Dalamnya Makna Tanda Salib

Tanda salib ini mengandung arti yang sangat mendalam yaitu 1) kemanunggalan dari Allah Trinitas, 2) salib menunjukkan keadilan Allah, yang menunjukkan betapa kejamnya akibat dosa kita, sehingga Allah sendiri yang menebusnya dengan wafat-Nya di salib itu (lih. Gal 3:13); 3) salib menunjukkan kasih Allah yang terbesar, yaitu bahwa Ia menyerahkan nyawa-Nya bagi kita (Yoh 15:13) agar kita dapat diselamatkan dan memperoleh hidup yang kekal (Yoh 3:16); 4) salib yang merupakan tanda keselamatan dan kemenangan orang-orang Kristen, yang disebabkan oleh kemenangan Kristus atas dosa dan maut. Jadi tanda salib ini merupakan lambang yang berdasarkan Alkitab (lih. Yeh 9:4, Kel 17:9-14, Why 7:3, 9:4 dan 14:1), dan bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan ajaran Yesus. Bahkan Rasul Paulus sendiri bermegah dengan pewartaan salib Kristus (Gal 6:14), sehingga wajarlah jika kita sebagai pengikut Kristus membawa makna tanda salib ini kemanapun kita berada.

Menurut sejarah, diketahui bahwa Tanda Salib memang merupakan tradisi jemaat awal, yang dimulai sekitar abad ke-2 berdasarkan kesaksian para Bapa Gereja, terutama Tertullian, yang dilanjutkan oleh St. Cyril dari Yerusalem, St. Ephrem dan St Yohanes Damaskus. Jadi walaupun kita tidak membaca ajaran mengenai tanda salib ini dilakukan oleh para rasul di dalam Alkitab, namun bukan berarti bahwa tanda salib ini tidak berdasarkan Alkitab.

Sebab, biar bagaimanapun, makna yang terkandung dalam pembuatan tanda salib ini terpusat pada Kristus, untuk mengingatkan para beriman akan keselamatan yang dapat diperoleh oleh jasa Kristus yang tersalib dan bangkit. Maka tanda salib ini bagi umat Kristen adalah tanda yang harus kita bawa kemanapun sebagai tanda yang mengingatkan kita kepada salib Kristus yang menyelamatkan kita. Tradisi ini serupa dengan tradisi bangsa Yahudi yang memakai “tefilin” yaitu semacam kotak hitam yang berisi naskah Alkitab, yang mereka ikatkan di dahi mereka, sebagai pelaksanaan dari perintah dalam kitab Ul 6:4-8: “Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu…” Tanda di dahi ini juga disebutkan di dalam kitab Yeh 9:4.

Tanda Salib menurut Para Bapa Gereja

Maka bagi umat Kristiani, tradisi membuat tanda salib ini sudah berakar sejak lama, bahkan dari Alkitab Perjanjian Lama, dan juga Perjanjian Baru, yaitu dari kitab Wahyu Why 7:3; 9:4; 14:1. Berakar dari ajaran Kitab Suci inilah, maka Para Bapa Gereja mengajar demikian:

1) Tertullian (abad 2) mengajarkan dalam De cor Mil, iii: “Dalam perjalanan kita dan pergerakan kita, pada saat kita masuk atau keluar, ….. pada saat berbaring ataupun duduk, apapun pekerjaan yang kita lakukan kita menandai dahi kita dengan tanda salib.”

2) St. Cyril dari Yerusalem (315-386) dalam Catecheses (xiii, 36)  mengajarkan, “Maka, mari kita tidak merasa malu untuk menyatakan Yesus yang tersalib. Biarlah tanda salib menjadi meterai kita, yang dibuat dengan jari-jari kita, di atas dahi … atas makanan dan minuman kita, pada saat kita masuk ataupun keluar, sebelum tidur, ketika kita berbaring dan ketika bangun tidur ketika kita bepergian ataupun ketika kita beristirahat.”

