Di sisi mana Bunda Maria duduk di surga?

Pertama- tama, perlu dipahami dahulu bahwa di Surga tidak ada orang yang kawin dan dikawinkan, tidak seperti di dunia ini (lih. Luk 20:34-35; Mat 22:30. Mrk 12:25). Jika ini berlaku bagi manusia di surga, terlebih lagi pada Allah sendiri. Jadi, meskipun dikatakan bahwa Gereja adalah Mempelai Kristus, namun ini bukan untuk diartikan secara duniawi. Hubungan kasih yang memberikan diri antara Kristus dan Gereja memang diangkat sebagai gambaran hubungan kasih antara suami istri (Ef 5:22-33); namun bukan berarti bahwa Yesus kawin sepertihalnya suami dan istri di dunia ini. Demikian juga, Allah Bapa tidak mempunyai istri, apalagi memperistrikan Bunda Maria. Bunda Maria yang kini telah berada di surga, atas jasa pengorbanan dan kebangkitan Kristus, adalah perempuan yang bermahkota dua belas bintang, yang disebut dalam Kitab Wahyu 12:1.

Selanjutnya, untuk mengetahui di mana Bunda Maria duduk di Surga maka kita dapat mengacu kepada apa yang disampaikan dalam Kitab Perjanjian Lama. Mengapa? Karena Gereja Katolik selalu membaca Kitab Perjanjian Lama dengan terang Perjanjian Baru dan Perjanjian Baru sebagai penggenapan Perjanjian Lama (lihat Katekismus KGK 129), karena terdapat kaitan dan kesatuan antara PL dan PB. Sebab ada banyak kisah dalam Perjanjian Lama yang menjadi gambaran yang tersingkap pada Perjanjian Baru.

Gambaran peran seorang Ratu surga tersebut kita ketahui secara samar- samar pada kisah Ratu Batsyeba. Ratu pada jaman Kerajaan Salomo (anak Daud) bukanlah istri sang raja, namun ibu sang raja, yaitu Batsyeba. Raja Salomo menghormati ibunya dan menempatkan tempat duduknya di sebelah kanan raja. Bunda Maria adalah Ibu Yesus, Sang Raja keturunan Daud yang dijanjikan Allah. Maka Bunda Maria juga menempati kedudukan istimewa di samping Kristus sang Raja (lih. Neh 2:6).

Beberapa kutipan ayat dalam kitab Perjanjian Lama yang menggambarkan nubuat tentang tempat Bunda Maria di surga:

1Raj 2: 19 …. Batsyeba masuk menghadap raja Salomo untuk membicarakan hal itu untuk Adonia, lalu bangkitlah raja mendapatkannya serta tunduk menyembah kepadanya; kemudian duduklah ia di atas takhtanya dan ia menyuruh meletakkan kursi untuk bunda raja, lalu perempuan itu duduk di sebelah kanannya….”

Mzm 45:10 …. di antara mereka yang disayangi terdapat puteri-puteri raja, di sebelah kananmu [Mu di sini adalah sang ‘raja’, yang mengacu kepada Kristus, lihat Mzm 45:2-3] berdiri permaisuri berpakaian emas dari Ofir.

Demikian maka kita mengetahui bahwa Bunda Maria duduk di sebelah kanan Kristus, sedangkan yang duduk di sebelah kiri Kristus adalah Allah Bapa, karena Yesus sendiri mengatakannya, bahwa Ia duduk di sebelah kanan Allah Bapa (lih. Mat 26:63-64).

