Efek-efek negatif kontrasepsi

Pertanyaan :

Terima kasih saya bisa mengerti secara teori penjelasan ibu, bagi saya agak kasihan posisi dokter dalam konteks tersebut kalau dijawab seperti di atas. Dan inilah yang sering membingungkan saya: antara sebuah teori dan praktek di lapangan. Dokter melakukan tugasnya dan selama proses belajar bertahun-tahun menjadi dokter, KB non alami juga termasuk materi bagi seorang calon dokter karena itu adalah materi umum kedokteran. Dan ketika dia bekerja di sebuah rumah sakit (Katolik atau non Katolik), apakah dokter bisa menolak jika ada pasien yang datang kepadanya minta KB non alami? Pasien yang datang kepada dokter dari berbagai macam keyakinan, dan pasien sekarang tahu ada begitu banyak metode KB, pasien juga tahu bahwa dokter belajar KB non alami.

Teman saya dokter selalu merasa bersalah, kalau dia melakukan KB non alami yg diminta pasien, dia tahu kalau ajaran Katolik tidak membolehkan itu, dan justru di situlah problemnya. Apakah dia harus meninggalkan pekerjaan dokternya yg dia pelajari bertahun-tahun dengan penuh penderitaan? Bukankah sebenarnya ajaran moral bukan untuk mempersalahkan tetapi membantu orang untuk hidup baik? Terima kasih atas share jawabannya

-Feliz-

Jawaban :

Shalom Feliz,

Terima kasih atas tanggapannya lebih lanjut. Kita semua tentu setuju bahwa ilmu kedokteran dan ilmu kesehatan manusia pada dasarnya dan pertama-tama adalah ilmu yang bertujuan untuk menyejahterakan hidup manusia, bertujuan untuk menyelamatkan manusia dari gangguan kesehatan yang membahayakan hidupnya, dan dikembangkan terus untuk memberikan kualitas hidup yang lebih baik kepada manusia melalui penanganan kesehatan yang baik. Seorang dokter yang mempelajari dengan sungguh-sungguh apakah sebenarnya KB non alami itu (untuk selanjutnya KB non alami akan saya sebut dengan istilah “kontrasepsi” karena bekerja dengan cara menghalangi konsepsi, yaitu pembuahan awal terbentuknya embrio manusia), mempelajari dengan seksama bagaimana cara kerjanya, dan apa saja dampaknya secara keseluruhan kepada tubuh manusia, tentu akan bertindak sangat hati-hati. Bahkan jika kesehatan pasien yang sungguh-sungguh menjadi perhatian dan tujuan utama pekerjaannya, seorang dokter dari hati nuraninya yang terdalam tidak akan memilih alat kontrasepsi sebagai sarana KB bagi para pasiennya. Apalagi kalau dokter itu adalah seorang Katolik, yang dengan pengetahuan akan terang pengajaran Gereja Katolik mengenai pengaturan kelahiran, akan dengan sungguh-sungguh menghindari pemasangan alat kontrasepsi, karena sangat jelas ditegaskan oleh ajaran Gereja, mengenai larangan pemakaian kontrasepsi. Kami sudah menjelaskan di jawaban sebelumnya, alasan Gereja melarang pemakaian alat kontrasepsi, yang menghancurkan kehidupan embrio di usianya yang sangat awal. Selain itu, kontrasepsi mengingkari prinsip union dalam relasi suami isteri yang tidak bisa dilepaskan dari aspek prokreasi yaitu terbuka terhadap kemungkinan terbentuknya kehidupan yang diciptakan Allah Bapa, melalui hubungan seksual yang kudus dan penuh kasih penghargaan di antara suami dan istri. Dan dengan kapasitasnya sebagai seorang dokter Katolik, ajaran Gereja mengenai KB alami sebagai sarana pengaturan kelahiran yang tidak menyalahi prinsip union dan prokreasi serta tidak membunuh kehidupan, dapat menjadi perhatian utamanya untuk dipelajari sungguh-sungguh dan disajikan kepada pasien sebagai sarana memenuhi kebutuhan mereka terhadap sarana KB. Apalagi KB alamiah tidak memerlukan biaya apapun dan tidak mempunyai efek samping negatif kepada tubuh manusia, khususnya wanita.

