Bunda Maria, Bunda Kerahiman, Doakanlah Keluarga Kami!

Kerahiman: adakah kebajikan ini dalam keluarga kita?

Dewasa ini, sudah bukan rahasia lagi, jika ada banyak keluarga yang retak, bahkan yang kemudian berpisah. Kita mungkin tidak perlu jauh-jauh untuk mencari contohnya, sebab bisa jadi itu terjadi dalam lingkaran kerabat kita, bahkan keluarga kita sendiri. Mengapa dan bagaimana hal itu dapat terjadi, tidaklah sama antara suatu keluarga dengan yang lainnya. Tetapi ada satu akar yang sama yang menjadi penyebabnya, yaitu ketika tidak ada lagi kerahiman, atau belas kasih sejati, yang dihidupi dalam keluarga tersebut. Kerahiman atau belas kasih merupakan sifat Allah yang paling utama, sebab Allah menyatakan diri-Nya sebagai Kasih (1Yoh 4:8). Tanpa melibatkan Allah, yang adalah Kasih yang mempersatukan ini, keluarga Kristiani akan kehilangan arah dan pedoman, sehingga tatkala ada masalah ataupun perselisihan antara anggota- anggotanya, masing-masing pihak akan cenderung memusatkan perhatian kepada kepentingan dan kehendaknya sendiri, dan bukan kepada kebaikan bersama.

Kerahiman Ilahi, itulah yang perlu kita mohon bagi keluarga kita. Agar dengan bersandar kepada kerahiman Allah, kita dimampukan untuk menghidupi dan menerapkan sifat kerahiman itu di dalam keluarga kita. Dalam hal inilah menjadi pas, jika kita melihat teladan Bunda Maria, yang telah terlebih dahulu menghidupinya dan menerapkannya dalam Keluarga Kudus di Nazaret, dan yang hingga kini terus mengambil bagian dalam mewujudkan rencana Sang Kerahiman Ilahi itu dalam sejarah umat manusia. Peran Bunda Maria ini khusus dan istimewa, justru karena Tuhan Yesus menghendakinya demikian. Ia menghendaki agar Bunda Maria, Bunda-Nya menjadi Bunda Kerahiman bagi kita semua, agar kita dapat belajar bahwa sifat kerahiman itu, bukan hanya milik Allah sendiri, namun juga dapat menjadi milik kita manusia. Sebab dengan menerapkan sifat kerahiman itu dalam hidup kita, kita diubah sedikit demi sedikit untuk menjadi semakin menampakkan Allah Sang Kerahiman, dalam diri kita. Bunda Maria adalah manusia pertama yang telah menjadikan kerahiman Allah itu sebagai kesatuan yang tak terpisahkan dalam hidupnya sendiri, dan karena itu, marilah kita mengikuti teladannya.

Mengapa Maria disebut Bunda Kerahiman?

Mungkin jawaban sederhananya adalah: karena Bunda Maria menyatakannya demikian kepada sejumlah orang pilihan, yang oleh izin Allah, menerima wahyu pribadi, untuk meneguhkan secara eksplisit apa yang dikehendaki Allah untuk dipahami oleh umat-Nya, berkenaan dengan prinsip ajaran yang telah disampaikan oleh Wahyu Allah dalam Kitab Suci. Yaitu bahwa sifat Allah yang terutama adalah belas kasih dan Allah menghendaki agar kita, sebagai murid Kristus, untuk juga berbelas kasih. Untuk maksud itulah Allah memberikan contoh yang sempurna, yaitu Bunda Maria.

Dalam buku hariannya, St. Faustina menuliskan pengalaman rohaninya, saat mendoakan doa novena bagi intensi bapa pengakuannya. Di akhir doa novena itu, saat ia mendaraskan doa Salam, ya Ratu, ia melihat Bunda Maria menampakkan diri kepadanya dengan menggendong Kanak-kanak Yesus, sambil berkata, “Aku bukan hanya Ratu Surga, tetapi juga Bunda Kerahiman dan juga Bunda-mu.”1 Perkataan ini serupa dengan apa yang pernah disampaikan oleh Bunda Maria kepada St. Brigita dari Swedia di abad ke-14, “Akulah Ratu Surga dan Bunda Kerahiman; akulah kesukaan bagi orang-orang benar, dan pintu yang melaluinya para pendosa akan dibawa kepada Tuhan.”2 Perlindungan Bunda Maria sebagai ibu orang beriman, dan Bunda Kerahiman juga kembali dinyatakan oleh Bunda Maria, kepada St. Juan Diego dari Guadalupe di abad ke-16, dan kepada St. Bernadette Soubirous di abad ke-19. Maka, walau istilah Bunda Kerahiman mungkin dianggap baru oleh sejumlah orang, namun sebenarnya telah sejak abad awal, Gereja memohon kepada Bunda Maria, untuk memberikan perlindungannya dengan doa-doa syafaatnya. Doa tersebut dikenal dengan sebutan Sub Tuum Praesidium, yang berbunyi:

“Di bawah kerahimanmu kami berlindung, O Bunda Tuhan. Jangan menolak permohonan kami dalam kesesakan, tetapi bebaskanlah kami dari mara bahaya, [o engkau] yang suci dan terberkati.”3

Dr. Robert Stackpole, direktur The John Paul II Institute of Divine Mercy, menjelaskan bahwa ada 4 alasan mengapa Bunda Maria disebut sebagai Bunda Kerahiman, yaitu4:

  1. Sebab Bunda Maria yang dikandung tidak bernoda dosa, diciptakan oleh Sang Kerahiman Ilahi untuk turut melakukan karya Kerahiman Allah.
  2. Sebab Allah telah memilihnya untuk menjadi Ibu Yesus, Sang Kerahiman Ilahi, dan Bunda Maria-lah yang telah melahirkan Yesus itu di dunia.
  3. Sebab Bunda Maria melaksanakan karya kerahiman Allah, dengan menunjukkan bagaimana caranya untuk menjadi murid Kristus yang sejati.
  4. Sebab Bunda Maria senantiasa menjadi pendoa syafaat bagi kita, yang membawa permohonan- permohonan kita kepada Allah.

