Hidup Sebagai Orang Merdeka, Bagaimana Caranya?

[Hari Kemerdekaan Republik Indonesia: Sir 10:1-8; Mzm 101:1-7; 1Ptr 2:13-17; Mat 22:15-21]

Belakangan ini mungkin ada kecenderungan yang lebih besar pada kita untuk menonton televisi, dan menyimak apakah yang terjadi, sehubungan dengan keadaan politik di negeri ini. Hal ini wajar, sebab rasa ingin tahu juga menunjukkan bahwa kita peduli akan masa depan bangsa kita. Kita semua mengharapkan kemajuan bagi negara kita, dan mendambakan keadaan masyarakat yang semakin sejahtera. Maka di hari peringatan hari Kemerdekaan Republik Indonesia ini, kita sebagai anggota Gereja Katolik berkumpul bersama dalam perayaan Ekaristi, untuk mengucap syukur untuk segala berkat dan penyertaan Allah bagi negara yang kita cintai ini. Kita juga memohon penyertaan Tuhan selanjutnya, terutama bagi  Presiden dan Wakil Presiden terpilih agar beroleh kearifan untuk memimpin bangsa kita, untuk menciptakan ketertiban dan kesejahteraan bagi masyarakat (lih. Sir 10:1,3).

Hari ini kita merayakan peringatan Kemerdekaan RI yang ke-69. Suatu angka yang sepertinya tidak terlalu muda, jika dibandingkan dengan usia manusia, namun dapat dikatakan muda, untuk usia sebuah negara. Kemerdekaan yang telah susah payah dicapai oleh para bapa bangsa kita, tentunya harus dipertahankan dan diisi dengan sebaik-baiknya. Mungkin banyak dari kita bertanya, bagaimanakah cara kita mengisinya? Mungkin setiap orang mempunyai jawaban yang berbeda untuk menanggapi pertanyaan ini. Namun bacaan-bacaan Kitab Suci hari ini menuliskan dasar bagi semua upaya untuk membangun negeri. Dasarnya, tak lain dan tak bukan, pertama-tama adalah cinta kasih, baik kepada Tuhan maupun kepada sesama. “Hormatilah semua orang, kasihilah saudara-saudaramu, takutlah akan Allah…” (lih. 1Ptr 2:17). Pertanyaannya sekarang adalah sejauh mana kita sudah melihat semua orang sebagai ‘saudara-saudara’ kita. Sebab jika kita sudah melihat bahwa kita semua adalah sesama saudara di dalam Tuhan dan sesama saudara sebangsa dan setanah air, maka kita akan berjuang mengusahakan kebaikan bersama.

Untuk mengusahakan kebaikan bersama inilah, sabda Tuhan mengingatkan kita, “Jangan menaruh benci kepada sesamamu, apa pun juga kesalahannya, dan jangan berbuat apa-apa terpengaruh oleh nafsu…. Kecongkakan dibenci oleh Tuhan maupun manusia…” (Sir 10:6,7). Maka, di tengah kemajemukan bangsa ini, kita dipanggil untuk mengusahakan persatuan atas dasar kasih, pengampunan, penguasaan diri dan kerendahan hati. Sebab dengan sikap seperti inilah, kita dimerdekakan dari rasa cinta diri dan segala hal yang membuat kita marah dan tertekan. Walaupun sepertinya nampak mudah, namun kenyataannya tidak sesederhana itu, jika sudah menyangkut kelompok- kelompok masyarakat yang lebih luas yang mempunyai kepentingan masing-masing. Apa umumnya reaksi kita, jika tetangga yang sedang membangun rumahnya kemudian malah membuat rumah kita bocor, atau banjir, karena limpahan pasir dan semen bangunan tetangga itu mengakibatkan tersumbatnya talang saluran air hujan di rumah kita? Apa tanggapan kita kepada orang-orang yang datang kepada kita mengaku sebagai pekerja yayasan ini itu, lalu meminta sejumlah uang? Apa yang kita lakukan jika kita disrempet motor ketika sedang berjalan di pinggir jalan? Atau ketika kita membeli suatu barang, tetapi begitu sampai di rumah, barang itu rusak atau palsu? Agaknya untuk menyelesaikan potensi konflik karena perbedaan kepentingan, dibutuhkan kebijaksanaan, dan di atas semuanya itu, dibutuhkan cinta kasih, agar kita tidak melulu melihat dari sisi kita tetapi juga dari sisi orang lain. Melihat dari sisi orang lain, terutama yang miskin dan lemah, akan memudahkan kita untuk mempunyai sikap berbela rasa. Ini terlihat misalnya, agar kita turut juga memikirkan kepentingan pembantu rumah tangga kita, pegawai kita, atau juga kepada orang-orang miskin dan sakit yang ada di sekitar kita.

Juga untuk mengusahakan kebaikan bersama inilah, kita berpegang kepada perintah Tuhan selanjutnya, yaitu, “…Tunduklah, karena Allah, kepada semua lembaga manusia, baik kepada raja … maupun kepada wali-wali yang ditetapkannya…” (1Ptr 2:13-14). Artinya, kita diminta untuk taat kepada pemerintah dan para pemimpin kita yang sah. Betapa ini menjadi relevan bagi kita sekarang, yang dalam waktu dekat ini akan memperoleh konfirmasi akan hasil pilpres melalui keputusan Mahkamah Konstitusi. Apapun keputusan MK, jika sudah disahkan layaklah kita taati. Demikianlah kita melakukan apa yang dikehendaki Allah. Kristus sendiri mengajarkan agar kita memberikan kepada pemimpin negara apa yang menjadi haknya, dan tidak mempertentangkannya dengan kewajiban kita untuk memberikan kepada Allah, apa yang menjadi hak Allah (lih. Mat 22:21). Tentu Allah-lah yang patut kita hormati di tempat pertama, namun hal itu tidak meniadakan penghormatan kita kepada para pemimpin kita, baik kepada pemimpin negara, maupun juga kepada pemimpin Gereja yang meneruskan kepemimpinan Kristus dan para Rasul di dunia ini.

Di hari proklamasi kemerdekaan negara kita ini, mari kita mengucap syukur kepada Tuhan atas kemerdekaan bangsa kita. Mari kita memohon rahmat Tuhan untuk juga mengisinya dengan baik, sebagaimana telah kita kidungkan di Mazmur hari ini, “Kamu dipanggil untuk kemerdekaan, maka abdilah satu sama lain dalam cinta kasih….”

19/12/2018
Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X