Empat Prinsip untuk Menginterpretasikan Alkitab

Pendahuluan

Pada bulan Desember 2006 yang lalu, saya dan suami saya mendapat kesempatan untuk berziarah ke Shrine of the Most Blessed Sacrament di Hanceville, Alabama. Saya sungguh terkagum-kagum melihat kompleks gereja itu. Alangkah indahnya! Gereja beserta biara terletak di tanah seluas 400 acres, begitu luas dan memukau. Apalagi setelah melihat ke dalam bangunan gereja. Wah, cantik sekali! Begitu juga ketika kami mengunjungi studio TV EWTN (Eternal Word Television Network), sebuah stasiun TV Katolik yang terbesar di Amerika yang berdekatan dengan shrine itu. Terlebih-lebih lagi, kami tertegun dan tak habis memuji Tuhan, setelah membaca riwayat dibangunnya kedua kompleks itu. Ya, kompleks studio EWTN yang begitu lengkap dan ‘canggih’ itu bermula dari gudang biara pada tahun 1981, dimulai oleh seorang biarawati Poor Clare (ordo Fransiskan) yang bernama Mother Angelica. Kejadian demi kejadian melengkapi dalam kesatuan rencana pembangunan sampai selesai dan semua itu menyatakan kebesaran penyelenggaraan Ilahi.

Demikianlah dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa untuk lebih memahami dan menghargai suatu kejadian, kita perlu mempelajari latar belakang terjadinya kejadian tersebut. Maka untuk mempelajari Kitab Suci, kita perlu melihat kaitan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, antara ayat yang satu dengan ayat yang lainnya, untuk mendapat pengertian yang menyeluruh dan pemahaman yang benar akan Sabda Allah itu. Perjanjian Lama yang merupakan latar belakang Perjanjian baru, merupakan kesatuan dengan Perjanjian Baru. Sebab “Perjanjian Baru terselubung dalam Perjanjian Lama, sedangkan Perjanjian Lama tersingkap dalam Perjanjian Baru.”[1]

Alkitab merupakan Sabda Allah yang disampaikan melalui tulisan penulis kitab yang ditunjuk oleh Allah untuk menuliskan hanya yang diinginkan oleh Tuhan.[2] Maka jika kita ingin memahami Alkitab, kita perlu mengetahui makna yang disampaikan oleh para pengarang kitab dan apakah yang ingin disampaikan oleh Allah melalui tulisannya. Dan karena Alkitab bersumber pada Allah yang satu, maka kita harus melihat keseluruhan Alkitab sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi. Inilah yang menjadi dasar bagaimana kita memperoleh pengertian yang mendalam tentang Kitab Suci, dan dengan cara demikianlah jemaat awal mengartikan Kitab Suci.

Ke-4 Prinsip Mengartikan Alkitab

Secara umum, Alkitab mempunyai dua macam arti. Yang pertama disebut ‘literal/ harafiah’ sedangkan yang kedua disebut sebagai ‘spiritual/ rohaniah’. Kemudian arti rohaniah ini terbagi menjadi 3 macam, yaitu: alegoris, moral dan anagogis.[3] Ke-empat macam arti ini secara jelas menghubungkan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

1. Arti literal/ harafiah.

Arti harafiah adalah arti yang berdasarkan atas penuturan teks yang ada secara tepat. Mengikuti ajaran St. Thomas Aquinas, kita harus berpegang bahwa, “Tiap arti [Kitab Suci] berakar di dalam arti harafiah”.[4] Jadi dalam membaca Kitab suci, kita harus mengerti akan arti kata-kata yang dimaksud secara harafiah yang ingin disampaikan oleh pengarangnya, baru kemudian kita melihat apakah ada maksud rohani yang lain. Arti rohani ini timbul berdasarkan arti harafiah.