Bunda Maria diciptakan tiada bernoda untuk turut melakukan karya kerahiman Allah

Injil mengajarkan kepada kita, bagaimana Allah sendiri telah memilih Bunda Maria, dan memenuhinya dengan rahmat-Nya. “Salam Maria, penuh rahmat, Tuhan sertamu”, yang kita doakan dalam doa Salam Maria, diambil dari salam yang disampaikan oleh malaikat utusan Tuhan kepada Bunda Maria, saat memberikan Kabar Gembira kepadanya. “Hail Mary, full of grace, the Lord is with you”, diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh LAI menjadi, “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau” (lih. Luk 1:28). Namun di sini kita menangkap intinya, yaitu Allah memberi salam penghormatan kepadanya, dan menyebutnya sebagai seseorang yang dikaruniai dengan rahmat Allah, dan yang disertai oleh Allah sendiri. Salam semacam ini tidak pernah disampaikan Allah kepada siapapun yang lain. Kepenuhan rahmat Allah yang dalam diri Bunda Maria juga merupakan kekhususan baginya, yang diberikan Allah sehubungan dengan tugas istimewa yang dipercayakan kepadanya, yaitu untuk menjadi Bunda Kristus yang adalah Allah, dan karena itu, Maria disebut sebagai Bunda Allah.

Karena keistimewaan ini, maka apapun dalam diri Bunda Maria, memang adalah ciptaan Sang Kerahiman Ilahi, dan diperuntukkan bagi karya Kerahiman Ilahi. Tak ada mahluk ciptaan yang lain, yang dengan sempurna menyatakan kerahiman Allah, selain daripada Bunda Maria yang dikandung tanpa noda. Sebab kerahiman Allah yang tiada terbatas itulah yang memungkinkan Bunda Maria menerima rahmat pengudusan yang sempurna, bahkan sejak terbentuk dalam rahim ibunya, agar ia sungguh-sungguh layak mengemban tugas sebagai Bunda Putera Allah yang kudus. Bunda Maria kemudian menanggapi rahmat Allah yang sungguh luar biasa ini, dengan kesediaannya untuk taat dan melaksanakan kehendak Allah di sepanjang hidupnya. Ketaatan Bunda Maria kepada Allah inilah yang menjadikannya kudus. Bunda Maria menggenapi secara sempurna apa yang diajarkan oleh Rasul Petrus, bahkan sebelum Rasul Petrus mengajarkan hal ini kepada Gereja:

“Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangalah turuti hawa nafsu yang menguasai kamu… tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus yang telah memanggil kamu, sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku adalah kudus.” (1Ptr 1:14-16)

Maka kekudusan Bunda Maria, tidak dimaksudkan oleh Allah untuk menjadi kebaikan bagi Bunda Maria itu sendiri, ataupun sebagai semacam persyaratan baginya untuk menjadi ibu bagi Tuhan Yesus. Allah berkehendak agar kekudusan Bunda Maria itu menjadi teladan bagi kita, agar kitapun dapat, seperti Bunda Maria, bertumbuh menjadi kudus. Dengan kekudusan inilah, kita dapat turut mengambil bagian dalam rencana kerahiman Allah, yaitu untuk membawa sebanyak mungkin orang kepada keselamatan kekal.

Kini marilah kita melihat ke dalam diri kita masing-masing dan terutama di dalam keluarga kita: Apakah kita telah menjadi orang yang taat akan perintah Allah? Apakah yang telah kita lakukan untuk bertumbuh dalam kekudusan? Apakah kita telah menjadi orang yang berbelas kasih kepada orang lain, terutama kepada anggota- anggota keluarga kita? Apakah kita telah mengikuti teladan kerahiman Allah, dengan mengampuni semua orang yang telah menyakiti hati kita? Sebab kerahiman Allah bukanlah sesuatu yang dimaksudkan Allah untuk kita terima bagi diri kita sendiri, melainkan juga untuk kita bagikan kepada sesama kita, terutama mereka yang kecil, lemah, tersingkir dan terlupakan. Dan bukannya tidak mungkin orang-orang ini ada dalam keluarga kita. Sejauh mana kita telah memberikan perhatian kasih kepada anak-anak kita, bahkan sejak mereka ada di dalam kandungan? Sejauh mana kita telah memberikan kasih dan perhatian kepada anak-anak kita, dan juga kepada orang tua kita, terutama jika mereka telah lanjut usia dan sakit-sakitan? Apakah kita telah memperlakukan pasangan kita, baik suami maupun istri, dengan kelemahlembutan? Bagaimanakah kita memperlakukan setiap anggota dalam rumah tangga kita, termasuk para pembantu rumah tangga, supir maupun satpam? Adakah kita telah memperlakukan mereka dengan layak? Sebab belas kasih yang kita nyatakan kepada sesama kitalah, yang menjadi bukti apakah kita sungguh telah mengasihi Tuhan. Rasul Yohanes menuliskan dalam suratnya:

“Jikalau seorang berkata: “Aku mengasihi Allah,” dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.” (1 Yoh 4:20).

Allah telah memilih Bunda Maria untuk menjadi ibu yang melahirkan Yesus, Sang Kerahiman Ilahi

Di tanggal 20 Oktober 2014 ini, kita rakyat Indonesia resmi memiliki Presiden dan Wakil Presiden yang baru. Ibunda Bp. Joko Widodo, tentu layak untuk disebut ibunda Presiden, sebab anaknya adalah Presiden RI. Demikianlah juga, karena Tuhan kita Yesus Kristus adalah Sang Kerahiman Ilahi, maka Bunda-Nya, Bunda Maria, layak disebut sebagai Bunda Kerahiman. Melalui Bunda Maria-lah Kristus Sang Kerahiman Ilahi dapat lahir ke dunia, dan mengambil rupa manusia. Melalui Bunda Maria-lah, Kerahiman Allah yang tidak kelihatan itu menjadi kelihatan dan hadir di tengah- tengah umat-Nya.