3) St. Ephrem dari Syria (373) mengajarkan, “Tandailah seluruh kegiatanmu dengan tanda salib yang memberi kehidupan. Jangan keluar darin pintu rumahmu sampai kamu menandai dirimu dengan tanda salib. Jangan mengabaikan tanda ini, baik pada saat sebelum makan, minum, tidur, di rumah maupun di perjalanan. Tidak ada kebiasaan yang lebih baik daripada ini. Biarlah ini menjadi tembik yang melindungi segala perbuatanmu, dan ajarkanlah ini kepada anak-anakmu sehingga mereka dapat belajar menerapkan kebiasaan ini.”

4) St. Yohanes Damaskus (676-749) mengajarkan, “Tanda salib diberikan sebagai tanda di dahi kita, …. sebab dengan tanda ini kita umat yang percaya dibedakan dari mereka yang tidak percaya.”

Memang dalam hal cara membuat tanda salib itu terjadi perkembangan, karena pada awalnya tanda salib hanya dibuat di dahi saja, namun kemudian diajarkan juga untuk membuat tanda salib di mulut (St Jerome, Epitaph Paulae) dan di hati (Prudentius, Cathem., vi, 129). Tanda salib seperti yang kita kenal sekarang, yang secara jelas diajarkan oleh Paus Innocentius III (1198–1216), seperti demikian:

“The sign of the cross is made with three fingers, because the signing is done together with the invocation of the Trinity. … This is how it is done: from above to below, and from the right to the left, because Christ descended from the heavens to the earth, and from the Jews (right) He passed to the Gentiles (left). Others, however, make the sign of the cross from the left to the right, because from misery (left) we must cross over to glory (right), just as Christ crossed over from death to life, and from Hades to Paradise. [Some priests] do it this way so that they and the people will be signing themselves in the same way. You can easily verify this — picture the priest facing the people for the blessing — when we make the sign of the cross over the people, it is from left to right…

Cara membuat tanda salib

Memang terdapat beberapa cara untuk membuat tanda salib. Yang terpenting di sini adalah makna yang ingin disampaikannya, dan penghayatan orang yang membuat tanda salib ini. Maka cara yang mendetail sebenarnya tidak terlalu menjadi masalah, seperti apakah membuatnya dengan dua jari (jari penunjuk dan jari tengah, yang melambangkan dua kodrat Yesus, yaitu Allah dan manusia) atau tiga jari (yang melambangkan Trinitas), atau kelima jari (melambangkan kelima luka-luka Yesus di kayu salib). Atau arah salibnya ke kanan dulu baru kiri (seperti yang dilakukan Gereja-gereja Timur dan Orthodox) atau ke kiri dahulu baru ke kanan (seperti yang dilakukan oleh Gereja Katolik Roma).

Umumnya caranya adalah demikian:

Dengan dua atau tiga (atau lima jari) jari tangan kanan di dahi (sambil mngucapkan: “Atas nama Bapa”), tangan kemudian ke dada -melambangkan hati atau ke perut -menunjuk kepada luka Yesus di perut-Nya ataupun rahim di mana Yesus dikandung oleh Bunda Maria (sambil mengucapkan “dan Putera”, kemudian tangan menuju ke bahu kiri dan kanan (sambil mengucapkan “dan Roh Kudus” Amin). Dan tangan kembali terkatup.

Kapan kita membuat tanda salib?

1) Pada saat sebelum dan sesudah kita berdoa.

2) Ketika kita melewati setiap bangunan gereja Katolik, untuk menghormati kehadiran Tuhan Yesus di dalam tabernakel.

3) Ketika memasuki gereja (membuat tanda salib dengan air suci)

4) Saat-saat sedang menghadapi ketakutan ( misalnya: ketika kita mendengar sirine ambulans, mobil kebakaran) ataupun ketika menerima kabar duka cita orang yang meninggal.

