Empat Prinsip untuk Menginterpretasikan Alkitab

Pendahuluan

Pada bulan Desember 2006 yang lalu, saya dan suami saya mendapat kesempatan untuk berziarah ke Shrine of the Most Blessed Sacrament di Hanceville, Alabama. Saya sungguh terkagum-kagum melihat kompleks gereja itu. Alangkah indahnya! Gereja beserta biara terletak di tanah seluas 400 acres, begitu luas dan memukau. Apalagi setelah melihat ke dalam bangunan gereja. Wah, cantik sekali! Begitu juga ketika kami mengunjungi studio TV EWTN (Eternal Word Television Network), sebuah stasiun TV Katolik yang terbesar di Amerika yang berdekatan dengan shrine itu. Terlebih-lebih lagi, kami tertegun dan tak habis memuji Tuhan, setelah membaca riwayat dibangunnya kedua kompleks itu. Ya, kompleks studio EWTN yang begitu lengkap dan ‘canggih’ itu bermula dari gudang biara pada tahun 1981, dimulai oleh seorang biarawati Poor Clare (ordo Fransiskan) yang bernama Mother Angelica. Kejadian demi kejadian melengkapi dalam kesatuan rencana pembangunan sampai selesai dan semua itu menyatakan kebesaran penyelenggaraan Ilahi.

Demikianlah dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa untuk lebih memahami dan menghargai suatu kejadian, kita perlu mempelajari latar belakang terjadinya kejadian tersebut. Maka untuk mempelajari Kitab Suci, kita perlu melihat kaitan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya, untuk mendapat pengertian yang menyeluruh dan pemahaman yang benar akan Sabda Allah itu. Perjanjian Lama yang merupakan latar belakang Perjanjian baru, merupakan kesatuan dengan Perjanjian Baru. Sebab “Perjanjian Baru terselubung dalam Perjanjian Lama, sedangkan Perjanjian Lama tersingkap dalam Perjanjian Baru.”[1]

Alkitab merupakan Sabda Allah yang disampaikan melalui tulisan penulis kitab yang ditunjuk oleh Allah untuk menuliskan hanya yang diinginkan oleh Tuhan.[2] Maka jika kita ingin memahami Alkitab, kita perlu mengetahui makna yang disampaikan oleh para pengarang kitab dan apakah yang ingin disampaikan oleh Allah melalui tulisannya. Dan karena Alkitab bersumber pada Allah yang satu, maka kita harus melihat keseluruhan Alkitab sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi. Inilah yang menjadi dasar bagaimana kita memperoleh pengertian yang mendalam tentang Kitab Suci, dan dengan cara demikianlah jemaat awal mengartikan Kitab Suci.

Ke-4 Prinsip Mengartikan Alkitab

Secara umum, Alkitab mempunyai dua macam arti. Yang pertama disebut ‘literal/ harafiah’ sedangkan yang kedua disebut sebagai ‘spiritual/ rohaniah’. Kemudian arti rohaniah ini terbagi menjadi 3 macam, yaitu: alegoris, moral dan anagogis.[3] Ke-empat macam arti ini secara jelas menghubungkan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

1. Arti literal/ harafiah.

Arti harafiah adalah arti yang berdasarkan atas penuturan teks yang ada secara tepat. Mengikuti ajaran St. Thomas Aquinas, kita harus berpegang bahwa, “Tiap arti [Kitab Suci] berakar di dalam arti harafiah”.[4] Jadi dalam membaca Kitab suci, kita harus mengerti akan arti kata-kata yang dimaksud secara harafiah yang ingin disampaikan oleh pengarangnya, baru kemudian kita melihat apakah ada maksud rohani yang lain. Arti rohani ini timbul berdasarkan arti harafiah.

2. Arti alegoris

Arti alegoris adalah arti yang lebih mendalam yang diperoleh dari suatu kejadian, jika kita menghubungkan peristiwa tersebut dengan Kristus. Contohnya:

a) Penyeberangan bangsa Israel melintasi Laut Merah adalah tanda kemenangan yang diperoleh umat beriman melalui Pembaptisan (lih.Kel14:13-31; 1Kor 10:2).
b) Kurban anak domba Paska di Perjanjian Lama merupakan tanda kurban Yesus Sang Anak Domba Allah pada Perjanjian Baru (Kel 12: 21-28; 1 Kor 5:7)).
c) Abraham yang rela mengurbankan anaknya Ishak adalah gambaran dari Allah Bapa yang rela mengurbankan Yesus Kristus Putera-Nya (Kej 22: 16; Rom 8:32).
d) Tabut Perjanjian Lama adalah gambaran dari Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru. Karena pada tabut Perjanjian Lama tersimpan dua loh batu kesepuluh perintah Allah (Kel 25:16) dan roti manna (Kel 25:30); sedangkan pada rahim Maria Sang Tabut Perjanjian Baru tersimpan Sang Sabda yang menjadi manusia (Yoh 1:14), Sang Roti Hidup (Yoh 6:35).

3. Arti moral

Arti moral adalah arti yang mengacu kepada hal-hal yang baik yang ingin disampaikan melalui kejadian-kejadian di dalam Alkitab. Hal-hal itu ditulis sebagai “contoh bagi kita …sebagai peringatan” (1 Kor 10:11).

a) Ajaran Yesus agar kita duduk di tempat yang paling rendah jika diundang ke pesta (Luk 14:10), maksudnya adalah agar kita berusaha menjadi rendah hati.
b) Peringatan Yesus yang mengatakan bahwa ukuran yang kita pakai akan diukurkan kepada kita (Mrk 4: 24) maksudnya agar kita tidak lekas menghakimi orang lain.
c) Melalui mukjizat Yesus menyembuhkan dua orang buta, yang berteriak-teriak, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah kami!” (Mat 20: 29-34) Yesus mengajarkan agar kita tidak lekas menyerah dalam doa permohonan kita.

