Dua Perintah Utama: Mengasihi Tuhan dan Mengasihi Sesama

I. Dua Perintah Utama yang sering kita dengar namun sulit untuk dilaksanakan secara sempurna

Bacaan di minggu ke-30 tahun A ini, Gereja memberikan bacaan dari Kel 22:20-26; Mzm 18:2-4,47,51; 1Tes 1:5-10; Mat 22:34-40. Perikop dari Mat 22:34-40, yang juga dituliskan di Mrk 12:28-34; Luk 10:25-28, terasa sangat akrab di telinga kita, karena sering kita dengar dan sering didengungkan dari mimbar, dan lebih tepatnya, karena di dalam dua perintah itu – mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama – terletak seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi. Namun, meskipun dua perintah ini sangat sering kita dengar, namun mungkin sangat sulit untuk dilaksanakan. Padahal, kalau kita teliti, manusia secara kodrati dapat mengasihi Tuhan dan sesama. Kodrat ini diangkat derajatnya oleh rahmat Allah dalam Sakramen Baptis, sehingga manusia dapat mengasihi Allah secara lebih sempurna (adi-kodrati), yang berakibat kemampuan yang lebih untuk dapat mengasihi sesama. Mengasihi Tuhan dan sesama, itulah perintah dari Tuhan sendiri, yang menuntun manusia untuk dapat memperoleh kebahagiaan di dunia ini dan dapat mengantar manusia ke dalam Kerajaan Sorga.

II. Bacaan Matius 22:34-40

34.  Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka
35.  dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia:
36.  “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?”
37.  Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu.
38.  Itulah hukum yang terutama dan yang pertama.
39.  Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
40.  Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

III. Telaah Matius 22:34-40

Dari perikop Mat 22:34-40, kita dapat melihat secara gamblang bahwa inti bacaan tersebut adalah jawaban Yesus bahwa hukum yang terutama dalam hukum Taurat adalah mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Di perikop sebelumnya – Mat 22:23-33 – kita melihat bahwa Yesus telah memberikan jawaban yang tepat, sehingga orang-orang Saduki yang bertanya tentang kebangkitan badan tidak dapat berkutik lagi. Walaupun orang-orang Farisi senang (lih. Mrk 12:38; Luk 20:39)  bahwa orang-orang Saduki, yang berseberangan dengan mereka akhirnya bungkam karena jawaban Yesus, namun mungkin mereka juga kecewa karena keinginan mereka untuk menjebak Yesus ternyata tidak berhasil. Dan kemudian di ayat 24-25, kita tahu bahwa mereka berkumpul merancang pertanyaan untuk menjebak Yesus. Mungkin, jebakan kaum Farisi telah dirancang dengan sangat hati-hati, karena jebakan pertanyaan mereka tentang membayar pajak kepada kaisar (lih. Mat 22:15-22) telah gagal.

Kali ini, mereka bertanya tentang sesuatu yang dipandang sungguh sulit, yaitu “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” (ay. 36) Yesus kemudian menjawab bahwa hukum yang terutama dan pertama adalah mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi (ay.37-38) dan hukum yang kedua adalah mengasihi sesama seperti mengasihi diri sendiri (ay.39). Dengan jawaban ini, maka Yesus telah merangkum semua hukum Taurat, yang disebutkan dalam Ul 6:5 dan Im 19:18.

1. Perintah ganda untuk mengasihi adalah merupakan hukum kodrat

Kalau kita meneliti sepuluh perintah Allah (Kel 20:1-17), maka kita dapat melihat bahwa hukum-hukum di dalam 10 perintah Allah adalah merupakan penjabaran dari hukum kodrat yang sempurna. Hukum kodrat ini adalah hukum atau peraturan yang terpatri di dalam setiap hati manusia. Dalam sepuluh perintah Allah, kita dapat melihat adanya perintah kasih dalam dua kelompok, yaitu hukum 1-3 adalah perintah untuk mengasihi Tuhan dan hukum 4-10 adalah perintah untuk mengasihi sesama. Urutan ke-10 perintah Allah tidak diberikan atas dasar kebetulan, tetapi menurut St. Thomas Aquinas, memang ada alasannya tergantung dari tingkatan prioritasnya. ((St. Thomas Aquinas, The Aquinas Catechism : A Simple Explanation of the Catholic Faith by the Church’s Greatest Theologian (Manchester  N.H.: Sophia Institute Press, 2000), p.249-250)) Untuk mengasihi Allah, kita harus melakukan tiga hal, yaitu: (1) Tidak boleh mempunyai Allah lain, yang dituliskan: Jangan menyembah berhala, berbaktilah kepadaKu saja, dan cintailah Aku lebih dari segala Sesuatu; (2) Harus memberikan kepada Allah penghormatan, yang dituliskan: Jangan menyebut nama Tuhan Allahmu dengan tidak hormat; (3) Kita harus beristirahat di dalam Tuhan, yang dituliskan: Kuduskanlah hari Tuhan. Dan untuk membuktikan kasih kita kepada Allah, maka kita harus mengasihi sesama seperti yang dijabarkan dalam perintah 4-10, yaitu: (1) Kita harus mengasihi orang tua kita, yang dituliskan: Hormatilah ibu-bapamu; (2) Kita tidak boleh melukai sesama kita dengan perbuatan – baik dengan melukai seseorang, yang dituliskan: jangan membunuh; atau merusak perkawinan seseorang, yang dituliskan: Jangan berzinah; atau mengambil barang atau harta milik sesama, yang dituliskan: Jangan mencuri; (3) Kita tidak boleh melukai sesama kita dengan perkataan dan pikiran – melukai dengan perkataan, yang dituliskan: Jangan bersaksi dusta tentang sesamamu; melukai sesama dengan pikiran, yang dituliskan:  Jangan mengingini istri sesamamu dan Jangan mengingini milik sesamamu secara tidak adil.

Penjelasan yang lain dari 10 perintah Allah adalah, dalam mengasihi Allah, maka kita harus mempunyai (1) kesetiaan, (2) penghormatan, dan (3) pelayanan; dalam mengasihi sesama, kita harus (4) menjalankan tugas untuk wakil Tuhan di dunia ini dan menjalankan tugas untuk diri sendiri dan sesama dalam (5) melindungi kehidupan, (6) kemurnian, (7) harta milik, (8) kehormatan, (9 dan 10) melindungi kehidupan keluarga.

