Gereja Tonggak Kebenaran dan Tanda Kasih Tuhan (Bagian 3)

Pertanyaan

Pernahkah anda bertanya dalam hati, jika Tuhan menginginkan sebanyak mungkin orang masuk ke surga, bagaimanakah Dia menyampaikan kebenaran tersebut, supaya orang-orang dapat mengerti? Berikut ini adalah pengajaran Gereja yang mencerminkan kebaikan dan kebijaksanaan Allah.

Allah adalah Kasih, maka Ia menghendaki semua manusia selamat

Allah adalah Kasih (1Yoh 4:8), maka Allah menghendaki semua manusia diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (1Tim 2:4) yang diperoleh dengan mengenal Yesus Kristus, yang menjadi kepenuhan wahyu Allah itu sendiri.[1] Untuk memenuhi kehendak Allah ini, Kristus kemudian memerintahkan pada para rasul supaya Injil yang telah dijanjikan melalui para nabi, yang digenapi olehNya dan disah-kanNya, dapat mereka wartakan kepada semua orang dan dengan demikian dapat dibagikan karunia-karunia ilahi kepada mereka semua. Injil adalah sumber kebenaran yang menyelamatkan dan sumber ajaran moral.[2] Injil yang memuat kebenaran kasih Allah ini diturunkan kepada GerejaNya.

Bagaimana Allah berbicara pada GerejaNya untuk menyampaikan rencanaNya?

Allah memberitahukan rencana keselamatanNya kepada manusia melalui Injil. Injil ini diturunkan dengan dua cara, yaitu secara lisan dan tertulis, untuk diteruskan kepada kita. Para rasul mewartakan secara lisan apa yang mereka terima dari Kristus, entah dari perbuatan Kristus ataupun dari percakapan denganNya, ataupun dari dorongan Roh Kudus. Dan juga, para rasul dan tokoh-tokoh rasuli atas ilham Roh Kudus menuliskan amanat keselamatan tersebut untuk dijadikan buku.[3] Hasil penulisan amanat Allah tersebut dikenal sebagai Kitab Suci. Nah, supaya pesan Injil ini dapat diturunkan secara utuh dan hidup di dalam Gereja, para rasul menunjuk uskup-uskup untuk menggantikan mereka dan menyerahkan kepada mereka kedudukan untuk mengajar. Penerusan ajaran Injil ini yang terjadi di bawah kuasa Roh Kudus, disebut sebagai Tradisi Suci. Sedangkan para penerus rasul yang mendapat wewenang mengajar dari para rasul ini disebut sebagai Magisterium.  Magisterium bertugas untuk menginterpretasikan ajaran Injil sesuai dengan maksud aslinya dan meneruskannya kepada Gereja. Jadi Allah berkarya di dalam ketiga hal ini, yaitu Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium, untuk menjamin kemurnian penurunan wahyu kudus-Nya.

Jelaslah bahwa Tradisi Suci dan Kitab Suci ini berhubungan sangat erat dan terpadu, sebab keduanya berasal dari Allah, dan keduanya menghadirkan misteri Kristus di dalam Gereja, yang mendatangkan buah keselamatan.[4] Hanya dengan perpaduan Tradisi dan Kitab Suci kita memperoleh gambaran yang lengkap tentang wahyu Allah. Dalam hal ini, Magisterium memegang peran yang sangat penting dan tak terpisahkan dengan keduanya, atas dasar perannya untuk menjamin pengertian yang benar terhadap wahyu Allah tersebut. Karena itu, Allah menganugerahkan kurnia ‘infallibility‘ (‘tidak mungkin sesat’) kepada Magisterium, yaitu Paus dan para uskup dalam persekutuan dengannya, untuk dapat mengartikan dan melestarikan wahyu Allah itu dan mengajarkannya kepada Gereja. Ibaratnya Magisterium itu adalah seumpama wasit dalam pertandingan sepak bola, sedangkan Kitab Suci dan Tradisi Suci adalah seumpama peraturan pertandingan: pertandingan memang dilakukan atas dasar peraturan permainan sepak bola [bukan peraturan pribadi dari wasit yang bersangkutan], namun wasit bertugas untuk menjaga agar dalam pertandingan tersebut, peraturan yang sudah ada itu dilaksanakan sebagaimana mestinya.