4. Arti anagogis

Arti anagogis adalah arti yang menunjuk kepada surga sebagai ‘tanah air abadi’. Contohnya adalah:

a) Gereja di dunia ini melambangkan Yerusalem surgawi (lih. Why 21:1-22:5).
b) Surga adalah tempat di mana Allah akan menghapuskan setiap titik air mata (Why 7:17).

Pepatah mengenai ke-4 arti Alkitab

Berikut ini adalah pepatah yang berasal dari Abad Pertengahan:

Huruf [dari kata letter/ literal] mengajarkan kejadian; apa yang harus kau percaya, alegori; moral, apa yang harus kau lakukan; ke mana kau harus berjalan, anagogi.”[5]

Contoh interpretasi Alkitab menggunakan ke-4 prinsip

Maka semua kejadian di dalam Alkitab memiliki makna harafiah, walaupun dapat mengandung arti rohaniah juga. Contohnya adalah kisah Allah menurunkan roti manna di padang gurun (Kel 16).[6]

  • Secara harafiah, memang Allah memberi makan bangsa Israel dengan manna yang turun dari langit selama 40 tahun saat mereka mengembara di padang gurun.
  • Secara alegoris, roti manna menjadi gambaran Ekaristi, di mana Yesus sebagai Roti Hidup adalah Roti yang turun dari surga (Yoh 6:51), menjadi santapan rohani kita umat beriman yang masih berziarah di dunia ini.
  • Secara moral, kisah ini mengajarkan kita untuk tidak cepat mengeluh dan bersungut-sungut (Kel 16:2-3) kepada Allah. Umat Israel yang bersungut-sungut akhirnya dihukum Allah sehingga tak ada dari generasi mereka yang dapat masuk ke tanah terjanji (selain Yoshua dan Kaleb).
  • Secara anagogis, kita diingatkan bahwa seperti roti manna yang berhenti diturunkan setelah bangsa Israel masuk ke Tanah Kanaan, maka Ekaristi juga akan berakhir pada saat kita masuk ke Surga, yaitu saat kita melihat Tuhan muka dengan muka.

Peran Gaya Bahasa dalam Alkitab

Seperti halnya pada sebuah karya tulis pada umumnya, peran gaya bahasa adalah sangat penting. Demikian juga pada Alkitab, sebab Allah berbicara pada kita dengan menggunakan bahasa manusia. Maka kita perlu memahami gaya bahasa yang digunakan, agar dapat lebih memahami isinya. Secara umum, gaya bahasa yang digunakan dalam Alkitab sebenarnya tidaklah rumit, sehingga orang kebanyakan dapat menangkap maksudnya. Dalam hampir semua perikop Alkitab, sebenarnya cukup jelas, apakah pengarang Injil sedang membicarakan hal yang harafiah atau yang rohaniah. Memang ada kekecualian pada perikop-perikop tertentu, sehingga kita perlu mengetahui beberapa prinsipnya:[7]

1. Simili: adalah perbandingan langsung antara kedua hal yang tidak serupa. Misalnya, pada kitab Dan 2:40, digambarkan kerajaan yang ke-empat ‘yang keras seperti besi’, maksudnya adalah kekuatan kerajaan tersebut, yang dapat menghancurkan kerajaan lainnya.

2. Metafor: adalah perbandingan tidak langsung dengan mengambil sumber sifat-sifat yang satu dan menerapkannya pada yang lain. Contohnya, “Jiwaku haus kepada Allah Yang hidup” (Mzm 42:3). Sesungguhnya, jiwa yang adalah rohani tidak mungkin bisa haus, seperti tubuh haus ingin minum. Jadi ungkapan ini merupakan metafor untuk menjelaskan kerinduan jiwa kepada Allah.

3. Bahasa perkiraan: adalah penggambaran perkiraan, seperti jika dikatakan pembulatan angka-angka perkiraan. Misalnya,“Yesus memberi makan kepada lima ribu orang laki-laki” (Mat 14: 21; Mrk 6:44; Luk 9:14; Yoh 6:10) dapat berarti kurang lebih 5000 orang, dapat kurang atau lebih beberapa puluh.

4. Bahasa fenomenologi: adalah penggambaran sesuatu seperti yang nampak, dan bukannya seperti mereka adanya. Kita mengatakan ‘matahari terbit’ dan ‘matahari terbenam’, meskipun kita mengetahui bahwa kedua hal tersebut merupakan akibat dari perputaran bumi. Demikian juga dengan ucapan bahwa ‘matahari tidak bergerak’ (Yos 10: 13-14).

5. Personifikasi/ antropomorfis : adalah pemberian sifat-sifat manusia kepada sesuatu yang bukan manusia. Contohnya adalah ungkapan ‘wajah Tuhan’ atau ‘tangan Tuhan’ (Kel 33: 20-23), meskipun kita mengetahui bahwa Tuhan adalah Allah adalah Roh (Yoh 4:24) sehingga tidak terdiri dari bagian-bagian tertentu.

6. Hyperbolisme: adalah pernyataan dengan penekanan efek yang besar, sehingga kekecualian tidak terucapkan. Contohnya adalah ucapan rasul Paulus, “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rom 3:23); di sini tidak termasuk Yesus, yang walaupun Tuhan juga sungguh-sungguh manusia dan juga tidak termasuk Bunda Maria yang walaupun manusia tetapi sudah dikuduskan Allah sejak dalam kandungan (tanpa dosa asal).

