Ekaristi adalah Komuni Kudus

“Kemesraan ini janganlah cepat berlalu”

“Kemesraan ini, janganlah cepat berlalu
Kemesraan ini, ingin kukenang selalu

Hatiku damai, jiwaku tentram di sampingmu
Hatiku damai, jiwaku tentram bersamamu….”

Lagu Iwan Fals ini mungkin akrab di telinga kita. Mungkin karena begitu tepat liriknya mewakili perasaan kita, maka lagu ini begitu populer dan mudah diingat di luar kepala. Ya, memang, kita ingin selalu dekat dengan orang yang kita kasihi.

Inilah yang juga menjadi kehendak Tuhan Yesus bagi kita umat-Nya yang dikasihi-Nya. Yesus ingin selalu hadir di tengah kita, dekat dengan kita, bahkan menjadi satu dengan kita. Kristus menghendaki agar kita selalu mengenang-Nya, dengan mengingat kasih-Nya yang terbesar yang diberikan kepada kita, saat Ia memberikan Tubuh dan Darah-Nya untuk menebus dosa-dosa kita. Pengorbanan-Nya yang tak ternilai harganya ini menjadi tanda cinta-Nya yang tak terbatas kepada Gereja-Nya, yaitu kita semua, anggota- anggota Tubuh-Nya. Oleh kuasa Roh Kudus-Nya, Kristus menghadirkan kembali kurban ini di dalam Ekaristi, untuk maksud yang mulia ini: supaya kita dapat dipersatukan dengan Dia dan mengambil bagian di dalam kehidupan-Nya sendiri; dan dengan demikian sedikit demi sedikit, kita diubah untuk menjadi lebih serupa dengan-Nya.

Sakramen Ekaristi adalah sakramen cinta kasih

Maka, Ekaristi yang mempersatukan kita dengan Kristus, pertama- tama adalah sakramen cinta kasih Allah. Sebab Ekaristi menyatakan ‘kasih yang lebih besar’ yang disebutkan dalam Injil Yohanes, “Tidak ada kasih yang lebih besar daripada kasih seseorang yang menyerahkan nyawanya bagi sahabat-sahabatnya” (Yoh 15:13). ((lih. Paus Benediktus XVI, Sacramentum Caritatis, 1)) Kristus begitu mengasihi kita sahabat-sahabat-Nya, sehingga Ia rela menyerahkan hidup-Nya sendiri, agar kita dapat hidup di dalam Dia. Dalam Ekaristi inilah, kita tidak hanya memperingati kasih pengorbanan Kristus, tetapi juga dapat mengalami kasih-Nya yang tidak terbatas itu, saat kita menyambut Tubuh, Darah, Jiwa dan ke-Allahan-Nya ke dalam tubuh, darah, jiwa dan kemanusiaan kita. Begitu besar dan dalamnya anugerah ini, sehingga layaklah kita menyambutnya dengan ucapan syukur kepada Allah. Dan memang inilah arti kata ‘Ekaristi’, yaitu: ucapan syukur kepada Allah. ((lih. KGK 1328)) Betapa kita sungguh bersyukur, karena kasih-Nya yang mempersatukan kita dengan Dia.

Oleh karena kasih Allah-lah yang pertama-tama kita rayakan dalam Ekaristi, maka Gereja mengajarkan bahwa sakramen Ekaristi adalah “sakramen cinta kasih, lambang kesatuan, ikatan cinta kasih, perjamuan Paska, di mana di dalamnya Kristus disambut, jiwa dipenuhi rahmat, dan kita dikaruniai jaminan kemuliaan.” ((KGK 1323))

“Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu”

Kristus menggambarkan persatuan antara kita dengan-Nya sebagai persatuan antara ranting-ranting dengan pokok anggur.

Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat bertumbuh dari dirinya sendiri, demikian juga kamu tidak dapat bertumbuh jika kamu tidak tinggal di dalam Aku. Akulah pokok anggur dan kamu ranting-rantingnya. Barang siapa tinggal di dalam Aku, ia akan berbuah banyak. Sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.” (Yoh 15:4-5)

Pernahkah kita renungkan, apakah yang dimaksud dengan “tinggal di dalam” Tuhan Yesus? Mungkin banyak orang mengartikannya, kita tinggal dalam Yesus kalau kita rajin berdoa, membaca Sabda Tuhan, dan melaksanakan perintah-perintah-Nya. Ya, semua itu memang mendekatkan kita kepada Tuhan, dan membuat kita hidup di dalam ajaran-Nya.

Namun demikian, secara khusus, Tuhan Yesus menjelaskan secara eksplisit tentang apakah yang dimaksudkan-Nya dengan “tinggal di dalam”-Nya. Kata asli “tinggal” menurut bahasa Yunani adalah μένω, ménō; dan kata yang sama ini digunakan oleh Yesus sewaktu mengajarkan tentang Roti Hidup. Yesus bersabda:

“Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.” (Yoh 6:56-57)

Melalui ayat ini Kristus menjelaskan cara yang dikehendaki-Nya, agar Ia dapat tinggal di dalam kita, yaitu dengan kita makan daging-Nya dan minum darah-Nya. Saat Yesus mengajarkan hal ini, banyak orang yang tidak percaya, atau lebih tepatnya, sulit mempercayai ajaran-Nya, sehingga mereka meninggalkan Dia. Namun Yesus tidak mengubah ajaran-Nya, malah Ia bertanya kepada para rasul-Nya, kalau-kalau mereka juga mau pergi meninggalkan Dia. Syukurlah, Rasul Petrus yang mewakili para rasul, menjawab dengan iman, bahwa mereka tetap percaya kepada-Nya, sebab Kristuslah sang empunya sabda kebenaran (lih. Yoh 6:66-69). Iman para rasul inilah yang dilestarikan terus oleh Gereja Katolik,  secara khusus dalam perayaan Ekaristi, yang merayakan kehadiran Kristus di dalam Sabda-Nya dan di dalam perjamuan kudus-Nya.