Sepuluh perintah Allah diberikan secara khusus dan ditulis di atas dua loh batu kepada bangsa Israel. Namun, perintah ini sesungguhnya bukan hanya dituliskan di atas dua loh batu, namun juga dituliskan oleh Tuhan di dalam setiap hati manusia, baik bangsa Israel maupun bangsa lain. Dalam suratnya kepada jemaat di Roma, rasul Paulus menegaskannya demikian “14 Apabila bangsa-bangsa lain yang tidak memiliki hukum Taurat oleh dorongan diri sendiri melakukan apa yang dituntut hukum Taurat, maka, walaupun mereka tidak memiliki hukum Taurat, mereka menjadi hukum Taurat bagi diri mereka sendiri. 15 Sebab dengan itu mereka menunjukkan, bahwa isi hukum Taurat ada tertulis di dalam hati mereka dan suara hati mereka turut bersaksi dan pikiran mereka saling menuduh atau saling membela.” (Rom 2:14-15) Ayat ini menunjukkan bahwa semua orang, baik orang Yahudi maupun non-Yahudi sebenarnya terikat oleh hukum taurat, yang intinya adalah mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Dan memang itulah kodrat manusia.

2. Mengapa harus mengasihi?

Kalau manusia diciptakan dengan kodrat untuk dapat mengasihi Allah dan mengasihi sesama, maka pertanyaannya adalah mengapa Allah menciptakan manusia dengan kodrat seperti ini? Jawabnya adalah karena kita menemukan kebahagiaan kita di dalam kasih kepada Tuhan, dan tidak di dalam hal-hal lain, seperti: uang, kehormatan, kekuasaan, kesenangan, bahkan juga kebajikan. Pembahasan tentang hal ini, sudah pernah ditulis di artikel: Kebahagiaan kita hanya ada dalam Tuhan, silakan klik. Maka kalau kita ingin mendapat penghiburan dan kekuatan di dalam hidup ini kita harus kembali kepada Tuhan, kita harus mengasihi Tuhan.

Cobalah kita cari orang yang terlihat sebagai orang yang paling berbahagia di dunia: tiliklah, apakah dia mengasihi Tuhan? Sebab jika ia tidak mengasihi Tuhan, ia sebenarnya tidak sungguh-sungguh berbahagia. Itulah sebabnya banyak di antara orang-orang yang demikian kemudian dapat melakukan hal-hal yang tragis dalam hidup mereka. Sedangkan sebaliknya, jika kita menemukan orang kelihatannya paling tidak bahagia di mata dunia, namun kalau ia mengasihi Tuhan, maka ternyata ia adalah orang yang paling bahagia, dalam arti yang sesungguhnya, dalam segala sesuatu. Maka sudah selayaknya kita berdoa memohon agar Tuhan membuka mata hati kita agar dapat mencari kebahagiaan di mana kita dapat sungguh menemukannya, yaitu di dalam Tuhan sendiri.

Alasan lain, mengapa Tuhan menciptakan manusia dengan kodrat untuk mengasihi adalah karena tanpa kasih, manusia tidak dapat mencapai Sorga. Begitu pentingnya kasih, sehingga rasul Yohanes mengatakan “Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut.” (1Yoh 3:14b) Dari ayat ini, kita dapat melihat bahwa untuk mendapatkan keselamatan, maka tidak ada cara lain, kecuali mengasihi. St. Agustinus menegaskan bahwa sama seperti manusia mempunyai dua kaki untuk berjalan, maka kita harus mengasihi Tuhan dan sesama untuk dapat mencapai Sorga. Sama seperti burung mempunyai dua sayap untuk terbang, maka kita harus mengasihi Tuhan dan sesama untuk dapat terbang ke Sorga. Lebih lanjut dia menegaskan bahwa sama seperti orang-orang kudus di Sorga mengasihi Allah dan mengasihi sesamanya, maka kita juga harus melakukan hal yang sama di dunia ini untuk mendapatkan kebahagiaan. Dari sini, kita dapat melihat bahwa mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama sesungguhnya tidak terpisahkan. Rasul Yohanes menegaskan hal ini secara gamblang “Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (1Yoh 4:20)

3. Tuhan memampukan kita untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi

Perintah untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akal budi adalah mengasihi Tuhan dengan keseluruhan diri kita, menempatkan Tuhan lebih utama dalam segala sesuatu, di mana saja, setiap saat dan dalam segala kondisi. Dan kalau bukti kasih kita kepada Tuhan dan tanda kita berdiam di dalam Allah adalah dengan menuruti segala perintah Tuhan (lih. 1John 2:3; 1Yoh 3:24), maka kita akan melihat bahwa sesungguhnya perintah ini sangat berat bagi manusia. Namun, Tuhan tidak akan memberikan perintah yang mustahil, karena Dia menegaskan bahwa kuk yang dipasang-Nya adalah enak dan ringan. (lih. Mat 11:29)

Kunci dari kemampuan kita untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi serta mengasihi sesama adalah karena Allah telah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua. Kita yang telah dibaptis telah menerima rahmat Allah yang begitu besar, seperti: menjadi putera/i Allah di dalam Kristus, disatukan dalam Tubuh Mistik Kristus, dibebaskan dari dosa asal, menerima rahmat pengudusan, tiga kebajikan ilahi dan tujuh karunia Roh Kudus. Rahmat dari Allah kemudian diperkuat dengan rahmat yang mengalir dari sakramen-sakramen yang lain, terutama Sakramen Tobat dan Sakramen Ekaristi. Dengan bekal rahmat Allah yang begitu luar biasa ini, maka sesungguhnya umat Allah telah dimampukan untuk dapat mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, sehingga pada akhirnya dapat mengasihi sesama dengan lebih baik lagi.

4. Tiga tingkatan kasih

Apakah setiap orang dapat mengasihi Tuhan dengan derajat yang sama? Sama seperti adanya tingkatan dalam segala hal, maka setiap orang dapat mengasihi Allah dengan derajat yang berbeda-beda. Namun, menjadi tujuan dari umat Allah, agar kita semua dapat mengasihi Tuhan dalam derajat yang sempurna. Dari buku Christian Perfection and Comtemplation: According to St. Thomas Aquinas anda St. John of the Cross karangan Reginald Garrigou Lagrance dan dari tulisan St. Thomas Aquinas pada Summa Theology, II-II, q.34, a.9., maka kita dapat melihat tingkatan kasih:

a. Tingkatan pemula (beginners atau purgative). Pada tingkatan ini, seseorang berusaha agar dia tidak jatuh ke dalam dosa berat, dan juga berusaha untuk melawan kelemahan dan kecenderungan berbuat dosa (concupiscences). Dalam tahap ini, seseorang masih berfokus pada bagaimana caranya untuk menghindari dosa-dosa yang dulunya sering dia lakukan. Sebagai contoh kalau seseorang mempunyai kecenderungan untuk berbuat dosa melawan kemurnian, maka dia berjuang setengah mati agar dia tidak terjerumus ke dalam dosa yang sama. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti: menghindari teman-teman yang dapat menjerumuskannya ke dalam dosa yang sama, menghindari tempat-tempat yang dapat membangkitkan keinginan untuk berbuat cabul, menghindari kesempatan-kesempatan untuk dapat melakukan dosa tersebut. Orang ini menyadari bahwa kalau dia jatuh ke dalam dosa berat yang sama, maka dosa berat tersebut akan menghancurkan kasih. Dengan kata lain, orang-orang dalam tingkatan ini senantiasa berusaha menghindari dosa berat.