Tradisi Suci

(KGK 75-83)

Tradisi Suci adalah Tradisi yang berasal dari para rasul yang meneruskan apa yang mereka terima dari ajaran dan contoh Yesus dan bimbingan dari Roh Kudus. Oleh Tradisi, Sabda Allah yang dipercayakan Yesus kepada para rasul, disalurkan seutuhnya kepada para pengganti mereka, supaya dalam pewartaannya, mereka memelihara, menjelaskan dan menyebarkannya dengan setia.[5] Maka Tradisi Suci ini bukan tradisi manusia yang hanya merupakan ‘adat kebiasaan’. Dalam hal ini, perlu kita ketahui bahwa Yesus tidak pernah mengecam seluruh adat kebiasaan manusia, Ia hanya mengecam adat kebiasaan yang bertentangan dengan perintah Tuhan (Mrk 7:8).

Jadi, Tradisi Suci dan Kitab Suci tidak akan pernah bertentangan. Pengajaran para rasul seperti Allah Tritunggal, Api penyucian, Keperawanan Maria, telah sangat jelas diajarkan melalui Tradisi dan tidak bertentangan dengan Kitab Suci, meskipun hal-hal itu tidak disebutkan secara eksplisit di dalam Kitab Suci. Janganlah kita lupa, bahwa Kitab Suci sendiri mengajarkan agar kita memegang teguh Tradisi yang disampaikan kepada kita secara tertulis ataupun lisan (2Tes 2:15, 1Kor 11:2).

Juga perlu kita ketahui bahwa Tradisi Suci bukanlah kebiasaan-kebiasaan seperti doa rosario, berpuasa setiap hari Jumat, ataupun selibat para imam. Walaupun semua kebiasaan tersebut baik, namun hal-hal tersebut bukanlah doktrin. Tradisi Suci meneruskan doktrin yang diajarkan oleh Yesus kepada para rasulNya yang kemudian diteruskan kepada Gereja di bawah kepemimpinan penerus para rasul, yaitu para Paus dan uskup.

Kitab Suci

(KGK 101-141)

Allah memberi inspirasi kepada manusia yaitu para penulis suci yang dipilih Allah untuk menuliskan kebenaran. Allah melalui Roh KudusNya berkarya dalam dan melalui para penulis suci tersebut, dengan menggunakan kemampuan dan kecakapan mereka. “Oleh sebab itu, segala sesuatu yang dinyatakan oleh para pengarang yang diilhami tersebut, harus dipandang sebagai pernyataan Roh Kudus.”[6] Jadi jelaslah bahwa Kitab Suci yang mencakup Perjanjian Lama dan Baru adalah tulisan yang diilhami oleh Allah sendiri (2Tim 3:16). Kitab-kitab tersebut mengajarkan kebenaran dengan teguh dan setia, dan tidak mungkin keliru. Karena itu, Allah menghendaki agar kitab-kitab tersebut dicantumkan dalam Kitab Suci demi keselamatan kita.[7]

Mungkin ada orang Kristen yang berkata, bahwa keselamatan mereka diperoleh melalui Kitab Suci saja. Namun, jika kita mau jujur, kita akan melihat bahwa hal itu tidak pernah diajarkan oleh Kitab Suci itu sendiri. Malah yang ada adalah sebaliknya, bahwa Kitab Suci tidak boleh ditafsirkan menurut kehendak sendiri (2Pet 1:20-21) sebab ada kemungkinan dapat diartikan keliru (2Pet 3:15-16). Gereja pada abad-abad awal juga tidak menerapkan teori ini. Teori ‘hanya Kitab Suci’ atau ‘Sola Scriptura’ ini adalah salah satu inti dari pengajaran pada zaman Reformasi pada tahun 1500-an, yang jika kita teliti, malah tidak berdasarkan Kitab Suci.