5) Ketika kita melihat Salib Kristus, ataupun di saat- saat lain untuk menghormati Kristus, memohon pertolongan-Nya,

6) Ketika hendak mengusir godaan, ketakutan maupun mengusir pengaruh kuasa jahat.

7) Ketika ayah, sebagai imam dalam keluarga memberkati anak-anaknya, ia dapat menandai anak-anaknya dengan tanda salib di dahi mereka, misalnya sebelum anak-anak berangkat ke sekolah atau sebelum mereka tidur pada waktu malam hari.

Semoga kita dapat menghayati makna tanda salib ini, dan menjadikan tanda salib sebagai bagian dari hidup kita sendiri. Setiap kita membuat tanda salib kita mengingat dan menhormati Kristus yang oleh kasih-Nya rela menyerahkan hidup-Nya di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita. Semoga kita dapat berkata bersama dengan Rasul Paulus, “Tetapi aku sekali-kali tidak mau bermegah, selain dalam salib Tuhan kita Yesus Kristus, sebab olehnya dunia telah disalibkan bagiku dan aku bagi dunia.” (Gal 6:14)

19/12/2018

65
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
32 Comment threads
33 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
42 Comment authors
Tribarfinandi.sugiartakirananugrahaZhakBratha Recent comment authors
Tribarfin
Member
Tribarfin

Selamat Hari Minggu , Tuhan Yesus memberkati !
Aku mau nanya nih Bu Inggrid, Knapa sih salib yg dipakai oleh biarawati ( maaf, sya tdk tau apakh dipakai oleh biarawan jga) adalah salib dgn bntuk huruf T(Tau) ? Apakah perbedaan maknanya dgn salib yg biasa dipakai (salib Latin/ Crux Immissa) ? apakah seorg awam Katolik jg boleh mmakai salib Tau (Crux Commissa)sprti yg dipakai oleh biarawati tsb ?
Terimakasih

Ingrid Listiati
Member

Shalom Tribarfin, Demikian adalah keterangan dari Haydock’s Catholic Commentary on the Holy Scripture: “Tanda ‘Tau’ adalah huruf terakhir dari alfabet Ibrani, dan menunjukkan sebuah tanda: yang menjadi sebab mengapa beberapa penerjemah mengatakan, ‘menempatkan semua tanda, tanpa menyebutkan lebih detai tentang tanda apakah itu. Tetapi St. Hieronimus dan sejumlah ahli Kitab Suci, menyimpulkan bahwa itu adalah bentuk dari huruf Tau, yang dalam huruf Ibrani, adalah bentuk sebuah salib. Tentang hal ini sejumlah naskah kuno yang masih survive menjadi saksinya. …. Maka maksud dari huruf T itu memang adalah tanda kunci. Para serdadu yang luput dari hukuman menerima huruf ‘T’ [yang dalam… Read more »

andi.sugiarta
Member
andi.sugiarta

Selamat pagi,

Saya memerlukan bantuan untuk mendapatkan kompilasi dasar pemikiran dan ajaran untuk:

1. Menggunakan Salib sebagai lambang iman.
2. Merayakan Natal dan Paskah secara khusus.

Baru-baru ini saya menemukan sebuah denominasi yang menolak kedua hal diatas.

Terimakasih,
Berkah Dalem.

Andi Sugiarta

Ingrid Listiati
Member

Shalom Andi,

1. Salib lambang iman

Silakan pertama-tama membaca artikel ini:

Dalamnya makna Tanda Salib
Salib Tanda Kasih Kristus

2. Merayakan Natal dan Paskah

Silakan membaca artikel berikut ini, dan Tanya Jawab di bawahnya, sebab pertanyaan serupa pertanyaan Anda sudah pernah ditanyakan di situs ini dan juga sudah ditanggapi.

Apakah Yesus lahir tanggal 25 Desember?
Seputar Adven dan Natal

Tentang Hari Wafat dan Kebangkitan Kristus
Ucapan “Happy Easter”, salah kaprah?