2. Arti alegoris

Arti alegoris adalah arti yang lebih mendalam yang diperoleh dari suatu kejadian, jika kita menghubungkan peristiwa tersebut dengan Kristus. Contohnya:

a) Penyeberangan bangsa Israel melintasi Laut Merah adalah tanda kemenangan yang diperoleh umat beriman melalui Pembaptisan (lih.Kel14:13-31; 1Kor 10:2).
b) Kurban anak domba Paska di Perjanjian Lama merupakan tanda kurban Yesus Sang Anak Domba Allah pada Perjanjian Baru (Kel 12: 21-28; 1 Kor 5:7)).
c) Abraham yang rela mengurbankan anaknya Ishak adalah gambaran dari Allah Bapa yang rela mengurbankan Yesus Kristus Putera-Nya (Kej 22: 16; Rom 8:32).
d) Tabut Perjanjian Lama adalah gambaran dari Bunda Maria, Sang Tabut Perjanjian Baru. Karena pada tabut Perjanjian Lama tersimpan dua loh batu kesepuluh perintah Allah (Kel 25:16) dan roti manna (Kel 25:30); sedangkan pada rahim Maria Sang Tabut Perjanjian Baru tersimpan Sang Sabda yang menjadi manusia (Yoh 1:14), Sang Roti Hidup (Yoh 6:35).

3. Arti moral

Arti moral adalah arti yang mengacu kepada hal-hal yang baik yang ingin disampaikan melalui kejadian-kejadian di dalam Alkitab. Hal-hal itu ditulis sebagai “contoh bagi kita …sebagai peringatan” (1 Kor 10:11).

a) Ajaran Yesus agar kita duduk di tempat yang paling rendah jika diundang ke pesta (Luk 14:10), maksudnya adalah agar kita berusaha menjadi rendah hati.
b) Peringatan Yesus yang mengatakan bahwa ukuran yang kita pakai akan diukurkan kepada kita (Mrk 4: 24) maksudnya agar kita tidak lekas menghakimi orang lain.
c) Melalui mukjizat Yesus menyembuhkan dua orang buta, yang berteriak-teriak, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah kami!” (Mat 20: 29-34) Yesus mengajarkan agar kita tidak lekas menyerah dalam doa permohonan kita.

4. Arti anagogis

Arti anagogis adalah arti yang menunjuk kepada surga sebagai ‘tanah air abadi’. Contohnya adalah:

a) Gereja di dunia ini melambangkan Yerusalem surgawi (lih. Why 21:1-22:5).
b) Surga adalah tempat di mana Allah akan menghapuskan setiap titik air mata (Why 7:17).

Pepatah mengenai ke-4 arti Alkitab

Berikut ini adalah pepatah yang berasal dari Abad Pertengahan:

Huruf [dari kata letter/ literal] mengajarkan kejadian; apa yang harus kau percaya, alegori; moral, apa yang harus kau lakukan; ke mana kau harus berjalan, anagogi.”[5]

Contoh interpretasi Alkitab menggunakan ke-4 prinsip

Maka semua kejadian di dalam Alkitab memiliki makna harafiah, walaupun dapat mengandung arti rohaniah juga. Contohnya adalah kisah Allah menurunkan roti manna di padang gurun (Kel 16).[6]

  • Secara harafiah, memang Allah memberi makan bangsa Israel dengan manna yang turun dari langit selama 40 tahun saat mereka mengembara di padang gurun.
  • Secara alegoris, roti manna menjadi gambaran Ekaristi, di mana Yesus sebagai Roti Hidup adalah Roti yang turun dari surga (Yoh 6:51), menjadi santapan rohani kita umat beriman yang masih berziarah di dunia ini.
  • Secara moral, kisah ini mengajarkan kita untuk tidak cepat mengeluh dan bersungut-sungut (Kel 16:2-3) kepada Allah. Umat Israel yang bersungut-sungut akhirnya dihukum Allah sehingga tak ada dari generasi mereka yang dapat masuk ke tanah terjanji (selain Yoshua dan Kaleb).
  • Secara anagogis, kita diingatkan bahwa seperti roti manna yang berhenti diturunkan setelah bangsa Israel masuk ke Tanah Kanaan, maka Ekaristi juga akan berakhir pada saat kita masuk ke Surga, yaitu saat kita melihat Tuhan muka dengan muka.

