Bolehkah tepuk tangan untuk koor di Misa?

Pertanyaan:

salam katolisitas

Dalam surat pembaca majalah hidup edisi 17 Januari 2010 memuat tulisan Rm.Frans Magnis Suseno
berjudul’ Tepuk Tangan waktu Komuni”. Pada prinsipnya romo Magnis tidak setuju umat bertepuk
tangan setelah selesai mendengarkan penyanyi solo dari anggota koor pada waktu komuni tersebut.
Bahkan romo Magnis juga menulis seandainya dia yang memimpin misa waktu itu akan dihentikan
dan menyuruh umat melakukan Doa Tobat bersama.

Pertanyaan saya: Apakah betul Tepuk tangan( Aplauss) umat memuji suara penyanyi koor
pada saat komuni disuatu misa dilarang ( pantang )
Apakah termasuk pelanggaran peraturan Liturgi ?

Sekian dan atas perhatiannya sebelumnya terima kasih.

Jawaban:

Shalom Jimmy,

Pertama- tama harus diketahui dahulu bahwa maksud perayaan Ekaristi adalah mengenang Misteri Paska Kristus, yang olehnya Kristus menggenapi karya keselamatan bagi kita manusia (lihat KGK 1067). Sehingga fokus utama dari perayaan Ekaristi sebenarnya adalah Allah Tritunggal Maha Kudus:

KGK 1358     Dengan demikian kita harus memandang Ekaristi

  • sebagai syukuran dan pujian kepada Bapa;
  • sebagai kenangan akan kurban Kristus dan tubuh-Nya;
  • sebagai kehadiran Kristus oleh kekuatan perkataan-Nya dan Roh-Nya.

Dan kalau kita menghayati bahwa persatuan kita dengan Kristus sendiri mencapai puncaknya pada saat kita menerima Ekaristi, maka saat-saat Komuni dan sesudah Komuni merupakan saat-saat yang paling intim, antara kita dengan Dia. Hal ini memang sebaiknya dihayati dengan keheningan antara setiap pribadi dengan Allah. Ini adalah saat yang paling tepat bagi setiap umat untuk meresapkan kehadiran Tuhan di dalam diri mereka, secara rohani dan jasmani, dan mengucapkan syukur, penyembahan dan kasih yang terdalam kepada Tuhan. (Jika anda ingin membaca tentang makna Ekaristi, silakan klik di sini dan pentingnya Ekaristi sebagai sumber dan puncak kehidupan kita, klik di sini.)

Kondisi inilah yang memang tidak dihayati atau “dirusak” jika ada tepuk tangan meriah pada saat Komuni, yang tidak ditujukan kepada Tuhan, tetapi malah kepada para penyanyi koor. Fokus yang harus nya tertuju kepada Tuhan jadi “berbelok” kepada sang penyanyi koor. Ini tentu tidak sesuai dengan yang seharusnya kita hayati dalam Ekaristi. Maka tak heran bahwa Romo Magnis mengusulkan untuk melakukan Doa Tobat, jika hal itu terjadi, sebab itu menggambarkan kurangnya penghayatan akan makna Ekaristi yang baru mereka sambut.

Tidak menjadi masalah untuk memberikan tepuk tangan/ applause kepada koor, tetapi seharusnya itu dilakukan setelah Misa selesai, yaitu setelah selesai lagu penutup.

Semoga kita dapat semakin menghayati perayaan Ekaristi, sehingga kita dapat menentukan sikap yang layak dalam mengikuti perayaan tersebut.

Salam kasih dalam Kristus Tuhan,
Ingrid Listiati- www.katolisitas.org

36
Tinggalkan pesan

Please Login to comment
12 Comment threads
24 Thread replies
0 Followers
 
Most reacted comment
Hottest comment thread
21 Comment authors
sugiotoSesiliaStefanus TayAbinsakerah Recent comment authors
Sesilia
Guest
Sesilia