Pada kenyataannya, Kitab Suci tidak dapat diinterpretasikan sendiri-sendiri, karena dapat menghasilkan pengertian yang berbeda-beda. Sejarah membuktikan hal ini, di mana dalam setiap tahun timbul berbagai gereja baru yang sama-sama mengklaim “Sola Scriptura” dan mendapat ilham dari Roh Kudus. Ini adalah suatu kenyataan yang memprihatinkan, karena menunjukkan bahwa pengertian mereka tentang Kitab suci berbeda-beda, satu dengan yang lainnya. Jika kita percaya bahwa Roh Kudus tidak mungkin menjadi penyebab perpecahan (lih. 1Kor14:33) dan Allah tidak mungkin menyebabkan pertentangan dalam hal iman, maka kesimpulan kita adalah: “Sola Scriptura” itu teori yang keliru.

Magisterium (Wewenang mengajar) Gereja

(KGK 85-87, 888-892)

Dari uraian di atas, kita mengetahui pentingnya peran Magisterium yang “bertugas untuk menafsirkan secara otentik Sabda Allah yang tertulis atau diturunkan itu yang kewibawaannya dilaksanakan dalam nama Yesus Kristus.”[8] Magisterium ini tidak berada di atas Sabda Allah, melainkan melayaninya, supaya dapat diturunkan sesuai dengan yang seharusnya. Dengan demikian, oleh kuasa Roh Kudus, Magisterium yang terdiri dari Bapa Paus dan para uskup pembantunya [yang dalam kesatuan dengan Bapa Paus]  menjaga dan melindungi Sabda Allah itu dari interpretasi yang salah.

Kita perlu mengingat bahwa Gereja sudah ada terlebih dahulu sebelum keberadaan kitab-kitab Perjanjian Baru. Para pengarang/ penulis suci dari kitab-kitab tersebut adalah para anggota Gereja yang diilhami oleh Tuhan, sama seperti para penulis suci yang menuliskan kitab-kitab Perjanjian Lama. Magisterium dibimbing oleh Roh Kudus diberi kuasa untuk meng-interpretasikan kedua Kitab Perjanjian tersebut.

Jelaslah bahwa Magisterium sangat diperlukan untuk memahami seluruh isi Kitab Suci. Karunia mengajar yang ‘infallible‘ (tidak mungkin sesat) itu diberikan kepada Magisterium pada saat mereka mengajarkan secara resmi doktrin-doktrin Gereja. Karunia ini adalah pemenuhan janji Kritus untuk mengirimkan Roh KudusNya untuk memimpin para rasul dan para penerus mereka kepada seluruh kebenaran (Yoh 16:12-13).

Kesimpulan: Gereja sebagai Tonggak Kebenaran terdiri dari tiga unsur, yaitu Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium

Untuk memberitahukan rencana keselamatanNya, Allah berbicara pada GerejaNya melalui Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium. Ketiga hal ini adalah karunia Allah yang tidak terpisahkan untuk menyampaikan kebenaran melalui GerejaNya. Perlu kita ingat bahwa Rasul Paulus sendiri berkata bahwa Gereja adalah “jemaat dari Allah yang hidup, tiang penopang dan dasar kebenaran” (1Tim 3:15).

Di dalam Gereja, wahyu Allah dinyatakan dalam Kitab Suci dan Tradisi Suci. Karena Kitab Suci dan Tradisi Suci berasal dari Allah, kita harus menerima dan menghormati keduanya dengan hormat yang sama.[9] Jika kita membaca Kitab Suci, terutama di dalam hal iman dan moral, kita harus menempatkan pemahaman Magisterium Gereja di atas pemahaman pribadi, karena kepada merekalah telah dipercayakan tugas mengartikan Wahyu Allah secara otentik. Namun hal ini janganlah sampai mengurangi semangat kita untuk membaca Kitab Suci, karena Gereja mengajarkan kita agar kita rajin membaca Kitab Suci dan mempelajarinya, sebab melalui Kitab Suci kita dibawa pada ”pengenalan yang mulia akan Kristus” (Fil 3:8). St. Jerome mengatakan, bahwa jika kita tidak mengenal Kitab Suci, maka kita juga tidak mengenal Kristus.[10] Ini adalah suatu tantangan buat kita semua yang mengatakan bahwa kita mengenal dan mengasihi Yesus.