Untuk selanjutnya, silakan menggunakan fasilitas pencarian di sisi atas homepage untuk mencari topik yang ingin Anda ketahui.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- katolisitas.org

andi.sugiarta
Member
andi.sugiarta

Terimakasih banyak atas bantuannya.

Sebelumnya saya sudah mencoba menggunakan fasilitas pencarian yang tersedia, namun hasil yang saya dapat kurang komprehensif. Tetapi dengan jawaban Ibu Inggrid di atas, informasi yang saya cari sudah saya dapatkan.

Sekali lagi terimakasih, dan mohon bantuannya di masa yang akan datang.

Selamat sore,
Berkah Dalem.

Andi Sugiarta

kirananugraha
Member
kirananugraha

Mengapa dI agama kristen tidak atau mungkin jarang menggunakan tanda dalob saat akan memulai berdoa? Apakah ada larangan atau bagaimana? Terima kasih

[Dari Katolisitas: Mungkin maksud Anda adalah Tanda Salib? Silakan Anda bertanya kepada mereka dari gereja Kristen non-Katolik yang tidak membuat Tanda Salib. Gereja Katolik membuat Tanda Salib, sebab hal itu telah menjadi tradisi Gereja sejak abad awal, dan karena Tanda Salib mempunyai makna yang dalam, sebagaimana telah diuraikan di atas, silakan klik.]

Zhak
Guest
Zhak

Bolehkah membuat tanda salib dengan tangan kiri?

[Dari Katolisitas: Jika orang tersebut kidal, maka ya, dapat dilakukan, membuat Tanda salib dengan tangan kiri. Yang penting tetap dilakukan dengan hormat dengan dengan pennghayatan akan maknanya.]

Bratha
Guest
Bratha

Shallom, saya ingin bertanya apakah salah bila orang kristen yang bukan dari denominasi katholik membuat tanda salib? Saya sering buat tanda salib sebelum makan sesudah makan, sebelum tidur dan sebelum dan sesudah saya berdoa. Ya saya bukan dari denominasi katholik, tetapi saya ingin menjadi penganut agama katholik, tetapi tidak tau saya harus pergi kepada siapa? Oleh sebab itu saya melakukan hal yang umum dilakukan oleh orang katholik. [Dari Katolisitas: Tentu saja Anda boleh membuat Tanda Salib, sebab Salib adalah Tanda kemenangan kita sebagai umat yang mengimani Kristus. Jika Anda ingin menjadi Katolik, silakan menghubungi paroki di mana Anda berdomisili, atau… Read more »

djupri susetyo
Guest

Salib
Positif thinking
Simbul keselamatan
Tabir terbelah dua [dari Katolisitas: mungkin maksud Anda tirai di tempat mahakudus di bait Allah?], hubungan Allah dan manusia langsung
Yang percaya diampuni Dan diselamatan
Ada tujuh sabda yang Luar Biasa didalam peristiwa salib Yesus [dari Katolisitas: mungkin maksud Anda tujuh sabda terakhir Yesus di kayu salib (seven last words of Christ)? Tentang ini sudah pernah dibahas di sini, silakan klik]

Perado
Guest

Salam Damai Kristus bagi kita semua..

saya ingin bertanya karena masih bingung dengan hal ini, sebenarnya apakah pengertian dari berdoa bersifat kristologi dan berdoa bersifat trinitas dan juga perbedaannya? itu yang masih saya bingung. Dan satu hal lagi apakah itu saja sifat sifat berdoa?, jika itu benar ada berapa banyak lagi sifat sifat dalam berdoa?