Komuni Kudus mempersatukan kita dengan Kristus

Sebagaimana perjamuan mengakrabkan seseorang dengan yang lain, demikianlah saat kita menerima Kristus dalam Ekaristi, kita menjadi akrab dan digabungkan dengan Kristus. Perjamuan ini menjadi kenangan yang hidup akan kasih Tuhan Yesus yang demikian besar kepada kita, sampai Ia mau wafat bagi kita. Kristus memandang kita sebagai pemberian Allah Bapa kepada-Nya, sehingga Ia mau selalu tinggal bersama-sama dengan kita (lih. Yoh 17:24). Maka Yesus mengaruniakan Ekaristi kepada kita Gereja-Nya, untuk mempersatukan kita dengan Dia ((lih. KGK 1391)), sampai kepada akhir zaman (lih. Mat 28:19-20). Karena di dalam Ekaristi terkandunglah keseluruhan harta rohani Gereja, yaitu Kristus sendiri, maka Ekaristi disebut sebagai ‘sumber dan puncak kehidupan Kristiani’. ((KGK 1324)) Demikian juga, karena di dalam Kristus dan misteri Paska-Nya, Allah menyatakan puncak karya keselamatan-Nya, maka perayaan Ekaristi yang menghadirkan kembali misteri Paska Kristus itu secara sakramental, juga merupakan puncak karya Allah untuk menguduskan dunia dan puncak penyembahan umat beriman kepada Kristus, dan melalui Kristus, kepada Allah Bapa di dalam Roh Kudus. ((lih. KGK 1325))

Untuk menangkap kedalaman makna persatuan dan kebersamaan ini, kita perlu merenungkan kedekatan kita dengan orang- orang yang kita kasihi di dunia ini; mungkin saat sebagai orang tua, kita mendekap anak kita, atau kebersamaan antara suami dan istri, atau kedekatan dengan seorang sahabat. Ekaristi adalah persatuan yang melampaui semuanya ini, sebab Ekaristi adalah persatuan dengan Kristus dan melalui Kristus, kita disatukan dengan Allah Bapa dan Roh Kudus. Persatuan kita dengan Kristus inilah yang disebut sebagai “Komuni kudus”, yang menjadikan kita mengambil bagian di dalam Tubuh dan Darah-Nya ((lih. Katekismus Gereja Katolik/ KGK 1331)) dan dengan demikian, juga mengambil bagian di dalam hidup ilahi-Nya. St. Ignatius dari Antiokhia mengatakan dengan indahnya tentang persatuan kita dengan Kristus ini, “Pada pertemuan-pertemuan ini [perayaan Ekaristi], kamu … memecah roti yang satu, yang adalah obat kekekalan, dan penawar racun yang menyingkirkan kematian, namun menghasilkan hidup di dalam kesatuan dengan Yesus Kristus.” ((St. Ignatius of Antioch, Letter to the Ephesians, n.20)) Ya, persekutuan dengan Tubuh dan Darah Kristus, memperteguh persatuan kita dengan Kristus, mengampuni dosa-dosa ringan yang kita lakukan, dan melindungi kita dari dosa berat, sebab dengan menerima sakramen ini, ikatan kasih antara kita dan Kristus diperkuat, dan dengan demikian kesatuan Gereja juga diperteguh. ((lih. KGK 1416))

Ekaristi mempersatukan kita dengan sesama anggota Kristus

Selain mempersatukan kita dengan Kristus, Ekaristi juga mempersatukan kita dengan sesama anggota Tubuh Kristus. Oleh karena kita menerima Kristus yang satu dan sama, kita dipersatukan di dalam Dia yang adalah Sang Kepala kita (lih. Kol 1:18; Ef 5:23). Rasul Paulus mengajarkan, “Bukankah cawan pengucapan syukur, yang atasnya kita ucapkan syukur, adalah persekutuan dengan darah Kristus? Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah persekutuan dengan tubuh Kristus? Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh, karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu.” (1Kor 10:15-16). Ekaristi diberikan sebagai kurban Tubuh dan Darah-Nya, agar dengan mengambil bagian di dalamnya, kita dapat bersatu dengan Kristus dan dengan sesama anggota-Nya menjadi satu Tubuh. ((Lih. KGK 1329))

Kita manusia diciptakan oleh Tuhan untuk menjadi semakin menyerupai Dia, yaitu supaya semakin dapat mengasihi; sebab Tuhan adalah Kasih (1 Yoh 4:8,16). Kasih itu mempersatukan, oleh karena itu sebagai manusia kita menginginkan persatuan, baik dengan Tuhan, maupun dengan sesama kita. Kristus- juga mempunyai kerinduan yang sama: bahwa Ia ingin tinggal bersama semua orang yang percaya kepada-Nya (lih. Yoh 6:56), namun juga Ia ingin agar semua yang percaya kepada-Nya menjadi satu, “Aku berdoa ….juga untuk orang-orang, yang percaya kepada-Ku …. supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, supaya dunia percaya, bahwa Engkaulah yang telah mengutus Aku.” (Yoh 17:21). Maka, persatuan kita dengan Kristus, sepantasnya juga membawa persatuan kita dengan semua orang yang percaya kepada-Nya; sebab hal ini merupakan kehendak Kristus sendiri.