b. Tahap kedua (Illuminative Way). Pada tahap ini, seseorang bukan lagi berfokus pada menghindari dosa, melainkan pada bagaimana bertumbuh dalam kebaikan. Mereka membuat kemajuan spiritualitas dalam terang iman dan kontemplasi. Seseorang pada tahap ini mulai berfikir apa yang dapat dilakukannya untuk dapat semakin memberikan kemuliaan bagi nama Tuhan. Dia tidak lagi memikirkan untuk menghindari dosa pornografi sebab pornografi tidak menjadi godaan yang dapat menarik hatinya. Namun dia mulai berfikir, bagaimana dia dapat memberikan kebaikan kepada sesama, sehingga dia dapat membantu orang-orang yang mempunyai ketergantungan terhadap pornografi (dan dosa- dosa berat lainnya). Orang yang dalam tahap ini, bukan hanya berfikir untuk menghindari dosa berat, namun juga dia mencoba mengarahkan hidupnya dan hidup sesamanya kepada Tuhan. Dia mencoba untuk menghilangkan kecenderungan-kecenderungan di dalam dirinya yang menghalanginya untuk bersatu dengan Tuhan. Dia bertumbuh dalam kasih dengan cara berbuat kasih.

c. Tahap sempurna (Univitive Way / Heroic Love). Dalam tahap ini, seseorang secara sadar tidak mau dan dengan segala kekuatannya berusaha untuk menghindari dosa-dosa yang kecil (venial sins) sekalipun. Walaupun kadang dia masih melakukan dosa kecil, namun dosa-dosa kecil ini terjadi dengan tidak disengaja. Secara aktif dia mencoba menghilangkan apa yang tidak sempurna dalam dirinya, sehingga seluruh akal budi, perbuatan dan perkataannya ditujukan untuk menyenangkan hati Tuhan. Dia setia terhadap inspirasi dari Roh Kudus, dan menjalankan semua hal, termasuk hal-hal kecil dengan kasih yang besar. Dia sekaligus lemah lembut namun juga kokoh dalam imannya. Dia memandang rendah hal-hal dunia ini, dan secara aktif dan terus-menerus mempunyai kontemplasi terhadap hal-hal ilahi. Dia mempunyai hati yang besar (magnanimity), sehingga membuatnya dapat menyingkirkan hal-hal dunia agar dia dapat semakin bersatu dengan Tuhan. Bahkan, dia menginginkan persatuan abadi dengan Kristus melebihi apapun di dunia ini. Dalam tahap ini, seseorang juga mempunyai derajat kerendahan hati yang sempurna. Walaupun kehidupan spiritualitasnya berkembang dengan sempurna, namun dia justru melihat dirinya yang paling rendah dari manusia lain. Karena hidupnya senantiasa dipenuhi dengan sinar ilahi, maka dia dapat melihat apa-apa yang tidak sempurna dalam dirinya secara jelas dan pada saat yang bersamaan dia melihat Allah yang adalah segalanya. Dalam kondisi seperti inilah, maka orang dalam derajat kasih yang tertinggi juga akan mempunyai derajat kerendahan hati yang tertinggi.

Yang mungkin tidak kalah pentingnya adalah tiga tingkat kesempurnaan kasih di atas juga berhubungan dengan kasih terhadap sesama. Dalam tingkat awal, seseorang akan mengasihi orang -orang yang ia kenal tanpa mengabaikan orang-orang lain. Di tingkat kedua, seseorang dapat mengasihi orang-orang asing yang tidak dikenalnya. Dan di tingkat kesempurnaan, ia dapat mengasihi musuh-musuhnya. Yang perlu juga menjadi catatan adalah seseorang dapat bertumbuh dari tingkat awal ke tingkat yang lebih tinggi, namun orang juga dapat jatuh dari tingkat yang lebih tinggi ke tingkat yang paling awal. Hanya rahmat Allah dan kesediaan untuk terus bekerjasama dengan rahmat Allah, dan juga tujuh karunia Roh Kudus, yang memungkinkan seseorang untuk mencapai kesempurnaan kasih.

IV. Ajakan untuk mengasihi adalah panggilan untuk hidup kudus

Mengasihi Allah dan sesama merupakan hukum yang terutama bagi umat beriman, dan merupakan panggilan yang diserukan oleh Gereja kepada semua orang yang berkehendak baik. Ini jelas disebutkan di dalam Konsili Vatikan II, tentang Gereja, di bab V, mengenai Panggilan Umum untuk Kesucian dalam Gereja:

“Tuhan Yesuslah Guru dan Teladan ilahi segala kesempurnaan. Dengan kesucian hidup, yang dikerjakan dan dipenuhi-Nya sendiri, Ia mewartakan kepada semua dan masing-masing murid-Nya, bagaimanapun juga corak hidup mereka: “Kamu harus sempurna, seperti Bapamu yang di sorga sempurna adanya” (Mat 5:48). Sebab kepada semua diutus-Nya Roh Kudus, untuk menggerakkan mereka dari dalam, supaya mengasihi Allah dengan segenap hati, dengan segenap jiwa, dengan segenap akal budi dan dengan segenap tenaga mereka (lih. Mrk 12:30), dan saling mencintai seperti Kristus telah mencintai mereka (lih. Yoh 13:34; 15:12). Para pengikut Kristus dipanggil oleh Allah bukan berdasarkan perbuatan mereka, melainkan berdasarkan rencana dan rahmat-Nya. Mereka dibenarkan dalam tuhan Yesus, dan dalam baptis iman sungguh-sungguh dijadikan anak-anak Allah dan ikut serta dalam kodrat ilahi, maka sungguh menjadi suci. Maka dengan bantuan Allah mereka wajib mempertahankan dan mengembangkan dalam hidup mereka kesucian yang telah mereka terima. Oleh rasul mereka dinasehati, supaya hidup “sebagaimana layak bagi orang-orang kudus” (Ef 5:3); supaya “sebagai kaum pilihan Allah, sebagai orang-orang Kudus yang tercinta, mengenakan sikap belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemah-lembutan dan kesabaran” (Kol 3:12); dan supaya menghasilkan buah-buah Roh yang membawa kepada kesucian (lih. Gal 5:22; Rom 6:22). Akan tetapi karena dalam banyak hal kita semua bersalah (lih. Yak 3:2), kita terus-menerus membutuhkan belaskasihan Allah dan wajib berdoa setiap hari: “Dan ampunilah kesalahan kami” (Mat 6:12).