Selanjutnya, ada juga kekecualian juga terjadi pada kondisi berikut:

  1. Jika Alkitab jelas mengatakan bahwa yang disampaikan adalah perumpamaan. Contoh Yoh 10:6 “Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka…” yang kemudian dilanjutkan oleh Yesus, yang mengumpamakan Ia sebagai ‘pintu’ (Yoh 10:7). Demikian juga dengan Mat 13:33 yang mengatakan bahwa Yesus mengajar dengan perumpamaan. Di sini perumpamaan belum tentu terjadi secara nyata.
  2. Interpretasi harafiah dilakukan sejalan dengan akal sehat, namun jika tidak masuk akal, maka tidak mungkin dimaksudkan secara harafiah. Jadi misalnya, pada saat Yesus mengatakan bahwa raja Herodes adalah ‘serigala’ (Luk 13:32), maka kita tidak akan mengartikan bahwa pada waktu itu pemerintah di jaman Yesus dikepalai oleh mahluk mamalia, berambut, berekor, berkuping lancip yang bernama Herodes.
  3. Jika pengartian secara harafiah malah menujukkan kontradiksi pada Allah, maka gaya bahasa yang diucapkan tidak dimaksudkan untuk diartikan secara harafiah. Dalam hal ini penting sekali kita melihat ayat-ayat lain untuk melihat gambaran yang lebih jelas akan makna ayat tersebut. Contoh: Dalam Mat 23:9, Yesus berkata “Jangan memanggil seorangpun sebagai bapa di bumi ini”, padahal baru sesaat sebelumnya Yesus mengulangi perintah ke-4 dari kesepuluh perintah Allah, “Hormatilah ibu bapa-mu” (Mat 19:19) dan Ia juga menyebut Abraham sebagai “bapa” (Mat 3:9). Selanjutnya kita melihat bagaimana Rasul Paulus kemudian menyebut dirinya sendiri sebagai “bapa” bagi umat di Korintus (1 Kor 4:15) dan kepada Onesimus (Flm 10). Maka ayat Mat 23:9 tidak mungkin diartikan secara harafiah. Dalam hal ini, Yesus menggunakan gaya bahasa hyperbolisme untuk menyatakan otoritas ilahi yang mengatasi otoritas duniawi.

Tips utama dan contohnya

Jadi di sini kita perlu mengingat bahwa jika bahasa yang dipakai tidak menunjuk kepada arti figuratif, dan jika tidak ada kondisi kekecualian seperti yang disebutkan di atas, maka kita harus menginterpretasikan perikop secara harafiah, kecuali adanya argumentasi yang sangat meyakinkan untuk mengartikan sebaliknya. Kita tidak boleh memilih-milih ayat mana yang kelihatannya baik dan mudah untuk dicerna, dan mana yang tidak, untuk menentukan apakah dapat diartikan secara harafiah atau tidak. Misalnya, ada banyak orang tidak menyukai adanya neraka, maka mereka menganggap perkataan Yesus tentang neraka hanya sebagai ucapan simbolis. Ini tentu saja keliru! Atau misalnya, banyak orang salah mengartikan perikop tentang Roti Hidup pada Injil Yohanes 6. Mereka tidak dapat menerima ucapan Yesus secara harafiah,“Jikalau kamu tidak makan daging-Ku dan minum darah-Ku, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu; dan barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal …” (Yoh 6:53-54). Mereka mengartikannya bahwa Yesus hanya berbicara secara simbolik saja. Hal ini tentu adalah sikap yang keliru, yaitu mengartikan suatu perikop secara harafiah atau simbolik hanya berdasarkan ‘selera’ saja atau terbatas pada pemikiran yang sempit.

Jika seseorang menganggap perikop Roti Hidup sebagai ‘ayat yang sulit sehingga lebih baik tidak diartikan secara literal tetapi figuratif saja’, maka orang itu memasukkan dirinya dalam golongan orang-orang yang pada jaman Yesus juga menganggap ayat itu terlalu sulit, dan memilih untuk meninggalkan Yesus. “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” (Yoh 6:60). Dan sungguh banyak murid-murid-Nya yang pergi mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Dia, setelah Yesus mengajarkan demikian. (Yoh 6:66). Jika pengajaran ini hanya bermaksud simbolis, tentu Yesus akan mencegah mereka pergi. Namun Alkitab mengatakan yang sebaliknya. Menanggapi hal ini, Yesus malah bertanya kepada para rasulnya, apakah mereka mau pergi juga. Dan Petrus, mewakili para rasul menjawabNya, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal” (Yoh 6: 68). Maka kita ketahui bahwa hanya para Rasul dan mereka yang setia memegang ajaran ini, adalah mereka yang kepadanya Yesus telah berjanji, “Barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku… ia akan hidup selama-lamanya.” (Yoh 6: 57-58). Sekarang memang kita perlu menilik ke dalam diri kita, termasuk golongan manakah kita ini: yang menerima ayat tersebut secara harafiah ataukah yang figuratif? Jika kita menerima ayat itu secara harafiah sesuai kehendak Yesus, dan kita sudah percaya kepada kehadiran Yesus yang nyata dalam Ekaristi, selanjutnya, apakah sikap kita dalam menyambut Ekaristi sudah mencerminkan iman kita itu?

Contoh yang lain adalah cerita Nabi Yunus yang ditelan oleh ikan besar selama 3 hari (Yun 1:17), sebelum dimuntahkan ke laut. Banyak orang menganggap kisah ini tidak masuk akal, sehingga lebih baik dianggap figuratif saja. Namun bagi kita yang percaya pada Sabda Allah, maka sesungguhnya tidaklah sulit bagi kita untuk percaya bahwa hal ini harafiah terjadi, apalagi kisah inilah yang dipakai oleh Yesus untuk menggambarkan kematian-Nya sebelum Ia bangkit pada hari ketiga (Mat 12:39-41; Luk 11:29-32). Melihat pentingnya misteri wafat dan kebangkitan-Nya, tentulah Yesus tidak sekedar hanya mengambil kisah simbolis, namun kisah yang sungguh terjadi.

Di sini kita melihat, jika kita mulai mempertanyakan terus dan hanya mau menerima apa yang dapat dibuktikan dengan akal, maka kita dapat terjebak pada memilih-milih ayat sesuai dengan keinginan kita, dan akhirnya dapat mempertanyakan segala mukjizat yang ada dalam Kitab Suci. Hal inilah yang dimiliki oleh banyak ahli Kitab suci jaman modern, yang berusaha merasionalisasikan Alkitab, dan sedapat mungkin mencoret unsur mukjizat dan intervensi ilahi. Sikap yang demikian bukanlah sikap yang rendah hati yang disyaratkan untuk membaca Sabda Tuhan, dan kita sungguh perlu berdoa agar kita tidak mempunyai sikap yang demikian.