Jadi, sebagai Tonggak Kebenaran, Gereja memiliki tiga unsur, yaitu: Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium. Ketiganya merupakan pemenuhan janji Allah yang selalu mendampingi GerejaNya sampai kepada ‘seluruh kebenaran’ (Yoh 16:12-13), yang senantiasa bertahan sampai akhir jaman. Mari kita bersyukur untuk pemenuhan janji Tuhan ini.


[1]Lihat Katekismus Gereja Katolik, 74, “Allah menghendaki supaya semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran” (1Tim 2:4), artinya supaya semua orang mengenal Yesus Kristus. Karena itu Kristus harus diwartakan sepada semua bangsa dan manusia dan wahyu mesti sampai ke batas-batas dunia.”

[2] Lihat Katekismus Gereja Katolik, 75, “Maka Kristus Tuhan, yang menjadi kepenuhan seluruh wahyu Allah yang Mahatinggi (lih. 2Kor1:30;3:16-4-6), memerintahkan kepada para Rasul, supaya Injil, yang dahulu telah dijanjikan melalui para nabi dan dipenuhi oleh-Nya serta dimaklumkan-Nya sendiri, mereka wartakan kepada semua orang, sebagai sumber segala kebenaran yang menyelamatkan serta ajaran kesusilaan, dan dengan demikian dibagi-bagikan karunia-karunia ilahi kepada mereka.” (Dei Verbum, Dokumen Vatikan II,7)

[3] Lihat Katekismus Gereja Katolik, 76, Sesuai dengan kehendak Allah terjadilah pengalihan Injil atas dua cara:— secara lisan “oleh para Rasul, yang dalam pewartaan lisan, dengan teladan serta penetapan-penetapan meneruskan entah apa yang mereka terima dari mulut, pergaulan, dan karya Kristus sendiri, entah apa yang atas dorongan Roh Kudus telah mereka pelajari”,— secara tertulis, “oleh para Rasul dan tokoh-tokoh rasuli, yang atas ilham Roh Kudus itu juga telah membukukan amanat keselamatan “(Dei Verbum, Dokumen Vatikan II,7 ).

[4] Lihat Katekismus Gereja Katolik, 80, “Tradisi Suci dan Kitab Suci berhubungan erat sekali dan terpadu. Sebab keduanya mengalir dari sumber ilahi yang sama, dan dengan cara tertentu bergabung menjadi satu dan menjurus ke arah yang sama” (Dei Verbum, Dokumen Vatikan II, ). Kedua-duanya menghadirkan dan mendayagunakan misteri Kristus di dalam Gereja, yang menjanjikan akan tinggal bersama orang-orangNya ‘sampai akhir zaman’ (Mat 28:20)

[5] Katekismus Gereja Katolik, 81, Dei Verbum, 9

[6] Katekismus Gereja Katolik, 107, “Kitab-kitab yang diinspirasi (tersebut) mengajarkan kebenaran. ‘Oleh sebab itu, segala sesuatu yang dinyatakan oleh para pengarang yang diilhami …(penulis suci), harus dipandang sebagai pernyataan Roh Kudus.”

[7] Lihat Ibid., 107, Dei Verbum, 11

[8] Katekismus Gereja Katolik, 85, dan Dei Verbum, 10.