Karena Kristus hanya satu dan Tubuh-Nya juga hanya satu, maka satu jugalah kita semua anggota-anggota-Nya, baik Gereja yang masih berziarah di dunia ini, Gereja yang sudah berjaya di surga, maupun Gereja yang masih dimurnikan di Api Penyucian. Karena semua anggota- anggota Kristus dipersatukan oleh kasih Kristus yang melampaui maut (lih. Rom 8:38-39). Itulah sebabnya di dalam Komuni kudus ini kita mengingat juga persekutuan dengan para kudus di surga, terutama Bunda Maria; ((KGK 1370)) dan kita dapat mengajukan intensi doa permohonan bagi saudara- saudari kita yang telah mendahului kita, yaitu mereka yang ‘telah meninggal di dalam Kristus namun yang belum sepenuhnya dimurnikan’ sehingga mereka dapat memasuki terang dan damai Kristus ((KGK 1371)) yang kekal dalam kerajaan Surga.

Komuni kudus memelihara hidup ilahi

Persatuan kita dengan Kristus dalam Komuni kudus, “melindungi, menambah, dan membaharui pertumbuhan kehidupan rahmat yang diterima dalam Pembaptisan.” ((KGK 1392)) Kita mengetahui bahwa satu berkat tak ternilai dari Pembaptisan adalah: melaluinya kita memperoleh hidup ilahi dan diangkat menjadi anak-anak Allah. ((lih. KGK 1265:  Pembaptisan tidak hanya membersihkan dari semua dosa, tetapi serentak menjadikan orang yang baru dibaptis suatu “ciptaan baru” (2 Kor 5:17), seorang anak angkat Allah (Bdk. Gal 4:5-7); ia “mengambil bagian dalam kodrat ilahi” (2 Ptr 1:4), adalah anggota Kristus (Bdk. 1 Kor 6:15; 12:27), “ahli waris” bersama Dia (Rm 8:17) dan kenisah Roh Kudus (Bdk. 1 Kor 6:19).)) Namun seperti halnya dalam kehidupan jasmani kita memerlukan makanan untuk dapat bertahan hidup, demikian pula, dalam kehidupan rohani. Kita memerlukan makanan rohani agar dapat tetap hidup dan bertumbuh secara rohani. Makanan rohani ini adalah Sabda Allah (lih. Mat 4:4) dan ‘Roti Hidup’/ Ekaristi (Yoh 6:53-58), yang keduanya kita terima dalam perayaan Ekaristi.

Demikianlah Sabda Tuhan Yesus:

Tetapi Yesus menjawab: “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.” (Mat 4:4)

“Akulah roti hidup yang telah turun dari Surga. Jikalau seorang makan dari roti ini, ia akan hidup selama-lamanya….. Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu. Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman. Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman. Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku. Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya.” (Yoh 6:51, 53-58)

Komuni kudus bukti kasih Allah dan pengorbanan-Nya

Maka di atas segalanya, Komuni kudus merupakan bukti cinta kasih Allah. Mungkin ada baiknya kita memeriksa diri sendiri, akan apakah yang ada di pikiran kita pada saat kita melihat hosti yang diangkat oleh imam, saat ia, in persona Christi, mengucapkan perkataan konsekrasi, “Inilah Tubuhku yang dikurbankan bagimu….” (lih. Luk 22:19; 1Kor 11:24). Sesungguhnya, tak ada kata yang mampu melukiskan, betapa dalamnya misteri kasih Allah yang tiada terbatas ini. Kristus yang adalah Allah, telah mengosongkan diri-Nya dengan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi manusia. Dalam keadaan-Nya sebagai manusia, Ia merendahkan diri-Nya, sampai wafat di kayu salib (lih. Flp 2:7-8). Ia membuktikan kasih-Nya yang terbesar, dengan menyerahkan nyawa-Nya bagi kita, sahabat-sahabat-Nya (lih. Yoh 15:13). Kini setelah kebangkitan-Nya, Ia masih terus merendahkan diri-Nya, sampai mau hadir di dalam sepotong roti, agar setiap orang yang tergabung di dalam Gereja-Nya, bahkan seorang anak kecil sekalipun, dapat menyambut-Nya, tanpa perlu merasa takut.

Selain kasih dan kerendahan hati, Komuni kudus mengajarkan kepada kita makna pengorbanan. Dengan melihat teladan pemberian diri Kristus kepada kita, maka kita juga didorong untuk memberikan diri kita kepada orang lain, terutama mereka yang kecil, sakit dan miskin. Kitapun dipanggil untuk mengasihi dan mengampuni sesama kita, karena Kristus lebih dahulu mengasihi dan mengampuni kita. Korban Kristus menjadi saksi yang nyata bahwa pengampunan adalah sesuatu yang tidak mustahil dilakukan. Jika kita mau berkorban untuk mengampuni sesama, kita akan dapat memperoleh buahnya, yaitu kasih yang memulihkan dan mempersatukan. Itulah sebabnya keluarga Kristiani, termasuk di dalamnya pasangan suami istri, perlu menimba kekuatan dari Ekaristi; sebab kesatuan antara mereka dengan Kristus dalam Komuni kudus akan memampukan mereka untuk terus saling mengasihi dan mengampuni; sehingga kesatuan kasih mereka selalu dikuatkan.