19/12/2018

22
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
5 Comment threads
17 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
9 Comment authors
MichaelFransiskus DanyMaximillian ReinhartsantiDela Recent comment authors
Fransiskus Dany
Guest
Fransiskus Dany

Syalom Ibu Ingrid, Di setiap kesempatan aku selalu membaca artikel yang saya tanya pada Ibu, dan artikel lainnya dari TJ katolisitas, sebab semua saya print menjadi satu kumpulan tentang theologi bagi saya pribadi, dan apa yang saya baca terkadang ada saya sheringkan pada sesama satu iman, terkadang dengan non Khatolik. Yang menjadi pertanyaan saya: kalau kita lihat artikel”mengapa Bunda Maria disebut Ratu Surga?” 3 (Dalam Kitab Suci, disebutkan bahwa ratu kerajaan yang duduk di sebelah kanan raja adalah Bunda Sang Raja. Dijelaskan dalam Mzm 45:7, bukankah perikop dari Mzm 45:7 nyanyian pada waktu pernikahan Raja. Sementara saya tahu mengupas salah… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Fransiskus Dany, Gereja Katolik mengajarkan agar kita membaca Kitab Suci Perjanjian Lama dengan terang Perjanjian Baru di mana Kristus telah menggenapinya melalui kematian dan kebangkitannya dan sebaliknya, Kitab Perjanjian Baru harus dibaca dengan terang Perjanjian Lama. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan: KGK 129    Jadi umat Kristen membaca Perjanjian Lama dalam terang Kristus yang telah wafat dan bangkit. Pembacaan tipologis ini menyingkapkan kekayaan Perjanjian Lama yang tidak terbatas. Tetapi tidak boleh dilupakan, bahwa Perjanjian Lama memiliki nilai wahyu tersendiri yang Tuhan kita sendiri telah nyatakan tentangnya (Bdk. Mrk 12:29-31). Selain itu Perjanjian Baru juga perlu dibaca dalam cahaya Perjanjian Lama. Katekese… Read more »

Maximillian Reinhart
Guest
Maximillian Reinhart

Salam Kasih dalam Allah Tritunggal Mahakudus. Aku mohon dikoreksi jika tulisanku keliru, sungguh aku membutuhkan pencerahan dari tim Katolisitas. Yesus adalah PRIBADI PUTRA yg TIDAK SAMA dengan BAPA dalam hal tugas dan wewenang-Nya. Yesus sendiri tidak dapat berbuat apa-apa jika tanpa Bapa, itu artinya KEDUANYA SATU HAKIKAT adalah ALLAH. [Dari Katolisitas: Namun pada kenyataan-Nya Yesus tidak pernah sendirian, namun selalu bersama dengan Allah Bapa] Yesus DUDUK DI SEBELAH KANAN ALLAH BAPA, BENAR. Bukan aku yg menulis Injil pun menulis demikian: 1. Mat 26:64, Mrk 14:62, “Jawab Yesus: “Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat… Read more »

santi
Guest
santi

gak penting banget sih ngurusin duduknya….????yang penting Tuhan Yesus tetap no.1 mau duduk di mana juga gak penting!!!!diam dalam hadirat Bapa yg penting….koq kayak tau aja emg udah pernah masuk surga?

Ingrid Listiati
Member

Shalom Santi, Mungkin bagi anda tidak penting, tetapi ada pembaca yang bertanya tentang hal ini, maka kami menjawabnya. Sebenarnya memang yang terpenting adalah Allah yang meraja di dalam Kerajaan-Nya, namun karena kita ingin juga ada bersama- sama dengan Allah, maka kita mempelajari apa yang menjadi kehendak-Nya, dan apa yang dijanjikan-Nya kepada orang-orang yang percaya kepada-Nya. Maka hal duduk di sisi mana dalam Kerajaan Surga memang bukan yang utama, tetapi tidak dapat dilepaskan dari realitas Kerajaan Surga. Dalam konteks inilah pertanyaan di atas diajukan, dan kami menjawabnya. Maka di sini sebenarnya fokusnya bukan Bunda Maria, tetapi kepada semua orang yang menjadi… Read more »

jufrans
Guest
jufrans

dari jawaban ibu,,seakan-akan Bapa dan Yesus itu terpisah(dua pribadi),padahal Bapa adalah Tuhan Yesus,.kalau boleh tolong diperjelas karna akan membingungkan bayak orang yang baru mempelajari katolik.