Jadi bagi semua jelaslah, bahwa semua orang Kristiani, bagaimanapun status atau corak hidup mereka, dipanggil untuk mencapai kepenuhan hidup Kristiani dan kesempurnaan cinta kasih. Dengan kesucian sedemikian ini sebuah kehidupan yang lebih manusiawi dapat dimajukan di dalam kehidupan masyarakat di dunia ini. Untuk memperoleh kesempurnaan itu hendaklah kaum beriman mengerahkan tenaga yang mereka terima menurut ukuran yang dikurniakan oleh Kristus, supaya dengan mengikuti jejak-Nya dan merupai citra-Nya, dengan melaksanakan kehendak Bapa dalam segalanya, mereka dengan segenap jiwa membaktikan diri kepada kemuliaan Allah dan pengabdian terhadap sesama. Begitulah kesucian Umat Allah akan bertumbuh dan menghasilkan buah berlimpah, seperti dalam sejarah Gereja telah terbukti dengan cemerlang melalui hidup sekian banyak orang kudus.” (Konsili Vatikan II, Lumen Gentium 40)

Selanjutnya silakan membaca artikel seri tentang Kesucian/ Kekudusan: Apa itu Kesucian/Kekudusan?; Semua Orang Dipanggil untuk Hidup Kudus; Refleksi Praktis tentang Kekudusan; Kerendahan Hati: Dasar dan Jalan Menuju Kekudusan

V. Mari mengasihi

Dari pembahasan di atas, maka sudah seharusnya kita berjuang untuk melaksanakan perintah Kristus yang utama, yaitu untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa dan akal budi serta mengasihi sesama seperti diri sendiri. Ini adalah kekudusan yang kepadanya kita semua dipanggil, seturut dengan kehendak Allah (lih. 1Tes 4:3). Hanya dengan mengasihi, manusia dapat memperoleh arti hidup, yaitu kebahagiaan di dunia ini dan pada saatnya nanti, akan kebahagiaan abadi di Sorga. Mari, mulailah dan bertumbuhlah dalam kasih, sebab kita semua diciptakan untuk mengasihi.

41
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
19 Comment threads
22 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
23 Comment authors
BudiDonnyAdhi MahesaJack Bu'uloloCaecilia Recent comment authors
Budi
Member
Budi

Dear Pak Stef/bu Ingrid, Saya hendak bertanya mengenai maksud dari ayat ini, Roma 12:16: … janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai! Apakah nasihat ini bisa berlaku untuk seseorang yang misalnya mempunyai kecerdasan/IQ yang biasa2 saja, tetapi berusaha meningkatkan pengetahuan/keilmuan dengan banyak2 belajar berbagai disiplin ilmu; atau memperdalam suatu ilmu hingga S2/S3 yang akibatnya seringkali pikiran terlalu capek? Saya tanyakan ini karena sepertinya cukup banyak dari kalangan pelajar/mahasiswa yang berusaha melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi (S2/S3) yang kadang sebenarnya berada diluar batas kemampuan mereka atau mereka tidak memiliki konsep… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Budi, Perikop Rom 12:16, hendaknya dipahami dalam konteks topik yang sedang dibicarakan, sebagaimana disebut dalam judulnya, yaitu: Nasihat untuk hidup dalam kasih. Maka perkataan Rasul Paulus, yang mengatakan bahwa kita “jangan memikirkan perkara-perkara yang tinggi namun dalam perkara sederhana” itu dilihat dalam konteks mengasihi ini. Sebab betapapun kita punya idealisme untuk mengasihi sesama sampai setinggi-tingginya, tetapi kita punya keterbatasan sumberdaya, tugas kewajiban sehubungan dengan status/ panggilan hidup kita masing-masing, ataupun keterbatasan lain yang tidak dapat kita abaikan. Jadi misalnya, jika seseorang sudah hidup berkeluarga, dan dipercayakan tanggungjawab untuk mengurus anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepadanya, maka tidak bijaksanalah jika ia… Read more »

Budi
Member
Budi

Terima kasih banyak bu Ingrid atas penjelasannya, saya baru tahu sekarang bahwa ayat tersebut konteksnya mengasihi, karena saat saya memikirkan tentang proses belajar akademik, ayat itu yang tampaknya ‘relevan’, namun ternyata saya memakai ayat sepotong2, tanpa melihat keseluruhan konteksnya.

Donny
Member

Mengapa harus mengasihi?

Menurut saya adalah karena kita kurang tahu. Setiap orang adalah baik, sesuai dengan definisi kebaikannya masing-masing. Karena kita tidak tahu definisi kebaikan dari orang lain, maka kita sering bermasalah dengannya. Kalau kita tahu arti kebaikan yang dimaksudkan oleh seseorang tersebut, maka kita akan mudah dalam memahami dan mengasihinya dan tidak akan terjadi masalah besar.

http://donnyambarita.wordpress.com/2014/03/04/mengapa-kita-harus-selalu-mengasihi/