Kesimpulan

Keempat prinsip untuk menginterpretasikan Alkitab adalah pedoman bagi kita untuk mendapatkan pengertian yang lebih mendalam akan ayat-ayat Kitab Suci. Prinsip-prinsip tersebut membantu kita untuk dapat “membaca dan menginterpretasikan Kitab Suci dengan semangat roh yang sama dengan bagaimana kitab tersebut dituliskan”,[8] dan dengan demikian kita dapat mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh tentang makna ayat-ayat dalam Kitab suci, karena kita melihat juga kaitan satu ayat dengan ayat-ayat yang lain. Sudah menjadi Tradisi Gereja bahwa ayat-ayat Alkitab tidak untuk dipertentangkan satu dengan yang lain, tetapi selalu dilihat dalam satu kesatuan yang utuh dan saling melengkapi. Mari kita belajar dari teladan kebaikan Tuhan, yang walaupun tetap mempertahankan kebenaran dan kekudusan-Nya, telah sedemikian menyesuaikan Diri-Nya untuk menjangkau kita semua dengan menggunakan bahasa manusia. Mari kita melakukan bagian kita, dengan berusaha untuk memahami apa yang hendak disampaikan-Nya kepada kita.


[1] KGK 129

[2] lihat KGK 106

[3] lihat KGK 115-117

[4] St. Thomas Aquinas, Summa Theologiae, I, I, 10 ad 1

[5] KGK 118

[6] Untuk kebih lanjut mengenai ke-4 arti dalam Alkitab ini, silakan membaca buku karangan Mark P. Shea, “Making Sense Out of Scripture: Reading the Bible as the First Christians did (Rancho Santa Fe, CA: Basilica Press, 1999).

[7] Father Frank Chacon & Jim Burnham, Beginning Apologetics 7, How to Read the Bible, (San Juan Catholic Seminars, Farmington, NM, 2003) p. 24-25.

[8] Konstitusi tentang Wahyu Ilahi, Dei Verbum, 12, Vatikan II.

19/12/2018

66
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
25 Comment threads
41 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
30 Comment authors
freedom gloryTribarfinarnoldJohnedie Recent comment authors
Linda Maria
Guest
Linda Maria

Salam Tim Katolisitas, Saya mohon penjelasan untuk perikop ini: (50) Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya. (51) Dan lihatlah, tabir Bait Suci terbelah dua dari atas sampai ke bawah dan terjadilah gempa bumi, dan bukit-bukit batu terbelah,(52) dan kuburan-kuburan terbuka dan banyak orang kudus yang telah meninggal bangkit.(53) Dan sesudah kebangkitan Yesus, merekapun keluar dari kubur, lalu masuk ke kota kudus dan menampakkan diri kepada banyak orang. ( Matius 27 ayat 50 sampai 53 ) Saya juga punya persoalan yang saya harap bisa tim jawab: 1. Apakah gempa ini benar benar terjadi sehingga ada catatan sejarah mengenainya… Read more »

Maximillian Reinhart
Guest
Maximillian Reinhart

Salam Damai selalu…
Aku mau bertanya saja…

Mengapa Yesus berkata “mau mati” sepertinya (maaf) Yesus tidak memberikan contoh yang baik yah?
=====
Mark 4:34 lalu kata-Nya kepada mereka: “Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya. Tinggallah di sini dan berjaga-jagalah.”
=====

Terima kasih.

Stefanus Tay

Shalom Maximillian,

Terima kasih atas pertanyaannya tentang Mrk 4:34 yang menuliskan “…Hati-Ku sangat sedih, seperti mau mati rasanya…” Dalam RSV dikatakan “My soul is very sorrowful, even to death;..” Kalau kita membandingkan dua terjemahan ini, maka kita dapat melihat bahwa bukannya Yesus mau mati, namun menekankan akan kesedihan hati-Nya yang sungguh-sungguh menderita atau menderita dengan sangat, sampai pada meneteskan keringat darah. Jadi “mau mati” adalah merujuk bukan pada Yesus, namun menerangkan hati-Nya yang sangat sedih. Semoga dapat membantu.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Fransiskus Dany
Guest
Fransiskus Dany

Shalom Bu Ingrid n seluruh yang mendukung katolisitas

terima kasih jawaban sebelumnya, dalam tanya jawab Katolisitas yang sudah lewat saya ada baca, bahwa terjadinya perpecahan Kristen karena membuat persepsi masing2 tentang Alkitab. Dalam bulan kitab suci ini, ada pertemuan lingkungan umat Katolik untuk membuka Ayat Alkitab, setelah membaca ayat Alkitab masing2umat memberikan pandangan masing2pada ayat yang sudah dibaca tadi. Kalau saya mengacu pada ulasan dari Katolisitas terjadinya perpecahan pada umat Kristiani karena adanya persepsi masing2tentang isi Alkitab. Apakah apa yang dilakukan pada pertemuan lingkungan yang baru saja saya ikuti ini tidak salah?
Terimakasih, Tuhan selalu memberkati

Samuel R.S
Guest
Samuel R.S

Menanggapi tulisan dari sdr. Fransiskus Dany ” Dalam bulan kitab suci ini, ada pertemuan lingkungan umat Katolik untuk membuka Ayat Alkitab, setelah membaca ayat Alkitab masing2umat memberikan pandangan masing2pada ayat yang sudah dibaca tadi. ” mungkin maksudnya adalah umat basis yang hadir dalam pertemuan lingkungan itu diminta pemandu untuk memberikan sharing pengalaman hidup yang cocok dengan salah satu ayat di perikop yang sedang di bahas, jadi kemungkinan bukan merupakan sebuah tafsiran dari sebuah perikop yang dibahas. Misalnya saya memberikan 2 contoh seorang pemandu bertanya : 1. Pemandu mengajak umat basis ” Apakah bapak/ibu menemukan ayat mana yang berkesan dan mau… Read more »

Felix Sugiharto
Guest
Felix Sugiharto

Shalom katolisitas

Tentang: Mengapa Allah ‘Bersumpah’

Saya ingin bertanya mengapa di dalam PL sering sekali menjumpai penulisan bahwa Allah telah bersumpah.. dan mengapa Allah perlu bersumpah ? apa tujuanya apabila Wahyu Kitab Suci PL diturunkan kepada para nabi dengan menekankan ‘Allah telah bersumpah’ dsb sehingga terkesan sagat egois terhadap kebebasan manusia masa itu.dan bagaimana kita memahami / mengartikannya..