Ajaran Gereja yang adalah amanat Allah Bapa pencipta kehidupan tidak akan bertentangan dengan prinsip-prinsip kemanusiaan dan kelestarian kehidupan, namun justru akan semakin memuliakan hidup dan menopangnya dengan kekuatan yang kudus dan bersifat tahan lama. Ajaran sejati tentang kehidupan tidak akan melawan kehidupan dan membuatnya lebih buruk atau lebih susah, tetapi justru akan mengangkat derajat dan martabatnya kepada keadaan yang mulia seperti yang dirancang sedemikian indah sejak semula oleh Penciptanya. Dan persis seperti itulah pelaksanaan dan akibat-akibat dari ajaran Gereja mengenai kehidupan dan keluarga berencana, jika kita melakukannya dengan sungguh-sungguh. Oleh karena itu saya sangat tertarik dengan kalimat Anda sebagai berikut: Bukankah sebenarnya ajaran moral bukan untuk mempersalahkan tetapi membantu orang untuk hidup baik? Untuk menanggapi pernyataan Saudara ini, perkenankan saya menterjemahkan sebuah artikel yang diambil dari sumber ini :
http://onemoresoul.com/contraception/risks-consequences/what-a-woman-should-know-about-birth-control.html

Namun sebelum saya memulai, adalah penting untuk mengingat latar belakang yang pertama kali mendasari keputusan Gereja melarang pemakaian alat kontrasepsi, yaitu karena Gereja pertama-tama hendak tunduk sepenuhnya kepada Pencipta Kehidupan, yang adalah pemegang tunggal otoritas akan kehidupan manusia, melalui Firman-Nya dalam Mzm 139:13 Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku dan dalam Mzm 139:16 : mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya. Kedua ayat ini melahirkan iman Gereja Katolik bahwa dalam stage yang paling awal sejak bertemunya sel telur dengan sperma di dalam tubuh wanita, Tuhan telah menciptakan kehidupan dan membuatnya terus berkembang melalui tahapan selanjutnya. Tetapi adalah bukan suatu kebetulan, bahwa perkembangan sejarah dan perjalanan hidup manusia di dunia ternyata menunjukkan kepada kita fakta-fakta kebenaran yang sulit terbantahkan bahwa ajaran Gereja mengenai KB alamiah dan persatuan cinta sejati yang terbuka kepada kehidupan antara suami dan istri ternyata memang membuat keseluruhan sendi-sendi hidup keluarga dan masyarakat secara utuh menjadi lebih baik jasmani dan rohani, lebih mulia, dan sesuai dengan martabatnya yang mula-mula dari Tuhan. Setelah alat-alat kontrasepsi berkembang sebegitu rupa dalam dunia modern ini untuk memenuhi kebutuhan pengaturan kelahiran manusia, inilah fakta-fakta dari dunia penelitian kedokteran mengenai alat-alat kontrasepsi yang semuanya adalah zat dan benda tambahan yang dimasukkan atau dipasangkan kepada tubuh wanita dan pria, terutama wanita. Pada saat saya menterjemahkan secara bebas artikel di bawah ini, terngiang dalam benak saya prinsip yang pernah diajarkan oleh St Agustinus, bahwa jika kamu berontak melawan alam, maka alam akan berontak melawan kamu. Inilah artikel mengenai efek-efek samping pemakaian kontrasepsi yang saya terjemahkan secara bebas dari sumber yang telah saya sebutkan sebelumnya.

Efek Negatif Penggunaan Berbagai Metode Kontrasepsi

Pil KB – mengandung kombinasi dua tipe hormon artifisial yang disebut estrogens dan progestins. Cara kerjanya adalah menghambat ovulasi, menghambat transportasi sperma, dan mengubah sifat permukaan dari dinding rahim, sehingga kalaupun pembuahan berhasil terjadi, hasil pembuahan itu akan gugur karena tidak mendapat nutrisi yang cukup dari dinding rahim tempatnya menempel untuk pertama kali (atau dengan kata lain terjadi aborsi dini).

Efek samping yang merugikan kesehatan: Pil KB meningkatkan resiko kanker panyudara menjadi 40 % lebih tinggi jika diminum sebelum seorang wanita melahirkan bayi pertamanya, dan resiko itu meningkat menjadi 70 % bila pil itu digunakan selama empat tahun atau lebih sebelum wanita melahirkan anak pertamanya. Efek negatif lain adalah tekanan darah tinggi, pembekuan darah, stroke, serangan jantung, depresi, kenaikan berat badan, dan migren. Beberapa wanita yang berhenti minum pil KB ternyata siklus haidnya tidak kunjung kembali, sampai selama setahun bahkan lebih. Walau pil KB mengurangi resiko kanker rahim dan kanker indung telur, ia meningkatkan resiko kanker payudara, kanker liver, dan kanker leher rahim. Studi juga menunjukkan bahwa virus AIDS menular lebih mudah pada wanita yang mengkonsumsi pil KB, jika suaminya mengidap HIV.

Suntik KB – Biasa dikenal dengan Depo Provera, suatu hormon progestine yang bekerja perlahan, disuntikkan di otot setiap tiga bulan sekali. Cara kerjanya adalah dengan mengurangi ovulasi, dengan menghambat transportasi sperma dan mengubah sifat permukaan dinding rahim.

Susuk KB – Atau dikenal dengan istilah Norplant, juga suatu hormon progestin yang dimasukkan dalam tabung kecil terbuat dari semacam bahan karet yang ditanam di bawah kulit untuk jangka waktu sampai dengan lima tahun.

