Berlindung dalam Kerahiman Ilahi

[Hari Minggu Paskah II, Minggu Kerahiman Ilahi: Kis 4:32-35; Mzm 118:2-24; 1Yoh 5:1-6; Yoh 20:19-31]

Hari Minggu Paskah kedua ditetapkan sebagai hari Perayaan Kerahiman Ilahi untuk seluruh Gereja, oleh St. Paus Yohanes Paulus II, pada tanggal 30 April 2000. Bersamaan dengan itu, Paus menyatakan Sr. Maria Faustina sebagai seorang Santa atau salah satu orang kudus dalam Gereja Katolik. Dalam dekrit tanggal 23 Mei 2000, Kongregasi Penyembahan Ilahi di Vatikan menyatakan, “… di seluruh dunia, Minggu kedua Paskah akan dinamai Minggu Kerahiman Ilahi, sebuah undangan yang terus menerus kepada dunia keKristenan untuk menghadapi pelbagai kesulitan dan pencobaan yang dialami umat manusia… dengan keyakinan akan kebaikan ilahi.” Keputusan Paus ini menunjukkan persetujuan tertinggi yang diberikan oleh Gereja terhadap wahyu pribadi yang diterima oleh St. Maria Faustina di sekitar tahun 1937. Dalam wahyu tersebut, di beberapa kesempatan, Tuhan Yesus meminta agar diadakan perayaan khusus untuk Kerahiman Ilahi-Nya, yaitu pada hari Minggu setelah Minggu Paskah. Pada hari Minggu tersebut, yaitu hari ini, bacaan Injilnya adalah tentang Yesus menetapkan sakramen Pengakuan Dosa, yang merupakan tribunal Kerahiman Ilahi-Nya. Maka penetapan Pesta Kerahiman Ilahi ini, sejalan dengan permintaan Tuhan Yesus sendiri, agar kita mengandalkan kerahiman-Nya dengan datang kepada-Nya memohon pengampunan atas dosa-dosa kita.

Perayaan Minggu Kerahiman ini didahului oleh doa Novena Kerahiman Ilahi, yang dimulai pada hari Jumat Agung. Intensi umum novena adalah untuk pertobatan dunia dan agar Kerahiman Ilahi dapat dikenal oleh setiap orang, supaya mereka dapat mengagungkan kebaikan Tuhan. Sedangkan intensi khusus setiap hari, didoakan menurut doa-doa yang disusun oleh St. Faustina, atau dapat pula menggunakan doa yang disusun sendiri sesuai dengan perintah yang disampaikan oleh Tuhan Yesus untuk mempersiapkan perayaan hari Kerahiman Ilahi. Kata Yesus kepada St. Faustina, “Aku menghendaki agar selama 9 hari ini, engkau membawa jiwa-jiwa ke sumber kerahiman-Ku, supaya mereka dapat menimba kekuatan dan kesegaran dan rahmat apapun yang mereka butuhkan dalam pelbagai kesulitan dalam hidup, secara khusus di saat menjelang kematian. Setiap hari, bawalah kepada Hati-Ku, sekelompok jiwa-jiwa, dan benamkanlah mereka dalam lautan belas kasih-Ku. Dan Aku akan membawa semua jiwa ini ke dalam rumah Bapa-Ku…” (Buku Harian St. Faustina III, 57). Demikianlah kita melakukan Novena Kerahiman Ilahi, dengan mendoakan Doa Koronka (Chaplet of the Divine Mercy) dengan intensi khusus untuk kelompok jiwa-jiwa, selama 9 hari.  Setiap hari kita memohon kepada Allah Bapa, demi sengsara Yesus yang pedih, agar rahmat-Nya boleh tercurah atas jiwa-jiwa tersebut.