Peran Bunda Maria yang sangat istimewa dan hanya satu-satunya ini dalam sejarah keselamatan umat manusia, tidak meniadakan peran setiap kita, yang juga dipercaya oleh Allah untuk turut mengambil bagian dalam menghadirkan kerahiman Allah di tengah umat-Nya. Setelah kenaikan-Nya ke Surga, kehadiran Kristus di tengah Gereja dinyatakan dalam sakramen Ekaristi kudus, yang tiap-tiap hari dirayakan oleh Gereja dalam perayaan Ekaristi. Kita sebagai anggota Gereja dipanggil oleh Allah untuk mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi, agar setelah menerima Kristus yang sungguh hadir secara nyata di dalam Ekaristi itu , kitapun dapat membagikan Kristus kepada sesama kita. Sebagaimana Bunda Maria telah menghadirkan Kristus ke dunia, kitapun dipanggil oleh Allah untuk menghadirkan Kristus ke dunia di sekitar kita, entah di rumah, di sekolah, di tempat kerja, maupun di mana saja.

Maka bagi keluarga kita, pertanyaannya adalah, apakah kita telah bersama-sama dengan keluarga kita, menghadiri dan mengambil bagian dalam perayaan Ekaristi kudus? Sebab sakramen Ekaristi adalah sakramen cinta kasih dan sakramen pemersatu yang dikehendaki Allah sebagai sarana untuk mempersatukan seluruh anggota keluarga kita. Dengan mengambil bagian dalam Ekaristi kudus, pasangan suami istri memperbaharui kembali janji perkawinan mereka. Sebab dalam Ekaristilah, Gereja sebagai Tubuh Kristus merayakan dan menyatakan kesatuannya dengan Kristus sebagai Kepalanya. Suami istri yang telah dipersatukan oleh Kristus dalam sakramen Perkawinan, mengambil bagian dalam kesatuan Kristus dengan Gereja-Nya ini. Mengingat begitu dalamnya makna Ekaristi bagi kesatuan suami istri, maka marilah kita bertanya kepada diri kita masing-masing, sejauh mana kita telah melakukan hal ini? Apakah sebagai suami istri kita telah hadir dalam perayaan Ekaristi dan bersama-sama memperbaharui janji perkawinan setiap kali menyambut Kristus dalam Komuni kudus? Apakah ketika mengalami pergumulan ataupun permasalahan dalam perkawinan ataupun keluarga kita, kita menimba kekuatan dari Kristus dalam Ekaristi? Apakah kita telah dengan sungguh-sungguh turut mempersiapkan anak-anak kita untuk menerima Komuni Pertama dengan penuh rasa syukur? Sejauh mana kita sendiri menghayati makna Ekaristi, sehingga kita dapat membagikan penghayatan kita kepada pasangan kita, suami ataupun istri, dan kepada anak-anak kita?

Bunda Maria melaksanakan karya kerahiman Allah dengan menjadi teladan murid Kristus yang sejati

Sebagai Bunda Kerahiman, Bunda Maria mengajarkan kepada St. Faustina demikian, “Aku menghendaki, anak-ku yang terkasih, agar engkau melaksanakan tiga kebajikan ini yang sangat berharga bagiku- dan yang sangat berkenan kepada Allah. Yang pertama adalah kerendahan hati, kerendahan hati dan sekali lagi, kerendahan hati; yang kedua adalah kemurnian; dan yang ketiga adalah kasih akan Tuhan.”5 Dengan kata lain, Bunda Maria mendorong kita, agar menumbuhkan ketiga kebajikan ini dalam kehidupan kita, agar kita dapat bertumbuh di dalam kekudusan. Kepada kekudusan itulah kita semua dipanggil, sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Suci (lih. Im 19:2; Mat 5:48; 1Tes 4:3). Panggilan untuk hidup kudus inilah yang diserukan kembali oleh Konsili Vatikan II, sebagaimana tertulis dalam Lumen Gentium.6 Demikianlah, Gereja mengajarkan bahwa kekudusan dimaksudkan untuk semua orang, tidak saja untuk para religius; namun juga untuk kita kaum awam, baik yang lajang maupun yang hidup berkeluarga. Dan untuk mencapai kekudusan ini, kita harus memulai dari langkah pertama, yaitu kerendahan hati.

Kerendahan hati

Mengapa kerendahan hati? Kerendahan hati adalah dasar dari semua kebajikan yang lain, sebab tanpa kerendahan hati, kita tidak dapat sungguh-sungguh memiliki kebajikan-kebajikan yang lain.7 Kerendahan hati juga disebut sebagai ‘ibu’ dari semua kebajikan, sebab ia melahirkan ketaatan, takut akan Tuhan, dan penghormatan kepada-Nya, kesabaran, kesederhanaan, kelemah-lembutan dan damai sejahtera.8 Tuhan Yesus sendiri menghendaki agar kita belajar daripada-Nya untuk menjadi lemahlembut dan rendah hati (Mat 11:29).

Kerendahan hati atau humility berasal dari kata humus (Latin), artinya tanah/ bumi.9 Jadi, kerendahan hati maksudnya adalah menempatkan diri ‘membumi’ ke tanah. St. Thomas Aquinas mengatakan, bahwa pengenalan akan diri sendiri bermula pada kesadaran bahwa segala yang baik pada kita datang dari Allah dan milik Allah, sedangkan segala yang jahat pada kita timbul dari kita sendiri.10 Kesadaran akan hal ini membawa kita pada kebenaran: yaitu bahwa kita ini bukan apa-apa, dan Allah adalah segalanya. Di mata Tuhan kita ini pendosa, tetapi sangat dikasihi oleh-Nya. Kerendahan hati inilah, kata St. Thomas, adalah dasar dari ‘rumah rohani’ kita.11

Selain itu, kerendahan hati adalah lawan dari kesombongan yang menjadi dosa pertama dari manusia pertama. Kesombongan adalah sikap ‘menolak’ untuk taat kepada Allah, seperti kita lihat pada kisah Adam dan Hawa (Kej 2:8-3:14). Demikianlah, rencana keselamatan Allah untuk menebus dosa umat manusia itu, diwujudkan awalnya dengan kerendahan hati; dalam hal ini, oleh kerendahan hati Kristus- sebagai Adam yang baru; dan kerendahan hati Bunda Maria- sebagai Hawa yang baru. Kristus rela mengosongkan diri-Nya, dengan mengambil rupa manusia, untuk kemudian menanggung hukuman yang paling hina sebagai seorang hamba (lih. Flp 2:5-11). Surat kepada jemaat Ibrani menuliskan tentang perkataan Kristus kepada Bapa-Nya ketika Ia masuk ke dalam dunia, yang menunjukkan ketaatan-Nya kepada Allah Bapa:

“Korban dan persembahan tidak Engkau kehendaki -tetapi Engkau telah menyediakan tubuh bagiku-. Kepada korban bakaran dan korban penghapus dosa Engkau tidak berkenan. Lalu Aku berkata: Sungguh, Aku datang; dalam gulungan kitab ada tertulis tentang Aku untuk melakukan kehendak-Mu, ya Allah-Ku.” (Ibr 10:5-7)

Demikian pula, Bunda Maria menunjukkan ketaatannya kepada kehendak Bapa, ketika ia berkata kepada malaikat itu yang menyampaikan Kabar Gembira kepadanya, bahwa ia akan mengandung Sang Putera Allah:
“Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (Luk 1:38)

Maka, selain Kristus, Bunda Maria adalah contoh yang sempurna tentang kerendahan hati dan kesempurnaan kasih. Bunda Maria menyadari bahwa ia dikaruniai oleh rahmat yang istimewa dengan menjadi Bunda Allah yang Mahatinggi, namun ia tetap rendah hati, dengan menganggap dirinya sebagai hamba Allah, yang siap melakukan kehendak-Nya. Kerendahan hatinya inilah yang mendorong Bunda Maria untuk mengutamakan kebutuhan Elisabet saudaranya, daripada memikirkan pergumulannya sendiri. Bunda Maria senantiasa mensyukuri rahmat Allah yang diterimanya, dan merenungkannya di dalam hatinya (lih. Luk 2:19, 51). Bunda Maria tidak meninggikan diri dan menuntut keistimewaan karena telah dipilih Allah menjadi ibu Putera-Nya. Bunda Maria tidak mengeluh ketika tidak memperoleh tempat penginapan dan karena itu harus melahirkan di kandang hewan yang hina. Ia tetap memenuhi ketentuan yang disyaratkan tentang pentahiran menurut hukum Taurat Musa, dan dengan demikian tidak menonjolkan dirinya sebagai seseorang yang telah dikuduskan oleh Tuhan (lih Luk 2:22; Im 12:3-8). Dengan kerendahan hatinya, Bunda Maria melaksanakan perannya untuk membesarkan Tuhan Yesus, dalam kemiskinan dan kesederhanaan, namun dengan rasa syukur dan pujian kepada Tuhan, sebagaimana dikidungkannya dalam Magnificat (Luk 1:46-56). Demikianlah, Bunda Maria menunjukkan bahwa kerendahan hati membantu kita untuk melihat segalanya dengan kaca mata Tuhan. Kita melihat diri kita yang sesungguhnya, tidak melebih-lebihkan hal positif yang ada pada kita, namun juga tidak mengingkari bahwa semua yang baik pada diri kita adalah pemberian Tuhan, sehingga sepantasnya dipergunakan untuk kemuliaan Tuhan (1Tim 1:17).

St. Theresia Kanak- kanak Yesus menyatakan bahwa penghinaan adalah ‘rahasia bagi kekudusan’.12 Maksudnya ialah, kesediaan untuk menerima kesalahan adalah sangat penting, agar kita dapat bertumbuh dalam kerendahan hati. Untuk memperbaiki kesalahan, pertama-tama kita harus mengetahui dan mengakuinya terlebih dahulu. Untuk itu, kita perlu diberitahu, entah oleh Tuhan sendiri, atau melalui orang lain. Hal ini dapat mempermalukan kita, tetapi kita perlu menerimanya dengan lapang. Sebab, jika proses ini kita terima dengan semangat Kristiani, kita dapat dengan pasti menjadi rendah hati.13 Hal teguran atas dasar kasih ini, paling tulus diterapkan dalam keluarga. Sebab dalam keluargalah kita dapat yakin bahwa jika kita ditegur, tentulah itu dilakukan atas dasar kasih dan untuk kebaikan diri kita sendiri. Dalam hal ini, orang tua memiliki kewajiban atau tanggung jawab untuk menegur anak-anak atas dasar kasih, jika mereka telah berlaku menyimpang dari jalan Tuhan. Demikian pula suami dan istri perlu saling menegur jika salah satu menjauh dari Tuhan. Bahkan, anak-anak-pun sesungguhnya dapat dengan cara mereka sendiri mengingatkan orang tua, jika mereka melakukan sesuatu yang salah di hadapan Tuhan. Di sinilah perlu sikap kerendahan hati dari pihak yang ditegur, agar dapat menerimanya dengan hati lapang, dan juga dari pihak yang menegur, agar motivasinya bukan untuk menonjolkan diri; namun semua mengusahakan kebaikan bagi sesama anggota keluarga.

Kebajikan kerendahan hati sungguh nyata diperlukan dalam keluarga. Sebab kerendahan hati ini-lah yang memampukan kita untuk terus bersyukur kepada Tuhan, dalam keadaan apapun. Jika kerendahan hati telah dihidupi di dalam keluarga, maka setiap anggotanya akan berusaha untuk tidak mementingkan diri sendiri, mau melayani dan memperhatikan kebutuhan sesama anggota yang lain tanpa diminta. Kerendahan hati yang membuat kita sadar bahwa segala yang baik pada diri kita adalah karunia pemberian Allah, akan mendorong kita untuk mempergunakannya untuk kemuliaan Tuhan. Dan tujuan yang satu dan sama ini akan mempersatukan seluruh anggota keluarga!

Kemurnian

Tuhan Yesus bersabda, “Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” (Mat 5:8). Maka kesucian dan kemurnian hati, merupakan syarat bagi kita untuk memandang Allah di Surga. Di tengah dunia sekitar kita yang semakin menekankan hal-hal yang sensual, Bunda Maria mengingatkan kita akan pentingnya kebajikan kemurnian. Kemurnian yang dimaksud di sini adalah integrasi seksualitas di dalam diri manusia, yang menuju kepada kesatuan yang tak terpisahkan antara tubuh dan jiwa. Karena perwujudan kasih kita kepada Tuhan dan sesama melibatkan tubuh dan jiwa kita, maka di sinilah kebajikan kemurnian menjadi tidak terpisahkan dengan perwujudan kasih yang sejati.