Baik suntik maupun susuk dapat mengakibatkan aborsi dini bila pembuahan tetap berhasil terjadi. Hal itu terjadi akibat perubahan fisik dinding rahim sehingga tidak lagi mampu memberi nutrisi yang cukup untuk embrio dapat menempel dan tumbuh. Aborsi yang tidak disadari oleh wanita pemakai Norplant ini dapat terjadi lebih dari satu kali dalam setahun karena rata rata wanita berovulasi dalam lebih dari 40 % siklus suburnya saat memakai Norplant. Depo Provera mungkin menghasilkan efek yang sama karena bahannya sama-sama hormon jenis progestin. Efek negatif kepada kesehatan: penelitian menunjukkan, wanita yang memakai Depo-Provera selama dua tahun atau lebih sebelum usia 25 tahun mempunyai resiko lebih tinggi 190 % untuk menderita kanker payudara. Selain itu Depo Provera mengurangi kepadatan massa tulang dan memperburuk kadar kolesterol. Sebuah studi menunjukkan wanita yang menerima suntikan progestin selama lima tahun mengalami peningkatan resiko sebanyak 430 % untuk menderita kanker leher rahim. Tingkat resiko tertular HIV juga meningkat 240 %. Di Amerika lebih dari 50 ribu wanita terlibat dalam aksi menuntut secara hukum melawan produsen Norplant, dengan mengeluhkan berbagai efek samping yang mereka alami seperti perdarahan yang tak teratur dan nyeri otot.

Ada banyak macam lagi hormon artifisial pencegah kehamilan yang beredar di pasaran dalam berbagai bentuk seperti plester KB, aneka jenis pil, dan injeksi bulanan, yang semuanya bekerja berdasarkan prinsip yang sama dengan yang terkandung dalam pil KB sehingga juga memberikan efek negatif yang kurang lebih sama. Semua kontrasepsi hormonal juga dapat mengakibatkan kondisi ketidaksuburan (infertilitas) yang berkepanjangan setelah pemakaian kontrasepsi itu dihentikan, sehingga membuat pasangan yang ingin punya anak lagi atau sudah memutuskan untuk siap punya anak, menjadi sulit punya anak.

Metode KB dengan penghalang (barrier method)

Kondom – mempunyai catatan angka kegagalan antara 10 – 30 % karena robek atau bocor dalam pemakaian, juga karena cacat produksi, atau kerusakan akibat proses pengepakan, pengiriman, dan penyimpanan di dalam suhu yang terlalu panas atau terlalu dingin.

Efek samping yang merugikan kesehatan : kondom tidak cukup mencegah penularan virus AIDS. Penelitian dengan mikroskop elektron menunjukkan bahwa rata-rata kondom memiliki lubang pori sebesar 50 kali lebih besar daripada partikel virus HIV.

Metode-metode KB dengan penghalang seperti diafragma (penghalang sperma yang dimasukkan dalam vagina), kondom, serta metode penarikan penis keluar dari vagina saat ejakulasi, memang tidak mengakibatkan aborsi dini. Namun sebuah penelitian menunjukkan metode-metode itu meningkatkan resiko terjadinya pre-eklamsia (komplikasi kehamilan yang disertai naiknya tekanan darah, penahanan cairan, dan kerusakan ginjal) yang dapat membawa pada keadaan tak sadarkan diri dalam waktu yang lama, bahkan koma. Studi menunjukkan bahwa paparan sperma pada wanita mempunyai peran melindungi kehamilan dari pre eklamsia.

Spermisida – zat pembunuh sperma yang umumnya dijual dalam bentuk gel atau terkandung dalam suatu spons vagina. Toxic Shock Syndrome (sindroma kejang karena keracunan) dihubungkan dengan pemakaian spons spermisida. Seorang peneliti mengamati bhw pasangan yang menggunakan spermisida, dalam sebulan setelah pembuahan terjadi, menerima resiko dua kali lipat melahirkan bayi yang cacat, dan dua kali lipat resiko keguguran.

IUD / intra uterine device – alat berbentuk huruf “T” ini dibuat dari bahan plastik keras, kadang mengandung tembaga atau zat hormon kontrasepsi. Dokter memasukkan alat ini ke dalam rahim wanita. Cara kerjanya adalah dengan mengiritasi dinding rahim dan menghalangi transportasi sperma.

Ketika terjadi pembuahan pada wanita dengan posisi IUD terpasang, alat ini dapat mencegah implantasi embrio dalam rahim, atau menghancurkan embrio yang baru terbentuk akibat racun tembaga dari IUD tersebut, atau melalui penyerangan oleh sistem imun tubuh ibu, sehingga terjadi aborsi dini.