Saya mengangkat penulisan dalam ay : Kej 26:3 . Kel 6:8 . Ul 8:18 .
Mohon pencerahannya, terima kasih.

Salam damai dalam Yesus Kristus
Felix Sugiharto

Tryas
Guest
Tryas

Shalom Katolisitas…

saya ingin bertanya mengenai terjemahan bahasa inggris pada kitab Yesaya 40:22 yang mengatakan It is God Who sits above the —circle— (the horizon) of the earth, and its inhabitants are like grasshoppers; it is He Who stretches out the heavens like [gauze] curtains and spreads them out like a tent to dwell in,

ada terdapat kata Circle yang berarti lingkaran… yang seharusnya menggunakan kata Roundness/sphere yang berarti bulatan. apakah terjadi kesalahan pengetikkan ataukah terjadi salah terjemahan…?
hal ini menjadi sangat penting mengingat saudara-saudara di luar Kristus juga mempertanyakan hal ini dan dijadikan bulan-bulanan.

Terimakasih Katolisitas. Salam sejahtera…

laurencia
Guest
laurencia

trimakasih ini sgt membantu

Machmud
Guest
Machmud

Salam damai sejahtera

Pengasuh Katolisitas

Mohon tanya siapakah yang dimaksud dengan Amin di dalam kitab Wahyu 3 : 14 berikut ini

. And unto the angel of the church of the Laodiceans write; These things saith the AMEN, the faithful and true witness, the beginning of the creation of God;

“Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari AMIN, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah:

Salam
Mac

[dari katolisitas: Yang dimaksud Amin adalah Yesus – silakan melihat Why 1:5 dan 2Kor 1:20]

Aaron
Guest
Aaron

Pengasuh Katolisitas

Mohon tanya :
Bagaimana caranya mempelajari, menyelidiki dan bisa mengerti akan isi Alkitab dengan benar ?

Aaron

Stefanus Tay

Shalom Aaron, Terima kasih atas pertanyaannya bagaimana untuk mempelajari dan menyelidiki Alkitab sehingga mengerti akan isi Alkitab dengan benar. Untuk itu, silakan membaca beberapa artikel tentang Kitab Suci di bawah ini: Empat Prinsip untuk Menginterpretasikan AlkitabPerkenalan dengan Kitab Suci (bagian ke-2)Perkenalan dengan Kitab Suci (bagian 1) Dan untuk penerapannya, silakan juga membaca beberapa artikel ini: Mengapa Yesus dicobai oleh Iblis di padang gurun?Apakah Sola Scriptura/ “Kitab Suci saja” cukup?Pergulatan Yakub dengan Allah menggambarkan PentakostaKidung Agung 8:1-3 menceritakan Inkarnasi KristusMenikah atau selibat? (1 Kor 7 :1-40)Samuel, Saul, dan perempuan pemanggil arwah di En-DorLectio DivinaKehancuran Yerusalem dan akhir duniaOrang buta yang menjadi… Read more »

Paulina
Guest
Paulina

Shalom Pak Stef dan Bu Ingrid, Apakah kalimat dalam Alkitab boleh diubah sesuka kita namun masih dalam konteks yang sama? Di Gereja saya saat ini, pada saat pembacaan Alkitab, kalimat dalam Alkitab seringkali diubah-ubah oleh para lektor. Maksud dan intinya memang tetap sama, tapi hal ini kadang mengganggu saya. Kadang hanya susunan katanya yang diubah, kadang ada kata-kata yang diganti atau ada kata-kata yang dihilangkan. Sepertinya tujuan pengubahan itu adalah supaya kalimat yang dibaca jadi lebih sederhana karena kadang-kadang memang ada kalimat dalam Alkitab yang agak panjang dan berbelit-belit. Namun apakah hal tsb diperbolehkan? Bukankah dengan demikian sudah terjadi interpretasi… Read more »

Nico
Guest
Nico

Shalom

Kenapa ada beberapa ayat di kitab suci ada di dalam tanda kurung? seperti misalnya 1 Yohanes 5:7-8. Apakah benar ayat yang ada di dalam tanda kurung tersebut itu adalah ayat tambahan dan tidak sesuai dengan teks aslinya? Jika benar, alasannya apa kok sampai ditambahkan? Terima kasih atas jawabannya.

Nico

Ps: Pak Stef dan Bu Ingrid punya account FB tidak? kalau ada boleh dong saya di add biar kita lebih kenal lagi. GBU