Komuni kudus = ‘preview‘ persatuan kekal kita dengan Allah di surga kelak

Karena tujuan akhir kita di Surga kelak adalah persatuan dengan Tuhan, maka Komuni kudus yang kita terima di dunia ini adalah semacam kenyataan yang akan mencapai kesempurnaannya di surga kelak. Di Surga memang kita tidak perlu lagi menerima Komuni dalam rupa hosti; sebab pada saat itu kita telah memandang Allah sebagaimana adanya Dia (lih. 1 Yoh 3:2), sehingga aneka gambaran ataupun simbol tidak lagi diperlukan. Di Surgalah tercapai kesempurnaan di mana kita dapat sepenuhnya bersatu dengan Allah yang telah menciptakan kita manusia dalam kesatuan dengan keseluruhan umat manusia.

Maka Ekaristi menuntun kita semua untuk mencapai tujuan akhir, di mana persekutuan dengan Allah dan sesama mencapai kesatuan yang sempurna, yaitu “keadaan persatuan dengan Kristus, yang pada saat yang sama membuatnya mungkin untuk masuk ke dalam kesatuan yang hidup dengan Allah sendiri, sehingga Tuhan dapat menjadi semua di dalam semua (1Kor 15:28).” ((Joseph Cardinal Ratzinger (Pope Benedictus XVI), Called to Communion, (San Francisco: Ignatius Press, 1991), p. 33)) Katekismus mengajarkan bahwa dengan Komuni kudus kita menerima rahmat ilahi, dan dengan demikian Ekaristi merupakan antisipasi kemuliaan surgawi. ((lih. KGK 1402)) Dengan merayakan Ekaristi, kita menantikan dengan rindu kedatangan Penyelamat kita Yesus Kristus, untuk mengambil bagian di dalam kemuliaan-Nya ((lih. KGK 1040)). “Setiap kali misteri ini dirayakan, terlaksanalah karya penebusan kita (LG 3) dan kita memecahkan “satu roti yang merupakan obat kebakaan, penangkal kematian, dan santapan yang membuat kita hidup selama-lamanya dalam Yesus Kristus” (Ignasius dari Antiokia, Eph. 20,2).” ((KGK 1405))

Betapa perlunya kita mengingat hal ini, setiap kali kita menerima Komuni Kudus: bahwa dengan menerima Komuni ini kita menerima ‘obat rohani’ yang menghantar kita ke Surga.

Bagaimana agar kita dapat semakin menghayati Komuni kudus?

Mengingat begitu dalamnya makna Komuni kudus, maka kita perlu mengetahui sedikitnya tiga hal, agar kita dapat semakin menghayatinya:

1. Mempersiapkan diri sebelumnya

Persiapan diri ini yang dimaksud di sini adalah: membaca dan merenungkan bacaan Kitab Suci pada hari itu, hening di sepanjang jalan menuju ke gereja, datang lebih awal, berpuasa 1 jam sebelum menyambut Ekaristi, memeriksa batin: jika dalam keadaan dosa berat, melakukan pengakuan dosa dalam sakramen Tobat sebelum menerima Ekaristi. ((lih. KHK kan 919, 1; KGK 1385)) Selanjutnya, penting agar kita masuk dalam suasana doa, mempersiapkan batin untuk masuk dalam hadirat Tuhan dan menyambut kehadiran-Nya dalam Komuni Kudus.  Maka mengimani dengan sungguh akan kehadiran Yesus dalam rupa roti dan anggur setelah konsekrasi, merupakan prasyarat utama dalam persiapan batin.

Sikap batin yang baik ini juga diwujudkan dengan tidak ‘ngobrol’, tidak menggunakan handphone ataupun ber-BBM, baik sebelum ataupun pada saat perayaan Ekaristi berlangsung. Sebab jika demikian dapat dipastikan bahwa hati kita tidak sepenuhnya terarah kepada Tuhan.

2. Bersikap aktif: tidak hanya menerima tapi juga memberi kepada Tuhan

St. Thomas Aquinas mengajarkan bahwa penyembahan yang sempurna mencakup dua hal, yaitu menerima dan memberikan berkat-berkat ilahi (lih. St. Thomas Aquinas, Summa Theology, III, q.63, a.2.). Dalam perayaan Ekaristi, kita seharusnya tidak hanya menonton atau sekedar menerima, tetapi ikut mengambil bagian di dalam peran Kristus sebagai Imam Agung dan Kurban tersebut. Caranya adalah dengan turut mempersembahkan diri kita, beserta ucapan syukur, suka duka, pergumulan, dan pengharapan, untuk kita persatukan dengan kurban Kristus ((lih. Lawrence G. Lovasik, The Basic Book of the Eucharist, (Sophia Institute Press, New Hampshire, 1960), p.73)). Kita membawa segala kurban persembahan kepada Tuhan terutama pada saat konsekrasi -saat roti dan anggur diubah menjadi Tubuh dan Darah Yesus. Saat itu kurban kita disatukan dengan kurban Yesus. Kristus, satu-satunya Imam Agung dan Kurban yang sempurna, menyempurnakan segala penyembahan kita. Partisipasi kita secara aktif dalam kurban Kristus ini bukan saja dari segi ikut menyanyi, atau membaca segala doa yang tertulis, melainkan terutama partisipasi mengangkat hati dan jiwa untuk menyembah dan memuji Tuhan, dan meresapkan di dalam hati, segala perkataan doa yang diucapkan ataupun dinyanyikan.