Efek samping yang merugikan kesehatan: pemakaian IUD dapat menimbulkan perforasi rahim yang di kemudian hari bisa mengakibatkan pengangkatan rahim. Juga infeksi, semisal abses (bengkak) pada saluran tuba dan indung telur. Pemakaian IUD juga dikaitkan dengan meningkatnya resiko PID (Pelvic Inflammatory Disease) yaitu radang rongga panggul dan kehamilan ektopik. Kehamilan ektopik adalah keadaan di mana embrio janin tidak menempel di dinding rahim seperti seharusnya, tetapi di tempat lain yang abnormal, biasanya di saluran tuba falopii. Wanita yang memakai IUD selama tiga tahun atau lebih mempunyai resiko dua kali lebih besar untuk mengalami kehamilan di tuba falopii dibandingkan wanita yang tidak pernah memakai IUD. Pemakai jangka panjang bahkan masih terus mengalami peningkatan resiko terjadinya kehamilan ektopik bertahun-tahun setelah IUD dilepas. Di Amerika, kehamilan ektopik masih merupakan penyebab utama kematian bayi pada saat dilahirkan. Efek lain IUD adalah nyeri punggung, kram, dyspareunia (sakit saat bersanggama), dysmenorrhea (nyeri haid), dan ketidaksuburan (infertility).

Sterilisasi permanen : ligasi tuba dan vasektomi – Suatu tindakan operatif sebagai langkah sterilisasi secara permanen sehingga seseorang tidak pernah bisa berketurunan lagi. Ligasi tuba adalah menutup saluran tuba falopii pada wanita. Vasectomi adalah tindakan menutup saluran vas deferens (saluran tempat keluarnya sperma) dengan cara mengikat pipa saluran itu, atau kadang dengan cara memotong, membakar, atau mengangkat sebagian dari saluran itu.

Efek samping bagi kesehatan: Ligasi tuba tidak selalu berhasil mencegah kehamilan. Ketika pembuahan tetap terjadi, kemungkinannya lebih besar untuk terjadi kehamilan ektopik, yang merupakan penyebab utama kematian wanita hamil. Tambahan pula, wanita yang menjalani ligasi tuba bisa mengalami komplikasi dari proses anestesi atau pembedahannya. Komplikasinya misalnya perlubangan pada kandung kemih, perdarahan, dan bahkan berhentinya detak jantung setelah proses penggelembungan rongga perut dengan karbondioksida. Beberapa wanita juga sesekali mengalami perdarahan vagina yang berhubungan dengan nyeri yang akut di perut bagian bawah. Efek lain adalah mengurangi kenikmatan seksual, melemahkan gairah seksual, dan memperbesar resiko rahim harus diangkat seluruhnya (hysterectomy) setelah menjalani ligasi tuba. Oleh karenanya, penyesalan yang dalam setelah menjalani sterilisasi cukup umum ditemukan.
Sekitar 50% pria yang menjalani vasektomi menanggung resiko tubuhnya lantas membentuk antibodi anti-sperma. Artinya, tubuh mereka akan menganggap bahwa spermanya sendiri adalah zat asing yang harus dilumpuhkan. Hal ini meningkatkan resiko penyakit-penyakit auto imun. Beberapa penelitian menunjukkan pria yang menjalani vasektomi menghadapi resiko lebih besar untuk mengidap kanker prostat, terutama setelah 15 sampai 20 tahun sesudah vasektomi, walau sebuah studi lain tidak menemukan hubungan itu.

Perencanaan KB secara alami (KB alamiah)

Perencanaan kelahiran secara alami (KB alami) adalah metode yang sepenuhnya alami di mana suami istri dapat mengatur kesuburan mereka. Wanita dapat menentukan kapan masa suburnya dengan mengamati lendir kesuburan yang keluar dari vagina. Badan kesehatan dunia WHO telah menemukan angka kegagalan metode KB alamiah ini hanya sebesar 0.3 % – 3 %, tingkat keberhasilan yang kurang-lebih sama dengan yang dicapai oleh KB non alami (kontrasepsi) kecuali sterilisasi. KB alami tidak membutuhkan biaya apapun dan tidak menimbulkan peningkatan resiko terhadap penyakit kanker. Di Amerika, pasangan dengan KB alami yang mengalami perceraian hanya 5 %, jauh lebih kecil dari prosentase pasangan dengan kontrasepsi yang bercerai yaitu sekitar 50 %.

Lebih lanjut mengenai metode KB alamiah yaitu Metode Creighton, dapat Anda pelajari dalam artikel yang ditulis Ingrid Listiati,

silahkan klik di sini
————————————————————————————————————–
Semua fakta tentang efek negatif alat kontrasepsi di atas adalah hukum alam, bukan hukum Gereja, tetapi di sini kita bisa melihat bahwa hukum Tuhan yang dikaruniakanNya melalui Gereja-Nya tidak mungkin dan tidak bisa bertentangan dengan hukum alam dan manusia, yang diciptakanNya penuh cinta dan kecermatan yang mengagumkan sejak semula.