Thanks

Donny
Member

Tambahan atas tanggapan saya diatas. Menurut saya, penjelasan saya didukung oleh Doa Yesus, ketika dia akan disalibkan yaitu yang tertulis dalam Lukas 23:34. Tapi berdasarkan buku Tafsir Injil Lukas yang saya baca ini dituliskan bahwa ayat tersebut tidak tercantum dalam sejumlah naskah kuno. Stefan Leks penulis buku ini menuliskan, ” Entah asli entah tidak, dalam ucapan ini menonjol tema “ketidaktahuan” bangsa Yahudi yang ditekankan Lukas dalam Kis 3:17.” Pertanyaan saya, jika tidak dapat dipastikan bahwa ayat tersebut dituliskan oleh Penginjil Lukas, siapa yang sebenarnya menulis/menambahkan ayat tersebut? Padahal menurut saya, ayat ini sangat berarti baik, yang mana mengajarkan kita untuk… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Donny, 1.Tentang Luk 23:34 Memang sejumlah buku Bible Commentary mengatakan bahwa teks Luk 23:34 tidak ada dalam manuskrip kuno seperti Codex Vaticanus dan Codex Bezae. Namun demikian, itu bukan alasan untuk menganggap bahwa ayat tersebut tidak otentik atau baru ditambahkan kemudian. Sebab ayat tersebut ada dalam Codices kuno lainnya, seperti Codex Sinaiticus, Codex Alexandrinus dan manuskrip-manuskrip lainnya. Anggapan bahwa ayat tersebut tidak otentik berasal dari Lukas, adalah pandangan sejumlah ahli Kitab Suci di abad-abad terakhir ini (secara khusus mereka yang tergabung dalam UBS: United Bible Societies), namun bukan dari para Bapa Gereja abad- abad pertama. Di abad ke-2, (lebih… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Donny, Sebagai umat Kristiani, alasan kita mengasihi adalah karena Allah terlebih dahulu mengasihi kita; sehingga kita membalasnya dengan mengasihi Allah dan mengasihi sesama kita, demi kasih kita kepada Allah. Sebab mengasihi Allah dan sesama adalah perintah-Nya, dan kalau kita mengasihi Allah maka kita harus melakukan perintah-perintah-Nya itu (lih. 2Yoh 1:6, 1Yoh 5:2-3). Maka kita mengasihi bukan karena kita kurang tahu. Bahwa masalahnya ada orang-orang tertentu yang karena ketidaktahuannya membenci kita, misalnya, tidak menjadi alasan bagi kita untuk membalas membenci mereka. Sebab Kristus mengajarkan kepada kita untuk tetap mengasihi orang-orang yang memusuhi kita dan mendoakan mereka (lih. Mat 5:44). Memang… Read more »

Donny
Member

Terimakasih Bu Ingrid atas tanggapannya. Tapi saya tidak bermaksud untuk menjelaskan bahwa kebenaran Yesus adalh bersifat relatif. Istilah yang saya pakai disana adalah “kebaikan”. Kebaikan belum tentu benar, karena tergantung pemahaman tiap orang. Setiap orang yakin bahwa dia hidup dengan baik sehingga dia bisa percaya diri dalam menjalani hidup ini. Kebenaran menurut saya adalah kebaikan yang sesunguhnya. Tiap orang merasa hidup dengan baik, tapi Yesus menjelaskan “Akulah Jalan Kebenaran dan Hidup”, Yesuslah kebenaran, kebaikan yang sesungguh-sungguhnya. Menurut saya, setiap orang tentunya ingin mengetahui kebenaran/kebaikan yang sesungguhnya tersebut. Tapi karena “ketidak tahuan” maka pemahamannya berbeda dan kadang saling bertentangan. Saya juga… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Donny, Saya hanya menyampaikan kesan saya, karena Anda memintanya. Namun kalau kesan saya keliru, ya mohon maaf. Syukurlah kalau Anda tidak bermaksud mengatakan bahwa kebenaran Kristus sifatnya relatif. Sebab kebenaran atau kebaikan yang menghantar kepada keselamatan itu sifatnya mutlak, sebab Yesus sendiri mengatakannya dalam Yoh 14:6. Saya juga tidak mengatakan bahwa Anda mengatakan agar kita boleh membenci. Namun jika penilaian/ tolok ukur akan hal baik dan buruk itu ditentukan semata hanya oleh pribadi setiap orang, dan tidak atas kebenaran hukum kasih yang lebih tinggi, maka orang dapat sampai kepada pemahaman bahwa adalah sesuatu yang baik dan adil, bahwa jika… Read more »

Adhi Mahesa
Guest
Adhi Mahesa

selama ini ada beberapa pemikiran yang cukup mengganggu saya, berikut akan saya ceritakan. Dahulu saya tiap hari berdoa,tapi sekarang sudah amat sangat jarang dan kemudian saya terus berfikir dan merasakan dari beberapa sisi kehidupan lahiriah maupun rohani yang cukup mengganggu saya adalah : 1. jika memang tumbuhan tumbuh karena unsur2 dalam tanah, dan jika manusia hidup karena pola makan dan pola kehidupan, dan semutpun dapat hidup karena lingkungan sekitar ( siklus kehidupan ), maka di manakah peran Tuhan dalam hal tersebut? karena semua memang sudah berjalan seperti adanya. 2. saya mempercayai bahwa setiap kejadian atau sesuatu terjadi karena berlakunya hukum… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Adhi, 1&2 Siklus kehidupan ataupun hukum alam itu ada yang menciptakan, atau ada yang menyebabkannya. Nah Sang Pencipta dan Sang Penyebab segala sesuatu itu adalah Tuhan. Selanjutnya, silakan membaca artikel, bagaimana membuktikan bahwa Tuhan itu ada, silakan klik. 3. Hal yang seharusnya terjadi tentu bukanlah pergi ke gereja hanya untuk formalitas. Sebab hal menguduskan hari Tuhan, ataupun mengikuti perayaan Ekaristi pada hari Minggu atau bahkan setiap hari itu adalah salah satu perbuatan untuk mewujudkan kasih kita kepada Tuhan. Kita ketahui bahwa perintah Tuhan yang utama adalah 1) mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan dan 2)… Read more »

Jack Bu'ulolo
Guest
Jack Bu'ulolo

Buat saudara Saragih. Kasih tanpa kebenaran itu ngawur. Seorang pria mengatakan mencintai wanita, ingin hidup semati dst, ternyata setelah waktu berjalan baru diketahui bahwa ia mencintai wanita itu bukan karena cinta sejati melainkan karena ada maunya. Saat maunya ada ia mengatakan cinta, saat tidak ada ia tidak lagi mencintai. Itulah gunanya perlu adanya pencerahan dari otoritas yang benar (Gereja)kepada umatnya agar hidup dalam kasih yang benar. Demikian untuk bentuk hidup yang lainnya, kita membutuhkan pencerahan (pengajaran) yang benar yang disampaikan oleh otoritas yang benar pula. Coba kita bayangkan apa jadinya bila seorang murid diajarkan oleh seorang guru yang tidak berkompeten,… Read more »