3. Jangan memusatkan perhatian pada diri sendiri tetapi pada Kristus

Untuk menghayati makna Komuni kudus, kita harus memusatkan perhatian kepada Kristus, dan kepada apa yang telah dilakukan-Nya bagi kita, yaitu: karena kasih-Nya kepada kita, Kristus rela wafat untuk menghapus dosa-dosa kita. Dengan memusatkan hati kepada Kristus, kita dapat melihat bahwa segala pergumulan kita tidak sebanding dengan penderitaan-Nya. Kitapun dikuatkan di dalam pengharapan, karena Roh Kudus yang sama, yang telah membangkitkan Kristus dapat pula membangkitkan kita dari dosa dan segala kesulitan kita.

Sungguh, kasih dan pengorbanan Kristus merupakan sumber kekuatan bagi kita untuk menjalani kehidupan ini. Karena itulah Gereja mengajarkan dalam The Enchiridion of Indulgences (Buku ketentuan mengenai Indulgensi) yang dikeluarkan oleh Vatikan tanggal 29 Juni 1968 (silakan klik), bahwa dengan merenungkan pengorbanan Yesus dan luka-luka-Nya di kayu salib sebagaimana dijabarkan dalam doa yang sederhana berikut ini, kita dapat memperoleh indulgensi. Demikianlah doanya yang mengambil dasar dari kitab Mazmur 22: 17-18:

Lihatlah,  Tuhan Yesus yang baik dan lemah lembut, En ego, o bone et dulcissime Iesu.

“Lihatlah kepadaku, Tuhan Yesus yang baik dan lemah lembut, di hadapan-Mu aku berlutut dan dengan jiwa yang berkobar aku berdoa dan memohon kepada-Mu agar menanamkan di dalam hatiku, citarasa yang hidup akan iman, pengharapan dan kasih, pertobatan yang sungguh dari dosa-dosaku, dan kehendak yang kuat untuk memperbaikinya. Dan dengan kasih dan dukacita yang mendalam, aku merenungkan kelima luka-luka-Mu, yang terpampang di hadapanku, yang tentangnya Raja Daud, nabi-Mu, telah menubuatkan perkataan ini yang keluar dari mulut-Mu, ya Tuhan Yesus: “Mereka telah menusuk tangan-Ku dan kaki-Ku; mereka telah menghitung semua tulang-Ku….”

Amin.

Indulgensi Penuh dapat diperoleh dengan mengucapkan doa ini pada hari Jumat di masa Prapaska dan setiap hari di dalam dua minggu sebelum Paskah (masa Passiontide), ketika doa ini diucapkan setelah Komuni di hadapan gambar/ image Kristus yang tersalib. Pendarasan doa ini pada hari-hari lainnya, memperoleh indulgensi sebagian. Tentang persyaratan agar memperoleh indulgensi penuh adalah: 1) mengaku dosa dalam sakramen Pengakuan Dosa; 2) menerima Komuni kudus; 3) berdoa bagi intensi Bapa Paus; 4) tidak ada keterikatan terhadap dosa, bahkan dosa ringan. Selanjutnya tentang Indulgensi, silakan klik di sini; dan tentang Bagaimana Agar Memperoleh Indulgensi, klik di sini.

Dengan mendoakan doa yang singkat di atas, kita diundang untuk meresapkan di dalam hati, bahwa Kristus telah memilih untuk menderita dan menyerahkan nyawa-Nya demi kasih-Nya kepada kita. Betapa kita harus bersyukur atas pengorbanan-Nya itu, yang menyelamatkan kita. Dengan melihat teladan kasih Kristus ini, semoga kita semakin mampu menghindari dosa, dan semakin terdorong untuk lebih mengasihi Tuhan dan sesama kita. Dengan melihat pengorbanan-Nya ini kita dikuatkan untuk juga mau berkorban dalam hidup kita sehari-hari, entah dalam lingkungan keluarga, pekerjaan maupun pergaulan kita dengan sesama.

Di samping itu, perhatian dan penghormatan kepada Kristus mendorong kita untuk berpakaian yang sopan dan layak ke gereja dan untuk sungguh berdoa pada saat kita mengucapkan doa-doa dalam perayaan Ekaristi. Kita harus mengupayakan agar jangan sampai kata-kata doa yang kita ucapkan merupakan kata-kata yang kosong, yang hanya di mulut saja, tetapi tidak sungguh keluar dari hati. Jangan sampai pikiran kita dipenuhi oleh banyak hal lain kecuali Tuhan sendiri. Kita perlu memohon rahmat Tuhan untuk hal ini, namun juga kita harus mengusahakannya, agar dengan sikap batin yang baik, kita dapat menerima buah-buah sakramen Ekaristi ini tanpa sia- sia. ((lih. Konsili Vatikan II, Konstitusi tentang Liturgi Suci, Sacrosanctum Concilium, 11))