Ingrid Listiati
Member

Shalom Jufrans, Walaupun digambarkan bahwa Kristus Allah Putera duduk di sebelah kanan Allah Bapa, itu tidak berarti bahwa keduanya adalah dua Pribadi yang terpisah sama sekali, karena walaupun berbeda Pribadi-Nya namun keduanya terikat oleh satu Hakekat. Silakan anda membaca terlebih dahulu artikel Allah Trinitas, yaitu Allah yang Satu dengan Tiga Pribadi, silakan klik. Gambaran tentang Kristus yang duduk di sebelah kanan Allah tertulis dalam Kitab Suci, jadi bukan pandangan saya pribadi. Ayatnya adalah demikian: 1. Mat 26:64, Mrk 14:62, “Jawab Yesus: “Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan… Read more »

andriyanto
Guest
andriyanto

Terima kasih atas penjelasan ibu Ingrid. Penjelasan dari Luk 20:34-35,Mat 20:30 dan Mrk 12:25 memberi pemahaman kepada saya. Sebelumnya sempat saya berpikir jika Kristus adalah Allah sendiri, sedang Bunda Maria mengandung karena kuasa Roh Kudus. Jika mengacu kepada Tritunggal Maha Kudus maka sempat saya berlogika bahwa Kristus berarti menikahi ibuNya. Meski sayangnya dasar ayat tersebut berasal dari PL, dengan kesejajaran posisi seperti yang ibu Ingrid paparkan merupakan jawaban yang sangat memuaskan saya. Salut untuk ibu Ingrid.

Ingrid Listiati
Member

Shalom Andriyanto, Mohon dipahami, bahwa Kristus memang adalah Allah sendiri, dan bahwa Bunda Maria memang mengandung atas kuasa Roh Kudus. Namun ini tidak berarti bahwa Kristus menikahi ibu-Nya, karena Kristus tidak sama dengan Roh Kudus. Prinsip ini dapat dipahami, jika kita memahami prinsip Allah Trinitas: Allah yang Satu dalam Tiga Pribadi. Ayat yang saya sampaikan pada jawaban saya sebelumnya, tentang di manakah Bunda Maria duduk di surga, memang saya ambil dari Perjanjian Lama, tetapi mohon janganlah dianggap sebagai “ayat kelas dua”, sehingga anda katakan, “Meski sayangnya dasar ayat tersebut berasal dari PL….“. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan agar kita menganggap PL… Read more »

Dela
Guest
Dela

Salam Sdr Andriyanto

Sekedar saran, jika anda ingin memahami Allah dengan logika anda, maka selamanya anda tidak akan pernah paham. Logika bisa membuat manusia terjebak dalam locgical falacy. Allah hanya bisa kita pahami dengan iman

salam

Ingrid Listiati
Member

Shalom Dela, Paus Yohanes Paulus II mengajarkan demikian dalam pembukaan surat Ensikliknya, Fides et Ratio (Faith and Reason/ Iman dan akal budi), “Faith and reason are like two wings on which the human spirit rises to the contemplation of truth; and God has placed in the human heart a desire to know the truth—in a word, to know himself—so that, by knowing and loving God, men and women may also come to the fullness of truth about themselves (cf. Ex 33:18; Ps 27:8-9; 63:2-3; Jn 14:8; 1 Jn 3:2). Dari sini kita ketahui bahwa untuk mencapai penghayatan kebenaran, iman dan… Read more »