Di samping efek negatif yang mengganggu kesehatan secara fisik, pemakaian kontrasepsi juga mempertaruhkan kesehatan mental suami istri dan kesehatan perkawinan secara keseluruhan. Masih ditambah lagi dengan akibat-akibat sosial pada generasi muda karena pemakaian kontrasepsi di masyarakat bisa diakses oleh siapa saja, baik pasangan yang menikah maupun yang belum, yang notabene adalah kaum muda. Akibat-akibat yang harus ‘dibayar’ oleh seluruh sendi masyarakat manusia, karena keluarga adalah sel masyarakat terkecil yang membentuk sendi dasar kehidupan masyarakat secara keseluruhan. Dan akibat-akibat negatif yang berdampak pada kehidupan sosial dan mengancam keharmonisan pernikahan itu ternyata sudah dinubuatkan oleh Paus Paulus VI saat beliau menulis ensiklik anti penggunaan KB non alami dalam Humanae Vitae, sebelum semua fakta itu benar-benar terjadi seperti yang kita lihat di jaman ini. Yaitu naiknya angka perceraian dan ketidaksetiaan dalam perkawinan, makin maraknya pergaulan bebas, makin tingginya jumlah kehamilan di luar nikah dan angka penyebaran penyakit menular karena hubungan seksual bebas, juga pemerosotan moral pada suami istri karena pasangan tidak terlatih untuk mengendalikan diri. Mental kontraseptif juga membiasakan suami untuk tidak menghargai kesehatan mental dan fisik istrinya. Maka kontrasepsi tidak hanya kontra kehidupan, tetapi juga kontra cinta kasih sejati dan kontra kesehatan perempuan (Kimberly Hahn dalam bukunya, Live-giving Love). Semua akibat tersebut jelas tidak membawa kita kepada kesejahteraan fisik dan moral manusia. Anda dapat membacanya secara lebih mendetil dan lugas dalam artikel yang pernah ditulis oleh Ingrid Listiati yaitu dalam “Perkawinan Katolik vs Perkawinan Dunia,

klik di sini

dan mengenai “Kemurnian di Dalam Perkawinan”,

klik di sini

Demikianlah jawaban yang dapat saya sharingkan kepada Anda, semoga menjadi masukan yang berguna bagi Anda dan teman Anda. Tentu teman Anda tidak perlu meninggalkan pekerjaannya sebagai dokter. Justru dengan pengetahuan yang mendalam mengenai ajaran Gereja dan latar belakang pengajarannya, serta akibat-akibat dari kontrasepsi yang ternyata berpotensi besar untuk merusak kesehatan fisik dan mental masyarakat serta kesucian pernikahan, teman Anda mempunyai kesempatan dan keyakinan untuk berdiri teguh kepada panggilannya akan kehidupan dan akan Tuhan Sang Pencipta. Ia dapat mulai terjun dalam perjuangan mendidik masyarakat untuk mengenali indahnya metode KB alamiah yang sehat, murah, cukup akurat dengan tingkat keberhasilan yang tinggi, dan tentu saja tanpa efek samping yang merugikan kesehatan. Mensejahterakan manusia baik secara fisik maupun mental. Memang di dalam dunia yang serba egosentris dan berorientasikan kemudahan dan kenikmatan sesaat ini, perjuangan itu tentu berat, tetapi bukan tidak mungkin, apalagi bila mengandalkan kerahiman Tuhan yang tidak pernah meninggalkan anak-anakNya. Kami ikut berdoa bagi teman Anda.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Triastuti – katolisitas.org

23
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
12 Comment threads
11 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
12 Comment authors
JA LebertbrianAquilino AmaralServus Dei et proximiIngrid Listiati Recent comment authors
JA Lebert
Member
JA Lebert

Ini sebuah kasus nyata: ada seorang yang menikah dengan ODHA, menikah secara Katolik tanpa paksaan. Mengingat sang istri sorang ODHA mereka sepakat untuk tidak mau memiliki kuturunan dan memakai alat kontrasepsi kondom.

Pertanyaan: Bagaimana pandangan Gereja tentang kasus ini?

Ingrid Listiati
Member

Shalom JA Lebert, Pertama-tama, perlu diketahui bahwa doktrin/ ajaran Gereja Katolik tidaklah didasarkan dari kasus per kasus, tetapi dari prinsip kebenaran yang umum bagi semua orang. Dari prinsip itulah kemudian orang menyikapi kasus per kasus, berdasarkan prinsip umum yang diajarkan Gereja. Maka hal perkawinan ODHA (Orang dengan HIV/Aids) memang tidak diatur secara langsung oleh hukum Gereja Katolik. Namun demikian, kita mengetahui prinsipnya bahwa jika orang menikah tanpa menghendaki adanya keturunan, maka sejak awalnya apa yang menjadi tujuan perkawinannya tidaklah sesuai dengan apa yang diajarkan oleh Gereja. Gereja mengajarkan bahwa tujuan perkawinan adalah untuk kebahagiaan/ kesejahteraan pasangan, namun juga untuk melahirkan… Read more »