Maaf bu Ingrid, Pak Stef dan yang lain saya mau ikut nimbrung, agak curhat juga.. Saya berprofesi sebagai pemusik di luar gereja dan tentunya saya juga ikut paduan suara di gereja saya, hal itu bagi saya adalah bentuk dari terima kasih saya pada Tuhan sehingga boleh ikut dalam pelayanan2 di gereja, namun akhir – akhir ini saya juga cukup bingung dengan situasi musik liturgi dalam gereja, apalagi saya juga tidak mempunyai cukup pengetahuan dan beberapa kali kesulitan mencari sumber informasi, mohon bantuan anda sekalian. Mengenai tepuk tangan di dalam gereja, saya juga tidak setuju dengan tepuk tangan sebelum misa berakhir,… Read more »

sugioto
Guest
sugioto

Koor kami pernah mengalami tdk diperbolehkan utk menyanyikan lagu2 dengan berbagai alasan meskipun sdh dikonsultasikan dg uskup tp tetap tdk diperbolehkan meskipun awalnya sdh diizinkan dan bisa berubah ssesuai kemauan uskup dan kalau perayaan besar Natal dan Paska koor kami dilarang tampil tanpa alasan yang jelas dan dirigen kami seorang kristen dan dilarang utk mengambil bagian dalam pelayanan koor tsb meskipun Tuhan sendiri tdk membedakan, dan satu hal lagi pada waktu komuni kami dilarang juga utk menyanyi (koor) kalau bisa tdk usah dinyanyikan kenapa digereja kami selalu yg terbaik buat Tuhan selalu tdk diperbolehkan apakah krn sdh emeritus jd tdk… Read more »

krisman manik
Guest
krisman manik

syalom bu ingrid,,,, Kadang dalam misa di gereja diadakan pelantikan suatu panitia atau pengurus gereja baru disatukan, biasanya selesai pemberkatan oleh pastur umat sering diajak untuk bertepuk tangan ,,,padahal masih dalam misa.bukankah lebih baik hal seperti itu diadakan diluar misa? Gereja katolik juga sering membuat acara ritus pembuka maupun pengantar persembahan dengan adat dan budaya(mis, di sumatera utara dengan tarian tor2 dan pakaian adat lengkap dengan mangkuk berisi daun sirih,air,jeruk purut)bukankah itu penyimpangan kalau bukan apa makna dari simbol tersebut, apalagi musik tariannya diiringi lagu tradisional yang bukan lagu rohani. Disamping itu gereja katolik sangat banyak ornamen2 patung2 yang unik… Read more »

fxe
Guest
fxe

Dear Katolisitas; Sebenarnya saya agak ragu menyampaikan ini, karena berkaitan dgn pribadi seseorang. Ada kebijakan di suatu Paroki yg melarang anak-anak dari orang tua yg pernikahannya belum selesai secara kanonik untuk menerima Komuni Pertama. Dengan alasan: pendidikan iman anak adalah di tangan orang tua, bila orang tuanya belum membereskan hubungannya dgn Gereja (dalam hal ini status pernikahan), maka dikuatirkan anak tsb juga belum mendapat pendidikan iman / teladan yg memadai untuk Komuni Pertama. Terlepas dari betapa bandelnya para orang-tua anak-anak tsb , dan betapa jengkelnya Romo Paroki dan Dewan untuk menghimbau orang-tua spt itu, sehingga tetap tidak mau menyelesaikan urusan… Read more »

Rm Gusti Kusumawanta
Member

Fxe Yth Dulu codex 1917 masih menerapkan larangan yang demikian bahwa jika keluarga mengalami kasus perkawinan dan hidup bertentangan dengan ajaran Gereja (kena sangsi hukuman tidak bisa menerima komuni) misalnya hidup dalam perkawinan tidak sah atau hidup perkawinan gagal dan cerai, anak yang dilahirkan menerima halangan dari persoalan orang tuanya untuk mendapatkan layanan rohani seperti komuni pertama atau tahbisan imamat. Codex 1917 banyak larangan, tapi kini codex yang berlaku 1983 lebih menekankan aspek communio, Gereja sebagai Umat Allah dan menampilkan hukum yang lebih menampakkan kerahiman dan kebaikan Allah serta manusiawi. Hal yang saya sampaikan di atas di dalam Codex 1983… Read more »

fxe
Guest
fxe

Terima kasih sekali atas tanggapan Romo yg sangat cepat & tegas. Maaf , saya sangat buta masalah KHK. Dari penjelasan Romo , artinya memang ada “larangan eksplisit” terkait kasus di atas di KHK th.1917. Tetapi di KHK th.83 persisnya bagaimana; apakah larangan itu “dicabut eksplisit” atau hal itu “tidak diatur eksplisit” sehingga menjadi kebijakan partikular? Maaf satu lagi pertanyaan dasar; sejauh mana aturan-aturan di Paroki harus mengacu ke KHK atau harus turun dari Uskup. Apakah aturan-aturan disipliner biasa harus mengacu ke KHK atau izin dari Uskup, misalnya aturan/disiplin pertanggung-jawaban panitia, aturan pemberitahuan perkawinan beda agama harus 6 bulan sebelumnya, disiplin… Read more »