[9] Lihat Katekismus Gereja Katolik, 82, “Dengan demikian maka Gereja, yang dipercayakan untuk meneruskan dan menjelaskan wahyu, “menimba kepastiannya tentang segala sesuatu yang diwahyukan bukan hanya melalui Kitab Suci. Maka dari itu keduanya (baik Tradisi maupun kitab suci) harus diterima dan dihormati dengan cita rasa kesalehan dan hormat yang sama” (Dei Verbum, 9)

[10] Lihat Dei Verbum, 25, “Begitu pula Konsili suci mendesak dengan sangat dan istimewa semua orang beriman, terutama para religius, supaya dengan sering kali membaca kitab-kitab ilahi memperoleh “pengertian yang mulia akan Yesus Kristus” (Flp3:8). “Sebab tidak mengenal Alkitab berarti tidak mengenal Kristus”

26
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
13 Comment threads
13 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
13 Comment authors
Johanus Adwijan Leberthenry kambeyedisonAlexander Pontohdevosan Recent comment authors
Johanus Adwijan Lebert
Guest
Johanus Adwijan Lebert

ijinkan saya bertanya : copas: “Jadi Allah berkarya di dalam ketiga hal ini, yaitu Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium, untuk menjamin kemurnian penurunan wahyu kudus-Nya.” ==> apakah bisa diartikan ada 3 pilar iman dalam gereja Katolik?? Jika ya…ijinkan saya memberi pembanding dalam link : http://www.ekaristi.org/forum/viewtopic.php?t=9815&postdays=0&postorder=asc&start=36 : di sana Deus Vult mengatakan magisterium bukan sumber iman, berdasarkan : Cathlic Encyclopedia: Dogma From this it follows that theology comprehends all those and only those doctrines which are to be found in the sources of faith, namely Scripture and Tradition, and which the infallible Church proposes to us. Catholic encyclopedia: The Real… Read more »

henry kambey
Guest
henry kambey

Allah adalah Kasih, maka Ia menghendaki semua manusia selamat. ini adalah judul di atas.

1. Bagaimana Magisterium gereja memandang ajaran pre-destinasi Calvinis, berkaitan dengan judul di atas.

edison
Guest
edison

Terima kasih bu.. telah membantu saya utk memahaminya secara Ajaran Gereja. semoga kami selalu mendasarkan pemahaman kami berdasarkan Ajaran Gereja dan bukan berdasarkan pemahaman atw hayalan sendiri. Sekali lagi terima kasih utk katolisitas team tempat kami mengetahui Ajaran Gereja sehingga kami dpt mengasihi Gereja-Nya lebih lagi.

edison
Guest
edison

Petrus dan Paulus adalah Musa dan Harun yg baru. Belakangan ini dari mengikuti diskusi tentang 3 pilah Gereja timbul dlm pemikiran saya utk memperbandingkan Petrus dan Paulus dgn Musa dan Harun. -). Petrus dan Paulus Magisterium Gereja/ umat pilihan Allah sesudah kedatangan Yesus Kristus sang Almasih yg dipilih oleh Yesus sendiri, sedangkan Musa dan Harun adalah Magisterium umat pilihan Allah sebelum kedatangan Yesus yg dipilih langsung oleh Allah. -). Kerena kelahiran Yesus adalah kesempurnan dari sabda Allah sehingga Petrus sudah menerima sabda Allah itu sudah sempurna sehinga peran Petrus tinggal utk mengajar dan menjaga keutuhan sabda Allah sampai akhir zaman… Read more »

devosan
Guest
devosan

Ytk tim Katolisitas.

Apa saja isi dari Tradisi Suci ? Sebagian dituliskan menjadi Alkitab,lalu sisanya ? Apakah Liturgi Suci,7 Sakramen ,Moral Kristen,lalu apa lagi ? Sebagian besar umat tidak paham hal ini.
Terimakasih.

Lisa
Guest
Lisa

KAtolik mengatakan:
Tradisi Suci sudah ada lebih dahulu dari Kitab Suci, dan yang melahirkan Kitab Suci adalah Tradisi Suci melalui Magisterium Gereja Katolik.