brian
Guest
brian

Shalom katolisitas, Terima kasih atas informasinya. Pertanyaan saya, 1. Termasuk dosa apa jika suami istri menggunakan alat Kontrasepsi? Apakah sama untuk semua jenis alat kontrasepsi? Saya pernah dengar dari taman saya bahwa dia menggunakan cara buang sperma di luar sebagai cara agar tidak terjadi kehamilan. Cara ini tidak saya temukan dalam artikel katolisitas. Pertanyaan saya, 2. Bagaimana sikap Gereja mengenai metode ini? Sekian dan terima kasih! [Dari Katolisitas: Jika suami dan istri sudah mengetahui bahwa penggunaan alat kontrasepsi itu dilarang oleh Gereja, namun dengan penuh kesadaran mereka tetap melakukannya juga, maka ini termasuk dosa berat, sebab kriteria dosa berat adalah:(1)… Read more »

Aquilino Amaral
Guest
Aquilino Amaral

Salam Katolisitas! Salam Selamat Natal dan Tahun baru buat team Katolisitas.org Salam buat Ibu Inggrid dan pak Stef, Saya, dalam link ini ingin mengemukakan keluhan dan permasalahan yang sangat saya hati-hati dan masih ragu-ragu untuk memutuskan, dan mungkin ibu dan pa Stef bisa menanggapinya serta memberi arahan kepada saya agar tidak salah memilh dan presepsi. Situasi: Kami menikah tahun akhir 2008, dan sudah dikarunia 1 orang anak dan satu lagi masih dalam kandungan ibu. Pada anak pertama dikandung, istri saya selalu muntah, muntah, selalu lemas, sampai pada tiga bulan. stelah 3 bulan, sakitnya hilang lagi sampai melahirkan anaknya pertama. dan… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Aquilino Amaral, Gereja Katolik tidak memperbolehkan penggunaan alat kontrasepsi (KB buatan). Silakan membaca alasannya di artikel Humanae itu benar, silakan klik, dan Kemurnian dalam perkawinan, silakan klik, secara khusus, seperti yang disebutkan dalam surat ensiklik Bapa Paus Paulus VI, Humanae Vitae 14. 14. Oleh karena itu, Kami mendasarkan perkataan Kami atas prinsip- prinsip pertama dari kemanusiaan dan ajaran Kristiani tentang perkawinan ketika Kami diharuskan sekali lagi untuk menyatakan bahwa pemutusan secara langsung dari proses pembuahan/ generatif yang sudah dimulai, dan di atas semua itu semua tindakan aborsi, bahkan untuk alasan- alasan terapi, sama sekali tidak termasuk sebagai cara- cara… Read more »

Servus Dei et proximi
Guest
Servus Dei et proximi

Shalom pengasuh Katolisitas Saya membaca sebuah artikel dari Sesawi.net http://www.sesawi.net/2011/12/08/biarawati-katolik-disarankan-minum-pil-kb/ Dalam artikel itu memang disebutkan bahwa Gereja Katolik menentang pemakaian kontrasepsi dengan dikeluarkannya surat ensiklik Paus Paulus VI “Humanae Vitae” Mohon tanggapan dari pengasuh mengenai artikel tersebut. Pertanyaan saya: 1.Benarkah ada pernyataan dalam dokumen Humanae Vitae yang menyebutkan/menyiratkan bahwa ” gereja tidak melarang konsumsi obat yang memiliki efek kontrasepsi jika diperlukan untuk menyembuhkan penyakit” [Dari Katolisitas: digabungkan] Berikut ini saya sampaikan Dokumen Humanae Viate No 15 Lawful Therapeutic Means 15. On the other hand, the Church does not consider at all illicit the use of those therapeutic means necessary to… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Servus Dei, Nampaknya perlu dipahami makna kata, “to cure bodily disease“. Sebab yang dibicarakan di sana adalah untuk pengobatan penyakit, dan bukan untuk pencegahan penyakit, apalagi jika sesungguhnya masih perlu dipertanyakan sejauh mana akurasi hasil penelitian dari kedua dokter Australia itu. Sebab dari informasi yang juga ada di internet mengatakan sebaliknya, yaitu bahwa pemakaian pil KB tersebut justru meningkatkan resiko kanker panyudara menjadi 40 % lebih tinggi jika diminum sebelum seorang wanita melahirkan bayi pertamanya, dan resiko itu meningkat menjadi 70 % bila pil itu digunakan selama empat tahun atau lebih sebelum wanita melahirkan anak pertamanya, sebagaimana kami sertakan… Read more »