Kita semua yang telah dibaptis dipanggil untuk menjaga kemurnian tubuh kita, sebab melalui Baptisan, tubuh kita menjadi bait Allah, tempat kediaman Allah sendiri:

“Tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, -dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar: Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!” (1Kor 6:19-20; lih. 1Kor 3:16).

Bunda Maria, menjadi teladan bagi kita dalam hal kemurnian, karena ia sungguh adalah seorang yang murni, baik tubuh dan jiwanya. Bunda Maria dikandung tidak bernoda, dan tidak berdosa sepanjang hidupnya.14 Ia adalah seorang yang tetap perawan, baik sebelum, pada saat dan setelah melahirkan Tuhan kita Yesus Kristus.15 Ia menjaga keutuhan tubuh dan jiwanya, demi kasihnya kepada Allah yang telah memilihnya menjadi ibu bagi Kristus Putera-Nya. Dengan kemurnian hatinya, Bunda Maria mengikuti teladan Kristus yang juga telah menyerahkan Tubuh dan Jiwa-Nya seluruhnya demi melaksanakan kehendak Allah.

Kita pun dipanggil untuk menjadi seperti Kristus dan Bunda Maria, dengan mempersembahkan tubuh kita untuk melakukan kehendak Allah dan memuliakan Dia. Dalam hal ini, kita perlu untuk selalu menimba kekuatan dari Kristus, yang telah terlebih dahulu mempersembahkan diri-Nya di kayu salib. Dengan merenungkan Kristus yang tersalib itu, sebelum mencapai kemuliaan kebangkitan-Nya, kita dikuatkan juga untuk menyalibkan keinginan tubuh yang tidak teratur, agar kita dapat bangkit dalam kehidupan bersama Yesus dan di dalam Yesus, untuk menggunakan tubuh kita sesuai dengan keinginan jiwa kita untuk melaksanakan kehendak Allah. Maka tak terpisahkan dari kemurnian tubuh adalah kemurnian jiwa, yang ditandai dengan kemurnian hati nurani untuk melaksanakan apa yang baik dan benar, sesuai dengan kehendak Allah. Kemurnian hati ini, sangatlah penting untuk kita jaga dan junjung tinggi, sebab jika kita mengabaikannya, maka iman kita menjadi taruhannya. Sebab demikianlah yang diajarkan oleh Rasul Paulus, “Beberapa orang telah menolak hati nurani-nya yang murni itu, dan karena itu kandaslah iman mereka” (1Tim 1:19).

Dalam keluarga, kemurnian tubuh dan jiwa diuji, justru karena dalam keluargalah kasih sejati dinyatakan. Suami istri dipanggil untuk menjaga kemurnian tubuh dan jiwa dengan mewujudkan kesetiaan satu sama lain dalam menjaga kesucian hubungan seksual suami istri, yang mengarah kepada kesatuan kasih yang total, tanpa syarat dan mengarah kepada kehidupan. Kemurnian tubuh dan jiwa juga menjadi perjuangan bagi anak- anak ataupun kaum muda, di tengah godaan zaman ini yang cenderung mengabaikannya. Di sini pentinglah pengarahan dan pendampingan dari para orang tua kepada anak-anak mereka, agar anak-anak dapat memahami dan menjunjung tinggi kemurnian demi menjaga iman yang menghantar mereka kepada keselamatan kekal.

Kasih akan Allah

Walaupun disebutkan di urutan ketiga, tidak berarti bahwa kasih akan Allah itu kurang penting jika dibandingkan dengan kebajikan kerendahan hati dan kemurnian. Sebaliknya, kasih akan Allah inilah yang menjadi jiwa dari segala kebajikan. Kasih akan Allah menjadi hal utama untuk dimiliki, agar kita dapat menerapkan kerendahan hati dan kemurnian yang sejati dalam hidup kita. Tuhan Yesus sendiri mengajarkan kepada kita, betapa kita harus mengasihi Tuhan, sebab dengan demikian kitapun dapat mengasihi sesama. Pada kedua hukum kasih inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi:

“Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.” (Mrk 12:30, lih. Mat 22:37-40)

Bunda Maria, menjadi teladan bagi kita untuk mengasihi Allah. Tiada seorangpun yang memiliki hubungan kasih dengan Tuhan Yesus yang lebih erat daripada kasih Bunda-Nya, Maria, kepada-Nya. Bunda Maria telah mengandung, melahirkan, membesarkan, dan menyertai Kristus, bahkan sampai di bawah kaki salib-Nya, saat hampir semua murid-Nya meninggalkan Dia. Kasih akan Allah, mendorong Bunda Maria untuk tetap taat setia akan kehendak Allah sampai akhir hidupnya di dunia. Oleh rahmat Allah, Bunda Maria diangkat ke Surga, tubuh dan jiwanya; dan ini menjadi penggenapan janji Allah akan kebangkitan badan bagi umat Kristen.16

Perintah Allah agar kita mengasihi Dia dan sesama, berkaitan erat dengan hakekat Allah yang adalah kasih (1Yoh 4:8), dan bahwa Allah menghendaki kita menjadi serupa dengan Dia (lih. Mat 5:48). Demikianlah kepada St. Faustina, Tuhan Yesus menegaskan kembali bahwa sifat Allah yang paling utama, adalah belas kasih-Nya, dan Allah menghendaki agar belas kasih-Nya itu diwartakan kepada semua orang, agar mereka, terutama para pendosa dapat kembali kepada-Nya. “Wartakanlah, bahwa Belas kasih adalah sifat Allah yang terbesar. Semua karya tangan-Ku dimahkotai dengan belas kasih.” 17

Sejalan dengan kehendak Kristus ini, keluarga perlu menumbuhkan kebajikan kasih akan Allah ini. Dalam keluargalah, seseorang belajar untuk mengasihi Allah, dan juga untuk menyatakannya dengan mengasihi setiap anggota keluarga. Di dalam keluarga-lah, kita belajar berdoa, berdoa bersama dan bersama menerima sakramen-sakramen Gereja. Dalam keluarga kita bertumbuh dalam iman dan kasih; dalam kekudusan dan pengorbanan sebagaimana yang telah dilakukan oleh Kristus bagi kita. Dalam keluarga kita belajar untuk memaafkan dan memberi maaf, bekerja dengan suka cita, dan memberikan diri kita kepada sesama,18 demi kasih dan pengabdian kita kepada Allah yang telah memberkati dan mempersatukan kita dengan keluarga kita.