Untuk merayakan Minggu Kerahiman Ilahi, Tuhan Yesus menghendaki agar kita: (1) menerima Komuni Kudus pada hari tersebut (I, 130; II,138); (2) Menerima Sakramen Pengakuan dosa beberapa hari sebelum atau sesudah hari Minggu itu, menurut ketentuan perolehan Indulgensi (III, 29). Pada hari Minggu Kerahiman ini, Gereja memberikan Indulgensi Penuh kepada umat beriman yang memiliki intensi untuk menerimanya dan berdisposisi batin yang sesuai. Gereja dipercaya oleh Tuhan untuk membagi-bagikan harta rohani yang bersumber pada buah pengorbanan Kristus dan para orang kudus-Nya, kepada setiap anggotanya yang memohonkannya. Indulgensi sendiri artinya adalah “penghapusan siksa-siksa temporal untuk dosa-dosa yang sudah diampuni….”; dan penghapusan siksa dosa ini dapat berupa penghapusan sebagian atau seluruhnya” (KGK 1471). Maka indulgensi tidak identik dengan pengampunan dosa otomatis. Sebab perolehan indulgensi mensyaratkan pengakuan dosa dalam sakramen Pengakuan terlebih dahulu. Melalui sakramen Pengakuan dosa, kita menerima rahmat pengampunan Allah atas dosa-dosa kita, sehingga kita dibebaskan dari siksa dosa kekal (neraka). Namun demikian, siksa dosa sementara tetap ada, yang harus kita tanggung sebagai akibat dari dosa-dosa yang kita lakukan (lih. KGK 1473). Siksa dosa sementara—yang dapat ditanggung di dunia ini atau kelak di Api Penyucian—inilah yang dapat dikurangi ataupun dihapuskan semuanya, melalui perolehan Indulgensi. Dengan kata lain, melalui sakramen Pengakuan, dosa-dosa diampuni, dan melalui Indulgensi, akibat dosa-dosa itu, atau yang dikenal dengan “siksa dosa temporal” itu dihapuskan, entah sebagian atau seluruhnya. Indulgensi dapat diberikan oleh Gereja kepada umat beriman yang benar-benar siap menerimanya, yang telah melakukan persyaratannya. Indulgensi ini dapat diperuntukkan bagi diri orang yang berdoa atau bagi jiwa-jiwa yang ada di Api Penyucian, atas permintaan dari orang yang mendoakannya.

Untuk menerima Indulgensi Penuh, seseorang harus mengaku dosa dalam Sakramen Pengakuan Dosa, menerima Komuni Kudus, dan berdoa bagi intensi doa Bapa Paus, yang dapat dipenuhi dengan mendaraskan satu kali Bapa Kami, satu kali Salam Maria atau doa-doa lainnya yang didoakan dengan penuh kesalehan. Selanjutnya, syarat yang tak boleh dilupakan adalah: semua keterikatan dosa, bahkan dosa ringan, tidak ada. Jika sikap batin yang terakhir ini kurang sempurna, atau ketiga persyaratan di atas tidak terpenuhi, maka Indulgensi yang diperoleh hanya sebagian (lih. Apostolic Penitentiary, Prot. N. 39/05/I).

Pemberian Indulgensi ini sejalan dengan kehendak Kristus untuk menjangkau jiwa-jiwa agar dapat mengalami Kerahiman-Nya. Kepada St. Faustina, Kristus mengatakan, “Pada hari Perayaan Kerahiman…. berlarilah ke seluruh dunia dan pimpinlah jiwa-jiwa yang letih lesu… kepada sumber Kerahiman-Ku. Aku akan menyembuhkan dan menguatkan mereka” (I, 99). “Aku menghendaki agar doa Adorasi sakramen Mahakudus dilakukan di sini (di kapel/ gereja), untuk memohon belas kasih Allah bagi seluruh dunia” (III, 19).  Tuhan Yesus yang mengenal segenap isi hati manusia, mengetahui bahwa manusia tidak akan menemukan kedamaian sampai ia mengandalkan Kerahiman-Nya (lih. I, 130). Bukankah Yesus sendiri bersabda, “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11:28). Yesus mengundang kita semua untuk datang kepada Kerahiman-Nya, agar setelah menerimanya kita pun dapat meneruskannya kepada sesama kita. Setelah menerima belas kasih Tuhan, Ia menghendaki agar kita pun memberikan belas kasih kepada orang lain. “Hendaklah kamu murah hati, seperti Bapa-mu murah hati” (Luk 6:36). Demikianlah, devosi Kerahiman Ilahi ini, bukanlah merupakan devosi baru yang asing bagi Gereja, namun sebaliknya, adalah devosi yang telah berakar lama, yang bersumber dari sabda Yesus sendiri.

Melihat demikian perlunya dunia disadarkan akan kerahiman Tuhan, maka pada tanggal 12 Maret 2015 yang lalu, Paus Fransiskus mengumumkan diadakannya tahun Yubelium luar biasa untuk memperingati Tahun Kerahiman, yang akan dimulai pada tanggal 8 Desember 2015 ini, dan akan berakhir pada hari raya Kristus Raja di tahun berikutnya, 20 November 2016. Paus mengajak kita semua melakukan perjalanan rohani yang dimulai dengan pertobatan. Secara nyata, pertobatan itu dimulai dengan menyediakan waktu untuk memeriksa batin, untuk melihat betapa Allah mengasihi kita, dan agar hati kita dapat terarah kepada-Nya. Dengan demikian, kita dapat didorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan belas kasih, entah secara jasmani atau rohani. Perbuatan belas kasih secara jasmani adalah memberi makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal, kepada sesama yang berkekurangan, mengunjungi mereka yang sakit dan yang di penjara, dan menguburkan sesama yang wafat. Sedangkan perbuatan belas kasih secara rohani adalah menegur orang-orang yang berdosa, mengajarkan kebenaran kepada mereka yang tidak mengetahuinya, menasehati mereka yang bimbang, menghibur mereka yang berduka, menerima kesalahan orang lain dengan sabar, mengampuni orang yang menyakiti hati, mendoakan sesama, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia.