Servus Dei et proximi
Guest
Servus Dei et proximi

Syalom Bu Ingrid Hasil bincang2 saya dengan beberapa orang temang (salah satunya dokter) dapat disimpulkan begini 1. Menurut teman saya yg menjadi dokter: Referensi medis tersebut tidak bisa dipertanggung jawabkan, jadi pernyataan bahwa PIL KB bisa digunakan sebagai obat untuk mencegah CA, tidak bisa dipertanggungjawabkan, karena sebetulnya masih ada obat2 lain yg bisa dipakai untuk mencegah CA. 2. Berdasarkan catatan medis (dari 2 sumber yang saya pakai) penyebab CA Servik itu salah satunya karena kawin muda dan punya banyak anak. Ini berbeda dari pernyataan tulisan di artikel itu. 3. Penulis menyebutkan bahwa Gereja Katolik sebenarnya juga tidak melarang penggunaan obat… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Servus Dei, 1. Setuju, bahwa ada banyak cara untuk mencegah CA, dan agaknya terlalu tergesa- gesa untuk menyimpulkan bahwa pil KB dapat mencegah CA. 2. Anda mengatakan, “Berdasarkan catatan medis (dari 2 sumber yang saya pakai) penyebab CA Servik itu salah satunya karena kawin muda dan punya banyak anak. Ini berbeda dari pernyataan tulisan di artikel itu.” Mohon penjelasan, “artikel itu” yang Anda maksud itu artikel yang mana? Sebab dalam artikel tentang Efek- efek negatif kontrasepsi yang ada di situs kami, memang kami mengutip informasi yang kami peroleh dari internet, yang juga kemungkinan berdasarkan hasil survey kedokteran. Kami tidak… Read more »

Servus Dei et proximi
Guest
Servus Dei et proximi

Syalom Bu Ingrid..
2 referensi yang saya pakai adalah:
1. Wikipedia : http://id.wikipedia.org/wiki/Kanker_leher_rahim#cite_note-Lusa-3 sebagai referensi metode pengobatan kanker
2. http://www.lusa.web.id/kanker-leher-rahim-ca-cerviks/

Namun hal itu hanya sebagai pembanding biasa secara medis (sudah dikonfirmasi dengan teman saya yang seorang dokter)
Jadi 2 referensi itu hanya sebagai wacana medis saja, tidak ada kaitan dengan Iman Katolik

[Dari Katolisitas: digabungkan]

Bu Ingrid yang baik,
Artikel yang saya maksud adalah artikel di sesawi.net.
Terima kasih
Teriring salam dan doaku

[Dari Katolisitas: Terima kasih atas klarifikasinya, dan penjelasannya. Teriring juga doa dari kami]

RENDI
Guest
RENDI

Saya mau bertanya apa efek sampingnya kalau wanita baru 17 tahun sudah melakukan hubungan intim, tapi untuk mencegah kehamilan dia meminum PIL KB, dan 1 bulan haid tidak teratur ( 1 bln 2x haid ). Mohon dijawab.

Ingrid Listiati
Member

Shalom Rendi, Sebenarnya, efek samping yang terbesar bagi seorang remaja putri yang baru berusia 17 tahun dan sudah melakukan hubungan seksual dan meminum pil KB untuk mencegah kehamilan, tidak saja merupakan efek negatif dari segi jasmani, namun terlebih dari segi rohani. Sebab cepat atau lambat akan datang penyesalan akan apa yang telah diperbuatnya, terutama jika kemudian pasangannya kemudian meninggalkannya. Survey di Amerika banyak yang menyatakan besarnya prosentase pasangan yang telah melakukan hubungan di usia belia (17 tahun ke bawah) kemudian juga tidak menikah dengan pasangannya itu. Jika menikah sekalipun, maka ada banyak masalah yang kemudian terjadi dalam kehidupan rumah tangga… Read more »

Stefanus
Guest
Stefanus

Salam kasih Kristus.. Bu, mungkin keadaan jaman sekarang jauh berbeda dengan keadaan jaman dulu dimana orang cenderung tidak individualis dan materialistis. Bahkan kecenderungan inipun terjadi di gereja saat ini.. Kesulitan hidup berumah tangga sekarang lebih dikarenakan tuntutan (ekonomi) yang terus meningkat dan beban hidup yang berat menjadi pertimbangan utama untuk memiliki anak. Orangtua harus berpikir matang untuk memberikan kehidupan yang layak untuk anak2 mereka dan bukan hanya sekedar memberikan mereka “hidup”. Harapan orangtua untuk mensejahterakan keluarga semakin diperberat oleh regulasi yang mempersulit keluarga agar bisa hidup sejahtera dan layak. Biaya kesehatan dan pendidikan yang tinggi menjadi salah satunya. Bahkan di… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Stefanus, Banyak orang mengatakan bahwa hidup adalah suatu proses pembelajaran bagi kita untuk menjadi orang yang lebih baik. Saya percaya ini berlaku juga untuk anda dan saya. Jika kita telah mengetahui ajaran yang benar tentang perkawinan Katolik, maka kita diundang untuk menanggapinya dengan ketaatan iman. Beberapa dasar ajaran Katolik tentang perkawinan dapat anda baca di artikel- artikel ini: Indah dan Dalamnya makna Perkawinan Katolik Kemurnian dalam Perkawinan Humanae itu Benar! Dengarlah Seruan Familiaris Consortio yang telah berusia 30 tahun Gereja Katolik bukannya menutup mata akan problema keluarga dewasa ini untuk membesarkan dan mendidik anak- anak. Maka Gereja Katolik memperbolehkan… Read more »