Peran Gaya Bahasa dalam Alkitab

Seperti halnya pada sebuah karya tulis pada umumnya, peran gaya bahasa adalah sangat penting. Demikian juga pada Alkitab, sebab Allah berbicara pada kita dengan menggunakan bahasa manusia. Maka kita perlu memahami gaya bahasa yang digunakan, agar dapat lebih memahami isinya. Secara umum, gaya bahasa yang digunakan dalam Alkitab sebenarnya tidaklah rumit, sehingga orang kebanyakan dapat menangkap maksudnya. Dalam hampir semua perikop Alkitab, sebenarnya cukup jelas, apakah pengarang Injil sedang membicarakan hal yang harafiah atau yang rohaniah. Memang ada kekecualian pada perikop-perikop tertentu, sehingga kita perlu mengetahui beberapa prinsipnya:[7]

1. Simili: adalah perbandingan langsung antara kedua hal yang tidak serupa. Misalnya, pada kitab Dan 2:40, digambarkan kerajaan yang ke-empat ‘yang keras seperti besi’, maksudnya adalah kekuatan kerajaan tersebut, yang dapat menghancurkan kerajaan lainnya.

2. Metafor: adalah perbandingan tidak langsung dengan mengambil sumber sifat-sifat yang satu dan menerapkannya pada yang lain. Contohnya, “Jiwaku haus kepada Allah Yang hidup” (Mzm 42:3). Sesungguhnya, jiwa yang adalah rohani tidak mungkin bisa haus, seperti tubuh haus ingin minum. Jadi ungkapan ini merupakan metafor untuk menjelaskan kerinduan jiwa kepada Allah.

3. Bahasa perkiraan: adalah penggambaran perkiraan, seperti jika dikatakan pembulatan angka-angka perkiraan. Misalnya,“Yesus memberi makan kepada lima ribu orang laki-laki” (Mat 14: 21; Mrk 6:44; Luk 9:14; Yoh 6:10) dapat berarti kurang lebih 5000 orang, dapat kurang atau lebih beberapa puluh.

4. Bahasa fenomenologi: adalah penggambaran sesuatu seperti yang nampak, dan bukannya seperti mereka adanya. Kita mengatakan ‘matahari terbit’ dan ‘matahari terbenam’, meskipun kita mengetahui bahwa kedua hal tersebut merupakan akibat dari perputaran bumi. Demikian juga dengan ucapan bahwa ‘matahari tidak bergerak’ (Yos 10: 13-14).

5. Personifikasi/ antropomorfis : adalah pemberian sifat-sifat manusia kepada sesuatu yang bukan manusia. Contohnya adalah ungkapan ‘wajah Tuhan’ atau ‘tangan Tuhan’ (Kel 33: 20-23), meskipun kita mengetahui bahwa Tuhan adalah Allah adalah Roh (Yoh 4:24) sehingga tidak terdiri dari bagian-bagian tertentu.

6. Hyperbolisme: adalah pernyataan dengan penekanan efek yang besar, sehingga kekecualian tidak terucapkan. Contohnya adalah ucapan rasul Paulus, “Semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah” (Rom 3:23); di sini tidak termasuk Yesus, yang walaupun Tuhan juga sungguh-sungguh manusia dan juga tidak termasuk Bunda Maria yang walaupun manusia tetapi sudah dikuduskan Allah sejak dalam kandungan (tanpa dosa asal).

Selanjutnya, ada juga kekecualian juga terjadi pada kondisi berikut:

  1. Jika Alkitab jelas mengatakan bahwa yang disampaikan adalah perumpamaan. Contoh Yoh 10:6 “Itulah yang dikatakan Yesus dalam perumpamaan kepada mereka…” yang kemudian dilanjutkan oleh Yesus, yang mengumpamakan Ia sebagai ‘pintu’ (Yoh 10:7). Demikian juga dengan Mat 13:33 yang mengatakan bahwa Yesus mengajar dengan perumpamaan. Di sini perumpamaan belum tentu terjadi secara nyata.
  2. Interpretasi harafiah dilakukan sejalan dengan akal sehat, namun jika tidak masuk akal, maka tidak mungkin dimaksudkan secara harafiah. Jadi misalnya, pada saat Yesus mengatakan bahwa raja Herodes adalah ‘serigala’ (Luk 13:32), maka kita tidak akan mengartikan bahwa pada waktu itu pemerintah di jaman Yesus dikepalai oleh mahluk mamalia, berambut, berekor, berkuping lancip yang bernama Herodes.
  3. Jika pengartian secara harafiah malah menujukkan kontradiksi pada Allah, maka gaya bahasa yang diucapkan tidak dimaksudkan untuk diartikan secara harafiah. Dalam hal ini penting sekali kita melihat ayat-ayat lain untuk melihat gambaran yang lebih jelas akan makna ayat tersebut. Contoh: Dalam Mat 23:9, Yesus berkata “Jangan memanggil seorangpun sebagai bapa di bumi ini”, padahal baru sesaat sebelumnya Yesus mengulangi perintah ke-4 dari kesepuluh perintah Allah, “Hormatilah ibu bapa-mu” (Mat 19:19) dan Ia juga menyebut Abraham sebagai “bapa” (Mat 3:9). Selanjutnya kita melihat bagaimana Rasul Paulus kemudian menyebut dirinya sendiri sebagai “bapa” bagi umat di Korintus (1 Kor 4:15) dan kepada Onesimus (Flm 10). Maka ayat Mat 23:9 tidak mungkin diartikan secara harafiah. Dalam hal ini, Yesus menggunakan gaya bahasa hyperbolisme untuk menyatakan otoritas ilahi yang mengatasi otoritas duniawi.

Tips utama dan contohnya

Jadi di sini kita perlu mengingat bahwa jika bahasa yang dipakai tidak menunjuk kepada arti figuratif, dan jika tidak ada kondisi kekecualian seperti yang disebutkan di atas, maka kita harus menginterpretasikan perikop secara harafiah, kecuali adanya argumentasi yang sangat meyakinkan untuk mengartikan sebaliknya. Kita tidak boleh memilih-milih ayat mana yang kelihatannya baik dan mudah untuk dicerna, dan mana yang tidak, untuk menentukan apakah dapat diartikan secara harafiah atau tidak. Misalnya, ada banyak orang tidak menyukai adanya neraka, maka mereka menganggap perkataan Yesus tentang neraka hanya sebagai ucapan simbolis. Ini tentu saja keliru! Atau misalnya, banyak orang salah mengartikan perikop tentang Roti Hidup pada Injil Yohanes 6. Mereka tidak dapat menerima ucapan Yesus secara harafiah,“Jikalau kamu tidak makan daging-Ku dan minum darah-Ku, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu; dan barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal …” (Yoh 6:53-54). Mereka mengartikannya bahwa Yesus hanya berbicara secara simbolik saja. Hal ini tentu adalah sikap yang keliru, yaitu mengartikan suatu perikop secara harafiah atau simbolik hanya berdasarkan ‘selera’ saja atau terbatas pada pemikiran yang sempit.

Jika seseorang menganggap perikop Roti Hidup sebagai ‘ayat yang sulit sehingga lebih baik tidak diartikan secara literal tetapi figuratif saja’, maka orang itu memasukkan dirinya dalam golongan orang-orang yang pada jaman Yesus juga menganggap ayat itu terlalu sulit, dan memilih untuk meninggalkan Yesus. “Perkataan ini keras, siapakah yang sanggup mendengarkannya?” (Yoh 6:60). Dan sungguh banyak murid-murid-Nya yang pergi mengundurkan diri dan tidak lagi mengikuti Dia, setelah Yesus mengajarkan demikian. (Yoh 6:66). Jika pengajaran ini hanya bermaksud simbolis, tentu Yesus akan mencegah mereka pergi. Namun Alkitab mengatakan yang sebaliknya. Menanggapi hal ini, Yesus malah bertanya kepada para rasulnya, apakah mereka mau pergi juga. Dan Petrus, mewakili para rasul menjawabNya, “Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? PerkataanMu adalah perkataan hidup yang kekal” (Yoh 6: 68). Maka kita ketahui bahwa hanya para Rasul dan mereka yang setia memegang ajaran ini, adalah mereka yang kepadanya Yesus telah berjanji, “Barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku… ia akan hidup selama-lamanya.” (Yoh 6: 57-58). Sekarang memang kita perlu menilik ke dalam diri kita, termasuk golongan manakah kita ini: yang menerima ayat tersebut secara harafiah ataukah yang figuratif? Jika kita menerima ayat itu secara harafiah sesuai kehendak Yesus, dan kita sudah percaya kepada kehadiran Yesus yang nyata dalam Ekaristi, selanjutnya, apakah sikap kita dalam menyambut Ekaristi sudah mencerminkan iman kita itu?

