara mengasihi-Nya dengan segenap hati, jiwa dan akal budi (lih. Mat 22:37). Kesadaran bahwa Allah telah mati bagi seluruh umat manusia, membuat kita juga mau mengasihi sesama kita atas dasar kasih Allah yang terlebih dahulu mengasihi sesama kita. Dengan demikian, spiritualitas Ekaristi yang kita hayati dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari dapat menuntun kita kepada kekudusan, yaitu mengasihi Allah dan mengasihi sesama atas dasar kasih kepada Allah. Kekudusan ini akan membawa kita kepada keselamatan, karena tanpa kekudusan tidak ada seorangpun yang dapat melihat Allah (lih. Ibr 12:4).

VIII. Yesus mengubah kita dari dalam

Kalau kita benar-benar menghayati spiritualitas Ekaristi dan sesering mungkin berpartisipasi dalam perayaan Ekaristi, maka secara perlahan-lahan, kita akan dibentuk oleh Kristus menjadi semakin mirip dengan Kristus. Kalau dalam perayaan Ekaristi, keseluruhan Kristus (tubuh, darah, jiwa dan keallahan Kristus) bersatu dengan kita dan kalau kita mempunyai disposisi hati yang baik untuk membiarkan Kristus mengubah dan membentuk kita, maka Kristus akan mengubah kita dari dalam. Dan perubahan ini memampukan kita untuk senantiasa mengalami pertobatan terus-menerus, mampu untuk menyangkal diri, memikul salib dan mengikuti Kristus apapun resikonya, diberi kemampuan untuk melayani sesama, dan pada akhirnya diberikan rahmat dan kekuatan untuk bertumbuh dalam kekudusan, hingga pada akhirnya akan mengantar kita kepada keselamatan kekal. Mari mempercayai apa yang disabdakan oleh Kristus, “Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.” (Yoh 6:54)

4
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
3 Comment threads
1 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
4 Comment authors
Ingrid ListiatiKefasAdihanapiJulianti Sugiman Recent comment authors
Kefas
Member
Kefas

shalom pengasuh katolisitas, saya ingin bertanya, setelah membaca artikel yang sangat bagus di atas, bagaimanakah caranya untuk mengetahui kalau pertobatan kita adalah pertobatan sejati? karena saya selama ini sudah berusaha bertobat dan menghadiri perayaan ekaristi setiap hari, dan saya sungguh percaya akan kehadiran Tuhan dalam ekaristi, namun kadang-kadang saya ragu-ragu, apakah saya berdoa kepada Tuhan atau saya hanya menipu diri sendiri?hanya mencari diri saya sendiri? karena saya sungguh merasakan buah-buah seperti yang disebutkan di atas, namun dari diri saya sendiri saya masih tertutup dan malu, saya tidak berani melibatkan diri di paroki, saya lebih suka menyendiri di kamar, tidak mau… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Kefas, Saya pernah mendengar seorang imam berkata demikian, “Bersabarlah dengan dirimu sendiri, dan janganlah terus menerus menyalahkan dirimu sendiri, agar kamu dapat bertumbuh secara rohani.” Nasihat ini nampaknya sangat tepat, sebab seseorang yang terus menerus menyalahkan diri sendiri secara berlebihan, dapat terjebak dalam perasaan minder dan malah akhirnya tidak bisa bertumbuh dalam kasih dan pelayanan kepada Tuhan dan sesama. Sepertinya, jika itu yang terjadi, yang ‘bergembira’ adalah si jahat, yang memang menghendaki demikian. Maka mohonlah kepada Tuhan, agar Anda dapat mengalahkan perasaan negatif ini, sebab perasaan-tersebut tidak berasal dari Tuhan. Tuhan Yesus menginginkan agar kita menerima buah pengorbanan-Nya, yaitu… Read more »

Adihanapi
Guest
Adihanapi

Dulu saya termasuk orang katolik yang tidak percaya akan roti dan anggur yang kita terima pada saat Ekaristi adalah tubuh dan darah Kristus. Hadir dalam Ekaristi adalah kewajiban yang harus dilakukan sebagai orang katolik sampai akhirnya bertahun tahun tidak pernah hadir dalam perayaan Ekaristi. Akhirnya suatu peristiwa merubah hidup saya, sekarang saya berusaha untuk mempersiapkan diri sebelum menghadiri Ekaristi, berusaha untuk tidak terlambat, berusaha untuk tidak berbicara, sebelum Ekaristi dimulai memanfaatkan untuk membaca bacaan pada hari itu dan bawa dalam doa, ikuti setiap prosesi perayaan, memaknai setiap ucapan/tanggapan selama perayaan, dan puncaknya adalah melakukan renungan saat menerima Tubuh Kristus(siapakah saya… Read more »

Julianti Sugiman
Guest
Julianti Sugiman

Wah sungguh luar biasa Pak Stef.

Membuatku semakin mencintai dan mau mencintai lebih lagi Perjamuan Ekaristi dan Tuhan Yesus. Amin.

Be blessed and be a blessing,
Julia
In Christ we share

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X