Caecilia
Guest
Caecilia

Pro-Jack Bu’ulo, Kesan saya agaknya saudara Saragih memang type suka berdebat ^_^. Salut buat katolisitas yang masih saja mau melayani komentar2 beliau yang hanya ‘mbulet'(berputar-putar) di satu bahasan saja. Yang dilakukan katolisitas inilah refleksi dari kasih itu,setidaknya saya menangkap begitu. Maaf jika ada salah kata. Berkah Dalem [Dari Katolisitas: Sejujurnya, oleh karena masih banyaknya pertanyaan yang harus ditanggapi, dan keterbatasan energi kami, maka kamipun tidak dapat melayani suatu pertanyaan terus menerus, apalagi jika topiknya sebenarnya sama, dan kami sudah menyampaikan apa yang perlu disampaikan menurut ajaran Gereja Katolik. Kasih memang adalah inti ajaran iman kita, namun kasih ini tidak untuk… Read more »

relight - sian
Guest
relight - sian

Katolisitas yang baik,
pertama, trimakasih sudah detail dan sabar melayani pertanyaan diskusi saudara Saragih. sisanya biarkan bung saragih yang merenungkan dan mengaktualkannya. kedua, bung saragih ini masih banyak perlu belajar sepertinya, terlalu menyederhanakan yang sesungguhnya tidak sederhana tapi sebaliknya sederhana (soal kata Kasih dalam konteks ajaran Gereja Katolik dan Kasih dalam arti yang lain). terbukti dari cara beliau menjelaskan pendapatnya ; tidak mendasarkan ajaran gereja pada dasar yang mana? magisteriumkah? kitab sucikah – bagian yang mana? tradisi sucikah? atau hanya sekedar diskusi teologi kasih …
kesannya seperti banyak tahu (mengenal dan memahami ajaran Gereja Katolik) tapi sesungguhnya tidak hehee..

ciao ..BTIG

Irwan Saragih, Paroki Leo Agung
Guest
Irwan Saragih, Paroki Leo Agung

Dear Katolisitas dan Para Romo Pengasuh Situs ini, Sejauh mengikuti diskusi di situs ini, ada hal mendasar yang sy pertanyakan dan ingin memperoleh tanggapan bahwa : Dalam uraian/jawaban/diskusi yang disampaikan, Hukum Kasih sepertinya tidak ditempatkan sebagai sebagai hukum tertinggi, padahal itulah koreksi / penegasan Kristus kepada kaum Parisi yang menuduhNya hendak mengubah-ubah hukum Taurat dan Kitab para Nabi itu, bahwa: tak satu iota pun dari hukum Taurat ditiadakan sampai akhir zaman, tetapi semua hukum harus digantungkan pada hukum utama : kasih kepada Tuhan dengan segenap akal budi dan jiwa, dan kasih kepada sesama seperti diri sendiri. Bukankah kita harus konsisten… Read more »

RD. Yohanes Dwi Harsanto
Guest
RD. Yohanes Dwi Harsanto

Salam Irwan Saragih, Saya setuju dengan Anda. Tolok ukur hukum tertinggi ialah kasih kepada Allah dan serentak dengan itu kasih terhadap sesama seperti mengasihi diri sendiri. Dasarnya ialah karena Allah Bapa sudah lebih dahulu mengasihi kita melalui Yesus Kristus dalam Roh Kudus. Silahkan dilakukan dan meningkatkannya. Bagaimana Anda yang menikah mengasihi isteri Anda dan anak-anak Anda? Kepada masyarakat dan negara, bagaimana Anda mengasihi masyarakat sekitar di RT/RW serta bangsa negara Anda menurut hukum tertinggi? Kepada pemuka agama Anda dan agama lain yang berhubungan dengan Anda, bagaimana cara mengasihi mereka? Semua pertanyaan itu mesti bisa Anda tanggapi secara bertanggungjawab di hadapan… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Irwan, Kami di situs ini tidak pernah mengatakan “…keselamatan dan kasih Tuhan hanya sebatas golongan kita Katolik Roma, seakan keselamatan digantungkan pada paham/tradisi/praktek iman Katolik Roma, seakan kematian Yesus itu sebagai “tiket gratis” masuk surga….” seperti yang Anda katakan itu. Silakan Anda cut and paste, di mana Anda menemukan pernyataan kami di situs ini yang mengatakan demikian. Anda dapat membaca kembali artikel Apakah yang diselamatkan hanya umat Katolik, dan yang lain masuk neraka?, silakan klik; dan Anda akan mengetahui, bahwa di sana kami menyampaikan apa yang diajarkan oleh Gereja Katolik tentang keselamatan, yang tidak menyatakan bahwa hanya asal menjadi… Read more »

Caecilia
Guest
Caecilia

Senantiasa berjuang untuk menjadi lebih rendah hati lagi di hadapan Tuhan,sembari berbenah memperbaiki “cacat-cacat” diri jauh lebih baik daripada hanya fokus memperdebatkan/membahas hal (misalnya”KASIH”) yang justru menguras tenaga dan pikiran kita yang sebenarnya tidak lebih penting daripada ‘lebih baik mengamalkan dan menjalankannya’.

Berkah Dalem

[Dari Katolisitas: Ya, mari kita berjuang untuk mengamalkan kasih daripada hanya membicarakan tentang kasih. Tetapi karena salah satu fokus di situs ini adalah menyampaikan informasi tentang ajaran Gereja Katolik, maka kami tidak mempunyai pilihan lain, selain pertama-tama menyampaikan kepada pembaca, apakah ajaran Gereja Katolik itu, dan bagaimana mengartikan hukum kasih itu, sebagaimana diajarkan oleh Sabda Allah.]

elma
Guest
elma

Saya terkesan dg ayat Matius 5:48.. apakah itu berarti manusia bisa suci dan tdk berdosa 100% seperti Yesus??

[dari Katolisitas: silakan Anda membaca kembali uraian kami di artikel di atas ini, “Dua perintah utama mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama”, yaitu di pembahasan bagian IV, di mana ayat dari Mat 5:48 tersebut dibahas dengan lebih dalam. Semoga pertanyaan Anda terjawab, tapi kalau belum silakan bertanya lebih lanjut, terima kasih]

arliando
Guest
arliando

Shalom kakak pembimbing,

saya mau bertanya tapi tidak tahu harus mengepost di mana. Bagaimana kita harus memahami perikop Lukas 7:47 dan kaitannya dengan 1 petrus 4:8 dan yakobus 5:20. Apakah kita boleh mengartikan bahwa dengan berbuat kasih maka dosa kita akan diampuni?