andriyanto
Guest
andriyanto

Salam Untuk Dela dan ibu Ingrid Terima kasih atas tanggapan Dela dan Penjelasan ibu Ingrid. logika itu kadang muncul secara tiba-tiba. dari logika timbul suatu pertanyaan. saya hanya bermaksud menemukan jawaban di tempat yang benar.Ibu Ingrid menjelaskan untuk mencapai penghayatan kebenaran iman dan akal budi harus berjalan seiring. Kadang saya menjawab sendiri suatu asumsi dengan menggunakan logika saya.tetapi tidak berdasar KS atau ajaran Gereja. apakah itu dibenarkan?suatu contoh saya melogika ada proses transformasi ke-allahan dari Maria ke Yesus. Maria banyak mengetahui ke-allahan Yesus pada saat hidupnya. Apakah Maria saat hidupnya berdoa melalui Yesus?. Logika saya Maria tidak berdoa melalui Yesus.… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Andriyanto, Prinsipnya penggunaan akal budi/ logika dalam iman adalah dalam rangka “faith seeking understanding” sehingga maksudnya, dengan akal budi kita berusaha untuk semakin memahami iman. Sebab kebenaran itu adalah sesuatu yang diwahyukan oleh Tuhan sendiri, sehingga bagian yang dilakukan oleh manusia adalah mengimaninya, dan berusaha memahaminya dengan akal budinya. Itulah sebabnya penggunaan logika tidak pernah mengatasi iman itu sendiri. Sebab, kebenaran itu bukan sesuatu yang dihasilkan oleh manusia melalui akal budinya, dan baru kemudian diimani. Ini adalah pola pikir yang terbalik. Maka dengan prinsip ini saya menjawab pertanyaan anda: 1. Kita harus mempelajari dahulu apakah yang diajarkan oleh Kitab… Read more »

andriyanto
Guest
andriyanto

Shalom ibu Ingrid Terima kasih sekali atas penjelasannya. Mata saya jadi terbuka. Saya akui pola pikir saya yang salah tentang pemahaman diatas. Salut untuk ibu Ingrid dan tim Katolisitas. Namun saya sangat menyesal. Saya umat Katolik yang taat. Semua peraturan gereja dan pengajaran agama dari SD sampai kuliah saya ikuti. Namun saya tidak pernah mendapatkan penjelasan secara detil mengenai dasar pemahaman ajaran Gereja Katolik, pemahaman Kristus, pemahaman Bunda Maria sebelum saya menemukan situs Katolisitas ini. Apakah memang dibedakan? padahal dari penjelasan, dialog maupun dari tanya jawab “Katolik” benar-benar dijabarkan secara mengesankan, tentu hal ini tidak berlaku bagi umat Katolik yang… Read more »

Dela
Guest
Dela

Terimakasih sekali atas tanggapan Ibu Ingrid, salam juga untuk saudara andriyanto. Saya hanya membagikan apa yang ada dalam diri saya, sama seperti apa yang ada dalam diri saudara. Ada kegelisahan karena ketidakmampuan kita menangkap misteri Allah. Saya terus mencari dan “gila” nya lagi saya lebih mempercayai akal budi saya, atau mungkin oleh Paulus disebut Hikmat manusia. Ketika saya berpikir tentang misteri inkarnasi saya mencoba memahani sama persis seperti apa yang anda tanyakan, namun ketika saya membuka Alkitab tiba2 (sebuah kebetulan atau memang TUHAN yang menghendaki) saya membaca surat Paulus yang berbunyi: supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Dela, Saya sudah menjawab sebagian pertanyaan ini di sini, silakan klik. Terhadap pertanyaan anda, apakah perkawinan Maria dan Yusuf merupakan pernikahan “pura- pura” dan karenanya Maria berdosa karena tidak memenuhi kewajiban terhadap Yusuf, adalah sebagai berikut: Agaknya kita harus dapat melihat bahwa meskipun Allah memerintahkan kepada manusia untuk beranak cucu dan menaklukkan bumi (Kej 1:28); namun tidak berarti bahwa tidak ada kekecualian dalam hal ini. Kekecualian dapat saja terjadi, dan itu dibenarkan Allah, demi maksud yang lebih sempurna. Sebab Kitab Suci menggambarkan perkawinan suami istri yang kita kenal sekarang adalah hanya gambaran samar- samar akan “perkawinan Anak Domba” di… Read more »

Dela
Guest
Dela

Salam Kasih dalam Kristus Tuhan untuk Ibu Ingrid yang terberkati, terimakasih sekali atas jawabannya, memang banyak yang tidak akan paham tentang hal ini karena mungkin inilah yang dimaksud oleh Rasul Yohanes ketika ia menulis “Mereka berasal dari dunia; sebab itu mereka berbicara tentang hal-hal duniawi dan dunia mendengarkan mereka.” 1 Yoh 4:5