maria
Guest
maria

Salam Terima kasih kepada tim Katolisitas atas jawabannya. Ya memang aneh sih belum nikah dah mikir yang belum kejadian (he..he..) tapi hal tersebut dikarenakan teman2 kerja saya sebagian besar sudah berkeluarga jadi yang dibicarakan kebanyakan masalah2 keluarga, salah satunya ttg KB. Jujur, saya sebenarnya agak parno (takut) setelah mendengar keluhan2 mereka tentang penggunaan KB. Bahkan ada yang sampai mau punya anak lagi susah, padahal sudah copot suntik KB selama 2 th. Jadi mau tidak mau pikiran saya terbentuk dengan sendirinya, memikirkan hal2 apa yang akan saya lakukan nanti bila menikah, salah satunya alat KB, tapi tentunya saya ambil pelajaran atau… Read more »

Nicholas Edwin Handoyo
Guest
Nicholas Edwin Handoyo

Saya sangat tertarik membaca artikel ini. Namun sepertinya efek-efek negatif dari kontrasepsi lebih disorot dan terkesan dibesarkan dibandingkan dengan efek positif yang sama sekali tidak disorot. Metode alami memang yang terbaik dari sisi agama dan sisi kesehatan karena tidak ada efek samping bila dilaksanakan dengan benar. Namun melihat pengalaman yang terjadi di lapangan, tidaklah mudah untuk mengajarkan dan mempraktekkan KB alamiah. Karena waktu pasti terjadinya ovulasi yang menurut teori adalah lendiri serviknya lebih banyak, suhu tubuhnya meningkat, dsb itu tidaklah mudah untuk dikenali terutama pada wanita dengan panjang siklus menstruasi yang tidak sama tiap bulannya (waktu mensnya bisa maju atau… Read more »

Veronica
Guest
Veronica

Terima kasih Ibu Caecilia Triastuti dan Ibu Ingrid Listiati atas penjelasan.
Menjadi saya semakin paham, namun memang butuh kesadaran yang sungguh antara suami dan istri untuk penerapan hal ini di dalam hidup rumah tangga.
Sy masih berusaha menjelaskan hal ini kepada suami.
Semoga kehendak Tuhanlah yang terjadi dalam hidupku dan hidup rumah tanggaku.

[dari Katolisitas: Tuhan pasti membuka jalan dan melimpahkan berkat-Nya bagi anak-anak-Nya yang rindu untuk mengasihi Dia dengan segenap hati dan segenap daya dalam segala bidang kehidupan. Kiranya rahmat-Nya senantiasa menjaga Anda dan suami dalam cinta kasih sejati dan terus membimbing Anda berdua kepada kekudusan. Kami turut berdoa bagi Anda]

Veronica
Guest
Veronica

Dear Tim Katolisitas…

Saya sepenuhnya memahami alasan Gereja menolak alat2 KB dan dari tim katolisitas sudah jelaskan apa saja yang ditolak, namun saya punya pertanyaan bagaimana dgn “sanggama terputus”. Apa pendapat gereja tentang hal ini.

Terima kasih sebelumnya

maria
Guest
maria

salam saya belum menikah, walaupun aneh tapi saya sdh memikirkan masa depan spti halnya alat kontrasepsi apa yg akan saya pakai krn dari pengalaman teman2 senior saya yg sdh punya anak, mereka sering punya keluhan2 dr efek negatif alat kontrasepsi dari berat badan yg naik sampai yg harus gonta ganti alat kontrasepsi krn tdk cocok. Saya orgnya risihan ato kurang nyaman bila ada benda asing dimasukkan ke dlm tubuh saya, jd saya tdk akan pakai alat kontrasepsi su2k ato kontrasepsi yg dimasukan lainnya. Saya takut jarum, jd suntik KB agak ragu. Minum pil? Saya paling males minum obat apalagi sampai… Read more »

Feliz
Guest
Feliz

Terima kasih saya bisa mengerti secara teori penjelasan ibu, bagi saya agak kasihan posisi dokter dalam konteks tersebut kalau dijawab seperti di atas. Dan inilah yang sering membingungkan saya: antara sebuah teori dan praktek di lapangan. Dokter melakukan tugasnya dan selama proses belajar bertahun-tahun menjadi dokter, KB non alami juga termasuk materi bagi seorang calon dokter karena itu adalah materi umum kedokteran. Dan ketika dia bekerja di sebuah rumah sakit (Katolik atau non Katolik), apakah dokter bisa menolak jika ada pasien yang datang kepadanya minta KB non alami? Pasien yang datang kepada dokter dari berbagai macam keyakinan, dan pasien sekarang… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X