Terima kasih mohon bimbingannya. Tuhan memberkati

Ingrid Listiati
Member

Shalom Arliando, Berikut ini adalah keterangan tentang ayat-ayat tersebut menurut The Navarre Bible: “Kasih menutupi banyak dosa” adalah kutipan dari kitab Perjanjian Lama (Ams 10:12, lih. Yak 5:20), mengacu kepada dosa-dosa sesama maupun dosa sendiri. Kasih menutupi dosa sesama, sebab kasih itu memahami dan memaafkan/ mengampuni dosa sesama. Kasih juga menutupi dosa sendiri, sebab dengan mengampuni sesama, kita memperoleh pengampunan dari Allah. Inilah yang diajarkan dalam doa Bapa Kami (lih. Mat 6:12,14). Juga dalam perikop wanita yang berdosa, Yesus mengatakan, bahwa dosanya yang banyak itu diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih (lih. Luk 7:47). Gereja mengajarkan bahwa kasih yang… Read more »

brian
Guest
brian

Dear katolisitas,

Mungkin pertanyaan saya tidak ada kaitan dengan topik di atas. Di mana saya bisa mendapat Kitab Suci yang dapat saya buka di laptop? Itu hari saya punya, tapi Kitab Suci Protestan. Dan setelah diinstal, program itu hilang.

Terima kasih atas bantuannya.

[Dari Katolisitas: Silakan mengunjungi situs Iman Katolik, silakan klik, atau Ekaristi.org, silakan klik].

Irwan Saragih, paroki Leo Agung Jakarta
Guest
Irwan Saragih, paroki Leo Agung Jakarta

Dear Katolisitas, Sy tidak begitu puas dengan penjelasan hal HUKUM KASIH ini. Ketika berbicara hukum-hukum Tuhan, hukum-hukum gereja, seharusnya senantiasa dalam konteks : semua hukum, semua ketentuan dan praktek iman itu adalah BERGANTUNG pada hukum kasih sebagai hukum tertinggi. Dalam bahasa hukum: semua hukum, semua ajaran, semua magisterium, semua tafsir,semua praktek iman diuji keabsahannya ke hukum tertinggi. Dalam analog sederhana: hukum kasih itu UUD bagi sebuah negara. Maka semua UU, semua aturan dan praktek hukum sebagai turunan dari UUD, tidak boleh bertentangan dengan UUD. Apabila bertentangan dengan UUD harus digugurkan demi hukum.UUD menjadi batu uji keabsahan semua hukum, aturan dan… Read more »

charles
Guest
charles

dear katolisitas.org
saya charles, masih katekumen. saya mau bertanya inti tugas orang katolik itu
mentaati 10 perintah Allah
mengasihi Tuhan Allah sengenap hati pikiran dan kekuatan
kasihilah sesamamu seperti kamu mengasihi dirimu sendiri
itu sajakah?
mohono dikoreksi bila ternyata ada kesalahan

Ingrid Listiati
Member

Shalom Charles, Yang memberikan dua perintah utama, yaitu mengasihi Allah dan mengasihi sesama (Mat 22:34-40) adalah Kristus sendiri. Kristus mengatakan bahwa di atas kedua hukum yang utama inilah tergantung seluruh hukum taurat dan kitab para nabi. Maka intinya memang hukum kasih ini, yang terdengar sangat sederhana dan mudah, namun kenyataannya cukup sulit untuk dilakukan secara sempurna. Sebab teladan yang sempurna bagi pelaksanaan hukum kasih itu adalah teladan Kristus sendiri, yaitu yang mau menyerahkan nyawa-Nya demi kasih-Nya kepada Allah Bapa dan kita manusia. Silakan membaca penjelasan lebih lanjut tentang mengasihi Allah dan sesama di artikel di atas, silakan klik, dan juga… Read more »

yusup sumarno
Guest
yusup sumarno

katolisitas Ytk,

di manakah kira kira letak jebakan kaum farisi dalam mat 22:34-40 itu?
pada perikup bayar pajak sangat jelas ada jebakannya.
pada hukum utama dalam taurat, kira kira apa yang diharapkan orang farisi (yang dapat membungkam Yesus)? terima kasih

anonim
Guest
anonim

shalom katolisitas…
saya mau bertanya kalo di kitab suci ada ga sih ayat yang membahas tentang cinta pada sesama (pacar)..??
thanx

Ingrid Listiati
Member

Shalom Anonim, Menurut pengetahuan saya, tidak ada ayat dalam Kitab suci yang membahas tentang cinta kepada pacar. Secara umum hal itu tercakup dalam cinta kepada sesama, yang memang dibahas di banyak ayat dalam Kitab Suci. Namun cinta antara laki-laki dan perempuan yang diikat dalam perkawinan yaitu suami dan istri, itu dibahas dalam Kitab Suci, sebab hubungan kasih antara suami dan istri dikehendaki Allah sebagai gambaran dari kasih Allah kepada umat-Nya, dan kasih Kristus kepada Gereja-Nya. Hal ini sudah pernah dibahas di beberapa artikel berikut: Indah dan dalamnya Makna Perkawinan KatolikKemurnian dalam Perkawinan Atas pemahaman keluhuran makna perkawinan ini, maka mereka… Read more »

yeronagapa
Guest
yeronagapa

mereka yang menganiaya kamu. Karena de­ngan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapa­mu yang di surga, yang menerbitkan mata­h­ari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar Posted by parokiyakobus on June 19, 2012 in Renungan harian, uncategorized ”Kamu telah mendengar firman: Kasihilah se­samamu manusia dan bencilah mu­suh­mu. Tetapi Aku berkata kepa­da­mu: Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Karena de­ngan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapa­mu yang di surga, yang menerbitkan mata­h­ari bagi orang yang jahat dan orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan… Read more »

ferdy
Guest
ferdy

mohon penjelasan mengenai bacaan hari ini Mat9:14-15 apa maksud Yesus: “Dapatkah sahabat-sahabat mempelai laki-laki berdukacita selama mempelai itu bersama mereka? Tetapi waktunya akan datang mempelai itu diambil dari mereka dan pada waktu itulah mereka berpuasa.”
Dalam perenungan saya bahwa murid-murid Yesus belum saatnya berpuasa hingga Yesus harus disalib, bangkit, dan naik ke surga. Sehingga makna puasa bagi murid-muridnya dan kita sekarang lebih mendalam. Terima kasih. Tuhan Yesus Memberkati.