Salam

andriyanto
Guest
andriyanto

Salam untuk Dela juga Tentang ajaran Gereja mengenai Maria baik menyangkut keperawanan suci atau kaitannya dengan keselamatan telah diterangkan banyak di Katolisitas. Sejarah Gereja sangatlah panjang. Suatu doktrin atau konsep bukan melalui keputusan sesaat. Tradisi Kristen selama ribuan tahun ikut membentuk Gereja Katolik seperti apa yang sekarang kita ketahui. Alkitab bukanlah sumber historis yang dapat menerangkan dengan jelas sosok Yesus dan Bunda Maria. Bahkan teks aslinya pun sudah tidak ada. Yang kita pakai adalah versi terjemahan dalam bahasa Yunani. Itu pun dengan tatabahasa yang masih acak-acakan. Sehingga perihal Maria dengan segala atributnya harus dipahami dalam kerangka iman. Dari abad ke… Read more »

BUDI YOGA PRAMONO
Guest
BUDI YOGA PRAMONO

Shalom Bu Inggrid,
Penjelasan kok gak nyambung apalagi dianalogikan dg ratu Batsyeba, jadi aneh !
Menurut saya yang duduk di tahta adalah Sang Bapa dan Putra yaitu Yesus Kristus .
Mereka adalah satu , dan mereka adalah Khalik sang pencipta , yang awal dan yang akhir , sedangkan Maria adalah makhluk ciptaan walaupun sangat dimuliakan tp tidak dapat disejajarkan dengan Sang Bapa.
Oleh karena itu pemujaan kpd Maria adalah devosi karena Maria , para santo/a juga nabi2 & rasul2 adalah orang yang dipakai TUhan sebagai alat untuk menyatakan kemuliaanNya. GBU

Ingrid Listiati
Member

Shalom Budi Yoga, Cara menginterpretasikan Kitab Suci dengan membaca PL dengan terang PB adalah cara yang diajarkan dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK 129), dan bukan merupakan merupakan pendapat saya pribadi. Ini adalah cara membaca dan mengartikan Kitab Suci seperti yang diajarkan oleh Kristus sendiri dan para rasul. Kristus pernah membandingkan diri-Nya yang ditinggikan di tiang salib dengan patung ular tembaga yang ditinggikan oleh Musa di padang gurun (lih. Yoh 3:14; Bil 21:9); Ia pernah membandingkan dirinya dengan raja Salomo, dan Nabi Yunus (lih.Luk 11:29-32). Dengan prinsip yang sama maka Rasul Paulus membandingkan Adam dan Kristus – Yesus adalah Adam yang… Read more »

andriyanto
Guest
andriyanto

Yesus anak Allah duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Dimana posisi Bunda Maria? dikanan Yesus, atau disamping Bapa?karena tidak mungkin Bunda Maria di bawah Yesus, karena Yesus sangat menyayangi ibunya.jika disamping Bapa berarti Bunda Maria lebih tinggi dari Yesus, jika disamping Yesus padahal dia ibu Yesus yang berarti istri Bapa. mohon penjelasan
Andriyanto

[Dari Katolisitas: Pertanyaan ini dan jawabannya sudah ditayangkan di atas, silakan klik]

Michael
Guest
Michael

Syalom! Menurut saya, Maria saat ini masih berada dalam tempat penantian bersama-sama dengan semua orang kudus yg telah mendahului kita. Tidak ada seorangpun yang naik ke Surga selain daripada Dia yg telah turun dari Surga. Karena menurut 1Kor15:51-55, kita yang masih hidup tidak akan mendahului mereka yang telah meninggal dalam Kristus, sebab saat sangkakala terakhir dibunyikan. Jelas bhw Maria masih menunggu hari itu. Yesus telah ditentukan sebagai Imam Besar di Surga dan menjadi perantara antara Allah dan umat-Nya, tidak ada perantara lain baik di bumi maupun di manapun yg kita butuhkan krn Tirai pembatas antara ruang maha kudus dan ruangan… Read more »

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X