Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi

[7 Januari 2018. Baptisan Yesus Kristus. Mk 1:7-11]

 

7. Inilah yang diberitakannya: “Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. 8. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”

9. Pada waktu itu datanglah Yesus dari Nazaret di tanah Galilea, dan Ia dibaptis di sungai Yordan oleh Yohanes. 10. Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya. 11. Lalu terdengarlah suara dari sorga: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.”

 


Teman-teman,

Hari ini adalah hari yang baik bagi kita untuk merenungkan baptisan yang telah kita terima. Seringkali, kita melupakan sakramen ini; mungkin kita menerimanya ketika kita baru saja lahir. Namun, sakramen ini adalah sakramen yang membawa kita kepada keselamatan: “Siapa yang percaya dan dibaptis akan diselamatkan” (Mk 16:16). Baptis adalah “ianua sacramentorum” (Kitab Hukum Kanonik, 849)—pintu yang membawa kita kepada sakramen-sakramen yang lain.

Melalui sakramen Baptis, kita menerima pengampunan dosa asal dan dosa personal. Karena itu, “in renatis enim nihil odit Deus”—“tidak ada sesuatu pun yang dibenci oleh Allah dalam diri mereka yang telah lahir kembali” (Konsili Trento, DS 792). Atas berkat ini, hendaknya kita mengucap syukur dan meminta berkat Allah agar kita tidak jatuh lagi dalam dosa.

Melalui sakramen Baptis, kita juga dikuduskan dan menerima status anak-anak Allah (divine filiation). Kristus adalah Anak Allah secara natural —“Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi” (11)—, sedangkan kita orang-orang Kristen adalah anak-anak Allah melalui rahmat-Nya (through grace). Ini berarti kita diperbolehkan mengambil bagian dalam keilahian Allah: “Agnosce, o christiane, dignitatem tuam, et divinae consors factus naturae”—“ketahuilah martabatmu, hai kamu orang Kristen yang mengambil bagian dalam hakekat ilahi” (Paus Leo Agung, Sermo 21 in nativitatem Domini, 3: PL 54, 192C). Apakah kita sering merenungkan status kita yang agung ini dan berseru kepada Allah Bapa?

06/01/2018
Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X