Kesimpulan

Ekaristi merupakan bukti nyata kasih Kristus yang terbesar, sebab melaluinya Kristus memberikan diri-Nya sendiri kepada kita sahabat-sahabat-Nya. Kasih Kristus ini demikian sempurna, sehingga tidak saja membawa kita mendekat kepada-Nya, namun lebih dari itu, mempersatukan kita dengan Dia. Maka pertama-tama, sakramen Ekaristi adalah sakramen cinta kasih Allah, yang diberikan-Nya agar Ia dapat bersatu dengan kita dan menyertai kita, Gereja-Nya. Oleh karena persatuan inilah, Ekaristi juga disebut sebagai Komuni Kudus. Komuni Kudus adalah cara yang dipilih oleh Tuhan Yesus untuk tinggal di dalam kita dan kita di dalam Dia. Dengan menyambut Komuni Kudus, kita mengambil bagian di dalam Tubuh dan Darah Kristus dan kita disatukan dengan Kristus dan dengan semua anggota-Nya ((lih. KGK 1331)). Sesuai dengan janji Kristus sendiri, dengan menyambut Tubuh dan Darah Kristus ini, kita memperoleh hidup yang kekal (Yoh 6:54). Dengan digabungkannya kita dengan Kristus, kita memperoleh kekuatan baru untuk mengasihi dan mengampuni, sebagaimana Ia telah lebih dahulu mengasihi dan mengampuni kita. Oleh rahmat-Nya dalam Ekaristi, kita diubah untuk menjadi semakin serupa dengan Dia dalam hal mengasihi. Dalam kasih inilah kesatuan kita dengan Kristus dikukuhkan. Kesatuan antara kita dengan Kristus ini akan mencapai kesempurnaannya di surga kelak, saat Allah menjadi semua di dalam semua (lih. 1Kor 15:28).

Menyadari makna Komuni Kudus ini, mari kita tanyakan kepada diri kita masing- masing, sudahkah kita cukup mempersiapkan diri untuk menyambut-Nya? Mari kita berdoa memohon rahmat Tuhan, agar mata hati kita dicelikkan dan hati kita dikobarkan dalam setiap perayaan Ekaristi, sehingga kita dapat mengatakan hal yang sama seperti yang dikatakan oleh kedua murid Yesus dalam perjalanan ke Emaus: “Mane nobiscum Domine, Tinggallah bersama dengan kami, ya Tuhan Yesus…” (lih. Luk 24:29).

 

Pertanyaan Permenungan:

  1. Bagaimana kita tahu bahwa Kristus memilih Komuni Kudus untuk bersatu dengan umat-Nya?
  2. Mengapa Ekaristi disebut sebagai ‘sumber dan puncak kehidupan Kristiani’?
  3. Apakah efek dari Komuni Kudus?
  4. Bagaimana Komuni Kudus menjadi bukti kasih Allah dan pengorbanan-Nya?
  5. Bagaimana cara kita untuk semakin menghayati Komuni Kudus?
  6. Doa seperti apakah yang baik untuk didoakan setelah menerima Komuni Kudus?
  7. Apakah hubungan antara Komuni Kudus dengan apa yang terjadi di Sorga?

33
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
16 Comment threads
17 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
19 Comment authors
AndyKurchrisJessica Celinne KusnadiHerman Jayyoseph Recent comment authors
AndyKur
Member
AndyKur

Selamat siang dear tim katolisitas.org Perkenalkan saya Andy dari Surabaya. Pertama-tama saya ingin mengucapkan terima kasih untuk situs yang luar biasa ini. Tak salah kalau Tuhan membantu saya menemukan situs ini, karena situs ini mampu menambah iman saya dan mampu menjawab kegalauan-kegalauan saya tentang Tuhan dan imbasnya saya lebih mencintai Tuhan daripada sebelumnya. Terima kasih banyak katolisitas! Nah sekarang saya memiliki pertanyaan yang agak menganggu saya. waktu itu saya sedang pergi berdua dengan teman saya dan saat itu kita sedang asyik membahas tentang Tuhan. Tiba-tiba teman saya berkata begini, “Tuhan itu tidak mau turun dan tinggal di bumi LAGI karena… Read more »

Herman Jay
Member
Herman Jay

Misa Virtual dan Jarak jauh Kemajuan teknologi komunikasi memungkinkan umat mengikuti upacara misa secara lengkap ( dari awal samapai akhir ) yang terjadi jauh dari kediamannya , sejauh diliput oleh TV atau para hobbiest atau pakar telekomunikasi . Sebenarnya dengan cara demikian , umat dapat mengikuti misa tanpa harus ke gereja, karena gereja dalam arti gedung, adalah rumahnya sendiri. Sekumpulan umat dapat berkumpul juga di rumah tetangganya yang cukup luas dengan mengikuti misa jarak jauh . Dengan teknologi demikian, sebenarnya misa juga dapat dinikmati oleh umat tanpa harus ke gereja. Dengan demikian, kita tidak usah direpotkan dengan pengumpulan dana dan… Read more »

yoseph
Guest
yoseph

Salam,
Saya ingin bertanya, jika kita terlewat untuk menghadiri misa kudus apakah kita boleh menerima komuni?

Terima kasih.

Imam Subagyo Yohanes
Guest
Imam Subagyo Yohanes

Dear Sir,
saya punya pertanyaan, bila dalam 1 hari ada dua kali Misa, yang berbeda jamnya, dan harus menghadiri keduanya, apakah harus sambut komuni dua2nya?

brian susanto
Guest
brian susanto

dear katolisitas, Waktu paskah yang lalu, saya melihat seorang anak menerima komuni. Saya tahu benar bahwa anak itu belum terima komuni pertama. Pastor yang membagikan komuni adalah pastor tamu. Jadi dia tidak tahu, karena memang anak kecil itu maju dan menyodorkan tangan layaknya orang mau terima komuni. Setelah menerima tubuh Kristus, anak itu langsung menyantapnya. Ketika saya sampaikan kepada petugas, jawabannya agak mengejutkan saya. Dia bilang bahwa hosti yang diterima anak itu hanya roti karena ia belum mengimaninya. Artinya, hosti itu menjadi tubuh Kristus jika yang menerima-Nya mengimani-Nya. Saya mohon penjelasan dari katolisitas, apa memang demikian. Karena bagi saya, ketika… Read more »

brian susanto
Guest
brian susanto

Pertanyaan saya berikutnya, apakah anak itu berdosa?