Ingrid Listiati
Member

Shalom Ferdy, Dalam Mat 9:14-15, Kristus mengajarkan kepada para murid-Nya bahwa maksud berpuasa bagi kita semua yang mengimani Dia adalah bukan semata kepada tindakan berpuasa itu sendiri, tetapi lebih kepada permenungan akan kisah sengsara Kristus, di mana Kristus ‘diambil dari mereka’ dengan wafat disalibkan demi menghapus dosa- dosa umat manusia. Permenungan ini yang dilakukan dengan sikap tobat, doa, mati raga dan derma, merupakan persiapan batin yang baik untuk menyambut kebangkitan Kristus secara baru di dalam hati kita; dan menumbuhkan kasih kita yang lebih besar kepada Tuhan dan kepada sesama. Silakan membaca selanjutnya di sini, Mengapa kita berpuasa dan berpantang?, silakan… Read more »

The Believer
Guest
The Believer

Yth para Romo / Katolisitas.org Sy ingin meminta bimbingan rohani dari Romo… Sblmnya sy mohon maaf bila ada statement2 sy di forum ini yg lari dari maksud situs yaitu “Knowing and loving our Catholic faith”. Belakangan ini sy depresi, sy sangat sulit berbicara/bergaul dgn orang lain dikarenakan pikiran sy trus menerus fokus ke kebutuhan ekonomi keluarga / orang tua sy, apalagi di situ ada seorang adik remaja perempuan (Beda halnya kalau sy sendiri yg hidup berkekurangan, itu tidak akan mjd masalah). Sy selalu kuatir dgn mereka. Sy selalu berusaha utk berkomunikasi dgn orang lain, tp itu terlalu sulit, bila sy… Read more »

Caecilia Triastuti
Editor

Shalom The Believer, Ijinkan saya dengan segenap keterbatasan, turut membantu memberikan pendapat yang semoga dapat berguna bagi Anda. Ketika membaca cerita Anda, saya teringat kepada kalimat bijak ini, “Kekhawatiran tidak membantu Anda memecahkan kesukaran / persoalan Anda di hari esok, namun yang jelas ia merenggut kebahagiaan Anda hari ini”. Saya tidak melihat bahwa dengan merasa murung memikirkan kesulitan ayah ibu dan adik itu akan memberikan solusi bagi persoalan mereka. Bahkan lebih jauh, kemurungan dan kesedihan itu merampas performa kerja Anda di kantor, yang selayaknya diperjuangkan sebaik-baiknya untuk kelak memungkinkan Anda bisa ikut memikul beban keluarga. Dan lebih disayangkan lagi, merampas… Read more »

The Believer
Guest
The Believer

Ysh Ibu Caecilia,

Terima kasih atas tanggapan baik Ibu.
Saya merasa dikuatkan kembali…

Iya y, sebuah kekhawatiran ga’ akan memecahkan persoalan, malah sbnrnya merenggut kebahagiaan. Aduh kenapa ga dari dulu sj y, sy minta pendapat Ibu. Eh tapi kalau dari dulu, pasti akan lain ceritanya skrg. Mungkinkah ini adalah rencana Tuhan ? Semoga…
Akan saya pegang semua Petunjuk Tuhan itu.

Sekali lg Terima kasih. Semoga Ibu sekeluarga selalu diberkati Tuhan.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
TB

mardi widyarto
Guest
mardi widyarto

Luar biasa. Membaca dan merenungkan artikel ini membuat saya ditelanjangi, diterangi sekaligus disemangati. Seakan sedang menjalani retret pribadi, mata hati saya dibukakan; betapa saya yang merasa mengasihi Allah ternyata masih sangat jauh dari sempurna. begitu rapuh menghadapi segala jerat dan tipu daya si jahat. Yang baru bagi saya terutama mengenai beristirahat dalam Tuhan dan bahwa melukai sesama meski dengan pikiran sekali pun, mencederai kesempurnaan kasih. Namun saya berbahagia karena sesungguhnya Tuhan telah menyediakan daya yang memampukan untuk mencapai kesempurnaan kasih. Satu hal yang selama ini entah mengapa tidak saya pergunakan secara semestinya. Sungguh artikel ini menunjukkan di mana saya saat… Read more »

vinsensius budi
Guest
vinsensius budi

Shalom Pak Soenardi.

Wah analogi bapak tentang salib itu bagus sekali, brilliant pak. Sederhana, mudah dimengerti namun cukup dalam maknanya.

Untuk bu Inggrid, uraian tentang tiga tingkatan kasih itu tepat sekali bagi perkembangan iman umat. Karena sering orang kurang dapat memahami bagaimana mengimplementasikan hukum kasih yang pertama itu (ayat 37).

Kadang untuk mempermudah menjawab pertanyaan tentang kasih kepada Tuhan ini saya mengaitkannya dengan bacaan Mat 25:35-45. Bagaimana menurut ibu, apakah itu relevan?

Terima kasih.
Salam dalam kasih Kristus dan Bunda-Nya.

Ingrid Listiati
Member

Shalom Vinsensius,
Ya, hal kasih kepada sesama atas dasar kasih kepada Tuhan, dapat dijelaskan dengan mengkaitkannya dengan Mat 25:35-45. Selanjutnya, Anda dapat mengacu kepada Katekismus Gereja Katolik tentang 14 perbuatan kasih (karitatif) secara jasmani maupun rohani, yang pernah dituliskan di sini, silakan klik.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Fransiskus Dany
Guest
Fransiskus Dany

Syalom bu Inggrid

Dalam Alkitab,di ayat mana saya bisa lihat firman tentang “kasih sesama dan kasih Tuhan”kepada kita

Terimakasih,Tuhan Berkati

[Dari Katolisitas: Silakan Anda membaca artikel di atas. silakan klik]

soenardi
Guest
soenardi

Dapatkah ayat (37)”Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu”, yang dikatakan sebagai ayat yang: (38)” Itulah hukum yang terutama dan yang pertama” –karena memang yang terpenting,– dimengerti sebagai tidak bisa tidak harus dikaitkan dan dilengkapi dengan; (39) “Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” sebagai satu kesatuan? Bukankah ayat-ayat itu dimaksudkan untuk mengatakan bahwa kasih kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada sesama? Bahwa barang siapa MENGATAKAN atau MENGANGGAP bahwa dia mengasihi Tuhan SEHARUSNYA atau TIDAK BISA TIDAK juga mengasihi sesama? Dengan demikian… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom P. Soenardi,
Ya, nampaknya pemahaman Bapak sungguh tepat. Sebab perintah untuk mengasihi Tuhan memang tidak dapat dilepaskan dari perintah untuk mengasihi sesama. Analogi kasih Allah sebagai tiang vertikal dan kasih kepada sesama sebagai balok horisontal pada salib, juga merupakan analogi yang baik. St. Agustinus juga memberikan analogi yang serupa yang menggambarkan bahwa kedua perintah ini tidak terpisahkan. Yaitu perintah ini seumpama kedua kaki pada kita manusia, atau kedua sayap pada burung; sebab dengan kedua perintah ini kita dapat terbang sampai ke Surga.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X