Rm Gusti Kusumawanta
Member

Fxe Yth Larangan itu tidak eksplisit di KHK 1983 sudah tidak ada lagi. Peraturan tentang komuni pertama diberikan kepada Ordinaris setempat (Uskup) karena setiap keuskupan adalah otonom. Namun KWI dapat menentukan peraturan tentang hal itu dan juga yang lain tidak hanya komuni pertama, seperti lamanya jabatan pastor paroki. KHK 1983 tidak “njlimet” seperti dituduhkan kebanyak orang. KHK 1983 seperti UU Gereja Universal dan berlaku untuk semua ritus romawi (Latin). Saya anjurkan anda membeli KHK 1983 sehingga lebih paham dan menambah pengetahuan anda sebagai anggota Gereja. Tidak ada kanon berbicara bagaimana laporan pertanggungjawaban panitia Natal misalnya itu kan bukan hal yang… Read more »

B Siahaan
Guest
B Siahaan

Yth. Katolisitas, Bpk. Stef dan Ibu Ingrid Menyimak tulisan mengenai tepuk tangan, mohon penjelasannya tentang beberapa hal berikut : 1. Apakah Lagu Penutup dimaksud adalah lagu yang dinyanyikan mengiringi Selebran dan Petugas lainnya keluar Panti Imam selesai Ritus Penutup (Berkat dan Pengutusan)? 2. Bagaimana dengan ajakan tepuk tangan (oleh Imam) menyambut para katekumen/anggota baru yang diterima resmi dalam upacara perayaan ekaristi? 3. Bagaimana sebenarnya fungsi koor pada perayaan ekaristi?, karena seringkali sepertinya terpisah secara eksklusif dari umat pada saat bernyanyi (hanya menyanyi baik kalau sedang koor / menyanyikan lagu mereka sendiri, tetapi tidak pada saat bernyanyi bersama umat) Terima kasih… Read more »

De Santo
Guest
De Santo

Kalo tepuk tangan dilarang selama misa berlangsung, ini seh memang seharusnya demikian.
Tetapi aku ada 3 pertanyaan :
1. bgmn dengan goyang badan, tangan/kepala karena lagu-lagu pujiannya terasa pas untuk gerakan tsb ?
2. bgmn dengan tertawa serentak karena kotbahnya lucu ?
3. bgmn dengan imam yang menyanyikan lagu pop pada saat homili/kotbah ?

Terima kasih

Lia
Guest
Lia

Saya setuju kalau kita tidak memberikan tepuk tangan selama misa karena sejatinya penyanyi koor itu bernyanyi untuk Tuhan dan bukan untuk diberi tepuk tangan. Tetapi kadang saya juga merasa terpesona sehingga ingin memberikan apresiasi, dan saya sangat setuju sekali jika tepuk tangan itu dilangsungkan setelah misa saja agar tidak mengganggu kekhidmatan misa. Bahkan pada pertunjukan konser non-religius pun, penonton dilarang bertepuk tangan sebelum si pemusik membawakan repertoinya secara utuh. Biasanya (setahu saya) penonton baru boleh bertepuk tangan ketika si pemusik (kalau ini resital piano atau string misalnya) berdiri, dan membungkuk pada penonton. Kalau si pemusik masih terus duduk walau lagu… Read more »

valen
Guest
valen

saya setuju klo tepuk tangan setelah lagu penutup atau sebelum memberi Berkat, Romo a/n umat mengucapkan terima kasih kpd smua pihak yg telah ikut membantu kelancaran misa.

gentho
Guest
gentho

kalo misalnya romo mengajak umatnya bertepuk tangan untuk koor,lektor,misdinar dan petugas lainya pada saat sebelum berkat /sesudah pengumuman apakah boleh?

eddy
Guest
eddy

Saya setuju dgn pelarangan tepuk tangan ini. Tapi di paroki saya, malah romo yg ngajak tepuk tangan kalo koornya bagus… biasanya dilakukan setelah komuni selesai dan sebelum doa penutup. Bagaimana kita sebagai umat harus menanggapi ini? Apakah kita diam saja sementara romo meminta kita bertepuk tangan?