Contoh yang lain adalah cerita Nabi Yunus yang ditelan oleh ikan besar selama 3 hari (Yun 1:17), sebelum dimuntahkan ke laut. Banyak orang menganggap kisah ini tidak masuk akal, sehingga lebih baik dianggap figuratif saja. Namun bagi kita yang percaya pada Sabda Allah, maka sesungguhnya tidaklah sulit bagi kita untuk percaya bahwa hal ini harafiah terjadi, apalagi kisah inilah yang dipakai oleh Yesus untuk menggambarkan kematian-Nya sebelum Ia bangkit pada hari ketiga (Mat 12:39-41; Luk 11:29-32). Melihat pentingnya misteri wafat dan kebangkitan-Nya, tentulah Yesus tidak sekedar hanya mengambil kisah simbolis, namun kisah yang sungguh terjadi.

Di sini kita melihat, jika kita mulai mempertanyakan terus dan hanya mau menerima apa yang dapat dibuktikan dengan akal, maka kita dapat terjebak pada memilih-milih ayat sesuai dengan keinginan kita, dan akhirnya dapat mempertanyakan segala mukjizat yang ada dalam Kitab Suci. Hal inilah yang dimiliki oleh banyak ahli Kitab suci jaman modern, yang berusaha merasionalisasikan Alkitab, dan sedapat mungkin mencoret unsur mukjizat dan intervensi ilahi. Sikap yang demikian bukanlah sikap yang rendah hati yang disyaratkan untuk membaca Sabda Tuhan, dan kita sungguh perlu berdoa agar kita tidak mempunyai sikap yang demikian.

Kesimpulan

Keempat prinsip untuk menginterpretasikan Alkitab adalah pedoman bagi kita untuk mendapatkan pengertian yang lebih mendalam akan ayat-ayat Kitab Suci. Prinsip-prinsip tersebut membantu kita untuk dapat “membaca dan menginterpretasikan Kitab Suci dengan semangat roh yang sama dengan bagaimana kitab tersebut dituliskan”,[8] dan dengan demikian kita dapat mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh tentang makna ayat-ayat dalam Kitab suci, karena kita melihat juga kaitan satu ayat dengan ayat-ayat yang lain. Sudah menjadi Tradisi Gereja bahwa ayat-ayat Alkitab tidak untuk dipertentangkan satu dengan yang lain, tetapi selalu dilihat dalam satu kesatuan yang utuh dan saling melengkapi. Mari kita belajar dari teladan kebaikan Tuhan, yang walaupun tetap mempertahankan kebenaran dan kekudusan-Nya, telah sedemikian menyesuaikan Diri-Nya untuk menjangkau kita semua dengan menggunakan bahasa manusia. Mari kita melakukan bagian kita, dengan berusaha untuk memahami apa yang hendak disampaikan-Nya kepada kita.


[1] KGK 129

[2] lihat KGK 106

[3] lihat KGK 115-117

[4] St. Thomas Aquinas, Summa Theologiae, I, I, 10 ad 1

[5] KGK 118

[6] Untuk kebih lanjut mengenai ke-4 arti dalam Alkitab ini, silakan membaca buku karangan Mark P. Shea, “Making Sense Out of Scripture: Reading the Bible as the First Christians did (Rancho Santa Fe, CA: Basilica Press, 1999).