Marilah di hari Minggu Kerahiman ini kita menyiapkan hati untuk menerima kerahiman Tuhan. Semoga dengan demikian kita pun dimampukan oleh-Nya untuk bersikap penuh kerahiman kepada sesama kita. Sebab kerahiman atau belas kasih merupakan sifat utama Tuhan, yang seharusnya juga menjadi sifat utama kita semua yang percaya kepada-Nya. Tuhan Yesus juga menghendaki agar kita menyebarluaskan penghormatan kepada Kerahiman-Nya. Demikianlah janji Kristus, “Jiwa-jiwa yang menyebarkan penghormatan kepada Kerahiman-Ku, akan Kulindungi di sepanjang hidup mereka, seperti seorang ibu kepada bayinya; dan di saat kematian, Aku tidak akan menjadi Hakim bagi mereka, namun Penyelamat yang berbelas kasih (III, 20-21). Katakan kepada para imam-Ku, bahwa para pendosa yang keras hati akan luluh mendengar perkataan mereka, ketika mereka berbicara tentang kerahiman-Ku yang tak terselami dan tentang bela rasa yang Kumiliki bagi mereka dalam Hati-Ku. Kepada para imam yang akan mewartakan dan meninggikan  kerahiman-Ku, Aku akan memberikan kuasa yang menakjubkan, dan Aku akan mengurapi perkataan-perkataan mereka dan Aku akan menyentuh hati orang-orang yang mendengarkan perkataan mereka.” (V, 115).

Di dalam Kerahiman-Mu aku berlindung, ya Tuhan. Bantulah aku untuk meneruskan Kerahiman-Mu itu kepada sesamaku, agar bersama-sama kami semua dapat memuliakan Kerahiman-Mu yang tak bertepi dan tak terselami. Semoga di ajalku kelak, boleh kupandang Engkau sebagai Penyelamatku yang Maharahim, yang mengadiliku bukan berdasarkan atas keadilan semata, tetapi atas belas kasih-Mu yang tiada terpahami. Amin.”

19/12/2018
Romo pembimbing: Rm. Prof. DR. B.S. Mardiatmadja SJ. | Bidang Hukum Gereja dan Perkawinan : RD. Dr. D. Gusti Bagus Kusumawanta, Pr. | Bidang Sakramen dan Liturgi: Rm. Dr. Bernardus Boli Ujan, SVD | Bidang OMK: Rm. Yohanes Dwi Harsanto, Pr. | Bidang Keluarga : Rm. Dr. Bernardinus Realino Agung Prihartana, MSF, Maria Brownell, M.T.S. | Pembimbing teologis: Dr. Lawrence Feingold, S.T.D. | Pembimbing bidang Kitab Suci: Dr. David J. Twellman, D.Min.,Th.M.| Bidang Spiritualitas: Romo Alfonsus Widhiwiryawan, SX. STL | Bidang Pelayanan: Romo Felix Supranto, SS.CC |Staf Tetap dan Penulis: Caecilia Triastuti | Bidang Sistematik Teologi & Penanggung jawab: Stefanus Tay, M.T.S dan Ingrid Listiati Tay, M.T.S.
top
@Copyright katolisitas - 2008-2018 All rights reserved. Silakan memakai material yang ada di website ini, tapi harus mencantumkan "www.katolisitas.org", kecuali pemakaian dokumen Gereja. Tidak diperkenankan untuk memperbanyak sebagian atau seluruh tulisan dari website ini untuk kepentingan komersial Katolisitas.org adalah karya kerasulan yang berfokus dalam bidang evangelisasi dan katekese, yang memaparkan ajaran Gereja Katolik berdasarkan Kitab Suci, Tradisi Suci dan Magisterium Gereja. Situs ini dimulai tanggal 31 Mei 2008, pesta Bunda Maria mengunjungi Elizabeth. Semoga situs katolisitas dapat menyampaikan kabar gembira Kristus. 
X