Bunda Maria menjadi pendoa syafaat bagi kita yang membawa permohonan- permohonan kita kepada Allah

Akhirnya, Bunda Maria layak disebut sebagai Bunda Kerahiman, sebab ia sendiri berbelas kasih ataupun menyatakan kerahiman kepada kita, yang telah diberikan Kristus agar menjadi anak-anaknya juga (lih. Yoh 19:26-27). Kristus menghendaki agar Bunda Maria dapat terus menyertai kita dalam kehidupan kita, sebagaimana ia telah menyertai Kristus sampai wafat-Nya di kayu salib. Setelah diangkat ke Surga, Bunda Maria tetap menyertai kita sebagai ibu rohani bagi kita. Ia melanjutkan tugas perantaraannya untuk mendukung Pengantaraan Yesus, dengan terus menjadi pendoa syafaat bagi kita yang masih berziarah di dunia ini.19 Demikianlah maka kita dapat selalu menyampaikan doa-doa kita kepada Tuhan Yesus melalui perantaraan Bunda Maria. Kepekaan Bunda Maria akan kebutuhan kita, sebagaimana yang dilakukannya kepada pasangan suami istri di Kana (lih. Yoh 2:1-11), itu juga dilakukannya kepada kita. Bunda Maria selalu membawa kita kepada Kristus Puteranya, dan meminta kita melakukan segala yang diperintahkan Kristus kepada kita (lih. Yoh 2:5).

Menyadari akan peran Bunda Maria yang mengambil bagian dalam rencana kerahiman Allah bagi manusia, kita dapat atau bahkan sudah sepantasnya menyambut anugerah ini, dengan menyerahkan keluarga kita ke dalam penyertaan doa-doa syafaatnya. Kita tidak perlu ragu berdoa bersama Bunda Maria dan memohon dukungan doanya, sebab untuk itulah ia diberikan oleh Kristus kepada kita. Kita dapat melakukannya dengan berdoa rosario bersama keluarga, berdoa Angelus, ataupun berdoa menyerahkan keluarga kita kepada penyertaan Bunda Maria. Berikut ini adalah contoh doa penyerahan tersebut:

Doa Penyerahan Keluarga kepada Perlindungan Bunda Maria

Kepala Keluarga:

O, Hati Maria yang tak bernoda, tempat perlindungan bagi orang berdosa, kami menyerahkan keluarga kami kepadamu. Di zaman pergumulan rohani yang dahsyat ini, antara kebenaran dan tipu daya, antara nilai-nilai keluarga yang murni dan pembolehan segala macam hal yang menyesatkan, kami memohon agar engkau menerima kami semua di dalam jubah perlindunganmu, dan bimbinglah kami kepada Hati Kudus Puteramu, Tuhan Yesus Kristus.

Dengan menyerahkan diri kami kepadamu, kami menerima engkau sebagai Bunda dan Teladan kami. Kami sekeluarga membuka hati kami bagimu, agar kami menerima dengan limpah, buah dari penyerahan diri kami ini, yaitu persekutuan yang penuh dengan Hati Kudus Yesus. Kami sekeluarga menerima engkau dalam rumah kami, di hati kami dan keluarga kami. Kami mengundang engkau untuk mengambil bagian dalam hidup kami sepenuhnya, dalam suka dan duka kami. Kami mempercayakan diri kami ke dalam perlindungan keibuan-mu, kepada doa syafaatmu, dan kepada bimbinganmu, sebab engkaulah jalan yang pasti dan sempurna, yang menghantar kami kepada Kristus.

Anggota keluarga:

Bunda Maria, Bunda Kristus yang memahami dengan sempurna segala isi Hati-Nya, Pikiran dan Sifat-Nya, kami memohon kepadamu agar membentuk kami dan mengajarkan kami agar menjadi seperti Yesus, sehingga kami dapat menjadi gambaran yang hidup akan Kristus di dalam keluarga kami, di Gereja maupun di dunia ini.

Engkau yang adalah Sang Perawan Suci dan Bunda kami, limpahkanlah kepada keluarga kami, roh kemurnian hati, pikiran dan tubuh. Semoga kami semua hidup dalam kemurnian menurut status hidup kami dan semoga kebajikan kesederhanaan mencegah masuknya segala bentuk ketidakmurnian, perendahan atau manipulasi tubuh, ke dalam keluarga kami.

Engkau yang adalah Ibu Rohani kami, bantulah kami bertumbuh dalam hidup rahmat, untuk hidup sepenuhnya di dalam kehidupan ilahi, yang telah kami terima saat kami dibaptis. Pimpinlah kami ke jalan kekudusan dan jangan biarkan kami jatuh ke dalam dosa berat ataupun menyia-nyiakan rahmat yang telah diperoleh Kristus bagi kami melalui kurban Salib-Nya.

Engkau yang adalah Teladan bagi jiwa kami, ajarlah kami menjadi penurut seperti engkau, agar dapat menerima dengan taat dan rasa syukur, semua Kebenaran yang diajarkan oleh Putera-Mu melalui Gereja dan melalui Magisterium Gereja.

Engkau yang adalah Pendoa syafaat di hadapan Putera-mu, pandanglah dengan matamu yang penuh kasih, semua anggota keluarga kami, dan bahkan meskipun kami tidak menyadari apa yang kami butuhkan sendiri, bawalah kami mendekat kepada Putera-mu, dan mohonlah kepada-Nya, seperti di Kana, bagi mukjizat air menjadi anggur bilamana keluarga kami kekurangan anggur cinta kasih.