Tolong dijawab:

pernyataan ini berbahaya dan butuh pertaruhan iman yang lebih tinggi

pertanyaan;
1. Apa defenisi Kitab Suci bagi anda

2. Siapa dasarnya dan bagaimana bisa Tradisi Suci, Kitab Suci dan Magisterium menjadi mutlak?

salam

Alexander Pontoh
Guest
Alexander Pontoh

@ Lisa : silakan anda membaca-baca situs ini terlebih dahulu. karena menurut saya, pertanyaan anda sudah bisa dijawab dengan membaca situs ini.

nia
Guest
nia

shalom Pak Stef dan Bu Inggrid… saya ingin menanyakan mengenai 4 pilar gereja..
apakah saja itu? dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan sehari-hari?
trima kasih sebelumnya, semoga dapat membantu tugas akhir saya….

Lisa
Guest
Lisa

Halo Ibu Ingrid Saya umat Protestan ingin bertanya tentang Magisterium dan apa yang dimaksudkan dengan Kuasa yang diterima oleh para rasul dan penerusnya dari Yesus. Sebab KRISTUS sendiri telah berpesan tentang rasul2nya yang mendapatkan Kuasa dari diri-Nya : Barangsiapa mendengarkan kamu, ia mendengarkan Aku; dan barangsiapa menolak kamu, ia menolak Aku; dan barangsiapa menolak Aku, ia menolak Dia yang mengutus Aku.”( Luk. 10:16 ) Kamu pada Luk 10:16, apakah hanya Bapa Gereja?, apakah saya sebagai orang percaya kehilangan “hak” untuk termasuk dalam golongan kamu pada Luk 10:16 ? Dan bagaimana posisi Alkitab dibanding dengan dua pilar yang lain? Apakah sejajar… Read more »

Vano
Guest
Vano

Salam Bapak Stef Tay & Ibu Ingrid :

Boleh diterangkan hirarki dari komposisi tiga pilar kebenaran tersebut? Apakah Alkitab tidak paling tinggi hirarkinya dibanding dua pilar lainnya? sebagai suatu prinsip utama?

Tuhan Memberkati

Ribicqa
Guest
Ribicqa

sebelum mengenali kasih kristus, sy org buta yg bjln dlm kegelapan tanpa tongkat. Hidup sy akhirnya berubah setelah menanam sepenuhnya kepercayaan kepada yesus. Melalui yesus jln keselamatan bg manusia, melalui yesus kita menemui Allah Bapa kita yg disyurga.Sy sgt bersyurkur krn yesus sentiasa akan hadir buat diri sy…persoalanya,mahukah kt mjd anak2xnya? yg pstinya,dialah jln kselamatn&kbenaran.

skywalker
Guest
skywalker

[quote} Terus terang saya belum pernah melihat Alkitab yang lengkap dengan penjelasannya sesuai dengan ajaran Gereja Katolik, yang tercetak dalam bahasa Indonesia. Saya rasa mungkin juga ada, hanya saja saya tidak tahu [unquote]

bagi pengalaman saja – sekitar thn 90 an saya diberi buku Injil dengan catatan kaki yang diterbitkan Ditjen Bimas Katolik (gratis, dicetak diatas kertas koran, sampul biru). Catatan kakinya amat membantu memahami kitab Injil.

martha
Guest
martha

shalom
romo wanta

contoh2 konkrit tradisi suci apa aja yang ada dalam gereja katolik yang tidak tercantum dalam kitab suci?

Tuhan memberkati,
martha

ko jack
Guest
ko jack

Halo Stef Tay & Ingrid :

1) Saya baru kali ini mengunjungi web site ini. Saya juga baru coba membaca kitab suci, mungkin yang saya tanyakan hal hal yang sederhana. Yang ingin saya tanyakan, apa artinya kata "jangan menjadi hamba anggur" dalam Titus 2:3

2) Apakah ada website & penjelasannya, bila kita ingin mencari satu ayat dalam kitab suci.

Tuhan memberkati kita semua. Terima kasih

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X