Stefanus Tay

Shalom Nico, Terima kasih atas pertanyaannya. Terima kasih atas pertanyaannya. Tentang 1 Yoh 5:7-8 yang ditulis dalam tanda kurung () (Edisi LAI dan LBI), maka ingin ditunjukkan bahwa ada bagian ayat yang berasal dari perbedaan manuskrip, dimana di beberapa manuskrip Yunani, ayat ini tidak ada. Dikatakan “7 Sebab ada tiga yang memberi kesaksian (di dalam sorga: Bapa, Firman dan Roh Kudus; dan ketiganya adalah satu. 8 Dan ada tiga yang memberi kesaksian di bumi): Roh dan air dan darah dan ketiganya adalah satu.” (1 Yoh 5:7-8) Namun, yang tertulis adalah benar, karena kesaksian di Sorga (Bapa, Firman dan Roh Kudus)… Read more »

soenardi
Guest
soenardi

Shalom, Minat dan upaya pendalaman KS di antara umat sudah lumayan terbangkitkan dibanding beberapa (puluh) tahun yang lalu seperti antara lain tercermin pada kegiatan di berbagai kelompok kategorial maupun teritorial. Namun amat terasa betapa langkanya bekal dan kemampuan umat pada umumnya untuk melakukan pendalaman KS itu secara mengena apalagi mendalam karena kurangnya jumlah dan kemampuan orang-orang, termasuk mereka yang oleh umat diharapkan (diandalkan) untuk mampu melakukannya dengan benar, enak, dan mengena. Persyaratan dan prosedur seperti diuraikan dalam Empat Prinsip Menginterpretasikan Alkitab oleh Ingrid Listiati itu memang amat sistematis dan tuntas yang memang seharusnya begitulah cara meninterpretasikan KS. Namun untuk dapat… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Soenardi, Terima kasih atas perhatiannya terhadap permasalahan umat yang membutuhkan pelajaran Alkitab. Memang kita juga harus belajar terhadap saudara kita dari protestan yang benar-benar giat untuk menggali kekayaan Alkitab. Namun, kita juga jangan berkecil hati, karena Gereja Katolik mempunyai cara menginterpretasikan Alkitab secara benar, didukung dengan banyaknya dokumen dari Bapa Gereja dan konsili-konsili, serta keputusan Magisterium Gereja. Dengan ini, maka ada sesuatu yang dapat dijadikan pedoman dan referensi dalam menginterpretasikan Alkitab. Namun, di sisi lain, memang dibutuhkan tenaga-tenaga yang mau dan mampu untuk dapat menerangkan Alkitab dengan baik, sesuai dengan prinsip-prinsip yang disebutkan di dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK,… Read more »

soenardi djiwandono
Guest
soenardi djiwandono

Shalom Bapak Stef, Terima kasih untuk tanggapan dan tambahan penjelasan tentang rincian arti yang perlu diperhatikan dalam upaya menginterpretasikan Alkitab seperti paparan sebelumnya oleh Ibu Ingird Listiati. Sebagai masukan, seperti diharapkan, dapatlah saya sampaikan bahwa karena kebutuhan pribadi, pernah saya coba untuk menggunakan sumber yang terjangkau untuk membantu memahami, khususnya “Tafsir Alkitab Perjkanjian Lama”, Dianne Bergant, CSA dan Robert J.Karris, OFM (Eds.), terbitan LBI, di samping “Tafsir Alkitab Perjanjian Baru” oleh editor dan penerbit yang sama. Namun kedua buku sumber tersebut terasa kurang “membumi” dan “applied” seperti diharapankan dari suatu buku tasfir. Oleh karena tidak merasa cukup terbantu, saya kemudian… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Pak Soenardi Djiwandono, Terima kasih atas masukan dan tanggapannya tentang keterbatasan sumber-sumber penjelasan Alkitab dalam bahasa Indonesia. Memang menjadi tantangan bagi LBI (Lembaga Biblika Indonesia) untuk dapat membantu umat dalam mengetahui dan mengasihi Kitab Suci. Tentu saja ini tidak terlepas dari tersedianya buku-buku Kitab Suci dan komentarnya yang baik, sehingga umat untuk belajar Kitab Suci dengan baik. Ada beberapa buku yang mungkin dapat membantu, misalnya: 1) Kitab Suci komunitas Kristiani dari penerbit Obor, dimana menyediakan begitu banyak catatan kaki serta latar belakang dari penulisan buku-buku di dalam Kitab Suci. Dan pendekatan yang diambil sangat pastoral. 2) Percetakan Arnoldus juga… Read more »

soenardi djiwandono
Guest
soenardi djiwandono

Yth. Bapak Stef, Terima kasih banyak untuk jawaban dan tanggapan tentang Alkitab (atau KS?) yang disebutkan. Akan saya coba memperoleh atau membacanya. Ada satu lagi yang ingin saya tanyakan (sarankan) untuk melengkapi kerja luar biasa dalam mengelola website yang sangat saya hargai dan junjung tinggi ini, yaitu disusunnya semacam glossary (atau “kamus”) yang memuat begitu banyak istilah yang banyak sekali muncul dalam diuskursus tentang KS ini banyak di antaranya tidak saya (umat kebanyakan) tidak memahami, meskipnu sebenarnya amat penting untuk mengerti maknanya secara lebih akurat untuk dapat memperoleh pemahaman terhadap berbagai ungkapan dan pembicaraan tentang KS dan iman pada umumnya.… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Pak Soenardi, Terima kasih atas masukan dan dukungannya. Memang Glossary sangat penting, namun seperti yang Pak Soenardi katakan, hal ini memang menguras begitu banyak tenaga. Saya tidak tahu apakah ada website Katolik dalam bahasa Indonesia yang telah memuat glossary Kitab Suci. Untuk glossary dalam bahasa Inggris, silakan melihatnya di sini (silakan klik). Ada website Kristen yang memuat glossary dalam bahasa Indonesia, yang dapat dilihat di sini (silakan klik). Di bagian bawah kiri dari site tersebut ada bagian kamus. Mungkin untuk ke depannya – kalau waktu, biaya, tenaga – memungkinkan, ada baiknya memuat glossary Kitab Suci yang juga dihubungkan dengan… Read more »

soenardi djiwandono
Guest
soenardi djiwandono

Yth.Pak Stef,

Terima kasih banyak untuk jawaban dan sekaligus glossary yang meskipun (?) dalam bahasa Inggris, ternyata sudah tersedia. Kalau tidak saya ajukan pertanyaan itu, hingga ini tadi saya tidak tahu bahwa sudah ada sumber rujukan yang sunggug amat bermanfaat. Sayang kata yang ingin segera saya lihat pengertian dan penjelasannya rupanya belum terliput, yaitu CURSE (KUTUK). Atau digunakan istilah lain dalam BIng.? Kebtulan saya ingin sekali tahu dan bertanya seputar hal itu.