Engkau yang secara khusus mengambil bagian dalam kurban Kristus yang menyelamatkan, bimbinglah keluarga ini dalam kesetiaan di hadapan Salib Kristus. Di saat penderitaan, semoga kami tidak mencari kepentingan diri kami sendiri, tetapi lebih memilih untuk menemani yang menderita. Di saat kekeringan dan kesendirian, semoga kami setia memegang janji kami kepada-Mu, dan semoga kami menjalani pengorbanan dan pergumulan hidup kami dalam kesatuan dengan Puteramu Kristus yang disalibkan.

Kepala Keluarga:

Dengan kesatuan Hati Maria yang tak bernoda dan Hati Kudus Yesus, kami mohon agar keluarga kami, yang hari ini diserahkan kepada Kedua Hati ini, dapat hidup dalam kasih, damai, kemurahan hati, kesetiaan, suka cita dan kesatuan. Semoga keluarga kami menjadi tempat tinggal yang suci, di mana setiap anggotanya berdoa bersama, dan berkomunikasi satu dengan lainnya dalam suka cita dan semangat; di mana suami dan istri saling menghormati satu sama lain; di mana anak-anak -baik yang masih kecil maupun remaja- mengasihi, menghormati dan manaati orang tua mereka; di mana kami orang tua melaksanakan dengan penuh tanggung jawab, tugas untuk mengasihi, membentuk, membimbing dan mengajar anak-anak kami, sehingga mereka dapat bertumbuh di dalam rahmat di hadapan Tuhan dan manusia. Kami mohon agar dengan penyerahan diri kami ini, keluarga kami dapat dilindungi dari segala yang jahat, baik secara rohani maupun jasmani. Semoga Hati-mu yang tiada bernoda memimpin di rumah ini, sehingga Tuhan Yesus Kristus dapat semakin kami kasihi, kami dengar, dan kami taati dalam keluarga kami.

Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami, Amin.

Selain menyerahkan keluarga kita ke dalam perlindungan doa-doa Bunda Maria, kitapun dapat berdoa bersamanya untuk memohon pencurahan Roh Kudus dan pertobatan dunia. Sebagaimana Bunda Maria hadir di tengah para Rasul untuk memohon turunnya Roh Kudus (lih. Kis 2:14), iapun hadir di tengah keluarga kita dan turut mendoakan agar Roh Kudus menaungi keluarga kita. Roh Kudus inilah yang mendorong kita untuk memiliki kerinduan yang besar untuk mendoakan pertobatan sesama, terutama orang-orang yang kita kasihi, tanpa mengabaikan pertobatan diri kita sendiri. Kristus sendiri menyatakan kepada St. Faustina, “Doa yang paling menyenangkan hati-Ku adalah doa bagi pertobatan orang-orang berdosa. Ketahuilah, anak-Ku, bahwa doa ini selalu didengarkan dan dijawab.” 20 Demikianlah, kita mengetahui bahwa doa Koronka Kerahiman Ilahi adalah doa yang berkenan di hadapan Tuhan, sebab dalam doa tersebut kita memohon belas kasih Allah bagi dunia, “Demi sengsara Yesus yang pedih, tunjukkanlah belas kasih-Mu kepada kami dan seluruh dunia…”

Bunda Maria, doakanlah kami!

Begitu besarlah kasih Yesus Sang Kerahiman Ilahi, kepada kita, karena Ia telah memberikan Maria Ibu-Nya untuk menjadi Ibu bagi kita juga, agar Bunda Maria, yang telah terlebih dahulu menerima Kerahiman Allah, dapat juga menyalurkan kerahiman itu kepada kita. Dengan melihat teladan Bunda Maria, kitapun dipanggil untuk menyalurkan belas kasih dan kerahiman Allah kepada sesama, terutama kepada setiap anggota keluarga kita. Seperti halnya Bunda Maria, yang oleh karena Kerahiman Ilahi, telah dijadikan kudus tak bernoda sejak di dalam kandungan sampai akhir hidupnya, kitapun dipanggil untuk hidup dalam kekudusan, dan dengan demikian turut mengambil bagian dalam karya Kerahiman Allah. Dalam perjuangan kita mengejar kekudusan itu, kita dapat selalu melihat kepada teladan Bunda Maria, yang dapat membantu kita menjadi orang-orang yang berbelas kasih. Ia menjadi contoh bagi kita dalam hal kerendahan hati, kemurnian dan kasih akan Allah; ketiga kebajikan yang sangat penting untuk dipupuk dalam keluarga kita, agar kesatuan kasih dalam keluarga kita tetap terjaga. Akhirnya, baiklah untuk kita ingat bahwa Tuhan Yesus dan Bunda Maria tidak pernah meninggalkan kita. Bunda Maria menjadi pendoa syafaat bagi kita di hadapan Tuhan Yesus. Oleh kerahiman Tuhan Yesus-lah, kita beroleh pengharapan yang teguh, bahwa Ia akan selalu menjadi tempat perlindungan bagi kita asalkan kita mau bertobat dan mengandalkan Dia, di sepanjang hidup kita. “Tuhan Yesus, Engkaulah Andalanku. Bunda Maria, Engkaulah Teladanku, doakanlah kami!”

Catatan kaki:

1 Diary of St. Faustina, 330

2 Rev. 1.6, c.10

3 Sub Tuum Praesidium, dari Rylands Papyrus, Mesir, abad ke- 3

4 Sumber: http://www.ncregister.com/daily-news/mary-mother-of-mercy-intercede-for-us

5 Diary of St. Faustina, 1415

6 Lih. Konsili Vatikan II, Konstitusi Dogmatik tentang Gereja, Lumen Gentium, Bab V: Panggilan Umum untuk Kekudusan dalam Gereja

7 Lihat St. Alphosus Liguori, The Glories of Mary, vol.2, p.150, “Humility, says St Bernard, ‘is the foundation and guardian of the virtues’ …for without it, no other virtue can exist in the soul.

8 Terjemahan dari tulisan St. Thomas of Villanova, “Spiritual Diary”, oleh Sacramelli, seperti dikutip oleh William A. Kaschmitter, MM, The Spirituality of the Catholic Church, (Lumen Christi Press, Texas), pp. 35-36.