Andry
Guest
Andry

Saya juga sangat setuju dengan suasana gereja yang diciptakan sangat tenang,sakral,dan sangat intim antara Allah dengan GerejaNya. Apalagi alasan tepuk tangan adalah untuk “pelayan” liturgi. Selain membuat kita tidak fokus,namun ada juga dampak hati yang tidak benar dalam pelayanan umat tersebut seperti timbul kesombongan. Apalagi tepuk tangan itu dilakukan pada saat setelah komuni. Sebab koor yang bagus memang sudah seharusnya begitu terlebih koor itu membawa hatinya yang sungguh dalam pelayanan,koor juga wajib untuk membuat nyanyian menjadi sangat agung sebagai persembahan syukur dan doa kepada Allah.Sayangnya,cukup byk koor atau vokalis yang memakai misa sebgai ajang tampil. Namun menurut seminar liturgi yang… Read more »

Simon
Guest
Simon

Saya pribadi sangat setuju bahwa sebaiknya pada saat komuni umat tidak boleh bertepuk tangan untuk koor. Perayaan misa adalah perjamuan kudus surgawi yang ada di bumi, dimana kita sebagai umat katolik meyakini kehadiran Tuhan dalam perjamuan kudus tersebut dalam rupa roti dan anggur (hosti). Masa pada saat kita menyambut Tuhan kita malah memuji manusia? Bayangkan seorang kepala negara/raja yang datang saja kita begitu menghormatinya? apalagi ini Raja segala Raja? Mari kita renungkan bersama, layakkah? Mari kita sama-sama berjuang untuk lebih memahami makna ekaristi yang sesungguhnya. Semoga Tuhan Memberkati. Amin.

Agus
Guest
Agus

Berkah Dalem!
Saya setuju dengan ide “tepuk tangan sesudah lagu penutup”. Maksudnya adalah memberikan apresiasi / penghargaan / dorongan atas jerih payah rekan-rekan anggota koor yang sudah berpuluh-puluh jam mempersiapkan diri membantu memeriahkan Ekaristi. Baiklah kiranya kebiasaan beberapa pastor yang di akhir Misa menyampaikan terimakasih kepada siapa saja yang sudah membantu kelancaran perayaan Ekaristi: diakon, misdinar, koor, petugas kolekte, lektor, petugas parkir dll. Mengajak kita menghargai setiap bentuk pelayanan.
Salam,
agusnar

Rachelle
Guest
Rachelle

Shallom Katolisitas, Ada baiknya juga disimak buku “The Spirit of Liturgy” yg ditulis oleh Bapa Suci Paus Benedictus XVI. Disitu ada tertulis: “Wherever applause breaks out in the liturgy because of some human achievement, it is a sure sign that the essence of liturgy has totally disappeared and been replaced by a kind of religious entertainment” Dan saya harap semoga para pastur celebran juga menyadari hal ini karena dalam banyak kasus, justru pasturnya yg mengajak umat utk memberikan tepuk tangan. Kalau sudah begini susah jadinya. Apakah kita sebagai umat bisa menegur pastur? Jika bisa, atas dasar otoritas apa? Mohon penjelasannya.… Read more »

jimmy kumala
Guest
jimmy kumala

salam katolisitas Dalam surat pembaca majalah hidup edisi 17 Januari 2010 memuat tulisan Rm.Frans Magnis Suseno berjudul’ Tepuk Tangan waktu Komuni”. Pada prinsipnya romo Magnis tidak setuju umat bertepuk tangan setelah selesai mendengarkan penyanyi solo dari anggota koor pada waktu komuni tersebut. Bahkan romo Magnis juga menulis seandainya dia yang memimpin misa waktu itu akan dihentikan dan menyuruh umat melakukan Doa Tobat bersama. Pertanyaan saya: Apakah betul Tepuk tangan( Aplauss) umat memuji suara penyanyi koor pada saat komuni disuatu misa dilarang ( pantang ) Apakah termasuk pelanggaran peraturan Liturgi ? Sekian dan atas perhatiannya sebelumnya terima kasih. Jimmy [Dari Admin… Read more »

jimmy kumala
Guest
jimmy kumala

Terima kasih bu Ingrid atas penjelasannya.
Tuhan memberkati

Monika
Guest
Monika

Sekedar sharing aja, di gereja Katholik Nigeria diperbolehkan tepuk tangan pada lagu setelah confession. Disitu umat biasanya tepuk tangan cara Nigeria dan kadang sedikit menari untuk menyesuaikan dengan culture sini. Tapi selain itu tidak ada tepuk tangan, baik lagu pembukaan, lagu komuni maupun lagu penutup. Dengan begitu, misa tetap khimad.

Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X