Ingrid Listiati
Member

Shalom Perado, Katekismus Gereja Katolik mengajarkan tentang doa, demikian: KGK 2559     “Doa adalah pengangkatan jiwa kepada Tuhan, atau satu permohonan kepada Tuhan demi hal-hal yang baik” (Yohanes dari Damaskus, f.o.3,24). Dari mana kita berbicara, kalau kita berdoa? Dari ketinggian kesombongan dan kehendak kita ke bawah atau “dari jurang” (Mzm 130:1) hati yang rendah dan penuh sesal? Siapa yang merendahkan diri akan ditinggikan (Bdk. Luk 18:9-14). Kerendahan hati adalah dasar doa, karena “kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa” (Rm 8:26). Supaya mendapat anugerah doa, kita harus bersikap rendah hati: Di depan Allah, manusia adalah seorang pengemis (Bdk. Agustinus, serm.… Read more »

Rita
Guest
Rita

Shalom, Majikan saya adalah non-kristen. Mereka mengetahui saya beragama katolik. Oleh sebab saya telah bekerja dengan mereka terlalu lama maka hubungan kami terjalin rapat umpama keluarga. Saya dan anak-anaknya bekerja dalam satu pejabat. Oleh itu hubungan saya juga rapat dengan cucu-cucunya. Mereka juga tahu saya ke gereja walaupun saya bukan penganut yang taat beragama. Satu hal yang tidak pernah saya lakukan di hadapan keluarga majikan saya adalah membuat tanda salib. Saya tidak ada halangan membuat tanda salib bila bersama dengan non-kriten/non-katolik yang lain, tetapi hal membuat tanda salib di hadapan mereka amat berat bagi saya. Saya teringat ayat dalam alkitab… Read more »

Caecilia Triastuti
Editor

Shalom Rita, Terima kasih atas pertanyaan Anda. Kenyataannya dalam berbagai kesempatan hidup sehari-hari, terutama di jaman yang semakin sekular di tengah berbagai kemajemukan hidup bermasyarakat, saya sendiri dan umumnya umat beriman juga masih selalu ditantang untuk menghidupi iman saya secara nyata, dan teguh bersaksi atas iman itu, demi kasih dan kemuliaan Allah serta Kabar Baik yang Allah percayakan pada kita (lih. Mark 16 : 15) untuk diwartakan ke segala makhluk, dengan salah satunya melalui membuat sebuah tanda salib, pada kesempatan-kesempatan yang sesuai. Relevan untuk direnungkan, sebagaimana pergumulan Anda ini, apakah saya konsisten dengan pernyataan iman saya kepada dunia di mana… Read more »

Rita
Guest
Rita

Terima kasih atas penjelasan yang memberikan dorongan agar berani untuk menjadi saksi kristus.

Ada suatu lagi pertanyaan saya yang belum terjawab, saya tak berapa ingat tentang petikan ketika murid-murid Yesus memberitakan Injil, ada dinyatakan tuluslah seperti merpati, dan cerdiklah seperti ular. Kalau dalam Kejadian ular itu adalah licik. Adakah dalam memberitakan Injil kita perlu bersikap seperti ular tersebut?

Sekali lagi mohon penjelasan.

Shalom.
Rita

[dari Katolisitas: silakan Anda baca terlebih dahulu artikel di atas, “Matius 10:16 Secerdik ular setulus merpati” dan silakan bertanya kembali bila masih ada yang perlu ditanyakan, semoga membantu]

Hendra Tanumihardja
Guest
Hendra Tanumihardja

Ibu Inggrid dan Bpk Stefanus yth, Komsos parokiku membuat informasi bahwa tanda salib sbb “poin 4. Tanda salib yg dibuat sebaiknya tanda salib besar, yaitu dgn menyentuh pusar (sebagai lambang inkarnasi Kristus). Tidak membuat tanda salib ketika imam memberi absolusi umum (“…semoga Alah mengasihani kita…dst..”), karena yg kita ikuti adalah Misa Kudus bukan Sakramen Tobat. Tidak salah membuat tanda salib dengan menyentuh dada ketika berkata “Putra”. Tambahan : Info ini BUKAN TPE BARU. TPE yg berlaku tetap TPE 2005. Info ini hanya merupakan hasil olahan setelah penulis mengikuti rekoleksi liturgi di salah satu paroki di KAJ oleh komisi liturgi KWI… Read more »