9 Cassel’s, Latin and English Dictionary, p. 106

10 Lihat Reverend Adolphe Tanquerey, S.S., D.D., The Spiritual Life- A Treatise on Ascetical and Mystical Theology, (Society of St. John the Evangelist, Desclee & Co Publishers, Belgium) 1128, p. 531

11 St. Thomas Aquinas, Summa Theologiae II-II, Q. 161, a.5 ad 2.

12 Vernon Johnson, Spiritual Childhood, A Study of St. Teresa’s Teaching, (Shed & Ward, London), p. 66

13 Fr. Cajetan Mary da Bergamo, Humility of Heart, 63 p.80: ‘humiliation is the surest means of acquiring and practicing humility’

14 Katekismus Gereja Katolik 508 (bdk. KGK 491, 492, 493):

KGK 508 – Dari antara turunan Hawa, Allah memilih perawan Maria menjadi bunda Anak-Nya. “Penuh rahmat” ia adalah “buah penebusan termulia” (SC 103). Sejak saat pertama perkandungannya ia dibebaskan seluruhnya dari noda dosa asal dan sepanjang hidupya ia bebas dari setiap dosa pribadi.

15 Konsili Konstantinopel II (553) dan Sinode Lateran (649), menyatakan: “Maria adalah Perawan, sebelum pada saat dan sesudah kelahiran Yesus Kristus (De fide). Konsili Konstantinopel II (553) menyebutkan Bunda Maria sebagai, “kudus, mulia, dan tetap-Perawan Maria”. Sinode Lateran (649) di bawah Paus Martin I mengatakan: “Ia [Maria] mengandung tanpa benih laki-laki, [melainkan]dari Roh Kudus, melahirkan tanpa merusak keperawanannya, dan keperawanannya tetap tidak terganggu setelah melahirkan.” (D256)
KGK 499 – Pengertian imannya yang lebih dalam tentang keibuan Maria yang perawan, menghantar Gereja kepada pengakuan bahwa Maria dengan sesungguhnya tetap perawan Bdk. DS 427., juga pada waktu kelahiran Putera Allah yang menjadi manusia Bdk. DS 291; 294, 442; 503; 571; 1880.. Oleh kelahiran-Nya “Puteranya tidak mengurangi keutuhan keperawanannya, melainkan justru menyucikannya” (LG 57). Liturgi Gereja menghormati Maria sebagai “yang selalu perawan” [Aeiparthenos] Bdk. LG 52.

16 KGK 966 “Akhirnya Perawan tak bernoda, yang tidak pernah terkena oleh segala cemar dosa asal, sesudah menyelesaikan perjalanan hidupnya di dunia, telah diangkat memasuki kemuliaan di surga beserta badan dan jiwanya. Ia telah ditinggikan oleh Tuhan sebagai Ratu alam semesta, supaya secara lebih penuh menyerupai Puteranya, Tuan di atas segala tuan, yang telah mengalahkan dosa dan maut” (LG 59, Bdk. Pengumuman dogma mengenai Maria diangkat ke surga oleh Paus Pius XII, 1950: DS 3903). Terangkatnya Perawan tersuci adalah satu keikutsertaan yang istimewa pada kebangkitan Puteranya dan satu antisipasi dari kebangkitan warga-warga Kristen yang lain.

“Pada waktu persalinan engkau tetap mempertahankan keperawananmu, pada waktu meninggal, engkau tidak meninggalkan dunia ini, ya Bunda Allah. Engkau telah kembali ke sumber kehidupan, engkau yang telah menerima Allah yang hidup dan yang akan membebaskan jiwa-jiwa kami dari kematian dengan doa-doamu” (Liturgi Bisantin, pada Pesta Kematian Maria 15 Agustus).

17 Diary of St. Faustina, 301

18 KGK 1657 – Disini dilaksanakan imamat yang diterima melalui Pembaptisan, yaitu imamat bapa keluarga, ibu, anak-anak, semua anggota keluarga atas cara yang paling indah “dalam menyambut Sakramen-sakramen, dalam berdoa dan bersyukur, dengan memberi kesaksian hidup suci, dengan pengingkaran diri serta cinta kasih yang aktif” (LG 10). Dengan demikian keluarga adalah sekolah kehidupan Kristen yang pertama dan “suatu pendidikan untuk memperkaya kemanusiaan” (GS 52,1). Di sini orang belajar ketabahan dan kegembiraan dalam pekerjaan, cinta saudara sekandung, pengampunan dengan jiwa besar, malahan berkali-kali dan terutama pengabdian kepada Allah dalam doa dan dalam penyerahan hidup.

19 KGK 969 – “Adapun dalam tata rahmat itu peran Maria sebagai Bunda tiada hentinya terus berlangsung, sejak persetujuan yang dengan setia diberikannya pada saat Warta Gembira, dan yang tanpa ragu-ragu dipertahankannya di bawah salib, hingga penyempurnaan kekal semua para terpilih. Sebab sesudah diangkat ke surga, ia tidak meninggalkan peran yang membawa keselamatan itu, melainkan dengan aneka perantaraannya ia terus-menerus memperolehkan bagi kita karunia-karunia yang menghantar kepada keselamatan kekal… Oleh karena itu di dalam Gereja santa Perawan disapa dengan gelar: pengacara, pembantu, penolong, dan perantara” (LG 62).

20 Diary of St. Faustina, 1397

19/12/2018
Lukas Cung
Member
Lukas Cung

Shalom Pak Stef & Ibu Ingrid,

Terima kasih banyak untuk tulisan ini. Sangat berarti bagi keluarga kami.
Ya, belas kasih atau kerahiman, kerendahan hati, kekudusan, kemurnian, dan makna Ekaristi dalam keluarga; kiranya itu dulu yang harus dimiliki dalam keluarga kami, setelah itu baru yang lainnya.
Kekudusan? Beranikah saya? Dalam hal-hal lain mungkin saya termasuk paling berani. Berani menjadi kudus? Rasanya belum tuh…

Salam,
Lukas Cung

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X