Salam,
brian

[Dari Katolisitas: Tergantung dari apakah anak itu tahu atau tidak jika Gereja mensyaratkan bahwa seseorang harus mengikuti persiapan sebelum menerima Komuni Pertama, agar ia dapat memperoleh pengetahuan dan ajaran yang benar tentang Ekaristi. Jika anak itu tidak tahu, maka kesalahannya termasuk ringan, namun kalau ia tahu namun mengabaikannya, maka kesalahannya lebih berat. Tentang apakah itu dosa ringan dan berat, silakan membaca di sini, silakan klik].

pieter
Guest
pieter

Shalom katolisitas, beberapa waktu yang lalu saya sempat beradu argumen dgn kerabat2 saya dari protestan karena bagi mereka hosti hanyalah gambaran tubuh kristus saja dan bukan tubuh kristus sendiri. Bagaimana penjelasan yang sebenarnya mengenai hal ini? Terima kasih

[dari katolisitas: Silakan melihat beberapa artikel tentang Ekaristi ini – silakan klik]

dollares fransxaver:)
Guest
dollares fransxaver:)

Ytk Katolisitas.org. Langsung saja ku tuliskan, dan mohon balasan “bimbingan” atau tanggap-jawabannya ke fxdollares@yahoo.com. Ini bukan tafsiran tapi hanya permenungan yang kudapat. Aku masih “menguji” karena tak mau sesat,maka dalam pengujian ini kutuangkan juga disini.(Mohon ditanggap lho ya) Ini tentang mengapa Yesus memberikan Tubuh dan DarahNya bagi jiwa-jiwa yang dijanjikan keselamatan di dalamNya. “Roh Kudus telah mendapatkan tempatNya bersemayam pada rahim perawan Maria nan suci tak bernoda,yang kemudian lahir Anak Kudus dan bertumbuh menjadi Anak Manusia. Tubuh Yesus, Anak Manusia, kita sebutkan adalah Tubuh spesial meskipun TubuhNya juga terkuak, meluka dan berdarah seperti adanya tubuh kita. Kata lain Roh Kudus… Read more »

stefanus
Guest
stefanus

salam
saya mahasiswa katolik ingin bertanya berkaitan dengan dokumen yang di keluarkan oleh Paus Paulus Yohanes II yaitu Ensiklik Ecclesia de Eucharistia.
pertanyaannya sebagai berikut
1. Apa Latar belakang munculnya ensiklik tersebut?
2. Bagaimana Ekaristi membangun persekutuan dalam tinjauan Ensiklik Ecclesia de Eucharistia?
3. bagaimana usaha membangun persekutuan dalam pastoral Gereja Katolik?

demikian pertanyaan sementara saya
atas jawaban dan perhatiannya saya ucapkan banyak terimakasih

[Dari Katolisitas: Mohon maaf, apakah pertanyaan ini adalah tugas kuliah Anda? Jika ya, silakan membaca sendiri surat ensiklik tersebut, karena memang sangat bagus, dan dari membaca itu, Anda akan dapat menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan yang Anda tuliskan tersebut].
salam dan doa dari saya

suwandi

fonny (Malaysia)
Guest
fonny (Malaysia)

Shallom Bu & Pak,

saya mahu minta tolong sama bu & pak,boleh ngak jelaskan kepada saya perjalanan liturgi katolik? walaupun saya katolik, cuma masih ada beberapa hal dalam liturgi yang saya masih kurang tahu.sebagai contoh,

1.semasa kita berkata ” Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya, tetapi bersabdalah, maka saya akan sembuh”….selepas di ucapkan itu, perlu doa lagi ka?

2.selepas menerima roti, duduk di tempat sendiri, kita makan roti, apa yang harus di doakan ya?

3.dan akhir misa,sebelum balik ke rumah masing-masing, kita harus berdoa kan…sebaiknya doa apa ya ?

salam damai

LEX
Guest
LEX

SELAMAT MALAM, SAYA MAU BERTANYA,BERDASARKAN PERNYATAAN INI, “Kristus menjelaskan cara yang dikehendaki-Nya, agar Ia dapat tinggal di dalam kita, yaitu dengan kita makan daging-Nya dan minum darah-Nya.”, “Ekaristi merupakan bukti nyata kasih Kristus yang terbesar, sebab melaluinya Kristus memberikan diri-Nya sendiri kepada kita sahabat-sahabat-Nya”.
SAYA MASIH BINGUNG,, JADI SEBENARNYA YANG DIMAKSUD EKARISTI ITU DI MANA KITA MAKAN DAGING-NYA DAN MINUM DARAH-NYA ADALAH PERAYAANNYA(PERAYAAN EKARISTI), KOMUNI(MENERIMA HOSTI), TUBUH KRISTUS ITU SENDIRI ATAU APA..? TERIMA KASIH.

Moniq
Guest
Moniq

Shalom Bu Ingrid dan Pak Stefanus,
ada yang ingin saya tanyakan: menerima komuni yang benar sesuai ajaran Gereja Katolik apakah dengan tangan atau langsung dengan lidah? Ada teman saya yang menerima dengan lidah dng alasan spy tubuh Kristus tidak dikotori oleh tangannya.
Jika saat penerimaan komuni kita diminta untuk mengambil sendiri hosti dan mencelupkannya di piala anggur apakah dibenarkan?
Terima kasih sebelumnya. Tuhan Yesus memberkati.