Ingrid Listiati
Member

Shalom Hendra, Sebagaimana disampaikan di atas, sesungguhnya terdapat beberapa cara membuat tanda salib, yang memang tergantung dari bagaimana memaknainya. Ada yang membuat tanda salib (bagian “Putera”) dengan menyentuh pusar, lambang Inkarnasi Kristus ataupun di perut melambangkan luka Yesus di lambung-Nya, namun juga ada yang di dada, yang mengingatkan akan Hati Kudus-Nya yang menyatu dengan hati kita. Menurut buku karangan Rev. Dr. Eugene JCS Weitzel, From Baltimore to Vatican II, Q. 295, p. 480 tentang cara membuat tanda salib, dikatakan demikian: “Kita membuat Tanda Salib dengan meletakkan tangan kanan di dahi, dan kemudian di dada, dan ke arah kiri dan kanan… Read more »

David
Guest
David

Salam dalam damai kristus Saya seorang Katolik, 25thn, saya ingin bertanya tentang tanda salib, semenjak kecil seperti pada seorang Katolik pada umumnya saya menggunakan tangan kanan untuk melakukan tanda salib, tapi sebenarnya saya adalah seseorang yang dalam keseharian adalah bertangan kiri baik itu menulis, bekerja dan makan. Jika kebanyakan orang menggunakan tangan kanannya dalam melakukan aktifitas dan menggunakan tangan kiri untuk bersih2 setelah (maaf…) B.A.B, saya justru sebaliknya…saya melakukan tangan kiri untuk aktifitas dan menggunakan tangan kanan untuk bersih2 setelah B.A.B, mungkin bagi orang yang bertangan kanan ini tidak ada masalah tapi bagi saya yang bertangan kiri inilah yang sering… Read more »

Stefanus Tay

Shalom David, Sama seperti tidak menjadi masalah untuk melakukan aktifitas lain dengan tangan kanan maupun tangan kiri, maka tidak ada masalah juga untuk membuat tanda salib, baik dengan tangan kanan maupun tangan kiri. Yang terpenting dalam membuat tanda salib adalah benar-benar menghayati apa yang dilakukan, karena tanda salib mempunyai makna yang begitu dalam. Silakan melihat artikel ini – silakan klik. Tidak ada aturan di dalam Kitab Suci tentang hal ini. Yang ada adalah “Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk… Read more »

Anggi
Guest
Anggi

Shalom Katolisitas,

saya mau tanya sebenarnya klo buat tanda Salib yg 3 jari (Trinitas) itu jari jempol, jari telunjuk dan jari tengah atau jari telunjuk, jari tengah dan jari manis keduanya dengan telapak tangan terbuka atau gmana ya?

Terima kasih

Stefanus Tay

Shalom Anggi,

Membuat tanda salib untuk melambangkan Trinitas dilakukan dengan tiga jari. Tradisi di Timur dan juga tulisan dari Paus Leo IV (pertengahan abad 9), memberikan keterangan bahwa membuat tanda salib dengan tiga jari: yaitu jari tengah, jari telunjuk, dan ibu jari. Sedangkan membuat tanda salib dengan lima jari adalah melambangkan lima luka Yesus di salib dan dengan dua jari melambangkan dua kodrat Yesus – yang sungguh Allah dan sungguh manusia.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
stef – katolisitas.org

Anggi
Guest
Anggi

Shalom Pak Stef,

Terima kasih Pak Stef atas penjelasannya.

paulus
Guest
paulus

Syalom Alaikhem,
Dalam membuat tanda salib, yang pertama dikatakan bukankah seharusnya “Dalam Nama Bapa” (dalam bahasa Inggris “In the Name Of the Father”).

[Dari Katolisitas: Kata “in” memang artinya “dalam” jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Namun jika ada kelanjutannya “in the name of”, artinya mernyerupai idiom, dan bukan hanya sekedar “dalam”/ di dalam. Tentang hal ini sudah pernah ditulis di sini, silakan klik]

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X