Terima kasih banyak, Syalom.
Soenardi Djiwandono

Stefanus Tay

Shalom Pak Soenardi, Untuk melihat artikel-artikel dan glossary teologi Katolik yang lengkap dapat melihatnya di sini – (silakan klik).
Untuk kutuk dapat memasukkan kata kunci Curse atau Malediction. Saya telah mencoba menjawab pertanyaan tentang kutuk di sini – (silakan klik).
Semoga artikel tersebut dapat menjawab pertanyaan Pak Soenardi.
Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – http://www.katolisitas.org

fxe
Guest
fxe

Untuk no.2 di Indonesia ada “Kitab Suci untuk Komunitas Kristiani”. Lengkap ada Deuterokanonika dan juga catatan-catatan kaki yg cukup panjang untuk ayat-ayat dengan dikaitkan tema-tema tertentu. Tetapi setiap catatan kaki seperti ini pasti mengacu ke tafsiran KS yg tertentu, yg mungkin berbeda: liberal atau konservatif? Setahu saya di KS ini, perikop tentang 3 magi yang mengunjugi kanak Yesus, tersirat digambarkan non-historis. jadi yg penting makna rohaninya. Juga penjelasan infalibilitas Paus (saya pernah membacanya tapi tidak menemukan halamannya kembali) yang kalau dibandingkan penjelasan di sini “agak berbeda”.. Selain itu catatan juga untuk kualitas cetakan KS ini: beberapa salah ketik/ejaan, ayat-ayat yg… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Fxe, Terima kasih atas tanggapannya. Kitab Suci Komunitas Kristiani (edisi Bahasa Indonesia) tidak saya bawa. Tentu saja dalam beberapa penjelasan, kita juga harus berhati-hati kalau memang tidak sesuai dengan pengajaran Gereja Katolik. Oleh karena itu, komentar Kitab Suci apapun harus kita bandingkan dengan Katekismus Gereja Katokik (KGK). Tentang beberapa hal yang disebutkan oleh FXE dalam Kitab Suci Komunitas Kristiani: 1) 3 Majus. Keterangan di Mt 2, mengatakan “The Wise Men could have been respected priests and seers of Zoroastrian religion. Here they stand for all the non-biblical religions. While the Jewish priests, chiefs of the people of God, do… Read more »

fxe
Guest
fxe

Terima kasih atas tanggapan pak Stef. Berikut sedikit tanggapan saya: 1) tentang 3 majus: kalau saya bandingkan dgn versi bahasa indonesia (Claretian press), maka pak Stef langsung mengutip par.3. Pertanyaan saya ada di par.1-2 yg memberi wawasan umum untuk Mt.2. Saya tidak mengutipnya di sini krn saya sedang tidak bawa bukunya. Namum pengertian saya thd 2 par tsb adalah: Par.1: di kalangan umat awali berkembang “cerita-cerita rakyat” yg muncul dari dorongan untuk menjelaskan lebih lanjut hal-hal yang tidak mereka ketahui kehidupan Yesus (masa kecilNya?). Hal ini serupa dgn umat Yahudi yg membuat cerita-cerita ttg masa kecil Abraham dan Musa. Demikianlah… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Fxe, Terima kasih atas tanggapannya. Saya tidak mempunyai versi Indonesianya, namun kalau saya melihat dari sumber online (yang saya asumsikan sama dengan versi cetaknya), maka dikatakan: 2.1 From the first Christian generations there have been popular narratives trying to relate all that was not known about Jesus and not part of the Gospel. These closely resembled the Jewish stories of the childhood of Abraham and Moses. The wise men, the star and the massacre of the children of Bethlehem have sprung directly from those stories and it is useless today to study astronomical maps to find a comet that… Read more »

Herman Jay
Guest
Herman Jay

1. Pembedaan atau distingsi yang tegas antara alegoris dengan anagogis hanya ada pada tujuannya, namun contoh anagogis yang menjadi rujukan, dalam hal ini Gereja sebagai Jerusalem Surgawi (Wahyu 21:1-22:5) sebenarnya merupakan juga penafsiran alegoris. Oleh karena itu umat awam yang gagap Kitab Suci masih sulit membedakan alegoris dan anagogis.
2.Saudara kita umat Protestan dalam kaitan dengan perpuluhan, berpegang pada prinsip penafsiran harafiah. Kalau konsekuen dengan langkah-langkah penafsiran di atas yaitu bahwa pertama kita harus fokus pada hal yang tertulis dulu kemudian kepada penafsiran yang rohaniah, apakah gereja katolik tidak melanggar prinsip penafsirannya sendiri, sehingga tidak mengutamakan adanya perpuluhan di gereja?

ben
Guest
ben

selamat sore,
saya mau tanya, rekomendasi buku apa yang bagus dimana isinya mengenai ulasan tafsiran alkitab dari sudut pandang magisterium gereja katolik( jika memungkinkan sudah diterjemahkan dalam bahasa indonesia)? siapa pengarangnya dan dari lembaga apa penerbitnya? apakah A Catholic Commentary on Holy Scripture ada versi buku bahasa indonesianya?
apakah buku karangan pak stefan Leks dengan judul tafsiran injil matius markus lukas dan yohanes bisa mewakili penafsiran alkitab dari sudut pandang katolik?