[dari katolisitas: menerima komuni dengan tangan atau lidah – silakan klik dan cara menerima komuni dua rupa – silakan klik]

Zita
Guest
Zita

Salam Damai,
Berapa kali seorang umat dapat mengambil komuni dalam misa mingguan (sabtu/minggu) ?
Saat ini suami seorang prodiakon, anak tertua saya seorang misdinar dan dalam beberapa bulan kedepan anak kedua akan menjadi putri altar. Di gereja kami untuk misa mingguan 6 kali(2 kali di hari sabtu dan 4 kali di hari minggu). Jadwal tugas tidak memungkinkan diminta di hari dan jam yang sama. Apakah saat menemani suami/anak untuk ke-2 atau ke-3 kalinya pada misa mingguan saya tidak perlu ikut komuni ? Apa saran katolisitas mengenai kondisi ini ?
Terima kasih atas sarannya.
Tuhan Memberkati.

Zita

frans benedict
Guest

Shalom Ibu Ingrid dan Pak Stefanus, Terima kasih yg berlimpah pada Bapak dan Ibu, yang sekali lagi mampu memberi pemahaman akan Iman katolik dengan media internet. Saya merasa terbantu dengan membaca artikel dan ulasan2. Dengan rutinitas saya saat ini, yang kadang memberi jarak pada aktifitas pada komunitas gereja (ibadah lingkungan; komunitas basis), serta Majalah ataupun sejenisnya yang tak saya jumpai(atau belum di jumpai) di tempat saya sekarang berkarir, media internet dan webiste Bapak Dan Ibu, menjadi “TEH HANGAT” Di kala pagi hari dan SEGELAS SUSU penyejuk sebelum Tidur. Semoga Karya Kerasulan Pak Stef dan Ibu Inggrid senantisa limpahan kemudahan. Salam… Read more »

fonny
Guest
fonny

Shalom, Bu.. hari ini hari Minggu, memang kewajipan kita Katolik pergi ke gereja, tetapi hari ini, saya tidak dapat hadir ke gereja kerana beberapa hal seperti tidak punya teman ke gereja, sebab suamiku ke stadium kerana bertugas sebagai juru latih atlet (hari ini, ada pertandingan sukan di bandar dan suamiku ditugaskan sebagai juru latih). Saya pula menemani suami tetapi hanya menunggu di penginapan di bandar. Suami ku mahu pergi tapi dia terikat tugasnya. saya ada beritahu suami saya, yang saya mahu ke gereja di bandar itu tapi suami menasihati, bahaya kalau tidak ada teman berjalan di bandar. Jadi saya hanya… Read more »

Yudi Purnomo Lie
Guest
Yudi Purnomo Lie

Shalom P. Stefanus, Terima kasih penjelasannya. Saya jadi paham sekarang. Ada satu lgi yang ingin saya tanya kalau boleh. Di setiap misa, Romo selalu melakukan pencampuran tubuh dan darah Yesus. Pada beberapa misa di rumah retreat saat komuni, tubuh Yesus dicelup ke darah Yesus. Padahal dalam alkitab diwartakan bahwa saat perjamuan terakhir Yudas Iskariot (yg mengkhianati Yesus) yg melakukan hal ini. Kenapa. Justeru kita melakukan serupa? Terima kasih, Tuhan Yesus memberkati. [Dari Katolisitas: Pertanyaan serupa sudah pernah ditanyakan oleh Fxe, di sini, silakan klik (mohon membaca alinea terakhir pertanyaan tersebut; dan silakan membaca tanggapan kami di bawah pertanyaan tersebut. Terdapat… Read more »

Yudi Purnomo Lie
Guest
Yudi Purnomo Lie

Shalom P. Stefanus,
Terima kasih. Sekarang saya jadi semakin paham.

Tuhan memberkati.

Yudi Purnomo Lie
Guest
Yudi Purnomo Lie

Syallom Ibu Inggrid. setelah membaca artikel Ibu saya jadi lebih paham tentang manfaat ekaristi. tapi ada yang masih ingin saya tanyakan kepada Ibu. dalam ayat di kitab suci (perjamuan terakhir) ada roti dan anggur. lalu diakhir Yesus berkata lakukan ini untuk kenangan akan Daku. tetapi kenapa kita sebagai umat Katolik hanya menyambut tubuh Kristus? berarti dalam mengenangkan Kristus ada yang kurang? terus kata beberapa teman yang beragama Kristen jika kita menyambut perjamuan setiap hari akan mengurangi kesakralan perjamuan suci tersebut. apa benar demikian? padahal di Gereja Katolik ada misa harian. jika ada yang keliru saya minta maaf, saya tidak paham… Read more »

Stefanus Tay

Shalom Yudi Purnomo lie, Menyambut Tubuh saja atau Darah saja atau keduanya mempunyai arti yang sama, karena keseluruhan Kristus (Tubuh, Darah, Jiwa dan ke-Allahan Kristus) hadir dalam rupa roti dan anggur dan dalam setiap partikel roti dan partikel anggur. Tentang hal ini, Anda dapat membacanya dalam tanya jawab ini – silakan klik. Apakah kalau sering mengungkapkan kasih akan mengurangi kesakralan? Tentu saja tidak. Kalau kita ingin mengenang orang yang kita kasihi, maka kita ingin melakukannya sesering mungkin dan bukan hanya sebulan sekali. Bahkan kurban kasih yang kita terima setiap hari dalam Ekaristi Kudus akan semakin mengingatkan kita akan kasih Allah… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X