[7] Father Frank Chacon & Jim Burnham, Beginning Apologetics 7, How to Read the Bible, (San Juan Catholic Seminars, Farmington, NM, 2003) p. 24-25.

[8] Konstitusi tentang Wahyu Ilahi, Dei Verbum, 12, Vatikan II.

19/12/2018

66
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
25 Comment threads
41 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
30 Comment authors
freedom gloryTribarfinarnoldJohnedie Recent comment authors
freedom glory
Member
freedom glory

halo,,,ada teman protestan mengatakan kalau ayat di mat 26:26 katolik mengartikan secara literal, apakah katolik juga mengatakan kalau Tuhan Yesus terbuat dari kayu ketika Dia mengatakan Akulah pintu Yoh 10:9?(spertinya dia mengutip khotbah pendetanya).
Tolong dibantu cara menjawabnya….

Tribarfin
Member
Tribarfin

Shalom Bu Inggrid serta smua tim Katolisitas. Seorg Muslim mnanyakn interpretasi ayat-ayat Alkitab ini kpd sya mlalu inbox di fb, smpe skarg sya blm reply inbox nya krna msh kurang tau penjelasan yg memadai akan keberatannya tsb. wlaupn di bberapa artikel di Google sudah cba sya search, ttpi penjelasannya sgt amat terbatas. Saya percya situs ini akn mmberikan jwaban yg mantap sprti biasanya. Dsni sya mmuat ayat -ayat nya yg sya kira mrupakn hasil copy paste dri artikel dari sbh website yg kmudian dkirim kpd sya. 1. Ayub 9:6 Yang menggeserkan bumi dari tempatnya, sehingga tiangnya bergoyang-goyang. Ayub 26:11 tiang-tiang… Read more »

arnold
Member
arnold

Adakah situs atau buku yang memuat tentang seluruh penginterpretasian Alkitab menurut Gereja Katolik? Jadi saat saya merenungkan Alkitab, saya bisa mengerti interpretasinya yang sesuai dengan ajaran Katolik. Terima kasih.

[Dari Katolisitas: Silakan membaca tanggapan kami untuk pertanyaan serupa, silakan klik.]

John
Guest
John

Shalom pak Stef & bu Ingrid yg t’kasih Sya prnah t’baca bhwa Yesus Kristus m’mulai stiap pngajaranNya dgn sebutan ‘Amen’. & sya jg prnah melihat petikan alkitab dr t’jemahan Yunani @ Ibrani, yg m’nunjukan Yesus m’guna’n ‘Amen’ dlm m’mulai pngajaranNya. Soalan sya- mngapa dlm alkitab t’jemahan bhsa melayu, baik Indonesia maupn Malaysia tdk ad prkataan ‘Amen’ Yesus ini? Spanjang sya m’bca alkitab bhsa mlayu, sya blum prnah m’jmpai yg m’guna’n cra ini. Mohon p’cerahan. Thanx in advance… Salam damai Kristus [dari katolisitas: Kami tidak pernah mendengar bahwa setiap pengajaran Yesus memulainya dengan Amin. Setahu kami, ada beberapa pengajaran yang dimulai… Read more »

edie
Guest
edie

To Katolisitas

ada pertanyaan tentang maksud perkataan Tuhan Yesus tentang pengajaran sesat? di Matius 7. 15 – 23, kenapa Tuhan sangat marah? ayat ini seperti dikutip oleh St.Agustinus … ” Boleh Puji-puji Tuhan tetapi… dan mirip seperti dalam EENS cuma lebih Tajam dan Terus Terang , pertanyaan apakah EENS mengutip dari ayat Ini [cuma EENS lebih diperhaluskan] ?

terima kasih

[Dari Katolisitas: Menurut pengetahuan kami, perikop Mat 7:15-23 lebih berkaitan dengan peringatan Yesus kepada para murid-Nya agar waspada terhadap para pengajar sesat, namun tidak secara langsung membicarakan tentang EENS. Tentang EENS dan dasar-dasarnya, silakan klik di sini.]

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X