Adnilem.sg
Guest
Adnilem.sg

Shalom , katolisitas Saya ada pertanyaan yang menggangu pikiran saya dimana : -1) Dalam menyusun Alkitab yang sekarang , dimana dalam me- nerjemahkan dari bahasa aslinya(?)ke bahasa..(?) terus kebahasa Inggris sampai kebahasa Indonesia, apakah sudah persis seperti aslinya dan tidak mungkin terjadi kesalahan-kesalahan dalam kata-kata dan maksud artinya.-? karna saya pernah diberitahukan oleh teman dimana dialkitab berbahasa Inggris, dikatakan oleh teman saya, bahwasanya Yesus tidak pernah menyebut Bunda maria sebagai ibu tetapi melainkan dengan kata wanita-, dan terus bagaimana sebenarnya perkembangan sejarah adanya alkitab .- -2) Nama Tuhan =Yesus dikenal setelah di PB dan pertanyaan saya : ada nama-nama apa… Read more »

skywalker
Guest
skywalker

[quote} kita sebagai umat Katolik harus bersyukur bahwa dengan adanya Magisterium itu maka kita dapat yakin bahwa ajaran yang disampaikan oleh Gereja Katolik, baik yang berasal dari Kitab Suci maupun Tradisi Suci adalah merupakan pengajaran yang otentik yang berasal dari Tuhan Yesus dan para Rasul; dan bukan dari pendapat/ interpretasi pribadi seseorang atau sekelompok orang. [unquote] numpang tanya – apakah Magisterium menerbitkan semacam BUKU BAKU bagaimana ” mengiterpretasikan Alkitab dengan benar” ? Jika ada buku macam ini maka umat katolik tidak perlu repot dan berkemungkinan tersesat lagi mana kala membaca kitab suci contoh kasus : Stefan Leks menulis banyak buku… Read more »

Irena
Guest
Irena

Shalom Pak Stef dan Bu Ingrid, Saya mau nanya nih… 1. Di sekolah saya pernah belajar tentang evolusi dalam pelajaran biologi (kebetulan saya barusan aja lulus nih… tinggal tunggu nomor :-)) Kan dalam teori evolusinya si Darwin yang saya pelajari itu (dan teori ini kata guru saya sih memang masuk akal menurut sains dan sudah diakui dunia) katanya manusia itu dulunya berasal dari “makhluk lain” yang tingkatannya lebih rendah, bukannya langsung BRUK jadilah manusia, hehe… Terus waktu itu guru saya bilang, janganlah mempertentangkan teori evolusi ini dengan ajaran agama :-P. Intinya, agama ya agama, biologi ya biologi. Lalu saya pikir… Read more »

ben
Guest
ben

Saya mau tanya 1. siapakah yang memberi nama 3 raja dari timur itu kaspar melkior dan baltasar? karena tidak ada nama mereka di alkitab. 2. saya baca di wikipedia, saat saya ketik archangel, yang saya tau hanya mikael, rafael dan gabriel. tetapi di gereja timur masih ada empat lagi, ini saya cuplik dr wikipedia * Michael in the Hebrew language means “Who is like unto God?” or “Who is equal to God?” St. Michael has been depicted from earliest Christian times as a commander, who holds in his right hand a spear with which he attacks Lucifer, Satan, and in… Read more »

benny
Guest
benny

Shalom Pak Stefanus , Ibu Ingrid Listiati dan semua tim katolisitas.org Sebenarnya saya bingung dimana mau bertanya karena dihalaman quest book saya melihat lebih banyak komentar daripada pertayaan jadi saya tuliskan disini saya ya.. boleh juga jika mau dipindahkan pertanyaan saya ini. Saya sangat bersyukur bisa banyak belajar dari situs ini karena didaerah saya ini sangat susah mencari bahan2/pemahaman dan buku2 tentang Katolik (FYI, saya berada di Banda Aceh). Ada 1 pertanyaan didalam Perjanjian Lama yg menjadi pertanyaan saya selama ini yaitu tentang Nabi Samuel yg menampakkan diri di En-Dor, apakah itu Nabi Samuel yg sesunguhnya atau iblis yg menyamar… Read more »

Saulus
Guest
Saulus

Shalom Pak Stef dan Bu Inggrid, saat ini saya sedang membaca Kitab Hakim-hakim Bab 1-hingga 5. Berkaitan dengan hal itu bisakah saya mendapat penjelasan mengenai tujuan penulisan kitab Hakim-hakim? Sebelumnya saya telah membaca bahwa Yosua dan tua-tua Israel bersumpah bahwa mereka dan keturunannya akan tetap setia kepada Allah Israel. Namun dalam kitab hakim-hakim ini kita melihat bahwa keturunan mereka ada yang telah melupakan bagaimana Allah menolong mereka bebas dari mesir dan membantu mereka merebut Kanaan ? Apa pesan kitab hakim-hakim ini bagi kita di zaman sekarang ? Terima Kasih sebelumnya.
Saulus

Stefanus Tay

Shalom Saulus, Terima kasih atas pertanyaannya. Mari kita membahasnya bersama-sama. I. Tentang kitab hakim-hakim: 1) Hakim-hakim di sini adalah para pemimpin Israel yang mempunyai karisma dan mendapat kuasa dari Tuhan untuk membimbing umat Israel agar tetap hidup sesuai dengan perintah-perintah-Nya. Hakim-hakim ini disebut sebagai sang pembebas, seperti yang ditunjukkan oleh Samson – pada awal-awal perjalanan hidupnya dan juga oleh Gideon. Namun hakim juga dapat diartikan sebagai seseorang yang mempunyai posisi untuk mempertahankan keadilan dan juga membela hak-hak orang-orang yang tertekan. Deborah adalah seorang hakim yang berperan dalam mempertahankan keadilan ini (lihat Hak 4:4). 2) Dalam kitab hakim-hakim ditunjukkan dua permasalahan… Read more »

Kristofer
Guest
Kristofer

Terima kasih bu Inggrid atas artikel ini.
saya mau nanya, jika seorang bertanya seperti ini:
1. buktikan bahwa alkitab tidak terkorupsi (atau masih murni)
2. kenapa Katolik saja yang dapat menginterpretasi alkitab dengan benar?

Terima-kasih!

thomas suheri kartawijaya
Guest

terima kasih atas uraian, informasi, penjelasan, mengenai Al Kitab. Bagi saya sangat membantu untuk memahami dan menambah iman Katolik saya. Semoga Anda terus diberkati Tuhan Jesus, Allah Bapa, dan Allah Roh Kudus, Amin.

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X